Barbar Generation

Barbar Generation
Full day 2


__ADS_3

"Arsen!"


"Hm? Kenapa, sayang?"


Arsen menatap Asya yang berada di sebelahnya.


"Beli seblak yukk, aku pengen seblakk."


"Beli seblak dimana pagi-pagi macem ini?"


"Ya gak tauuu! Aku mau seblak pokoknya."


"Tapi masih pagi sayaang," jawab Arsen teguh pendirian.


"Ah kamu mah. Males banget! Anaknya ileran aku salahin kamu!"


Asya pergi meninggalkan Arsen, ia menghampiri pria lain. Pria dengan lengan bertato, menggunakan kalung menyerupai rantai dan mengenakan gelang hitam.


"Sayang, ngapain kamu sama dia?!"


"Beli seblak! Kamu gak mau nganterin kan? Yaudah aku sama St—"


"Ngaco hahaha, ngaco! Mau ku kurung? Ayok sama aku! Tunggu sebentar," Arsen mengambil kunci mobilnya lalu kembali ke tempat tadi. Tapi nyatanya, Asya dan pria itu tidak ada di tempat awal.


Arsen melihat sekeliling, ia melihat Asya jalan bersama dengan pria tadi.


"Langsung penggal enak ni palanya."


Arsen kembali masuk ke rumah, mengambil pisau lipatnya lalu kembali keluar mendekati Asya.


"Kamu mau ngapain bawa pisau?"


Arsen berancang-ancang


"Mau motong—"


"WWWOIIIII!"


"Bangun, Arsen. Ni anak mimpi apa sih?"


"Arsen! Bangunn! Ku tinggal nih ya?"


"ARSEENN!!"


"Hah?!" Arsen membuka matanya dan menatap Asya yang sudah cantik.


Arsen menarik tangan Asya lalu memeluknya.


"Ngapainnn begeee?! Belum sah!"


Arsen tersadar, ia melepas pelukan.


"Lah, kita belum sah? Masa belom?"


"Ya emang belum! Sejak kapan udah? Mimpi opo toh sampeyan?!"


Arsen mengedipkan matanya dua kali, terlihat seperti orang dongo. "Ulang-ulang. Nanya apa kamu tadi?"


"Kamu tu mimpi apaann?!!!"


"Aku mimpi kamu lagi hamil anak kita, terus kamu minta seblak gak aku kasih. Bukannya nurut kamu malah pergi sama cowok lain. Karena aku kesel, ku putuskan urat lehernya cowok itu."


Asya menggelengkan kepala sambil menepuk tangan. "Salut atas kebegoan kamu, sayang. Bisa pula, aku cuma di temenin beli seblak kamu putusin urat lehernya?! Untung cuma mimpi!"


"Kalau gak mimpi juga sabi sih,"


"NGERII-NGERIII."


◕◕◕


"Aku tu masih kepikiran banget. Cowok itu siapa ya?? Mukanya kok burem kek masa depannya."


Asya tidak membalas perkataan Arsen. Dirinya sibuk membuat nasi goreng untuk sarapan.


Pagi ini, Asya terbangun di kamarnya Arsen.


Tadi malam ia ketiduran di sofa, tepat saat Arsen tersadar Asya ketiduran, Arsen menggendong Asya ke kamar sedangkan Arsen tidur di kamar tamu.


Arsen sudah mengabari Aska juga kok, Arsen juga membelikan baju ganti untuk Asya.


Oh iya, ini bukan pertama kalinya ya.


"Siapa kira-kira? Nama depannya St, ya kali St dua belas?" Asya menggelengkan kepala mendengarnya.


"Sayaaaangg, aku tu kepikiraaaann!" Rengek Arsen.


Asya tetap diam sambil sibuk memotongi sosis.


"Asyaa, sayaangg!"


"Ah kamu mahh!"


"Kenapa kenapaa??"


"Kamu dari tadi nyuekin aku mulu. Aku jadi mikir, apa kamu bakal ngelakuin itu beneran?!" Tanya Arsen menyipitkan mata.


"Nggaklah, ngaco banget!! Mimpi itu cuma bunga tidurr, Arsen. Belum tentu juga jadi nyataaa," jawab Asya santai.


"Terus kenapa dari tadi kamu ngacangin akuu?"


"Kamu ngomong kek gitu udah seribu lima ratus dua puluh sembilan kaliii!"


"Sebanyak itukah?"


"Nggak, itu cuma perumpamaan." Arsen menatap sinis Asya setelah mendengar jawabannya.


"Itu cuma mimpi, Arsen, mimpi. Udah ah jangan dipikirin bangett," kata Asya sembari mengaduk nasi gorengnya.


"Tapi tetep kepikiran."


"Karep mu deh, cowoknya siapa sih emang? Ganteng gakk?"


"Gak keliatan, mukanya burem. Emang kalau ganteng kenapaa?"


"Ya gapapaa, cuma tanya aja. Kan lumayan akunya," ujar Asya.


"Genit banget hih!" Asya tertawa kecil.


"Aku tanya sekali nih ya, kalau di depan kamu ada dua cowok. Satu aku satunya lagi cowok yang lain, yang lebih ganteng dari aku. Kamu pilih siapa?"


"Euummm, untuk sekarang sih milih kamu."


"Untuk sekarang?? Gak tau ah gak tau, musuhan kita!" Arsen pergi meninggalkan Asya sendirian di dapur.


Asya menatap kepergian tunangannya itu sembari melongo keheranan. "Kenapa dia jadi childish boy gitu?"


Asya lanjut menyiapkan masakannya. Setelah itu mengambil susu vanilla di coklat kemudian menghampiri Arsen yang sedang menonton televisi.


Asya duduk di sebelahnya.


"Gak mau sarapan??"


"Gak."


"Yakinn? Tadi aku pake sosis terus ada telur sama bakso kecilnya jugaa." Arsen diam, perlahan tangannya mengelus perut. Agak lapar memang.


"Kenapa ngambek sih?"


"Kamu jahat."


"Jahat apanya?? Kalau jahat gak bakal masak buat kamu!" Arsen diam lagi.


"Heyy, kalau kamu ngambek aku juga bisa tau!"


"Aihs! Aku ngambek ya di bujukiiinn bukan ngambek balikk!" Arsen menarik tangan Asya, menatapnya penuh kekesalan.


Tapi ntah kenapa, Arsen terlihat menggemaskan di mata Asya. "Yaudah lupain. Ayok makan!"


"Gak."


"Ayok makaann! Katanya mau keluar kotaa bareng."


"Gak jadi, males."


"Yaudah, aku pergi sendiri sama St."


"St siapa?"


"St dua belas, temen kelasku sih ada yang namanya gitu."


"Haha gak usah ngaco! Ku ajak ke KUA sekarang juga nih kalau kamu macem-macem," ancam Arsen.


"Bodo amattt!"


Asya beranjak pergi, namun dengan kesigapannya Arsen langsung menarik badan Asya. Asya terjatuh di atas pangkuan Arsen.


"Arseeeennn!"


Yang di panggil hanya bisa diam sambil memejamkan matanya. Ada sesuatu yang tegak, tapi bukan keadilan.


"Diem, jangan banyak gerak."


Asya diam penuh keheranan, "kenapa??"


"Nggapapa, diem aja dulu bentar."


Asya diam, benar-benar tenang.


Hening.


Cukup lama.


Berakhir canggung.


Seketika Asya melepas tangan Arsen lalu berdiri.


"Kenap—" Asya diam, ia tau alasannya. Asya melihat Arsen senyum sambil menutupi dengan bantal sofa.


Asya malu.


Dirinya langsung pergi ke dapur.


Arsen menutup matanya lagi, jujur dia juga malu karena Arsen kecil baperan.


"Malu-maluin gue aje lu, baperan banget!" Cibir Arsen, ia masih menutupi dengan bantal.


Di dapur, Asya merutuki dirinya sendiri.


"Kenapa mata gue liarr bangettt, astaghfirullah!! Kenapa harus liat kesituuu?"


"Ahh, Arsen menodai mata suci ku." Asya meletakkan tangannya di area mata. "Lahhh, malah kebayaaangg?! Ish anjemm!" Asya mencoba untuk mengalihkan perhatiannya.


"Kok gue jadi merinding sih ahh!" Asya menggelengkan kepala, mengusir pikiran kotor di otaknya itu.


"Cukup, Asya, cukup. Positif thinking, itu berarti tanda kalau Arsen normal."


"Hm."


"Oke."


Asya menghirup udara lalu mengeluarkannya perlahan. "Jangan canggung, jangan canggung."


"Mikir apa?"


Asya berbalik, Arsen datang mendekatinya.


Asya akui sekarang, dirinya BODOH.


'Kenapa malah liat kesitu lagi, Asyaaaa?!'


Melihat Asya menutup mata, Arsen tertawa kecil ia makin mendekati Asya.

__ADS_1


"L-lu mau ngapain njeemmm?!"


Asya panik.


"Mau ngapain apanya? Tadi ngajak sarapan," jawab Arsen berusaha tidak canggung.


"Y-yaudah tuh, lu ambil sendiiri."


"Lu lu? Hebat, ya!"


Asya tersadar.


"Kamu maksudnya. Kamu ambil aja sendiri," Asya langsung kabur ke ruang tamu. Melihat Asya pergi, Arsen menuju kamar mandi yang berada di sebelah dapur.


"Fuckk uu, mentel banget bediri pagi-pagi! Mandi air dingin kan gue jadinya."


◕◕◕


Sampai sekarang, mereka berdua masih diliputi rasa canggung. Keduanya sama-sama diam di dalam mobil, tidak ada yang memulai pembicaraan satupun.


Arsen yang sedang mengemudi, masih memikirkan cara agar suasana kembali seperti semula. Ini pertama kalinya kecanggungan terjadi, makanya Arsen bingung.


Asya sendiri menatap luar jendela sembari melihat orang yang berlalu lalang. Asya ragu melihat ke arah Arsen, takut melihat ke bagian 'itu' nya lagi.


"Ehm."


Arsen mulai mencoba.


"Gak jadi mau ketemu sama St?"


"Jadi, dia udah nunggu di kafe."


Arsen menatap sinis Asya, "udah aku bilang tadi jangan macem-macem."


"Ahh, nyesel aku teh nanya lagi."


Asya tertawa kecil.


"Ini mau kemanaa?" Tanya Asya.


"Mainlah, mumpung hari sabtu. Tadi aku udah izin sama daddy kamu."


"Lah, kapan??"


"Ya tadii, kamu gak perlu tau sih. Biar jadi urusan mertua dan mantunya."


Asya menyipitkan mata, mencurigai Arsen.


"Yang beneerrr, mau kemanaaaa?!!!"


"Main, sayangg. Kamu mau kemana? Request," suruh Arsen sambil fokus menyetir.


"Aku sih gak mau kemana-manaa, nurut kamu ajaa." Arsen mengangguk paham. "Tapi kamu tumben ngajakinnya ke luar kota?"


"Eumm, sekalian refreshing sih. Seminggu ini kita udah sibuk banget, aku sibuk kerja plus nugas, kamu sibuk sama perkuliahan. Makanya aku mau ngajak refreshing biar gak frustasii."


Asya menatap Arsen dengan senyuman setelah mendengar jawabannya.


Cup!


"I love u," kata Asya setelah mengecup pipi Arsen.


Arsen senyum salting, tangannya menggenggam tangan Asya. Dan yeah, Arsen mengecupnya cukup lama.


"Kamu tau kan, kalau aku lebih cinta sama kamu?" Asya mengalihkan pandangannya, gantian salting.


"Btw tadii.. yangg tadi pagi..."


"Lupain, lupain. Hormon cowok kalau pagi suka meningkat," jawab Arsen mencoba santai.


"Iya tau. Aku cuma mo bilang, aku gak liat kok tadiii."


Arsen tertawa kecil, "yakin gak liat?"


"Y-yakinlahhh!"


"Beneran gak liat?" goda Arsen.


"Nyesel deh aku bahasnya."


Arsen terkekeh.


"Oke, my queen, skip yang tadi pagi. Sekarang, mari nikmati waktu wekeend." Asya membalas dengan senyuman.


"Tiba-tiba aku teringat salah satu keinginan ku sebelum nikah," kata Asya.


"Apa itu?"


"Aku pengen daki gunung."


Arsen berfikir sejenak.


"Ada lagi??"


"Ng— adaaa! Aku pengen keliling Indonesia."


"Eeumm, ntar kalau ada waktu holiday panjang kita keliling Indonesia. Teruss setahun mendekati pernikahan, kita daki gunung. Deal?" Asya mengangguk antusias.


Tangan Asya gantian menarik tangan Arsen, Asya mengelusnya. "Tangan kamu kok gede bangett siii?"


"Tangan kamu yang keimutan, sayangg. Mulus banget pula kea pantat bayii!"


"Hahaha, pantat bayii."


"Gimana caranya bisa semulus ini, hm? Padahal kamu juga sering beres-beres rumah."


"Mau tau rahasianya?" Arsen mengangguk.


Asya pun mendekat ingin berbisik.


"Ya perawatanlaaahhh."


Arsen menatap kesal Asya setelah mendengar


Melihat wajah kesal Arsen, Asya tertawa lagi.


"Ini aja kalau bukan mommy yang nyuruh, gak bakal semulus ini."


"Besok, kalau sama aku lebih mulus ni. Macam muka pake filter b612 jaman dulu."


"Hahahahaa, ada-ada ajaaa kamu mah!!"


Arsen cengengesan.


"Perjalanan ke luar kota lama juga, yaa?"


"Kita nginep aja gimana? Mau nggak?"


"Hm? Nginep? Dimana?"


"Hotel."


"NOO! Aku gak mau."


Arsen menyipitkan mata, "kenapa gak mau?"


"Yaa gak mauu."


"Beda kamar, sayangg. Gak mungkin kita satu ranjang padahal belum apa-apa. Bisa di jadiin sate aku sama daddy kamu."


"Ish, tapii ntarr."


"Yaudah kalau nggak mau nginep gapapa, kita pulang ntar."


"Nginep aja deh, aku gak mau kamunya kecapekan lagi."


"Kalau nginep malah bikin kamu gak nyaman, aku gak mau. Mending kita pulang," jawab Arsen.


"Teruss, maunya gimana? Nginep atau pulang? Aku terserah kamu."


"Bukan gak modal bayarin hotelnya, tapi aku bener-bener gak mau liat kamu gak nyaman. So, kita pulang aja."


Asya menganggukkan kepala, "okeeyy. It's up to u, baby." Arsen membalas dengan senyuman.


Satu menit setelahnya, Arsen memberhentikan mobil. Ia berhenti tepat di area keramaian. Asya bertanya-tanya, kenapa Arsen berhenti disini?


"Mau ngapain disinii? Ini kenapa rame bangett?"


"Eumm, kemaren ada yang lagi konser di Indonesia. Terus, aku minta salah satu member itu buat datang kesini nemuin kamu."


Asya heran, "emangnya siapaaa??"


"Idol Korea, Doyoung from NCT."


"HAHH?! SERIUSSS?!"


Arsen mengangguk santai, "kamu gak suka?"


"Hahayy, gila aja gak suka. Suka banget lahh!! Thanks, baby, I love u so muchh!" Asya langsung lari keluar mobil menerobos kerumunan.


Melihat itu, Arsen hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ia tenang karena ada bodyguard suruhannya yang melindungi Asya dari desakan.


Arsen keluar dari mobil ketika melihat Doyoung keluar dari hotel itu. Arsen melihat dari kejauhan, Asya sedang terpesona dengan tampang idolnya yang luar biasa.


"Hii, my name is Asya." Asya menggunakan Bahasa Inggris karena mendadak pikun dengan Bahasa Korea.


"Oh, kamu yang namanya Asya? Salam kenal, aku Doyoung." Ujarnya dengan Bahasa Indonesia yang tersendat-sendat.


"Kyaa, salam kenal jugaa. Aku Asya," mereka berdua saling bersalaman.


'Akssksk, mo kayang!!'


"Emm, Doyoung why r u alone?"


Tim penerjemah ada di samping Doyoung.


"Saya gak sendiri, ada kamu disini."


Doyoung berbahasa Korea, Asya tau karena juga diterjemahkan.


"Maksud guee, Lucas manaaa? Jaehyun manaa Jaehyun?? Teruss, Jaemin sama Taeyong manaa??" Asya tidak bisa santuy lagi, agak greget dia.


"Mereka ada di hotel lain, aku di sini di suruh ketemu kamu. Biar bisa beliin Mark semangka makanya aku kesini."


Asya terkekeh, "mau beli semangka sama gue kagak?"


"Kamu yang bayar?" Asya menggeleng, ia berbalik dan menatap Arsen dengan senyuman.


"Ada diaa yang bayar."


"Oke, ayok beli semangka buat Markk."


"Mau salak juga gak, Doy?"


"Nahhh, sekaliann!"


"Skuyy beliii." Asya jalan duluan menuju Arsen.


Tangannya melambai-lambai ke arah fans Doyoung yang lain.


"Sok ngartis bangett," ledek Arsen.


Asya cengengesan, "mas ganteng, anterin beli semangka sama salak yukk."


"Iyaa-iyaa, ayok."


Asya tersenyum, ia masuk ke mobil.


Doyoung dan satu penerjemah juga semobil dengan mereka.


"Halo, Doyoung, gue Arsen."

__ADS_1


"Hai, aku Doyoung."


"Wiss, enak banget liat pacar sama selingkuhan akur."


"Heh!"


Asya terkekeh. Arsen mulai menjalankan mobil mencari tukang buah. Doyoung sendiri melihat-lihat sekelilingnya.


"Woi, Doy, lu kagak mau gibah bareng gue?"


Doyoung tertawa mendengar translatenya.


"Gibahin siapa?"


"Nyai Soo-man. Nyai nyari bini gak?"


"Yo ndak tau kok tanya saya," jawab Arsen membuat Asya tertawa ngakak. "Aku nanya Kang Julid dulu. Nyari bini gak, Doy?"


"Nggak tau, kenapa?"


"Gue mau nyalon jadi biniknya."


Bukannya cemburu Arsen malah ngakak sampe terbengek-bengek. "Ngaco bangett kamu tuh! Lee Soo-man udah sold out, Asyaa." Kata Arsen setelah bengek.


"Oiyaa! Ahh sakit hati."


◕◕◕


17.00


Hanya beberapa jam Doyoung bersama mereka. Doyoung harus kembali dengan yang lain. Tapi tenang, Asya juga sudah puas bermain dan mengjulid bareng Doyoung.


Kini Arsen Asya berada di pantai, bergandengan tangan dan berjalan bersama di pinggiran pantai sembari menikmati senja.


"Abis ini pulang?" Tanya Asya.


Arsen mengangguk, "belum mau pulang?"


"Aku mah ngikut gimana kamunya ajaa. Tapi sebelum pulang, makan dulu yaa??"


"Kamu udah makan tadi, serius mau makan lagii?"


"Itu cuma aku sama Doyoung yang makan, kamu nggak." Jawab Asya sinis.


"Aku gak laperr, makanya gak makan."


"Gak bisa gitu dong! Walaupun gak laper, kamu harus tetap makan. Ntar kamu sakit kalau gak makan!"


"Aku mah kuatt, dulu nyemilin batu baterai ABC makanya kuat."


Asya tertawa kecil.


"Ngawur sih!"


"Btw, makasih banyakkkk!!" Asya memeluk Arsen yang berada di sebelahnya. Arsen membalas pelukan.


"Kamu seneng, aku juga seneng."


Asya melepas pelukan lalu tersenyum.


Drtt.. Drtt..


"Ah, ganggu!!" Arsen mengambil ponsel di saku, ternyata Alex menelepon.


📞 "Wa'alaikumsalam, bantu gue dong. Gue sama Alvin lagi kerja sama buat tugas, terus mobilnya tiba-tiba rusakk."


^^^"Panggil kang bengkel gblok, ngapa lapor ke guee?!"^^^


📞 "Lu kan juga S3 perbengkelan. Udah cepet, gue tunggu! Alamat gue sharelock."


Alex langsung mematikan panggilan.


Arsen tidak bisa berbuat apapun selain menyusul.


"Udahan ya liat senja nya? Alex minta bantuan, mobilnya rusak."


"Yaudah yok bantuuu!"


Mereka berdua kembali ke mobil lalu menuju tempat yang di sharelock Alex tadi. Tidak terlalu jauh dari pantai.


"Next time tu kalau bawa mobil di check dulu!" Omel Arsen setibanya di tempat.


"Iye bawell! Lu beresin dah tuh." Arsen pun berusaha mengotak-atik mobilnya.


Asya sendiri di suruh diam dalam mobil, sama sekali tidak diizinkan keluar dari sana.


"Lu berdua darimanaa?" Tanya Alvin.


"Couple time."


"Alah nj—" Umpatan Alvin terhenti ketika sadar mobilnya menyala.


"Kok bisa? KAN APA GUE BILANGG, LU S3 PERBENGKELAN!" Kata Alex heboh.


"Dia jago apa aja ya anjemm, kok bisaaa gitu?" Kata Alvin terkagum-kagum.


"Lu dulu makan apa sih?"


"Alhamdulillah, nyemilin batu sungai."


"Anj."


"Dahlahh, gue mau makan dulu! Bye," Arsen pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kok hebat banget dia, apa rahasianya?"


"Ontahlahmen. Susul yukk, kepo nichh." Ajak Alex.


"Kuy!" Alvin dan Alex masuk ke mobil lalu membuntuti Arsen, Arsen berhenti di restoran Jepang dan makan sushi bersama Asya.


Alvin dan Alex yang ngintil, duduk tidak jauh dari keberadaan Arsen Asya. Keduanya juga makan sushi.


"Sayang, aku ke toilet bentar ya."


Asya mengangguk, Arsen pergi.


Asya sendiri menghabiskan sushinya sambil menonton video bersama Doyoung tadi. Tapi tiba-tiba, secara samar-samar Asya mendengar percakapan couple di samping kanannya.


"Kemarin udah aku yang bayar makan, gak ada salahnya kamu bayar juga! Masa cewek doang yang mau dibayarin!"


"Tapi kan kamu bilang awalnya mau bayarin!"


Plak.


"Bayar segini aja susah, bayar harga diri lu juga bisa gue."


Asya murka. "Banci banget, yaa. Udah main tangan gak mampu pulak," cibir Asya.


Pria itu mendengarnya, ia menoleh.


"Lu bicara sama gue?"


"Menurut lu? Ya kali sama tembok."


"Gak usah ikut campur! Ini urusan gue sama cewek gue."


Asya berdiri


"Kalau gue mau ikut campur, kenapa?"


Pria itu mendekati Asya. Tanpa Asya sadari tangannya meraih pisau. Ketika pisau itu ingin di tancapkan ke Asya, tangan si pria tertahan.


Ia melihat kebelakang.


"Berani kok sama cewek gue, lawan gue sini. Berani gak lu anjng!" Arsen datang lalu menendang pria itu.


"Gak usah sok jagoan lu," jawabnya.


Arsen tersenyum smirk, "lebih sok jagoan lu yang beraninya ngelawan cewek."


Ia menahan sakit kejedug meja dan tidak menjawab perkataan Arsen.


"Sayang, kamu gapapa? Ini ada masalah apa?"


"Aku gapapa. Mereka berdua lagi makan bareng tapi cowoknya gak modal dan kasar."


"Hahaha, lawak. Udah gak ganteng, gak good looking, gak berattitude, gak berduit pula. Apa yang bisa di banggain dari manusia begini?"


"Alahh bacot lu! Paling juga sama gak modal!" Ia kembali berdiri menantang.


Arsen tertawa remeh.


Si pria kesal. Tanpa aba-aba ia mengarahkan pisau ke dada Arsen, dengan mudahnya Arsen bergeser lalu menendang lutut belakang dan pinggangnya hingga terjatuh.


Arsen menghampiri lalu duduk di atas dadanya.


Plak.


"Tamparan pertama karena lu senggol cewek gue."


Plak.


"Lu kasar sama cewek lain."


Plak.


"Sok ganteng."


Plak.


"Sok jagoan."


Plak.


"Sok keren."


Plak.


"Sok kaya."


Plak.


"Harusnya sadar diri dong bukannya nyepelein orang!"


Lelaki itu tidak bisa melawan lagi, tujuh kali tamparan Arsen cukup kuat. Arsen berdiri dengan satu kaki menginjak dadanya.


"Sebenernya, gue gak mau pamer. Tapi lu maksa gue buat pamer."


Arsen mengeluarkan black card dan adik-adiknya.


"Gue gak kek lu, yang cuma bisa ngucapin janji manisss."


"Gue saranin sama lu, gak usah bawa putri orang kalau lu gak mampu. Gue kasih peringatan sekali, kalau sampe gue nemu lu begini lagi. Gue gak segan-segan nampar lu sampe mati."


Di meja Alvin dan Alex.


Mereka berdua sedang melongo.


"Arsen garang bangett woilah!"


"Ganas melebihi singa."


"Dia jadi kucing di depan Asya, jadi harimau di hadapan orang lain."


"Wah, sangat jauh berbeda."


"Btw, gue baru tau Arsen punya kartu banyak. Main tepok-tepok kartu keluar duit gak, ya?"


"Gak keluar duit paling keluar jin."


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ

__ADS_1


Cuma mo bilang, ini cuma karangan. Oiya, makasih yang setia nunggu, maaf kalau sering telat up. Itu karena kesibukan rl saya yang menjadi penghambatnya <3


__ADS_2