Barbar Generation

Barbar Generation
Jealous


__ADS_3

Azril dan Naina berada di dalam mobil dengan suasana penuh keheningan. Memang berbeda kali ini, keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


Tepat di lampu merah, mobil Azril berhenti. Naina menoleh ke arahnya, "Kamu mikirin apa daritadi?"


"Nggak ada. Aku cuma ngerasa mommy daddy jarang berpihak ke aku, mereka kea selalu ngutamain Asya daripada aku," jawab Azril tanpa menatap Naina.


"Perasaan kamu doang ituu. Aku malah ngerasa sebaliknya, kamu lebih dimanja sama mereka. Kemauan kamu selalu diturutin, kan? Kali ini mungkin mereka mau kamu bisa mandiri, tanpa harus minta lagi."


Kini Azril menatapnya. "Iya mungkin perasaan aku aja kali ya? Btw, kalau aku miskin kamu masih mau sama aku?"


"Kamu kira aku mau sama kamu karena harta?" Azril sedikit gelagapan, "Nggak. Bukan gitu maksud aku. Tapi, kamu mau nggak?"


"Ya nggak sih. Tapi kalau kamu masih bisa nego. Kamu gak ada minusnya, muka oke, body oke, cocok buat disuruh open bo." Azril yang tadinya hampir senang kembali cemberut, "Berasa kek baru mau naik tapi langsung jebur lagii."


"Becanda, ayang."


"Menurut kamu aku bisa gak, Nai?" tanya Azril kembali mengemudi. "Bisa lah, yakali nggak. Nothing is impossible. Tapi kamu yakin mau otodidak?"


"Yepp. Aku mau nunjukin ke daddy kalau aku bisaa, cuma selama ini males aja."


"Emang kamu tu bisanya di sulut api dulu baru semangat. Pokoknya ya, apapun yang terjadi nanti, aku selalu ada disamping kamu. Jadi jangan ngerasa sendiri, oke?"


Azril tersenyum senang. "Gak sabar pengen nikah sama kamu," kata Azril menatap jalanan. "Kenapa ngebettt?"


"Pengen bisa peluk cium yang sahh."


"Prettt. Kaya dulu gih, baru bahas nikah."


"Tapii, kalau gitu kita bakal lama sahnya, Nai. Kamu gak bakal berpaling dari aku, kan?" Naina berlagak sedang berpikir, "Kurang tau juga sih ini. Kalau ada yang lebih gan—"


"Sssssttt. Aku cium mauu?"


"Nooo. Bibir aku masih suci ya, jangan macem-macem!" Azril tertawa lepas setelah mendengar perkataan Naina. "Lucunya, calon istri."


"Oiya, aku mau cerita boleh?" Azril langsung mengangguk, "Of course, baby. Mau cerita apaa?"


"Kemarin ada yang dm instagram aku, dia ngomong nyolot banget, nyuruh aku gak boleh deket-deket sama kamu lagi. Tapi dia pake akun bodong, akun fake. Kira-kira siapa coba?" tanya Naina bingung.


Azril mengambil tangan Naina lalu menggenggamnya erat. "Aku aja yang urus itu nanti, kamu gak usah pikirin."


"Fans kamu kali ya? Cewek kamu di kelas kan banyak," Azril mempout bibirnya. "Cewekku cuma kamu, ayang. Mana ada yang lain."


"Rill kah?"


"Rill minn." Naina tertawa. "Tapi beneran, Zril. Banyak yang ngaku bilang diri mereka pacar kamu."


Azril mengangguk-angguk, "Biarin aja. Resiko punya cowok ganteng emang gitu, jadi banyak yang ngaku-ngaku. Tapi cewek aku emang only you kok, sayang."


"Jadi pede bangett yaaa?" Azril tertawa lagi, "Nanti aku post foto kita di feed instagram, instastory, ah pokoknya di seluruh medsos aku. Biar semua orang tau kalau Naina Syahira Almayra ceweknya Azril. Kamu gak boleh larang kali ini."


"Iyaiinnn."


Mobil Azril tiba di kampus. Keduanya turun bersamaan, lalu berjalan sambil bergandengan. Azril dan Naina beda fakultas, tapi demi memastikan Naina aman, Azril mengantarnya terlebih dahulu.


Terdeteksi bulol.


"Azril." Pria itu berdehem lalu menatap Naina sekilas. Naina diam sejenak. "Kenapa manggil tadi kalau diem aja, cantik?" tanya Azril lembut.


"Aku mau nanya sii tadi, tapi keknya gak jadi deh." Azril berhenti dan berdiri di hadapan Naina. "Tanya aja, tanya apa yang mau kamu tau dari aku."


"Okee." Naina mendekat lalu berbisik, "Kok kamu bisa naksir sama akuu?" Pertanyaan itu malah membuat Azril tertawa. Sial, malah terlihat semakin tampan.


"Gak usah ketawa, jelekk. Jawab deh, kenapaa?" Azril menggandeng Naina lagi dan lanjut berjalan. "Kena pelet seblakk." Naina menatapnya kesal.


"Bercanda, cantikkuu. Tell me how not to fall in love with adorable girl like you, honey? Saking lucunya kamu tu aku sampe was-was kamu diculik."


"Gak ada yang mau culik aku, aku paittt."


"Affah iyaahhh? Tes dulu, aku mau tess."


"Ngerii ihh kamuu, makan orang juga ya ternyataaa?" Azril tertawa lagi. "Aku cuma mau makan kamu aja sih, gak mau yang lain."


"Oh shitt, what's wrong with my mind."

__ADS_1


Azril mendekatkan bibirnya ke telinga Naina untuk berbisik. "Dirty mind, hm?"


"Kamprett! Bahaya juga ni cowokkk, harus aku masukin ke kolong jembatan kayanyaa."


...◕◕◕...


Azril selesai kelas, ia berjalan ke fakultas Naina lagi untuk menjemputnya. Mendadak Azril berhenti di jalan, ia melihat Naina sedang asik bercanda tawa dengan pria. Teman sefakultasnya mungkin?


"Gak bisa dibiarin." Azril berjalan cepat menghampiri Naina. Azril langsung memeluknya tanpa mendengarkan protesnya Naina. "Kangenn."


Naina tersadar lalu tertawa. "Dasar bayii." Azril mendekatkan bibirnya ke telinga Naina. "You are only mine, Naina. Jangan ngadi-ngadi."


Naina tertawa lagi lalu memaksa lepas pelukan. "Sayang, kenalin ini sepupu aku. Emang baru nongol sii, baru balik dari luar negeri."


Azril berbalik menatap pria itu dari atas sampai bawah. "Oohh, sepupu. Gue Azril," katanya memaksa senyum. Menahan malu. Awokwkwk.


"Gue sepupunya Nai, Hendri. Lu siapanya Nai?" Azril terdiam. Bingung, hubungan mereka itu sebenernya apa?


"He's my boyfriend, Hen." Hendri berohria sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ganteng wehh, kok mau sama lu?"


"Ya lu kira gue jelek?!" Hendri tertawa. Azril di sana diam melamun layaknya orang yang gak diajak. "Lu mau kemana habis ini?" tanya Hendri.


"Belum tau. Kemana, sayang?" Azril tersadar lalu menatap Naina, "Kemana aja terserah kamu. Tapi kita makan dulu, aku laper."


"Yaudah kalau gitu sekarang aja ayok?" Azril mengangguk setuju kemudian menatap Hendri, "Lu mau ikut bro?"


"Nggak, lu aja. Gue ada urusan. Disini tadi juga karena jemput pacar," jawab Hendri ramah. "Ooouuu, Hendri udah gedeee. Hhahaha. Gue duluan dah yaa!"


"Okee, hati-hati."


Naina dan Azril sama-sama tersenyum kemudian pergi berjalan menuju parkiran. "Ehmm, ada yang jealous tadi."


"Sstt, gak usah di bahas." Naina tertawa. "Lagian ada-ada aja sih, gak mau dengerin penjelasan aku dulu atau apa gitu malah langsung meluk."


"Ya kan... Ah sudahlah, aku malu." Sampai di mobil, hening kembali. Naina menatap Azril heran, tumben Azril tidak berbicara. "Kamu mikirin apalagi?"


"Aku bingung sebenernya. Kita tu apa?" Naina terdiam, juga ikutan bingung. "Mau tunangan dulu nggak? Ngikutin jejak Asya kemarin. Tapi kalau gitu aku harus bisa usaha cari duit duluu. Kamu mau nungguin?"


"Mauu, asal kamunya juga gak betingkah. Kan udah aku bilang Azril, aku selalu ada disamping kamu, gimanapun kondisinya."


"Tergantung sebenernya, kalau ada yang lebih ganteng mungkin bi—"


"Nakal ah, nakall!" Naina cengengesan, "Bayii. Nggak kok nggakk, aku gak akan macem-macem kok. Kalau aku mau cari cowo baru juga udah dari kemarin-kemarin, Zril."


"I love you."


"I love me too."


"Naiiiiii."


"Hahahaa. Iyaa-iyaaa, I love you tooo. Terus kita mau kemanaa? Makan di mana?"


Azril berpikir, "Ke deket kantor Arsen gimana? Aku udah mikir daritadi juga ya, keknya aku gak bakal bisa otodidak. Jadi aku mau minta tolong Arsen, siapa tau dia mau. Gimana menurut kamu?"


"It's up to you, babe. Aku ngikut calon kepala rumah tangga ajaa." Azril memalingkan mukanya, "Kacauu banget ini cewek. Tanggung jawab, aku salting!!"


Naina tertawa melihat ekspresi Azril. "Dasar bayii!"


"Kamu ngatain aku bayi terus, padahal kamu yang bayi. Btw, gimana kuliahnya tadi, sayang?" Naina mulai menceritakan tentang kelasnya tadi. Azril mendengarkannya sambil sesekali menatap karena masih mengemudi.


Saat sedang asik bercerita, ponsel Azril berbunyi. Azril mengangkatnya terlebih dahulu karena itu panggilan dari Arsen.


📞 "Haaa, diangkat. Halo bro, assalamu'alaikum!" sapa Arsen begitu bersemangat.


^^^"Wa'alaikumsalam broo. Kenapaa ni?"^^^


📞 "Gak, gue cuma mo bilang gak bakal bisa ketemu lu hari ini. Gue lagi di tempat ngab Andre."


^^^"Emang agak lain ipar ku ini. Bapakmu itu anjirr, macamkan enak kali manggilnya."^^^


📞 "Hahaha! Santai, ngab Andre sangat senang dipanggil ngab. Ntar gue kasih tau aja ya kapan bisa ketemu, jadwal gue sibuk ni, jadi harus atur jadwal dulu."


^^^"Songong bet lu sialll. Gue tandain yee!"^^^

__ADS_1


📞 "Awikwokkk, tandain ajaa gapapaa. Yaudah gue tutup ya teleponnya, assalamu'alaikum."


^^^"Wa'alaikumsalam."^^^


Arsen memutuskan panggilan. Azril menghela nafas, diundur lagi rencananya. "Kita gak jadi makan dekat resto Arsen ya, dia gak di situ. Jadi percuma jauh-jauh."


Azril memutar balik mobilnya mencari restoran yang enak. "Kemana dia?"


"Tempat bokapnya. Asya juga di sana, kedengeran tadi suaranya." Naina mengangguk paham, "Mertua Asya baik, kan?"


"Sepenglihatan aku sih gitu, semoga aja baik. Lagian mau jahat juga apa ya bisa dia? Asya kek setan. Mertua kamu sendiri gimanaa?"


"Lum punya masss, soon yahh."


Di sisi lain.


"Enak betull yaaa manggilnya ngab," cibir Asya menatap Arsen. Arsen malah tertawa. Kedua pasutri itu masih berada di rumah Andre. Mungkin akan menginap nanti malam karena cuaca terlihat mendung.


"Ngab Andre suka kok. Ya kan, ngab?" Andre menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya. Asya sendiri terlihat agak gondok. "Kalau Asya jadi papa udah Asya tinju ni anak," kata Asya mewakili.


"Kalau gak sayang juga udah papa tinju dia, Sya." Arsen senyum-senyum menggoda, "Ciee sayang Arsenn~"


"Bocah sinting. Asya, kalau lu capek sama Arsen gue siap jadi penggantinya," sahut Alex kini bersuara. Ekspresi Arsen berubah seketika. "Berantem yok?"


"Hohoooo, ganas betul yaaa diaa," ledek Alex sambil tertawa. Asya sendiri ikut tertawa, "Hati-hati di hajar, suami gue galak," kata Asya pelan seolah-olah berbisik. Padahal yang lain juga ikut dengar.


"Gakpapa, rela di hajar biar bisa sama kamuuu."


"Cokkk anjirr Alekk. Mau gue bunuh lu, Lekkk?" Mereka tertawa bersamaan. "Jangan macem-macem lu, gue jadiin umpan biawak baru tau rasa."


"Tapi sejujurnya, kalau Asya mau gue juga mau jadi yang kedua," ujar Alex melanjutkan candaan. "Tapi gua gak mauu, Lekk."


Tawa Arsen paling keras kali ini, terlihat sangat berbahagia dia mendengar jawaban Asya. "Ini efek kelamaan jomblo, gamon dari Adinda. Kalau gini terus jodohin aja, paa."


"Bocah sinting beneran dah lu. Gak, pa, gak usah. Alex juga gak mau dijodohin, maunya nikah sama Asya aja." Arsen berdiri, menantang Alex. "Ayok berantem la!"


Melihat Arsen yang tidak santai, Asya ikut berdiri. Masih sambil tertawa, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Arsen untuk berbisik. "Kamar yuk? Aku pengen rebahan."


"Gue tandain lu, Lex. Awas aja ntarr. Btw, pa, bun, ini Asya mau tidur katanya. Kami ke kamar dulu yaa?" Bunda dan papa Arsen mengangguk. Keduanya berjalan menuju kamar di lantai dua.


Asya jalan dengan sangat pelan, terlihat begitu kelelahan. Karena tidak sabar, Arsen langsung menggendongnya. Tiba di kamar, Arsen meletakkan Asya di kasur.


"Nggak marah beneran kan sama Alex?" Arsen menggeleng, "Aku tau dia bercanda. Di tambah lagi emang bocahnya prik. Kamu sengaja ngajak ke kamar biar ngehindarin gelut apa gimana?"


"Aku mau bobo, plus cuddle." Arsen langsung melepas baju lengan pendeknya lalu menimpa Asya, memeluknya kuat. "Kamu beratt, sayangg. Maksud aku cuddle juga gak gini ihhh. Pengen jadi duda kamuuu?!"


Arsen melepas pelukan, ia meletakkan tangan di belakang punggung Asya lalu berpindah posisi ke sebelah. Asya terikut. Kini Asya berada di atas tubuh Arsen. "Bangun aku gak nanggung!"


"Harus nanggung." Asya menatapnya kesal. "Mau di cium dong, pengen di cium ayang." Asya pun mengecup kedua pipi Arsen dan mengecup bibir Arsen.


Niat awal cuma ingin mengecup, tapi karena kejahilan Arsen menahan kepalanya, jadilah ciuman. Asya ingin memberontak tapi mager. Ia memilih untuk mengikuti kemauan suami.


Beberapa menit setelahnya, ciuman terlepas. Asya menyipitkan mata menatap Arsen. "Licik." Arsen tertawa sambil mengelus rambut Asya, "Kamu yang licik. Aku minta cium kok tadi bukan kecup."


"Iyasiii, tapi kamu licik."


Arsen tidak menjawab, ia menyuruh Asya sedikit mundur lalu membuka kancing bajunya. "Ih, kamu mau ngapainn?! Ini di rumah papaaa."


Arsen tidak menjawab dan malah mengubah kembali posisinya seperti di awal. Arsen di atas. "Ngapain, sayang? Ini di rumah papaa, maluu akunyaa."


"Iyaa, ngerti. Aku juga gak aneh-aneh kok. Cuma mau bobo deket squishy. Ayok bobo siang, sayang."


Baru ingin memejamkan mata, Arsen berulah. Yang katanya 'cuma mau bobo' malah melakukan hal lebih. Asya menahan diri untuk tidak bersuara karena ulah Arsen. Melihat Asya gelisah sendiri, Arsen berhenti lalu cengengesan.


"Omongan cowok emang gak bisa dipercaya yaaa?!" Arsen tertawa kemudian menjatuhkan diri ke sebelah Asya. Asya menghadap samping dan bertatapan dengan suaminya. "Kenapa natap?" tanya Arsen heran.


"Pengen ciuman lagi."


"Gak usah mulaiii."


"Kamu yang mulai duluan daritadiii. Ih, giliran aku yang minta malah kamunya gak mauuu!" dumel Asya kesal. "Masalahnya, kalau kamu yang minta aku gak bakal bisa berhenti."


"Serem juga ya? Tapi boleh di coba." Arsen tertantang. Baru ingin menyatukan bibir mereka, suara ketukan pintu terdengar. "Kakak Asyaa, main yuu?"

__ADS_1


Arsen memejamkan matanya, menjatuhkan kepala tepat di atas dada sang istri. "Kalau gini ceritanya boleh ndak tunda dulu punya dedenya? Gak bisa aku diginiin."


Asya tertawa melihatnya. "Lebayy!!"


__ADS_2