
"Lu juga bakal nginep kagak, Pi, Ja??"
Rapat mereka sudah selesai barusan, semuanya lagi berjalan keluar ruangan. Kini menuju ruang keluarga.
"Gak. Stress ntar gue ketemu Asya mulu," kata Keja sensi.
"Alaahhh, bacrit lu! Lu aja ngikut gue ke toko es krim karena rindu gue," sahut Asya.
"Kepedeannn bangettt manusia satu ini! Gelut yok!!"
"Lah ayokkk. Gue tunggu di ruang fitness ntar sore!"
"Awas aja sampe nangis lu nyaa," cibir Keja.
"Dihh, kagakk! Lu yang bakal nangis."
Keja menatap sinis Asya, begitu juga sebaliknya.
"Kalian berdua gue lempar ntar, jangan pada belagu deh ah!" omel Frizy.
"Ampun suhuuu."
"Suhu suhu pala mu peang!"
Keja dan Asya cengengesan.
"Oiya! Ntar kuliahnya Asya gimana, bang?"
"Ya kuliah biasa. Asya sama Arsen kan beda jurusan, beda fakultas, beda waktuu, gak bakal ketemu juga."
"Bang? Abang tau dari mana?" tanya Arsen heran.
"Apa yang gak abang tau. Udah. Buruan selesein kalau lu mau ketemu Asya lagi," jawab Zafran.
"Kalau gue bisa selesaiin cepat, gue nikah duluan ya?" tanya Arsen lagi.
"Iyyaa. Dengan batas waktu dua hari. Ini sabtu jadi paling nggaa yaaa hari selasa abang dapat kabar dari kamu," kata Zafran menantang.
"Okee!"
Arsen langsung menghampiri dan memeluk erat Asya. Setelah itu mengecup keningnya.
"Tunggu aku ya, gak bakal lama. Sehari pasti siap," ujar Arsen lembut.
"Iyaa. Selesein pake kepada dingin yaa, jangan emosian. Oiya, jangan lupa makan dan istirahat."
Arsen tersenyum lalu memeluk Asya lagi.
"Sedih yaa, baru ketemu langsung pisah lagi. Hahahahahahahahaha mampusss!" ledek Azril puas.
Arsen melepas pelukan. "Yaaa setidaknya gue sama Asya punya hubungan pasti. Bukan kek hubungan lu sama Naina, gak jelas!"
"As- ughhh. Sabar, Zrilll, sabarrr!"
Mereka tertawa.
"Tenang aja lu, Zril. Kalau dia bisa belagu, lu bisa main vote."
"Gue tandai lu, Pi. Awas aja lu yee!" Upi terkekeh melihatnya.
"Udah sana buruan. Lama amat perpisahannya," cibir Zafran.
"Iya, bang, iyaa. Gue pergi dulu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, tiatiii."
Arsen tersenyum sekilas lalu pergi. Arsen berjanji akan menyelesaikan semuanya dalam dua hari. Ya! Dua hari sesuai tantangan Zafran.
"Arsen mau pulang?"
"Eh.. Tuan Hitler," sapa Arsen sambil menyalami tangannya. Jujur, dia bingung manggil apa ke kakeknya Asya.
"Tuan Hitler? Panggil haraboji aja, sama seperti Asya dan yang lain."
"Hehee, iya, haraboji."
"Arsen mau kemana?" tanya kakeknya Asya.
"Mau pulang, harabojii."
"Gak mau makan dulu??"
"Nggak, haraboji. Ada urusan penting yang ga bisa Arsen tunda," jawab Arsen sopan.
"Ooo yaudah. Kalau gitu hati-hati ya, Arsen."
"Iya, haraboji. Arsen pamit dulu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Usai salam, Arsen melanjutkan perjalanan.
Dirinya langsung keluar rumah, menuju garasi, masuk ke mobilnya dan langsung pergi dari sana.
"Okee, dua harii... mulai dari mana dulu ini?" tanya Arsen berfikir keras.
"Konsultasi ke Om Aska dulu kali ya? Eehh kesannya kea ngegantungin diri ke mertua ga sii? Ck, gak mandiri jadinya!!" ujar Arsen bermonolog di sepanjang perjalanan.
"Tapi kalau gue gerak sendirian malah salah jalan gimana yaa??"
"AGHHH!!"
"Ayooo mikir, Arseenn. Waktu lu ga banyakk!!"
◕◕◕
Asz Group.
Aska sedang duduk santai di kursi dengan kedua kaki berada di meja, ia menyeruput kopi yang kesekian dan menatap sinis ke arah Mikko.
Yash! Sudah beberapa jam berlalu tapi tidak ada yang bersuara. Pertanyaan Aska di beberapa jam yang lalu, belum terjawab sampai saat ini.
Mikko sendiri sedang memikirkan jawaban untuk ngeles, atau mungkin jawaban yang sesungguhnya.
Satu hal yang pasti, makin lama Mikko diam, makin lama juga ia berada di ruangan dengan hawa yang mencekam.
Tok tok!
"Permisi, Pak Aska." Aska menurunkan kakinya ketika pengganti Rafael datang. Pengganti sementara.
"Kenapa?" tanya Aska.
"Meeting yang saya bilang tadi ke bapak, pak. Client kita dari Italia, dia sudah menunggu bapak sedari tadi."
Aska menatap sekilas ke Mikko. "Saya masih belum bisa keluar ruangan. Di gantikan gak bisa?"
"Gue yang gantiin ntar. Lu lanjutin aja sidangnya."
Aska melihat ke belakang asistennya.
"Loh? Zai? Ngapain disini?"
"Ya ngecheck kondisi kantor lah, bang. Lu kenapa cepet banget masuknya? Perasaan gue baru pulang dah," ujar Zai.
"Gak enak gue sama lu, sama Bang Ze juga. Ngerepotin banget jadinya," jawab Aska.
"Alah lahhh. Kek sama siapa ajaa! Udah lu lanjut ya, bang. Biar gue yang wakili lu."
Aska tersenyum, "thank you brother." Zai juga membalas dengan senyuman manisnya, kemudian pergi bersama asisten Aska.
"Hadehh... tiga meeting penting saya lewati demi nunggu Anda, Pak Mikko."
"Gak ada yang minta Anda untuk menunggu saya," jawab Mikko santai.
"Wahh! Masih bisa bicara? Saya kira sudah bisu!" Aska membawa gelas kopinya kemudian menghampiri Mikko lagi.
"Udah nemu jawaban ngelesnya, Pak? Saya capek nunggunya nih. Jangan sampe saya marah karena menunggu terlalu lama," kata Aska di dekat Mikko.
Mikko diam lagi.
"Tinggal jawab pertanyaan saya apa susahnya, Pak Mikkoo?"
"Silakan ulang pertanyaan Anda."
Aska menghela nafas panjang, "oke kita mulai dari awal. Jawab jujur, berapa utang mamanya Arsen?"
"350 jt."
"Kenapa jadi lima miliar?"
"Saya... saya punya utang banyak sama papanya Angela. Hutang tersebut berbunga besar dan jadinya sampe lima miliar."
"What? Untuk apa utang sebanyak itu??"
__ADS_1
"Investasi waktu itu. Tapi ternyata investasi bodong," jawab Mikko menunduk.
"350 jt utang mamanya Arsen, berbunga besar jadi lima miliar. Anda ngutang kapan??"
"Setelah kematian mamanya Arsen."
"Loh? Berarti perjanjian itu bukan buatan mama Arsen??" Mikko menggeleng pelan.
"Itu surat tulisan saya yang saya buat mirip dengan tulisan mama Arsen."
"Wah..."
Prok!
Prok!
Prok!
"Anda hebat, Pak Mikko! Ternyata Anda benar ingin menjual Arsen."
"B-bukan gitu tujuan saya sebenernya, ini hanya untuk sementara. Angela tipe orang yang gampang bosen, jadi kalau dia bosen sama pernikahan kan bisa cerai," jawab Mikko.
"Jadi kalau dia cerai, nanti lanjut sama anak saya? Anak saya dapet bekas orang gitu? Gak sudi saya, Pak!"
"Mau secinta apapun Asya kalau jadinya bekas orang saya gak bakal izinin. Karena nantinya bakal bawa konflik besar di rumah tangga mereka," ujar Aska.
Mikko terdiam.
"Sebelumnya, kenapa harus di bayar dengan perjodohan?
"Waktu itu Angela ketemu secara gak sengaja sama Arsen, dia jadi suka sama Arsen. Angela cerita ke papanya, papanya cari-cari dan ternyata berhubungan dengan saya. Setelahnya, papa Angela minta pertemuan untuk bahas semuanya."
"Sebenarnya saya mau bayar dengan cicilan, jual beberapa barang, tapi mereka menolak keras dan hanya mau perjodohan. Dengan perjodohan semua hutang lunas, tanpa ada penagihan lagi nantinya kalaupun mereka cerai."
"Papanya Angela tau tidak kalau Arsen punya tunangan?"
"Tau."
"Berarti tau Asya anak saya?"
"Tidak. Mereka cuma tau Arsen punya tunangan, mereka gak mau telusuri lebih dalam karena gak mau bikin Angela bertindak yang nggak-nggak."
"Saya juga di suruh untuk membujuk Arsen, agar Arsen mau. Biar nantinya hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Arsen harus mau agar semuanya aman," jelas Mikko.
"Kuncinya Arsen harus mau. Kalau Arsen gak mau, jangan sampe tunangan Arsen ketemu sama Angela biar gak kenapa-kenapa. Tapi sayangnya, tadi mereka ketemu, yakan?"
Mikko mengangguk pelan.
"Hadehhh. Lalu kenapa Anda menjual mobil mama Arsen?"
"Itu persiapan awal saya waktu mau ketemu papanya Angela. Awalnya untuk nebus, tapi tidak di terima. Sekarang udah saya beli lagi kok," jawab Mikko.
"Anda taukan, saya juga melarang Arsen jual barang agar tidak sia-siaa."
"Sia-sia?"
"Pihak Angela gak mau pelunasan dengan cara lain. Benar-benar harus dengan perjodohan. Kalau misalnya dengan cara lain, lima miliar tanpa cicilan harus langsung masuk ke rekeningnya."
Aska diam sejenak.
"Lima miliar bukan jumlah yang sedikit, Pak," keluh Aska sambil menyandarkan tubuhnya.
"Iya, memang bukan jumlah yang sedikit. Andai saja saya gak ngutang waktu itu..."
Aska menatap Mikko sekilas.
"Penyesalan memang selalu di akhir. Next time, lakuin sesuatu setelah di pikirkan matang-matang."
Mikko mengangguk lagi. Aska sendiri sedang berfikir sembari menatap langit.
"Gimana yaa cara selesaikannyaa?"
"....."
"Aaahh iya!" Aska beranjak pergi, ia menuju kursi kebanggaannya.
"By the way, kenapa Anda jawabnya lama banget tadi? Kenapa mikirnya lama?"
"Karena saya nyusun kata yang tepat dulu, Pak. Kalau saya asal bicara tentunya gak mudah untuk keberlangsungan hidup saya."
Aska tertawa kecil lalu kembali fokus ke komputer di hadapannya.
"Okee, saya bisa bantu kali ini."
"Iya. Lima miliar memang tidak sedikit. Tapi saya punya cara lain untuk menyelesaikan semuanya," ujar Aska masih menatap komputer.
Tok! Tok!
"Masukk."
"Permisiiiiyyyy."
Aska menoleh.
"Eh, sayaang. Ngapain ke kantor?" tanya Aska langsung menghampiri Zia.
"Mau nyemangatin kamu dong, hehe."
Aska tersenyum senang lalu memeluk erat Zia. "Aku capekk," keluh Aska manja.
"Ntar malem seneng-seneng kita," goda Zia.
"Gimana ni gimana? Mo bikin adeknya Asya Azril?"
"Ngacok!!"
Aska tertawa.
"Ekhem!"
"Eh astaghfirullah, lupa ada Pak Mikko. Maaf, pak," ujar Aska cengengesan.
"Gapapa kok, Pak. Gapapa beneran, gapapaa." Zia tertawa kecil melihat ekspresinya. Ia melepas pelukan Aska lalu duduk di kursi depan meja Aska.
"Aku di kasih tau sama papa, Arsen di sidang sama Zafran," Zia membuka topik.
"Serius? Sidang apa?"
"Yaa sidang perjodohan Arsen sama kucing. Keputusannya Arsen gak boleh ketemu sama Asya kalau masalah belum selesai."
"Hahahaa.. berjuang sendiri noh Arsen." Zia mengangguk sambil nyengir.
"Anyway, mereka tau dari mana kalau perjodohan Arsen, Bu?" tanya Mikko.
"Berita, Pak. Beritanha udah bermunculan di media sosial."
"Whatt?!"
Aska dan Mikko mengechecknya.
"Wahh! Siapa yang bikin berita macam ini?!" ujar Aska kesal.
"Sepertinya Angela mulai bertindak. Dia mencoba untuk mengklaim bahwa Arsen miliknya."
◕◕◕
19.59, big home keluarga Hitler.
Wkwk.
Yang katanya tadi gak mau nginep, pada akhirnya ya nginep karena pengen ngumpul keluarga.
Semacam kesenangan sendiri ketika kumpul bersama. Itu yang di rasakan Upi, Keja dan yang lain.
Tapi perkumpulan mereka kali ini perkumpulan sepupu yang tanpa melibatkan orang tua, kecuali Zean dan Febby.
"Zrill, lu gak malmingan?" tanya Keja baru keluar kamar.
"Udah pernah. Lu mau malmingan?"
"Iyyaa, sama cewek lu."
"Anak ngen—"
"HEH HEH APA ITU?"
Azril cengengesan di depan Febby.
"Dari pada lu bedua bacot, mending kita mabar!" ajak Upi.
"Alahh lu aja noob anjirrr," ledek Frizy.
"Dihh, songong lu. Ayok battle ajaa!" tantang Upi sinis.
__ADS_1
"Ayok!"
"Gue ikut. Gue di tim bang Frizy," sahut Keja.
"Okee! Gue bantu upil kuda."
Mereka berempat mengambil posisi masing-masing kemudian mulai memiringkan ponsel.
"Ini Asya kemana?" tanya Zean.
"Masih tidur mungkin? Dia kan kurang sehat," jawab Azril.
"Hm? Masa iya? Sakit apa adek nya Zap?" Zafran meletakkan buah yang ia potong lalu menghampiri Asya.
Tok tok!
"Asya? Abang boleh masuk??"
"Hah?? Bentar abanggg!"
Zafran menunggu di depan pintu.
"Tunggu ya, bangg."
"Iyaa. Abang tunggu dari tadi," jawab Zafran kalem.
Dua menit kemudian pintu terbuka.
"Gak lama kan? Hehe."
"Kamu ngapain di dalam? Abang mau masuk."
"Eeyy no nooo.. emm no."
"Whyy? Abang mau liat dulu."
"Jang—" Belum siap Asya bicara, Zafran sudah masuk duluan. Ia langsung menatap Asya setelah tiba di dalam.
"Eeee.. Hehehe."
"Ngapain aja sih, dek? Astaghfirullah. Berantakan banget kamar kamuu. Kaus kaki bertebaran, jajan beserakann. Ngapain coba kamu?"
"Tadi Asya kedinginan, nyari kaus kaki, abistu lupa balikin yang beserak."
"Terus kenapa lama banget buka pintu?"
"Tadi ga pake baju, hehe."
Zafran menepuk jidatnya. "Ada-ada aja kamu tuh. Gabut ya?" Asya mengangguk sambil cengengesan.
"Aturnya bilang kalau gabut. Kan bisa abang ajakin keluar," ujar Zafran.
"Eii? Benerr?"
"Iyyaa benerr. Tapi tadi katanya kamu sakit, jadi gak boleh keluar."
"Ihhh siapa yang bilang?? Asya sehat kok. Bisa lompat nihh!" Asya melompat-lompat kegirangan.
"Iya iya udah. Jangan lompat terus nanti kaki kamu sakit. Kalau mau keluar, kemanaa?" tanya Zafran.
"Eum.. kemana aja deh gapapaa. Yang penting keluarr," jawab Asya antusias.
"Yaudah kalau gitu siap-siap kamunya. Abang tunggu di bawah, sepuluh menit siap. Deal?"
"DEAL!!"
"Abang keluar sana, hus huss. Bye~"
Pintu langsung tertutup ketika Zafran sudah di luar. Zafran auto menggelengkan kepala melihat ulah Asya.
"Sehat kan?" tanya Upi ketika Zafran sudah di lantai dasar.
"Sehatt. Gabut banget dia tadi, kamarnya sampe berantakan."
"Ajakin keluar sana," suruh Febby.
"Ya ini mau di ajak keluar, Ma."
"Gue ikut, bang!" pinta Frizy.
"Kamu siapa?" ujar Zafran meledek.
Mereka yang mendengarnya pun tertawa.
"Gue adek lu, bang!"
"Adek gue cuma Asya sih. Kamu siapa?"
"Mamiiiii!!! Liat abangggg jahattt," adu Frizy manja. Mereka tertawa lagi melihatnya.
"Malu sama umur! Udah gede masih manja," ledek Zafran.
"Diww. Irii!"
"Hwahahaha, yang di ledekin sekeluarga. Kapokk uu hahahahaaaa!" Asya datang langsung ikut meledek Frizy.
"Wih! Minta di tebas kepala anak ini."
Asya cengengesan.
"Asya tu harusnya abang ledek, masa udah gede masih manjaaa!" cibir Frizy.
"Lah yang bilang Asya gede siapa? Masih bocil gini di kaya bayi."
"Ya Allah... Asya udah kepala dua abang," jawab Asya sembari menatap Zafran.
"Iyakah? Ah bongakk."
"Asya udah ge—"
Hatcim!
"–deee!"
Mereka malah tertawa.
"Asya masih bocill lima taunn," goda Keja.
"Nggak yaaaa."
"Iyaa yaa. Kamu tu bocil, Asyaa. Mana ada orang gede bersin se-imut kamu."
"AAWWWW, mau balik ke khayangan dehhh. Byeee~"
"Hahahaha!!"
Di sisi lain.
Ceklek!
"Siapa suruh jualin semua jam-jam Rolex kamu?"
"Paan sih, om? Jual mobil gak boleh, tanah gak boleh, masa jam juga ga boleh?! Gimana cara ngelunasin utang kalau cuma diam ajaa?!"
"Ckk, makanya sabarr!" jawab Mikko kesal.
"Sabar apaan, sabar? Sebulan lebih di suruh sabar mulu. Beres kagak makin stress iya."
"Om tu gak ngerestuin Arsen sama Asya apa gimana si? Kalau emang gak restuin, gak usah pake perjodohan gini dong ah!"
Mikko memegang bahu Arsen lu menyuruhnya duduk.
"Siapa yang gak ngerestuin ponakannya nikah sama anak konglomerat? Gak ada, Arsen."
"Ada lah. Om Mikko contohnya!"
"Om bukan gak ngerestuin kamu, Senn."
"Jadi apaa?" tanya Arsen kesal.
Mikko menatap mata Arsen kemudian menghela nafas panjang sekejap.
"Dengar baik-baik, om mau cerita."
◕◕◕
"Kesempatan buat dapetin Arsen tu gak besar."
"Maka kesempatan buat celakain siapapun di dekatnya lebih besar."
"You're crazy human!"
"Yes, I know."
__ADS_1