Barbar Generation

Barbar Generation
Gagal prankkk


__ADS_3

09.17, Selasa, rumah abu-abu.


"Woiilahh. Lu pada kagak bosen main??" Tanya Asya heran melihat teman temannya sudah kembali berkumpul.


Terkecuali Arsen, dia sendiri yang tidak ada disana.


"Keknya si Asya ngusir halus." Ujar Dino.


"Wahhh, gak nyangka. Lu peka yaaa, Din."


"Jjancokk!" Asya tertawa.


"Sya, bikin minum gih." Suruh Alvin.


"Ambil sendiri njingg. Malesss gua!"


"Ah, ayolah babuu. Cepattt," perintah Haikal.


"Ogah. Allah menciptakan tangan dan kaki untuk digunakan. Orang yang kekurangan tangan ataupun kaki aja berusaha untuk ngelakuin semuanya sendiri, masa iya lu pada yang lengkap nyuruh gua."


"Anjirrr, tertampar terjungkal gue." Shaka langsung pergi ke dapur disusul yang lain.


Asya yang melihat mereka tersenyum smirk.


"Ngapa lu senyum senyum gitu?" Tanya Alex.


"Dihh, kenapa emang?"


"Takut gue nya terpesona."


"Oanjing." Alex cengengesan.


"Naiii, mau minum kaga?" Tanya Azril dari dapur.


"Hm?? Mauuu."


Naina menyusul Azril, "ehh? Ngapain kesini? Ntar gue bawain."


"Nanti yang lain protes." Bisik Naina di dekat Azril, Azril tertawa mendengarnya. Mereka kembali ke ruang tamu.


"Gue laper tauuu, lu pada gak laperr?" Tanya Ara.


"Gue laperrrr, bangett." Jawab Asya.


"Kok gak bilang?"


"Karena magerrr."


"Tinggal ngomong lah. Minta di smekdon kadang!" Asya tersenyum lebar, "xixi."


"Mau makan apa?" Tanya Shaka.


"Mauuu.. mie gorenggg!"


Pletak!


Shaka menyentil jidat Asya.


"Pengen sakit? Gak usah betingkah kau!"


"Ishh. Yaudahhh, mie rebusss yang pake mie lidi itu."


"Gak usah mieee, tolilll. Masih pagii ini. Jangan sampe ku lempar kauu." Omel Alvin kesal.


"Tapi gue pengen miiie."


"Ngidam lu?" Tanya Haikal.


Bugh!


Bugh!


Asya menggebuki Haikal. Haikal yang kesakitan menahan tangannya, "udah ya udahh. Sakit sumpah." Asya menghela nafas lalu berpindah.


"Abaikan Asya. Lu pada mau apa?" Tanya Shaka kearah Ara dan yang lain.


"Mie juga." Jawab ketiganya kompak.


"Nahkann! Toss dulu gaisss!" Mereka berempat bertosria.


"Gausah makan kalau maunya mie!" Ujar Azril datar.


"Yauda kalau gak mau mesanin kan bisa mesan sendiri." Ara mengambil ponselnya, tapi kalah cepat dengan tangan Haikal.


"Hihh! HP lu mana, Kak Sya??"


"Dah diambil Azril. Galak kalii diaa," jawab Asya melesu.


"Sensi kali kelen. Mau makan mie doang punnn," protes Ara.


"Setidaknya tau waktu. Ini masih pagii!" Omel Haikal. Mereka auto terdiam mendengarnya.


"Oke dehhh, nasi goreng." Ujar Ara.


"Gue mauu makanan mekdiii." Sahut Asya.


"Agak lain anak ini ku tengok."


"Apalagiii? Yang sarapan pagi lhooo!"


"Iya tauuu. Terus, yang lain?"


"Samain aja mekdiii." Jawab Yuna.


"Nai??"


"Apa aja terserah."


"Kalemm bangett dia gaiss. Jadi pengen gandeng."


"Shut up! This is my favorite girl!" Mereka tertawa melihat Azril ngamok.


"Gue ganti dehh, ikutan mekdii." Pinta Ara.


Alvin dan Shaka pun memesankan makanan mereka.


"Btwww, Arsen mana?" Tanya Dino.


"Arsen keluar kotaa." Jawab Alex sambil mengeluarkan sebungkus rokok.


Shaka langsung merampasnya. Alex menatap Shaka keheranan, Shaka menggeleng pelan.


"Asya Azril sesak hirup asap rokok." Alex menggangguk paham.


"Arsen udah pernah bilang waktu itu, guenya lupa. Maaf yaa."


"Gapapa, sanss." Shaka memberikan kembali rokoknya.


"Apa enak merokok, Lex?" Tanya Asya.


"Hm? Gak tau juga. Mau nyoba lu?"


"Gue tabok luu!" Amuk Azril, Alex cengengesan.


"Kalau bisaa, Bang Alex berhenti ajaa. Gak bagus tau buat kesehatann." Ujar Yuna.


"Iyaa. Nanti diusahakan berhenti."


Tangan Alex ingin menggapai rambut Yuna, tapi Dino langsung menghempaskannya.


"Senggol bacok!"


"Opppp! Ngeri kali abang kita ni bahh." Ledek Alvin, mereka tertawa dibuatnya.


"Si Arsen kapan perginya?" Tanya Naina.


"Semalam sore."


"Sama siapa?" Tanya Asya gantian.


"Om Mikko."


"Lu gak tau, Sya?" Asya menggeleng.


"Bodoamattt, I don't care!"


"Sok sokan I don't care, padahal mikir 'kok Arsen gak ngabarinn guee?!' Gitukan?" Haikal meledek.


"Diamm!"


"Hahahaaa!!"


β—•β—•β—•


11.21, restoran Jepang.


"Aahh.. capek!" Keluh Arsen sambil menyandarkan tubuhnya.


"Ceileee. Kebanyakan begadang sih tadi malemm," ledek Mikko.


"Arsen begadang juga ngurus berkas, ommm." Mikko cengengesan mendengarnya.


"Mau pulang sekarang?"


"Om gak mau istirahat dulu?"


"Kalau gitu balik ke hotel ajalah, yaa?" Arsen mengangguk.


Melihat Mikko mendapat panggilan, Arsen meraih ponselnya.


"Alex jadi tempat Asya. Berarti, Asya tau nii." Arsen menghubungi Asya dengan panggilan video.


...cillls-β™‘...


^^^"Assalamu'alaikum, cantikkuu."^^^


πŸ“ž "Hm, wa'alaikumsalam."


^^^"Hawa hawa badmood, kenapa kamu?"^^^


πŸ“ž "Gapapaa."


^^^"Gayanyaaa gapapaan padahal ada apa apaa."^^^


^^^"Maaf atuhh, aku gak sempet kabarin kamuu. Mendadak banget kemaren perginyaa."^^^


πŸ“ž "Alex kok tau?"


^^^"Dia cenayang."^^^


Asya menatap sinis Arsen membuat Arsen tertawa.


^^^"Dia mau ngerusuh ke apart kemaren, tapi pas pula mau pergii."^^^


πŸ“ž "Oh. Hm."


^^^"Singkatt padat menyakitkann. Masih ngambek? Gak percaya?"^^^


πŸ“ž "Sotoyy bangett, siapa yang ngambek??"


^^^"Ii ilihhh, jujur aja dehhh udahh."^^^


πŸ“ž "Jujur apaa? Lu yang harusnya jujurr!"


^^^"Lu lu lu. Tampol juga ntarr!"^^^


Asya cengengesan.


πŸ“ž "Lagi dimana?"


^^^"Restorann. Abis meeting sama client."^^^


πŸ“ž "Kenapa pergi gak bilang?!"


^^^"Kenapa gak mau ngechat?"^^^


πŸ“ž "Sibukkk."


^^^"Sibuk apaa? Open BO?"^^^


πŸ“ž "Minta di sleding kamu yaa!"


^^^Arsen tertawa.^^^


^^^"Mau dibeliin apaan?"^^^


πŸ“ž "Ngga adaaa. Gak mau apa-apaa."


^^^"Yakinn?"^^^


πŸ“ž "Heeemm."


^^^"Seriuss?"^^^


πŸ“ž "Iyaaaaaa."


Arsen tertawa lagi karena melihat Asya melotot. Bukannya nyeremin tapi malah gemesin dimata Arsen.

__ADS_1


^^^"Awas copot tu mataa."^^^


πŸ“ž "Nyenyee. Kapan pulang?"


^^^"Bentar lagii, mungkin sore sampee."^^^


^^^Asya berohria.^^^


"Permisi, masss." Arsen menoleh, ada seorang wanita datang.


"Kenapa, mbak?" Tanya Arsen sok cool. Asya sendiri menatap sinis Arsen.


"Mau.. mau minta foto boleh?"


Seketika Arsen melihat Asya yang kesal. Ketebak banget Asya lagi kesal karena ia mematikan kameranya.


"Bentar, mbakk."


^^^"Cilll?"^^^


πŸ“ž "Hm?"


^^^Arsen menyeringai.^^^


^^^"Boleh gak nih? Idupin lah kameranyaa, ngapain dimatiin?"^^^


πŸ“ž "Karepp muuu."


Arsen tertawa, "maaf, mbakk. Tunangan saya galak, senggol dikit bisa berurusan bertahun-tahun."


"Kalau minta nomor wa-nya, mass?"


"Maaf, mbak. Kalau mau, berurusan dulu sama tunangan saya."


Wanita itu sedikit mengintip, melihat Asya yang sedang tersenyum.


πŸ“ž "Halo, mbak. Request duluu ya, mau kain kafan motif Upin Ipin atau motif Spongebob?"


Wanita tadi gugup mendengarnya. "Gak jadi deh, mass. Saya kalah cantik."


"Iya sih, mbak. Tunangan saya lebih cantik."


Nyesekkk bosqueeee.


Tanpa menjawab lagi, wanita itu pergi.


Arsen kembali melihat ponselnya, Asya sedang makan burger tanpa menatap Arsen.


^^^"Cilll."^^^


πŸ“ž "Apaaaaa?!"


^^^"Iii kok ngamok?! Jealous, yaa?!"^^^


πŸ“ž "Widihhh. Mimpi ajee sonoo!"


Asya mematikan panggilannya.


Arsen tertawa, Asya bukan jealous. Tapi sedang malu karena perkataan Arsen sebelumnya.


Arsen pun membuka room chat.


cillls-β™‘


online


^^^cilll^^^


apaaaa ishh?! cal cil cal cil muluuu!


^^^ngamok betul ahh^^^


^^^aku ga pulang yaaa?^^^


iyaaa gausahhh. nginep aja disanaa.


^^^dihh, kok gitu?^^^


bodoamat, oraaa peduli.


^^^tenan o?^^^


^^^pdhl tadi mau beliin coklat, susu sama jajanan.^^^


aaaa


ydh gpp, bisa beli sendiri.


^^^KAMPRETTT!^^^


kok ngamokk?!


^^^ayooo gelut lah cilll.^^^


^^^ga pengertian bangett, herann.^^^


mau dingertiin gimana lagi ayangg?


"ANJJRRR NGEFLYYY! Lemah bangett kalau udah giniii."


"Kenapa kamu?" Tanya Mikko.


"Hah? Gapapa, om. Lagi chat sama Asya."


cillls-β™‘


online


^^^ehm^^^


^^^mau dibawain apa cantikk?^^^


seblak


seblak


seblak


susu


coklat


eemmmmm


^^^mau aku ga?^^^


ngga, makasih.


Drrt.. Drt..


...cillls-β™‘...


^^^"Apa?"^^^


πŸ“ž "Assalamu'alaikum gantengggkuu."


^^^Arsen ngefly lagii, tapi dia berusaha sok cool sekarang.^^^


^^^"Ehm. Wa'alaikumsalam."^^^


Arsen tidak mendengar Asya bicara, mereka disana sibuk dengan kegiatan masing-masing.


^^^"Udah ya, matiin?"^^^


πŸ“ž "Mau ngapain?"


^^^"Yaa ngapain ku denger, kamunya sibuk sendiri."^^^


πŸ“ž "Bilang aja mau godain mbak mbak tadi, ekann? Iyalah masa ngga."


^^^"Jangan ngadi-ngadii!"^^^


Asya nyengir,


πŸ“ž "Iyaudahhh. Cepet pulangg, ga perlu dibawain apa apa juga gapapaaa. Yang penting cepet pulang!"


^^^"Mas–"^^^


Tuuttt..


Asya langsung menutup panggilan.


Arsen menatap ponselnya sambil tersenyum. Meleeyottt lah si bucinnn.


"Bucin bangett kamu lahh. Sama mantan juga ga pernah ginikann?" Tanya Mikko sembari meledek.


"Nggak lah, om. Yakalii," jawab Arsen.


"Kenapa bisa beda?"


"Arsen gak tauu kenapa."


"Lah? Kamu suka sama Asya kenapaa coba?"


"Arsen juga gak tau kenapaa. Beda ajaa kalau samaa Asya, sekarang udah bener bener gak mau kehilangan Asyaa."


"Gak pernah cemburu apa liat dia sama temennya?"


"Awal awal mah cemburu. Tapi pas udah kenal merekaa, Arsen gak pernah ngerasain cemburu. Mereka pure temenan tanpa rasa, mantep kan?"


"Salut sih liatnyaa."


"Arsen jugaa."


"Baideweee, kamu pernah nganu sama mantan?"


"Gilaa kalii lah Arsen sampe ngelakuin gitu. Pakboi iya, tapi gak sampee ngerusak juga lah, om."


"Guddd boyy."


"Ukuran berapa, Sen?"


"Hah?? Apaaann om astaghfirullah!!"


"Ukuran celana maksud om. Negatif sih otaknyaa," ledek Mikko sambil tertawa.


"Y-yaa Om Mikko gak bilang!!" Mikko cengengesan.


"Mau dibeliin apa tuh pawangmuu?"


"Asya waktu itu pengen kucing, tadi Arsen liatt ada yang warna abu abu imut bangett."


"Yaudah, nanti mampirrr."


"Sekalian kee supermarket ya, om."


β—•β—•β—•


16.36, ZiCF.


"Woilahh, yang benerrr napasiiik!" Omel Shaka kesal karena melihat Haikal dan Alvin berebut tempat duduk.


"Kagak malu diliatin orang lu pada?!" Tanya Naina.


"Urat malunya udah putus, Nai. Gimana mau malu?" Tanya Azril balik.


"Syaland lu, Zril!!" Azril cengengesan.


"My mom disini gak, yaa?" Asya pun berjalan sembari bertingkah, ia bertanya kepada manager nyokapnya.


"Mommy ada disini nggak, mbak?" Asya berbisik.


"Adaa, lagi tidur di ruangan pribadi bareng Pak Aska."


Asya mengangguk paham, "dimanapun berduaan. Dasar orang tua!" Mbak Ina tertawa.


Asya kembali melihat kearah meja tempat mereka makan. Arsen sudah berada disana.


"Mbakk, ada gak sih kek jajanan sejenis rokok rokokan gituu?" Tanya Asya.


"Ada, Syaa. Baru terbit hari ini makanannya."


"Masih ada, mbak?"


"Masihh, jarang dibeli karena lumayan mehong."


Asya mengangguk paham, ia melihat kearah sebelah. Ada mas mas yang bantu Mbak Ina, "mass. Rokoknya udah habis?"


"Iya udahh, kenapa nona?"


"Nona nona. Jangan panggil nona, panggil Asya aja." Mas itu tersenyum segan.


"Mau buat apa, Asya??"


"Mau buat prank. Mbakk, yang lapisan rokoknya dibuang yaa abistu masukin rokoknya kesitu." Mbak Ina mengangguk.


Mereka berdua pun menuruti permintaan Asya.

__ADS_1


"Ni, Syaa."


"Ahiii, berapa mbak?"


"Loh? Ngapain bayar?" Tanya mas yang tadi.


"Eiii, ini kan usaha mommy. Bukan usaha Asya, jadi Asya kudu bayar."


Asya pun membayarnya, kemudian memasukkannya ke kantong lalu pergi menuju yang lain.


"Hellowww!!" Sapa Asya ceria.


"Cilll! Darimana si?!" Tanya Arsen kesal.


"Dari... hatimueeeh!"


"Kan kan jamettt." Asya cengengesan.


"Tungguuu, jangan duduk duluu!"


Arsen berdiri lalu memeluk Asya, "rindu tauukkk!" Bisiknya.


"Modusss kamuuu! Gak bawa oleh oleh beneran?" Tanya Asya setelah melepas pelukan.


"Adaa. Tu sama Ara." Asya menoleh.


"AAAAAA KUCINGGG. Imut bangetttt kayak gueee!" Asya bersorak girang.


Tatapan pelanggan lain menuju kearah mereka. "Ya Allah, punya temen gini amat." Keluh Dino, Asya tertawa.


"Kok cuma satu siik?" Tanya Naina.


"Iyaa, kenapa gak sepasang?" Tanya Ara gantian.


"Nanti tekdung. Gak boleh. Tunggu pemiliknya nikah dulu baru mereka nikah."


"Sa ae lu kodok bancett!" Ledek Haikal lalu tertawa.


"Btwww, gue baru sadar. Kenapa lu pake sarung begoo?!" Azril menyadarkan mereka dari kucing tadi.


"Celana gue abisss. Gara-gara dibawain mulu sama si bajingan satu ini." Arsen menunjuk Alex.


Oknum pencuri celana itu cengengesan.


"Kang rusuh."


"Dalemnya pake celana kan lu?" Tanya Racksa. Arsen mengangguk.


"Cill, aku cakepan pake celana atau pake sarung?"


"Gak pake apa apa."


Bukaannnnn! Bukan Asya yang menjawab, melainkan Alvin si peaaa.


"Goblokk emang." Alvin cengengesan.


"Lu cakepan pakee, pakee rok sih." Ujar Ara.


"Dejancok!" Mereka tertawa.


"Kamu cocok pake apa aja sii, yang penting jangan pake celana pendek." Arsen tersenyum mendengar jawaban Asya.


"Suka kucingnya?"


Asya mengangguk, "tengkyuuu."


"Sama sama, cantikkuu."


"Hwaah! Meresahkan." Mereka berdua tertawa.


"Yuna mana?"


"Ada acara sama bokapnya." Arsen berohria, ia duduk disamping Asya.


'Haha, ini saatnya!' Asya mengambil rokok kw itu dari saku.


"Ada yang punya korek?"


"HEH APAAN?! LU NGEROKOK?!" Tanya Dino tekejut.


"Berisik dihh. Lexx, pinjem korekk."


Arsen merampasnya, "nggak! Apa apaan kamu merokok?" Ia menatap Asya sinis.


"Ish, apasiii? Ngerokok doangg."


"Ngerokok doang pala lu! Lu aja gak demen bau asapnyaa. Sejak kapan lu ngerokok, hah?!" Tanya Alvin.


"Tadii. Lu aja gak liatt."


Asya kembali mengambil sebatang rokok kw itu. Lagi lagi Arsen merampas dan membuangnya.


"Siapa ngajarin merokok? Aku aja ngga merokok, bisa bisanya pula kamu merokok."


"Salahh emang?"


"Ya salahhh tolollll." Azril ikutan sensi.


Asya masih menahan tawanya.


"Yaudahh, kalau gaboleh disini gue pindah tempat." Asya beranjak.


Seketika Arsen menahan tangannya, "jangan betingkah nona muda William."


"Paan cobaa? Awas duluuu."


"Syaaa."


Arsen menatapnya tajam. Asya yang sudah tidak kuat dengan tatapan mematikan itu cengengesan.


"Hehe nggak kok, gak jadi." Asya duduk, tapi ia mengambil sebatang rokok kw-nya.


"Syaa!"


"Ini jajaaannn woilahh. Thissss is prank."


"Bacott!"


"Tesss, pake korekk! Minjem korek lu, Lex." Alex memberikan korek zipponya. Asya membakar ujung rokok kw dan nyatanya tidak terbakar sama sekali.


Asya mematahkan rokok kw itu, lalu keluar lah remahan remahannya.


"Oahsuuu!" Mereka serentak mengatakan hal itu, Asya terkekeh mendengar umpatan mereka.


Asya pun memakan rokok kw itu, "enak tau. Mau coba?" Tawar Asya ke Arsen yang masih menatapnya sinis.


"Gak!" Asya tersenyum meledek lalu menyuapi Arsen. Arsen memakannya masih sambil menatap sinis Asya.


"Prank doangg, astaghfirullah. Sinisss bangett natapnyaa!"


"Betingkah pulaa ngeprank ga jelass." Cibir Azril, Asya nyengir tanpa rasa bersalah.


"Butt, prank gue berhasil yeshhh!!"


"Yain aja yainn, biar seneng." Asya tersenyum pepsodent.


"Rokok yang enak apa ya kira-kira?"


"Ku masukkan sarung nanti palamu kalau mau ngerokok benenrann!"


"Astaghfirullah, braderrr." Asya cengengesan.


Mereka menatap Ara dan Naina yang terdiam, "agaknya mereka berdua prustasi berteman sama Asya."


"Hm, sepertinya begitu."


Sendok pun mengenai jidat Racksa, "haaa, mampusss kau."


"Gue diem gue kenaa."


"Diem dari lubang pipett!" Racksa menyeringai.


"Gimana tadi sama mbak mbak yang minta nomor?"


"Kan gak jadii, kamu liat tadii." Jawab Arsen.


"Apa weh?" Dino kepo.


"Tadii, ada cewek yang ngajak fotbar abang selebgram inii. Tukeran watsap pun juga."


"Gak usah ngacoo. Kan gak jadi kukasihh," omel Arsen.


"Hilihh bicittt. Paling pass–"


Cup!


Mereka melotot melihatnya.


"Kamu liat sendiri, aku gak jadi kasih. Gak ada foto samsekk. Jadiii, gak usah ngomong yang nggak-nggak."


Asya terdiam begitupun yang lain.


"Wtff, bibirr Asya sudah tidak perawan."


Pletak!!


Arsen menyentil jidat Dino.


"Kan tadi gue tutup dulu pake tangan. Gue nyium tangan guee."


"Yaa tapi pas sama bibir Asyaa."


"Nggaa kenaaa cuma pas doanggg."


"Anjirrr, malah ribut!"


Mereka mengalihkan pandangan, kini menatap Asya.


"Wahh.. serem gaiss, demi apasi twing." Arsen tertawa melihat Asya.


"Ehh, waitt, itu ditangan lu apaa??" Arsen langsung menutupinya.


Asya menyipitkan mata lalu menarik tangan Arsen, "hahh? Apenii? Sejak kapan ada tato disinii?!"


"Sejak tadii, bagus kann?"


"Baguss dari bojong gede. Gak adaaa bagus bagusnya begooo."


"Tapi cantikk tauu, gambar nagaaa."


Asya menatap kesak Arsen lalu mendorong jauh mukanya, "jangan mendekat, anda tatoan!"


"Astaghfirullahalazim, Cill. Padahal baguusss ni tato."


"Ketauan bapak gue mampusss lu di blacklist!" Cibir Azril.


"Apa? Kenapa?" Aska dan Zia tiba-tiba muncul.


Arsen auto panik, tapi berusaha untuk tenang.


"Tato? Arsen pake tato?"


"Iya, tantee. Baguskan?"


"Syaa, besok cari mantu baru."


'Matii gua.'


"Ampunnn, jangann omm. Ini tato mainan kok, benerann."


"Masaa iyaa. Boong tu, omm." Alvin memprovokasi.


"Kampret lu!!"


"Sudah terblacklistt, mampusssss!" Ledek Haikal, Arsen menatapnya kesal sambil menahan tangan agar tidak ngefucekk.


"Kalau tato mainan, coba ilangin."


Arsen menumpahkan air ketangannya lalu digosok-gosokan, tato itu pun ilang.


"Lahh?"


"Ini tu tadi niatnya mau ngerjain Asya, omm. Tapi jadinya gagallll." Keluh Arsen.


"Oalaaaaaaahhh."


Asya tertawa disana, "gak berbakat kamu mah jadii tukang prankk!" Ledek Asya.


"Benerr, Syaa. Dia tidak adaa bakat dalam bidang ini." Sahut Azril.


"Dia awalnya mau ngeprank tatoo, tapi diprank rokok duluan. Kesyannn." Arsen mengelus dada.


"Tidak apa apa gagal, yang penting tetap jadi calon mantu. Benerkan, om, tante?"


"Nggak."


"Yaa Allahh.. ngenes banget gueeeee!"

__ADS_1


γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘


#Arsenotwsadboiii


__ADS_2