
π "Assalamu'alaikum, Pak Mikko udah sampai di mana?"
^^^"Wa'alaikumsalam. Saya sudah di parkiran,^^^
^^^sebentar lagi sampai."^^^
π "Oke, pak. Saya tunggu ya, jangan lama."
^^^"Aman, pak."^^^
Panggilan terputus.
"Tuan, bagaimana dengan nona Angela?"
"Biarin aja, ntar bosen pulang sendiri. Saya mau ketemu sama Pak Aska dulu, bapak kalau bosen bisa pulang kok. Nanti saya pulang pesen taksi," ujar Mikko.
"Baik, pak." Mikko tersenyum tipis lalu keluar dari mobil, dirinya berjalan sendirian menuju ruangan Aska.
Sebelumnya, Mikko mendapat panggilan yang cukup istimewa dari Aska. Kenapa istimewa? Karena Aska sendiri yang menyuruhnya datang, Aska juga menyediakan mobil untuk Mikko.
Tapi Mikko menolak, dan akhirnya Mikko pergi dengan mobil beserta supir pribadinya.
"Permisi, mau ketemu sama Pak Aska."
"Anda Pak Mikko?"
"Iya benar, saya Mikko."
"Silakan masuk, pak."
Mikko tersenyum lagi kemudian masuk ke ruangan Aska. Setelah Aska membukakan pintu, Mikko masuk dengan santai.
"Selamat.. pagi, Pak Mikko."
"Selamat pagi juga, Pak Arsen."
"Silakan duduk, pak. Bapak mau minum apa?" tanya Aska dengan senyuman.
"Hahaha, ga perlu repot-repot, pak. Kopi juga bisa kok," jawab Mikko. Aska tertawa kecil, dirinya pun meminta dua kopi melalui tombol otomatis.
Usai memesan, Aska menghampiri Mikko di sofa. "Apa kabar, Pak Mikko?" tanya Aska lagi berbasa-basi.
"Alhamdulillah baik. Pak Aska sendiri bagaimana? Liburannya menyenangkan?"
"Yeah.. lumayan, menghilangkan stress. Pulangnya langsung berhadapan dengan tugas yang sedikit menyiksa."
"Hahaha, demi istri dan buah hati tetap dilakoni ya, pak?"
Keduanya malah tertawa.
"Oiya, ada perlu apa Pak Aska panggil saya?"
"Saya mau bahas tentang perjodohan Arsen yang kurang masuk akal," jawab Aska, ekspresi wajahnya mulai serius.
"Kurang masuk akal? Kenapa begitu, pak?"
"Saya udah check dan udah meneliti semuanya. Dan saya sadari, nominal uangnya tidak sebanding dengan kesalahan yang di lakukan sama mamanya Arsen."
"Sebelum itu, Pak Aska tau kasusnya dari mana? Arsen?" Mikko mengalihkan topiknya sejenak.
"Bukan. Bukan dari Arsen," jawab Aska kalem. Percakapan keduanya terhenti karena pesanan kopi tiba, mereka menikmatinya terlebih dahulu.
"Honestly, saya memang sudah curiga."
"Pak Mikko curiga? Berarti Pak Mikko bisa untuk menelitinya juga kan?"
"Iyy.. ya bisa," Mikko terlihat agak ragu.
"Lalu kenapa Anda diam tidak komplain?"
"Karena saya rasa susah untuk bersaing dengan papanya Angela."
"Udah di coba?"
Mikko diam.
"Pak Mikko, jawab saya. Sudah Anda coba?"
"Sudah, dan nyatanya memang susah."
Aska menganggukan kepala sambil berfikir. "Karena Anda sudah bertemu dengan papanya Angela dan mencoba komplain, bagaimana reaksinya?"
"Mereka menunjukkan kerugian yang di hasilkan, dan ternyata tiap tahun bertambah banyak sampai akhirnya di nominal yang sekarang."
"Anda tidak nego lagi dan membiarkan perjodohan Arsen berjalan?"
"Iya, pak."
"Seharusnya kalau emang menganggap Arsen keponakan tersayang bapak, bapak gak bakal biarin itu terjadi."
"Bapak seolah-olah menyudutkan saya ya. Saya udah berusaha untuk melunasi dengan menjual mobil saya!"
"Bukan bukan, mobil yang Anda jual.... mobilnya mama Arsen."
Mikko terpaku.
Aska tertawa tipis, ia mengangkat gelas kopinya lalu berdiri di samping kaca. "Tidak perlu menutupinya dari saya, saya bisa tau semuanya tanpa di beri tau."
βββ
Toko ice cream.
"Sen, aku cantik?"
"Yang bilang nggak, dia katarak."
Asya cengengesan. "Aku lagi jerawatan karena pola makan asal-asalan kemaren. Aku tetap cantik ga pas jerawatan?"
"Oh ya jelas. Mau gimana pun, dalam kondisi apapun, kamu tetep cantik!"
"Ah bullshit buaayaaa!"
Arsen tertawa melihat Asya salting.
"Pepepee, assalamu'alaikum!"
Keduanya menoleh bersamaan. "Wa'alaikumsalam. Eehhh, ada anaknya Ongkel Luluuuu!!" sapa Asya heboh.
"Tuman lu, tuman!" Asya cengengesan.
"Lu ngapain di sini?" tanya Arsen.
"Beli ****** *****. Ya beli es krim lah pinter! Lu bedua emang cocok banget jadi couple bikin naik darah tinggi." Arsen dan Asya terkekeh.
"Lu datang sama siapa? Sendirian?"
"Sama Keja, tapi dia masih ada kelas. Jadinya gue duluan kesini," jawab Upi santai.
"Lu berduaan mulu keknya, lurus kan?" Tanya Asya was-was.
"Lurus, Sya, lurus sumpah dah lurusss. Gak ada belok-belok sama sekali! Di pegang sama Keja aja geli gue apalagi sampe belok, ewhh!"
"Ya gak usah gitu juga anjirr! Sok ganteng lu gak bisa di pegang!" Upi menoleh ke belakang, "ehh Bang Keja udah datang."
"Bacot!"
Asya dan Arsen tertawa lagi.
"Lu muncul tiba-tiba kea setan, Jaa."
"Gue kan kembarannyaa."
"Fiks goblokk!"
Keja cengengesan. "Udah, skip. Gue bawa gosip baru," kata Keja sedikit berbisik.
"Apaan lagi anjirtt? Lu kang gosip banget ye di kampuss?" tanya Asya sinis.
"Gosip dikit, tipis-tipis."
"Taiii. Yaudah buruan, gosip apaa tadi?!"
"Gini.. tadi tu gue ketemu sama cewe cantik, tapi katanya janda. Dia jalan sama Om Mikko," jawab Keja. Asya dan Arsen auto kaget. Keduanya mencoba santai dan mengatur ekspresi.
"Seriously? Cewek cantik?"
"Iyee. Om Mikko demenan sama janda sekarang ya, Sen?" tanya Keja menatap Arsen.
"Gak tau gue, paling bentar lagi sukanya sama nenek nenek."
"Sial, aku tertawa!!"
Arsen cengengesan.
"Feeling gue... lu lagi ga akur ya sama Om Mikko?" Keja dan Upi menatap serius Arsen.
"Akur. Santai ajaa," jawab Arsen kalem sembari menyuapi es krim ke Asya.
"Sebenernya gue nyesel, kenapa gue kesini dan ngeliat lu bedua romantisan?"
"Hahaha, pindah sanaa!"
"Anjirr lu. Jahat banget aseliiik," Arsen nyengir kuda.
"Sya? Tumben diem nichh?"
"Bingung mau ngomong apaa. Btww, Bang Zap bentar lagi nikah kan??" tanya Asya.
"Hooh, minggu depan. Cakep tau calonnya, agak mirip samaa Bang Zap."
"Jodoh mah emang suka agak mirip. Lu sendiri kapan nemu jodoh?" Arsen meledek Upi.
"Bjiirrr. Jangan mentang-mentang udah nemu Asya langsung songong lu kamprett! Gak gue restui mampusss," cibir Upi sinis.
__ADS_1
"Diww, sape lu?"
"Ceilah. Lu gak tau kan? Ada peraturan di keluarga, kalau mau nikah harus rapat dan voting dulu. Dan itu semuanya, bukan cuma yang tua-tua."
"Hah? Yang bener?" Arsen tekejut, ia menoleh ke arah Asya. "Hehe, emang iyaa. Tapi kemaren votenya Bang Zap online, jadi gak bilang ke kamu."
Arsen memegangi kepalanya. "Overthinking jadinyaaa. Di terima gak ya gueee??"
"Puft.. hahahaha!!"
Keja dan Upi puas terkekeh.
"Di terima, Sen, di terima."
"Tau dari mana lu?" tanya Arsen menatap Keja. "Lu memenuhi kriterianya," jawab Keja simple.
"Kriterianya begimana??"
"Lu gak perlu tau, itu rahasia keluarga."
"Ck, anjirr!!" Keja cengengesan. Melihat Asya dan Upi diam, Arsen juga Keja menatap keduanya.
"Lu berdua kenapa?"
"Gue baru dapat news dari Bang Zap..."
"About what?" Tanya Arsen. Upi tidak menjawab, ia malah meletakkan ponselnya di meja.
Terlihat jelas chat grup dari Zafran.
...ZFLKAA...
Bang Japeran
(Foto)
WHAT IS THIS?!
"Merengin kek gue ga bisa bacaa," keluh Keja. Upi pun memiringkan sedikit ponselnya.
"Hot news! Angela yang merupakan anak dari pemilik perusahaan terkemuka, di kabarkan akan menikah lagi dengan CEO muda perusahaan.... William."
"It's u, Arsen?"
Arsen terdiam.
"Om Mikko gak bisa di katakan muda, ini bukan Om Mikko. Ini lu kan, Sen??" tanya Keja menuntut jawaban.
"Berarti tadi yang sama Om Mikko, calon istri lu?"
Arsen masih diam.
"Arsen... JAWAB!" bentak Upi.
Arsen menghela nafas lalu mengangguk pelan.
"Wahh! Hebat banget lu duain sepupu gue. Mau gue tampar berapa kali lu, hah?!"
Melihat Upi dan Keja emosi, Arsen berusaha menenangkan mereka. "Tenang dulu, tenang."
"Enteng banget mulut lu nyuruh tenang!" Upi bangkit dari duduknya, menghampiri Arsen lalu menarik kerah bajunya.
"Lu mau berapa kali tinju? Sekali atau dua kali? Apa mau seratus kali? Coba request dulu," kata Upi sinis.
"Pi.. Yupii! Lu salah paham, ini gak seperti yang lu bedua bayangin."
"Wait, lu tau ini??" tanya Keja menatap Asya.
"Tepatnya tau masalah ini, tapi gue sama sekali gak tau tentang berita ini. Kalian tenang dulu, biarin Arsen jelasin. Karena lu bedua ribut kita jadi pusat perhatian sekarang," ujar Asya mengingatkan.
Drtt... Drtt..
Ponsel Asya berbunyi, itu panggilan dari Zafran.
"Siapa?"
"Bang Zap."
Asya langsung menggeser ikon hijau.
π "Assalamu'alaikum, di mana?"
^^^"Wa'alaikumsalam. Toko es krim."^^^
π "Sama Keja, Upi?"
^^^"Iy.. iyaa, bang."^^^
π "Ke rumah oma, langsung
masuk ruang rapat. Sekarang."
π "Ajak juga tunangan kamu, Upi dan Keja."
π "Iya sekarang."
π "Gak pake lama."
^^^"Iyβ"^^^
Ucapan Asya terhenti karena panggilan sudah terputus.
"Hadehh~~"
"Apa katanya?" tanya Keja.
"Suruh rapat," jawab Asya sambil bersiap-siap.
"Gue? Upi?"
"Ikut. Arsen juga ikut. Ayo kesana sekarang!"
Mereka berempat pun pergi usai membayar.
Berada di mobil yang berbeda dengan Asya, Arsen memegangi jidat. Dirinya takut salah menjawab dan juga takut tidak bisa bersama Asya lagi.
Sampai akhirnya tiba di rumah besar Hitler. Arsen makin takut dan gugup. Padahal ini cuma pertemuan antar sepupu.
Arsen mengikuti Asya, Keja dan Upi. Arsen sama sekali tidak bisa dekat dengan Asya karena kedua sepupu Asya itu menentangnya.
"Ehm, assalamu'alaikum, bangg."
Mereka masuk ruangan.
Di sana terlihat Zafran sedang bermain billiard di temani beberapa minuman bersoda. Di ruangan itu memang tersedia meja billiard, sengaja biar gak bosen kalau ada yang telat.
"Wa'alaikumsalam. Duduk duluan, saya belum selesai."
Keempat orang itu auto menelan ludah. Bahasa formal, tatapan sinis, aura dingin dan suasana mencekam. Bener-benar membuat tegang.
Mereka pun duduk.
Terkecuali Asya.
Asya menghampiri Zafran yang sedang main. Asya menyerobot minuman Zafran.
"Ambil sendiri di kulkass," dumel Zafran.
"Maless."
"Ck, kamu ini."
Asya cengengesan, ia memilih nurut ke kulkas yang berada di ujung ruangan.
"Wauww, ada sojuuu."
"Jangan minum soju!" Larang Zafran, Arsen, Keja dan Upi bersamaan.
"Dihh, apaan? Kan soju halal, masa gak boleh sii?" tanya Asya kesal.
"Di bilang jangan ya jangan, Asya."
"Oke bang, okee. Asya ambil yogurt," kata Asya masih kesal. Tidak mendekati Zafran lagi, Asya memilih untuk duduk bersama yang lain.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Frizy dan Azril masuk bersamaan.
"Bang Prizz di Indonesia? Sejak kapann?"
"Sekitarrr dua hari yang lalu. Kan Bang Zap mau nikah, gak mungkin adiknya yang paling tampan ini tidak datang," ujar Frizy.
"Najiss. Pede amat ganteng," cibir Zafran.
"Sensi amat jadi orang!" Zafran tidak menjawab, ia duduk di kursi paling tengah dan menghadap layar.
Hening.
Tidak ada yang memulai perbincangan, tidak ada yang berbicara satu sama lain dan tidak ada juga yang bermain ponsel.
"Bang.. sampe kapan diam?" tanya Upi.
"Lagi nenangin diri bentar. Pembahasan kita kali ini, cukup sensitif bagi saya."
"Busett, pormalll amat heuu." Zafran langsung menatap sinis Frizy, Frizy cuma bisa cengengesan.
"Ee... mau bahas tentang gue kan? Gueβ"
"Saya belum ada nyuruh kamu buat bicara, jadi diem aja dulu."
Arsen mingkem.
__ADS_1
Sebelum mulai, Zafran menghela nafas cukup panjang. "Kalian tau kan peraturan di ruangan ini?" tanya Zafran.
"Tau, bang."
"Apa?"
"Jangan bicara kalau belum di suruh, jangan menjawab kalau gak ada pertanyaan, juga jangan nyela pembicaraan orang lain."
"Sampe sini, Arsen mengerti?"
Arsen mengangguk dengan senyum tipis, "ngerti kok, bang."
"Oke."
Zafran memencet tombol.
Muncul lah di layar news tentang Arsen tadi.
"Dari SMA kelas satu, lanjut ke kuliah dan sekarang udah tunangan. Sekitar tiga setengah tahun atau empat tahun kamu deket sama Asya. Tapi kenapa... kenapa kamu malah mau nikah sama cewek lain?!" tanya Zafran menatap Arsen.
"Saya boleh jawab, bang?" Zafran mengangguk.
"Saya sama Angela cuma di jodohin, bang. Saya juga belum ada tunangan atau apapun sama Angela, berita itu pasti cuma akal-akalan Angela biar bisa geser posisi Asya."
"Di jodohin?"
"Iya, saya di jodohin karena harus lunasin utang mama," jawab Arsen sedikit nervous.
"Jadi bayar utang pake pernikahan? Gak masuk akal, Arsen," cibir Upi sinis.
"Tapi nyatβ"
"Asya diem, jangan nyela ucapan orang. Lagian kamu gak ada jatah ngomong kali ini," omel Zafran. Asya auto tutup mulut dan sedikit merajuk. Ia kembali meminun yogurt sambil menyimak.
"Lanjut, Arsen."
"Mungkin gak masuk akal, tapi emang gitu kenyataannya, bang. Si cewe ini janda, dan kepribadiannya gak bagus. Berhubung mama punya hutang sama papanya, jadi biar si cewe laku, papanya numbalin ke saya."
"Jujur agak membagongkan. Gue bingung njirr," kata Keja pusing.
"Jaa..."
"Iya, bang, iya. Maaf tadi nyela," Keja cengengesan. Zafran menggelengkan kepala sambil mengelus dada.
Dirinya diam dan berfikir, kemudian berdiri dari kursi lalu mengambil minum lagi. Zafran mengambil soju.
"Mau minum ambil sendiri ya."
"Iye, bang, iyee."
Asya yang tadinya sedang asik memutar kursi sambil minum yogurt berhenti karena melihat soju halal Zafran.
"Paan nichh? Asya gak boleh minum soju, kok abang boleh?!!"
"Kamu masih di bawah umur," jawab Zafran.
"Dih. Asya udah kepala dua abangg!!"
"Sok di tua-tuain, kamu masih lima belas tahun."
Asya menatap sinis Zafran, "kemusuhan kita!!"
"Ya ya yaa. Kita lanjut topik dulu, baru lanjut kemusuhan. Sampe di mana pembahasan kita tadi?"
"Papanya Angela numbalin Arsen," jawab Azril.
"Azril penyimak handal."
"Yaiya dongg."
"Udah, skip! Tau kamu mau di jodohin kapan?" tanya Zafran lagi.
"Bulan lalu, bang."
"Oooo, kamu sama Angela di jodohin bulan lalu terus kamu diem aja setelah tau di jodohin?"
"Ya nggak, bangg. Saya udah berusaβ"
"Usahanya gimana? Sampe sekarang juga gak siap? Sebulan tau. Kenapa gak ada cerita ke saya, atau ke yang lain?"
"Ya saya gak enak mau cerita ke abang, kan gak ada hubungan apa-apa kita."
Zafran tertawa.
"Gak ada hubungan apa-apa... Asya sepupu saya otomatis besok kalau nikah sama Asya kamu juga jadi sepupu saya, tapi kamu bilang kita gak punya hubungan apa-apa itu artinya Asya juga gak ada hubungan sama kamu. Jadi kamu udah gak anggep Asya lagi sekarang?"
"B-bukan gitu, bang. Bukan gitu maksud saya," jelas Arsen makin gugup. Mereka semua diam sejenak, tidak ada yang berbicara bahkan bergerak sedikit pun.
"Bang, gue mau izin nanya."
Zafran hanya mengangguk.
"Utang nyokap lu berapa?"
"Lima miliar."
"WHATT?! ANJIRRR! YA JELAS GAK GAMPANG LAH NYELESAINNYA, BANG."
"Seingat saya ya, Arsen punya tiga perusahaan dan satu usaha barunya. Arsen juga punya banyak mobil, satu mobil mungkin sampe dua miliar. Ini tergantung niat, tergantung keseriusan. Kalau emang serius sama Asya ya ga bakal mau berlarut-larut dalam masalah," jawab Zafran sambil meneguk sojunya lagi.
"Bang, saya di larang buat jual asett apapun. Makanya sampe sekarang ga bisa buat apa-apa," kata Arsen lesu.
"Siapa yang larang?"
"Om Mikko."
"Di larang jual apa aja?"
"Mobil, motor, perusahaan, tanah dan sejenisnya."
"Jam gak termasuk kan? Jam kamu mahal tu."
Arsen langsung terdiam. Benar-benar gak tau harus jawab gimana lagi.
"Udah saya bilang, semua tergantung niat."
Zafran yang tadinya duduk menyandar ke kursi kini kembali ke posisi awal. Dirinya meletak gelas soju lalu menatap Arsen.
"Semua.. tergantung.. niat."
"Harusnya kamu bisa melihat sekitar mu. Barang-barang yang kamu pake pasti kebanyakan mahal, apa salahnya di jual? Nanti beli lagi kalau utang nyokap udah lunas."
Arsen menunduk sambil mengangguk. "Iya, bang. Gue gak ngeliat sekeliling, kemaren-kemaren banyak ngeluh doang, gue juga gak berbuat apa-apa. Cuma bisa mikir tanpa bertindak," jawab Arsen.
"Tau beneran kan kalau kamu salah?" Arsen mengangguk lagi.
"Terus kapan mau di selesaiin masalah ini?"
"Secepatnya, bang."
"Okee. Selama kamu selesain kasus, saya gak izinin kamu ketemu sama adek saya," kata Zafran yang bikin terkejut semua orang.
"Kenapa gitu, bang?" tanya Upi.
"Bukannya selesai ntar malah keseringan main sama Asya. Tadi aja makan es krim, bukan selesaikan masalah. Lagian ini juga uji coba, serius gak Arsen sama Asya?"
"Tapi gak gitu juga dong, bangg," sahut Frizy.
"Mau kamu gimana? Ada kalanya seseorang berjuang keras demi apa yang ia inginkan."
"Fine. Saya terima keputusan Bang Zafran. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk cepat menyelesaikan semuanya," kata Arsen semangat.
Zafran tersenyum tipis mendengarnya.
"Ntar jadinya sama aja gak sih, bang?" tanya Keja.
"Sama aja gimana?"
"Asya kan tinggal di rumah Ongkel Aska."
"Yang bilang Asya di sana siapa? Mulai hari ini Asya di sini," jawab Zafran.
"Bujug busettt!! Bang yang bener? Terus nanti daddy?"
"Gampang bagi abang buat bilang ke daddy mu. Kamu diem aja, duduk tenang dan bersiap untuk gagal nikah sama dia."
"Baanggg, jangan gitu donggg. Saya bakal selesaiin semuanya lebih cepettt," kata Arsen.
"Butuh bukti bukan ucapan."
"Iya, bang."
"Bang, emang harus banget Asya di sini? Gue yang gak tenang dia disini," keluh Azril.
"Kamu kalau mau disini juga gak masalah, Azril. Gak ada yang larang. Abang nyuruh dia disini, nyuruh dia jauh dulu dari Arsen biar gak kena imbasnya. Abang gak mau Asya masuk RS lagi."
Mereka semua menganggukkan kepala, setuju dengan apa yang diucapkan oleh Zafran.
"Btw, hp Asya abang sita. Kalian gak ada kabar-kabaran kalau belum selesai."
"LOH LOH?!!"
"Ntar pake hp abang," ujar Zafran.
"Yang mana?"
"Yang mana aja terserah."
"OKE DEAL!"
"Apa pulak budak ni? Di sogok hp doang tenang," cibir Azril.
Asya nyengir, "gak sepenuhnya tenang anjirrr. Gue juga takut gagal nikah, gak mau ketemu orang baru lagii."
__ADS_1