
Hampir satu harian Asya merajuk gara-gara tragedi di apartment Upi tadi pagi. Ia tidak ingin bicara pada siapapun karena baginya mereka semua menyebalkan!
"Sangat menyebalkan!" gumam Asya di kamar. Oh iya, saat ini Asya berada di big home daddy nya.
Tok tok..
"Udah dong ngambeknyaa, masa kamu ngambek mulu? Udah hampir satu harian ini kamu gak bicara sama akuu," bujuk Arsen.
Di dalam kamar, Asya tidak perduli. Dirinya sibuk mengunyah cemilan sambil menonton drama di televisi.
"Ayaangg, aku dobrak ni kalau kamu gak mau buka sekarang?!!"
"Ih, ndaa usah bawell!!" dumel Asya kesal.
Asya merasa dirinya juga menyebalkan bagi Arsen. Tapi nyatanya tidak, Arsen malah gemas mendengar suara Asya barusan.
"Buruan atuh ah, buka pintunyaaa. Ngga mau jalan-jalan ni?"
"Ndaaa, mager!"
"Kalau gitu aku jalan-jalan sama temen kampus aku dulu ya?"
"Yauda sanaa, tapi nda usah ketemu aku lagi!!"
Arsen tertawa.
"Ngga jadi pergi nggakk. Buka pintunyaa dong, masa ngomong sama calon suami begini sih?"
"Maless!"
"Udah ah ngambeknya, jelek tau. Mending kita makan di luar, kamu mau apa? KFC? MCD? Richeese? Aku turutin semua yang kamu mau asalkan mau keluar sekarang," kata Arsen menyogok.
"Bener yaa?"
"Iya, ayaang. Makanya buruan keluar," jawab Arsen lembut.
Asya yang berada di dalam kamar auto masuk ke walk in closet untuk mengganti baju. Setelah merapikan rambut dan memakai lip balm, Asya mematikan televisi lalu keluar dari kamar.
"Ayok!!"
"Mau kemana?" tanya Arsen.
"Ihhh, tadi ngajak makaaann!!" dumel Asya kesal.
"Sayaangg, maksud aku itu kita mau makan di mana?"
Asya diam sejenak. "Udah ntar urusan belakangan. Kan katanya kamu mau turutin semua yang aku mau."
"Iya iyaa. Ayok berangkat deh," Arsen menarik tangan Asya lalu menggenggamnya dan memasukkan ke saku jaket.
Mereka berjalan turun ke lantai dasar.
"Berhasil bujuk juga, Sen?" tanya Aska.
"Alhamdulillah, om."
Aska dan Zia tertawa meledek.
"Mommy daddy bisa gak jangan sweet-sweetan gitu depan Asya?!" tanya Asya jealous melihat Aska merangkul Zia.
"Lohh, kamu aja sweet-sweetan masa daddy gak bolehh?"
"Bolehh. Tapi jangan di depan Asyaaa," kata Asya kesal.
Cup!
Aska mengecup pipi Zia.
"Ih daddy menjadi-jadi yaa!!"
Aska cengengesan.
Asya pun berjinjit lalu mengecup pipi Arsen. "Asya juga bisaa, wlee!"
"HEH!! KENAPA KAMU NYOSOR DULUAN?!"
"Maaapp ya daddyy! Asya khilaaaaffffff!" jawab Asya tertawa lalu pergi sambil menarik tangan Arsen.
"Khilaf khilaf. Gak di bolehin keluar ntar mewek," ledek Aska.
"Udah deh, gak usah bawel. Mending lanjut nonton," kata Zia mengalihkan topik.
"Dari pada nonton, bikin adek Asya aja yuk?"
Plak!
"Ngawurr!"
Di sisi lain, Asya baru saja masuk ke mobil begitu pula dengan Arsen.
"Aku belum pamitan loh, ayaangg," keluh Arsen.
"Gapapa, daddy pasti mengerti. Jom jalann!"
"Mau kemana?" tanya Arsen bingung.
"McD sajaa, aku pengen burgernya McD."
"Okeyy, otw ke McD ya."
Arsen mulai mengemudikan mobilnya.
Tidak ada percakapan di mobil. Asya sedang bermain ponsel dan Arsen tidak tenang karena belum izin pada Aska. Masih sambil mengemudi, Arsen mengambil ponselnya di saku celana.
"Mau ngapain?" tanya Asya.
"Bentar, telepon daddy."
"Loudspeaker ya?"
Arsen mengangguk.
π "Halo assalamu'alaikum.
Kenapa, Sen?"
^^^"Wa'alaikumsalam, om. Arsen izin bawa Asya ya?^^^
^^^Tadi lupa izin gara-gara ditarik Asya."^^^
π "Kirain kenapaa. Yaudah, bawa aja.
Agak lamaan pulangnya juga gapapa kok,
om lagi mau bikin adeknya Asyaa."
^^^"DADDYY! IH, macem-macem bangett!^^^
^^^Ga bolee ga boleee!" protes Asya.^^^
π "Kenapa pula ga bolee?
Nanti kalau kamu udah nikah terus
daddy kesepian gimana?"
^^^"Ya kan ada mommyyyy, jangan macem-macem^^^
^^^deh daddy. Asya ga mau punya adek lagi pokonya!"^^^
π "Hahahaa. Daddy tetap mau buat, byee."
Panggilan terputus.
"ISHH! apaa-apaaan daddy ni?!" dumel Asya. Arsen tertawa kecil melihatnya.
"Biarin aja lah, kenapa coba ga mau punya adek?" tanya Arsen sambil mengelus lembut rambut Asya.
"Nanti aku ga di sayang lagii."
"Kan ada aku yang senantiasa sayaaaang sama kamu."
"MODUSSSS!"
Arsen tertawa lagi, "padahal aku serius. Terus ini jadinya mau kemanaa??"
"Kan mau ke McD, Arsen. Ih gimana si, lupaa?"
"Iyaa, ga fokus tadi. Kamu kenapa coba marah-marah mulu dari tadi? Pms?"
"Heeemm."
"Dari kapan?"
"Tadi siang. Udah gak usah tanya-tanya! Males jawab aku," omel Asya kesal.
"Iya iyaa. Ga di tanya lagi deh, nggaaa."
Asya diam.
"Perutnya sakit gak, sayang?"
"Nggak."
"Kok tumben-tumbenan gak sakit?" tanya Arsen lagi dan lagi.
"Tanya aja terus tanyaaaa."
Arsen cengengesan.
"Yaudah iya, aku diem nihh."
βββ
Kedua sejoli itu baru saja selesai makan, dan sekarang sedang menikmati ice cream dari tempat yang sama. Tapi mereka menikmatinya di dalam mobil.
"Jangan banyak-banyak makan ice cream," larang Arsen sembari mengambil sisa ice creamnya.
"Baru dikit."
"Banyak gitu tadii. Abis ini mau kemana?" tanya Arsen menatap Asya.
Asya sekarang udah kalem, gak kea singa kelaparan lagi. "Eum.. aku pengen ke rumah pak Andre," jawab Asya.
"Ngapain?"
"Mau main sama Syila."
"Tapi ini udah malam ayangg, mungkin Syila udah bobo. Pulang aja yuu? Aku takut ntar kamu kedinginan lagi," kata Arsen.
"Belum mau pulangg. Ke mall aja bolee yaa?" tanya Asya membujuk.
"Yaudah ke mall, tapi kiss dulu."
__ADS_1
Arsen kira Asya gak bakal mau, tapi kenyataannya Asya benar-benar mengecup Arsen di bagian pipi.
"Done, babyy. Let's gooo!"
Arsen tersenyum lalu mengecup pipi Asya gantian. "Okeee, let's goo!" Asya ikut tersenyum karena senyuman manis Arsen.
"Btw, kamu mau beli apa di mall?" tanya Arsen sambil mengemudi.
"Ngga tau jugaa, mo liat-liat aja deh keknya." Arsen auto tatap Asya. "Kek gabut banget ya, sayang?" Asya nyengir.
"Katanya kamu mau turutin semua yang aku mauuu," kata Asya mengungkit-ungkit yang tadi.
"Ya ini kan aku turutin, ayaang."
Asya tertawa kecil.
"Kenapa ketawa?"
"Kamu gemesin."
"Kamu nyebelin."
"Yeekk, kamu juga kadang!" Arsen tersenyum, ia menarik tangan Asya lalu mengecupnya.
"Kamu kok sabar banget sama aku, padahal dari tadi aku marah-marah," ujar Asya sambil menatap Arsen.
"Kalau aku kerasin ntar yang ada kita berantem kan? Bagus aku sabarin aja. Lagipula, aku udah tau sifat kamu gimanaa, jadi bisa ngertiin kamu."
Asya tersenyum lebar. "Pengertian banget siii calon suamikk akuuu!!" puji Asya setelah mengecup pipi Arsen.
"Tau calon suaminya pengertian, calon istrinya juga harus pengertian ya?" Asya tertawa, "di usahakan bosss." Arsen pun membalas dengan mengelus rambut Asya.
"Beruntung banget aku punya kamu. Kalau orang lain jadi kamu pasti dia bakal bentak aku karena manja banget jadi cewek."
"Aku gak bakal bentak kamu cuma karena manjaa, malah aku demen banget liat kamu manja. Dan tadi apa? Kamu beruntung punya aku?"
Asya mengangguk.
"Aku beruntung."
"Tapi lebih beruntung aku sih, aku punya cewek spek bidadarii yang di mix singa."
Asya gagal salting.
"Harus banget ye pake mix singa?"
"Haruss donggg, kamu kan beneran macem singaa," jawab Arsen bangga.
"Singa singa gini juga kamu demen kan?"
"Oh iya dong. Singa selalu di hati, karena yang di hati selalu ada singa." Asya tertawa mendengarnya.
"Ga kebayang deh kalau misalnya kamu pilih cewek lain," celetuk Asya tiba-tiba.
"Gak usah ngaco, ayaang. Sampe lebaran monyet juga aku gak bakal milih cewek lainn," jawab Arsen tegas.
"Tapi kalau misalnya kita emang gak jodoh mau gimanaa? Bisa ajakan jodoh kamu yang tertulis di lauhul mahfuz bukan aku."
"Pasti kamuu. Ntar kalau kita gak jodoh, jodoh aku bakal aku jodohin sama jodoh kamu. Terus kita berdua hidup bahagia di Jerman, happy ending."
Asya tertawa lagi. "Melawan hukum Allah. Tapi kenapa ke Jerman siii??"
"Biar keren." Asya menggelengkan kepala mendengar jawaban Arsen.
"Eh gak kerasa udah sampe. Ayok turun," mereka berdua turun dari mobil bersamaan dan masuk ke mall juga sambil bergandengan.
Tiba di lantai atas mall.
"Sayaangg, crop top nya bagus yaa?" tanya Asya mengode.
"Mau beli?"
'Yessss, peka!' batin Asya bangga.
"Mauuu, mauuu."
"Yaudah ayo beli. Tapi ntar aku simpen dulu di rumah terus kasih ke kamunya abis kita nikah. Kamu boleh pake crop top itu cuma di depan aku."
"Ishh! Ini kan crop top bukann lingeriee."
"Tapi sama aja seksii, sayang. Kalau nggak sekalian aja kita cari lingeriee," ajak Arsen bersemangat.
"Gak usah mesum yaaa!! Parah banget ai kamuu!" Arsen tertawa mendengar omelan Asya.
"Mau beli apa jadinya? Beli lingeriee atau mo beli daster aja biar di rumah dasteran terus?"
"Gak gak gak. Aku di rumah dasteran terus ntar kamunya nyari yang pake dress seksi," jawab Asya ketus.
"Loh? Ngapain aku nyari yang pake dress seksi kalau istriku pake dasteran lebih seksi."
"DIEM! Jangan bikin salting terus!"
Arsen nyengir kuda.
"Cari baju yang lain ajaa. Aku pengen beli baju," ujar Asya sembari menarik tangan Arsen, mengajak Arsen berkeliling di dalam toko baju.
"Ini Arsen kan?"
Mereka berdua balik badan.
"Eh bunda," Arsen menyalami tangan mama tirinya, begitu juga dengan Asya.
"Nyari baju juga? Tumben banget."
"Itu sama papanya Arsen, tadi bawa Syila keluar gara-gara Syila nya nangiss."
Asya dan Arsen berohria.
"Asya udah lama lah gak ke rumahh, udah lupa sama tante apa gimana?" tanya bunda Arsen pada Asya.
"Hehe, nggak gitu kok, tantee. Kemaren Asya kam liburan jadi ngga sempat. Terus ini tadi mau ke rumah tante tapi Arsen bilang ngga usah karena nebak Syila udah bobo," adu Asya panjang lebar.
"Wiiiii, padahal Syila bobonya suka lamaa. Kalau gitu nanti ikut ke rumah mau nggaa Asya?"
"Mau mau mauuu. Tapi ga tau nii, tan, di bolein nggak sama bapak ini," ujar Asya sambil menunjuk Arsen.
"Pasti boleh, yakali ga boleh. Boleh kan ya, Arsen?" Arsen menggaruk kepalanya yang jelas tidak gatal, bingung harus jawab apa.
"Nggak ada jawaban lain kan selain iya?" Asya dan bunda Arsen tertawa melihat muka pasrahnya Arsen.
"Terus Syila sama om pak Andre di mana, tan?"
"Om pak Andre ya? Panjang bangettt!" Asya nyengir, "biar lebih sopan jadinya double."
"Hahaha bisa aja. Nggak tau tadi ke mana, mungkin cari sesuatu buat tenangin Syila. Kita lanjut milih baju dulu abistu ketemu Syila. Kamu kalau mau ambil baju ambil aja, ntar tante yang bayar."
"Tante nyari baju apa?" Mereka berdua pun mulai mencari-cari baju dan mengabaikan Arsen.
"Gapapa gapapa, di kacangin juga gapapa yang penting Asya bahagia," gumam Arsen pelan.
"Gimanaa? Capek gak nunggu cewek shopping?" Arsen balik badan.
"Papa?"
"Long time no see, anak bujang papa."
"Widiii. Sok iya bangett! Btw, papa baik-baik aja kan?" tanya Arsen sembari menarik Syila dari gendongan papanya.
"Seperti yang kamu liat, baik-baik aja nih." Arsen tersenyum, "alhamdulillah."
"Tapi tu papa capek banget, Sen, nungguin bunda kamu selesai belanja. Udah sebulan gak siap-siap." Arsen tertawa mendengarnya.
"Maklumin aja kali, pa, namanya juga cewek kan?"
"Iyaaa tapi ni udah lama bangett. Itu bedua negosiasi apaan lagi??"
Arsen ikut melihat ke arah yang di tunjuk papanya. Asya dan Bunda Arsen sedang berhenti di bagian per-lingerie-an.
"Bentar lagi nikah kan, Sya? Beli aja nih buat persiapan."
Asya terdiam sejenak, "masih lama nikahnya, tanteee."
"Bentar lagi itu, gak bakal terasa. Tante pilihin yang cantik-cantik nih buat kamu."
Bunda Arsen sendiri sedang keliling mencarikan untuk Asya. "Ini bagus nih, Syaa."
Asya mengambil dan melihatnya dengan jelas, "iya baguss. Tapi transparan banget, taaannn, malu lahh."
"Lohh kok malu? Tumbenan kamu malu, biasanya gak punya malu," ujar bundanya Arsen bercanda.
"Allahu Akbar! Mau menghilang lagi dah dari bumi."
βββ
Di rumah Pak Andre.
"Jadi kamu jual mobil buat nalangin utang?" Arsen menganggukkan.
"Mau papa beliin yang baru nggak?"
Arsen menggelengkan kepala. "Gak usah deh, pa. Kalau papa berkenan bayarin aja hutang ke daddy nya Asya."
"Kamu ngutang ke daddy nya Asya?"
"Gak masuk utang sebenernya, tapi Arsen gak enak lah jadinya. Masa hutang mama yang bayar calon mertua Arsen," ujar Arsen sembari mengelus punggung Syila.
"Gak masalah kali, Senn. Daddy juga gak bakal minta balik tuhh uangnya," sahut Asya yang datang dari dapur.
"Iyaa, emang gak bakal minta balik. Tapi tetep aja akunya gak enak, sayaang."
"Udah jangan debat gituu. Nanti pak Andre bayar semuanya. Yakan, pak?" kata bundanya Arsen menengahi.
"Iyaa. Kamu tenang aja, InsyaAllah papa bayarkan. Itung-itung bayar utang juga ke kamu karena udah bikin kamu susah bertahun-tahun."
Arsen tersenyum tipis, "thank u, pa."
"You're welcome, jagoan papa."
Asya dan mamanya Alex ikut tersenyum, obrolan mereka terdengar adem di telinga.
"Ya udah tu cobain deh cookies nya. Kata papa kamu, kamu dulu suka cookies. Bunda bikin bareng Asya tadi," ujar bundanya Arsen.
"Widiii, masih inget ya?"
"Apa yang gak papa inget."
Arsen tertawa kecil.
"Siniin deh Syila nya, masa dari tadi sama kamu mulu!" dumel Asya lalu menarik pelan Syila.
"Iri bangettt, padahal kan Syila adek aku."
"Adek aku jugaa!"
__ADS_1
"Malah rebutann. Jelas-jelas Syila adek gua," suara tiba-tiba muncul dari tangga. Bisa tebak siapa?
Iye, itu Alex.
"Haiiii, Alexx!" sapa Asya sambil senyum.
"Haii, Asyaa. Makin cantik aja dehh lu, makin cinta nih guee," kata Alex memanas-manasi Arsen.
"Cangkemmu ya, Lex! Jangan sampe gue tendang batang lu."
"Ngeri emang lakik lu, Sya. Mending sama gue aja deh, gue soft."
"Softt soft apaan lu? Softeners?!" cibir Arsen.
"Bacot mulu lu, Sen. Geger geden ayok!"
"Ya ayok! Gue tunggu lu di lapangan basket!" tantang Arsen.
"Sekarang?"
"Taun depan!"
"Sudah sudahh!! Kalian jarang ketemu tapi sekalinya ketemu ribut ya," kata pak Andre pusing.
"Sebenernya mereka caper, om. Kalau nggak ada om atau tante mereka akur-akur ajaa, malah kek uke seme."
"Sayaaangg~"
"Asyaaa~"
Asya cengengesan melihat ekspresi keduanya. "Boong kok, om, boong. Arsen mah masih waras, tapi kalau Alex agaknya nggak."
"Syaa, gue telen ntar lu ya!!"
Asya cengengesan lagi, "sensi amat. Cepet tua mampuss lu!"
"Hiiih, makin gemes gue. Nikah yuk?" ajak Alex.
"Beneran gue tikam mati lu, Lex!"
Alex nyengir tanpa rasa bersalah.
"Apeni? Cookies? Wahh, tumben bangettt mama bikin cookies."
Tangan Alex berusaha ingin mengambil cookiesnya, tapi baru saja memegang Arsen langsung memukul tangannya.
"Ini punya gue, kalau lu mau bikin sendiri sono!"
"Dih apaan kok jadi punya lu?! Yang masak mama guee," jawab Alex nyolot.
"Istri gue yang buat!!"
"Mama gue, Senn!"
"Istri gue, Lex!!"
"Allahu Akbar, udaahh!"
"Arsen duluan tu."
"Alex duluan tu."
"Arsen udahh," omel Asya ikutan.
"Dia duluan, sayaaangg."
"Yaudah kamu ngalahh, nanti aku buatin lagi. Aku udah di ajari bunda cara buatnya," jawab Asya sembari mengelus rambut Arsen sekilas.
"Bener yaa?" Asya berdehem.
"Okee! Ni buat lu, Lex."
"Gak deh. Gue mau yang buatan Asya juga," kata Alex duduk manis dekat Asya.
"Ngelunjak ya lu jingan!! Gue penggal juga ntar kepala lu, bener dah!" Alex tertawa.
"Udah ah, berantem terus. Anyway, Asya sama Arsen nginap di sini kan?"
Asya menatap Arsen.
Ada kode kecil di tatapannya.
"Gak bisa, bundaa. Arsen ada urusan, maaf yaa."
Jackpot! Arsen mengerti kodenya.
"Yaahh.. kalau gitu Asya aja gimana?"
"Gak boleh, Asya harus ikut Arsen. Kalau ngga ntar di rebut Alex," Alex tertawa lagi.
"Next time aja deh ya, bun."
βββ
07.25
"Pagi yang indah di Bikini Bottom....." Siaran televisi di ruang keluarga saat ini menayangkan kartun Spongebob SquarePants. Kartun favoritnya Asya dari dulu hingga sekarang.
Eh tapi.. emang kartun Spongebob mainnya pagi-pagi? Anggap aja iya deh. Hehehehe.
"Asyaa!! Ayo makan buruaann, udah jam berapa inii!" teriak Zia dari dapur.
"Iya, mommm."
Asya berlari menuju dapur.
"Asya mo makan di ruang keluarga sambil nonton Spongebob," ujar Asya pada mommy nya.
"Udah gedeee tapi tontonannya Spongebob," cibir Azril.
"Dihh, mending gue nonton Spongebob dari pada lu nonton bokp."
"ANJ-- astaghfirullahalazim! Nggak kok, mommy, daddy, Asya nipu."
"Bwahahaha, liat aja laptopnyaa, daddy. Isinya anime 18+" Asya langsung pergi setelah mengatakan itu.
"ASYAA GA ADA AKHLAK!!" Asya terkekeh di depan televisi. Arsen yang memang sudah ada di sana langsung mengikuti Asya.
"Sayang, kamu tau bedanya tuan Krab sama kamu?" tanya Arsen masih sambil makan.
"Aku manusia, tuan Krab kepiting."
"Salaahh!"
"Jadi apa?"
Asya menatap Arsen.
"Kalau tuan Krab sayangnya uang, kalau kamu sayangnya aku. JIAKHH pak cepak cepak cepak jedderr!"
Asya terkekeh. "Buaya emang gak ada tandingannyaa. Aku ada pertanyaan juga, apa persamaan kamu sama Spongebob?"
"Mana ada kesamaanya, sayaang," jawab Arsen.
"Adaa."
"Apaan emang?"
"Sama-sama kesukaan aku. JIAKHHH, jamet kudasai!"
Arsen gantian terkekeh. "Kita bedua jago gomball, ikut stand up comedy aja yuk sayaang."
"Ngaco!"
Arsen cengengesan.
"Kalian ada kelas jam delapan, cepat makannya!" omel Aska tiba-tiba.
"Siap, paboss!"
Mereka berdua pun lanjut makan.
Selesai makan, Asya dan Arsen meletakkan piring ke dapur. Setelah itu mereka meminum susu yang sudah di siapkan Zia.
"Di kampus belajar, jangan bucin!" omel Aska lagi.
"Iya iyaa. Gak bucin kok, daddy."
"Alah bongakk! Tiap hari mereka bucin," sahut Azril iri.
"Kang bokprs diem aja deh!"
"Gue ga nonton bokp anjrottt!"
"Hilih gayanyaa. Kemaren nampak di laptopmu ada anime 18+ yakan, sayang?" tanya Asya menghadap Arsen.
"Iya, banyak pula."
"Emang lu bedua couple yang pas banget ya anjirr. KANG KOMPOR SEMUA!" Asya dan Arsen bertos ria sembari terkekeh.
"Laptop kamu daddy sita sampe daddy punya waktu buat ngecheck," kata Aska tegas.
"Sama komputer nya sekalian, daddy," Azril langsung tatap datar Asya.
"Tatapan mematikan gengsss! Agak serem ya, kabur aaaaaaahhh!" Asya pun pergi setelah bersaliman.
"Gue sembelih mati lu!"
"HAHAHAHAHA! GA TAKOTT."
"Ga takut tapi lari. Maksudnya gimana coba?" tanya Arsen mengejek. Keduanya sudah berada di luar rumah.
"Eceknya aja gak takut, padahal ya gak takut." Arsen menggelengkan kepala. Mereka pun masuk ke mobil Arsen lalu pergi menuju kampus.
"Kamu pas ada Angela gimana aja sih, sayang?"
"Gak gimana-gimanaa. Gak usah bahas itu, aku gak mau kita berantem."
"Yahh masa gak mau sih? Padahal aku pengen berantem," jawab Asya agak kecewa.
"Kamu tu emang suka bangett cari masalahh, ntar yang minta maaf aku juga kan?" Asya nyengir.
"Tapi tu aku penasaran. Kamu cuek ke Angela kan, tapi kenapa Angela malah makin melengket ke kamu?"
"Kan aku ganteng."
"Najis banget jadi kepedean."
"Ya Allah sabarkan Arsen... sabarkan Ya Allah.. sabarkan..."
Asya malah tertawa.
"Gak usah ketawaa. Nanti aku diabetes gara-gara manisnya kamuuu."
__ADS_1
"MODUSSS!"