Barbar Generation

Barbar Generation
Cabut versi halal


__ADS_3

06.55


"Syaaa.." Asya menoleh ke arah Racksa. Racksa menunjuk ke arah Arsen yang berada di luar pagar.


"Gue naik motor, yaa." Izin Azril.


"Kok betingkah sekali anda?!" Tanya Asya sinis.


"Gue sekalian jemput Adindaa."


Racksa dan Asya langsung menatap Azril. Senyuman mengejek terbit dari bibir mereka.


"Cuma temen doang, kagak usah mengadi-ngadi lu pada!" Omel Azril, mereka berdua tertawa kecil.


"Bernyali juga ya lu? Kagak takut di hantam?!" Tanya Racksa.


"Bapak gua said, hantam balik." Azril langsung masuk ke garasi. Memakai helm kemudian memanaskan motornya sambil di dorong keluar.


"Jangan ngebut lu anjirrr, inget bawa nyawa!" Kata Racksa.


"Iyee iyee. Yaudah, gue duluann, assalamu'alaikum!"


"Waalaikumsalam." Azril pun meninggalkan rumah abu-abu untuk menjemput Adinda.


"Lu ngapain masih disini?" Tanya Racksa sinis.


"Lu ngusir?!"


"Kagak begituuu! Gue kan cuma nanyaa!" Asya terkekeh pelan lalu pergi keluar pagar.


"OIYAAA, BUBUK MICINN!!" Racksa menoleh.


"Lu bawa mobil siapaa??"


"Mobil lu. Mobil gue belum di servis, belum di cuci jugaaa."


"Oh." Asya pun berlari kecil keluar pagar.


Tok.. Tok..


Arsen keluar mobil.


"Morning, chagiya."


Asya tertawa, "morning too!"


Melihat tawa Asya pagi ini, menambah semangat Arsen. Ia berjalan ke sisi mobil, membukakan pintu mobil untuk Asya.


Arsen menyuruh Asya masuk melalui kode, kode cinta hehe :v


Asya pun masuk ke mobil di susul Arsen, "lu bawa apa buat gotong royong?" Tanya Arsen.


"Lahhh lupaa!"


Arsen langsung menatapnya, "dasar pelupa. Mau bawa apa?? Cangkul?"


"Iya deh kayaknyaa, golok di bawa Azril sama Racksa."


"Mereka berdua bawa kenapa lu kagak?"


"Ish, lupaa."


Arsen menggelengkan kepala, ia mendekati Asya kemudian memasangkan seat belt untuk Asya.


Setelah selesai, ia kembali duduk dan memasang seat belt nya sendiri lalu pergi meninggalkan rumah abu-abu.


"Loh kok??"


"Gak bawa juga gak masalahhh, yakali lu pake cangkul ntar."


"Lah, emang kenapa?"


"Gapapa, kalau kena bahaya." Jawab Arsen santai sambil memgemudi.


"Lu bawa apaan?"


"Cangkul."


"Ya kan sama ajaaaa!!"


"Sama darimana? Jelas beda, lu cewek gue cowok."


"Beda gender doang," gumam Asya kesal.


"Gue denger yee! Jangan ngebantah lu sama calon laki!"


"Calon laki ndasmu peang!"


Arsen tertawa, "kan benerrr."


"Bener darimana nya samsudinnn?!"


"Kagak tauu," Arsen nyengir kuda.


"Baytheway, lu demen kan sama gue?!"


"Gak usah kepedean!"


"Kalau nggak, ngapain semalam meluk? Erat banget lagi. Seolah mengatakan tidak ingin berpisah dari pria tampan seperti gue."


"Geernya luar biasa!!"


"Jujur bae dah luuu," ledek Arsen.


"Nggakk!"


"Terus, ngapain meluk semalam?"


"Khilafff!"


Arsen tertawa lagi, ia mengacak ujung rambut Asya karena gemas.


"Demen, kan?"


"Gak!" Jawab Asya sinis sambil membenahi rambutnya.


Tapi percuma, Arsen mengacak-acaknya lagi.


"Arsennnnn!"


"Aduhh, ganas bangett singa ku!!"


❀❀❀


Di tempat lain, Azril sedang menunggu Adinda di depan supermarket. Dengan santainya Azril menunggu sambil meminum susu yang ia beli.


Setelah beberapa menit berlalu, muncullah Adinda.


"Sorryy, lamaa. Gue kesiangan tadiii," Azril tertawa kecil melihat ekspresi Adinda.


"Kesiangan karena gak bisa tidur, yaaa? Gara-gara gak sabar pengen gue jemputtt," ledek Azril.


Adinda tertawa mendengarnya, "narsis bangett woii!" Azril ikut tertawa lagi.


"Bentar yaa," Adinda masuk ke supermarket. Ia membeli dua susu dan beberapa permen lalu kembali keluar.


"Nih, buat lu." Adinda memberikan satu susu.


"Lah, gue baru minum tadi."


"Gapapa, nih lagii."


"Gue udah minum susu dua kali pagi inii."


"Ishh, buat ntar siang, Azril. Terimaa buruan!!"


"Lihh, maksaaa." Ledek Azril sambil nyengir, ia menerima susu itu dan memasukkannya ke tas.


"Gara-gara lu bedua kemaren, gue jadi suka susu."


"Enak, kan?" Adinda mengangguk.


"Jelass. Oh iya, gue bawa motor doang, gapapa nih??"


"Yailahh, gapapa lah. Gue juga suka naik motor, bisa hirup udara segar!" Azril mengangguk setuju.

__ADS_1


"Nih, pake helm gue."


"Helm lu? Lu pake apa?"


"Gue pake helm nya Asya. Tu anak sedikit gak suka kalau helmnya di pake orang lain, tapi, kalau gue yang make gak masalah sih." Adinda berohria.


Ia memasang helm, "ayokk!"


Arsen juga memakai helm nya kemudian naik duluan ke motor. "Pelan-pelann," ujar Azril. Adinda mengangguk kemudian naik perlahan.


"Pegangan!"


Setelah merasakan pegangan Adinda, Azril mulai melajukan motornya menuju sekolah.


"Azril.."


"Hm??"


"Lu gak takut di hajar Alex??"


"Apaaa?? Lu mau beli tipe-x? Dimana??"


"Bukann suruh lu beli klxx. Gue tu nanyaaa, lu gak takut di hajar Alex??"


"Gak jadi beli tipe-x? Yaudahhhh."


"Aihhh.. gue tanya tentang Alex kenapa di jawab nya ke klx muluuukk?!" Gumam Adinda heran, ia pun diam tidak ingin bicara lagi.


"Dinddaa."


"Oy? Kenapaa?"


"Lu bawa apa untuk gotong royong?"


"Apaa? Pangkas gondrong?? Lu mau pangkas gondrong?"


"Eiiii bukan beli kedondong lahhh. Lu bawa apa buat gotong royong??"


"Oooo, lu mau beli ayam potong? Dimanaa?"


"Astaghfirullahhh, kenapa jadi ngomong berondong?!"


"Iyaa nanti gue temenin beli ayam potongg."


"Ya Allah.. masa iya lu bawa golok buat potong-potong ginjal, dinnn?! Ahh.. trauma gue pake knalpot blong. Jadi seremmm!"


Adinda diam mencerna perkataan Azril. Sedangkan Azril sendiri memilih diam daripada nantinya salah paham.


Beberapa menit di perjalanan mereka pun tiba di sekolah. Azril menunggu Adinda turun kemudian ikut turun.


"Lu ngomong apaan si tadiii?" Tanya Adinda heran.


"Lah, lu ngomong apaan? Kenapa jadi motong-motong ginjal?"


"Hah?? Mengadi-ngadiii, kagak adaa bilang begitu gueee."


"Lu sendiri bilang apaa?" Tanya Adinda.


"Lu bawa apa buat gotong royong?"


Adinda mengedipkan matanya seperti orang dongo, "besok kagak usah ngomong di motor ye? Trauma gue, jadi ngawurr!"


Azril terkekeh, "gue juga trauma pake knalpot blong. Yaudah yok ke kelas!" Ajak Azril.


Mereka berdua pun menuju kelas.


"Alex gak pernah bawa motor kalau ngajak lu pergi??" Adinda menggeleng.


"Dia sering pake mobil, dan yaaa gue juga sering engap naik mobil."


"Why?"


"Alex merokok kadang, dia juga kalau pake parfum baunya nyengat. Jadi yaa gituu lahh," Azril mengangguk paham.


"Oiya, lu kagak takut di hajar Alex?" Azril menggeleng santai.


"Lu sendiri? Takut gak di apa-apain sama Alex?"


"Eem.." Azril berhenti, ia juga menarik tangan Adinda.


"Kalau Alex apa-apain lu, bilang sama gue. Biar gue yang uruss."


"Gak pake tapi-tapian, kalau Alex apa-apain lu langsung hubungin gue!"


"Iyaa iya, tar gue hubungin lu."


"Good girl," Azril tersenyum.


"EKHM.. KESELEK PESAWAT JET GUAAA!"


Arsen, Racksa, Aryuna, Dino, dan Haikal tertawa mendengarnya.


"Ada yang lagi mabuk asmara ni gaisss," ledek Dino.


"Aih.. admin lambe turah muncul." Balas Azril.


"Agaknya dia kesal kita ganggu," sahut Arsen.


"Keknya gitu."


"Tabok hajaabbb lu pada!" Mereka terkekeh.


"Lu pada baru sampe juga?" Tanya Adinda, mereka mengangguk.


"Kok duluan gue sama Adinda?"


"Kami nongkrong di warung depann, makan lontong, Zril. Enakkk!!"


"Sejak kapan lu suka lontong?"


"Sejak tadiii," jawab Asya cengengesan.


"Lu makan juga berartii?? Kan udah sarapaaan pengakk!"


"Lu kea gatau Asya aja, Zril. Kap mobil pun masih muat di perutnyaaa." Ujar Racksa.


"Nggak gitu juga hee, bubuk micin!!" Racksa cengengesan.


"Ini Aryuna bareng kalian?"


"Iyee, berangkat bareng Dino malah. Mereka berdua juga di mabuk asmara gue rasa," jawab Haikal.


"Matamuuu dua!"


"Ya emang dua." Kata Haikal santai.


"Aibah.. sabar sabarrr ya Dinoo!!" Mereka tertawa lagi.


"Lu gede nyali juga yee, berani jemput Dinda. Kagak takut di ngap?!" Tanya Haikal.


"Tinggal ngap balik, kan gampang."


"Aiyaaa.. kalau di mabuk asmara tu kan apapun bisa di lakuinnn." Jawab Dino.


"Kek lu sama Aryuna kan?" Tanya Arsen santai.


"Gue juga yang kenaaa."


"Yahaaaaa bumerang!!"


"Hahahaaa!!"


❀❀❀


09.26


Sabtu ini rutinitas siswa-siswi SMA untuk gotong-royong di lingkungan sekolah. Semua siswa dan siswi tanpa terkecuali bekerja sama untuk membersihkan lingkungan sekolah.


Arsen yang masih menjabat sebagai ketua OSIS berkeliling untuk mengecek adik kelas pada kerja atau tidak. Padahal niat aslinya untuk mencari Asya.


Setelah lama berkeliling, akhirnya Arsen menemukan Asya yang sedang mencangkul di area belakang sekolah.


Di sekitar Asya banyak adik kelas pria menganggur, tapi kenapa Asya yang mencangkul?! Arsen terheran-heran.


Ia pun menghampiri mereka. "Aurat," bisik Arsen tepat di telinga Asya. Asya langsung menoleh, Arsen pun menunjuk area bawah lehernya.

__ADS_1


Asya melihat miliknya, alhamdulillah tidak terekspos. Arsen mengambil alih cangkul Asya.


"Ada lima cowok disini.. kenapa cewek yang nyangkul? Cowok bukann kalian, HAH?!"


Mereka tersentak kaget mendengar bentakan Arsen, seketika mereka berbaris.


"COWOK BUKAN?!"


"C-cowok bang."


"Cowok mana yang biarin cewek nyangkul?! Enak pula kalian disini duduk sedangkan cewek di depan mata kalian lagi nyangkul. Gak malu kalian? Tenaga bisa lebih kuat dari cewek tapi malah cewek yang nyangkul. PAKE ROK AJA SANA! SEKALIAN BAWA BONEKA!!" Mereka tertunduk.


Arsen tegas mode on.


Beginilah Arsen di sekolah, tegas dan berwibawa. Kadang.


Arsen lebih sering ngebobrok dengan temannya atau ngebucin ketika ada Asya. Tapi di hadapan adik kelas, Arsen terkesan garang dan dingin.


Sepertinya dia punya banyak kepribadian:v


"K-kami aja yang cangkul, bang." Salah satu dari mereka hendak mengambil cangkul yang sedang di pakai Arsen.


"Lima orang ngumpul, cangkul cuma satu?" Tanya Arsen sinis.


"Y-yang lain di pake, bang."


Arsen ingin protes lagi, tapi terhenti karena Asya membekap mulutnya dengan tangan.


"Sssst, gak boleh galak-galakk ntar cepet tua!" Omel Asya, Arsen terdiam. Tatapan Asya selalu melemahkan nya.


Asya mengambil cangkul di tangan Arsen kemudian memberikannya kepada salah satu siswa tadi.


"Tolong lanjutin, ya. Jangan setengah-setengah kerjanyaa."


"Iya, kak."


Asya tersenyum tipis lalu menarik Arsen meninggalkan lokasi.


"Kak Asya sama bang Arsen ada hubungan??"


"Keknya iya, bang Arsen nurutt banget woii sama kak Asya."


"Patah hati dah guaaaa."


"Bang Arsen ke kak Asya kalemm, ke kita tadi galak bangett cuy."


"Kita nya juga salah sii, kenapa biarin kak Asya nyangkul tadi."


"Mereka berdua pacaran kah?"


"Kalau iya, fiks! Gue patah hati."


"Muke kentang gini ya kalah kalau saingannya bang Arsen."


Di sisi lain, Arsen menahan kaki dan menarik tangan Asya untuk berhenti. Asya pun terhenti.


"Mau kemaanaa?"


"Keee.. rahmatullah?"


"Astaghfirullah!" Asya tertawa.


"Kagak usah galak-galakk deh lu! Udah mau pensiunnn punnn."


"Bukan maks--"


"Gue tadi yang minta cangkul nya."


"Ya harusnya mereka gak ngasih lahh. Udah deh, gak usah belain yang salah."


Asya menyipitkan mata menatap Arsen, "lu ngape sensi amat?!" Arsen tidak menjawab.


"Cemburu, yeee?!"


"Gak usah geer!" Asya terkekeh.


"Gue yakin sihh, lu cemburu." Arsen menatap Asya kesal, ia menyamakan tinggi nya dengan Asya.


"A-apaa?? Ngapa deket amat hehh!" Asya mundur perlahan.


Arsen gantian tertawa melihatnya lalu mencubit pelan hidung Asya, "gue cemburu. Cemburu liat lu di deketin sama buaya junior!"


"Ohh, jadi kudu deket sama buaya senior?" Tanya Asya meledek.


"Nggak. Sama gue aja!"


"Lu kan buaya senior!!"


"No no, gue bukan buaya. Gue calon imam lu."


Asya tertawa kecil, "pede amat si, pakkk? Siape juga yang mau ame lu, hm? Galaknya na'udzubillah." Arsen menatap kesal Asya.


"Kan lu suka tuh sama gue."


"Nggak."


"Nggak salah lagii, yekann?"


"Mana buktinyaa??"


"Semalem, lu meluk guee."


Asya tertawa lagi, "khilapp ish. Skippp!"


"Oiyaa, lu semalam ngobrol apa sama daddy?"


Arsen kembali berdiri tegak, "ahhh itu.. urusan kerjaan."


Asya berohria. Bila menyangkut pekerjaan, Asya tidak ingin ikut campur.


“Perhatian! Untuk seluruh siswa-siswi sudah di perbolehkan istirahat.”


Itu pengumuman dari guru.


"Udah istirahat, mau ke kantin?" Tanya Asya.


"Rame banget pasti, males gueee. Makan di luar yuk?"


Asya menatap Arsen, "emang boleh?"


"Why not? Ke kafe yang di depan itu lohh, pasti boleh lah."


"Yaudah ayooo." Mereka berdua pun keluar area sekolah.


"Jalan aja, biar sweet." Asya tertawa kecil mendengarnya. Beberapa menit di perjalanann, mereka tiba di kafe dekat sekolah itu. Mereka memesan makanan yang sama.


"Ini namanya cabut gasiii?!"


Arsen pura-pura mikir, "ini cabut versi halal."


Asya tertawa, "menyesatkan yaaa!" Arsen mengangguk sambil ikut tertawa kecil.


"Eemm, syaaa." Tanpa menjawab, Asya menoleh.


"Kalau gue.. beneran ke Kairo gimanaa?"


Asya tersenyum paksa, "gue tau lu bakal nanya ini sih. Dan gue juga tau semalam lu tuh boong di bagian akhir."


Arsen menatap lekat Asya kemudian mengelus tangan Asya, "sorry."


"No problem. But, kalau lu ada masalah serupa bilang aja. Gak usah ga enakaann."


"Lu tau, kenapa gue bilang boong di bagian akhir?"


"Kenapa?"


"Karena gue gak bisa ninggalin luu."


Asya menatap mata Arsen kemudian berpaling lagi, "aaghh dramatis bangetttt."


"Gue seriusss. Berat coyyy!"


"Hhmm, kisah mommy nurun ke gue ternyata. Bedanya daddy diem-diem, kalau lu bilang-bilang." Ujar Asya pelan namun tetap di dengar Arsen.


"Yaudahh, ke Kairo ajaa. Demi masa depan lu, biar bisa lebih baik ke depannya dan lebih suksesss."

__ADS_1


"Tapi--"


"Gue janjii gak bakal tinggalin lu, sya. Gue gak bakal lepasin lu sampe kapan pun, gue janjii!"


__ADS_2