Barbar Generation

Barbar Generation
Saltinggg!


__ADS_3

"Lamaaa bangett lu padaaa!" Omel Shaka kesal.


"Ehh, Bapak Cakaa. Tadi mampir dulu, pakk." Jawab Asya santai.


"Arsen mana??"


"Apaa?" Arsen masuk sambil membawa semua belanjaan.


"Asya bege kadang, bukannya dibantuin."


"Dia mau bantu tadi, tapi gue larang." Arsen membelanya.


"Waahh, luar biasa."


"Gentleman."


"Ohh ya jelass." Arsen jadi sombong.


"Gelayy."


Arsen langsung menatap sinis Racksa.


"Mampir dulu kan lu pada?!" Arsen dan Asya mengangguk sambil nyengir.


"Kemana??"


"Cuma ke timezone, ke kafee abistu balekk." Jawab Asya.


"Parahh parahh. Gak ngajak-ngajak!" Cibir Dino.


"Lu gue ajak jadi nyamuk." Balas Arsen.


"Ada Una sebagai obatnya."


"Wait wait.. Yuna sebagai obatnya berarti Yuna bakal bunuh lu lah!"


Dino berfikir kembali, "IYAAA WEHH."


"Bukan Yuna lohh yang bilangg." Kata Yuna angkat tangan.


"Nggak salah lu kok, Yun. Salah Dino, dia penuh dengan kegoblougkan." Balas Shaka.


"Bapak JeeL minta dismekdon!" Mereka tertawa.


"Nanti berangkat jam berapa??" Tanya Asya.


"Abis jumatann."


"Naina jadi ikut?" Tanya Ara gantian.


"Jadii, tapi ntar gue jemput duluu."


"Kapan lu jemput? Sekarang aja gih, daripada lu gabut ekann." Suruh Ara.


"Bener bangett. Mending sekarangg, bangg!" Sahut Yuna.


"Yaudah iyaaa, gue jemput sekarang." Azril pun pergi meninggalkan rumah abu-abu.


"Perlengkapan udah siap, kann?" Tanya Shaka.


"Udahh, tinggal let's go aja." Kata Ara.


"Lu mikir apa?" Alvin menyenggol Asya.


"Dua hal yang buat gue pusing."


"Apa itu?" Tanya Haikal.


"Call, lu liat lambe turahh. Disitu kesebar foto gue sama orang yang katanya sugar daddy gue. Padahal kan gue gak punya sugar daddy!!" Haikal mengambil ponselnya dan mencari di grup lambe turah.


Dino, Alvin, Racksa, Shaka, Ara dan Yuna ikut melihat di ponsel Haikal.


"Inii.. foto yang ada di feed ig kan?" Asya mengangguk.


"Foto editann dongg."


"Jelas editann, tapi tu yang ngedit siapaaa?"


"Yokk lacakk!" Ajak Yuna.


"Una bisaa??" Dino menatap Yuna, Yuna menggeleng sambil cengengesan.


"Arsen kan bisaa." Kata Haikal.


"Gak terlaluu. Kalau dibantu Azril pasti ketemuu. Tunggu Azril pulang aja ntarr, apa ngga dii tenda nanti kita lacak barengann."


"Gila yang ngepost." Cibir Shaka.


"Tapi kalau diliat liatt, ini tu mirip Uncle Askaa." Ujar Racksa.


Mereka kembali meneliti foto itu.


"Lahh, iyaaa. Ehh, bentar!"


Asya mengambil ponsel dan membuka instagram daddynya.


"Ini postingan bokap guee ternyataa, tapi tuu udah lamaaa bangeeettt."


"Menarik nih kalau gue kasih balasan cemplungin ke danau." Alvin tersenyum smirk.


"Jangan gila kau." Cibir Shaka, Alvin tersenyum meledek.


"Kak Asya bilang tadi dua, kann? Satu lagi apaa?"


"Di supermarket. Tepatnya dii area perdagingan, gue ketemu sama bapak bapak mukanya blasteran gitu. Dia keliatan mencurigakan bangett sumpahh."


"Lu berinteraksi sama dia?" Tanya Shaka, Asya mengangguk.


"Mencurigakannya gimana?"


"Asya lagi milih daging, tiba-tiba tangan bapak itu pegang tangannya Asyaa. Kek gitu kan biasanya minta maaf terus cabut, lah dia nggak. Malah natapin Asya dari atas sampe bawah." Gantian Arsen yang menjawab.


"Dan lebih mencurigakan, dia tau kalau gue tinggal di rumah abu-abu."


"Whatt?!"


"Katanya sekomplekk."


"Aiihh!! Jangan sampeee holiday kita kenapa kenapaaa."


"AAMIIN." Balas mereka kompak.


"Kalau boleh jujur, gue takut sekarangg." Mereka menatap Ara.


"Takut kenapaa?"


"Gue juga ketemu orang yang samaaa, kemaren pas naik sepeda. Tapi dia di gang sebelahh. Waktu itu dia nanya tinggal di rumah abu-abu, dek?"


"Terus lu jawab apaa?"


"Gue jawab nggak."


"Apa itu musuhnya daddy, yaa?" Tanya Asya.


"Lu udah lapor Om Aska?" Asya menggeleng.


"Paling bodyguard nya udah laporan."


"Huaaahh.. susahnya jadi anak dari orang penting mah gituu. Di Swiss, gue juga sering jadi korban penculikan."


Mereka langsung menatap serius Alvin.


"YANG BENER?!" Tanya Haikal.


"Ho'oh. Tapi hampir, gak pernah sampe keculik benerann."


"Alhamdulillah-nya gak sampe keculikk."


"Iyaa alhamdulillah nya gitu. Kalau gue keculik, pasti lu bakal nangis kejer dengernya." Kata Alvin menanggapi Asya.


"Ogah banget, buang-buang air mata."


"SIANJ!" Mereka terkekeh.


"Assalamu'alaikum!!"


Azril kembali, ia bersama dengan Naina. Belum masuk ke rumahh, masih di depan pintu.


"Ayokk masukk."


"Maluuu guee." Azril tertawa mendengarnya, ia menarik tangan Naina untuk masuk.


"Assalamu'alaikum."


Suaranya pelan bangett gaissss! Naina masih malu buat gabung di circle Asya dkk.


"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka kompak.


"MasyaAllah. Cantik bangett," puji Shaka tanpa sadar.


"Dia pasti cewek."


Shaka yang tadinya sedang terpesona langsung menendang Alvin karena kesal.


Alvin cengengesan sambil kesakitan.


Melihat teman-temannya natap Naina gak nyantai, Azril langsung menutupnya.


"Azril cemburu gaysss. Ahaaaa!!" Ledek Asya puas.


"Bacot bangett."


"Minggir luu!" Ara mendorong Azril.


"Haloo, Naina. Gue Ara, temennya Asya."


"Gue Naina."


"Haii, Kak Naina. Gue Yunaa, maknae disinii." Naina membalas dengan senyuman.


Asya maju untuk mendekat.


"Nice to meet you, gue Asya. Semoga betah, jangan jaim yaa! Kalau lu gak tau cara jadi setengah waras, tangan Ara. Dia kurang waras."


"Baddjjing– astaghfirullahalazim!"


Asya cengengesan.


Naina sendiri tertawa melihatnya.


"Gue Dinoo."


"Guee Haikal."


"Racksaa."


"Gue Alvin, pacar Ara."

__ADS_1


Pletak!


Garpu yang dimeja memukul jidat Alvin. Pelakunya? Ya Haikal.


"Si Ical cemburu serem anjirrr. Jadi takut guee!" Mereka terkekeh mendengar perkataan Alvin.


"Nainaa, gue Shakaa. Bismillah, calon masa depan lu."


"Ku lempar pake sepatu nanti kauuu!!" Azril mengamokk. Shaka nyengir tanpa rasa bersalah.


"Lu pada balik ke Indonesia jadi perusak ya anying?!" Tanya Arsen.


Alvin dan Shaka cengengesan.


"Bukan maksud begituu. Tapi cewek kalian tu cakep cakep anjirrr. Jadi pengen rasain masuk tengahhh." Jawab Shaka.


"Macem di Paris gak ada cewekk ku tengokk!" Cibir Azril.


"Zrill, cintai produk lokal."


"Bacottt!" Shaka tertawa lagi.


"Bener tau yang dibilang Cakaa. Cewek kalian cakep cakep, kecuali ceweknya Arsen."


Asya yang baru mau menyuapkan mangga ke mulutnya tiba-tiba terhenti.


"Baku hantam ayokk!!" Alvin ketawa melihatnya.


"Padahal cantik bangett cewek guee. Mata lu katarak pasti, yakin banget gue." Kata Arsen dengan bangganya.


Asya ngeflyy!!


"Dasarrr, manusia-manusia meresahkan!" Cibir Racksa yang sedari tadi diam. Mereka tertawa bersamaan.


"Jadi ini pawangnya Asyaa?" Tanya Naina menatap Azril, Azril mengangguk.


"Alumni dunia perbuayaan."


"Arsen alumninyaa, lu pendatang barunyaa." Ledek Ara.


"That's right!" Ara dan Asya bertosria.


"Lu gak tau kan, Ra? Ical juga ikut dunia perbuayaan. Pangkat dia lebih tinggi dari gue."


"Tertinggi tu Dino." Jawab Haikal.


"Lah, gue pulakk?!"


"LU PADA MASUK DUNIA BAGIAN MANA SII?! PUSING GUE JADINYA!!"


◕◕◕


13.59


"Assalamu'alaikum.." Para pria kembali setelah jum'atan.


"Lama bangett lu padaaa." Sambar Asya yang kesal.


Arsen mengacak rambut Asya. "Jawab salam dulu."


"Wa'alaikumsalam." Balas Asya sambil menata kembali rambutnya.


"Lamaa tadi karena bantu bersih bersih di mushola."


Para wanita berohria.


"Kalian udah sholat?" Tanya Shaka. Mereka mengangguk.


"Nanti disana sholat dimanaa?" Naina kebingungan.


"Disana ada rumah minimalis. Hampir sama kek gini jugaa, jadi sholatnya di sana." Azril yang menjawab.


"Kita berangkat sekarang??"


"Yaaa terserah."


"Andalan betina, yaaaa terserah." Cibir Racksa.


"Lu diem, Saa! Gue lempar ntar pake bantal sofa." Kata Ara kesal.


"Sabar, sayang. Daripada pake bantal sofa, mending pake kaca." Racksa tertawa mendengar perkataan Haikal.


"Gak usah bikin gue patah hati napa si, Calll. Sok banget manggil sayang."


"Iri kali kau babu!" Alvin mengelus dada.


"Sabar, Vin. Baru selesai sholat tadi."


"Berapa mobil nihh?" Arsen mengalihkan topik.


"Dua?" Tanya Dino.


"Dua matamuu. Dua belas orang dua mobil?!"


"Yaa bagus gituuu lah begoo. Nanti dua lagi bawa motorrr aja. Kebanyakan mobil disana buat apaa?!" Sarkas Alvin.


"Nah kan, gue benerr call. Dua mobil."


"Gue yang naik motorrr." Pinta Asya.


"Asya sama gue."


"Hemmm, mari kita maklumi mereka yang bucin. Pake mobil siapaa?"


"Banyak tanyak bahhh!"


"Owgheyy!"


"Pake mobil gue ajaa." Dino menawarkan diri.


"Satunya?"


"Satunya mobil gue."


"Okee, mobil Dino sama Alvin. Motornya punya Azril."


Mereka pun berkemas. Mengangsur barang yang ada di dapur menuju bagasi mobil.


"Ara, Dino, Haikal, Yuna, Shaka. Racksa, Azril, Naina, Alvin satunya siapaa??"


"Alexx!"


"Ehh iyaa, Alex manaa?"


Arsen mengambil ponsel dan menghubungi Alex. Setelah selesai, ia kembali ke perkumpulan.


"Alex dijalan, udah deket kok." Mereka berohria lalu kembali duduk dan menunggu.


"Sebagian mobil suruh supir ambil. Takutnya kenapa kenapa kalau disini." Suruh Racksa, mereka mengangguk paham.


Beberapa menit kemudian Alex muncul.


"Sorry telatt banget guee. Tadi meeting dadakannya kelamaan."


"It's okayy. Ngerti kami mahh gimana orang sibukk." Jawab Alvin.


Alex masih ngos-ngosan karena buru-buru, "udah semua?"


"Udah. Tinggal berangkat."


"Kuyyyyy, gass, ngenggg!!"


"Mereka pun keluar dari rumah abu-abu."


"Omm bodyyy, kalau mau pulang tunggu mobil mobil mereka di jemput yaaa." Pinta Asya.


"Iya, nona muda. Hati-hati ya, nonaaa." Asya tersenyum sambil mengangguk.


Setelah dua mobil tadi keluar, Asya kembali ke Arsen yang sedang memanasi motor.


"Pake helmnya." Suruh Arsen.


"Kalau gak pake??"


"Pala lu terbang." Asya tertawa.


Arsen turun dari motor lalu memakaikan helm Asya.


"Seen, gue cantik kan??"


Arsen tertawa.


"Ayo berangkatt!"


"Ishh, jawab duluuuu!"


"Lu tau lah jawabannya. Udah ayokk, kita berduaan disini. Bisa khilaf guee."


"Hihh!!"


Asya naik ke motor. Arsen pun mulai mengendarai motornya.


Satu setengah jam waktu yang ditempuh menuju basecamp JeeL. Dan satu jam sudah terlewati. Oh iyaa, Arsen dan Asya berada di tengah. Bagian depan mobil Dino dan di belakang mobil Alvin.


"Syaa?? Tidurr?"


"Hmm? Nggakk, belummm."


Asya bisa mendengarnya karena motor Azril tidak lagi berknalpot blong. Lagipula suara Arsen besar dan pendengaran Asya tajam, jadi Asya bisa mendengarnya


"Jangan tidurr, nanti jatoh." Asya berdehem.


Tiba di lampu merah.


Arsen mengelus lembut lutut Asya. Merasakan tangan Asya memegang jaket, Arsen menarik tangan Asya untuk memeluknya.


"Hiss, mencari kesempatan bangett!" Omel Asya sambil menarik tangannya.


Arsen tertawa.


"Woii, yang di depan! Jangan meresahkan!" Teriak Alvin dari belakang. Arsen menoleh kebelakang lalu tertawa lagi.


"Ngantuk kamu?" Tanya Arsen.


"Iyaa, dikittt."


"Bisa ngantuk dikit dikitt? Jangan tidur yaa, nanti jatoh." Asya mengangguk.


Lampu kembali hijau, Arsen mengendarai motornya sambil bergaya-gaya.


Asya yang dibonceng sedikit takut tapi ia malah tertawa. Tangannya juga mencengkram erat jaket Arsen.


"Masih ngantuk gakk?" Tanya Arsen sedikit berteriak.


"Nggaaaakk!"


"Pegangannn." Arsen berbelok melewati jalan pintas. Hanya motor yang bisa melewatinya.

__ADS_1


"Arseeeennn!"


"Naon, babee?"


"Mauu ituu." Arsen memberhentikan motornya lalu menoleh kebelakang.


"Apaaa?" Asya menunjuk pedagang bakso bakar yang terlewati.


Arsen memutar balik motornya.


"Mau berapa?" Tanya Arsen.


"Yang lain dikasih nggakk? Ehh gimana kalau beli seratus tusuk terus di goreng sendiri nanti malam."


"Di bakar, sayang."


"Nah iyaa." Asya nyengir.


"Yaudah, bentar yaa." Arsen turun dari mobil dan membeli seratus tusuk bakso yang belum di bakar.


Arsen juga membeli sebotol air mineral.


"Haus ga?" Asya mengangguk. Arsen memberikan air mineralnya.


"Udahh?" Asya mengangguk lagi. Arsen mengambil air mineral tadi dan meminumnya.


"Kenapa gak beli dua?"


"Biar sosweet."


"Elehh prett!" Arsen tertawa.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Hanya butuh waktu lima menit, mereka tiba di tempat.


"Hwaaahh.. seger banget udaranya."


Tin tin!!


Para rombongan bemobil tiba.


"Loh kok kalian duluan nyampee?" Tanya Alvin.


"Lewat jalan pintas nyalip nyalip. Ehh, disana ada pemukiman warga tauu." Ujar Asya antusias.


"Besok kesanaa kitaa." Ajak Shaka.


"Ngapain??"


"Beli kuaci!"


"Ide baguss!" Sorak Azril.


"Makin begoo lu pada!" Mereka terkekeh lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


"Lu naik motor kea ngajak mati Asyaa." Protes Racksa.


"Bukan ngajak matii, itu tadi biar Asya gak ngantukk."


"Bagosss!! Asya tu kalau di jalan demen banget tidurr. Kemanapun ituu." Asya cengengesan mendengar ucapan Azril.


"Rumahnya cantikk bangett weii." Puji Ara excited.


"Ini beneran basecamp kalian?" Tanya Naina.


"Basecamp warisann." Jawab Dino.


Ara, Naina dan Yuna berohria.


"Mari kita ke kulkas, daddy bilang banyak minumann."


Dan ternyata benar!


Azril menemukan dua kulkas itu terisi banyak minuman yang beranekaragam.


"Tiga hari habis sih itu, yakin gue." Ramal Haikal.


"Whyy??"


"Dino, Caka, Apin, demen tuhh ngabisin minuman kulkas."


"That's right!! Satu hari aja bisa abiss kadang." Sahut Asya.


"Nggak juga hehh, ga bole gitu." Protes Alvin yang malu.


"Ga bole apaaa?!"


"Ga bole buka aib. Gue harus jaga imej di depan gebetann."


Gebetan yang di maksud Alvin adalah Ara.


"Sabarnyaaa gue dari tadii. Minta di smekdon betulan kauu?" Tanya Haikal kesal. Alvin cengengesan mendengarnya.


"Udah soree, ayo pindahin barang abistu bangun tendanya."


"Yokkkk!" Mereka bersama-sama memindahkan barang barang yang ada di bagasi.


Setelah selesai, mereka mengambil tenda dan mendirikannya dekat rumah itu.


"NTAHLAH BODOAMAT!" Ara super kesal melihat tendanya bulak balik jatuh.


Melihat Ara mengamuk, mereka tertawa.


"Sini gantian guee." Yuna mendekat dan mulai mencoba.


Berhasil!


Tapi Alvin menyentuhnya. Tenda kembali jatuh.


"Meresahkann, Bang Alpin!" Alvin tertawa puas melihat wajah datar Ara dan Yuna.


"Bangun pelan-pelann." Alex membantu mereka, tenda pun bisa berdiri sempurna.


"Kang tenda ya lu, Lex?"


"Kang cilok."


Mereka terkekeh.


"Naiii, lu di kanan gue di kiri."


"Okeee, mana aja bisaa." Jawab Naina bersemangat.


"Ehh, lupaa. Arsen tadi beliin baksooo, gue taro di meja."


"Bakso apa?" Tanya Haikal.


"Bakso bakar, tapi belum dibakar."


"Buat di bakar ntar malem?" Asya dan Arsen mengangguk.


"Okee, kalau gitu.. mari cari kayuuu!"


Shaka, Alvin, dan Racksa pun pergi.


"Saa, hati hati kesesatt!" Teriak Asya.


"Kalau gue kesesat, kan ada Mas Alvin."


"Geli banget begoooooo!"


Mereka terkekeh melihat mereka berdua.


"Ehhh, kita mandi gakk? Mandi dimana?" Tanya Ara.


"Kagak mungkin lahhh gak mandiii, kaann?" Ujar Naina.


"Yaa jelas mandii kaliann. Yang cewek mandi di kamar mandi ajaa. Ntar cowok tinggal nyemplung kesanaa." Azril menunjuk air terjun.


Kaum hawa berohria.


"Arsen mana? Ngilang anjriiit." Keluh Dino.


Mereka melihat kearah tenda Arsen. Dan ternyata, Arsen dan Alex enak tidurr disana.


"Kamprett emangg."


Asya mendekat untuk mengganggu.


"Mari kita gangguuu."


Asya menoel-noel pipi Arsen. Arsen sedikit terganggu, tapi ia tidak bangun.


Asya memencet hidung Arsen selama sepuluh detik. Arsen juga tidak terbangun.


Asya pantang menyerah!


Ia ingin menyubit pipi Arsen, tapi tangannya tertahan dengan tangan Arsen.


Arsen mendorong tangan Asya. Sampai pada posisi Asya tergeletak dan Arsen di atasnya.


"A-Arsen."


Arsen menahan tawa melihat ekspresi Asya. Ia gantian memencet hidung Asya lalu pergi dari sana.


Asya mengedipkan mata layaknya orang dongo sambil melihat kepergian Arsen.


"Ekhm.. Jangan lupa nafas, Syaaa." Ujar Alex yang membelakangi Asya.


"Aiih, berisik luu!" Asya menendang Alex lalu pergi.


"Cieeee yang saltinggg!"


◕◕◕


17.38, rumah Aska.


"Ada berita penting apaa sampe datang ke rumah?"


"Gini boss.."


Aska menatap bodyguardnya menunggu jawaban.


"Kenapa?"


"Buronan kita yang di Jepang, ada di Indonesia." Aska menghela nafas panjang.


"Maaf boss, kami kurang siaga."


"Gapapa. Dari kapan dia di Indonesia??"


"Udah sebulan lebih, boss."


"Terus, apalagi yang mau kamu bilang?"


"Buronan kita... ketemu Nona Asya di supermarket tadi pagi."


"HAHHH?!"

__ADS_1


__ADS_2