
Lama menunggu sendiri di parkiran, Asya jenuh. Pikirannya masih berantakan, begitu pula dengan moodnya.
Asya kesal sekarang karena sudah menunggu terlalu lama, ia menoleh ke kanan dan kiri. Langsung terlihat Arsen sedang berlari dan melambaikan tangan.
Asya membalas hanya dengan mengangkat tangan, dengan senyum yang tipis. "Maaf ya, sayang, tadi aku dipanggil dosen dulu karena ketiduran di kelas."
Asya mengangguk, "Ayok masuk." Keduanya masuk bersamaan ke dalam mobil. "Kamu marah sama aku? Maaff bangett aku lamaa. Kamu nunggu berapa lama di sana?" tanya Arsen berturut-turut.
"Gak lama-lama banget, tapi lama."
"Terus sekarang, cantiknya aku kenapa gak kayak biasanya? Lagi bad mood?" Asya menatap lekat mata Arsen. "Nggak kok, aku lagi capek aja."
"Yaudah deh kalau gitu, let's go back home!" Arsen mulai mengemudikan mobilnya dengan santai. Lagi-lagi hanya ada keheningan di dalam mobil.
Asya sibuk dengan kdrama yang ia tonton di ponsel, dan Arsen sendiri fokus mengemudi. Tiba-tiba saja mobil berhenti di pinggir jalan, Arsen menarik pelan wajah Asya agar menatap mukanya.
"Ada masalah apa? Cerita."
"Nggak ada apa-apa."
"Sayang, aku kenal kamu bukan sehari dua hari. Kita udah mau nikah lhoh, kenapa malah main sembunyiiin masalah gini? Ayo dong sama-sama terbuka," kata Arsen sedikit merengek.
Asya melepas tangan Arsen dari dagunya. Ia meletakkan ponsel lalu duduk miring menghadap Arsen.
"Tadi ada cewek gak jelas samperin aku, dia bilang, kamu selingkuh. Kamu pergi sama cewek seksi ke hotel," Arsen menghela nafas kemudian mengelus rambut Asya.
"Kamu tau kan aku sama kamu terus tiap hari? Bahkan tiap malem juga aku sama kamu terus."
"Iyaa. Aku tauu, aku pun mikirnya gitu. Tapi dia tetep kekeh dan bilang kalau kamu bisa aja selingkuh sama client. Dia juga bilang, kamu sama aku cuma karena pengen harta orang tua aku."
Arsen sedikit emosi! Karena takut lost control, ia memilih keluar mobil terlebih dahulu, berjongkok di samping mobil untuk menenangkan diri.
Asya sendiri di dalam mobil sedang menangis, membayangkan jika itu benar terjadi dan dirinya harus batal nikah. Entah mengapa ia begitu mudah terprovokasi masalah ini.
Beberapa menit berlalu, Arsen berhasil menahan emosinya dan kembali ke dalam. "Maaf, bukan bermaksud cari alasan atau apa tadi. Aku—"
"Iya, aku tau. Lagi tahan emosi, right?" Arsen mengangguk. Kini Arsen menarik tangan Asya dan menggenggamnya erat.
"Sayang, om Mike banyak duit, almarhumah mama juga kasih banyak warisan, belum lagi papa yang kadang suka transfer gak jelas kalau gabut. Aku punya banyak duit, walaupun gak sebanyak daddy kamu, tapi aku punya banyakk, yang."
"Ngapain aku deketin kamu karena mau morotin kamu doang? Aku kasih tau ini bukan karena sombong, tapi kita bicara tentang realitanya. Kita udah bareng dari SMA kelas satu, kamu juga tau sendiri aku orangnya gak sabaran. Kalau aku memang berniat morotin kamu, aku gak sesabar ini, sayang."
"Aku suka kamu, aku cinta kamu, dan aku sayang kamu tanpa alasan. Aku gak tau harus beralasan apa karena aku benar-benar cinta sama kamu, benar-benar sayang sama kamu tanpa pamrih tanpa imbalan. Percaya sama aku ya? Rumor itu hoax."
"Dan tadi apa? Selingkuh? Hahaha, selingkuh apaan? Aku gak pernah selingkuh. Semisal ada kerjaan di luar kota, aku selalu sama om Mike, nempel ke om Mike kayak kucing keilangan induk karena takut ilang. Kalau kamu gak percaya tanya om Mike."
"Aku selalu setia sama kamu, sayang. Gak ada yang gantiin kamu dihati aku. Trust me, ya?"
Asya menangis lagi, "Aku tetapp kepikirannn, Senn. Di dalam bayangan aku, kamu beneran selingkuhh!"
Arsen mengelus punggung tangan Asya. "Aku gak tau harus yakinin kamu gimana lagi, aku bingung. Aku tau kamu percaya, tapi kamu juga gak percaya."
"Dia bilang, dia juga punya buktinya. Tapi tadi aku potong omongannya karena gak mau dengar lagi apa yang dia bilang."
"Aku pusing, Sen. Pusing bangett. Kita pulang aja ya? Aku udah capee debat hari ini," pinta Asya memelas. Arsen menghapus air mata Asya dengan baju yang ia kenakan lalu merapikan tampilan Asya.
"It's okay, baby. Satu hal yang perlu kamu tau yaa, aku rela di tembak mati kalau aku ketahuan selingkuh sama siapapun itu."
...◕◕◕ ヾ(❀╹︵╹)ノ゙ ◕◕◕...
Sore hari tiba.
Sudah berjam-jam terlewati setelah perdebatan di mobil tadi. Asya sekarang masih tidur di kamar dan Arsen juga tidur di sofa ruang keluarga.
Kedua orang tua Asya kemungkinan besar mengetahui masalah Asya dan Arsen, tapi memilih untuk tidak ikut campur agar masalah tidak semakin rumit.
Sedang menikmati tidur, Asya terbangun karena alarm ponselnya berbunyi. Asya berjalan menuju kamar mandi untuk mandi. Setelah berganti pakaian ia kembali ke tempat tidurnya dan menonton drakor dari televisi.
Tok tok tok!
"Asyaa!"
"Syaa! Gue Azril!"
"Apa anjirr, ribut banget lu!" dumel Asya kesal.
"Ck. Bangun sekarang, lu belum makan siang dari tadi! Ini daddy yang suruh, kalau lu gak keluar dalam waktu sepuluh menit, uang jajan lu dipotong sepuluh juta!"
"ANJIRRR PAAANNN LU?! NGASAL YAA?!"
"Ndasmu. Udah buruann! Sempat beneran dipotong gua ga mau nambahin," kata Azril lalu pergi. Asya mendengus kesal kemudian mematikan tontonan dan beranjak ke luar kamar.
Kamarnya di lantai atas, jadi harus melewati beberapa ruangan termasuk ruang keluarga. Ia melihat Arsen sedang tidur di sofa. Asya sebenernya tidak tega, tapi Asya menahan rasa tak teganya itu dan melewati Arsen begitu saja.
"Masih belum sepuluh menit, gak ada potongan kan?"
"Hm."
Rasanya ingin menampol Azril! Alih-alih menampol beneran, Asya malah mengelus dada mencoba sabar. Daddynya yang melihat hanya menggelengkan kepala.
"Bangunin Arsen, Sya!"
"Gak enak. Biar aja Arsen istirahat, mom," jawab Asya sedikit cuek. Mereka diam, memang sudah tau sepertinya.
"Mom sama daddy mau ke Jerman, ada urusan bisnis. Kalian di rumah aja ya, jangan bandel-bandel. Jangan tidur berpasangan, nanti mom geprek kepala kalian kalau sampe keciduk tidur berduaan."
"Nggak, mommy, nggak. Kamar di rumah ini juga banyak, yakali pada tidur sekamar," jawab Azril. "Ya yaudah. Asya makan sekarang," perintah Aska. Tak ingin durhaka, Asya langsung memakan masakan mommynya.
"Lu udah lama gak ke konsul ke psikolog, nanti gue antar yaa?"
"Ngga us—"
"Om, tante?" Mereka menoleh serentak ke belakang. Ternyata ada Arsen yang baru bangun tidur dengan penampilan acak-acakan.
"Kenapa, Arsen? Udah makan belum? Ayo makan dulu sini bareng Asya."
"Nanti aja, om. Arsen ada urusan, ini lebih urgent dari makanan karena menyangkut pernikahan Asya sama Arsen."
Aska dan Zia saling tatap lalu menganggukkan kepala. "Hati-hati kalau begitu," jawab Aska ramah. Arsen tersenyum tipis kemudian mendekati Asya.
Cup!
"Aku pergi dulu buat buktiin kalau aku gak selingkuh," bisik Arsen lalu pergi. Asya sendiri masih diam terpaku karena kecupan dadakan dari Arsen tadi.
__ADS_1
"Kedip-kedip!" ledek Naina. Mereka tertawa melihat ekspresi Asya. "Bentar lagi ya, Sya, gue anterin lu ke psikiater. Eh nanti malam aja kali ya? Menjelang Isya?" tanya Azril meminta usulan.
"Siape yang mau ke psikolog? Gak mau gue gak mau! Gue gak kenapa-kenapa juga," protes Asya. Aska menatap jengah Asya, "daddy kasih dua setengah juta tapi kamu harus ke psikiater."
"Tiga juta?"
"Deal."
"Oke! Let's go, Zril!"
"Lu kalau menyangkut uang laju banget ya anjig?!"
Disisi lain. Arsen melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Arsen terbangun karena mendapat telepon dari seseorang yang tidak dikenal. Penelepon mengatakan suatu hal yang memancing emosi Arsen.
Singkatnya, orang itu bilang jikalau ia salah tujuan. Awalnya ingin menelepon Asya, namun malah menelepon Arsen. Saat itu, Arsen belum mengatakan kalau dirinya adalah tunangan Asya.
Setelah Arsen tanya apa tujuan orang tersebut menelepon Asya, ia menjawab karena ingin memberi bukti konkret kalau Arsen benar-benar selingkuh. Arsen sedikit emosi, dirinya yakin bukti itu adalah foto editan semata.
Ditelepon Arsen mengaku dirinya sepupu Asya, ia bertanya di mana lokasi orang tersebut agar Arsen dapat melihat bukti secara langsung. Dan orang itu menjawab ia sedang berada di mall dekat perusahaannya.
Arsen langsung pergi ke sana tanpa memikirkan resiko apapun. Yang ia inginkan sekarang adalah menonjok muka orang itu sampai babak belur.
Setibanya di mall, ia masuk ke dalam sambil berlari. Dikarenakan orang tersebut belum mengatakan di mana lokasi pastinya, Arsen harus mencarinya sambil mengelilingi mall.
Lelah berlari dan kesal karena tak kunjung bertemu, Arsen kembali menelepon si penelepon. Tapi sangat disayangkan, nomor tersebut tidak dapat dihubungi lagi.
"Huh, sial!"
...◕◕◕ (`・ω・´) ◕◕◕...
Malam hari tiba. Azril menepati perkataannya untuk mengantar Asya ke psikolog. Mereka hanya berdua, Naina tidak ikut karena membantu Zia berkemas.
"Lu lagi ada masalah kan sama Arsen?" tanya Azril sembari mengemudi. "Hng? Nggak tuh."
"Kalau gak ada masalah apa-apa, lu pasti bakalan tidur bareng Arsen di sofa."
"Gue pegel banget makanya tidur di kamar."
"Syaa, Syaaa, gak usah bohong segala dah. Kita ini anak kembar, dari dalam perut pun kita udah barengan, masa lu boongin gue gini si?"
"Gue gak bohong, Azril."
"Ternyata gue sama daddy gak bisa dapat kejelasan langsung dari lu, tapi malah dapat dari orang lain. Padahal kita keluarga ya, kenapa malah gak bisa terbuka satu sama lain."
"Tunggu. Maksud lu?"
"Yaa lu pikir aja sendiri. Lu kira gue, daddy, mommy, gak tau apa yang terjadi sama lu sama Arsen? Kami tau, Sya. Alasan gue bawa lu ke psikolog sekarang karena takut mental lu kena lagi."
Asya menatap luar mobil, "ngapain tanya kalau emang udah tau."
"Gue cuma mau denger kejelasan pastinya dari lu. Tapi nyatanya lu bohong kan? Sebenernya gue gak bakal ikut campur, tapi karena gue tau lu nangis di kamar, gue gak bisa diem aja."
Asya melihat Azril sinis. "Dasar tukang ngintip!"
"Ngintip dikit doang."
"Sama aja ngintip. Sekarang gue tanya, menurut lu Arsen beneran selingkuh atau nggak?"
Asya malah menghela nafas panjang.
"Lu tu terlalu mudah di provokasi, Sya. Harusnya lu gak pernah dibiarin sendiri, takut ntar kalau ada yang kasih permen lu malah terima gitu aja."
"Gue bukan bocah anjirrr!"
"Tapi bocil. Terus ini mau tetep ke psikolog atau ketemu om Mike?" tanya Azril bimbang. "Temu om Mike, kita ke AM aja karena mungkin om Mike masih di sana."
"Oke."
"Zril, lu di pihak mana? Gue atau Arsen? Pasti gue kan?"
"Gue bohong kalau bilang di pihak lu karena nyatanya gue di pihak Arsen. Trust me, Sya, Arsen itu gak pernah selingkuh semenjak kenal sama lu! Gue yakin ini cobaan dari Allah buat lu sebelum lu nikah sama Arsen."
Asya diam tidak merespon lagi. Pikirannya kembali berdebat, ia merasa perkataan Azril benar, tapi disisi lain merasa itu tidak benar.
Sampai akhirnya tiba di parkiran AM. Asya dan Azril turun bersamaan dan berjalan masuk ke dalam. Mereka langsung menuju ke ruangan Mikko karena tidak ada orang lagi untuk bertanya.
Tok tok tok!
"Assalamu'alaikum, om Mikeee? Apakah om Mike ada di dalaamm?"
Pintu terbuka, "wa'alaikumsalam. Ada apa gerangan kemari malam-malam?" tanya Mikko ramah.
"Sesuatu mengganjal dibenak calon keponakan iparmu ini. Eh bener kan begitu nyebutnya? Anggap aja benar."
Mikko tertawa kecil, "masuk dulu. Maaf, om gak bisa kasih minum karena gak ada karyawan lagi yang mau disuruh."
"Gwenchana, om, gwenchana~~"
"Jadi ada apa? Ada yang ingin kalian tanyakan?" Azril menganggukkan kepala kemudian menyenggol Asya. "Gue kira lu yang bakal tanya," kata Asya kesal.
"Lu yang mo tau masaa gue yang tanyaa?!"
Asya mendengus kesal. "Gini, om, Asya mau tanya tentang Arsen. Selama om sama Arsen ada perjalanan bisnis keluar kota atau kemanapun itu, Arsen selalu sama om?"
"Of course! Kemana pun om dia selalu ikut, walaupun om cuma keluar sebentar dia tetep ikutin om. Kenapa tanya gitu?"
Asya bingung harus jawab bagaimana, sementara Azril sendiri sudah greget.
"Ada yang bilang Arsen selingkuh sama client. Mereka nginep di hotel gitu katanya," ujar Azril.
"Siapa yang bilang? Om gak pernah liat Arsen dekat sama clientt. Arsen dan client hanya sebatas rekan bisnis. Memang ada beberapa client wanita yang genit dengan Arsen, tapi Arsen tidak pernah menanggapinya."
"Nahkan! Apa gue bilang, Sya. Arsen itu udah cinta mati sama luu! Nanggepin cewe lain aja gak pernah apalagi selingkuh coba? Lu sih gak percayaan."
"Berisik bangsatt. Gue yakin Arsen gak bakal selingkuh, tapi dia cowok normal, Zril! Gak mungkin kan dia gak punya nafsu buat havingg seggss?!"
"Gue bingung harus jawab lu gimana lagi, Sya. Kok bisa Arsen sabar sama lu selama ini. Gue aja cape ngadepin lu."
"Ma—"
"Udah-udahh jangan berantem, om bingung mau misahinnya gimana. Om tegasin aja sama Asya, om gak tau Arsen di luar tapi yang jelas kalau Arsen sama om, Arsen gak pernah lirik-lirik wanita semenjak dia punya kamu. Mau orang penting sekalipun Arsen gak bakal lihat kalau gak disuruh lihat. Jadi menurut om ya gak mungkin kalau Arsen selingkuh apalagi hs."
"Noh dengerin! Bukan belain Arsen, tapi kita sedang membicarakan fakta!" Asya semakin kesal melihat Azril yang super duper nyolot. Rasa ingin menampol bibir julidnya [2].
__ADS_1
"Yaudah kalau gitu, om. Asya sama Azril pamit dulu, mau pulang, mau tenangin diri."
"Iya, Asya. Pikirkan baik-baik yaa, om dengar-dengar bentar lagi kalian menikah. Mungkin ini ujian buat kalian berdua."
"Nah bet—"
"Diem lu egee! Ngomong mulu dari tadi, gue tabok ni ye?!!!" Azril tertawa cengengesan. Mereka berdua pun lanjut berpamitan dan pergi kembali ke mobil.
Tidak jauh dari AM, Asya melihat Arsen dipapah dua wanita masuk ke dalam bar. Asya meminta Azril berhenti dan berlari mengikuti ke dalam. Arsen duduk di sofa bar dengan dua wanita berada di sampingnya.
"What the f—"
"Syaa?"
"Dua wanita sekaligus, Zril. Dua."
"Lu liat Arsen diem sambil pegangin kepala. Gue yakin dia gak sadar, Sya," kata Azril. Asya tidak ingin merespon Azril, ia memotret lalu pergi.
"Gak mau samperin?"
"Gue gak mood bicara, Zril. Jadi mending lu diem daripada gue banting di aspal sekarang!" Azril berhenti di tempat dan membiarkan Asya masuk mobil sendiri.
Sebelum menyusul, Azril menelepon Haikal dan Dino untuk memantau Arsen di bar. "Gak deh nggak, gak mungkin Arsen selingkuh. Arsen pasti dicekokin sesuatu!"
Di dalam mobil, Asya masih terdiam. Memejamkan mata, menahan amarah. Gak, gak, gak, Asya gak kuat! Ia kembali keluar mobil.
Berlari masuk ke dalam bar, mendekati Arsen dan menamparnya sekuat tenaga. Tamparannya benar-benar kuat. Mendengar hal itu, seisi bar langsung terfokus pada mereka berdua.
Arsen yang ditampar terjatuh, ia menggelengkan kepala di bawah dan memegangi kepalanya. Kemudian mendongak ketika sadar. "Aghh pusing!"
"Eh, sayangg? Loh? Aku dimanaa?"
"GAK USAH PURA-PURA GAK TAU!!! Emang bener yaa ternyata, COWOK EMANG GAK BAKAL PUAS SAMA SATU CEWEK DAN ITU TERMASUK LU, SEN!! GUE BENCI SAMA LU, GUE BENCI BANGET SAMA LUUU!!"
Azril menenangkan Asya dan memeluknya. "Lu belom denger penjelasan Arsen, Sya. Tenang duluuu."
"Gue gak bisa tenang, Zril! Gue gak butuh penjelasan apapun itu dari mulut pembohong kayak dia!" kata Asya menangis dipelukan Azril. Arsen sendiri masih diam, mencerna yang terjadi sambil menatap heran Azril.
"Syaa... Aku gak tau apa-apaa. Aku gak tau kenapa aku bisa ada di siniii..." Pelukan twins terlepas. Asya kembali menatap Arsen, "gue muak sama lu, Sen. Kita berhenti di sini aja ya?"
"Gak bisa gitu, Sya. Aku sayang banget sama kamuu, kita gak bisa dong berhenti gitu ajaa. Kamu salah paham, sayang, aku sendiri gak tau kenapa aku bisa ada di bar inii."
"Gak usah beralasan, gue makin muak denger suara lu. Btw makasih semuanya, termasuk luka yang sedalam ini." Asya langsung pergi setelah mengatakan kalimat itu.
Arsen menyusul lalu mendekap Asya dari belakang. "Aku gak mau, Asya, gak mauu.. aku gak mau pisah dari kamuuu. Kamu salah paham, sayang... dengerin aku dulu yaa?" rengek Arsen sambil menangis.
Asya diam ikut menangis kemudian melepas paksa dekapan Arsen. "Tadi siang lu bilang kan, lu rela di tembak mati kalau ketahuan selingkuh. Buruan lakuinn, gue udah gak mau lagi liat muka lu bahkan sedetik pun."
Arsen menggenggam tangan Asya ketika Asya hendak pergi. "Syaa, please... don't leave me..."
Asya menarik nafas dan membuangnya kasar. Ia berbalik menatap Arsen, "mending lu yang mati atau gue yang mati sekarang?"
...◕◕◕ ╯︵╰ ◕◕◕...
Pukul 23.53, kediaman Aska. Asya sudah menghabiskan banyak tissue, dari tadi sampai sekarang Asya belum membuka pintu kamar dan masih asik menangis. Ntahlah segede apa mata sembabnya saat ini.
"Syaa, malam ini juga Arsen mutusin buat di tembak mati dan sekarang dia masih nunggu penembaknya. Lu yakin gak mau berhentiin diaa?" tanya Azril berbicara di depan pintu.
"Gak perduli."
"Arsen ditemenin sama beberapa temen kita di sana. Mereka pada gak rela Arsen mati, lu sendiri gimana? Lu beneran mau dia mati?"
"Hm."
"Inget, Sya, penyesalan itu diakhir. Gue gak mau ya lu nyusul dia nantinyaa."
"Gue gak bodoh."
"Huhh! Sayang banget mommy-daddy udah terbang ke Jerman tadi, siapa yang bisa bujuk lu selain mereka? Bang Zafran bisa gak?"
"Berisik!"
Azril pasrah, "Arsen rela mati karena disuruh ayangnya. So sweet banget kan ya, gue yakin lu gak bakal nemu duplikatnya Arsen di manapun itu."
"Gak ada respon? Okelah, gue pergi. Gue mau ketemu orang sebaik Arsen, untuk yang terakhir kalinya."
Di gudang tempat Arsen ingin di tembak mati. Sesuai perkataan Azril, temannya berada di sana.
"Lu gak selingkuh kan, Arsenn?! Jujur sama guaaaa sekarang bangsattt! LU GAK SELINGKUH KANN?!"
"HARUS BERAPA RATUS KALI GUE BILANG, KAL, GUE GAK SELINGKUH! GUE GAK TAU KENAPA BISA ADA DI SANAA TADII!!"
"KALAU EMANG LU GAK SELINGKUH KENAPA SEKARANG LU DI GUDANG INI DAN BENERAN NIAT DI TEMBAK MATI?!!"
"Karena Asya yang minta."
"Anjayyy, rela mati demi ayang," goda Dino. "Bukan waktunya bercanda njing!" umpat Haikal. Dino malah tertawa cengengesan.
"Asya yang minta ini, daripada dia yang mati mending gue aja kan? Memang dari dulu sebelum ketemu Asya juga gue udah ada niatan mau bunuh diri, tinggal lanjutin aja sekarang."
"Sen... Jangan begoo, pliss. Daripada lu pasrah di tembak mati, mending lu cari bukti kalau lu gak bersalah! Jangan tololl-tololl banget dehh ahh!!" kata Ara tak tahan.
"Percuma. Percuma kalau gue punya bukti tapi Asya gak mau ketemu gue. Emang lebih baik gue mati aja sekarang." Mereka tidak bisa berkata-kata lagi. Arsen benar-benar teguh pendirian ingin di tembak mati malam ini.
"Nah itu datang tukang tembaknya," ujar Arsen dengan senyuman. Arsen memang tersenyum, tapi matanya jelas menunjukkan kalau ia teramat sangat sedih.
Arsen berpindah tempat untuk dipasung ke dinding. "Lu pada kalau punya dendam sama gue bisa sekalian aja tembak gue, biar matinya lebih cepet," kata Arsen masih dengan senyuman.
"Ngomong apa sih bangsatt?! Udah deh ah, gak usahh!! Lu gak takut dosaaa?!"
Arsen tidak menjawab, ia malah mengode suruhannya untuk segera ditembak. Ara menutup kedua mata, begitupun dengan Haikal juga Dino. Mereka takut melihat adegan ini.
"Saya itung mundur yaa.. satu..."
"Dua..."
"Jangaaannnn!!"
DORR!
DORR!
"ASYAAAA?!!"
__ADS_1