
Disepanjang perjalanan, Arsen bersenandung senang. Itu karena dirinya lolos persidangan tadi. Sekarang, Arsen bersama Asya pergi ntah kemana. Daritadi cuma keliling-keliling gak jelas.
"Bahagia banget agaknya," ledek Asya.
"Oh ya jelas dongg! Emang kamu gak bahagia gitu liat aku lolos sidang?"
"Emmm... b aja si." Arsen menghentikan mobil dan menatap Asya kesal. "Responnya di luar ekspetasi aku. Masa kamu b aja sih, yaaang??"
Asya tertawa kecil melihat Arsen kesal. "Pertanyaan kamu itu aneh, ya masa aku b aja daritadi? Ya jelas aku ikut bahagia donggg."
"Tapi ekspresi kamu tu beneran b ajaaa," keluh Arsen sambil mempout bibirnya. Asya langsung membuka seat belt, mendekati Arsen dan memegang pipinya.
"Bukalah matamu selebar dunia ini~"
Arsen malah tertawa lalu merentangkan tangannya. Asya langsung memeluk Arsen, Arsen membalas pelukannya lebih erat.
"Sayang banget sama kamuuu. Ga tau nanti aku bakal gimana kalau mereka bener-bener ga kasih restu," ujar Arsen masih sambil berpelukan.
"Aku juga mikir gitu tadi. Mungkin aku ga bakal mau jatuh cinta lagi..." Arsen melepas pelukan kemudian merapikan rambut Asya.
"Sekarang beneran ga usah jatuh cinta lagi, ga bole jatuh cinta lagi. Maksud aku, kamu ga bole jatuh cinta ke orang lain kecuali sama aku."
Asya malah tertawa. "Udah ah, ayok jalan lagi. Ngapain coba di pinggir jalan gini?" tanya Asya setelah melihat sekeliling.
"Mo meluk kamu daritadi tapi takut dimakan."
"Hahaha.. ngaco bangett! Ga bakal dimakan kamu mah, paling dijadiin sate."
Arsen kembali melajukan mobilnya sambil tertawa kecil. "Btw tadi kenapa kamu pake tutup telinga aku segala?" Asya terdiam, bingung hendak jawab apa.
"Pas aku tutup telinga kamu, kamu tetep denger dari awal semuanya?"
Arsen menganggukkan kepalanya. "Pendengaran ku tu tajam, lebih tajam dari omongan tetangga."
"Heleehh!"
Arsen tersenyum, satu tangannya ia lepas dari kemudi untuk menggenggam tangan Asya. "Aku tau kok tujuan kamu tutup telinga aku kenapa, tapi harusnya kamu gak lakuin itu."
"Why?"
"Aku udah nyiapin mental untuk denger semua pertanyaan, termasuk pertanyaan yang tadi."
"Jawabannya udah dipikir dari rumah yaa?" tanya Asya sedikit meledek.
"Dirumah belum kepikiran, dijalan baru mikir. Tapi pas beneran itu yang ditanya aku ngeblank bangetttt, bingung jawab apa. Alhamdulillah-nya bisa jawab walaupun beda sama yang aku pikirin di awal mo jawab."
"Bedanya apa?? Di awal kamu mo jawab apa?"
"Eum... kepo bangett kamu yaaa." Asya menatap kesal Arsen. "Udah, kamu gak perlu tau. Biar itu jadi urusan aku ajaa."
"Okee okeee, terserah kamu. Terus ini kita mo kemanaa coba? Aku cape liat kamu nyetir."
"Mo pulang aja atau mo ke taman?"
"Aku pengen ke taman! Pasti di taman ada es krim," jawab Asya antusias.
"Es krim mulu yang dicari, aku gak pernah dicariin."
"Ngapain coba nyariin kamu? Kamu kan ga penting." Arsen langsung menatap mata Asya.
"Ayaaanggg..."
Asya terkekeh melihatnya. "Kamu disamping aku, Arsenn. Yakali aku nyariin kamu. Ntar kalau kamunya ga nampak baru aku cariin."
"Iya deh iyaa. Ni udah sampe taman, ayo turun." Mereka berdua turun bersamaan lalu memasuki taman sambil bergandengan.
Taman cukup ramai malam ini. Banyak yang bergandengan dengan pacarnya, ada juga yang sedang bermain bersama anak-anak mereka.
"Sebenernya kita ke taman mo ngapain?" tanya Arsen heran.
"Menghirup udara segarrr."
"Tapi angin malam gak bagus, sayang. Bentar aja ya kita disini??" Asya menganggukkan kepalanya lalu menarik tangan Arsen untuk duduk di salah satu kursi taman.
"Tau gak kalau di taman aku ingetnya apa?"
Asya menatap Arsen, "pasti mantan."
"Ngaco bangettt. Di taman tu aku ingetnya kita couple baju rs."
"Oh itu.. hahaha! Orang-orang mah couple baju kondangan gitu atau apaa, lah kita couple baju rs."
"Kita limited couple, sayang. Gak ada tu couple yang sekeren kita," jawab Arsen bangga. Asya tertawa lagi mendengarnya.
Arsen yang lelah duduk auto merebahkan tubuh, ia menjadikan paha Asya sebagai bantal. "Aku ngerasa ada yang kelupaan deh..." Arsen menatap heran Asya. "Kelupaan apa?"
"Nah itu dia aku ga tau, namanya lupa. Tapi bentar aku inget-inget dulu," Asya memejamkan matanya. Arsen sendiri diam sambil mengelus pipi mulus Asya.
"Oiyaaa, es kriimmm!"
"Es krim? Nggak. Ga bole. Nanti kamu sakit minum es krim malam-malam," kata Arsen tegas tidak ingin di bantah.
"Ishh, pengen es krim."
"Tapii.. yaudah deh yaudahhh."
Arsen menatap mata Asya lalu mengelus pipinya lagi. "Aku ga izinin karena ga mau kamu sakit. Kita beli besok aja, okeee?" Asya mengangguk dengan senyuman.
"Btw, bulannya cantik yaa."
"Cantikan kamu sih menurutkuu."
Asya salting! Dirinya langsung menutup mata Arsen dengan tangannya. Arsen pun menggeserkan tangan Asya.
"Kamu cantik bangettlaa, sayang. Matanya cantik, idungnya mancung ke dalam, pipinya mbull, bibirnya sexyy minta di cium. Kamu tu ciptaan Allah yang mendekati kata sempurna."
"Yekk! Idung aku mancung beneran giniii. Terus tadi apa? Bibirnya minta di cium? Otak kamu aja tu pengennya nyosor mulu!"
Arsen nyengir.
"Ga sabarr aku, pengen nyicip."
"HEH!"
...◕◕◕ (^♡^) ◕◕◕...
Pagi ini cuaca gak sebagus kemarin. Sesekali suara gemuruh terdengar.
Asya yang baru bangun langsung keluar dari kamar mencari perlindungan. Ia menemukan Asya dan langsung menempel dengan Azril.
"Eh eh eh.. apanii?" tanya Azril heran.
"Gluduk," jawab Asya santai dengan mata yang masih terpejam.
"Terus kenapa?? Gak salah orang kan ini lu? Gue Azril, Arsen yang itu." Asya membuka mata dan menatap sinis Azril.
"Parah banget si lu! Masa gue ngelendot aja ga bolee?!" tanya Asya sensi.
"Ck, nggak-nggak. Gak gituu! Sini-sini ngelendot lagi sini, gapapaa sinii."
"Gak, males!!"
Asya berpindah, ia tidur di pangkuan Arsen.
"Sensi amat dah, heran gue liatnya." Arsen tertawa kecil melihat kedua anak kembar itu bertengkar.
"Ceenn.."
"Hmm? Kenapa, sayang?"
"Gapapaaa."
Arsen melihat Asya masih terpejam. "Kenapa? Ada apa? Mau tidur dikamar aja nggak, biar aku gendong."
"Nggaa, mau disini ajaa. Kamu jangan pulang yya!" Arsen berdehem sambil tersenyum.
"Ternyataa emang lebih bagusnya lu berdua disahkan aja. Kalau nggak buat orang gak tenang," ujar Azril.
"Gak tenang kenapa?"
"Gak, gakpapa. Gue mau ke dapur dulu buat susu," Azril langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Jill, sekaliaaaann!!"
Azril berdehem.
Disaat sedang berjalan menuju dapur, Azril mendengar suara bell rumahnya. Azril pun langsung berbelok, ingin membukakan pintu.
"Kyaaa dinginn!" Azril hampir terjatuh ketika Naina langsung memeluknya. Iya! Naina datang sendirian di tengah turunnya hujan.
"Kamu kenapa datang tiba-tiba?? Kenapa gak minta jemput?" tanya Azril sembari mengelus punggungnya.
"Tadi tu mau ke toko bukuu yang dideket sinii, tapi keujanan. Nunggu reda ga reda-reda, yaudah deh aku trobos."
"Naik apa?"
__ADS_1
"Jalan."
"Astaghfirullahalazim, sayaaangg!!" Azril auto menggendong Naina dan membawanya masuk.
Di ruang keluarga rumah Aska, Asya dan Arsen sedang keheranan. Mereka tidak bertanya tapi langsung menguntit Azril ke kamarnya.
"Jil, lu nyolong anak orang dimana?" tanya Asya.
"Ga nyolong. Anak orangnya datang ndirii," jawab Azril keluar kamar dan masuk ke kamar Asya.
Asya dan Arsen menyusul, "lu ngapain?"
"Nyari baju lu yang cocok buat Nai," Azril masih terus mencari. Baju-baju Asya jadi berserak di lantai karena ulahnya.
"Lu beresin ni baju ya ntar, kalau nggak gue giles kepala lu pake gleder!!"
"Ck, ntarr kalau inget. Cariin dulu bajunya, kasian cewek gua kedinginan."
Asya turun tangan. Ia mengambil satu set baju hangat baru lalu memberikannya pada Azril. "Oke thank you, nunaa!" Azril kembali ke kamarnya. Arsen dan Asya juga mengekor ke kamar Azril.
"Ganti baju pake ini."
"Nggaaa ahh."
"Nai, nurut. Ganti sendiri atau ntar gue gantiin?!" Takut terjadi beneran, Naina pun mengambil bajunya kemudian masuk ke kamar mandi sendirian.
"Ngeri juga ya dia," ledek Arsen.
"Azril tu tipe makhluk hidup yang kek cuek-cuek perduli gitu sii, jadi ya gitu," jawab Asya berbisik.
"Aku gak ngerti maksud kamu gimana." Asya tertawa kecil. Dirinya malas menjelaskan dan memilih untuk tidur di kasurnya Azril.
"Lu berdua ngapain coba disini? Keluar!"
"Ogah. Ntar kalau lu berduaan sama Nai bisa bahayaa," kata Asya menolak.
"Bahaya apanya?! Gak bakal bahayaaa."
"Bahaya! Seratus persen bahaya. Lu tu belum berpengalaman dalam menjaga hawa nafsu, jadi masih perlu dipantau," ujar Arsen santai.
"Jadi kamu berpengalaman?" tanya Asya heran.
"Nggak juga, hehe."
"Ampun dah!"
Ceklekk..
Pintu kamar mandi terbuka. Naina keluar dengan rambutnya yang basah.
"Dingiiinnnn," keluh Naina menggigil.
"Gimana nggak dingin kamunya hujan-hujanan." Azril mendorong Asya dan Arsen lalu meletakkan Naina di kasur.
"Sumpah, Azril minta disembelih!"
"Dinginn bangettt," keluh Naina lagi. Asya yang melihat itu menuju ke walk in closet dan mengambil dua selimut avengers milik Azril.
"Pakeinn, Jill!"
Azril menerimanya.
"Lu ngapain ujan-ujanan, Naii?" tanya Arsen.
"Ini tu tadi gue abis dari toko buk—"
"Gak usah membual, mata kamu gak bisa boong. Ada masalah apa, hm?" tanya Azril sambil merapikan rambut Naina.
"Ng-nggakk."
"Gue saranin buat jujur sama Azril sekarang, daripada nanti dia cari sendiri masalahnya, bisa lebih runyam. Gue sama Arsen mau keluar dulu deh, biar lu bisa puas cerita sama Azril."
Naina tersenyum tipis.
Asya menarik tangan Arsen, mengajaknya pergi keluar kamar. "Jill, inget belum mahram ya! Jangan macem-macem," kata Arsen sebelum keluar.
"Iyaa iyaa."
Asya dan Arsen keluar dari sana. Kini tersisa mereka berdua. "Masih gak mau cerita kenapa? Mau aku yang cari tau sendiri?" Naina menggeleng.
Dirinya diam sejenak kemudian merentangkan tangannya. Azril yang peka pun duduk disamping Naina dan memeluknya erat.
"Aku gak maksa kamu buat cerita, tapi aku berharap kamu mau berbagi masalah kamu sama aku."
Naina tidak menjawab, tangannya malah semakin memeluk erat Azril. Perlahan-lahan air matanya pun menetes.
"Azril..."
"Eum? Kenapa, sayang?"
"Aku diusir dari rumah abang.. gara-gara kesalahpahaman."
"Kesalahpahaman apa? Kenapa gak kamu jelasin semuanya biar gak diusir abang?" Naina melepaskan pelukannya lalu menatap Azril. Azril sendiri langsung menghapus air mata Naina.
"Aku dituduh ngabisin uang di kartu kredit abang... padahal kakak ipar aku yang ngabisin bareng selingkuhannya..."
"Aku udah jelasin ke abang, tapi abang gak percaya. Kakak ipar juga ikut nuduh aku teruss. Pas aku bilang kakak ipar selingkuh, abang makin marah dan malah ngusir aku tadi pagi.."
Azril menghela nafas panjang kemudian memeluk Naina lagi. "Kenapa gak telepon aku setelah diusir? Daripada kamu jalan, kan lebih bagus aku jemput."
"Hp nya.... dibanting abang."
Azril menghela nafas lagi.
Sebenarnya ia sedang mengontrol amarahnya.
"Abang... abang gak pernah bentak aku kek tadi, tapi setelah ada kakak ipar dia jadi jahat banget. Kadang suka nampar aku, kalau pulang suka mabok dan mukulin aku... Abang gak seperti bang Nathan yang aku kenall," keluh Naina.
Azril melepas pelukannya lagi. "Kamu di pukul sama Nathan? Kapan? Kenapa gak pernah cerita kalau kamu dikasarin?" Naina diam.
"Ada bekas pukulannya gak? Aku mau lihatt." Naina menunjukkan semua bekas-bekas pukulannya yang berada di tangan, leher, kaki, pinggang dan perut.
"Kenapa gak bilang, Naiii, kenapaaaa?! Kenapa gak pernah cerita sama akuuu?!!"
Naina menundukkan kepalanya. "Maaff, aku terlalu takut buat cerita ke orang lain."
"Huuh~ udah, jangan tundukkan kepala kamu terus. Tentang masalah ini biar aku yang urus nanti," ujar Azril setelah lama terdiam.
"Nggak usahh, biar jadi urusan aku ajaa.."
"Nggak. Gak bisa. Abang kamu udah main tangan, jadi sekarang itu urusan pria dengan pria."
Disisi lain, Asya dan Arsen sedang menonton upin dan ipin di televisi. Memang dua orang dewasa ini masih menolak dewasa.
"Mikirin apa??" tanya Arsen menatap bingung Asya.
"Yang jelas bukan mikirin kamu."
"Jahat banget, astaghfirullah!!"
Asya cengengesan.
"Aku tu penasaran, Naina kenapaaa?"
"Gak usah mikirin masalah Nai, cukup gue aja yang mikirinn," Asya menoleh ke sumber suara. Azril sedang menuruni tangga bersama dengan Naina di gendongannya.
"Azril, turuninnn.. akuu maluu ish!" bisik Naina yang masih didengar Asya-Arsen.
"Sssttt diem. Ngapain malu sama calon ipar sendiri," jawab Azril santai sembari menurunkan Naina di dapur.
"Ya tapikan disitu gak cuma Asya doang tadi!!"
"Cuma Arsen, Naii. Santai aja kenapa tohh?"
"Kamu iya bisa santaii, akunya ga bisa, Zril!!"
"Yowes lah wes. Skip aja. Kamu mau makan apaa?" Naina menggeleng, "gak mau apa-apa."
"Ck. Kamu habis ujan-ujanan, Nainaa. Aku gak mau ya kamu sakitt," kata Azril membujuk.
"Aku lho kuatt, ga bakal sakittt."
"Tak jejeli pisang nanti ye. Susah banget disuruh makan." Naina cengengesan, "aku gak laper. Suer dehh."
"Yaudah kalau gitu makan roti dulu. Pake selai strawberry atau cokelat?" Naina diam sejenak lalu menggeleng. "Gak mau roti."
Azril menghela nafas panjang. Tangannya menarik pelan tangan Naina untuk mendekati wastafel lalu mendudukkan Naina di sana.
"Apaansi? Astaghfirullah!"
Azril diam. Kedua tangannya berada di samping kanan dan kiri paha Naina. "Azril kenapaaa?"
Azril menghela nafas. "Ngeselin kamu. Kenapa si nolak terus? Udah aku bilang, aku gak mau kamu sakit. Kamu mau disuapi mulut ke mulut dulu biar mau makan?"
"Ngaco bangett! Ya nggaklah."
__ADS_1
"Terus? Kenapa gak mau makaan?"
"Ehm.. hehe.. aku ngerasa ga pantes disini." Azril bertanya-tanya dengan satu alis yang terangkat. "Kenapa?"
"Kita beda kasta."
"Allahu Akbar. Kasta kasta apaan coba?"
Naina tidak merespon.
"Huft.. Naina, dengerin aku. Mau kamu dari kasta mana pun, tinggi atau rendah, aku gak perduli sama sekali. Selagi itu kamu, ya aku maunya kamuu. Cinta gak mandang kasta, Nai."
"Siapa juga yang bilang kamu ga pantes disini? Ga ada kan? Bagi aku, bagi keluargaku, kasta manapun ga masalah selagi punya attitude. Jadi udah yaa, jangan bilang kek gitu lagi."
Naina masih belum merespon perkataan Azril. Dirinya sedang menatap mata Azril. Tidak terlihat kebohongan dimatanya.
"Naiii, jangan bilang gitu lagiiiii."
"Iyyaa, InsyaAllah."
"Pokoknya kalau kamu bilang gitu lagi langsung aku ajak ke KUA!"
"Loh lohh, kok durhaka banget duluanin gue?!!" tanya Asya yang baru datang bersama Arsen.
"Berisik lu. Sono mejeng aja berdua, gak usah ganggu guee," jawab Azril sambil beralih ke roti dan selai cokelat.
"Kampret lu!"
"Eh Zril, gue kesini ngikutin Asya ya. Dia penasaraann banget dari tadi, jadi mending lu cerita. Naina kenapa?"
"Nai dikasarin abangnya dan diusir pagi ini."
"SERIUS ANJIRR?! WAHH GAK BISA DIBIARIN!"
"Heh! Heh! Lu bedua mo kemanaa?" tanya Azril bingung. "Mo ngehajar balik lah. Kenapa?!"
"Udah gak usah. Biar jadi urusan gue aja nanti. Gue pacarnya Nai," kata Azril santai.
"Lu sendiri?"
Azril berdehem.
"Yakin?"
"Iyaa! Nanti kalau gak kuat baru minta bantuan."
"Okee, ditunggu permintaannya."
"Btwww, lu sama Nai jadiannya kapan yaa?"
Azril berfikir.
"Kapan-kapan dah."
"Goblokk! Astaghfirullahalazim ga boleh ngomong kasar, tapi lu goblok!"
...◕◕◕ ˙˚ʚ(´◡`)ɞ˚˙ ◕◕◕...
"Sayang, cuacanya udah cerah nih. Aku pulang dulu ya? Mau ke AM juga," pamit Arsen pada Asya.
"Balik lagi kann?" Arsen menganggukkan kepala. Ia mendekat ke Asya, mengecup kening Asya lalu beranjak keluar rumah.
"Pulang lu, Senn?!" tanya Azril berteriak.
"Iyeee. Jagain bini guaaa, kalau nggak gue tebas kepala lu."
"Ck, bacot! Gak usah balik lagi lu yak!"
"Ipar durhaka!"
Arsen menggelengkan kepala mendengar Azril tertawa. Dirinya melanjutkan perjalanan. Pada saat hendak membuka pintu, pintunya terbuka sendiri.
"Lho? Sen? Lu disini?"
Shaka dan yang lainnya datang bersama.
"Iyaa, lu gak jadi balikk?"
"Telattt. Ini lu mau kemana? Asya-Azril ada kan?" tanya Shaka.
"Adaa, masuk ajaa. Gue mau ke rumah, mau ke AM sekalian. Ntar gue balik lagi kok."
"Oh oke dehh. Hati-hati," ujar Alvin. Arsen mengangguk, menepuk pundak Alvin lalu pergi menuju mobilnya. Sedangkan teman Asya tadi masuk ke rumah bersamaan.
"Assalamu'alaikum! Wohoiii, anak ganteng dataaaangg!" teriak Dino dengan santai.
"Akhlaqul minus emang si Dino. Btw, wa'alaikumsalam."
"Shaka, Cia, Haikal, Dino sama Ara gak jadi balik?" tanya Naina.
"Ga jadi karena tadi hujan terus pas udah berhenti ehh malah telat ke bandara," ujar Shaka.
"Lu tumben disini?" tanya Ara bingung.
"Tadi gue yang jemputt Nai. Oiya, kalian gak bawa makanan?" tanya Azril gantian, dirinya berusaha mengganti topik pembicaraan.
"Gak males."
"Kebiasaan! Kalau bertamu tu ya setidaknya bawa buah gituu," cibir Azril. "Halah mentell. Di rumah lu juga banyak buah anjirr!"
"Yaaa bener sii."
"Lu pada gak direstui Allah pulang sekarang. Mending tunda aja, jadinya minggu depan," kata Asya muncul dari dapur membawa beberapa makanan ringan.
"Matamui! Kelamaan coyyy."
"Nggak lama itutuuu. Lagian tanggung, bentar lagi akhir tahun. Pasti kalian pulang lagi kemari. Jadi mending disini aja, minta kuliah daring," sahut Azril santai.
"Gue gak yakin bisa sih."
"Kalau udah begini mah susah, soalnya emang kagak niattt. Bener-bener pengen balik ke New York yee, Ka?" tanya Alvin sarkas.
"Ngga jugaa. Atas dasar apa lu bilang gue kagak niat?"
"Kalau orang niat tu pasti berusaha lah. Gak langsung berasumsi ga bisa. Malah ngeyakinin diri, pasti bisaa pasti bisaa."
"Iyy... yaa jugasi."
"Gue pribadi mah males balik ke London. Tapi kalau Ara ke Jepang yaa gue bakal balikk."
"Udahlahhh, gak usah pulangg kesanaa. Akhir tahun gak mau ngumpul apaa? Gak mau liburan bareng gitu? Mumpung gue masih free ini, belum jadi bini orang."
"Emang kalau lu jadi bini orang kenapaa?" tanya Dino.
"Gak bisa puas liat cogan."
Asya cengengesan.
"Gue laporin Arsen mampusss lu!!"
"ANJIRR! GA ASIK BANGET CEPUUU!" Mereka auto tertawa melihat Asya panik.
"Btw, udah direstuin kan? Kapan nikahnya?" tanya Glacia.
"Feeling gue sih tahun depann. Pasti tahun depan," bukan Asya yang menjawab, melainkan Dino yang menebak-nebak.
"Gue sendiri si gak tau kapan. Udahhh ahh, gak usah bahas nikahh! Agak sereeemm."
"Besok kalau lu nikah, honeymoon, jangan lupa live streaming."
"Goblokk siaa! Tolong donasikan otak dong buat Haikall!!" Mereka tertawa lagi lalu kembali asik berbincang membicarakan banyak hal. Sampai suara bel mengganggu pembicaraan mereka.
"Gue aja yang bukaa."
Azril langsung menuju ke pintu utama.
"Sia—"
"Assalamu'alaikum. Haii, abang ganteeengg. Kakak cantiknya ada ndak?"
"Ehh, wa'alaikumsalam. Ada tuh kakak cantiknya di dalam. Kamu kemana aja, hm? Kok baru muncul lagi?"
"Ada deh hehee."
"Jahat ih, ga mo kasi tau. Tapi yaudah deh gapapa. Ayo masukk, mau ketemu kakak cantik kan?" Mereka berdua pun masuk bersamaan.
"Haiii! Assalamu'alaikum, kakak cantiiiikkkkk. Let's go picnicc!"
...----------------...
...Haii! I'm come back....
...Masih banyak yang baca gak yaa (?)...
...Aku abis ujian niii, doainn dapet nilai bagus yak hehehehe....
__ADS_1
...Btww, kalian mau cepet ditamatin atau lama ditamatin? Ditunggu jawabannyaa....
...See uuu!♡♡...