Barbar Generation

Barbar Generation
Ada apaa??


__ADS_3

"Menggilak si Kejaa, nyari jodoh sekalian diajak teman matii." Keja nyengir tanpa rasa bersalah.


"Yaudah ayok lahh, jadi gak sehhh?!"


"Gue mau ikutt, tapikan dikarantina." Rengek Asya sambil memainkan tangan Arsen.


"Kamu mau ikut nonton apa ikut balapan?" Tanya Arsen.


"Nonton sii, tapi kalau balapan juga sabilah."


"EITSS, JANGAN MACEM-MACEM LUU!" Omel Arsen, Haikal, Shaka, Alvin, Dino, Keja, Racksa dan Azril bersamaan.


Asya langsung cengengesan melihat mereka.


"Kan kalau sabiii, pada ngamuk pulaa." Ledek Asya.


"Awas aja lu nyoba-nyoba gituan, gue tampol beneran!" Asya mengangguk, "kagak kagakk. Yakali gur balapan, auto mampusss diomelin."


"Udah mau malemm ni, kuy lahh!" Paksa Keja.


"Ishh, lu izin dah sono sama mak bapak gueee. Kagak ada yang boleh pigi kalau gue gak bolehh!" Protes Azril.


"Setuju!!"


Keja menghela nafas dan menatao sinis twins.


"Makanye yee, besok-besok nyari temen yang agak warasan dikit!" Omel Keja kesal.


Asya tertawa, baru kali ini Keja mengomel masalah pribadi.


"Beneran mau pigi gak?" Tanya Arsen memastikan.


"Iyaa Arsen, kamu mau izinin?"


Asya mendongak, menatap Arsen.


"Kalau emang kamunya pengen liat, ntar aku yang izin. Aku yang tanggung konsekuensinya." Asya duduk dari tidur, "serius nii?" Arsen mengangguk.


"Yaudah sana cepetan izinn!" Titah Azril.


"Konsekuensi tanggung rame-rame aja. Toh juga kita semua yang mau," sahut Alvin.


"Nahh bener!"


"Tunggu sini lu pada." Arsen berdiri lalu pergi masuk, Asya menyusul untuk melihat reaksi daddynya. Dan yang lain hanya mengintip.


"Assalamu'alaikum, om tantee."


"Wa'alaikumussalam. Ada couple goals nii, ada apaa?" Tanya Ica ramah.


"Emm, itu tantee..."


"Kenapa?? Alvin nyabu?"


"Emang Jimmy, otaknya kadaluarsa!" Jimmy cengengesan.


"Btw, kenapa, Sen?"


"Mewakili yang lain, Arsen mau izin om, tantee."


"Izin apa?" Tanya Zia.


"Keja tadi datang nantangin Shaka balapan, jadi kami pengen ikuttt. Nontonn doang kokk," ujar Arsen.


"Nonton doang, yaaa?" Aska ikutan nanya.


"Iya, om. Nonton doang."


"Okee, setengah sembilan harus udah balik. Kalau telat ditunggu sampe jam sembilan. Belum balik juga, pintu dikunci. Deal?"


"Dealll!!" Teriak Asya keras.


"Yaudah sonooo. Hati-hati, jangan lupa bawa bodyguard!"


Arsen mengangguk.


"Kami pergi dulu, om, tante."


"Jangan sampe cedera!"


Arsen mengangguk sambil tersenyum, setelahnya ia dan Asya keluar.


"WAHAAAA! HEBAT LUU!" Puji Azril antusias.


"Aku menyebutnya tampan dan berani."


"Hahahaaa!"


"Mari let's go kee arenaaa." Ajak Keja langsung.


"Sabar duluu! Motor gue kan dirumahh."


◕◕◕


Keesokan harinya...


Naina terbangun, ia keluar tenda dan menghirup udara segar banyak-banyak.


"Udah bangun??"


Naina berbalik, oh ternyata Azril.


"Hmm, barusan. Lu udah dari tadi?"


"Barusan kok." Naina menatap lekat Azril, "lu bongak ya?!!"


"Nggakkk weh, bongak apa?"


Naina menuju tenda lainnya, tenda para pria kosong. Hanya ada Asya, Keiji dan Ara di tenda.


"Yang lain kemanaaa?"


Azril malah tertawa kecil.


"Semalam kenapaaa anjritt? Bagi tauuu!!"


"Semalam tuuu, waktu mereka balapan kalian berempat capek berdiri liatin. Jadi kalian masuk ke mobil dan tetiba ketidurann. Yaudah gituu."


Naina menatap Azril dengan mata tersipit.


"Lu pada nggak ngapa-ngapain kan?"


"Hehh, gila kali ngapa-ngapain kaliann. Bisa terjadi peperangan antar keluarga nantinya."


"Teruss yang lain kemanaa? Kenapa mata lu sayu?"


"Em.. ituu.."


"Jangan bilang lu pada pulang dari balapan gak tidur tapi malah main game di playground?" Azril cengengesan sambil mengangguk pelan.


"Dih tolollll! Gue mau laporin sama Tante Zia!!"


Naina beranjak pergi, dengan mudahnya Azril menahan tangan Naina hingga berhenti. Naina berbalik, Azril pun menarik Naina.


Kini Naina dekat dengan Azril, bahkan tangannya terletak di dada bidang Azril. Naina terdiam, terpaku~


"Kedip." Bisik Azril.


"A-apaan sihh?!"


Naina mendorong Azril.


Azril tertawa lalu menariknya lagi, ini sangat dekat. Tangan Azril sendiri berada di pinggangnya Naina.


"Jangan lapor mommyy. Kalau mau lapor beneran si gapapa, tapi lusa kita nikah."


Naina menatap kesal Azril, "are u crazy?"


"Yeah. You're driving me crazy!!"


Mereka bertatapan lama.


"Lu ngancem guee nih?"


"Bukan si... lebih tepatnya, mengambil kesempatan dalam kesempitan." Bisik Azril.


Sekuat tenaga Naina mendorong Azril.


"Bodo amatt! Tetep mau laporrrrr!" Naina pergi lagi.


Azril geleng-geleng kepala melihat Naina, ia mengejarnya. Tapi siapa sangka, Naina malah berbalik.


Azril menabrak tubuhnya sehingga mereka berdua jatuh secara bersamaan. Dengan posisi Azril berada di atasnya.


Mereka berdua diam dan saling tatap satu sama lain.


"HEHH HEHH APANII?! MASIH PAGII!" Haikal datang menggerebek. Ia tidak sendiri, yang lain juga ada termasuk para orang tua.


Azril berdiri, ia juga membantu Naina.


"Keknya beneran nikah ni." Bisik Azril.


"Shut up!" Jawab Naina sambil memukul pelan dada Azril, Azril tertawa kecil.


"Kalian berdua ngapain?" Tanya Ivan sinis.


"Itu tadi kesalahan teknis, om. Kecelakaan kecil ajaa," jawab Azril santai.


"I-iyaa, om. Kecelakaan doang." Naina gugup.


"Bongakk. Tadi tu Azril macem-macem sama Naina, daddy. Asya liat sendirii. Hukum aja Azril pake ikat pinggang daddyyy." Datanglah Asya untuk memprovokasi, memang parah.


"Sya, jangan ngadi-ngadii!" Asya cengengesan.


"Mau daddy cambuk? Kok bisa bersikap gitu sama cewek?" Tanya Aska sinis.


"Astaghfirullahalazim. Demi Allah gak ada maksud apa-apa daddyyyy, cuma tabrakan gitu terus jatoh." Azril panik menjelaskannya.


Di belakang, Asya dan teman prianya tertawa puas.


"Jangan ketawa lu pada, gue sleding ntar!" Mereka makin tertawa.


"Kok bisa tabrakan gimana ceritanya?"


"Tadii tu Nai mau ngadu ke tantee, terus Naina mau muter Azril nabrak Naina makanya jatohhh." Jelas Naina.


"Naiiii. Kenapa di bilang??!"


Naina meledek Azril dengan tatapannya.


"Ngadu apa maksudnya?"


"Anak cowok gak ada yang tidur dari tadi malem."


Semua anak pria auto panik.


"Wahhwww, ngapain aja kaliann? Pasti main uke semean." Kata Ara.


"Ha kan, gblok!" Ara, Asya, dan Keiji tertawa.


"Bener tuu? Kalian gak ada tidur?"

__ADS_1


"Iyaa, bener paa. Nggak main uke seme kokkk, cumaa main game doanggg." Jawab Alvin.


"Baguss, bagusss. Lanjutkann."


Para orang tua pergi meninggalkan mereka.


"Gitu ajaaa?" Tanya Azril keheranan, mereka tetap memandangi Aska dan yang lain.


"Room game Azril di kunci, akses dimatikan selama seminggu!"


Azril dan temannya pun pasrah.


Muka mereka tampak melas.


"Masukk, sarapan sekarang!"


"Okeee mommyy, nyusul yaaa." Teriak Asya.


Asya, Ara, Naina dan Keiji tampak gembira melihat penderitaan para pria.


"Hahayyy. Mampussssss lu pada! Makanyaa, tau waktuu!" Ledek Ara.


"Haishh.. parah si!"


Mereka berempat tertawa.


"Bodoamat wle wlee!!" Ledek mereka berbarengan.


Bukan makin emosi, para pria itu malah merasa terhibur karena ledekan mereka. Mereka terlihat gemoy!


"Heh heh, mata!! Jangan sampe mata kalyan gue colok pake gunting." Azril menggendong Naina lalu pergi.


Naina yang menggelantung diam saja, mukanya datar karena kesal dengan Azril. Tapi itu tertutupi rambut panjangnya.


"Buaya new satu itu emang gak maen-maen yaa."


Mereka pun menyusul masuk.


"Kalian sarapan ronde duaa, mejanya gak cukup. Sambil nunggu makan roti aja dulu, yaa." Zia memberikan mereka roti gandum untuk sarapan.


"Makasih, tantee."


Zia tersenyum lalu kembali ke meja makan.


"Horkayy tapi kok bisaa meja makannya gak cukup." Ledek Samuel.


"Gue tingal berempat doang ya bege, mau beli meja makan sepanjang apaa? Sepanjang kereta api?" Samuel cengengesan melihat Aska kesal.


"Katanya sii horkayy, tapi kok makan pake tangan." Ledek Jimmy gantian.


"Lu makan pake apa, Jumariii?! Pakee kaki? Kan nggakk," omel Aska lagi. Jimmy tertawa.


"Fiks, lu pada keluar negeri jadi ketua pimpinan gosip. Benerkan?" Tanya Zia mengsinis.


"Yap, salah." Jawab Qiara.


"Dahlah makan aja. Kasian anak-anak nunggu!"


Mereka mulai makan bersama.


Setelah selesai, mereka menghampiri Asya dkk yang sedang menonton film kartun.


"Asik banget yee, sarapan sono." Titah Aska.


"Ntar—"


"Nggak ada ntar-ntaran, makan sekarang." Kata Zia, para anak muda itu langsung berdiri dan pergi ke dapur.


"Emaknya Asya kalau ngamuk ngerii, jadi nurut lebih aman." Kata Alvin.


"Emak lu kalau ngamuk begimane?" Tanya Naina.


"Emak gue ngamuk? Hahaa, sering sih. Tapi tetep cantik luar dalam," jawab Alvin dengan pedenya.


"ALVIN, BUTUH APA NAK? MOTOR BARU ATAU MOBIL BARU?"


"Alhamdulillah, akhirnya pintu hati emak kebukaa. Mau motor baru, maaa!"


"Nggak jadi. Kamu bilang hati mama ketutup."


"Allahu Akbar. Ah sudahlah, tidak berharap baik." Ujar Alvin pasrah.


"Maksud lu apeee, peaa?"


"Apaa?"


"Tidak berharap baik?"


"Berharap tidak baik or tidak berharap baik?" Tanya Shaka heran.


"Apa aja serah lu dah."


"Ayok baku hantam, setannn!"


"Tante dukung kamu, Shakaa! Hajar aja tu anaknya Om Jimmy sampe babak belur." Kata Alya memprovokasi.


"Alah ma maa, kalau Alvin luka nanti nangeessss."


"Nggak sih, gak penting juga."


Bongak itutuuu, Alya bakal nangis kejer kalau sampe Alvin kenapa-napa. Hanya saja, ia bersandiwara sekarang.


"Mengsaddd! Hati Alvin tertusuk sampe nembus ke usus halus."


"Hahahaa ntah iyaaaa. Udah, lanjutin makannya, makan yang banyak yaa. Nanti kalau mau minta motor sama papa aja." Ujar Alya.


"Kan kan, papanya lagi yang jadi korban." Alya nyengir kuda sambil mengperli-perli Jimmy.


"Papa handsome macem tok dalang, beliin Lamborghini dongg." Goda Alvin.


"Ah papa pelit, minta Om Aska di kasih gak yaa?" Tanya Alvin iseng.


"Lamborghini yang mana? Warna apa?"


"WOPP, NGERIIIII. Angkat Alvin jadi anak, om." Kata Alvin iseng lagi.


"Sayangnya gak mau nambah anggota sii. Kalau jadi babu aja gimana?" Kata Aska santai. Alvin terdiam kaku sedangkan teman dan para orang tua tertawa melihatnya.


"Alvin, mau Lamborghini apa BMW?" Tanya Jimmy.


"Lamborghini. Papa mau beliin?"


Alvin antusias.


"Nggak sih, cuma nanya aja."


"Astaghfirullahalazim!"


◕◕◕


16.45, rumah Aska.


Semua orang masih berkumpul di sana, menikmati waktu-waktu yang tersisa karena sebentar lagi Samuel beserta keluarganya akan pergi ke Amerika.


Sam, Qia dan Shaka berangkat nanti malam.


"Shaka, kamu mau di sini aja atau gimana?" Tanya Qiara.


"Mama mau pulang?"


Qiara mengangguk.


"Kalau kamu masih mau di sini, ntar barang-barang kamu mama yang packing. Kamu tinggal datang aja ke bandara nanti."


Shaka berfikir, "bener nii? Gapapa, kann?"


"Gapapa lahh. Jadinya mau ikut apa di sini aja?" Tanya Samuel.


"Di sini dulu ya, hehee."


"Yaudah iya, terserah. Papa mama pulang duluu," kata Samuel lagi. Shaka mengangguk sambil tersenyum.


"Wei, guys. Gue balik duluu yee." Pamit Samuel pada temannya.


"Ntar pas berangkat kabarin, biar kita anter barengan ke bandara." Ujar Jimmy.


"Aman-aman. Santai aja, nanti pasti gue kabarin." Jawab Samuel. "Gue nitip Shaka duluu, biar gk ngerengek rindu temen." Lanjut Samuel.


Para orang tua tertawa kecil, "segala nitip-nitip. Kek sama siapa aje lu. Udah sono pergii, ntar kagak sempet packing."


"Yauda, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Samuel dan Qiara pergi.


"Mama papa gak pulang juga?" Tanya Haikal.


"Kamu ngusir?"


"Ya nggak, maaa. Kan Haikal cuma tanyaa," jawab Haikal santai.


"Males pulangg, lagipula jarang ngumpul. Papa kamu paling susah di ajak ngumpul. Keseringan main sama selingkuhannya." Kata Ica.


"Hey heyy, ngomong apa sii? Selingkuhan dari mana? Ngawur kamu," jawab Ivan.


"Ceilehh, ngeles."


Ivan menatap kesal Ica, "ngeles dari mananya? Aku serius ini, mana ada selingkuhan."


"Alahh, komputer, laptop, game. Itukan selingkuhan kamu!"


"Astaghfirullahalazim. Untung sayang," kata Ivan sambil mengelus dada. Ica dan yang lain tertawa.


"Yang sah meresahkan. Ayok cabut!" Ajak Dino.


"Kuy lahh," jawab mereka kompak.


"Mau kemana?"


"Playground." Secara bersamaan, mereka keluar rumah dan kembali ke playground. Duduk di pinggiran kolam ikan.


Semua sibuk dengan ponsel, para pria bermain game dan wanita scroll sosmed. Kecuali Asya yang sedang bersandar dengan Shaka.


Asya menatap langit sore yang cerah.


"Lu dari tadi nempel mulu sama Shaka, kasian noh tu anak pegell." Cibir Alvin.


"Yang bilang pegel siapa? Gue santai aja di lengketin sama cicak satu ini." Asya menatap sekilas Shaka lalu menatap langit lagi.


"Lu liatin apa?" Tanya Haikal.


"Gak tau juga. Gue cuma mikir, katanya orang yang udah meninggal ada di langit. Gue jadi peng—"


"Pengen apa? Gak usah ngadi-ngadi mulut kamu tuu." Omel Arsen, Asya nyengir.


"Jangan mikir yang nggak-nggak yaa, anak cantik." Kata Shaka sambil mengelus rambut Asya. Asya tersenyum.


"Gue penasaran, kalau nyatanya Asya nggak sama Arsen gimana, ya??" Tanya Dino.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Bisa aja tau, Asya sama salah satu diantara kita." Jawab Dino.


"Bener juga sih. Kalau gue pribadi sih gak masalah, toh juga Asya udah masuk kategori bidadari dunia."


Asya tertawa mendengarnya.


"Lu sendiri gimana, Sen?"


Arsen menunduk sekilas, "yaa mau gimana lagi? Jodoh, rezeki, maut ada di tangan Allah. Kalau nyatanya Asya bukan jodoh gue, yaaa gue bunuh jodohnya Asya."


"Sianjjj! Gue udah seriuss, dia ngelawak." Cibir Azril, Arsen cengengesan.


"Seumpama lu pada udah punya doi, teruss karena suatu alasan lu harus milih doi atau sahabat. Lu pada milih yang mana?" Tanya Naina.


"Doikan bukan istri?" Naina mengangguk.


"Kalau guee memprioritaskan sahabat dari pada pacar. Bukan karena gua suka sama Asya atau gimana, tapi apapun yang berhubungan sama sahabat mau itu Asya Azril atau yang lain, gue bakal milih sahabat." Jawab Alvin.


"Lu milih sahabat, teruss pacar lu mutusin gimana?"


"Kalau dia memang jodoh gue pasti bakal balik ke gue."


"Apa lu bakal tetep milih sahabat, jika suatu saat perselisihan terjadi karena perebutan wanita?" Tanya Ara.


"Karena cewek? Gue tetep milih sahabat si."


"Anjaiii, mengkece!" Alvin tersenyum tipis.


"Sahabat lebih dari kata penting bagi gue. But, lain lagi kalau wanita itu istri gue. Gue bakal prioritasin istri gue. Eh, tergantung situasi juga sih sebenernya. Yaa, sebisa mungkin gue bakal bersikap adil terhadap keduanya."


"Yeahh, semua tergantung situasi." Jawab Haikal.


"Lu pada kenapa jadi bijak gini?" Tanya Racksa meledek.


"Maklum, abis makan dari uang orang bijak."


Maksudnya, Aska.


"Nular bijaknya, ya?" Alvin mengangguk sambil tertawa.


"Sya, lu lengket mulu sama Caka. Kasian Arsen lu kacangin," Asya menoleh kearah Arsen. Arsen terlihat santai.


"Arsen santai aja tuh," jawab Asya.


"Gak marah, Sen?"


"Mau marah gimana? Lagi pula cuma hari ini mereka lengket, paling besok Asya nemplok macem cicak ke gue." Mereka tertawa.


"Gue mau marah tapi rasanya ini bukan suatu hal yang perlu dipermasalahkan. Toh juga gak kelewat batas." Lanjut Arsen.


"Lu gak cemburu?" Tanya Shaka.


"Cemburu? Ngomongin cemburu? Ya jelas lah cemburu, gila aja kali luu."


"Ohhh, ternyata cemburu yaa?" Asya berpindah posisi.


"Cemburuu?"


"Cemburuuu? Cemburu??"


Asya menggoda Arsen.


"Tuan muda cemburu?" Tanya Asya terus menerus.


"Iyaa cemburu. Kenapa?"


"Beneran cemburu?" Arsen berdehem, "pokoknya kalau kamu deket sama cowok selain daddy aku cemburu."


Asya tertawa, "gemoi bangett bayi gedekk!" Kata Asya gemas sambil mengacak rambut Arsen.


Arsen menatap kesal Asya karena rambutnya berantakan sekarang. Arsen mempout bibir lalu meniup rambutnya.


"Gemeshh tolong!!!"


"Kok jadi imut banget si Arsenn?! Gue tikung di sepertiga malam gimana?"


"Kau cowok ya, piggy. Jangan main-main!!" Racksa tertawa.


"Dah ah. Mall yuk, gue pengen beli sesuatu yang couple gituu." Ajak Shaka.


"Siapa bandar?"


"Gue."


Dino menawarkan diri.


"Kuyyy, gass, ngengg!!!"


Mereka berpamitan terlebih dahulu kemudian pergi menggunakan dua mobil.


Jaraknya agak dekat tapi agak jauh juga.


Hanya butuh waktu kurang lebih dua puluh menit mereka tiba di mall.


"Dah lama nih gue kagak kemarii." Ujar Asya.


"Benerr! Lepas karantina bentar hahaa."


Mereka masuk ke dalam.


"Cari apa ya yang enak??"


"Hoodie udah sering, bosen." Jawab Haikal.


"Kemeja couple gimana?" Tanya Alvin.


"Eh anjrittt. Bagus jugaa ituu, tapi terlalu biasa gak sih?" Sahut Ara.


"Apa yang baguss nya?"


"Gue pengen sesuatu yang bisa di pake tiap hari," kata Shaka sambil melihat sekeliling.


"Jam tangan orr gelang?"


"Keduanya!!" Jawab para wanita kompak.


"Deal! Gue bantu bandar."


◕◕◕


Tanpa terasa, ini waktu keberangkatan Shaka dan kedua orang tuanya. Ngantar mereka bertiga kea lagi ngawal presiden. Ramenya na'udzubillah!


"Baik-baik lu disono, jangan minum yang kagak-kagak." Ceramah Alvin.


"Iyee tau. Lu juga, jaga Asya baek-baek."


"Amann tuu." Alvin dan Shaka berpelukan ala-ala pria.


"Dih anjirr, ntaran dulu nape. Masih agak lamaa punn," omel Azril.


"Ya kan gue duluan biar kece."


"Semerdeka Alvin!!"


"Btw, Pin, lu kagak jadi beli Lamborghini?" Tanya Haikal.


Alvin menatap mak bapaknye.


"Jangan berharap!"


"Oke, baiklah." Alvin mengelus dada sambil tersenyum.


Komuknya bikin mereka tertawa.


"Ultah kapan, Pin?" Tanya Aska.


"Masih agak lama, tapi bentar lagi. Kenapa, om?"


"Kalau ultah bilang, biar om beliin."


"Wadauuuu. Serius, om?"


"Ya nggaklah. Bercanda doang."


"Astaghfirullahalazim, anak ganteng kena bully mulu! Untung sabarrr." Mereka terkekeh.


"Asya kebelet kencinggg, permisi ke toilet dulu yaa." Pamit Asya, ia capek ketawa dan kebanyakan minum dari tadi. Makanya kebelet.


"Mau di temenin?" Tanya Aska.


"Nggak usahh, daddy. Ke kamar mandi doang."


"Mommy temenin deh, yaa?"


Asya tersenyum, "gak usah mommy. Sendiri aja bisa kokk."


"Yaudahh, hati-hatii."


"Oceee!"


Asya pergi mencari toilet.


"Gue baru sadar, bandara rame banget gegara kitaa." Ujar Dimas.


"Yang dianter tu macem orang penting banget, padahal kagakk." Jawab Ivan.


"Diem lu kodokk. Gini-gini gue orang pentingg yang punya peranan penting!"


"Yak! Peranan penting dalam proses pembuatan adek Shaka."


"Astaghfirullahalazim! True sih."


"Kan, goblokk!" Samuel cengengesan.


"Ma, Shaka tu mau punya adek tapi gak mau punya adek. Yaudah gitu aja."


Qiara menatap kesak Shaka sambil tersenyum.


"Mau kamu apa sebenernya? Mau mama sembelih?"


Shaka menggeleng sambil tertawa.


"Asya kok lama, yaa? Bentar lagi berangkat ni." Kata Shaka.


"Sabar. Mungkin lagi tersesat dia," jawab Haikal berpositif thingking.


Tapi lain hal dengan Arsen, dia sudah gelisah. Bahkan, teramat sangat gelisah.


Ddrrrt... Drtt...


Ponsel Aska berbunyi.


"Siapa?" Tanya Zia.


"Asya."


Aska mengangkat panggilan.


^^^"Assalamu'alaikum, kenapa say—"^^^


📞 "Daddyyyy.. tolongin Asyaaaa! Awhh, ahh! Sakittt, lepasin!! Lepasinn gueee!"

__ADS_1


^^^"ASYA KAMU KENAPAA?!"^^^


📞 "Asy— DOR!"


__ADS_2