
09.31, rumah utama.
"Mommm."
Teriak Asya dari kamarnya.
"Mommyyyyy."
"Mommm."
"Makkk, oo emakk."
Tidak kunjung mendapat jawaban, Asya keluar dari kamar.
"Eksyussmiii, ada orang?"
"Apaan dah dari tadi teriak mulu?" Tanya Racksa sinis.
"Mak gua mana?"
"Lagi mejeng palingg." Jawab Racksa.
"Bisa aja sii, ini hari sabtu."
"Check-in hotel tuh, buat adek baru."
"Gosa asbunn! Gue tabok nanti lu!"
Racksa cengengesan.
"Azril mane?"
"Lagi main ps, dibawahh."
"Lu ngapain depan pintu gue tadi?"
"Mau nyamperin lu, mo nanya lu ngapain teriakk. Taunya udah munculll." Asya berohria.
"Azril sama siapa?"
"Banyak tanya lu anj—"
Plak!
"Tega kamu, mas!"
"Jancokk tenan o. Masih pagi lho inii, udah ditamparr aja gueee."
Asya tertawa lalu masuk ke kamar. Racksa pergi dari sana, ia menghampiri Azril.
"Kenapa Asya?"
"Gapapa, lu tau ndiri sodara lu agak-agak."
"Sebenernya, kita betiga sama aja."
Seketika Racksa menatap Azril. Azril menatapnya balik.
'Gue bedaa!' Ujar Racksa dari tatapannya.
'Beda apa, tololl? Lu makin parah.' Jawab Azril.
'Anjng lu.'
Azril terkekeh melihat Racksa kesal.
"Tapi bener lahh, gak ada yang beda dari kita betiga. Jangan-jangan kita bertiga kembaran."
"Gak. Ogah banget kembaran sama kang ngompol kea lu."
"Racksa bangsttt. Gausah buka aib begook!" Racksa gantian terkekeh melihat Azril.
"Itukan dulu anjirrr, ah lu mahh." Racksa nyengir dengan tatapan polosnya.
"Lu tau dari mana??"
"Banyak yang ngasi tau guee dongg."
"Anying anyingg. Banyak yang bongkar aib guee."
"Aib lu cocok buat disebar."
"FUCKK RACKSA!!" Racksa tertawa.
"Sedang menunggu adegan bacok-bacokan."
"Bacot!"
Asya auto mingkem mendengarnya.
"Gue laperrrr."
"Makann. Mommy udah ninggalin sarapan buat luu." Asya menuju dapur dan mengambilnya, kemudian menghampiri kedua saudaranya di ruang keluarga.
"Mommy daddy kemana?"
"Pergi. Ada yang mau diurus katanyaa, gak tau juga apaan." Jawab Azril.
"Kok gak bilang ke gue?"
"Salah siapa lu telat banguunnn, begoo!" Racksa kesal.
"Gue capekk."
"Iyalah capek, mengingat betapa lasaknya anda semalam."
"Asya kalem. Tapi kalemnya terpendam." Kata Racksa.
"Anjirrr true."
Racksa dan Azril tertawa lalu bertosria.
"Btww, lu ngapain dah disini? Gak punya rumah?!" Tanya Asya sinis pada Racksa.
"Nggak, bundd. Kan masih beban keluarga." Jawab Racksa santai.
"Alhamdulillah, sadar yaa."
"Kampret lu!"
Asya terkekeh.
"Uncle sama aunty udah balik ke Amerika?" Tanya Azril, Racksa mengangguk.
"Kasian.. ditinggal."
"Gapapa, yang penting transferan lancar."
"Anjritt, kecee ughaa!"
Racksa tersenyum smirk.
"Sabi kalii traktirannya." Goda Azril.
"Ayok-ayokk, mo dimanaa? Ayokk, gas keunn."
"Bacot banget astaghfirullah!!" Racksa cengengesan.
"Masak daging Wagyu a5 yuuu." Ajak Asya, ia sudah meletakkan kembali bekas makannya.
"Lu baru makan anjirrr, sabisanya mau masak lagii." Cibir Racksa.
"Makan itu enakk."
"Tapi berlebihan juga nggak baikk."
"Nggak berlebihan sii, nasi gue tadi cuma setengah." Jawab Asya santai.
"Lupa. Tadi gue makan setengahnya."
"Racksa setann!"
"Hehe, ya maaapp."
"Dahla, beli aja bagusss."
Kata Azril.
"Nggak bagus. Bagus buat sendiri."
"Yaudah sana buatt!" Titah Azril.
"Males anyingg. Wagyu nya juga belum dibelii."
"Titip mak lu ajaaa. Ntar kalau pulang tinggal masakk." Usul Racksa.
"Oeaaa. Mari kitaa chatt."
Asya mengambil ponselnya dan menghubungi Zia.
"Ehh, tapi ntar kalau mak gue pulang lama gimana?"
"Yaaa.. suruh bodyguard antar."
"Okee!" Asya memesannya.
"Btw, adek lu udah mo lahirkan?" Tanya Azril.
"Ho'oh. Mak bapak gue cuma bentaran kesono, ntar balik lagi karena mak gue maunya lahiran di Indonesia." Azril dan Asya berohria.
"Cewek or cowok??"
"Apa aja serah dah yang penting jangan banci." Twins tertawa mendengarnya.
"Lu sendiri pengen apa?"
"Gue? Maunya cowokk. Kalau cewek ntar ribet guenyaa," jawab Racksa.
"Ribet apaan begooo?"
"Yaa ribet ntarr mainannya barbiee. Kan kalau cowok bisa gue ajak balapan, ajak maen bolaa, ajak ke club juga kan mantep."
"Abang macam apa ini anjj?!"
"Sudah menyesatkan sejak dini." Racksa cengengesan lagi.
"Ehh, Arsen gak dateng?" Tanya Azril mengalihkan topik.
"Maybe nggak, why?" Tanya Asya gantian.
"Maybe? Begoo bangett. Pacarnya sendiri gak tauu ada dimana."
"Sorry. He's not my boyfriend, he's just my friend."
"Loro tenann, cokk!"
Mereka menoleh, Arsen berada disana dengan muka mengenaskan.
"Mamposss kauuu. Makanyaa, kalau mau masuk tu masuk, keluar ya keluar. Jangan ngalangin jalan didepan pintuu." Cibir Racksa.
"Gue tu udah masukkk, tap—"
"Tapi gak ngasih kepastian." Sahut Azril.
"Alahhh siaa boyyyy!!"
Azril dan Racksa kompak mengejek.
"Bodo ahh, kitheart."
"Tuwaga. Bacott!" Arsen menatap sinis Azril dan Racksa, keduanya malah tertawa.
"Bawa apa kali ini, mas bucinn?" Tanya Racksa yang sudah hapal dengan tingkah Arsen.
"Salad buah, only for Asya."
"Gue blacklist lu dari daftar calon abang ipar. Bisa-bisanya belii salad cuma satu. Parah sih parah." Nyinyir Azril.
"Lu pikir gue peduli? Hahahaa. Nggak." Jawab Arsen santai.
"Sumpah demi apapun, Arsen minta ditembak mati." Arsen cengengesan.
"Nahh."
Arsen memberikan salad buahnya untuk Asya.
"Matur thank you."
Asya membuka lalu memakannya.
Racksa dan Azril kembali bermain play station, sedangkan Arsen bermain ponsel sambil sesekali menatap Asya yang lagi makan.
"Mauu?" Tanya Asya, Arsen menggeleng.
"Kenapa natap muluuu?"
Arsen menggeleng lagi.
"Mau jadi ice boy? Daripada ice boy mending ice bear. Lebih gemoyy!"
"Karepmu, sayangg."
Asya menatap kesal Arsen lu kembali makan.
Arsen yang tau Asya kesal mengambil tissue, kemudian mengelap bekas makan Asya yang berserakan.
"Kita emang gak pacaran, tapi kamu punyaku."
Asya salting mendengarnya.
"Gue pernah denger tu suara di apk viral dehh." Ujar Racksa.
"Arsen copas tuu, dia kan gak kreatiff." Sahut Azril.
"Diem ngapaaa, jancokk!"
"Bah, ngamokk." Azril dan Racksa tertawa.
"Sayangg.. masa aku dibullyyy?" Keluh Arsen manja.
Asya merespon dengan tertawa. Tangannya terulurr untuk mengelus rambut Arsen.
"Biarin ajaa. Gak usah dengerin mereka karena yang mereka bilang bener."
"Astaghfirullah, sayanggg!"
Asya, Azril dan Racksa terkekeh.
"Udah ah, sana besiap. Bunda minta kamu ke rumahnyaa." Ujar Arsen.
__ADS_1
"Leh, ngapain??"
"Nggak tau, mungkin disuruh jaga baby."
"Ahaa, agaknya seru nii." Asya masuk ke kamarnya untuk berganti baju.
"Ibu-able, ya. Gue jadi Asya mager," kata Racksa santai.
"Ckck. Gimana besok disuruh jaga anak lu?" Tanya Azril.
"Kan beda, coyyy. Anak gue kan hasil produksi gue sendiri. Pergabungan antar—"
"Diem anjng. Gak usah lu jelasin gue tau!!" Racksa nyengir kuda.
"Lu tumben diem, Sen?"
"Depresot liat lu bedua."
"Kamprett!"
Arsen senyum tertekan :'
"Kuliah masih lama, ya? Capek gue nunggunya." Kata Racksa.
"Gue malah maless kuliah anyinngg." Sahut Azril.
"Kenapa?" Tanya Arsen heran.
"Yaa gak tau kenapa, males ajaaa."
"Gausah kuliah, kok susah."
"Fakk!"
"Katanya gak mau, gimanaaanya coba?!" Tanya Racksa kesal.
"Ya maksud gue nggak gitu juga anjjj!"
Racksa dan Arsen berohria, "jadi gimana?"
"Dahlah, diem lu bedua! Gue banting juga ntarr." Keduanya cengengesan.
"Berisik!" Asya keluar dari kamarnya.
"Masya Allah, cantik banget cayangnya akohh."
"Jijik woilaa!" Arsen terkekeh mendengarnya.
"Gue bener-bener tau sekarang. Mereka berdua cocok seratus persen, karena sama-sama alay."
"Nggak nggak. Lebih alay Asya yang dipanggil bunda langsung salting."
"Hah?"
"Gak konek ni guee. Maksudnya gimana??"
"Asya dipanggil bunda sama Darren kemaren, abistu salting si Asya." Jawab Arsen.
"Alah siiaaaa gurlll. Gue panggil tante juga ntar lu," sahut Azril.
"Tante tantee gigimu semplakk! Macem tua kalii gue dipanggil tantee." Omel Asya.
"Kan biar baper jugaa."
"Shut up. Saya khilaf bapernya. Sudah, mari pergi!" Asya menuju pintu luar karena terlalu malu.
Ketiga pria tadi hanya tertawa.
"Gue pergi dulu."
"Udah izin bokap?" Tanya Azril.
"Udah tadi. Gue dari sana sebelumnya." Azril berohria.
"Yaudah, gue pergi dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Hati-hatii!"
◕◕◕
"Assalamu'alaikum.."
Setelah lama membacot sambil mengemudi, Arsen dan Asya tiba dirumah Pak Andre.
"Wa'alaikumussalam. Lama kalii!" Omel Pak Andre kesal.
"Wi ah, kenapa rupanya? Gak sabar papa liat mantu yang cantik bak bidadari ini?" Tanya Arsen sinis.
"Diem kamu. Papa males bicara sama kamu!"
"Astaghfirullahalazim~"
Andre cengengesan, "ayok masuk."
"Iya, om."
Sambil tersenyum Asya mengikuti Andre.
"Pa, Arsen gak ditawarin?"
"Gak."
"Ya Allah.. bapak siapa si ini?" Arsen pun mengikuti keduanya dari belakang.
"Akhirnyaaa datang juga kamu Asyaaa..." Mama Alex langsung heboh ketika melihat Asya. Asya sendiri merasa canggung, ia hanya bisa cengengesan.
"Kenapa nih, tante? Tumben tante minta Asya kesini." Tanya Asya to the point.
"Yaa gapapa. Tante kangen ajaaa sama kamu."
"Oiya, kemaren kamu diculik, kan? Siapa penculiknyaa?"
"Ahh ituu—"
"Asya bilang pun bunda gak bakal kenal." Arsen memotong ucapan Asya.
"Iya juga sii."
"Asyila mana, tan?"
"Sama abangnya dikamar." Asya berohria.
"Curiga pulak sama Alex. Ntar digepengin adek gue." Arsen lari menuju kamarnya Asyila.
Sedangkan Asya tetap dibawah bersama kedua orang tuanya.
"Kesambet apaan tu anak?" Tanya Andre keheranan. Asya dan Mama Alex tertawa kecil.
"Nii, tante buatin kamu brownies sama donatt. Tante gak tau cocok apa nggak di lidah kamu, tapi ya, semoga suka."
Asya sedikit terpukau melihat tampilannya. Nampak lezat jika dilihat dari luar.
"Tante jago bikin kue yaa."
"Iyaa lumayan lahh. Dulu tante usaha kuee." Asya mengangguk paham.
"Cicipi dehh. Nanti kalau suka tante buatin lagi."
Asya pun memakan kue buatan Mama Alex. Tampilan dan rasa sama-sama lezat.
"Gimana? Enak?" Asya mengangguk antusias.
"Hahaha, bisa aja kamu."
"Kemaren pas diculik gak ada luka, kan?" Tanya Andre.
"Aman, pakk. Asya kan kuat."
Andre tertawa kecil, "sangking kuatnya dulu berani misahin Alex sama Arsen pas berantem." Asya cengengesan.
"Masih inget aja, pakk."
"Kebiasaan ya suka manggil pak?"
"Hehe. Sorry, om."
"Senyamannya kamu aja, Syaa. Terserah manggil apa." Kata Pak Andre.
"Panggil kakek aja, Syaa. Opung kalau nggak." Asya tertawa mendengarnya.
"Yekan, pung? Cakep lah dipanggil opung."
"Enak aja bilangnya!" Mama Alex tertawa.
"Bund.. bundaaaa," teriak Arsen.
"Kenapa, Senn?"
"Asyila diunyel-unyel mulu sama Alexx." Adu Arsen, ia menuruni tangga sambil menggendong Asyila.
"Alex tuman bangett siii!"
"Nggak, maa. Arsen boong. Mama kok percaya kali sama Arsen? Bongak diaa." Kata Alex ngotot.
"Lu yang tebongak. Asyila tidur tadi, lu unyel-unyelinn muluu." Cibir Arsen.
"Ish, lambe turah!"
Arsen memeletkan lidah lalu duduk disebelah Asya.
"Asyilaaa~"
"Iya kakak iparr." Jawab Arsen meniru suara cewek.
"Gemoy bangett awww."
"Besok kita buat ya, sayang." Asya langsung menatap sinis Arsen, Arsen cengengesan dan yang lain pun tertawa.
"Sen, kok Asya bisa diculik kemaren??" Tanya Andre, Arsen diam.
"Gegara Arsen tu, paa. Dia sibuk maen hape kemaren." Adu Alex gantian.
"Lexx, gak usah nyebar kejujuran."
"Arsen setann!"
Arsen cengengesan.
"Iya, pa. Itu salah Arsen jugaa, Arsen lalay." Ujar Arsen sambil melesu.
"Apaan si? Lebayy." Omel Asya.
"Lebay darimana? Kan bet—"
"Sstt. Aku yang salah karena ngejerin kelinci. Udah, jangan merasa bersalah. Yakali kamu merhatikan aku terus tiap hari. Kamu juga punya kesibukann." Jawab Asya santai.
"Tapi–"
"Berisik ah tapi tapi!" Asya pergi.
Sepuluh detik kemudian, Asya berbalik.
"Tante, dapur dimanaa?"
"Astaghfirullah! Bisa-bisanya lupa."
Asya nyengir.
"Ituu, sebelah sana."
"Makasih, tantee." Asya pergi lagi, niatnya mau cuci tangan dan mengambil minum.
"Kamu masuk kategori pria beruntung tau. Asya cantik, multitalent, baik, dewasa pemikirannya, keibuan pula."
Arsen tersenyum.
"I know, paa."
"Tanteee. Dimanaa? Asya gak ketemu laa." Keluh Asya sambil menghampiri mereka lagi.
"Tulah, jarang kesini siihh. Jadinya lupaa," omel Mama Alex. Asya nyengir kuda.
"Ayok aku temenin."
Sembari menggendong Asyila, Arsen menunjukkan jalan ke dapur.
"Mau ngapain kamu?"
"Cuci tangan sama ambil minum." Arsen berohria.
Tiba didapur, Arsen juga menemani Asya. Ia duduk di kursi sambil bermain dengan Asyila.
Pokoknya mahh bapak-able!
"Aku baru tau kamu suka sama baby."
"Eum.. emang kamu fikir aku gak suka baby?" Tanya Arsen gantian.
"Yaa nggak gitu si. Yang aku fikir kamu maless momong baby gituu."
Arsen tertawa pelan, "aku suka anak-anak. Apalagi ntar anakku sama kamu. Aduhh, seharian juga gak mau pisah sama anakku."
"Lebay bangett!!" Ledek Asya setengah tertawa.
"Beneran tauu. Tanya bunda, berapa lama aku main sama Asyilaa. Susah lepas kalau dah mainn."
"Kenapa bisa gitu?"
Asya menghampiri Arsen dan duduk didepannya.
"Karenaa suka ajaa."
"Yain deh yainn!"
"Kamu sendiri gimana?"
Tanya Arsen gantian.
"Yaaa gituu. Aku sukaa baby tapi nggak suka bocil."
"Iya sama sii. Bocil kadang annoying bangett."
"WOII, YANG DIDAPUR JANGAN MOJOK YAA! JANGAN SAMPE MATA ADEK GUA TERNODAI!!" Teriak Alex tiba-tiba.
"BERISIK LU TITISAN KUYANG!"
Asya tertawa mendengarnya.
"Ayo samperin."
__ADS_1
Mereka berdua ehh nggak, mereka bertiga kembali ke ruang keluarga.
"Lama amattt! Ngapain lu bedua, hah?!" Tanya Alex sinis.
"Heperrr kali bahh!" Cibir Arsen.
"Anyingg."
Arsen nyengir kuda.
"Ngapain didapur, Sya?"
"Buat anak." Arsen yang jawab.
"Hishh, paokk!!"
Bugh.
Bugh.
Asya memukulnya dengan bantal sofa.
"Ehh ehh, aduh.. nanti kena Asyilaa, sayaang." Asya menghentikan pukulannya lalu mendekati Asyila.
"Asyila gapapakan, ya? Makanya, Asyila jangan sama Bang Arsen. Nanti ketularan macem saiton." Asya menggendongnya dan memberikan kepada Mama Alex.
"Berdosa banget yaa, ngatain calon suaminya setann?"
"Dih pede bangett. Siapa yang mau jadi istri kamu, Senn?" Tanya Andre meledek.
"Ceilahh. Papa juga gak ada yang mau kalau nggak beduit."
Seketika hening.
Plak!
"Astaghfirullahalazim. Kenapa lagi, cilll?!"
"Kebiasaan banget tu mulut ngomong asal-asalan. Gak disekolahin?"
Arsen menutup rapat bibirnya lalu cengengesan.
"Kelepasann. Abisnya papa annoying bangett."
"Dihh, alesan. Minta maaf!"
Dengan senyumannya Arsen berbalik badan.
"Papaa, Arsen minta maaf. Tadi kelepasan," kata Arsen masih dengan senyuman.
"Yang tuluss!"
"Udah tuluss, sayaangg. Perlu aku panggil Om Tulus?"
"Ngaco!"
Arsen cengengesan.
"Papa maafin Arsen gakk nii?"
Andre tersenyum, "papa maafin. Lain kali jangan gitu."
"Siappp. Ntarr Arsen ulangin."
"Mau dipukul lagi?"
"KDRT mulu ih, heran bangett." Keluh Arsen sok sedih.
"Sumpah yaa. Kok bisaa ada manusia begini?" Tanya Alex sinis.
"Iri? Bilang babuuuu!"
"Diam kau!"
"Bwahahaha, irii."
Alex hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan Arsen, benar adanya. Ia iri.
Alex mengabaikan Arsen.
Ia mengambil kue buatan mamanya, memakannya sampai habis lalu mengelapkan kotoran ditangannya ke baju Andre.
"Astaghfirullah, ALEX!"
Tanpa rasa bersalahnya, Alex nyengir kuda.
"Kirain kain lap, maa."
"Gak habis pikir liat lu bedua. Di TK dua tahun, di SD enam tahun, SMP tiga tahun, SMA pun tiga tahun.. empat belas tahun sekolah tapi macem orang gak diajarin beretika."
"Sopannya kemanaa heh?!"
"Sopan itu penting! Percuma berpendidikan kalau lu pada gak sopann."
"Padahal lu bedua pemimpin perusahaan. Gimana para karyawannya kalau pemimpinnya aja gak punya sopan begini?!"
Alex dan Arsen terdiam. Begitupun dengan Andre dan istrinya.
"Sama orang tua aja gak bisa sopan gimana ke orang lain?" "Jangan-jangan karena kalian pimpinann, kalian selalu gini kebawahan?"
"Diiwww. Bye saja."
"Aku nggak gitu, sayaang, kamu kan tauu gimana akuu. Yang tadi beneran keceplosann." Balas Arsen.
"Yain."
"Heumm... Alex minta maaf, Alex tadi gak sopan." Alex menunduk. Andre membalas dengan elusan di pundak Alex.
"Manjur pula omelannya Asya." Ujar Mama Alex sedikit tertawa.
"Didikan keluarga Kusuma gak main-main, yaa." Asya tertawa kecil.
"Asya ngomelnya pura-pura itu, omm."
"Pura-pura aja ampuh lohh."
"Btw, Sen, Asya punya gue!"
"Ngalu kau? GAK!"
"Dih. Bagi dua!"
"LU KATA KIKOO ANJ?!"
"Makanyaa ngalah! Asya buat guee!"
"Ck, bacot aja bedua. Asya jadi istri baru papa aja."
"Inget umur, paa!" Kata Arsen dan Alex kompak.
Andre mengelus dada, "astaghfirullahalazim. Papa masih muda."
"Mau dijedotin dimana, pa? Biar inget umurr."
◕◕◕
21.34, rumah utama.
"Lu kek setan bener deh, Syaa."
"Astaghfirullahalazim~ Gue kan ke pantai diajak sama bokapnya Arsen. Ngapa nyalahin gue mulu si anying?!"
"Gak tau ah, kesel gue sama lu! Ke pantai gak ngajak-ngajak."
"Mati ajaa sana lu!" Cibir Racksa ikutan kesal.
"Ntar rinduu."
"Najiss."
"Tandai. Mati sekarang gue, yaa?!" Azril mengancam.
"Gue lompat dari lantai atas nih, yaa?!"
"Serah."
"Gue lomp—"
Drtt.. Drtt..
Asya meraih ponselnya.
📞 "Halo, assalamu'alaikum. Saya dari pihak rumah sakit mau mengabarkan, pemilik ponsel ini berada di rumah sakit karena kecelaka—"
"HAH?!"
Asya menjatuhkan ponselnya lalu berlari menuju garasi.
"Woi anying, apaaa?!" Asya tidak mendengar teguran Racksa dan Azril, ia tetap pergi tanpa respon. Azril mengambil ponselnya.
"Saya kesana sekarang."
Azril mematikan panggilan.
"Kenapa? Ada apa??"
"Arsen lagi di RS sekarang, dia terlibat perkelahian dan masuk RS karena kecelakaan."
"Wahh.. parah si, gelut gak ngajak gue."
"Goblougg. Ayok susul Asya!"
Keduanya pergi berlari mengejar Asya. Untungnya Asya baru mengeluarkan mobil. Azril pun meminta Asya berpindah tempat.
Azril menyetir.
"Bukannya bilang ada apa, malah pergi duluan. Kebiasaan!" Cibir Racksa.
"Paniqueee."
Beberapa menit diperjalanan mereka tiba dirumah sakit.
"Dimana ruangan Arsen Shafwan?"
"Mari saya antar."
"Sekali bad tetap bad, yaa."
"Sya, gue yakin Arsen punya alesan dibalik ini. Impossible kali Arsen mulai pertengkaran."
"Zrill, lu lupa Arsen siapa? Dia pembuat onarr!"
"Gitu-gitu juga lu demen anying, ampe gak mau ngelepas."
"Diam bacot!"
Racksa auto diam.
"Ini ruangan Pak Arsen."
"Makasih, suss." Suster itu mengangguk lalu pergi.
"Assalamu'alaikum."
Mereka bertiga masuk, di dalam ada Alex yang tertidur.
"Wa'alaikumussalam, eh datang ughaa."
"Lu kenapa bisa giniii?!" Tanya Racksa langsung.
"Kesalahan tekniss."
"Alah bacottt. Ribut sama siapa lu?!" Tanya Azril gantian.
"Ryan. Inget kan? Nah tadi gue ketemu sama dia."
"Teruss?"
"Adu mulut dikit, abistu gelut by one."
"Lu kalah?" Tanya Racksa.
"Sulit mengakuii, tapi nyatanya iya. Pasukannya Ryan datang semua tadi."
"Begini ceritanyaa.... bersambung."
"Sabar, Azril, sabar. Tahan tangan lu, jangan bekap pake bantal langsung cekek ajaa." Arsen tertawa kecil.
Kini Arsen menatap Asya.
"Cill.. sakittt." Keluhnya manja.
"Teruss? Gue harus bilang wow gitu?"
Menyakitkan!
"Gue-guee? Kamu marah nii? Kamu tu salah pahaamm."
"Gak peduli."
Arsen menghela nafas, "kamu bilang gak perduli. Tapi datang juga."
"Terpaksa."
Nyesek sampe usus dua belas jari!
"Sayaangg, jangan marah atuh ih."
"Bodoamat!"
Asya pergi keluar kamar.
Asya kesal, teramat sangat kesal.
Jelas-jelas ia panik tadi, tapi ketika masuk Asya malah melihat Arsen santai bermain game.
Brukk..
Asya yang tidak melihat jalan, tiba-tiba menabrak seseorang.
"S-sorry sorry, mass. Saya gak sengajaa."
"Saya butuh pertanggungjawaban."
Asya menghela nafas panjang lalu mendongak.
"Loh..?"
"Long time no see, Asya."
__ADS_1