Barbar Generation

Barbar Generation
Geng gak beres mengbucinnn


__ADS_3

"Hehh, lu pada darimana anying?"


"Sholat dhuha, Gi. Nanti tiba-tiba mati mampusss kau," Irgi beristighfar. Ia dan Rafy langsung pergi wudhu dan sholat di mushola sekolah.


"Pada insyaff." Ujar Racksa.


"Gak sampe sejam udah kumat lagi nya ini, yakin banget gue mah." Sahut Haikal.


"Kejujuran sekali anda!" Haikal terkekeh melihat Azril.


"Hari ini jadii rapat wali murid?" Mereka mengangguk.


"Mak gue dateng gak, ya?" Tanya Asya.


"Itu, mak lu jalan ama mak guee. Btw, om Aska kok ikutt ya?"


"Gue rasa jadi perwakilan Arsen. Mereka berdua kan lengket banget tuh, kea cicak sama dinding."


"Hubungan mertua dan menantu yang cukup erat. Agaknya susah dipisahin kalau udah klop ginii."


"Gausa bacot deh lu padaa. Daripada gabut, mending kita ke lapangan. Ada volly nohh."


"Kita harusnya masuk hari apasi? Kenapa sekarang sabtu?" Dino pusing karena kebegoannya.


"Asya di skors seninn, berarti mulai selasa sampe tiga hari. Harusnya masuk jumat, tapi karena jumat liburrr ya ikut libur lahh." Dino hanya berohria setelah penjelasan Racksa.


"Minta di tabok emang si Dino!" Dino cengengesan.


"Woiii." Mereka menoleh, Irgi dan Rafy mengejar.


"Udah sholat? Berapa raka'at?"


"Dua wkwk. Rapi begooo banget tau nggakk, masa dia satu raka'at doangg."


"Islam katepee lu, yaa!" Ledek Haikal.


"Islam kartu keluarga."


"Malah ngelawak, goblokkk siaaa." Mereka tertawa.


"Lu pada mau kemana lagi?"


"Main volly." Jawab Asya.


"Ikuttt."


"Skuyy!!" Mereka menuju lapangan volly.


"Ehh, Sen, kaki luu?"


"Udah sehatt lah, gak usah khawatir." Arsen tersenyum.


"Pede amat dikhawatirin. Woi YUNAAAAA." Asya langsung memanggil Yuna karena salah tingkah.


Yuna yang di panggil menoleh.


"Kuy maeeen!" Ajak Ara. Yuna pamit dengan temannya lalu ikut ke lapangan volly.


"Udah akrab sama temen, Yun?" Tanya Azril.


"Alhamdulillah udah bang," jawab Yuna sambil senyum.


"Saha wei? Cakep bangettt." Puji Rafy.


"Ini juga siapa?" Irgi menunjuk Ara.


"Itu Yuna, yang itu Araa." Jawab Asya, mereka berohria dengan nada.


"Jangan macem-macem. Masa depan gue noh!"


"Yain aja yainnn." Dino mengelus dada mendengarnya.


"Ceweknya tiga, cowoknya tujuh."


"Jadii sepuluh. Lima satu timm," ujar Asya.


"Mari suittt."


Setelah suit yang membutuhkan waktu panjang karena Rafy juga begooo suit, akhirnya terbentuk lah tim.


Arsen, Asya, Irgi, Dino, dan Yuna di tim pertama.


Haikal, Ara, Rafy, Azril dan Racksa di tim kedua. Mereka juga sudah menentukan siapa pemain pertama, dan itu jatuh pada tim kedua.


"Bisa tuker gak?" Tanya Irgi memelas.


"Kenapaaa?" Tanya Racksa gantian.


"Couple semua ini anjrottt, masok tengah jadi nyamuk guee." Mereka terkekeh.


"Santuy aja, gosa lebay." Cibir Haikal.


"Ara pindah kesini kalau nggakk," pinta Asya.


"Gak gakkk. Pro semua disana anying, mampusss kamii keteter."


"Takut kalah, yahaaa!"


"Istighfar Dinosaurus."


"Btw, Racksa ikut? Bukannya anda trauma?" Tanya Arsen.


"Katanya tu kalau jatuh harus bangun lagi. Jadi bangun lagi gue."


"Mo nyanyi jadinyaaa," Ara menyiapkan suaranya.


"JATUH BANGUN AKU MENGEJARRRMUUU~" Asya dan Yuna juga ikut bernyanyi.


"Tu kan, ketularan gilaknyaa Asya benerann." Mereka tertawa.


"Sepi kali kalau main gini tok, ayo pake laguu. Bentarr," Rafy berlari ke kelasnya. Ia mengambil speaker bluetooth yang kecil.


"Pake hape gue ajaa yaa, Pyy."


"Ntar lagu lu Korea semuaaa, kagak bisa ikutan konser kamiii."


"Kagak-kagakk. Sanss ajaa," Rafy dan Asya menyetel lagunya.


"Kann, katanya nggakkk." Omel Irgi.


"Ini lagu Jepang, begoooo."


"Oiyanya? Hehe," Irgi cengengesan.


"Skipp, mari cari lagu yang bisa di nyanyiin bersama."


"Jadi nya konser ni ntarr, bukan maen volly." Ujar Yuna, mereka terkekeh.


"Jangan kuat-kuat ntar kepsek ngamokk."


"Kepsek ngamokk di drop out guee. Abis kesabarannyaa," Mereka tertawa lagi.


"Oke iniii." Lagu berputar.


"Nggak enak ituu, gantii." Arsen menghampiri ponsel Asya.


"Loh, Sen, lu tau pinnya Asya?" Tanya Irgi.


"Jangankan pin, ukurann b–"


Slebeww, plakk!


Melayang lah sepatu sport Asya. Haikal mengelus pipinya.


"Makin kesini makin gak ada akhlak sama abangnyaaa." Cibir Haikal.


"Lu begooo si! Mo ngomong apa lu tadi, hah?!" Tanya Asya sambil mengutip sepatunya. Percuma di buang kann_–


"Gue mau bilang ukuran bajuuu."


"Ooo bajuuu," respon Asya santai dengan wajah tanpa dosa.


"Gue yakin dia mikir ehem.." cibir Racksa.

__ADS_1


"DIAM SETAN!" Mereka terkekeh. Termasuk Arsen yang masih sibuk memilih lagu.


"Okeee guys. Ayo mainn," Arsen kembali ke posisi. Lagu sudah berputar.


Mereka menatap Arsen setelah mengerti lagunya.


"Apa we?"


"Gapapa, bagusss kali emang." Jawab Azril sambil servis.


"Sudah banyak perhatian, juga kesempatan, masih tak jadian."


"Tidakkah cukuuup yang engkau lihat, pertemanan ini sungguh beraat. Tidakkah indah bila kita bersamaa, tapi tidak di mimpi sajaaaaa." Mereka bernyanyi serempak sambil passing.


"ANJAAAYAANIII. MENGBUCINN GAISSEU."


"Prenjon prenjonn."


"Lagu ini mendeskripsikan Arsen dan Asya yang tidak kunjung ehem."


"Bacoott!" Irgi tertawa. Lagu abiss, akan berganti dengan yang lain secara otomatis.


Kini giliran Dino serviss.


“Ada berondong tuaa, ahak ahak..”


Servis-an Dino melenceng mendengar lagu itu.


"Bangkeee, Asyaaa begeee!"


Mereka terkekeh, "apa salah ku cobaa?" Tanya Asya polos.


"Lagu lu ngapa begitu, gobeeee?!"


"Lagu gue campuran, cuuuyy. Tadi larang bahasa asing, itu bahasa Indonesia semuaa. Kebanyakan dangdut emang," jawab Asya cengengesan.


"Pencinta dangdut agaknyaa." Ujar Rafy.


"Jangan salah lah, Fy. Tiap hari di kamarnya konser diaaa, dangdutan terosss."


"Demen amat buka kartu lu, yaa!" Racksa cengengesan.


"Because Dino gagal, berarti tim dua yang serviss." Racksa mengambil bola nya.


"Saa, jangan buat bengek lagi ya. Capek guee," keluh Ara.


"Amaann. Udah krusus guee."


"Kursus tololll, hiih auk ahhh!" Racksa cengengesan lagi.


Ia mulai memantulkan bola lalu memukulnya. Dan yak, masuk!


Mereka mulai passing sana-sini sambil konser. Ruangan rapat cukup jauhlah sama lapangan, jadi sedikit lebih aman.


Banyak siswa-siswi lain yang menjadikan mereka tontonan. Sesekali penonton tertawa melihat ulah mereka yang absurd itu.


When temannya sibuk passing, Asya malah...


"Atauuu kecewaaa dan terluka karenamuuu.. Sayaaanggg, bapakku pengusahaaa sakit hati putus cintaaa, bagikuu byasa ajaaa."


Konser solo.


Asya membuka mata setelah bernyanyi, teman temannya sedang terkekeh lagi. Kalau receh apa aja bisa bikin ketawaaa gaiss:v


"Lu pada kenapaaa anyingg?!" Asya heran, dia kadang jadi begoo setelah tutup mata ╥﹏╥


"Jogett lu begooo, bikin ngakaakk. Kea itikk mau nyosorrr tau nggaaa." Jawab Dino masih terkekeh.


"Masa iya?"


"Coba ulang, kak." Pinta Yuna. Asya mengulang jogetannya, mereka lebih ngakak lagi setelah melihat itu.


"Gilaaa, receh bangett humor gueee." Keluh Ara.


"Gak kita doang kok, Ra. Sansss, mereka juga golak melihat joged itik mo nyosornya Asya."


"Emang gimana si, anyingg?!" Tanya Asya masih loading.


"Njirrr paparazziii." Asya melihat ponsel adik kelasnya itu.


"Astaghfirullah, kok beginiiii?!" Asya malukk gaiss.


"Baru tau guee, Asya punya maluu." Cibir Ara.


"Mengapa dia kejujuran?!!" Ara tertawa kecil.


"Begoo bangettt temen guee, sumpahhh."


"Mana liriknya di gantiii tadiii," ujar Racksa.


"Kalau gue nyanyi bapak ku dokter cinta ya salahhla, bapakku kan pengusahaa."


"Bener sii."


"Iya benerr." Jawab mereka.


Mereka kembali ke posisi.


Melihat muka Asya yang sedang swag jutsu, mereka terkekeh lagi.


"Receh banget lu padaaa!"


"Muka lu mendukung untuk di tertawakannn." Jawab Azril.


"Istighfar, wahai manusia." Mereka menarik nafas lalu berusaha fokus lagi. Padahal lagu sudah terskip dua kali, tapi permainan belum berlanjut.


"Istighfar duluu yah. Okee, LANJOTTT!"


Giliran Irgi servis sekarang. Servisnya Irgi mengarah ke Ara, Ara menerimanya. Mereka terus passing.


Kali ini permainan serius karena bola belum jatuh juga setelah lama berputar.


Ara sampai mundur-mundur untuk menerima bola. Tanpa sadar ia menabrak dada Haikal. Haikal oleng, mereka berdua jatuh bersama dalam posisi Haikal di atas tubuh Ara.


"Astaghfirullah, mata Asya ternodai." Asya menutup matanya.


"Azril polos, Azril gak boleh liatt." Azril juga menutup mata.


Twins ni kenapaa siiikk?! ಥ‿ಥ


Yang lain masih terus menatap Ara dan Haikal. Mereka berdua sedang tatap-tatapan.


Jangan tanyakan bagaimana detak jantung Ara. Ara rasa jantungnya ingin kabur sekarang juga.


"EHM!" Kan baru sadar.


Haikal bangun lalu membantu Ara.


"Sodap taee pandangannyaa. Kalau mau bercocok tanam di rumah aja, Bro." Ujar Racksa.


"EMANG GAK ADA AKHLAK SI RACKSA!"


"Dari dulu." Jawab twins kompak.


"Astaghfirullah!" Twins cengengesan.


"Arsenn."


Arsen mendekati Asya yang masih menutup mata, "kenapaa? Mau juga?"


"Mau apaa? Mau gue tabok luu?!" Arsen tertawa kecil.


"Buka mata kelen, twins. Udahh gak ada adegan lagi kokk," ujar Irgi.


"Kasian si kecil matanya ternodai." Arsen meniupi mata Asya sesekali mengelusnya.


"Meresahkan betullll bang Arsenn!"


"Kalau dah bucinn apapun gak tau tempatt!"


"Buat iri ajaa, kasian penonton jomblooo."


Arsen tertawa mendengar protesnya mereka.

__ADS_1


"Arsen emang.... MERESAHKANN!" Arsen cengengesan.


"Iri sekali kamu, ibab."


"Astaghfirullah, Sen. Bersodaaa!"


"Gini nih kalau otaknya kebalik baliik." Mereka terkekeh mendengar protesannya Haikal.


"Weii, ganti laguk yee. Pake hp gue aja." Irgi mengganti ponselnya.


"Dugeman lah kita ni, lagunya Irgi dijean semuaa." Irgi cengengesan. Ia kembali ke posisi setelah menyetel lagu.


Dan benar sajaa, Irgi menghidupkan lagu dj-nya. Mereka semua terfokus ke joget-joget orang mabok dari pada ke volly.


"Can I have your daughter for the rest of my life? Say yes, say yes, 'cause I need to know. You say I'll never get your blessin' 'til the day I die. "Tough luck, my, but no still means no" Why you gotta be so rude?"


"Don't you know I'm human too? Why you gotta be so rude? I'm gonna marry her anyway. (Marry that girl) marry her anyway. (Marry that girl) no matter what you say. (Marry that girl) and we'll be a family."


"Why you gotta be so rude? Why you gotta be so rude?"


Beberapa lagu terlewati dan mereka... konserrr terosss!


Betul kata Yuna, mereka kebanyakan konser sambil joget orang mabok daripada main volly.


"Dahlah capekk. Pusing pala ku geleng-geleng terosss." Keluh Asya yang sempoyongan.


"Sama gue jugaa." Sahut Ara.


"Ya lu ngapain geleng-geleng, pinterrr?!"


"Kan lagunya emang gituu, geleng-geleng. Ikutan geleng-geleng lah guaaa."


"Semerdeka mereka aja lah udahh. Btw, gue auss. Perwakilan beli ke kantin kekk," suruh Arsen.


"Lu yang bayar?"


Arsen mengambil uang seratus ribu dari sakunya.


"Nah mantepp! Tuwaga patmanam jupanla–"


"Sepuluh! Lama amat ngitung doang." Irgi cengengesan.


"Pyy, ayok."


"Mo beli es aapa?"


"Es yang dingin!" Jawab Asya.


"Kagak ada es yang panasss, Asyaa! Dahlaa," Mereka berdua pun pergi menuju kantin.


Yang lain duduk lesehan di dalam lapangan volly. Asya yang masih sedikit pusing menyandarkan kepalanya ke bahu Arsen.


"Masih pusing?" Asya mengangguk sebagai jawaban. Arsen mengelus lembut kepala Asya. Semua itu tidak luput dari pandangan siswa-siswi lainnya.


"Lama kali yang beli ess." Keluh Dino sambil berdiri lagi.


"Kan banyak peakk, sabar kek." Omel Asya.


"Yayaaayaa!"


Dino dan Azril saling passing bola volly.


"Unaa, geser sebentar. Ntar kena," Yuna pun bergeser.


Azril dan Dino menggeserkan human-human di sekitar mereka. Setelah itu mereka leluasa bermain.


Prannngg!


Pukulan Azril mengenai kaca jendela. Dan parahnyaaaaa, itu kaca jendela ruangan rapat.


Padahal jauh jaraknyaa gaiss. Bayangkan betapa kuatnya pukulan Azril!!


"Cokk cokk, firasatku gak bagus ini. Cabut ayok cabutt!" Ajak Dino.


"Ayok ayokk!"


"Hehhh lu pada juga bubaarrr. Skoyy cabuttt!" Mereka berlari tak tentu arah.


"Ngapain lari siik?!" Tanya Asya yang lagi mager.


"Ntar di kasusss, piee?! Udah ayokk cari amaann!"


◕◕


11.45, Asz Group.


"Assalamu'alaikum, Om."


"Eh, Arsen, wa'alaikumsalam. Sendirian?" Arsen menyalami tangan Aska lalu mengangguk.


"Tadinya mau Aska samperin kerumah tapi untungnya om di kantor."


"Emang kenapa kalau om di rumah?"


"Gak enak bicarain ini kalau ada tante Zia."


"Assalamu'alaikum gaisss!"


"Wa'alaikumsalam. Lu ngapain si masuk ruangan gue muluk?! Demen sama gue, ya?!" Rafael terkekeh.


"Gini lho, boss. Gue kan asisten pribadi lu, jadi ya gitu."


"Yaa gituu ya gitu. Gue banting mampusss lu, Rap!" Arsen tertawa melihat keduanya.


"Duduk, Sen."


"Iya, Om. Thank you," mereka bertiga ke sofa ruangan Aska.


"Kamu udah sehat, Sen?" Tanya Rafael.


"Alhamdulillah udah, Om. Lukanya gak parah parah amatt."


"Calon mantu gua kuat, Rap. Gak kek lu, kena cepit pintu opname tujuh hari."


"Ngarang lu, kampret!" Aska tertawa kecil.


"Om Aska sama Om Pael kagak pernah akurrr, ya?"


"Aska punya dendam privat, Sen. Selain itu dia pms, jadi ya gituu."


"Minta diusir pake satpam ni anak!" Rafael cengengesan.


"Oke sabar, Aska. Kenapa kesini, Sen? Ada berita apa?"


"Emang kalau kesini harus baw–"


"Diam atau potong gajiii?!" Rafael auto kicep. Arsen tertawa lagi melihat keduanya.


"Mantep! Kek guk guk yang patuh sama majikan."


"Astaghfirullahalazim, Askaaa!!" Aska cengengesan.


"Kamu mau bicara apa tadi?"


"Ternyata bener, Om."


"Bener apanya?"


"Tara fake nerd."


"Hahh?!" Arsen menganggukkan kepala.


"Jadi dia yang ngasih kucing ituu?"


"Nggak, Rap. Yang ngasih tu bodyguard yang nyamar."


"Teruss si Tara itu? Dia pasti sekongkol sama bodyguardnya. Dan mereka berduaaa... anggota Darren?!"


Aska tertawa remeh mendengar teori Rafael.


"Kenapa, Om?"


"Percuma dibaikin Asya taunya nusuk gini. Asya udah pernah jatoh dari lantai tiga demi dia tapi malah gak tau diri. Lucu, yaaa. Nyakitinnya gak ngotak ini mahh!"

__ADS_1


__ADS_2