
H-1 Hari raya Idul Fitri.
10.35, rumah abu-abu.
"Coyy, Arsen bener bener gak hubungin gueee setelah beli baju kemarinn." Keluh Asya sambil keluar dari kamar.
"Nggak ada samsek??" Asya menggeleng.
"Sama sekali gak adaa!"
Azril dan Racksa tepuk tangan, "saluttt saya."
"Mundur apa gimana ya dia?" Tanya Racksa heran.
"Mundurr? Yakaliii Arsen munduuur. Arsen tu gak mundurr, taruhan berapapun berani gue." Kata Azril meyakinkan.
"Tapi bisa aja tauu. Kalii aja dia bosen ngadepin gueee," ujar Asya.
"Emang sabii sih. Lagian lu kenapa begoo banget? Ngikutin dramanya Upii, sampe bener-bener beli cincin?" Tanya Racksa.
"Loll, cincin nya kan cincin perkumpulan. Cincin yang emang ditempah buat persatuan HitSum."
"Lagi pulaa, lu tau sendiri gimana si Upii. Gak tenang idupnya kalau gak gangguin guee."
Azril dan Racksa cengengesan, "bener sih!"
"Btw, lu kehilangan?" Tanya Azril menggoda.
"Kehilangan apaann?! Kagak!"
"Ailahh, jujur ajaa lu. Bentar lagi eraya nihh!"
"Gak usah ngaco!" Mereka terkekeh melihat Asya malu-malu.
"Dia gak ada hubungin lu, Zril?" Tanya Racksa.
"Kagak adaa, login game juga gak adaa."
"Semedi dia kurasaa."
"Goblougg. Lu gak jadi tempat tante Yuka?" Tanya Asya.
"Nggakk. Tante Yuka tempat mertuanyaa," Mereka berohria.
Ting.. Ting..
Asya meraih ponselnya.
Keluarga Blasteran Surga
cute mommyy, hensembroder, royal daddyy, You
cute mommyy
Assalamu'alaikum nak anakkk.
Kalian dirumah abu-abu, kan?? Ngapainn?
hensembroder
wa'alaikumsalam, momm. iya di rumah abu-abu, lagi menggabuttt.
^^^iya momm, menggabutttt.^^^
royal daddyy
Kemarii.
Jemputt barang!
hensembroder
racksa ikutt?
cute mommyy
Kalau nggak, kasian ntar dirumah sendiri. Ajakin gih.
^^^owgheyyy, otw bosssss.^^^
hensembroder
peeeww
"Ayokk ke rumah utamaa." Ajak Azril.
"Sekarang?" Twins mengangguk.
"Demi apapun gue males naik mobil. Naik motor aja gimanaa?" Usul Asya.
"Haaa, mantapp!"
"Okee, lu bedua. Gue sendiri."
"Nggak nggakk! Bagus naik mobil kalau gitu!" Tolak Azril.
"Lahh?!"
"Lu sama gue atau nggak sama Azril, baru bisa naik motor." Titah Racksa.
"Yaudinn, gue sama Racksasaa." Asya masuk ke kamarnya, mengganti baju kemudian kembali keluar.
"Lu pada gak ganti baju?"
"Gak, maless. Udah? Ayook!" Mereka mengambil kunci motor lalu keluar bersamaan.
Asya menunggu Racksa didepan gerbang, "om bodyy, Asya sama yang lain ke rumah utama dulu yaa!"
"Oh oke, nona muda. Hati hati, nonn." Asya mengangguk sambil tersenyum.
Racksa muncul sambil memberikan helm nya, Asya menerima helm itu lalu naik ke motor sport Racksa.
Mereka pun pergi menuju rumah utama.
Dijalan, bukannya memeluk Racksa, Asya malah memegang pundaknya. Kalau sama Azril, ia memegang perutnya tanpa memeluk.
Maunya gak pegangan, tapi si penyupir bawa motor kea orang kesetanann.
Beberapa menit kemudian mereka tiba, Asya turun dari motor lalu masuk dengan gaya super songong.
"Assalamu'alaikum!!"
"Wa'alaikumsalam," Asya menghampiri mommy nya yang berada di dapur.
Racksa dan Azril menyusul.
"Nihh, anter ke rumah besarr."
"Eii? Sekarang?" Tanya Azril.
"Ya jadi kapan? Kan kalian emang disuruh anter ke sanaa."
"Istirahat bentar kek, Ntyyy."
"Yaudah sanaa. Baju lebaran kalian di kamar, yaaa."
"Racksa gimana?" Tanya Asya.
"Racksa? Nanti tau sendirii."
"Ehh, kalian naik motor?" Aska muncul tiba-tiba.
"Daddyy." Asya menyalami tangan Aska, Aska memeluk dan mengecup rambut putri cantiknya.
"Puasaa?" Asya mengangguk.
"Azril, Racksa?" Mereka berdua juga mengangguk.
"Good. Anterin sana tempat halmoniii." Suruh Aska.
"Emang mau ngapain, Unclee??"
"Nanti malem sampe dua hari kedepan, kita disanaa."
"Kok gitu? Emang ngumpul semuaa?" Aska berdehem.
"Yaudah sana antarrr, pake mobil daddy yang warna hijauu." Asya berlari mengambil kuncinya.
"Asya yang nyetirrr!" Ia langsung berlari keluar rumah menuju garasi.
"Emang kamprett."
◕◕◕
"Assalamu'alaikum, ASYA YANG CANTIK KEA BIDADARI DATAAAAAANGG!"
"Ahhh, si akhlakul minus datangg."
"Bang Prijii ga bole gituu, nanti Asya lempar mampusss!"
"Kamu duluan yang abang lempar."
"Ei no noo, abang dulu yang Asya lemparr!"
"Haaa, gelot terosss! Thr gak bakal ada kalau kalian gak akur!" Omel Zean galak.
Frizy mendekati Asya, "adek cantiknya abang bawa apa? Berat gak? Mau abang bantu?"
"Najisss bangettt, adek siapa sih?" Tanya Zafran sinis.
"Bacot deh lu, bang!" Mereka terkekeh.
"Kalau di pikir-pikir sihh, emang mengnajisss." Sahut Racksa.
"Ya Allah. Paa, liatlaaaahh, mereka yang cari ributtt." Keluh Frizy.
"Balik ke tk sana lu bang, biar kea upin ipin. Dah tua tapi masih tk." Cibir Azril.
"Parahhh, parahh! Gak dapat thr kalian!" Frizy pergi ke kamarnya.
"Fiks, bukan adek gua!"
Mereka tertawa lagi.
"Mommy daddy kalian datang jam berapaa?" Tanya Zeva, halmoninya Asya.
"Nggak tau jugaa. Maybe bentar lagii, halmonn."
"Frizyyyy. Frizyyyy!"
"Iyaaa, Paa?"
"Mau balik ke tadika mesra?"
"Ngapain? Gak ada pacar Frizy disana."
__ADS_1
"Pacar pacarrr, apaan luu?! Masih bocill woi!" Frizy menoleh.
"Kejaaaaaaa!"
"Asyaaaa bangsatttt!!"
"Kevan, mau mama sembelih lidah kamu?" Kevan cengengesan.
Who is this Keja?
He is Kevan Zaffar Hitler can be called Keza or Kejaa. Ia putra tunggal kesayangan Zai dan Kinan. Hubungannya dengan Asya sebatas persepupuan, tidak lebih.
"Jajajaaa."
"Apaaann si astaghfirullah!"
Asya tertawa, Keja emang selalu emosian.
"Jaa, lu bagusan dikit. Gue sembelih mau?" Tanya Zafran sinis, ia membela adik sepupunya yang tercantik.
"Aww. Bang Zapp, nanti thr kita bagi dua ya!"
"Iyaa. Punya kamu, bagi dua ke abang kan?"
"Tebalekkk!" Jawab Asya.
"Yaudah gak usah jadi."
"Astaghfirullahalazim. Bersoda bangettttt!" Zafran tersenyum songong.
"Yakk, recok terosss!"
"Wahaaaa, ada Ongkell Lulu gaisss. Thr memenuhi rekening saya besok, huahahaha." Azril bangga, teramat sangat bangga.
Azril adalah ponakan tersayang Luis, kalau Syifa sendiri lebih menyukai Asya.
"Pede amat lu, nyett! Gue aja cuma dikasih dikit." Keluh Upi yang ikut turun bersama.
"Luthfi Leeonardan Hitler, sepupu ku tercintahhh. Kamu itu udah tua, jadi ga cocok dapat thr kebanyakan." Jawab Azril.
"Bener tuh bener. Ongkel Lulu pasti menuhin rekening kita kecuali diaaa." Sahut Zafran.
"Iyakah?" Luis dan Syifa mengangguk.
"Upi anak siaapa siiihh?!" Mereka terkekeh.
"Eh ehh, bang abang. Upi punya gosipp!" Berkumpullah para persepupuan itu di sofa sudut ruangan.
Persepupuan HitSum berisi Zafran, Frizy, Racksa, Azril, Asya, Keja dan Upi.
"Gosip apa, Pii?!" Tanya Frizy tak sabar.
"Heran gue, demen amat denger gosip!" Cibir Asya.
"Lu dengerin, kann?!" Tanya Keja sinis.
"Oh ya jelas. Lanjut, Pi!"
"Satbangg!"
"Jadi gini.. abistu gitu, dan jadinya gitu."
"Mati ajalah kau, Pii! Capek kali punya sepupu gini!" Mereka bubar.
"Astaghfirullahalazim, dimanapun itu Upi yang ganteng ini selalu ternistakan!"
"Bacotttt, goblougg."
Para orang tua geleng kepala sambil tertawa melihat anaknya. Tanpa sadar, Zia dan Aska sudah berada disana.
"Eh? Mommy daddy kapan sampe?"
"Tadii malam." Jawab Zia santai.
"Oke, ncengg." Zia cengengesan.
"Halmonnn, kamar Azril di tuker lagikahh?"
"Kamar kalian kan udah jadi satu ruangan, pake kasur tingkat tuu." Jelas Zean.
"Oya, lupa Ongkel. Selo aja matanyaa." Zean melotot kearah Azril.
"Aww takuttt." Secara bersamaan mereka pergi ke kamar itu.
"Sumpahh ni, gue mau gosiip." Mereka menatap Luthfi.
"Why?"
"Kemaren, gue garain Asyaa. Teruss, cowoknya jealous pake bangett!"
"Cowoknya yang manaaa?" Tanya Frizy serius.
"Ishh, ituloo. Yang ganteng, terus matanya duaa." Jawab Keja.
"Diam kau, Keja. Belum ku smekdon pala mu tu!" Keja cengengesan melihat sepupu tertua mulai emosi.
"Cowok yang manaaa?!" Tanya Frizy lagi.
"Si Arsen. You know Arsen?" Tanya Racksa gantian.
"OHH ITUUU.."
"Tauu?"
"Iyaa, yang punya kaki dua mata dua telinga dua kan?"
"Siapa sebenarnya? Bukan sama temen abang itu kamu?" Tanya Zafran menatap Asya yang pura-pura tidak mendengar.
"Siapa, bang? Fauzi?" Zafran mengangguk.
"Alahhh, melempem! Lagian gantengan Arsen lah daripada Fauzii." Jawab Azril.
"Fauzi yang mana? Arsen yang mana?" Tanya Keja.
"Arsen yang lu bedua temuin di mall kemaren. Kalau Fauzi, cari aja ignya."
"Namanya?"
"Cari di pertemanan abangg." Jawab Zafran.
"Aihh.. dahlah, kalian menggibahin cucu terimut. Ku laporkan dulu biar kena marah teruss kena mentall kalyan!" Asya turun dari tempat tidurnya.
Ia keluar dari kamar dan membanting pintu.
"Kebanyakan makan kulit jengkol ya gitu dia!"
◕◕◕
Waktu berbuka tiba, kenikmatan hakiki bisa merasakan buka bersama dengan keluarga yang masih teramat sangat lengkap.
"Nanti malam takbiraan." Asya mengode.
"Mau kemana?" Zafran terpekaa!
"Kemana aja yang penting dibayarin."
Upi, orang beduit yang sok gak punya duit!
"Makan ajaaa, kan enakkk."
Frizy, yang demen makan tapi gak gemuk-gemuk.
"Nggakk. Bagus kita balapan!"
Keja, hobinya suka cari mati.
"Bagus rebahan." Racksa termager.
"Lebih baik men gem!" Azril pemabok game.
"Dahlah, alangkah baiknya.. KALIAN SHOLAT SEKARANGG!"
"Ampun. Ongkel Zean sama Bang Zap sama rupanya, suka ngamok." Mereka kembali ke kamar persepupuan dan sholat berjamaah.
Zafran imamnya.
Setelah sholat, rutinitas yang sering mereka lakukan adalah mengaji bersama. Mereka ngaji bergiliran, seperti tadarus.
Hampir setengah delapan, mereka selesai mengaji.
"Duuuuu, ganteng bangett anak mamiii!" Puji Febby pada Zafran.
"Frizy, Mii? Frizy gak ganteng?"
"Nggaklah, bangg. Lu aja ngelap ingus masih pake baju koko." Jawab Keja.
"Lama lama bunuh diri nih gue!" Mereka terkekeh.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Eiyooo, Omaa Alice dan Opaa Hans. Pakabar, Opaaa?" Tanya Racksa menggaul.
"Alhamdulillah baa–"
"Assalamu'alaikum."
"Mamaa?" Racksa terkejut, mamanya datang bersama dengan sang papa.
"Haloo!" Sapa Refiona sumringah.
"Bang Racksaa, baju lebarannya di bagasi." Kata Refiona, Racksa mengangguk. Ia memeluk mamanya karena terlampau rindu.
"Wegeeee, bumill!!" Mereka menyambut dengan ceria, Racksa melepas pelukannya.
"Sehatkan, Kak Refi?" Tanya Kinan.
"Alhamdulillah." Refi tersenyum.
"Lu gak nanya gue, Kin?" Tanya Aksa.
"Nggak, Bang. Kita gak kenal!"
"Toppp, mantap istriku mantap!"
"Kalau bunuh orang gak dosa..."
"Mau bunuh orang kamu?" Tanya Hans sinis.
"Makanyaaa kalau Aksa ngomong jangan papa potong tengahh." Aksa kesal, Hans cengengesan.
"Terus cemana, Uncle? Kalau bunuh orang gak dosa...?"
"Penjara kosong lah."
Mereka terpelongo.
__ADS_1
Jokes bapak-bapak emang gitu kan yaaa?! ಥ‿ಥ
"Jokes bapak-bapak mah bedaa." Mereka tertawa.
"Mari skip jokesnya bapak-bapak. Ayo jalan jalannnn!" Ajak Upi.
"Mau kemana?" Tanya Zia.
"Kemana ajaalahh, masa iya malam takbiran kami dirumahh."
"Jadi? Mau jual diri?" Tanya Zai gantian.
"Mau open BO, Ongkell. Yang open BO Asya."
"Minta di tabok pake batu bataa!" Keja cengengesan.
"Yaudah sana kalau mau keliling. Pake satu mobil ajaa, biar gak ribett." Suruh Aska sambil memberikan satu kartu kredit dari dompetnya.
Tangan Upi berusaha menggapai, namun Zafran yang merebutnya.
"Sebagai abangann, saya haruss memegang ini agar tidak hilang."
"Widiiii, megang kartu cepet banget tangannya!" Zafran tertawa kecil.
"Mari kita cari mobil yang pass." Mereka keluar rumah kemudian menuju garasi.
"Eum eum.. enaknyaa pake mobil Ongkel Luis. Agak gede kannn, jadinya muat bertujuhh." Kata Azril.
"Nahh, deal. Upii, pinjem sana kuncinyaa!"
"Astaghfirullah, gue juga yang kenaa!" Upi masuk meminta kunci, hanya beberapa menit. Ia kembali lagi sambil membawa kunci mobil putih Luis.
"Asya depannn!" Zafran yang menyetir.
Yang lain duduk di belakang dengan tenang.
"Enaknya naik motor, biar bisa balapannn." Ujar Keja.
"Ja, gue belum mau mati. Lu jangan nyari mati muluuu!" Keja cengengesan.
"Mau kemana jadinya?" Tanya Zafran sambil mengemudi.
"Gue laper, makan yuk bangg!" Ajak Racksa.
"Good idea. Gue juga laperr!"
"Makan di mana? Mekdii?"
"Jejepangan ajaaa." Usul Frizy.
"Sushi teros makananmu." Omel Zafran, Frizy nyengir kuda.
"Ish, jadinya apaa dong?"
"Pecel lele, mau?" Tanya Zafran.
"Bebek bebekkk!"
"Enaknya ayaaamm!" Sahut Upi.
"Unta aja bagusan!" Mereka terkekeh.
Zafran tidak memperdulikan usul mereka, ia mencari kafe tempat biasa nongkrong. Makanan disana enak, Zafran sangat suka.
Setibanya disana, Zafran memarkirkan mobil.
"Serius, bang? Disini?" Tanya Asya.
"Iya serius. Kenapa?"
"Rameee begooo." Jawab Frizy kesal.
"Apa gunanya kartu ini kalau gak buat nyerobot? Masuk VIP lah pintarr!"
"Iyasih." Mereka keluar dari mobil kemudian masuk ke kafe itu.
"Wahh.. selebgram pasti yang sering kesiniii." Kata Upi sambil melihat sekeliling.
Tanpa sadar, Upi melihat pria berpakaian serba hitam di dekat mobil.
"Bangg, itu siapa??" Bisik Upi pada Zafran.
Asya yang mendengar langsung menoleh. Mereka bertujuh keluar bersamaan ketika mereka sedikit mencurigakan.
Asya ingin maju melawan tapi Zafran menyuruhnya mundur.
"Lu siapaa?" Azril dan Racksa melihat lengan kanan kirinya.
"Eiii, ini mah bodyguard daddy."
"Bodyguard?" Beo Keja.
"Ahaaa, gak tau lu ya. Kami ni dijaga pake sertifikat halal." Jawab Azril.
"Lu juga halal, Zril... Halal untuk di pukul!" Azril cengengesan.
"Maaf, Pak. Udah suudzon tadik." Kata Upi.
"Gapapa, den. Lanjutin aja makannyaa."
"Bapak mau?" Tawar Asya.
"Baru makan tadi, Nona. Kalian makan saja."
"Yaudah kalau gitu. Kami masuk dulu Pak." Mereka tersenyum lalu masuk.
Bruk..
Azril menabrak karena tidak fokus melihat jalan.
"Ehh sorryy." Azril membantu mengambilkan tas wanita itu.
"Lahh? Nainaa?"
"Azril? Wahh apa kabarrr?" Azril tersenyum.
Dahlah, dunia berasa milik mereka berdua doang. Yang lain ngontrak!
"Gue baik, lu apa kabar?"
"Alhamdulillah." Azril menoleh, ekspresinya berubah seketika.
"Hiraa, ayokk. Udah di tungguin sama mertua inii." Kaina tersadar, ia pamit lalu pergi.
Azril auto badmood.
"Ceweknya Azril tuh?" Tanya Frizy meledek.
"Bukannnlahh. Yang disamping si cewekk, tunangannya gue rasaa." Kata Keja.
"Iyaaa, tadi dia bilang mertua kann?"
"Hooohh."
"You know gengss. Azril pecinta pacar orang!"
"HAHAHAHAA, SEDBOIIII!"
◕◔◕
Takbir terus berkumandang tanda hari raya sudah tiba. Keluarga Hitler Kusuma–HitSum–sedang menikmati opor ayam yang dibuat tadi malam.
Mereka sudah pulang sholat Ied dan sudah bermaaaf-maafan, banyak yang mengeluarkan air mata karena terhura:'
"Thr udah Ongkel transferr." Serentak mereka mengecek ponsel.
Satu setengah juta dari Zean. Tak lama kemudian masuk dari Aska, Zia, Aksa, Zai, Luis, Zeva, Zeco, Alice, dan Hans.
Thr orang kaya emang bedaaa... main transferr brooo!
"Alhamdulillah, gaisss. Akhirnyaaa, saya punya tabungan lagiii." Upi merasa bahagia, seperti bocil yang dapat thr.
"Selama ini gak dikasih duit? Apa gimanaa?" Tanya Aksa.
"Gue kasih, Cuy. Jatah perbulan, tapi belum sampe sebulan udah habisss. Belagak gak punya duit lah diaa." Upi cengengesan.
"Btw, sayangg, mana yang ditunggu gak datang-datangg?"
"Saha, momm?"
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam. Panjang umur kamu, Senn!"
'Hahh?! Arseeennn! Gilaaa, ganteng banget anak manusiaa! Tapi dia gantengnya gak manusiawi sekaraaang!' batin Asya menjerit.
Asya tidak pernah memuji orang seeee-alay inii. Itu artinya, Arsen benar-benar tampan.
Setelah bersalaman, Arsen menatap Asya dengan tatapan aneh. Seperti tatapan... Rinduu?
"Ini toh, Arseenn?" Tanya Frizy.
Arsen tersenyum tipis, agak badmood melihat Upi dan Keja. "Gue Arsen, bang."
"Lu masih ngira gue pacarnya Asya atau tunangannya?" Arsen mengangguk pelan.
"Emang iya, kan?" Tanya Arsen sambil melihat jari Upi dan Asya. Mereka memang memakai cincin couple, padahal itu cincin persepupuan.
"Noooo! Big noo! Di sejarah perhitleran kita gak ada namanya nikah sama sepupu yaa, jangan ngada-ngadaa." Omel Zeco.
Upi dan Keja tertawa, "nggak lah opaaa. Cuma garain Asya aja kemarenn."
"Wait wait..."
Arsen menatap Asya, "sepupu?"
"Iya, sepupuu."
"Anjirttt, tau gitu gue telpon luuu! Tersiksa banget gue sehari gak ngehubungin luu!" Kata Arsen sedikit prustasee.
"Yang nyuruh gak ngehubungin siapaa?" Tanya Asya sok cuek.
Arsen mendekat, mencubit pelan pipinya.
"PAK RW!"
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Asyaa POV
Assalamu'alaikum gaiss.
Gue mewakili seluruh pernovelan Barbar Generation –termasuk author– meminta maaf yang sebesar-besarnya kalau kebanyakan kalimat toxic atau mungkin ada kata-kata kami yang menyinggung hati.
Agak telat sih.. tapi ya mau gimana lagi ekan? Author sengklek sukanya molor time up. Ehh, jangan gibah nanti gue di matiin sama author.
__ADS_1
Dah, yaa. Pokoknya mohon maaf lahir dan batinn, gaisseu. Tolong maapin, tapi kalau gak mau maapin... yaudah terserah!
Alvin said, "dasar cewek!"