
Kringg... Kriingg... Kring...
08.45
"Hah??! Udah jan delapannn?!!"
"AAAAAAAA KENAPA GAK ADA YANG BANGUNIN ASYAAA?!"
Asya langsung bangkit dari tidurnya, ia menuju kamar mandi lalu bersiap-siap.
Asya tidak pakai baju sekolah, ia berniat untuk pulang dulu dan berganti nantinya.
Setelah selesai, ia turun. "Kenapa gak ada yang bangunin Asyaa??"
"Bangunin kenapaa? Emang ngapain??" tanya Haikal yang keluar dari dapur.
"Sekolah tolill"
"Libur oonn"
"Libur dari manaa? Ngaco luu!!" Asya membuka kalender di ponselnya.
"Oiya libur, kenapa gak ada yang konfirmasi ya??"
"Au dah lu stress!!" protes Azril di balik sofa.
"Laknat!! Mommy daddy manaa? Dino, Arsen, Racksa??"
"Mommy daddy keluar bentar, katanya ada urusan" ujar Azril.
"Dino, Arsen, Racksa di ruangan gym" jawab Haikal.
"Lu bedua kagakk nge-gym??"
"Udahh anjirr"
"Ohh udah, gue ngapain ya?? Ya kali pagi-pagi rebahan lagi"
"Nge-gym aje sono"
"Gak makasih, biasanya cowok kalau nge-gym pake baju ketat terus seksi. Gak gak, mata gue harus suci"
"Bacottt, Asyaaa bacottt. Kerjaan lu aja ngintipin gue, Ical sama yang lain mandii" cibir Azril.
"Gila lu yaa! Kapan gue ngintiippp?!"
"Ohh ituu yaaaa" Sahut Haikal.
"Apaa??"
"Itu, dulu. Pas ke kolam renang, gue, Dino, Azril, Caka sama Apin mau ganti baju. Terus lu ngintipp"
"Bangsul!! Gue kagak ngintippp ituu, cuma gak sengaja keliatannn"
"Alesannn sekalii kamu julaeha" ledek Azril sambil melempar kacang yang ia makan.
"Hisshhh!! Gue mau renang aja dehh"
"Pagi pagi? Bukannya lu udah mandii?"
"Iya juga sihh"
"Yaudahh sini ajaa" Haikal menarik Asya duduk ke sebelah Azril.
Asya menurut, dia duduk di sebelah Haikal. Haikal menarik kepala Asya agar bersandar di pundaknya. Lagi-lagi Asya menurut.
"Nonton drakornya Moonbin Astro yukk" ajak Asya.
"Yang Mermaid Prince itu??"
"Lu tauu, caall??" Haikal mengangguk.
"Mc ceweknya cakepp"
"Anjirrr, skip. Nonton yang lainnn"
"Film biru" ujar Azril.
"Ini otaknya.."
Bugh!
Asya memukul kepala Azril dengan bantal. Azril yang di pukuli tertawa cengengesan.
"Udah woi udah, tulul banget kadang"
Asya berhenti memukuli Azril, ia menghirup udara banyak-banyak. Haikal yang di dekatnya membantu merapikan rambut Asya.
"Enaknya, nonton Spongebob movie"
"Deal!!"
"Pake hapenya icall"
"Yaudah nahhh" Haikal memberikan ponselnya. Asya membuka ponsel Haikal lalu mencari film di Netflix.
"Guys, bagusnya nonton horor gasiii?"
"Masih pagi ya juleha, jangan ngadi-ngadii"
"Ish, kan seruuu. Ayokkkk!! Nonton ini ni, Jailangkung"
"Gue baca judul aja udah merinding, gak usahh"
"Ahh penakut! Lu gimana call? Setujuu??"
"Ayok ayok aja gue mahh"
"Gajadi deh gajadiii" Asya mencari film lain.
"Kenapa gak jadi??"
"Cal, Asya tu penakut. Gayanya aja ngajakin, ntar ujungnya malem gak bisa tidurrr. Ni misalnya kalau nonton, terus malemnya gue mau keluar futsal gitu, pasti dia gak ngijinin, kagak mau di tinggall. Pokoknya dia penakut"
"Lu kan juga penakut!!"
"Ya emang, makanya gue gak mo nonton"
"Nyocott teross, pusing gue dengernya!!" protes Haikal.
Asya menatap Haikal, sedetik kemudian ia mengelus kepala Haikal. "Cup cup.. kasian kamu jadi korban berantem."
"Bajing!!" Asya terkekeh.
Asya mengambil buah apel yang ada di meja, ia mengupas kulitnya perlahan, memotong buahnya sedang lalu memberikan ke Haikal. "Nih nih makan biar gak ngambek"
"Syaaa, tampoll ni yaaa?"
"Aaaa" Haikal terpaksa membuka mulutnya lalu mengunyah apel yang di berikan Asya.
"Good boy"
__ADS_1
"Gak kebayang besok, kalau anaknya gak mau tetep aja di jejeli makanan. Emang, calon emak gak berakhlak" ledek Azril.
"Bacott ah woi!!" Azril cengengesan.
Kriuk.. kriuk..
Azril dan Haikal menoleh ke Asya, Asya cengengesan.
"Gue kan belom sarapan"
"Mau gue bikininn??" tanya Haikal.
"Emang di dapur gak ada makanan lagii??"
"Di habisin Azril sama Dino, taulah mereka rakus" Azril langsung memukul kepala Haikal dengan bantal.
"Jangan kejujuran"
"Tau gitu ngapain mukulll ajrilllll"
"Gapapa si, pengen nabok ajaa" Haikal ikut mengambil bantal sofa lalu memukul ke Azril. Mereka saling pukul-pukulan.
"Ical icall..." mereka berhenti sejenak.
"Aku laperrr"
"Hah!! Gak kuat gue" keluh Azril.
"Kenapa??"
"Kenapa apanyaa julehaaa? Lu bilang laper sambil pasang puppy eyes, gue yang biasanya jijik liat lu malah klepek-klepek jadinya"
"ZRIL, serem kalau lu suka sama gue. Warasslahhh!!!" Azril tertawa. "Gue warasss kok, sumpahh!!"
"Aabodoamatt"
"Udah ayok" ajak Haikal.
"Kemana bang??" tanya Asya.
"Dapur lahhh"
"Kirain ke KUA"
"Asya semenjak jatuh makin mereng ya??" tanya Dino yang tiba-tiba muncul.
"Manusia gaib gak bisa diammm?!"
❇⚛❇⚛❇
09.57
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
"Waalaikumsalam, mommy cangtipp, daddy hensom!" jawab Azril.
"Eh ada ongkel esmonian, halo ongkel Ze. Pms kah hari iniii?" tanya Asya.
"Baru masuk udah diajak ribut ajaa" Mereka tertawa.
"Bang Zap mana, ongkel???"
"Udah balik ke Jerman"
"Yahhh, kok gak ngabarin Asyaa?"
"Ongkel mau minum apaa? Azril yang buatin" ujar Asya sambil menunjuk Azril.
"Bismillahirrahmanirrahim, HEADSHOT!!!" Azril memukul kepala Asya menggunakan bantal sofa.
"Astaghfirullah, puyeng incesss"
"Lu pukul terus kepalanya makin tololl ntar gimana, Zrill?" tanya Dino.
"Oiya yaa" Azril menarik kepala Asya ke ketiaknya.
"Bangsull!! Mommyyyyy tolonggggg"
Bukannya menolong, Zia, Aska, Zean dan yang lain terkekeh. Azril melepasnya ketika melihat Asya tak lagi memberontak.
"Sya, masih hidup??"
"Hampir mati konyol gue.."
"Waktunya pembalasannn!" Asya menendang keras kedua kaki Azril dari belakang.
Tidak sesuai ekspetasi Asya, Azril malah berputar tiga ratus enam puluh derajat dan kembali berdiri sempurna sambil melipat tangannya di dada.
"Jangan main-main, Azril nih broo!!"
"Okee, tidak ada pilihan lain"
Asya menjulurkan satu kakinya, Azril berhasil menangkap kaki Asya. Asya berputar tiga ratus enam puluh derajat, satu kakinya mengenai muka Azril. Azril terjatuh.
"Hahaha!! Mampusss luu, Asyaaa ni brooo!!"
"Heh udahhh" lerai Zean.
"Biarin aja bang, belum pake pisau ni" sahut Zia.
"Emak melatih kita menjadi sikopat, ayo lanjutkann" Ajak Azril. Ia menuju dapur mengambil pisau.
"Ambil pisau nama keluar dari kartu keluarga!" Azril berhenti.
"Ampun hyung, enceng enceng"
Azril mendekat ke Asya lagi lalu mengelus kepala nya. "Jadi geli gue liatnya" cibir Dino.
Mereka tertawa.
"Kamu tu ya, sya. Sembuh aja belomm, udah betingkahhh bangettt"
"Ehhh ontyyy, hehe gak enak diem ajaa"
"Ya cemana nggak gitu, emak bapaknya juga" sahut Zean.
"Zia gak gituuuu"
"Gak gitu darimanaa? Kamu dulu kena kuku Bian luka dalam itu terus pas kita belanja ke mall waktu itu masih dalam keadaan luka kamu berantem sama beberapa preman. Ngelawan sendiri pulaa"
"Astaghfirullah, kok kakak ingettt?"
"Ingatan kakak kuat, sekuat cinta kakak ke Zean"
"Ah love you sayangg"
"Asya bocil, Asya cabuttt"
"Azril gak liat, Azril tutup mata"
__ADS_1
"Haikal juga"
"Racksa juga"
"Dino juga"
"Arsen jugaa"
Aska, Zia, Zean dan Febby terkekeh.
"Oh yaa, kamu yang nolongin Asya kan?" Arsen mengangguk ragu.
"Mirip betul sama nona Maria"
"Kan anaknya bang, gak usah oon oon bangetlah yaa"
"Mau di smackdown, dek??" Zia menggeleng sambil cengengesan.
"Makasih ya, Arsen"
"Nggak perlu berterima kasih om, udah kewajiban manusia untuk saling membantu"
"Lu ngebantu Asya kan juga karena demen sama Asya" sahut Racksa.
"Sike!!!"
Mereka tertawaa.
"Jadi pelakunya gimana, ka??"
"Belum tau kepseknya tuh, paling besok kak" Zean mengangguk paham.
"Ehemmm" Asya datang sambil membawa jus jeruk.
"Ongkel onty tumben kesini, ada apaahh?"
"Lidah jamet nya mulai" cibir Azril.
"Ngajakin holiday, mau gak?"
"Yajelasss maulahhhhh"
▫▫▪▪▫▫
Pagi harinyaa, Asya keluar dari kamar dengan seragam sekolah dan juga headphone di lehernya. Bukan hanya Asya, Azril pun juga begitu.
Racksa, Dino, Haikal dan Arsen pun turut keluar dari kamar dengan seragam yang di bawakan bodyguard. Mereka sarapan bersama, termasuk Aska dan Zia.
"Mommy rapi banget, mau kemana?" tanya Asya.
"Ada urusan, anak kecil gak boleh tau."
"Iyaaa mom iyaa"
Gak lama kemudian mereka selesai makan.
"Arsen naik motor aja sendiri ya, om"
"Gak mau naik mobil aja??"
"Nggakk, naik motor ajaa"
"Haikal juga om"
"Dino juga"
"Yaudahh kalau gitu maunya. Azril, daddy baik hari ini. Jadi bawa mobil ini" Aska memberikan kunci mobil.
"Yang maana niii, daddy??"
"Liat aja sendiri" Azril, Asya dan Racksa keluar disusul yang lain.
"Anjejeeee, daddy beli mobil sport baruuu??"
"Untuk kamikann??"
"Halu!! Itu punya daddy, udah cepatt berangkatt" Mereka mengendarai kendaraan masing-masing menuju ke sekolah.
Sampai di sekolah, semua siswa-siswi menatap mobil sport hitam yang di bawa Azril. Mobil itu benar-benar mengkilapp, persis seperti baru.
"Mobil limited edition anjirr" bisik Asya ketika melihat di google.
"Cakep sih, tapi gak bisa di miliki"
"Anjirrr" Mereka bertiga keluar mobil dengan santai.
Setelah motor dan mobil mereka masuk, satu mobil biru masuk. "Mommy daddy???"
"Sstt" Asya dan Azril auto kicep.
Aska dan Zia bersandar dengan santai di depan mobil mereka. Gak lama setelahnya, mobil sport warna merah masuk.
"Ongkel Zaiii??"
"Maaf semalem ongkel gak nyusul, kamu gapapaa??" Asya menggeleng dengan tatapan keheranan.
Selang satu menit, masuk mobil sport berwarna hijau. "Ongkel Luis??" panggil Azril setelah pemiliknya turun.
"Hai, apa kabar???" Mereka terdiam.
Tak lama setelahnya, masuk lagi mobil sport berwarna putih. "Ongkel Ze?" Zean tersenyum sambil bergaya di depan mobilnya.
"Ongkel betiga ngapainn??"
Belom sempat mereka menjawab, dua mobil sport berwarna abu-abu dan kuning, serta satu motor sport terbaru masuk secara bersamaan.
"Om Pael?" ujar Asya Azril bersamaan saat melihat Rafael turun dari motornya.
"Haii Asya, Azril. Asya luka parahh??" Asya menggeleng dengan sedikit kebingungan.
"Mama papa??" ujar Dino terkejut ketika Tania dan Dimas keluar mobil. Tania dan Dino melambaikan tangannya dengan santai.
"Papa ngapain disiniii??" tanya Haikal pada Ivan dan Ica.
"Nganter emak lu, sekalian liat pertunjukan. Lumayan, siapa tau ada pertumpahan darah" jawab Ivan santai.
Semua siswa di sekeliling menatap mereka dengan tatapan was-was, terutama gengnya Meli.
"Pa, jangan bilang papa psycho??"
Ivan tertawa mendengar pertanyaan Haikal, kemudian ia menoleh ke Asya.
"Asya masih sakit?? Mereng nggakk??"
"Hah? Enggak kok om" Ivan mengangguk paham.
"Ini kenapa rame rame kemariii??" tanya Azril heran.
"Pembalasan atas tumpahan darah" jawab Zai santai.
"WHATTT?!!"
__ADS_1
Asya memegang kepalanya, "mampusss guaaaaaa. Harusnya mommy daddy kagak tauuu!"