
"Anjjj!!"
"Heheee, ampun pak"
"Cot! Btw, lu semalam jalan sama Fauzi kan?" tanya Haikal, Asya mengangguk santai.
"Semalamnya lagi sama Arsen. Gila si betina satu ini" sahut Azril.
"Ck.. jangan kek gitu ya, samsudin! Lu kesannya gak baik ntar. Lu kek gitu juga malah ngasih harapan sama salah satu di antara mereka," Ceramah Haikal.
"Iyaa nggak lagii" jawab Asya santai.
"Gak yakin gue" kata Racksa sambil makan jajanan Asya.
"Isss!"
"Mending sekarang lu pilih deh, Arsen atau Fauzi. Lu pilih Arsen jauhin Fauzi, lu pilih Fauzi jauhin Arsen."
Asya menatap Haikal, "harus milih sekarang?" Haikal mengangguk.
"Menurut lu sendiri gimana? Gue harus milih siapa?"
"Eh! Lagian ngapain sih gue milih? Gue kan cuma keluar bentarr gitu doangg"
"Keluar bentar pala kau ijo. Gue yakin lu ngerti maksud mereka berdua ajakin lu keluar kenapaa" sahut Dino.
"Gue gak mau ngasih suara atau ngasih pilihan. Yang jalanin ntar lu, bukan gue, bukan Azril, Dino ataupun Racksa"
Asya melirik ke arah Arsen, ia terlihat pura-pura bermain ponsel.
"Jangan pilih gue hanya karena alasan kasian" ujar Arsen tiba-tiba.
"Dih dih.. yang mau milih lu siapaa?" tanya Asya sinis.
"Berarti lu milih Fauzii?"
"Yang bilang milih Fauzi siapaa?"
"Anjj! Yang betul, lu milih siapaaa?!" tanya Azril geram.
"Feeling gue dia milih Fauzi sih, Fauzi berseragam" sahut Dino.
"Gue bukan pecinta seragam, toh juga Arsen pake seragam"
"Keputusan lu??"
"Gue milih Arsen, tanpa alasan"
"Tanpa alasan?" beo Dino.
"Cinta itu gak butuh alasan" sahut Racksa.
"Ngaaaacoo! Gue laperrr, bye!" Asya menuju pintu uks.
"Cieee eheemm!! Yang malu-maaluuu" ledek mereka bersamaan. Asya melarikan diri dari uks.
Mereka yang tersisa di uks tertawa, "lu denger sendiri sen? Asya milih lu, bukan orang lain. Gue harap dia bukan mangsa lu" Arsen tersenyum bahagia.
"Bukan.. jelas bukan, dia bukan mangsa gue. Gue gak pernah bawa mangsa ketemu almarhumah nyokap"
Arsen terus tersenyum, "jangan kek orgil" cibir Racksa.
"Bahagia banget gua anjirrr. Ayo kantin, gue bayarin makann!"
❀❀
"Eheeem eeeheeemm, ada betina ni sendirian" goda Dino menghampiri Asya yang makan di kantin.
"Aihss, kalian tu kenapa harus ganggu gitu. Gak bisa apa hidup tanpa guee?"
"Gue sedikit najiss dengernya" balas Racksa.
"Isshhh gak sukaa gelaaayy" Mereka malah tertawa.
"Lu bedua ngapa ikut? Itu kaki gimanaa?"
"Amann, masih ada di tempatnya" jawab Azril santai.
"Apa gaa sakit??"
"Ngga juga, cuma retak dikitt keknya"
"Lapor mommy aahh" Asya berancang-ancang mengambil ponselnya.
"Lu mau Alex dibunuh daddy?"
"Oke gak jadi" Asya kembali makan.
"Nawarin gitu kek, syaa" suruh Dino.
"Gak gak, nanti gue gak kenyang"
"Ck ck.. Lu mau gendut?" Asya tidak menjawab.
"Dahlah pendek, gendut lagi, macem babii pink pula jadinya"
"Anjiirrr luuu!!" balas Asya sambil menggetok kepala Racksa.
Racksa dan yang lain tertawa.
"Eh, Rafy sama Irgi tadi kemana?" tanya Haikal.
"Gak jadi ikut basket juga tadii"
"Ada acara keluarga si Rafy. Kalau Irgi mau nemenin ibu nya check up" Mereka berohria.
"Cal call, lu mo beliin Apin apaa?"
"Hah?? Besok yaa?" Asya mengangguk.
"Lahh gua lupa asukk"
"Lu apa, syaa?"
"Ngga tau jugaa, bingungg"
"Kompakan aja yok hadiahnyaaa" ajak Dino.
"Isinya?"
"Sempaaakk doraemonn"
"Ohh iyaa, yang ada kantongnya" sahut Azril.
"Hahaha, peak benerrr woii astaghfirullah" mereka tertawa bersama.
"Btw tadi sempakk pink beneran, Din?" tanya Arsen.
"Iyaa, dia pake sempakk pink" sahut Asya.
"Ada kantongnya juga depan belakang" di lanjutkan Haikal.
__ADS_1
"Di kantong depan itu ada gambar barbie-nya" kata Azril ikutan.
"Kalau di belakang gambar tayo" Racksa pun ikut meledek.
"Astaghfirullah, hancur sudah image Dino" keluh Dino kesal, mereka terkekeh.
"Bener kann kami? Kami paling ngertiin lu, din" ujar Haikal.
"Matamuu!!"
"Halahh malu-maluu.. WOIII SEMPAKK DINO WARNA PINK ADA BERBIEE-NYA!!" teriak Asya keras, seluruh siswa-siswi yang di kantin terkekeh mendengarnya.
Dino yang di permalukan menutup mukanya dengan bersender pada Haikal.
"Seme ukee"
"Heh!! Astaghfirullah" protes Haikal.
"Klarifikasi cepatt!! Beneran pink?" tanya Arsen penasaran.
"Ijoo bukan pink"
"ANJAAAAAYANNII" mereka tertawa ngakak lagi.
"Ahdala capek ngakaak, jadi gimanaa?"
"Ntarann aja keluarr, cari bareng-bareng. Katanya Arsen mo traktir dua puluh empat jam hari ini" ujar Dino.
Arsen menatap Dino , "seriously dua puluh empat jam?" tanya Asya. Dino mengangguk.
"Katanya juga mau dua puluh empat hari sih" sahut Racksa.
"Woilaahh, bangkrut anak orangg" ujar Haikal cengengesan.
"Cemana sii?"
"Arsen bahagyaaa, ya katanya mo traktir kali ini doang" jawab Haikal, Asya berohria.
"Sya, pilihan lu udah di Arsen loh. Jangan pehapein Fauzi. Lu harus tegas sekarang, jangan diam aja di ajak sana-sini. Penduduk ples nam dua mulutnya lemes-lemes, gue gak mau mental lu down" ceramah Haikal lagi.
"Iya iyaaaa, liatlah ni kalau ada bapak Caka yeteha lebih panjang lagi" keluh Asya.
"Oiyaa, kudu lapor Caka nii. Biarr enakk"
"Jangan-jangan oke jangan. Ntar gue traktir boba" ujar Asya.
"Lu kan gak punya duit anjirr"
"Lah iya yaaa."
✿✿
13.43
Mereka semua berada di rumah abu-abu untuk istirahat sejenak.
Para pria bersandar di sofa depan televisi, sedangkan Asya ke dapur mencari makanan.
Tingg... Tingg...
...+6285276xxxx...
...online...
Udah gue bilang, lu nya ngeyel bangett
Kan kaki lu jadi kena imbasnya
Gue..
Gue orang yang peduli sama lu, secara diam-diam.
^^^nama?^^^
Gue gak mau ngasih tau lu sekarang.
Next time, please turutin apa yang gue bilang
^^^lu siapaa sih? kenapa gue harus nurut?^^^
Ntar juga lu bakal tau siapa gue
Jangan berurusan lagi sama Alex yaa, gue mohon.
"Who is this?!" gumam Azril sangat pelan.
"Heeeey manusiaaa, mikirin apa kamu?!" tanya Asya pada Azril.
"Nggakk.. mikir ntar gimana caranya biar cepat sembuh kaki guee"
"Bisa mikir juga lu ternyata" cibir Haikal.
"Setaan" Haikal cengengesan.
Tingg tong..
"Gue aja yang buka" Asya berjalan menuju pintu di ikuti Haikal.
"Haii!"
"Kak Fauzii?"
"Baru pulang kamu?? Keluar yukk" ajak Fauzi.
"Inget pesan gue tadi, tegas! Jangan menye-menye" bisik Haikal sinis.
"Em.. Asya gak bisa kak, ada acara sama temen-temen"
"Oo gituu.. mau kemana emang? Saya boleh ikutt?"
"Ini urusan keluarga pak, yaa... sejenis makan-makan keluarga" Haikal membantu Asya.
"Lagian kenapa bapak ajak keluar babu ehh adek saya jam segini? Ini masih siang, jam dua kurang pak. Masih panass"
"Ya.. saya gak mau keduluan. Tadi telat juga mau jemput Asyaa"
"Asya bisa pulang sendiri kok, pak. Gak usah di jemput juga. Nanti kesannya gimana gitu.. kan tercap buruk nama Asya"
Fauzi mengangguk setuju, "yaudah deh. Next time ya Asya, saya pulang dulu" Fauzi langsung pergi setelah mendapat balasan senyuman paksa dari Asya.
"Pak..." Fauzi menoleh.
"Ajak adek bapak aja kalau mau keluar, jangan ajak adek sayaa!" Haikal menarik tangan Asya menyuruhnya masuk setelah mengatakan itu.
Fauzi menghela nafas kemudian pergi menggunakan mobilnya.
"Udah gue bilang tegas, jangan menye-menye."
"Nggak semudah itu pirdausss, gue tu anaknya gak enakan"
"Taiii mu pink! Gak enakan dari lubang semut."
__ADS_1
"Dahlah, mending lu bikinin indomie buat kita" suruh Dino.
"Sialaann bener"
"Belii tteokbokki ajaaa laa," tawar Asya.
"Ramen instan aja, deal"
"INDOMIE IS DEBES, mi pokoknya" jawab Dino.
"Ma mi ma mi, NASI tu makan!" protes Haikal.
"Ha kan ngamokk" ujar Arsen sambil terkekeh kecil.
"Hompimpaa dua kali. Yang kalah pertama bayarin, yang kalah kedua beli ke supermarket"
"Beli apa niii?" tanya Racksa.
"Tteokbokki instan yang di supermarket!" jawab Asya.
"Deall"
Mereka pun hompimpa, yang kalah pertama adalah Dino dan yang kalah kedua adalah Asya. Asya yang harus beli di supermarket.
"Mana sini duit cepattt" Dino memberikan kartu kreditnya.
"Enam yaa gue pergi sendiri aja. Jalann, deket sini adaa" ujar Asya sambil keluar dari kamarnya.
Ia mengambil topi dan memakai hoodie agar terhindar dari paparan sinar matahari.
"Lu kagak mau pake mobil?"
"Maless susahh"
"Gue ikut dehh" pinta Arsen.
"Ssstt.. situ aja! Gak usah ikuttt, gue yakin kaki lu masih sakit"
"Oke dehh.. tapi gapapa lu sendirii?" tanya Arsen.
"Sanss! Gue pergi assalamu'alaikum"
"Ehhh coyy" Asya berbalik menatap Azril.
"Di kulkas gak ada susu, cemilan juga abis. You know la maksud guee" Asya mengangkat jempolnya sambil tersenyum.
"Bangkrutt guee" keluh Dino, mereka tertawa karena ekspresinya.
Asya pun pergi dari rumah menuju supermarket. Jaraknya tidak terlalu jauh, ia sampai di tempat setelah dua puluh lima menit berjalan.
Asya memilih tteokbokki instan yang halal, membeli enam minuman kaleng, dua susu, dan beberapa cemilan. Setelah selesai ia membayar di kasir.
"Beli hoodienya dimana, mbak? Bagus banget" tanya penjaga kasir.
"Saya lupa belinya dimana, mas"
"Mahal kayaknya" Asya senyum sekilas sebagai jawaban.
Sesudah membayar, Asya membawa pergi belanjaannya.
Dia jalan santai sambil mengenakan earphone di telinga. Sekilas Asya melihat seseorang berlari ke dalam gang, beberapa orang mengejar.
Awalnya Asya tidak ingin ikut campur, tapi dia tidak bisa. Asya pun mengikuti mereka memasuki gang.
Asya melihat seseorang ter-todong pistol disana, "enam.. enam orang. Bisa gak ya? Bisaaa pasti bisaa!"
Asya meletakkan belanjaannya di tempat aman kemudian berlari mendekat dan menendang perut pria tadi.
"Aish.. lu siapa sih?!"
"Urusin urusan lu aja deh sana!!" Asya tersenyum smirk tidak menjawab.
Salah satu dari mereka ingin menendang Asya, Asya menarik kakinya kemudian menendang kepalanya.
Yang lain ikut menyerang Asya, perkelahian pun terjadi. Asya yang memang terlatih bela diri mampu melumpuhkan mereka.
Saat ini, hanya tersisa ketua geng.
"Kenapa harus ikut campur si annjj?!"
"Kenapa harus malakin orang si anjjj?!" tanya Asya balik dengan nada yang sama.
Pria itu maju menyerang Asya, Asya langsung sigap menerima serangan demi serangan yang di berikan. Sampai pria itu terjatuh setelah Asya menendang kepalanya.
Asya mendekat, dua jarinya yang berlagak seperti pistol ia letakkan di pelipis pria itu. "Saya masih sendiri, gimana kalau saya panggil tim saya?"
"Anda pilih pergi dari sini atau... mati babak belur disini?"
"G-gue pergi g-gue bakal pergi"
"Silahkan" Pria itu membantu temannya berdiri lalu pergi sambil berlari terbirit-birit.
Asya menepuk-nepuk tangannya yang kotor.
"Terimakasih.." Asya mengangguk pelan.
Ia tidak melihat wajahnya, dan Asya juga tidak menunjukkan wajahnya. Ia terus menunduk dan selalu memakai topinya.
"Anda gak apa-apa kan?"
"Saya gak apa-apa, sekali lagi terimakasih"
"Kewajiban saya sebagai sesama manusia untuk saling membantu. Saya ada urusan, saya duluan" Asya pergi.
"Tungguu" Pria itu langsung menarik topi Asya, Asya berbalik.
"Ternyata saya benar, kamu Asya."
'Aishh.. kenapa tadi gue gak liat kalau ini om kim!'
"Kemarikan topi saya!"
"No no! Kamu baik-baik ajaa??"
"Saya baik-baik aja, kemarikan topi saya!"
"Tidak tidak, ayo ikut ke rumah saya"
"Gilaaa ya?! Gak! Saya gak mau ikut" Asya pun pergi keluar gang membiarkan topi nya berada di Darren.
"Ehh tunggu.."
"Apa lagi sih om?! Saya gak mau ikut, saya gak mau rusak rumah tangga orang! Saya terlalu subhanallah untuk jadi simpenan laki orang!" jawab Asya kemudian beranjak pergi.
"Hey.. hey, kamu salah paham. Ayo ikut saya, biar saya kasih tau kalau saya itu single"
"Mau single mau beristri juga saya gak perduli! Itu bukan urusan saya!" Asya merampas topi nya.
"It's okay, kamu mau kemana? Saya antar"
"Saya punya kaki, bisa jalan sendiri!"
__ADS_1