
Satu tahun berlalu begitu cepat.
Semua terlewati tanpa rintangan yang besar.
Untuk masalah pelaku tabrakan Arsen, sampai sekarang belum menemukan pelakunya.
Oiya, couple A itu sudah tunangan secara resmi. Akad nikahnya akan diadakan setelah selesai dunia perkuliahan.
Mereka kuliah di Indonesia. Terkecuali Haikal, Ara, Dinoo dan Shaka. Haikal bersama Dino di London, Shaka di New York, dan Ara di Jepang.
Pagi ini, Asya dan Azril ada kelas. Seperti biasa, mereka sarapan terlebih dahulu sebelum pergi.
"Asya Azril, gimana kuliahnya??" Tanya Aska memulai perbincangan.
"Gak gimana-gimana, dad. Gak ada yang gangguin kita juga kok," jawab Azril.
Aska mengangguk paham.
"Kalian gak butuh apa-apa?" Tanya Zia gantian.
"Emmm, gak ada."
"Asya adaa."
"Butuh apa?"
"Asya mau motorrr, hehe."
"Gak usah ngaco. Mommy daddy gak bakal ngizinin kalian berdua bawa motor lagi," protes Zia.
"Whyy? Pengen tau, momm."
"Nggakk, gak boleh. Gantinya mobil aja mau nggak?" Tawar Aska.
Asya Azril saling pandang.
"Ntar garasi daddy meledakk! Banyak bangett udah mobilnyaa."
"Ya jadi apa hm? Yang lain deh, pasti daddy kasih."
"Maunya motor, daddyy. Kalau nggak, benerin aja deh motor Azril yang kemarin."
"No, cantikk. Bulan lalu kalian jatuh naik motor, untung gak parah. Daddy sama mommy gak mau itu terulang. Minta motor gak bakal daddy kasih, tapi kalau mau yang lain daddy kasih beneran."
Seketika Asya menatap Aska dengan puppy eyes-nya. Berharap, Aska akan luluh.
"Nggak."
Tapi realitanya berkata lain, Aska tetap menolak.
"Daddy kerja dulu, kalian naik mobil."
Aska mengecup kening Zia lalu pergi ke kantornya.
Asya dan Azril menatap punggung sang daddy lalu saling pandang.
'Tidak berhasil," kata Azril melalui tatapannya.
'Hem, gagal. Lu sih kemaren pake jatuh segala!'
'Kan jatuh bareng-bareng oon, itu juga karena lu yang heboh banget ketemu ular.'
'Panik!!!'
'Ahh, bullshit!'
"Heh! Udah tatapannya? Makin gede ntar mata Asya melotot mulu." Asya nyengir.
"Mommy, boleh yaa?"
"Daddy bilang apa tadi? Gak boleh kan?"
"Ishhh, mommy bujukin dong. Gak beli yang baru gapapa deh, tapi balikin kunci motor yang kemaren biar Azril benerin."
"No. Kalau mau mommy beliin sepeda aja."
"Sepeda listrik???"
"Sepeda ontel."
"Allahu Akbar, sungguh terlaluuu. Masa kami ke kampus naik sepeda ontell?"
"Mobil kan ada di garasii, tinggal ambil satu kunci dah berangkat ke kampus naik mobil. Lagipula ngapain minta motor? Kan lebih enak naik mobil, gak kena panas."
"Sensasi naik motor itu beda, mommy. Beliin donggg. Beat aja gapapa deh," bujuk Azril terus-menerus.
"Wes angell angell! Minta daddy mu aja gih, jangan minta mommy."
"Alaaaaaaa, mommy gak sayang kami beduaaa." Protes keduanya kompak.
Zia menghela nafas panjang.
"Mau motor apa?"
"Mogeeeeee."
"Yaudah, ke kampus dulu sana. Nanti telat," suruh Zia.
Mereka berdua sumringah.
"Bener kan ini?"
"Iyaudah sana ngampus dulu!"
Asya Azril mendekati Asya dan menyalami tangannya.
"Pergi dulu yaaa, mommyy. Love u, assalamu'alaikum."
βββ
"Woiii, cewekk hoodie-an!"
Asya yang merasa itu dirinya menoleh, "hah? Arseeeennn!" Arsen tertawa melihat Asya heboh sedang berlari ke arahnya.
Arsen pun ikut berlari mengejar Asya.
Mereka bertemu di tengah dan saling berpelukan.
"I need oleh-oleh!"
"Ada di mobil," jawab Arsen sambil melepas pelukan.
Asya tersenyum senang melihat tunangannya itu kembali. Sebab dua hari yang lalu, Arsen pergi ke luar pulau untuk urusan usaha barunya.
Maklum, Arsen tipe pria yang sama sekali tidak ingin mengajak susah wanitanya. Maka dari itu Arsen membuka usaha lain demi mewanti-wanti hal yang tidak diinginkan.
"Kamu gimana perjalanannya?"
"Alhamdulillah, capek."
Asya tertawa kecil, "kapan sampe??"
"Tadi malemm. Maaf ya gak sempat kabarin kamu," kata Arsen sambil mengelus rambut Asya.
"Gapapaa, yang penting mah udah balik."
"Iya alhamdulillah. Eh, kamu tau gak? Kemaren tu aku ketemu sama cewek cantik, bule dia."
"Kamu ajak kenalan gak?" Tanya Asya santai.
Seketika Arsen menatap Asya sinis, "kenapaa natapp gitu?!" Tanya Asya lagi.
"Kok kamu gak marah sih?! Kamu gak sayang lagi sama aku apa gimana?!"
Asya tertawa lalu mengraup wajah Arsen.
"Aneh kamu mah." Asya beranjak pergi.
"Eyy, tunggu! Ini beneran kamu gak sayang aku lagi? Masa kamu gak marah sihh?! Gak takut aku diambil cewek lainn?"
Asya menggeleng.
"Kamu punya cowok lain yaa?!!"
Plak!
Asya menampolnya pelan.
"Jangan mikir yang kagak-kagak deh kamu! Kalau aku gak sayang kamu lagi, cincin tunangannya aku buang. Aku masukin ke wc!"
"Ih, jahatt."
"Ya nggak jahat lah, kan belum aku masukinn!" Kata Asya sambil menunjukkan cincin itu.
Arsen meraih tangan Asya lalu mengecupnya.
"Cantik banget... cincinnya," ujar Arsen.
Melihat Asya kesal, Arsen cengengesan.
"Kamu juga cantik, sayaangg."
"Moduss. Jadi ceweknya kamu ajak kenalan nggaa?"
"Parah sih parah! Tumben-tumbenan kamu gak marahh?!"
"Ngapain marah? Kamu tu gak bisa lepas dari aku," jawab Asya songong.
"Kenapa pula gak bisa?"
"Aku pelet pake makanan ikan." Asya langsung tertawa melihat tatapan sinis Arsen. "Aku tuh ngebebasin kamu sama siapa ajaa, tapii ya tau batasaann."
"Kalau gak tau?"
"Gampang, tinggal say to goodbye."
"Astaghfirullahalazim, sayang." Asya nyengir tanpa rasa salah.
"Lagian, kalau emang niatnya gatel mah kamu gak bakal cerita ke aku kalau ada cewek lain. Pasti kamu umpet-umpetin kalau kamu nemu cewek lain, tapi nyatanya kan nggakk nih.Makanya aku gak marah."
Arsen tersenyum, "ya emang bener sih. Lagian aku nggak bakal oleng dari kamuu. Peletnya tuh kenceng bangett!"
"Wleee, pelet apaan? Mungkin itu karena tidak ada Asya yang macem aku."
"Banyak sih, tapi aku mah maunya cuma kamu."
Asya menatap Arsen.
Asya salting.
"KYAAAA, MO SALTOO!"
Arsen terkekeh melihatnya.
"Kamu tadi kok sendiri? Alvin, Azril, Racksa mana?"
"Azril lagi ngapelll sama Naina, kalau Alvin keknya gak ngampuss. Tapi kalau Racksa, dia lagi ke Amerika, mingdep baru pulang."
"Kapan perginya?"
__ADS_1
"Malemnya pas kamu pergi," Arsen berohria.
"Kenapa mereka nyendiriin cewek cantik macem kamu gini siii? Kalau di godain kating gimana?"
"Oh gapapa dong, nemu cowok baru."
"Macem-macem dih atau jangan-jangan kamu udah nemu cowok baruu?"
"Ya belummm lahh. Aku kan tunangan yang baik, jadi nanti kalau nemu cowok baru aku pamer ke kamu."
Arsen menatapnya datar.
"Macem-macem bangettt, aku iket nanti kamu ya! Inget cincin ituu! Kamuu. Punya. Aku!"
Asya tertawa melihat ekspresi Arsen.
'Cutie boyy!! Makin tua makin gemesin banget lakikk gueee,' batin Asya terpanah.
"Hehh! Wih, malah bengong. Mikir apa sih?"
"Mikir cogan baru dong," jawab Asya meledek.
"Ishh, nakal. Minta langsung sah kamu ni!"
"Helehh. Ngang ngong ngang ngong muluu gak dilakuin."
"Nanti betulan tekejut kamu."
"Nggak tekejut sii, karena cuma ngang ngong doang." Ledek Asya terus-menerus.
Arsen makin kesal dibuatnya. Ia mengambil ponsel dan menghubungi Aska.
"Kamu nelepon siapa?" Tanya Asya, Arsen tidak menjawab. "Oke diangkat," gumam Arsen pelan.
π "Halo, assalamu'alaikum, Arsen. Kenapa?"
^^^"Wa'alaikumsalam, om. Arsen tu baru pulang, om,^^^
^^^sekarang di kampus sih bareng Asya. ^^^
^^^Terus katanya Asya bilang pengen di saβ enghhh."^^^
^^^"Nggakk, daddy. Nggaakk, bongak ituu."^^^
Asya mengambil alih ponsel Arsen dan menjauh dari Arsen.
π "Nggak apanya, Asya? Arsen ngomong apa itu tadi? Sa apa samyang?"
^^^"Iya, daddy. Asya pengen samyang, boleh kan?"^^^
π "Ntar siang kalau mau, jangan sekarang. Ini masih pagii."
^^^"Okayy, ntar siang boleh berarti yaa? Yaudah, Asya ^^^
^^^tutup panggilannya. Assalamu'alaikum."^^^
π "Wa'alaikumsalam."
Asya mematikan telepon lalu menatap Arsen yang sedang berkacak pinggang.
"Jadi gimana, sayang? Masih mau macem-macem?"
Asya senyum menggoda, "YA MAU LAHH. BYEE, MO NYARI COGANN!"
"Astaghfirullah, Asyaaa!" Arsen mengejar Asya yang sedang berlari tak tentu arah.
Childish memang, tapi trust me, itu bisa buat bahagia.
Mereka terus kejar-kejaran, sampai akhirnya Asya tiba di kelas dan mengunci Arsen di luar. Kelasnya masih belum ramai karena banyak yang belum datang, jadi santai.
"Asyaa, buka pintunya."
"Gak mauu, wlee!" Arsen menghela nafas kesal, dirinya diam memikirkan cara.
Di dalam, Asya sedang berkompromi dengan temannya. "Mau ya bantu gue?"
"Cowok lu tu ganas, Asyaaa. Gue masih mau hidupp!" Omel temennya.
"Aihshh, cuma akting. Ntar gue yang jelasin ke Arsen," bujuk Asya lagi. Temannya menggeleng, "nggak."
"Lu mau gue traktir di kantin sebulan."
"Deal!"
"Oke."
Bertepatan dengan itu, Arsen berhasil membuka pintu. Ia jelas melihat Asya yang sedang tertawa-tawa manja dengan teman komprominya tadi.
Bagaimana dengan Arsen?
HUH, PANAS!
"Syaa, come here." Titah Arsen sambil berkacak pinggang dari depan pintu.
"Ikan hiu makan tomat, maaf gak minat."
"GAK NYAMBUNG PANTUNNYA!"
Asya cengengesan, "nyambung dikit."
"Minta di jual kamu?"
"Lu mau jual Asya? Gue yang beli," kata temennya Asya.
"Gue hajar lu sampe mati."
Temennya Asya auto merinding.
"Gak usah neko-neko, come here."
Sembari tersenyum merayu, Asya mendekat.
"Jangan ngamuk gitu dong."
Arsen mendekati Asya lalu menggendongnya ala-ala karung beras. "Dasar, bandel!"
"Estetikan dikitt kek ahh, gak romantis kamuu!"
"Estetik? Apa itu? Mau di gendong ala koala?" Tanya Arsen.
"Ala gorila ada?"
"Ala buaya juga ada sih," jawab Arsen.
"Ala cicak aja deh. Kalau nggak cicak ala capung."
"Ini kenapaa jadi request gendongan ala-alaaa?!"
"Gapapaa, kan mantep. Btw ini mo kemanaa???" Tanya Asya yang kini tenang di gendongan ala karung beras.
"Kita akan kabur." Arsen memasukkan Asya ke mobil, setelah itu mereka pergi dari kampus.
"Untung aja kampus sepi tadi kan, jadi gak malu aku di gendong kek gitu."
"Di gendong cogan kok malu?"
"Hilih, aku kan bukan kamu yang gak punya maluu."
Arsen menatap kesal Asya untuk yang kesekian kalinya.
"Ku ngap juga kamu nanti!"
"Kalau kamu ngap, aku tinggal ngep!"
Arsen terkekeh.
Di jalan, keduanya berbincang hal-hal gak jelas. Salah satu contoh alien, seperti yang saat ini mereka bahas.
"Kalau alien itu betul ada, dia pake baju gak sih? Beli bajunya dimana??" Tanya Asya heran.
"Tokopedia, sayang. Terus ntar dia ikut jadi bintang tamu bareng NCT," Asya tertawa ngakak. "Kenapa gak di Shopee aja belinya?"
"Kan alien ijo jadi dia pilih tokped yang ijo," jawab Arsen sambil menyetir.
"Kata siapa alien ijo??"
"Aku tadi yang bilang, gak denger kamu?"
"Agh! Kok ngeselin?!"
Arsen cengengesan.
"Alien coklat gak sih??"
"Pink."
"Arseeenn, nyebelin bangeeett!" Arsen tertawa puas, ia berhasil balas dendam.
"Aku search gugel, alien warnanya ungu. Tapi di salah satu kartun warnanya ijo."
"Nah kan, aku betul! Aku ni calon suaminya alien."
"Jadi maksud kamu? Akβ"
"Kau bidadariii jatuh dari surgaaa tepat di hatikuuu. EAAAA!" Asya gak jadi marah, ia malah terkekeh.
Mereka melanjutkan topik, tapi bergeser ke yang lain. Contohnya, teori konspirasi. Wakakak, benar-benar gak jelas.
Karena di bawa kabur Arsen dari kelas, Asya pun bolos kelas. Dan sekarang, mereka berdua tiba di mall. Berniat nonton film di bioskop.
"Ini nanti kalau aku di panggil dosen kamu tanggung jawab, yaa!" Protes Asya setelah kembali dari toilet. Tadi Asya ke toilet sedangkan Arsen yang memesan tiketnya.
"Kapan sih aku gak tanggung jawab? Tanggung jawab mulu aku mah."
"Yaa benerr sih. Yaudah skip. Ini masih agak lama waktunya, gak mau keliling dulu?"
"Kamu mau beli apa?" Tanya Arsen.
"Gak pengen beli apa-apa, tapi pengen ngelakuin hal yang anti mainstream."
"Mau apa?"
"Beli mcd terus makan di bioskop."
Arsen tercengang mendengarnya, "ngaco ih."
"Kan gak pernah gituuu, sayaang. Ayok beliii," ajak Asya antusias.
"Ntar kelamaan nunggu mcd nya. Yang lain aja coba, makanan yang lain."
"Ohh, di depan ada ampera! Makan nasi padang sajaaa," jawab Asya.
"Yaudah yok belii."
Sambil bergandengan, Asya dan Arsen pergi ke luar. Mereka membeli nasi padang sebungkus. Setelahnya, mereka kembali ke mall.
"Sembunyiin di topi kamu," bisik Asya.
"Kan emang disana," jawab Arsen juga berbisik. Asya berohria sambil cengengesan. Mereka berdua pun masuk ke bioskop setelah waktunya tiba.
__ADS_1
"Aww, mantep banget gak ketauaann." Asya masih berbisik pada Arsen.
"Siapa dulu yang ngumpetin."
"Eih? Jangan bilang kamu jago ngumpetin sesuatu? Ngumpetin cewek jugaa??"
"Mengarang heh!" Asya cengengesan.
"Kamu pilih film apa?"
"Nggak tau tadi random."
"Ngawur, tapi yaudahlah. Mari kita tonton."
Film pun di mulai.
Arsen memilih film bergenre romance. Ini first time mereka nonton romance berdua.
Sejak di mulai sampai sekarang, Asya tidak ada protes. Ia menikmati filmnya dan nonton dengan serius.
Arsen tersenyum melihatnya, tadi sempat berfikir Asya akan marah. Namun nyatanya tidak.
"Nasinya kapan di makan? Ntar berjamur di kepala aku," bisik Arsen.
"Sekarang deh, sekarang." Arsen membungkuk, mengeluarkan nasi padang dari topinya.
"Ketahuan cctv mampuss kita," bisik Arsen.
Asya malah tertawa kecil.
Ntah memang gak kelihatan atau memang dibiarkan, petugas bioskop tidak ada yang protes. Mereka berdua tetap makan dengan tenang.
Makan nasi padang, sebungkus berdua.
Mantap.
Sambil makan, sambil nonton begitulah Asya dan Azril.
Sampai akhirnya mereka tiba di satu scene yang mengejutkan. Asya mengalihkan pandangan dan Arsen menelan ludahnya.
Kalian tau adegan apa?
Yes, bercup-cup ria.
"Ehm, aku gak tau ada adegan ini." Kata Arsen.
"Y-yaudah gapapa."
Arsen menatap Asya, ide jahil muncul.
"Mau coba gitu gak?"
UHUK UHUK!
Asya batuk dan nasi yang di makannya bermuncratan. Arsen menahan tawanya.
"Untung gak kena ibu yang depann. Huh! Ini gara-gara kamuu samsudiiin!!"
βββ
19.35, rumah Aska.
"Assalamu'alaikum, calon mantu idaman datang." Teriak Arsen masuk ke rumah Aska.
Jangan di hujat!
Sudah lumrah bagi keluarga Kusuma hal itu terjadi. Karena dari semenjak Arsen dekat dengan Aska dan Zia, secara tidak langsung mereka berdua menganggap Arsen keluarga.
"Wa'alaikumsalam."
"Wih ah, lu ngagetin anjem." Omel Azril.
Arsen nyengir, "sengaja."
"Ngapain datang?" Tanya Aska sok galak.
"Mau minta duit."
"Gak punya duit toh? Gini mau nikahin Asya?" Cibir Aska sok sinis.
"Woop, selepe camer Arsen ni." Arsen mengambil dompet lalu mengeluarkan si black cardnya dan beberapa card lainnya.
"Piye, om? Iso iki?"
Aska tersenyum miring. Ia gantian mengambil dompet, mengeluarkan dua black cardnya yang ada di dompet.
"Piye?"
"Ngeriiii ngerii, langsung ciut mental Arsen kalau gini ceritanya." Aska, Zia, Asya dan Azril tertawa.
"Bercandanya orang kaya ngeriii, ngeluarin kartu item. Kalau Azril ntar yang di pamerin kartu tanda penduduk."
"Puftt, HAHAHAHA!"
Azril mengelus dada mendengar tawa meledek itu.
"Ini Arsen mau ngajak Asya pergi?" Tanya Zia.
"Mau ngajak makan, tantee. Arsen lagi gak mood makan, tapi kalau ada Asya sih bisa di bicarakan."
"Alah sia boyyy, moduss!" Arsen cengengesan.
"Boleh kan ni, om, tante?"
"Jangan lama-lama, jangan di semak-semak."
"Oke aman, let's go baby."
Asya menyalami tangan Aska dan Zia terlebih dahulu baru mengikuti Arsen. Asya tidak ganti baju karena sudah bersiap-siap sebelumnya.
"Ini mau makan kemanaa?"
"Di rumah."
"Rumah? Rumah manaa? Di rumah kamu yang itu??" Arsen mengangguk, "jadi dimana lagi, sayaang?"
"Kalau gitu ngapain minta temeninnn?!"
"Ya karena aku kangen sama kamu!"
"Seenn, kita full day barengan muluuu! Masih kangen? Gak bosen sama akuu??"
Arsen menggeleng, "apa itu bosen? Aku gak tau."
"Seriuss? Wahhh. Kamu gak pernah bosen sama aku?"
"Kagaaakkk. Gimana aku mau bosen sama kamu orang tiap hari ada aja bahasan yang menarik, alien aja di bahas." Asya tertawa mengingat bahasa tadi pagi dimobil.
"Kamu asik banget gini loh, gimana bisa aku bosen? Gak bakal bosen aku tuh sama kamu."
Asya salting again.
"Jadi pengen kayang."
Arsen tersenyum pepsodent, "kayangnya ntar kapan-kapan aja. Salto dulu!" Asya nyengir. "Ih, tapi masa di rumah kamu sih??"
"Ada Om Mikko dirumah, ada pembantu juga. Jadi ya gak perlu mikir yang nggak-nggak kamunya."
Asya mengangguk paham.
"Yaudah terserah, yang penting kamu makan."
Arsen tersenyum, ia mengambil tangan Asya menggunakan satu tangan lalu mengecupnya.
"I love u, baby."
Asya tidak menjawab, ia agak terheran-heran dengan suhu badan Arsen.
"Kamu sakit?? Badan kamu hangatt."
"Mungkin karena tadi aku mandi pake air dingin terus minum es juga makanya hangat."
"Ish, betingkahnya!! Lagian ngapain mandi malamm?!"
"Tadi aku ngegym." Asya berohria, ia cukup paham. Arsen ngegym tidak pernah sebentar.
"Next time gak boleh gitu!"
Arsen berdehem.
Tak lama kemudian mereka tiba di rumah Arsen ralat, rumah pribadi Arsen.
Keduanya masuk bersamaan sambil genggaman tangan. Arsen langsung menuju dapur, Asya juga mengikutinya ke dapur.
"Kamu tidur cukup tadi malam??"
Arsen mengangguk, "pulangnya langsung tidur. Makanya gak sempat kabarin kamu. Emang kenapaa?"
"Kamu pucet beneran tauu."
Asya mendekati Arsen dan memegangi pipinya.
"Kecapekan kamu nihh, kenapa ngegym sih tadii?"
"Yaa biar gak pegel-pegell," jawab Arsen.
"Yaudah, makan dulu deh."
Arsen mengangguk, sambil makan Arsen memegangi tangan Asya. Asya sendiri sedang memakan jajanan dari kulkas Arsen.
Usai makan, mereka berdua ke ruang keluarga.
Disana ada Mikko.
"Mengkekk, mengkekk! Ada om disini, kesini pula kelen." Omel Mikko kesal.
Asya tertawa kecil, "Asya gak tau loh, di tarik Arsen ini." Mikko menggelengkan kepala.
Arsen sendiri tidak perduli.
Ia sudah merebahkan tubuh di sofa.
"Om Mikko jones gak usah bawell. Cari bini sonoo, masa kalah sama Arsen. Arsen dah dapat calon binii," pamer Arsen.
"Om juga punyaaa!"
"Siapa?"
"Bentar, om tunjukin fotonya."
Mikko mengambil ponsel dan membuka galeri. Ia menunjukkan foto editannya dengan Lisa Blackpink.
"Astaghfirullahalazim, om! Tobat udah tuaaa."
"Dihh, iriii kamu?!"
"Perlu di ruqyah Om Mikko. Masaa udah tua malah ngefanboy. Ngadi-ngadi emang!"
"Gapapa, keren! Nanti pas konser om mau datang, maju paling depan biar deket Lisa."
__ADS_1
"Yayayaaa."
"Teruslah berhalusinasi, Patrick."