Barbar Generation

Barbar Generation
Ke rumah camerrr


__ADS_3

"Lamaanyaaaa kalian pulang, mampir kemana lagi?" Tanya Febby.


"Keliling bentar, Miii." Jawab Frizy.


Mereka semua duduk di rerumputan lalu menikmati ice cream.


"Punya gue caiir!" Keluh Racksa.


"Kelamaan si tadiii," sahut Upi.


"Heyyyooo gaiss!" Asya baru muncul.


"Es krim lu mana?"


"Di kulkas, why?"


"Dihh, bukannya bilangg. Kan bisa sekaliannn!" Omel Keja.


"Kan gak nanyaaa lu nya!"


"Iya sii," Keja dan yang lain membawa ice cream kembali ke dalam rumah dan meletakkannya di freezer kulkas.


"Punya guee gimanaa?" Tanya Racksa dengan muka cengonya.


"Bungkus lagii, taro kulkass!" Jawab Arsen.


"Gimana bungkusnya udah begini begooo?!"


"Salah siapa udah buka duluan."


"Ishhh!"


"Udahh, makan aja. Ntar kalau kurang opaa beliin." Titah Hans.


"Owgheyy!" Racksa sendiri yang menikmati ice creamnya. Yang lain sibuk menikmati celiman yang dibeli.


"Zafran semua kan yang bayar?" Tanya Zean.


"Iya, Ongkel. Kenapa emang?"


"Gapapaa. Kalau jadinya patungan, ongkel geplak si Zap."


"Lahh?"


"Pelit kali la diaaa kalau minta patungan." Jawab Zean, mereka berohria lalu tertawa.


"Untungnya semua Bang Zap bayarr, kalau nggak di geplak sama Ongkell Zee!" Zafran cengengesan.


"Jogeddd tiktok yuuuu." Ajak Keja. Selain hobinya suka balapan, Keja juga seleb tiktok yang suka pamer ketampanan.


"Asya gak ikuttt. Gak pande jogedd!"


"Alahh, bacott. Ayok lahh, kan jarang jumpaaa."


"Ikut gih, Syaa. Sesekali ajaa," suruh Kinan.


"Asya maluu, Ontyyy."


"Sok punya maluu, biasanya malu-maluinn."


"Shut up!" Azril tertawa kecil.


"Kuyylahh ceffatt!" Frizy memaksa Asya.


Dengan segala paksaan Asya mengikuti kemauan mereka. Ia berdiri paling depan.


Awalnya menolak, bagaimana selanjutnya?


Asya-lah yang paling gilaa di setiap video. Apalagi ketika sound dj, dahlah kumat si Asya.


Tapi jangan salah, Asya diajak joget tapi Asya dilarang juga untuk joget. Kita ada gerakan goyang pinggul, Zafran, Arsen, Azril dan Frizy maju menutupinya.


Setelah selesai mereka mundur. Asal ada adegan yang dikira kurang senonoh, keempat pria itu terus melakukan hal yang sama. Kadang mereka melarang Asya bergerak dan menyuruhnya diam di tempat.


"Asya ncengg! Capekk." Ia nyerah setelah beberapa menit joget.


"Satu lagii, buruu!" Ajak Upi.


"Apalagii?"


"Udahh sinii." Asya pun kembali mendekat.


"Percuma ganteng idamannya pacar orang yahaaa! Tettertetett tetetett!!"


Azril yang merasa tersungging eh tersinggung menatap sinis mereka.


"Mengsedih ini mahh!" Mereka tertawa.


"Azril mental brikdensss."


"Sad kali nak bujang kuu." Ledek Zia.


"Ahhh, mommyyy!!" Mereka tertawa lagi.


"Lagiann lu begooo banget. Banyak cewek lainn tau, kenapaa cewek orang lu embatt?!" Tanya Arsen sinis.


"Cewek orang lebih menggoda."


"Ongkel tampol nanti kamu kalau sampe masuk ke rumah tangga orang!" Azril cengengesan.


"Cewek lain banyak begeee!"


"Iyaaa, cewek lain banyak. Terus kenapa lu masih sendiri?" Keja auto kicep.


"Gue.. gue main seperangkat alat sholat dibayar tunai. Bukan main janji manis abistu menghilang."


"Aseeeekkk! Mantep ughaaa anak guee." Puji Zai bangga. Keja dan Zai bertosria.


"Bullshitnya ituu, banyak kok korban ghostingnya Keja." Sahut Upi.


"Hahahahahahah, terciduk!" Keja menatap sinis Asya yang tertawa.


"Lu baru minta maap sama gue ya, Sya. Udah ngulah lagi," kata Keja kesal.


"Kan lu yang minta maap sama gue begoooo. Gimana si lu?!"


"Oiya, lupa. Kan lu lebih TUA, yaa."


"Syalannn!" Mereka terkekeh.


"Ku mo live instagram, byee!" Asya masuk ke rumah lalu duduk santai di sofa ruang keluarga.


Para sepupu Asya tadi pun mengikutinya.


"Helooo, gaiss! Bertemu lagi bersama Azril yang paaling tampan seantero bbg!!" Sapa Azril sok kenal. Asya langsung menatap sinis Azril, Azril nya malah cengengesan.


"Maklum, penyakit sksd." Ledek Asya.


"Kamprett!" Asya cengengesan.


"Kak Asya dimana??– Dirumahh halmoniii, mommy nya mommy."


"Itu siapa kakk? Kok banyak banget cowoknyaaa.– Mereka adalah sodaraa sodara laknat sayaa."


"Tampoll mampus kauu." Asya nyengir kuda.


"Kak Asya cantikk bangettt.– Aww maaciiii."


"Harusnya gak usah di pujii, terbang dia." Protes Racksa.


"Benerr, harusnya bilang kak Asya tua bangettt gituu." Sahut Keja.


"Iriii bilang babuuuu!"


"Eh, btw muka gue beneran tua?" Tanya Asya pada Keja.


"Nggaklah gilaaa, emang kenapaa?"


"Tadii gue ketemu anak-anakk, terus dipanggil tantee."


"Pffttt! Dasarr tuaa!" Ledek Upi.


"Sianjirrr, yang benerrr lahh!"


"Tua darimana sih, Dekkuu? Dia panggil kamu tante karena gugup ituu," jawab Zafran sambil mendekati Asya.


"Nah iyakan, Bang. Berarti Asya gak tua, kan?" Zafran menggeleng.


"Asya kek cewek murahann, yaa. Tiap hari gonta ganti cowok.– Penyakit, penyakit! Salah satu sekolah yang pengen gue bangun dari dulu ya sekolah jari." Zafran naik pitam.


"Makin kesini orang orang makin gak tau caranya mengkondisikan jari. Apa aja di komentar tanpa mikir perasaan yang di komentarin. Kalau komentarnya bener, ya mending, lah ini nggak."


"Iyaa tauu, setiap orang bebas berpendapat bebas berkomentar. Tapi kalau mau komentar tu mikir duluu bener apa nggaknya! Be a good person, pleasee. Kalau nggak tau kebenarannya mending lu diem, daripada gue ajak baku hantam."


Asya mundur, menyembunyikan dirinya karena para saudara saudaranya maju untuk menyerang.


"Lu ngetik gituan mikir gak sih? Tadi Asya udah bilang kalau kita sodaranya. Punya telinga buat dengar, kan?" Itu suara Frizy.


"Siapa nama ig nya tadi, perlu gue hack? Atau mau gue ilangin ajaaa?" Tanya Azril.


"Ilangin aja bagusnya, biar mampussss sekalian." Sahut Racksa.


"Nahh, mantapp."


Jangan melecee, bukan jago main game doang Azril juga jago dalam hal beginian.


"Alah lahhh, mental patungan ya.– Oas---"


Asya mendorong mereka semua untuk menjauh, "sharelock buruan. Gue sendiri, lu sendiri. Berani nggak?!" Tanya Asya murka.


"Njirr ngamokkk."


"Bangun lah tuu singa nya."


"Sabarr bundahh, sabarrr." Upi mengelus tangannya, dengan kasar Asya menghempasnya.


"Bah ngamok betulan weiii."


Arsen mendekati Asya lalu berbisik, "calm down. Ini masih lebarann, nanti kita beli seblak kalau lu tenang." Asya menatap Arsen, begitupun sebaliknya.


Arsen tersenyum manis, Asya pun menghela nafas. "Okeeyy, hhm!!"

__ADS_1


"Sabarr Sya, itu tadi orang iri doangg.– Iyaa tau, nganann gih nganann! Ngiri mulu jadi orang."


"Asyaa, itu tadi siapa? Yaaanggg bikin sekolah jari? Kenalin donggg.– Yakin? Itu manusia kutub namanya Bang Zapp..." Asya menunjukkan kamera ke arah Zafran.


"See, mukanya emang cuek cuek bebek gitu. Tapi hatinya beuhhhh, gak tau sih gue gimanaa hatinya."


"Tampoll beneran mau kauuu?!" Asya cengengesan.


"Tadi yang bisikin lu, Arsen ya? Bisik bisik apaa weii?– Ngg--"


Arsen nyerobot, "bisikan mauttt."


"Gileee lu?! Bisikin apaaan?!" Tanya Azril.


"Ada deehh!!"


"Anjirrr, rahasiaaan. Parah sih, parahh." Arsen tertawa.


"Dahlahh, live bentaran aja. Capek guee," keluh Asya.


"Capek ngapain lu monyett?!"


"Capek tadi kan ke supermarket, ngantukkk tau pengen tidorrr."


Asya kembali melihat ponselnya, "yang mau tau sodara sodara gue ntar gue tag di sg, jual murah aja. Btw, thank you yang udah nonton. Assalamu'alaikum!"


Asya mematikan live kemudian menoleh ke para sepupunya.


"K-kalian kenapa?" Tanya Asya serem, sepupunya menatap horor Asya.


"Lu jual guee?! Kenapa jual murahh?!" Tanya Upi sinis.


"Jual mahal ntar gak lakuu, begoooo."


"Oiya, yaudah gapapa."


"HEEEEE, TOLOLLLL!"


◕◕◕


15.33


"Hwahh, laperr!" Asya keluar dari kamarnya kemudian menuju dapur.


"Dah bangun, Tuan Putri?" Tanya Zafran meledek dari ruang keluarga, Asya nyengir kuda.


"Gak laper kamu? Makan duluuu," suruh Febby.


"Iya, Onty. Ini mau makannn," jawab Asya. Asya mengambil nasi dan lauk lalu kembali ke ruang keluarga.


"Kalian jadinya kuliah dimana?" Tanya Zean.


"Nggak tauu. Momm, kuliah dimana?" Azril menatap Zia.


"Yaa, terserah dimana kalian mau."


"Haikal sama yang lain dimana?" Tanya Aska gantian.


"Haikal di London katanyaa, Dino iya juga mungkinn."


"Arsen dimana?" Zai menatap Arsen.


"Kairo, kann?"


Arsen menggeleng, "kayaknya gak jadi ke Kairo, Om."


"Why??"


"Ehm..."


"Karena gak mau jauh dari Asya lah, Daddy. Apalagii kalau nggak itu?" Ledek Azril.


"Terdeteksi bucin akut." Mereka tertawa melihat Arsen malu-malu.


"Racksa dimana?"


"Indonesia, Uncle."


"Gak mau ikut papa ke Amerika?" Tanya Hans.


"Nggak, Opaa. Udahh lupa bahasa Inggris."


"Bacoooott, bilang aja gak mau jauh dari Azril!" Ledek Asya.


"Apa pulakk?!"


"Lu kan ukeee. Seme nya Azril," jawab Asya santai.


"Gue lempar pake nastar ntar lu, serius deh!!" Asya tertawa melihat keduanya mengamuk.


"Anak papa normal, kann?" Tanya Aksa serius.


"Normalll, Paa. Racksa normall, sumpahh. Asya tu mengadi-ngadi!"


"Papa takut kamu belok beneran, Sa. Normal kan?"


"Iyaa, Papakuuu. Gegara lu nihh, monyett!!" Asya tertawa lagi.


"Huhh, syukurlah."


"Emang kalau belok kenapa, Ongkel? Kan beloknya sama Azril, ganteng nii." Upi menunjuk Azril.


"Mau seganteng apapun ntar anaknya keluar darimanaaa, oonnn." Omel Frizy.


"Oiya, bener juga sii."


"Sabaarr sabarrr." Asya menuju dapur meletakkan kembali piring bekas makannya lalu kembali ke ruang keluarga.


Drttt.. Drtt..


Ponsel Arsen bergetar.


"Bentar ya, Om, Tante." Arsen menuju halaman belakang untuk teleponan.


Lima menit kemudian ia kembali dan melihat Asya yang sedang menginjak-injak Keja. Yang lain bukan membantu Keja tapi malah tertawa.


"Lah lahh, kenapaa ni?" Tanya Arsen terkejut.


"Tadi Asya jalan, terus di jegal sama Keja. Gitulah jadinyaa," jawab Racksa sambil tertawa.


"Syaaa, udahh. Makin gepeng nanti anak onty." Larang Kinan. Asya pun turun dari sana dan jalan santai ke sofa.


"Agak depresi juga ketemu Asya." Asya cengengesan.


"Kalian tu ketemu jaraaaaangg banget. Bahkan ketemunya kalau ada kumpul keluarga doangg, kok bisaa gitu gak canggungan?" Tanya Syifa heran.


"Canggung apaaa, Bundaa. Mana ada canggung di kampus persepupuan HitSum." Jawab Luthfi.


Fyi, Luthfi Leeonardan Hitler atau biasa di panggil Upi adalah anak bujang dari Luis dan Syifa.


"Benerr tuuuu! Tiada kata canggunggg." Sahut Azril bangga.


"Terus yang ada di kamus kalian apa?" Tanya Zean.


"Yang ada di kamus persepupuan HitSum adalah... Asya babunya kami semuaaaaa."


Bugh!


Melayang bantal sofa mengenai kepala Upi.


"Depresott jugaa guee." Mereka tertawa kecuali Asya yang sibuk memakan nastar.


"Kue nastar nya Onty Febby hanya ada ketika lebarann." Kata Asya.


"Benerr, kue salju ini juga cuma ada waktu lebaran." Sahut Azril.


"Hahaha, kalau kalian pengen kerumah onty aja. Nanti onty bikininn."


"Mending gak usah mami tawarin. Ntar mereka datang tiap harii," cibir Frizy.


"Ya gapapaa."


"Tap– yah sudahlahh."


"Hahahahaaaa, mampussss lu banggg tidak ada yang mendukunggg!" Ledek twins kompak.


"Masih gue pantau, belum gue sleding!" Mereka terkekeh.


"Oh iya, Arsen, tadi siapa yang nelpon kamu? Ada apa?" Tanya Aska.


"Aaa.. itu tadi Om Mikko. Om Mikko ngajak kee tempat Pak Andre."


Aska mengerutkan keningnya, "udah akur?"


"Yaa... gitu, Om. Makanya Arsen bisa kuliah di Indonesia karena nyokap Alex udah tobat." Aska mengangguk paham.


"Syukurlah, ada yang gantiin om sebagai pawangnya anak nakal itu." Asya yang ditatap pura-pura buang muka.


"Hehe, yaudah kalau gitu Arsen pulang duluan, Om."


"Pulang sekarang?" Tanya Febby.


"Iya, Tante."


"Nanti malem kesini aja lagi, Arsen. Makan malam bersamaa." Arsen hanya membalas dengan senyuman.


"Ajak Asya gih, Sen. Lu gak kasian liat gue udah sedepresot ini?" Keluh Keja.


"Bener benerrr. Ajak aja si Asya," suruh Upi.


"Apaann cob–"


"Ayokk, mau ikut gak?" Ajak Arsen sambil tersenyum manis.


"Ikut aja sanaa. Kasian saudara mu tuuu, dah hampir gilaa." Titah Aska, Asya menatap mereka yang tersenyum.


"Senyuman kek iblisss. Yaudahh, tunggu bentarr. Asya mo ganti bajuu." Arsen mengangguk sambil tersenyum.


Asya pun pergi menuju kamarnya.


Beberapa menit menunggu, Asya pun keluar dari kamar. Ia mengenakan rok diatas lutut dan stoking warna hitam, sepatu ankle bootsnya juga berwarna hitam. Asya memakai atasan sweater rajut berwarna mocca. Ia juga membiarkan rambutnya tergerai.

__ADS_1


Demi apapun, Asya cantik dengan penampilan seperti ini.


"Terpesona guee." Puji Keja.


"Ingat, itu sepupu lu!" Zafran menutup matanya sekilas sambil tertawa. Keja nyengir kuda.


"Gini kan cantikkk. Kenapa gak dari dulu beginii, Syaa?" Tanya Zai.


"Mager, Ongkell. Ribett."


"Terus, kenapa ganti?"


"Ginii, kan nanti ketemu sama Pak Andre dan istrinya. Kalau istrinya bilang yang ngga ngga apalagi sampe bawa mommy daddy kan gak enakk di dengar. Jadiii, untuk menceg–"


"Bacot, pergi sana cepat!" Titah Azril.


"Dih, anjirrr!" Azril tersenyum smirk.


"Lu mandi, kan?"


"Sebelum keluar kamar gue dah mandiii!" Mereka berohria.


"Jadi pergi gak nih?" Mereka menatap Arsen yang sampe sekarang belum berkedip.


"Senn?" Aksa menggoda Arsen.


"Eh? Iya, Om."


"Tersepona juga agaknya, sampe gak kedipp lohh." Ledek Upi, Arsen nyengir sambil memegangi tengkuknya.


"Udah, kan? Ayokk."


Sebelum pergi, Arsen menyalami tangan mereka satu persatu yang juga disertai ucapan maaf.


"Hati-hati!" Arsen tersenyum.


"Pergi dulu yaa, semuanya. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


"Cieeee, ke rumah camerrr."


◕◕◕


"Lu kenapa cantik banget sihh?!"


Asya malah tertawa mendengarnya, "kenapa emang?"


"Ya gapapaaa, makin gemess gue liat lu feminim beginii." Asya cengengesan, Arsen mengulurkan tangan lalu mengelus rambut Asya.


Setelah itu, Arsen menggenggam tangannya. Asya membalas genggaman Arsen tapi matanya malah melihat keluar kaca mobil.


Cup!


Arsen mengecup punggung tangannya.


"Oh iyaa. Lu tadi ketemu Darren diapain?"


"Nggak diapa-apainnn. Tapi lu tau gak sihh? Om Darren punya anak, namanya Dave."


"Seriously? Dia duda?"


"Gue rasa gituu. Anaknya ganteng tauu, gemesiinn, sopann banget pula."


"Berbanding terbalik sama bokapnya, ya??"


"Hoohh." Arsen tertawa mendengarnya.


"Beneran gak diapa-apainnn, kan? Dia bilang apa aja ke lu?"


"Eum.. bilang yang ngaco ngacoo! Tadi dia juga bilang ke Dave kalau gue calon bundanya Davee, ngaco kann?!"


Arsen menghela nafas, "ngaco kebangetan itu mah! Lu kan calon bunda anak anak guee!"


"Lah, malah modusss!"


"Gue seriusss tauu."


"Yekk!"


"Yaudah, kalau gak percaya gak usah beli seblak."


"Ishh, apaaan?! Belii dongg!"


"Okee, kalau mau beli bilang satu kalimat yang pengen banget lu utarakan."


"Eumm.. gak ada."


"Yakin?" Asya mengangguk.


"Keliatan bohong."


"Fine fine. Gue cuma mau bilang, lu ganteng dan gantengnya gak manusiawi!!"


"Iyakah?" Arsen menggoda.


"Bener gak tuu?"


"Kan tadi suruh juj–"


Cup!


"I love you!"


"Aishhh! Pipii gue gak perawann lagiiiiii!" Arsen terkekeh.


"Gapapaa, tetep sayang gue sama luu."


"Dihhh, modus!"


Arsen nyengir.


Satu menit setelahnya, mereka tiba di rumah Pak Andre. Mikko berada di depan mobilnya menunggu Arsen.


"Om." Arsen dan Asya menyalami tangan Mikko.


"Maaf lama, Om. Nunggu bidadari besiap dulu."


"Senn!!" Asya memukul pelan lengan Arsen. Mikko tertawa melihatnya.


"Ayok masukk." Mereka pun masuk bersamaan.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, akhirnyaaaa anak papa datangg." Ujar Andre bahagia.


Arsen tersenyum canggung, "ehh, ini Asya?"


"Asya, Pak."


"Om aja, ini diluar sekolahh. Kamu beda ya kalau diluar sekolaahh." Asya cengengesan.


"Gilee, cantik bangett lu, Syaaa. Jadi pacar gue gimanaa?" Alex muncul.


"Dihh, sape lu?!" Alex menatapnya sinis, Asya dan yang lain pun tertawa.


"Cantikk bangettt kamuu, namanya siapaa?" Tanya Mama Alex ke arah Asya.


"Saya Asya, Tante."


"Oohh, inii ya pawangnya Arsen." Asya jadi canggung mendengarnya.


"Ini ya pacar kamu, Sen?" Tanya Mama Alex.


"Bukan, Tante."


"Tante? Panggil bunda." Suruh Pak Andre.


"Bbukan.. Bunda." Mama Alex tersenyum senang mendengarnya.


"Senang dengar kamu panggil bundaa, maafin bunda ya, Arsen." Arsen membalas dengan senyuman.


"Gapapa, Bunda. Yang udah berlalu kita lupain aja."


"Gaya luu!"


"Berisikk!" Alex tertawa melihatnya.


"Kamu mirip sama papa ya, Sen. Kenapa dulu papa gak sadar kalau pembuat onar ini anak papa?"


"Papa katarak, maybe."


"Aaghh.. aduh aduhh, sakittt byyy." Ringis Arsen kesakitan, Asya sedang mencubitnya.


"Asbun aja tu mulut ngomong! Itu papa luu!!"


"Hehee, nantikan minta maaf." Bisik Arsen.


"Goblougg sia!" Arsen tertawa.


"Kalian berdua pacaran pasti, kann?!" Tanya Mikko menyipitkan mata.


"Nggak, Om. Bukann," jawab Asya.


"Gak yakin gue." Sahut Alex.


"Eumm, bukan pacar?" Asya menggeleng.


"Nanti langsung jad–"


"Baguslah, kan papa bisa jodohin Arsen nantinya."


"HAH?! Jodohin apaaan?! Jangan yang nggak nggak deh, Pa. Arsen musuhin lagi mauu?!"


"Lohh, kok marah gituu?"


"Ya papa apa-apaan jodohin Arsen? Jodohin Alex aja tuhh!"


"Alex punya Adinda, kamu aja deh."


"NO! Kalau papa jodohin Arsen, Arsen pergi dari Indonesia."

__ADS_1


Asya menatapnya serius lalu membatin, 'kokk ngamok si bujang ini?! Gertak doang pastii, yakali dia mau pergi dari Indonesia. Kalaupun beneran mau pergii, negara mana yang mau nerima?'


__ADS_2