
"Hi! Long time no see."
"Kakk... Fauzi?"
Fauzi tersenyum senang. "Suatu kehormatan masih diinget sama nona muda yang cantik jelita," Asya tertawa mendengarnya. "Kakak sam—"
Belum sempat Asya menyelesaikan perkataannya, tangan Asya ditarik pelan. Pelakunya tak lain tak bukan adalah sang calon suami. Asya diam dibelakang Arsen sambil kebingungan.
Arsen tidak datang sendiri, ia bersama dengan Zafran dan Azril. "Kenapaa orang dari masa lalu datang lagii?" gumam Arsen sedikit kesal. Zafran maju satu langkah mendekati Fauzi.
"Lama gak ketemu, Zi," tangan Zafran mengulur. Fauzi menerimanya masih tetap tersenyum. "Hahaha, iya nih. Gue sibuk. Istri lu mana?"
Mereka berdua memang akrab, karena Fauzi adalah teman dekatnya Zafran dahulu. Di chapter dua puluh dua ada tuh yaa, interaksi akrab Fauzi dan Zafran dulu.
"Istri gue di rumah, ini tadi bawa pasukan doang. Lu sendiri gimana? Masih belom nikah nih?" Fauzi cengengesan, "Iya masih belom. Mau Asya aja boleh?"
Arsen sedikit memanas. Sadar akan hal itu, Asya menggenggam tangannya erat. Asya, Azril dan Arsen hanya diam dan menunggu jawaban Zafran.
"Lu mau Asya? Boleh. Tapi lu harus lewatin calon ipar gue dulu. Btw, calon ipar gue setia, gak pernah ninggalin Asya dan gak pernah pindah-pindah rumah."
Maaf tersinggung, ini hanya untuk menyinggung Fauzi yang selalu berpindah rumah. Harap maklum, pindah tempat penugasan ya auto pindah rumah.
Mendengar perkataan Zafran barusan Fauzi tertawa. "Ternyata musuh gue tetap sama ya, dari dulu sampe sekarang masih tetap dia. Kok bisa gue kalah sama berandal ini?"
Arsen tertawa remeh. "Nyatanya si berandal ini lebih unggul dalam hal apapun dari Anda, Pak."
"Yaa yaaa, saya mengalah."
"No no. Bukan mengalah tapi sadar diri kalau kalah. Jujur itu perlu lhoh, Pak," goda Arsen meledek. Fauzi sedikit tersinggung, ia melewati Zafran dan mendekati Arsen.
"Jangan belagu, saya bisa ambil Asya dari kamu," bisik Fauzi yang hanya didengar Arsen. Arsen tersenyum sinis. Zafran, Asya, dan Azril menatap penuh tanya ke arah Arsen.
Bukan semakin maju menantang Fauzi, Arsen malah mundur. Ia juga membawa Asya mundur perlahan. Melihat hal tersebut, Fauzi terheran-heran.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba...
'BUGH!!'
Pukulan keras menghantam pipi Fauzi sampai menabrak rak perjajanan. Pukulan Arsen memang sekuat itu.
Mencium aroma baku hantam, Asya menarik Arsen pergi ke barisan rak yang lain. Arsen mengikutinya tanpa protes.
Kini tersisa Zafran, Azril dan Fauzi di sana. Fauzi mengelap darah disudut bibirnya perlahan sambil meringis kesakitan. "Mau lu apa sih, Zi? Lu tau kan Arsen ganas banget kalau emosi, kenapa lu cari emosinya?!!"
"Lu tau dia ganas kalau emosi, terus kenapa masih restuin dia sama Asya?"
"Jadi harusnya sama lu gitu? Sama lu lebih parah begoo," cibir Azril tanpa berpikir.
"Udah deh, Zi. To the point aja sekarang, mau lu apa? Kenapa lu ngincer Asya lagi?"
"Gak ngincer Asya lagi kok. Bentar lagi juga gue mau nikah. Niatnya tadi cuma godain Asya doang gitu, mau ngetes Arsen beneran sayang nggak sama Asya."
"Kalau gak sayang dia gak bakal sampe sekarang. Otak lu kok mikirnya pendek banget sihh? Heran gue," cibir Azril lagi.
Fauzi tidak merespon dan masih mengelap sudut bibirnya. "Lu mau nikah sama siapaa?" tanya Zafran.
"Asya."
"Lu tau kan gue marah lebih lebih lebih ganas dari Arsen? Bisa aja lu langsung mati di tangan gue sekarang. Jadi gak usah main-main, gue serius tanya, lu mau nikah sama siapa?"
"Tara."
"HAH?! GILA LU? Tara adek lu sendiri, man!"
"Iya emang. Gue serius mau nikah sama Tara, gue kebobolan kemarin. Sebenernya gue juga udah bukan polisi."
"Wahh... sinting sih lu! Bisa-bisanya main sama adek sendiri. Sick banget. Jauh-jauh deh ya dari Asya, sampe gue mati juga gak bakal gue restuin lu dekat sama Asya."
Zafran menepuk pundak Fauzi lalu pergi menyusul Asya. "Bang, kawan lu yang satu itu gak waras bangett anjritt!" kata Azril julid di jalan.
"Abang juga kaget dengarnya, nanti suruh Arsen jaga Asya betul-betul ya. Jangan sampe ketemu manusia sinting kek yang tadi lagi."
Di sisi lain. Asya dan Arsen sedang memilih persusuan. Sebenernya Asya sudah mengambilnya tadi, tapi demi menenangkan Arsen ia kembali kesitu.
"Yang mana yaa? Beli yang coklat mulu bosen deh," kata Asya memancing suara Arsen. Arsen tetap diam dan mengamati. "Menurut kamu yang mana? Aku ganti rasa aja atau tetep itu?"
Arsen berjalan kebelakang Asya lalu memeluknya dari belakang. "Cari yang lain ajaa," jawab Arsen pelan dengan sedikit merengek. "Yang manaa? Kopi? Ehhh ini aja kali ya, sayang?"
"Apaa?" Arsen melihat Asya menunjuk bir bintang. "Ngawur banget kamu minta bir bintang, yang lain."
"Sekarang aku tanya, kamu maunya minum apa?"
"Gak ada. Gak mo minum apa-apa maunya nikah," Asya mengelus tangan Arsen. "Sabaaarr, sayang. Emang tadi Fauzi bisikin apasih?"
"Dia bilang dia bisa aja ambil kamu dari aku," jawab Arsen sembari memeluk erat Asya. Asya tidak tau harus berkata apalagi, ia hanya tersenyum mendengar perkataan Arsen.
"Kamu tenang aja, Sen. Nanti abang yang maju paling depan kalau sampe dia ganggu hubungan kalian."
Asya dan Arsen menoleh. Itu Zafran bersama dengan Azril yang datang. "Gak usah hiraukan Fauzi, dia udah gak waras makanya ngomong gitu. Mending kita bayar ke kasir aja sekarang, kita udah ditunggu dari tadi."
"Abang sama Azril duluan aja, nanti kami berdua nyusul."
"Ya udah, tapi jangan lama-lama. Jangan aneh-aneh!" peringatan dari Zafran lalu pergi meninggalkan keduanya. "Terus kita ngapain di sini?" tanya Asya heran.
"Eumm.. ngapain ya? Aku pengen berduaan aja sih sama kamu," bisik Arsen tepat di sebelah telinga Asya. Asya auto menyikut perut Arsen sehingga pelukannya pun terlepas.
"Kenapaa, sayaangg? Sakitt tau ai kamu mahh," Asya tersenyum paksa melihat Arsen. "Ngeri aku tuh liat kamu! Dahlah byee. Abang tunggu Asyaaaa~"
Arsen tertawa melihat Asya berlari menjauh dan menyusul Zafran. "Ahh, kenapa larinya lucu bangett siii?! Gemess!"
...◕◕◕ (❁´◡`❁) ◕◕◕...
Pagi menjelang siang, Asya sedang berkumpul dengan teman-temannya. Semua hadir tanpa terkecuali, termasuk yang dari luar negeri. Mereka berkumpul di kafe tempat biasa nongkrong.
__ADS_1
"Jiakhhh! Yang bentar lagi nikah, kasian gak bisa jelalatan lagii," ledek Ara menatap Asya. "Iya, kasian banget yak!" sahut Glacia ikutan.
"Cihh. Mending gue gak bisa jelalatan dari pada digantung tanpa kepastian."
"WHAHAHAHAHAH! Ayang pinterrr banget jawabnya," kata Arsen puas. "Harus digituin, honey, biar mereka gak songong. Belum tentu dinikahin dah sok-sokan banget sama yang mo nikah."
"Anj- astaghfirullah! Kampret emang lu berduaaa," Asya cengengesan. "Mentang-mentang mau nikah, ngeledek orang sembarangan. Ngajak berantem?"
"Gak dulu. Masa ntar di plaminan gue kudu pake make up tebal buat nutupin bekas bonyok. Kan gak lucu bestii."
"Ya gak usah pake make up. Ntar pasti keren, konsepnya geger geden," usul Dino. "Eh mantep juga tuh konsepnya. Besok kita gitu aja gimana, sayang?" tanya Haikal menatap Ara.
"Gundulmu. Pake konsep gitu auto minta ganti mantu bapakku!" Haikal cemberut. "Konsepnya lucu padahal, ntar di plaminannya kita tambah kea lagi dipenjara gitu. Seru tuh!"
"Ra, kata gue mending lu ganti calon suami. Haikal udah semakin gak beres otaknya."
"Kurang ajaarrr!" Mereka tertawa.
"Tapi setelah gue pikir-pikir, tu konsep emang keren sih. Gue aja besok yang gitu, nyari istri buronan dulu biar pass."
"Kapan temen hamba beres semua, Ya Allah..." Dino cengengesan. "Tobat bae lu pada tobat! Btw, kaga ada yang ganggu lu berdua kan, Sya?" tanya Shaka bersuara.
"Kagak. Cuma kemaren Fauzi tetiba nongol tanpa diundang, macam jelangkung gitu dia."
"Ck! Ngapain lagi tu manusia prik? Gue denger-denger dia udah nikah dah."
"Anjirr sumpah? Sama siapa, Pin?" tanya Asya penasaran. Alvin menggelengkan kepala, "Gue gak tau pasti sama siapa. Tapi katanya emang udah nikah."
"Alhamdulillah dah kalau gituu. Gue lebih tenang dengarnya," kata Arsen santai. "Emang maren dia ngapain? Ngomong apa aja?"
"Yang jelas dia bilang mau rebut Asya. Gue tinju mukanye langsung sampe nubruk rak di supermarket."
"Baguss, Sen, mantep! Kalau dia ganggu lagi bilang, gue sama yang lain ikut maju ngehajar dia ntar," kata Haikal tak terima. Arsen mengacungkan jempol, "Amann."
"Sya, pinjem hape lu. Gue mau liat bentar," Dengan muka santai tanpa takut apapun, Asya memberikan ponselnya pada Alvin. "Mo buat apaan?"
"Mau cek, lu masih save Fauzi kagak."
"Ya jelas kagak egee. Kurang kerjaan bangett dah buset." Alvin tidak menjawab, ia lanjut memeriksa ponsel Asya layaknya razia.
Arsen pun ikut mengintip.
"Lho, ini kok nomor ku ndak di save?" tanya Arsen bingung setelah melihat room chat WhatsApp di ponsel Asya. "Itu kan ke riset kemarinn."
"Terus ga di save lagi??"
"Emang harus di save?" tanya Asya gantian.
"Yaaa... nggak sih."
"Nah, yaudah."
"Ajaib!"
"Hah? Ajaib apaan? Kenapa ajaib?" tanya Asya lagi karena melihat Haikal dan yang lain menatap aneh dirinya. "Lu berdua.. agak lain yaa?"
"Kalau nomornya gak di save... NTAR GIMANA NGEHUBUNGINNYA?!!" tanya Alvin ngegas. "Ya kan bisa aja ngehubungin tanpa di save. Emang wajib save?"
"Tapikan..."
"Udahlah iyain aja iyain! Kalau dilanjutkan terus gak bakal selesai ntar sampe abad kelima!"
"Aughhh, prik!"
...◕◕◕ (ू•ᴗ•ू❁) ◕◕◕...
Today is Arsen's wedding day with Asya.
Kini Asya dan pria yang bergelar suaminya itu sedang tersenyum sumringah di atas plaminan. Akad nikah sudah dilaksanakan pagi tadi, sekarang waktunya resepsi.
Sesuai usulan Aska waktu itu, pernikahan ini tertutup tapi digelar dengan sangat mewah dalam sebuah gedung yang Aska beli.
Iyaa, dibeli!
Karena putri tercantiknya akan ditanggung pria lain, Aska memilih untuk membeli gedung dari pada harus menyewa. Cukup mahal memang, tapi demi sang putri Aska jabanin.
Cara masuk gedung ini tidak mudah. Harus menggunakan kode QR yang terdapat dalam undangan. Orang asing dijamin sulit masuk, kecuali mereka memang punya orang dalam.
Di malam yang indah ini, Arsen tampak saaaaangat tampan dengan tuxedo yang dikenakan, dan Asya juga terlihat saaaaangat cantik menggunakan gaunnya.
Sampai banyak pasang mata yang iri melihat ketampanan dan kecantikan pasangan ini. Bukan iri yang iri banget gitu bukan, tapi iri biasa. Tau la yaa bedanya apa ><
"Kiww! Cewekkk, nikah ma abang yuuu!"
"Gua tabok tar lu, Pin!" Alvin tertawa ngakak. "Masih ajaaa sensi. Takut banget diambil, padahal udah diiket sehidup semati tuh ayangnya."
"Parnooo. Takut bangett emang bini gue diambil orangg," jawab Arsen. "Yang mo ngambil udah ketar-ketir luan coyyy, pawangnya aja bringas begini."
"Lah gue gak ketar-ketir tuh. Langsung sadar diri ajaa, tipe Asya cowo jelek banyak duitnya. Sedangkan gue cowo ganteng banyak duitnya," sahut Dino.
"Pede bangett luuu!" Mereka terkekeh mendengar respon Arsen yang tidak santai. "Btw, yang datang rame jugaa ya. Katanya tertutup?"
"Gue sendiri bingung, kok rame jugaaa. Tapi rata-rata yang datang tu rekan kerja bokap sama mertua. Mungkin juga rekannya mas suami," jawab Asya.
"Jiakhh, mas suami. Cabut dah gue cabuttt! Gak bisa gue denger begituan." Asya dan Arsen tertawa melihat teman-temannya pergi. "Sweet ugha ayang manggilnya mas suami, coba panggil lagi?"
"Gakk mauukkk, tadi tu cuma manas-manasin mereka doang," kata Asya nyengir. "Jadi tar panggil aku apa, sayang?"
"Eum... babukuu?"
"Jahat kamu mahhh."
Asya tertawa lalu mengecup pipi Arsen sekilas. "Jadi mau dipanggil apaa? Mas?"
__ADS_1
"Boleh jugaa tuh."
"Gak, gak. Gak kerenn. Oppa aja gimanaa?" tanya Asya menawar. "No, noo. Chagiya or yeobo?"
"An chotha! How bout ahjussi?"
"Ngawurrr!"
Asya cengengesan, "Yaudah kalau gitu chagiya aja dehh. Bagusan chagiyaa."
"Mas aja gimana mas? Lebih maniezzzz," kata Arsen terus menawar. "Aku panggil nama aja dah ahhh biar ga ribet!"
"Gak seru kamu," Arsen merajukkk! Asya tidak pikir panjang, ia langsung mengeluarkan jurusnya. "Salah sendirii gak mau dipanggil chagiya," katanya sambil ikut merajuk.
Arsen menatap Asya sambil menyipitkan mata. Dirinya mendekat dan langsung mengecup bibir Asya. "ARSEN!" Pelakunya malah tertawa.
"Sabar, Sen, sabarr. Masih rame lhohh," goda Aska yang muncul bersama dengan Zia. "Abisnyaa gemesinn nih om anaknya."
"Hahahaha. Om juga tau anak om emang semenggemaskan itu, sama kek mommynya."
"Ngomong-ngomong, kok masih manggil om nih? Gimana ceritanya masih panggil om?"
"Ah iyaa! Panggil daddy, Sen."
"Owkayy, daddy..."
"Aahahaha! Canggung."
"Nanti bakal terbiasa. Kalian pasti capek kan udah dari tadi samperin tamu? Balik aja ke hotel gapapaa, nanti biar daddy, mommy, Azril dan yang lain bakal ngurus sisanya."
"Bener gapapa kann, daddy? Kasian juga liat Asya cape banget pake high heels," ujar Arsen memastikan.
"Iya gapapa, keliatan capee juga mukanya Asya tu. Nanti diluar udah ada supir plus mobil baru untuk kalian, jadi tinggal just go to the hotel."
"Aah... thank you daddy!" kata Asya senang lalu memeluk daddynya. "You're welcome, sayang. Nurut-nurut ya sama suami? Kalau dia kasar jangan segan-segan lapor daddy, okay?" Asya mengangguk.
"Udah sanaa. Besok masih ketemu di rumah, biarin anaknya istirahat dulu," protes Zia. Asya melepas pelukan kemudian menyalami tangan kedua orang tuanya.
"Jaga acara ya, mom, dadd. Asya mau bocan duluu," pamitnya dengan senyuman meledek. "Cihh, paling sampe hotel gak bakal tidur kamu sampe pagi."
Asya terdiam. Perlahan-lahan matanya menoleh ke arah Arsen. Arsennya malah melihat ke arah lain sambil menahan senyum.
"Horor yee..." Aska, Zia dan Arsen tertawa.
Arsen menghampiri Aska untuk bersaliman, begitu juga pada Zia. "Arsen bawa Asya istirahat dulu ya, mom, dadd."
"Iyaa. Hati-hati dijalan. Unboxingnya juga hati-hati," kata Aska semakin menggoda Asya. "OMG! Apaaa-apaannn?!"
"Unboxing kado, Syaaa. Udah sono pergii!" Sembari menggenggam tangan Asya, Arsen pergi diam-diam meninggalkan party.
"Gak unboxing aneh-aneh kan?" tanya Asya di perjalanan menuju hotel. Arsen tidak menjawab, ia malah senyum-senyum gak jelas. "Oh my God! I'm wanna run right now."
Arsen tetap senyum-senyum sampai akhirnya tiba di hotel. Asya keluar dari mobil dan menghampiri Arsen. Seketika lupaa masalah unboxing gara-gara membayangkan empuknya kasur. Asya sangat kelelahan hari ini.
Kalian tau bukan, Arsen adalah tokoh fiksi yang cukup peka?
Dirinya langsung menggendong Asya ala bridal style karena melihat wajah kelelahan yang terpancar dimuka Asya. Asya sedikit terkejut, tapi ia membiarkan Arsen menggendong sampai ke dalam hotel.
"Gak capek kamu?" tanya Asya saat di dalam lift. Arsen menatap mata Asya. "Capek, tapi demi gendong kamu mah gak capek."
"Yekk modus mulu!" kata Asya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arsen. Arsen sedikit salting. Begitu pintu lift terbuka, Arsen kembali berjalan sampai tiba di dalam kamar.
Arsen meletakkan Asya perlahan di kasur kemudian meluruskan pinggangnya yang sedikit encok. "Keknya aku harus lebih rajin olahraga, biar gak kecapean gendong kamu."
"Kamu harus rajin olahraga, atau aku yang harus diet nih ceritanya?" tanya Asya berpindah ke meja rias. "Aku yang harus rajin olahraga, sayang. Ngapain kamu diet, udah sexy juga."
Asya menghentikan gerakannya dan menatap kaku Arsen yang sedang melepas jasnya. Ia kembali teringat dengan unboxing.
Asya auto berdiri dan sedikit menjauhi Arsen. Menyadari hal itu, Arsen iseng semakin mendekati Asya.
'Bugh!'
Asya nabrak dinding. Arsen pun mengurung Asya dengan tangannya.
Cup!
Cup!
Cup!
Arsen mengecup seluruh area wajah Asya. Asya yang dicium terus menerus merasa agak kesal. Dirinya mendorong pundak Arsen. "Aceennnnn, ih napaaa kamuuu niiii?"
Arsen berhenti dan tersenyum. "Cuma mo cium ajaaa, kan udah sahh," jawab Arsen songong. Asya menggelengkan kepala.
'Plss, ini baru beberapa menit masuk kamar udah seagresif inii, gimana ntar... au ah! Jadi takut di sergap,' batin Asya.
Melihat Asya yang melamun, Arsen mesem-mesem lagi. Sepertinya Arsen tau apa yang ada di pikiran Asya. Sedang cosplay jadi cenayang si Arsen.
"Aku tau lhoh apa yang kamu pikirin," bisik Arsen tiba-tiba.
"Hah? Apaa?"
"Mau tes ranjang?"
Asya auto mendorong Arsen lagi. "Apaan sihh kamu?? Ga, ga, gaa. Aku mo mandi bye!" Asya lari ke kamar mandi.
"Sayanggg. Ikut doonggg, kita mandinya berduaa."
"NGGAKKK!"
Arsen terkekeh. "Lucuuukk bangett bini guaaa woii! Aaghhh gemas pengen makan!!"
...****************...
__ADS_1
...Masih mau lanjut atau ending di sini guys?...
...Mumpung libur nih, InsyaAllah dipercepat deh upnyaa hihihi. Ayo komen! 😎💘...