
Haii? Siapa maren ikut nebak-nebak orang yang buntutin Asya-Arsen? Coba komen, kalian ngiranya siapaaa. Kalau bener nanti dapet hadiah 2jt dipotong pajak 2.5jt π€£ππΌ
Happy reading frenzz~
βββ
Pantai. Tempat yang tidak pernah mereka lewatkan ketika healing bersama. Seperti saat ini, mereka berada di pinggir pantai dengan cuaca sedikit mendung, cukup adem.
Layaknya piknik, mereka membentang tikar dipinggir pantai sembari menikmati udara yang lumayan segar. Beberapa diantaranya masih sibuk main air, sedangkan Asya kini tidur di paha Arsen.
"Energinya habis ya ibuk ini?" goda Alvin yang datang membawa beberapa makanan ringan dari mobil. Arsen tersenyum sembari menyingkirkan rambut-rambut yang menghalangi wajah Asya. "Lowbat."
"Btw, yang tadi mau lu gimanain?" tanya Alvin mengalihkan topik. Arsen menghela nafas, "Masih mikirin rencana apa yang cocok."
"Lu emang udah yakin itu orangnya?" Azril tiba-tiba nongol seperti tuyul. Kedua pria itu menggelengkan kepalanya melihat manusia ghoib satu ini. "Gue yakin, sorotan matanya tadi sama persis."
"Tapi kata gue, lebih baik lu periksa lagi bener-bener. Gak lucu kalau salah orang, Sen."
"Udah jelas itu dia, Pin. Gue tau motifnya."
"Apa motifnya?"
"Dia suka sama Asya. Bahkan kemarin ada gue di situ dengan beraninya dia ngajak Asya jalan, kan gila," kata Arsen sedikit emosi. "Ya mungkin awalnya dia belum tau. Pokoknya lu pastiin dulu biar gak malu nantinya."
"Kalau waktu gue mastiin Asya udah kenak gimana?"
"Takdir."
"Anj. Enak banget mulut lu bilang gitu ya, Zrill. Gue laporin bokap mampuss lu," ancam Arsen bercanda. Azril mendengus kesal. "Gak asik ahh punya ipar cepu!!"
"Wes. Kita doakan aja sekarang, semoga gak terjadi apa-apa. Lu kalau butuh bantuan, gue siap bantu, Sen. Demi Asya apapun gue lakuin dah."
"Alpin anjay mabarrr... Sok iya banget luu."
"Serius gue."
"Ahahaha, iyain aja kali yaaa."
"Ini lu pada kalau udah punya cewek juga bakal tetep gini ke Asya? Lebih mentingin Asya gitu?" tanya Arsen serius. "Tergantung. Kami ini bodyguard pribadi Asya, Sen. Sejak dari kandungan."
Arsen mengangguk paham, "Tau gue tau. Tapi kalau bisa ya jangan over banget. Bukan gue posesif sebagai suaminya tuh bukan, cuma gue takut musuh Asya makin banyak gara-gara itu. You know lah."
"Sip, paham. Santai aja, kita juga tau batasan kok. Liat aja si Hekal sama Shaka. Jadi ya tergantung situasinya gimana. Kita juga tau kok, sekarang Asya punya lu."
"Makasih atas pengertiannya, tuan Alvin yang terhormat." Alvin malah tertawa. "Tutor banyak duit deh, Sen. Gue pengen nikah."
"Ceweknya ada?"
"Banyak duit dulu, urusan cewek belakangan. Oh iya, lu sama Asya mau cepet-cepet punya dede?" Arsen diam sejenak lalu menatap Asya kembali.
"Tergantung yang mau mengandung. Fyi aja, tanda yang kalian liat itutu karena tadi malem gue lost control," jelas Arsen tanpa diminta.
"Loh?? First time?"
"Yes."
"Anjirr, gue kira udah sering. Jadi pas malam pertama abis nikah ngapain?" tanya Azril penasaran. "Ya turu anjayy, lu kira kagak capek?"
"Iya capek sih. Yaudah ah karep. Pokoknya gue mau req punya ponakan cewek yang lucu dan gemayy." Azril cengengesan.
"Lu buat sendiri dehh, jangan nunggu."
"Mau nunda ya?" tanya Alvin gantian.
"Nggak juga. Kalau Allah kasih secepatnya ya gak masalah sih, belum dikasih juga tetep gak masalah. Gue nikah sama Asya juga gak terlalu fokusnya kesana, yang terpenting gue selalu sama Asya."
"Lagipula punya anak tu kudu siap mental, siap finansial, pokoknya siap semua. Gue sendiri gak tau Asya udah siap apa belum. Harusnya kemarin gue tahan aja kali ya?"
"Awokawok. Jadi kepikiran dia," ledek Azril.
"Gak masalah tau, ayang. Cepat atau lambat juga sama aja kan?" Mereka bertiga terkejut mendengar Asya tiba-tiba bersuara. Asya bangun dari rebahannya lalu duduk. "Dengerin daritadi??"
"Ya gak mungkin nggak, telinga aku kan berfungsi dengan baik." Arsen berohria dengan santai. "Terus itu tadi gimana kalau jadi? Bibitku unggul, jadi kemungkinan bisa sekali jadi."
Asya tertawa, "Sok iya bangettt."
"Serius nich. Semisalnya kamu emang belum mau tar aku pake pengaman deh, kita beli banyak."
"Weh udahlah, skip aja bahasan ini. Gue belum nikah anjirr, tolong dimengerti!!" keluh Azril kesal. "Lu mending ada Naina, lah gue apa?"
"Ahahaha, kasian masih main solo."
"Cukup tau ya, Arsenn." Arsen tertawa mendengar perkataan temannya. Asya yang duduk menatap Arsen dengan serius. Merasa ditatap, Arsen menatapnya gantian. "Kenapa, sayang?" tanya Arsen lemah lembut.
__ADS_1
"Nggakpapa. Cumau mau tatap ketampanan kamu aja." Arsen menyipitkan mata sambil tersenyum mencurigakan. "Apaann matanya natap begituuu?" tanya Asya tertawa.
"Gemess. Kamu kalau kek gini tu gemesin banget, bawaannya pengen check-in."
"HEH!!" Arsen terkekeh.
"Ampun dah, gue diem aja. Gue batu."
"Gue juga. Gue ikan, gue diem."
"Udah ahh. Ayok cari makann, gue laper nih," keluh Asya memegang perut. Alvin memanggil anggota yang lain, setelah berkumpul barulah mereka berdiskusi. "Mau makan apa ni?"
"Gue pengen nasi padang!" sahut Asya. Beberapa diantara mereka juga menyetujui ingin makan nasi padang. Hanya Arsen yang terdiam dari tadi. Azril menyenggol pundaknya, "Ngapa diem mulu lu? Lu mau makan apaan?"
"Gue? Maunya makan Asya."
"MINGGAT SANA KAU, SEN, MINGGAT!"
"Dasar bucin akutt."
...βββ...
Asya dan Arsen sampai di rumah pukul sebelas malam. Dikarenakan belum mengantuk, sehabis mandi tadi keduanya rebahan santai sembari menonton televisi.
"Sen."
"Biasain jangan manggil namaa, gak sopan banget kamu manggil suaminya pake nama doang." Asya tertawa kecil, baru kali ini mendengar Arsen protes.
"Yaudah, Mas Arsen."
"Aba-aba dulu dong, sayang. Kamu pengen aku mati muda yaaa??" Asya tertawa lagi. "Apasih salah mulu heraaann," ujar Asya bercanda.
"Ya abisnya kamuu. Maaf dehh, kenapa manggil aku?" Kini tatapan Arsen terfokus pada mata Asya. Asya yang ditatap malah diam, mendadak lupa mau bilang apa. Tapi tiba-tiba ia berpindah ke atas tubuh Arsen, Asya mencium bibir Arsen.
"Wahh, kacau banget istriku. Mau main?" tanya Arsen setelah ciuman terlepas. Asya menggeleng dengan senyuman, "Aku capek."
"Aku yang gerak."
"Noo."
"Kebiasaan. Terus ini kamu ngapain di atas aku??"
"Gak ngapa-ngapain lahh. Cuma mo bilang I love you," kata Asya meletakkan kepalanya tepat di atas dada Arsen. Arsen tertawa dan mengelus punggung Asya lembut, "I love you more, babyy."
Arsen berdehem sembari mengelus rambut Asya. Ia selalu memberikan kebebasan pada istrinya untuk melakukan apapun yang istrinya mau. Kalau Arsen merasa tak dapat menahannya, ia akan langsung memangsa sang istri.
"Ih, sayang, jedag jedug bangett. Gak sakit kan kamuu??" tanya Asya panik. "Aku gak kenapa-kenapa, mungkin yang di bawah ini yang sedikit bermasalah. Sesakk." Asya tertawa sekilas, ia berpindah ke samping tubuh Arsen.
"Gak boleh gitu tau, tenang ya," kata Asya santai sembari mengelusnya di balik celana. Arsen mengerang sejenak kemudian mengubah posisi, sekarang dirinya berada di atas Asya. "Tanggung jawab?"
Asya menggeleng cepat, "Aku capek mau bobo. Kamu awas gih, beraattt."
Arsen menatapnya sedih. "Ah kamu maahh." Melihat Asya memejamkan mata, Arsen malah menjatuhkan kepalanya di dekat leher Asya. "Mancing bisa, tanggungjawab gak bisa."
"Gak denger." Arsen kesal, ia membuat kissmarkk lagi di leher Asya. "Aβ emm... Arseenn...." Melihat Asya kini memejamkan mata, Arsen langsung menyambar bibirnya dengan brutal.
Asya mulai mengikuti permainan, tangannya juga ia kalungkan di leher Arsen. Beberapa menit kemudian, Arsen melepasnya, ia menatap Asya dan mengelus pipinya lembut. "Kalau gak mau jangan mancing, sayang."
"Yang bilang gak mau... Siapa?" Arsen terbengong sejenak lalu tersadar. "Berarti mau?"
"Yang bilang mau... Siapa?"
"Hsstt.. Nakal banget kamu sekarang. Kalau anak nakal biasanya harus dikasih hukuman kan?" tanya Arsen masih dengan posisi yang sama. "Harusnya dikasih duit sih, Mas Arsen."
"Aaahh, u driving me crazy, babyy!" keluh Arsen sembari berpindah ke posisi sebelumnya dan memeluk guling membelakangi Asya. Asya tertawa melihat Arsen frustasi. "Kok gak jadi?"
"Masih nanya pulaa. Kamunya mau atau nggak? Gak bakal mulai aku kalau kamunya gak mau." Asya pura-pura berpikir. "Gak mau dehh."
"Wess karepmuuu, Yang. Tidur aja ayok udah malem," ajak Arsen masih membelakangi Asya. "Gak mau tidur dehh."
"Kenapa lagi?"
"Gak dipelukk. Kamu marah sama aku kah?" Arsen pun berbalik menatap Asya yang sedang menghadapnya. "Sini peyukk," Asya tersenyum senang kemudian memeluk Arsen erat.
Arsen ikut senang, ia mengelus rambut Asya dengan sesekali kecupan. "Sleep well ya, istriku."
...βββ...
"Stevan."
Arsen berada di gudang kampus sekarang. Sehabis jam kelas, tanpa sepengetahuan Asya, Arsen pergi mencari Stevan. Arsen menemukannya di sini, di gudang kampus.
"Oh? Suami Asya, ya? Ada perlu apa? Mau berantem karena masalah yang kemaren-kemaren??" tanya Stevan dengan nada songong dan menantang.
__ADS_1
"Gue gak mau buang-buang waktu banyak buat berantem sama lu, lagian udah jelas gue yang bakal menang. Gue percepat aja ya, gue males liat lu. Udah berapa lama lu jadi penguntit gue sama Asya?"
Ekspresi Stevan sedikit terkejut, tapi sebisa mungkin dirinya mencoba untuk tetap tenang. "Gue gak segabut itu kali buat nguntit lu sama Asya."
"Tapi nyatanya, lu emang segabut itu. Mobil putih semalam mobil lu kan? Gak perlu ngelak, gue tau itu lu." Stevan pun tersenyum, ia memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. "Ketahuan, ya?"
"Buat apa lu ngikutin gue sama Asya? Sejak kapan?"
"Gak inget sejak kapan, tapi udah lama juga sih. Kayaknya belum saatnya lu tau alasan kenapa gue ngikutin lu sama Asya. Tapi satu hal yang pasti harus lu tau, hidup lu sama Asya gak bakal tenang sekarang. Gak bakal bisa tenang lagi."
Arsen lumayan emosi sekarang, giginya menggertak dan tangannya mulai mengepal. Ia mencoba mengatur nafas lalu melepas kepalannya. "Gak usah ganggu gue sama Asya. Lu bukan tandingan gue. Mending lu lakuin hal yang lebih berfaedah daripada buang-buang tenaga buat hal-hal yang gak penting."
Stevan tertawa. "Gak usah sok ceramah, jijik gue dengernya. Kalau bukan karena balas dendam, gue juga ogah deket lu. Tapi setelah gue pikir-pikir asik juga di dekat Asya. Gue jadi bayangin gimana nikmatnya bercinta sama Asya."
"Bangst!" Arsen langsung meninju keras wajah Stevan. Setelah Stevan terjatuh, Arsen meletakkan kakinya ke area kelamin Stevan. "Perlu gue injek kuat-kuat ini? Kenapa manusia yang menjijikkan kek lu gini bisa hidup di dunia?"
"Kenapa juga ada orang gak punya otak dan gak mikirin hal lainnya kek lu dan keluarga Asya." Arsen terdiam, ia berpikir keras. Teringat tadi Stevan mengatakan ingin balas dendam, Arsen jadi kebingungan.
"Singkirkan kaki lu atau Asya bakal mati nanti malam."
Arsen menghela nafas lagi lalu berdiri sambil berkacak pinggang. Stevan juga berdiri dan membersihkan bajunya yang kotor, setelah itu menatap Arsen yang sedang berpikir.
"Kali ini gue gak bakal kalah, siap-siap aja liat orang yang lu sayang mati satu-persatu." Stevan langsung pergi meninggalkan Arsen. Arsen membiarkan Stevan sembari menatap kepergiannya.
"Sebelum orang yang gue sayang mati, lu yang bakal gue matikan lebih dulu."
...βββ...
Pukul 11.30 malam ini, Asya baru saja tiba di rumah setelah keluar bersama teman kuliahnya. Ia masuk apartemen dengan sedikit mengendap-ngendap. Jujur, Asya takut suaminya marah karena dirinya pulang larut malam.
Melihat Arsen sedang sibuk di meja kerjanya, Asya meletakkan belanjaan ke dapur lalu datang menghampiri Arsen. Asya sedikit memundurkan kursi kemudian duduk dipangkuan dan menghadap suaminya.
Arsen diam tanpa reaksi. "Aku pulang, sayang," sapa Asya sembari membetulkan rambut Arsen. Melihat Arsen diam, Asya mengecup bibirnya beberapa kali lalu ditutup dengan ******* singkat.
"Hey?"
Arsen yang tadinya fokus pada laptop, kini beralih pandangan menatap Asya. "Darimana?"
"Dari luar, main sama temen kuliah."
"Kenapa gak izin?"
"Aku udah izin, Arsen."
"Emangnya udah aku izinin? Kok bisa-bisanya langsung pergi padahal belum dapat izin suami. Aku telepon gak ada diangkat pula. Kamu kira aku gak khawatir daritadi?" cerocos Arsen terus-menerus.
"HP aku mati. Lagian aku udahβ"
"Iya, udah izin, tapi belum aku izinin. Aku masih rapat tadi, gak bisa nunggu dulu bentar baru langsung pergi? Oke, mungkin aku juga salah karena buat kamu nunggu. Tapi kenapa harus pulang larut malam gini? Gak inget waktu? Gak inget punya suami?"
Asya memanyunkan bibirnya. "Nggak gituu, tadi aku udah mau pulang tapi mereka tahan aku mulu. Aku minta maaf ya? Okay? Maafin aku. Janji gak ngulangin."
"Gak usah janji kalau gak bisa ditepati."
Asya merasa sedikit kesal sekarang. "Kamu kenapa sensi banget daritadi? Aku udah minta maaf."
"Aku cemas, Asya. Aku khawatir. Aku takut kamu dimacem-macemin sama Stevan. Ngertiin perasaan aku sekali aja bisa dong, ya? Aku takut kehilangan kamu."
Asya menatap lekat mata Arsen. Memang tersirat kekhawatiran dari matanya. Asya merasa bersalah. "Aku minta maaf.. Maafin aku yaa, sayang? Please, janji gak aku ulang. Besok-besok aku bakal pergi main setelah izin dari kamu. Janjii."
"Kalau nggak?"
"Marahin aja aku gakpapa. Sekarang maafin aku, okeii? Aku janji bakal turutin kemauan kamu, tapi maafin aku."
Arsen menutup laptopnya lalu mengangkat Asya dan membawanya ke ranjang. Arsen meletakkan Asya pelan-pelan lalu menindihnya. "Hehh!??"
"Turutin yang aku mau, kan? Aku maunya ini." Asya mengangakan mulutnya karena terkejut. "Hah? Ehm. Gak ada yang lain? Aku capek tau baru pulang."
"Aku juga capek abis kuliah langsung kerja. Pusing banget kepala ku mikirin kerjaan gak habis-habis. Pulang pengen peluk istri sambil berkeluh-kesah, tapi orangnya malah asik keluyuran tanpa izin sampe pulang larut malam."
Asya tersenyum merayu lalu merentangkan tangan. "Ampun dah. Lakukan apapun yang kamu mau, Mas. Pasrah nih aku." Arsen tersenyum miring. Tiba-tiba, tanpa aba-aba pun Arsen langsung menyambar bibir Asya.
Asya membalas semampunya. Arsen melepas ciuman mereka lalu mengelus bibir Asya sembari memperhatikan istrinya yang terpaku. Mereka terus bertatapan cukup lama.
Ntah keberanian darimana, Asya menarik tangannya yang ada di leher Arsen agar Arsen kembali menciumnya, tapi sayang, Arsen menahan tarikan Asya. "Kenapa gak mauu? Aku bau?"
Arsen menggeleng. "Biar aku yang ambil kendali malam ini, ini hukuman biar kamu gak ngulangin kesalahan yang sama."
Asya terdiam kaku, kini ia menatap Arsen yang sedang melepaskan dasi sambil menatap lapar kearahnya. "Terlihat ada tanda-tanda kebrutalan..." Arsen tersenyum smirk.
"Now, u have a choice, baby. Aku punya dasi sama gesper, kamu mau pake yang mana?"
"G-gak gitu juga dong hukumannya..."
__ADS_1