Barbar Generation

Barbar Generation
Bodohh!


__ADS_3

"I love you."


Ara terpaku mendengar bisikan maut Haikal. Haikal mundur lalu tersenyum manis.


"Tapi gue–"


"Tauuu, gue cuma mau bilang itu aja biar lu tau. Nanti kalau siap, gue bawa ortu kerumah lu."


Ara blushing!


"EHM, tolongg, Yuna kesedak batu bata warna ijoo!" Mereka terkekeh.


"Yuna pengen jugaaa, kah?" Tanya Racksa.


"Nggakk, bang. Yuna masikk mudaaa."


"Lu tau nggaknya cewek, Din?" Tanya Arsen menatap Dino.


"Nggak artinya iya. Iya artinya iya. Nggak belum tentu iya. Iya belum tentu iya."


"GAK SERIBET ITU JUGA, GOBLOKKK. NGESELIN LU YAK!" Dino cengengesan melihat Asya ngamokk.


"Iya terserah." Jawab Dino sok pasrah.


"Dih kek cewek."


"Astaghfirullahalazim!" Mereka tertawa lagi.


"Zrill, lu mau gue lamar juga?" Tanya Racksa ketika Azril terus menatapnya.


"Najis anj!!" Mereka terkekeh untuk kesekian kalinya.


"Lu suka gak, Ra? Skincare nya sama kan?" Ara mengangguk.


"Pasti mahalll, apalagi bola sama sepatunyaa."


"Skincarenya bonus karena kata para cowok kecil banget kalau cuma bola, sepatu samaa pelindung lutut dann sikuuu." Jawab Yuna.


"Tau darimana skincare gue inii? Terus kenapa beliin bola volly??"


"Dari bunda lu. Gue tauuu lu dulu jagooo banget main volly di sekolah lamaa. Makanya inisiatif beli giniann." Gantian Asya yang menjawab.


"Eeeummmm.. Makasihh banyakkkk!!"


"Aaaa, sumpahh. Gue terharu bangetttt, ini mahal mahall anjrirt. Lu pada tuh dapat uang darimana?!"


"Patungan. Udah sans ajaa, happy bornday manusia kuatt!" Ara tersenyum lagi kemudian memeluk Yuna dan Asya.


"Sesekali meluk cowok gitu kek, mereka berdua muluu." Protes Racksa.


"Bukan muhrim!" Jawab Ara ketus.


"Eh tunggu tunggu, tadi lu padaa sengaja cuekin gue?!" Mereka mengangguk.


"Dih, parah sihh!!"


"Kan biar susurupris."


"Hahaha."


Tingg.. Tingg..


Ara meraih ponselnya.


papaaa


online


Betah banget disana? Gak rindu papa kamu? Giliran gak dirumah nyariin papa muluuu_–


Buruan pulang oyy!


Ara tertawa kecil membacanya.


papaaa


online


otw bosss


"Ehh gaisss, ini gue tinggal sini dulu yaa? Gue mau balikk." Pamit Ara.


"Eii? Kenapa ditinggal?"


"Berattt, kagak kuatt."


"Ical bantu tuhh. Woiii, Cal!"


"Tanpa lu suruh juga ngerti gue, Sya." Haikal membantu Ara memasukkan barang-barangnya kembali ke dalam kotak itu lalu membawanya.


"Gue balik duluu, yaww. Maacii banyakkk," Mereka tersenyum.


"Tiati, kak Araaa." Ara dan Haikal pun pergi meninggalkan rumah abu-abu.


Ara membawa kue yang di surprise The Bacot Squad—TBS—sedangkan Haikal membawa kotak hadiahnya.


"Kall," Haikal menoleh.


"Yang tadi... lu serius?" Haikal mengangguk.


"Sanggup ldr, gak? Kalau sanggup, sebelum ke London gue ikat lu dalam sebuah pertunangan."


Ara memalingkan wajahnya, masih mengira Ical nipu.


"Ehhh, ada cogann. Siapa inii?" Papa Ara sedang di teras rupanyaa.


"Assalamu'alaikum, Om. Saya Haikal, temen Ara."


"Wa'alaikumsalam. Temen? Temen apa temenn?" Goda papanya.


"Papa apaan sii?!" Ara langsung nyelonong masuk, papanya terkikik geli melihat ekspresi Ara.


"Bentar ya, Om. Naro ini dulu di dalam." Papanya Ara mengangguk, Haikal masuk mengikuti Ara.


Ara menyuruhnya meletakkan langsung ke kamar. Haikal pun menuruti permintaan Ara.


"Serba pink, yaa?" Goda Haikal.


"Ishh, ini punyaa pemilik yang lama. Mau ganti wallpaper tapi kata bunda ntar duluu."


"Gapapa sii, cocok kok sama lu. Pinky."


Ara tertawa kecil, "moduss." Mereka berdua keluar kamar.


"Kamar lu, warna apa?"


"Eem.. putih paduan hitam. Sama kea kamar Azril, kamar gaming. Kenapa? Mau menyesuaikan?"


"Pedeann!" Haikal tertawa.


"Ehh, nak Haikall? Iya kan?" Haikal tersenyum lalu menyalami tangan bunda Ara.


"Iya. Ini Haikal, tantee."


"Bentar, tante anterin teh papanya Ara dulu." Mereka bertiga menuju depan.


"Kamu mau teh?" Tanya papa Ara pada Haikal.


"Nggak, om, nggak terlalu suka tehh."


"Temen-temen new nya Ara suka susu, paa." Ujar Ara.


"Tuhkann, mereka aja biasa minum susu. Kamu disuruh minum susu ogah-ogahann." Kata bundanya.


"Beda circle, bundaa. Dulu kan gengsinya gedee, sekarang betingkahnya makin gedee." Ara dan Haikal tertawa kecil.


"True itu, om." Jawab Haikal cengengesan.


"Kamu siapa namanyaa tadii? Saya lupa."


"Haikal, Om. Haikal Beevay."

__ADS_1


"Kerenn nih namanyaa, mantepp."


Haikal tersipu, "haha makasih, om."


Drttt.. Drttt...


"Bentar ya, Om." Papa Ara mengangguk, Haikal mengambil ponsel. Ternyata cumi. Cuma miskol:v


"Haikal udah di tunggu sama mereka, Om. Haikal pulang dulu ya, om, tantee." Mereka mengangguk.


Haikal menghampiri Ara lalu mengacak rambutnya, "gue balik yaak! Kalau rindu telepon, ready dua puluh empat jam."


"Modus lu!" Haikal cengengesan.


"Assalamu'alaikum, om, tan."


"Wa'alaikumsalam." Haikal benar-benar pergi sekarang.


"Araa, yang tadi cakeppp. Kalau dijadiin calon mantu, papa setuju."


"Apaan dah? Papa ngacookkk."


◕◕◕


06.02


"Beneran diajak sarapan, kann??" Tanya Asya.


"Iyeee monyettt. Yakali gue boongg!"


"Kali ajaa," Asya nyengir.


"Btw, lu macem beneran tinggal di rumah abu-abu dah. MASA SEMUA BAJU SEKOLAH KALYAN DISINII!"


"Yaa.. biar deket. Lagi pula, bonyok gue ke London bareng bonyok Dino. Males tau ke apart, sepiii." Jawab Haikal.


"Cocoteee, bilang aja pengen deket terus sama Ara." Sahut Racksa.


"Fix, Racksa cenayang! Dah la, yok buruann!" Mereka pun keluar dari rumah abu-abu menuju rumah Ara.


"Yunn, lu takut gak?" Bisik Asya.


"Takut bokap kak Ara galak?" Asya menggeleng.


"Berarti lu gak takutt."


"Emang lu takut apaan?" Tanya Arsen.


"Takut ntar kelepasann, mampusss guaa."


"Makanya jangan oversinting jadi setan!" Cibir Azril.


"Setan matamuuu! Dah mo puasa ini, yaa. Jangan nambah dosa kauu!" Azril cengengesan.


Tok tok..


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, ayok masuk anak-anak." Mereka pun masuk bergantian sambil menyalami tangan bunda Ara.


"Widiiii, rajin juga si Araa." Ujar Dino.


"Emangnya lu sama Azril, yang taunya ngegamee gak pernah bantu-bantuu." Sahut Asya.


"Bersoda!" Papa Ara yang baru keluar kamar tertawa kecil mendengarnya.


"Pagi, anak-anakk."


"Ehh, pagi om." Mereka menyalami tangan papa Ara secara bergantian lalu kembali duduk.


"Dua cewek lima cowok, yaa?"


"Ceweknya cuma satu, Om." Jawab Dino.


"Loh inii?" Papa Ara menunjuk Asya.


"Gak masuk kategori wanita, Om. Betina rasa jantan," jawab Racksa.


"Saya cewek kok, Om. Cewek tulen," ujar Asya.


"Cewek tulen apanyaa, pake rok sekali langsung koyak." Balas Azril.


"Astaghfirullahalazim! Ngapa buka kartu mulu sihh lu padaaa?!" Mereka terkekeh, papa dan bunda Ara senang melihat teman barunya Ara.


Kocak, anti jaim, dan punya sopan meskipun banyak bacot.


"Jadi kamu cewek atau cowok?" Tanya papa Ara memastikan.


"Cewek, Om." "Cowok, Om."


"Diem lu, makhluk punahh!"


"Gabole boong Asya, jujur deh. Cowok kan lu?" Tanya Dino memojokkan.


"Gue banting mau lu??"


"Hehh! Lu bedua tau tempat kek! Ini bukan rumah abu-abu."


"Y!" Haikal mengelus dada.


"Maaf ya, Om. Kucing sama anjingg mereka berdua."


"Gue kucingnya." Ujar Asya.


"Gue!"


"Kucing sama dinosaurus bagusnya, ya kann?" Tanya Arsen dengan muka polosnya.


"Laki bini sama aja lu bedua!!" Asya dan Arsen bertos ria dengan bangga.


Papa dan bunda Ara tertawa.


"Gapapa kok, gak perlu minta maaf. Santai aja, nak Haikal." Haikal tersenyum canggung.


Temen-temennya emang suka bikin malu.


"Ayo sarapan dulu, nanti aja berantemnya." Ajak bunda Ara. Mereka pun makan bersama dengan keheningan.


Dan suatu keajaiban, Asya diam.


Gagaga, keajaiban darimana?! Ia bakal dicubitt sama Haikal dan Azril kalau sampe bersuara, itu sebabnya Asya diam.


Sarapan selesai.


"Oiya, ada yang mau om sampein sama kalian." Mereka menatap papa Ara, termasuk Ara.


"Om berterimakasih banget karena udah bisa balikin Ara yang dulu. Dan sebagai balasannya, om mau ajak kalian liburan ke luar kota sekalian rayain ultahnya Ara."


"Hah? Papa seriusss?" Papanya Ara mengangguk sambil tersenyum.


"Papa serius, Ara."


"Wuwuuww, kapan om?" Tanya Dino.


"Nanti sore gimana?"


"Emm, sabtu aja gimana, om?" Usul Azril.


"Kelamaan nggak?" Tanya Racksa.


"Yaa kelamaan sih, tapikan bakal keluar kota tuh. Kalau keluarnya soree, malem balik karena besoknya sekolah. Kita bakal capek dijalan doang." Jelas Azril.


"Benerr jugaa. Mauu sabtuu?"


"Iyyaa bagusnya sabtu aja sih, paa. Kan enakk juga besoknya liburr, bisa nginepp."


"Yang lain? Mau sabtuu?"


"Iya terserah, om. Kami setuju setuju aja kok," jawab Dino.


"Oke kalau gitu sabtu, yaa? Kita ke puncak. Om bakal sewa villa," Ara terkejut. Matanya terlihat sangat senang.

__ADS_1


"Om ikut, kan?" Tanya Haikal.


"Iyaa, pasti. Om bakal ambil cuti."


"Aaaa, makasih papaaa!" Ara memeluk papanya. Papa Ara tersenyum sambil membalas pelukan.


"Udahhh, ntar ajaa pelukannya! Buruan gih ke sekolahh," titah bunda Ara.


"Okeeyy, mari otewe." Ajak Ara.


"Makasih sarapannya ya, om, tanteee."


Mereka kompak!


Kok bisa? Karena brifing dulu tadi, xixii.


Papa dan bunda Ara tersenyum mendengarnya, "sama-samaa."


Mereka menyalami tangan orang tuanya Ara kemudian berjalan keluar, mereka memakai sepatu bergantian.


"Buruann lah, makhluk punahhh!"


"Sabarrr lah, singaaa!" Asya menatapnya kesal.


Dino pun selesai memakai sepatu, ia berdiri lalu menendang jauh sepatu Asya. Dino langsung berlari mengambilnya dan melempar lebih jauh.


"Dinoooo!!" Asya mengejar Dino, terjadilah kejar-kejaran antara merekaa. Asya menggunakan rok ccelana panjang, jadi lebih mudah baginya untuk berlarian.


Yang lain melihat mereka berdua sambil geleng-geleng kepala.


"Keseringan gitu, yaa?" Tanya papa Ara sambil tertawa kecil.


"Emang gitu, Om. Sama-sama emosian, sama-sama kang cari masalahh."


◕◕◕


"Aaahhh, panassss!"


"Cemana gak panass, dari lu sebelum berangkat sekolah sampe jam istirahat lu sama Dino kejar-kejaran mulukk!" Jawab Ara.


"Dino macam dakjall sih! Pengen gue pites palanya!"


"Nangkep gue aja gabisa apalagi pites pala gue." Kata Dino santai sambil memakan baksonya.


"Gue tendang keselek bakso lu!" Dino meledek Asya dengan swag jutsu.


"Sabar Asyaaa, sabar!" Mereka tertawa melihat Asya.


"Eh, itu Alex kan?" Tunjuk Ara, mereka menoleh.


Dan benar sajaa, Alex lewat sendirian sambil memegangi kepalanya.


"Mau kemana tu anakk?" Tanya Azril heran.


"Bodo ah, biarin ajaa."


"Btw, dikelas tadi dia agak renggang sama Dinda. Udah putus kah?" Tanya Dino heran.


"Gue rasa sih udahh. Kasian Adinda nya, dia keaa dipakee abistu dibuang." Ujar Haikal.


"Tau darimana Adinda dipake??" Tanya Arsen.


"Bukan dipake gitu-gituu. Maksud gue kea cuma dimanfaatin ajaa gituu."


Arsen tersenyum misterius, "gak boleh su'udzon. Bisa aja kebalik."


Mereka menoleh ke Arsen.


"What's wrong with you?" Bisik Asya.


"Nothing, i'm fine. But, kita gak tau gimana hubungan mereka kan? Jadi gaboleh su'udzon."


"Gue yakin ada yang lu sembunyiin, Sen." Mereka menatap curiga Arsen.


"Jujur adaa, cumaa tunggu waktu yang tepat gue bakal cerita. I'm promise."


"I am waiting." Arsen tersenyum sambil mengelus rambut Asya.


"Misi kak. Kak Asya sama yang lain dipanggil sama pak Jarwo."


"Kaca kemaren ini, yakin gue." Azril tertawa kecil.


"Marii kita jemput kasuss!"


"Senang kali si Azril kalau dapat kasus." Azril cengengesan. Mereka pun pergi menuju ruangan pak Jarwo.


Baru setengah perjalanan, Asya yang sedang jalan di tabrak oleh salah satu siswi. Disebelahnya ada Tara.


"Lu jalan bisa liat-liat gak siih?! Hp gue jatoh gara-gara lu!!" Amuknya.


Asya tertawa receh, "lucu pula. Lu yang nabrak gue yang lu salahin. Gak ada waktu buat ngurusin orang kek lu, minggir!"


Mereka malah menghalangi jalan Asya. Para pria yang bersama Asya tadi sudah berada di depannya, ia hanya menatap Asya.


Ingin membantu tapi mereka yakin Asya akan ngamuk.


"Tanggung jawab dong lu! Udah mecahin hp gue malah gak tanggung jawabb!"


Asya menghela nafas kesal. "Mau berapa juta sih? GUE GANTI YANG BARU PUN BISAAA KALAU GUE SALAH! INI LU YANG NABRAK GUE YANG LU SALAHIN?! MAU LU APA, ANJG!" Asya menyudutkannya ke dinding.


"Jangan sementang lu kaya, lu seenaknya disini." Itu Tara yang berbicara.


"Wtf, gue seenaknya? Kalau gue seenaknya disini.. LU PADA JADI BABU GUEE, GOBLOKK!"


"Gak usah cari masalah deh, minggir lu pada!"


Plak!


Asya ditampar salah satu teman Tara.


"Asy–" Para pria ingin mendekatinya, tapi Asya menghentikan mereka menggunakan isyarat tangan.


Asya tersenyum smirk, "lu mau hp lu gue ganti, kan? Gue ganti sepuluh deh. Dengan syarat, lawan gue."


Asya menunjuk ke arah lapangan volly yang baru di pasangi jaring. Jaring itu mencegah kaburnya bola dari area.


"Lu nantangin volly?" Asya menggeleng.


"Gue tangangin lu.. adu kekuatan empat lawan satu. Kalau lu menang, hp lu gue ganti lima. Deal?"


Mereka berempat tersenyum misterius, "deal."


Asya pun mendahului mereka menuju lapangan volly. Arsen mengejarnya, "jangan plis."


"No no, ini gak bisa dibiarin."


"Jangann begooo, ntar lu luka lukaaa!" Asya menatap Arsen.


"Matamu!" Asya tertawa.


"Gue gapapaaa, sans." Asya menyusul mereka yang sudah di dalam. Ketika para pria ingin masuk, Asya menguncinya.


"Syaa, lu sendirian begok. Biarin kami masuk!"


"Gabisa, ntar lu kalau ikut gelut salah pegang terus disuruh nikahin gimana? Ogah banget gue punya sodara penghianat." Tara merasa tersindir, ia menatap kesal Asya.


"Kami berempat sabuk hitam taekwondo, sanggup lu?!"


Asya tersenyum miring, "wahh takut. Gue cuma sabuk pengaman." Mereka tertawa remeh.


Asya memainkan telunjuknya untuk memanggil mereka. Satu persatu mereka pun maju dan Asya menghajarnya.


Beberapa kali ia kesusahan, namun yang diajarkan keluarganya mampu membuat ia bertahan. Kini tersisa Tara yang berdiri sendiri sambil melipat tangan di dada.


"Haloo, penghianat."


"Jaga omongan lu!"


"Harusnya lu tunjukin diri lu yangg sesungguhnya dari dulu. Biar gue gak susah payah berteman sama lu."


"Lu nya aja yang begooo, mau dibodohin." Jawab Tara santai.

__ADS_1


Asya tersenyum smirk lagi, "tapi menurut gue.. bodohan lu sih. Lu bodoh karena mau berurusan sama gue."


__ADS_2