Barbar Generation

Barbar Generation
Challenge


__ADS_3

Sementara itu, Asya masih mencari keberadaan Arsen di sekitaran rumah sakit. Sampai akhirnya Asya menemukan Arsen di kafe dekat RS.


"Senn"


Arsen menoleh, kemudian menghela nafas. Asya menghampirinya dan duduk tepat di hadapan Arsen.


"Sya"


"Hm? Lu mau gelut, skuy!!"


Arsen tersenyum sekilas lalu menggeleng, "gue boleh minta pelukan?"


Asya mengangguk penuh keraguan, Arsen menghampirinya lalu memeluk erat Asya.


Perlahan, Asya membalas pelukan. Meskipun ia merasakan sakit di tangannya yang terluka, ia tak perduli.


"Gue nyaman di pelukan lu, gue lupa beban gue kalau di dekat lu."


"Sen, lu meluk mah boleh-boleh aja. Tapi jangan ngemodus juga, biawaakk!!"


Arsen melepas pelukan lalu menatap mata Asya, "gue serius."


"Abodoamatt, mending kita makan yuk. Gue laper"


"Lo pesen apa?" Asya membaca menunya lalu memilih pesanannya, begitupun dengan Arsen.


"Lo masih marah? Emosi kah?"


"Dikit, gue heran. Gue mirip sama beliau, tapi kenapa beliau gak pernah sadar? Ya meskipun tingkat kemiripannya sedikit sih."


"Kalau pun beliau gak sadar, harusnya juga bisa ngerasain ikatan bapak sama anaknya"


"Sen, positif thinking aja. Mungkin beliau pernah hampir mati gitu terus ilang ingatan" Arsen menatap takjub Asya.


"Gak nyangka gua mah" Asya terkekeh.


"Gue kesel anjirr, bukan cuma lu."


"Skiplah, males. Betewe lu kenapa ngejer gue?"


"Gapapa sih, cuma... cuma disuruh sama mommy" Arsen mengangguk paham.


'Disuruh mommy nya sen, jangan kepedean.' pikir Arsen.


'Duh, kenapa jadi...?!' batin Asya.


Gak lama kemudian makanan mereka tiba, mereka makan dengan keheningan. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu.


Drrrrtttt.. Drrttt..


Asya mengambil ponselnya yang ada di meja.


...-- Papaa mudaaa --...


πŸ“ž "Assalamu'alaikum Asya, dimana?"


^^^"Waalaikumsalam, Asya lagi makan daddy,^^^


^^^gak jauh dari RS tadi. Kenapa?"^^^


πŸ“ž "Pulang ke rumah utama, ajak Arsen juga."


^^^"Hah?? Kenapa ke rumah utama?"^^^


πŸ“ž "Ada cowok cakep yang mau lamar kamu."


Asya tersedak.


^^^"Are you crazy, daddy???"^^^


πŸ“ž "Sembarangann"


^^^"Daddy jinjja jinjja crazy"^^^


πŸ“ž "Gak usah di mix jugaa munaroh"


Asya tertawa.


πŸ“ž "Cepat pulang, jangan nyimpang ke hotel!! Assalamu'alaikum!" Aska langsung mematikan panggilannya.


"Waalaikumsalam, luar biasa memang"


Arsen menatapnya heran, "kenapa??"


"Nggakk, gapapa. Oh iya, selsei makan ikut gue ya. Balik ke rumah utama."


"Rumah utama maksudnya?? Rumah tuan Aska??"


"Tuan?? Gak usah formal gituu juga samsull, awalnya tadikan lu manggil om kenapa jadi tuan?"


"Gue rasa kurang sopan manggil om setelah tau dia investor perusahaan gue"


"Santai aja, daddy gue itu bisa asik kalau di asikin dan bisa bantai kalau di usik. Tergantung gimana sikap lu ke dia."


β–ͺβ–ͺβ–ͺ


17.56


"Assalamu'alaikum daddyy mommyyy, anaknya yang cantik imut lucu kambekkk!!" teriak Asya ketika masuk rumah utama.


Arsen yang berada tepat di sebelah Asya terdiam menatap Asya heran, "dirumah juga sebar-bar ini ya lu"


Bukannya menjawab Asya tertawa.


"Woi tamu tak diundang, gak usah teriak teriak lu!" itu Azril meledek Asya.


"Dasar kembaran laknat!"


"Asya sama Arsen gakk??" tanya Zia.


"Iya mom, mom tau gak bujuknya susahhh. Sesusah kisah cinta mommy dan daddyy"

__ADS_1


"Tuh kan, gara-gara jatuh tadi otaknya makin gesrek" ujar Aska.


Zia, Arsen, Dino, Haikal, Azril dan Racksa tertawa.


"Udahh makin mereng otaknya om" ledek Haikal.


"Ntah makin kecil" sahut Racksa.


"Istighfar kalian makhluk bumi!!"


Mereka terkekeh lagi, "mandi sana. Ajak Arsen"


"Maksud daddy apaaa?!"


"Ajakin mandi bukan berarti satu kamar mandii, ajakin ke kamarnya Azril atau ke kamar tamuuu" jawab Aska.


"Otaknya mikir kejauhan, kebanyakan nonton konten dua satu plus tuh, om" sahut Haikal.


"Yang nonton begitu Azril yang kena gua"


"Kalian nonton konten kek gituuu??" tanya Zia.


"Sumpah demi apapun mom, nggakk pernah!" Twins barbar kompak.


"Ngeles itu om, kemaren Dino liat di HP mereka banyak video dua satu plus"


"Astaghfirullah!!" lagi lagi mereka kompak.


"Dinosaurus harusnya lu udah punah yaaa!!" ujar Asya.


"Kenapa masih hidup?!" sahut Azril.


Tidak merasa tersinggung, Dino malah terkekeh. Arsen yang berada di sana juga ikut tertawa melihat interaksi mereka.


"Handphone kalian taro di meja, sana mandi"


"Azril kan udah mandi, mommy."


"Yang nyuruh kamu mandi siapa? Anterin Arsen ke kamar kamu" Azril langsung bergerak.


"Abang ipar, mari Azril antar ke kamar."


Asya menatap kesal Azril, "minta di sentil otaknyaa!"


❇▫❇▫❇


19.09


"Yang kalah ke supermarket beli pake uang sendiri terus tu coretannya gak boleh diilangin, deal?" tantang Dino.


"Deal!" jawab mereka kompak kecuali Aska dan Zia.


Aska dan Zia sedang menonton televisi, sedangkan yang lainnya berada di lantai dua, ruang perkumpulan.


Mereka bermain lanjut lagu, satu orang menyanyikan satu baris lagu lalu dilanjutkan dengan memasukkan kata terakhir. Mereka langsung menyahuti tanpa search google.


Sebelumnya mereka kena hukuman dengan coretan di wajah, namun karena semuanya sudah cemong, Dino menantang ke supermarket, membeli cemilan untuk nonton film di salah satu ruangan yang ada di rumah Aska.


"Gue mulaiii"


"Dah kan? Gue mul--"


"Gajadi disini gajadii, Dino lebih serem" Asya berdiri lagi memilih tempat, ia duduk di sebelah Haikal dan Racksa.


"Pindah lagi gue lempar lu!" protes Racksa kesal. Asya terkekeh mendengarnya.


"Lanjutt broohh!!"


"Lanjutkan oke, Kau datang hanya untuk pergi~"


"Pergi saja kau pergi tak usah kembalii" Dino menyahuti Haikal


"Kembali-- untuk mengulang lagii" Azril bersuara.


"Lagi-- syantik tapi bukan sok syantik" lanjut Arsen dengan menirukan gaya cewek.


"Syantik syantik gini hanya untuk dirimuu" Racksa menambahi.


"Dirimuu-- berikan suasana baruu" sahut Asya.


"Baruu kusadariiiii, cintaku bertepuk sebelah tangannn" kembali ke Haikal.


"Tangan-- kuu bernyanyi bersamaa"


"Bersama-- mu seperti dulu lagii"


"Kenapa bagian lagiii!! Refreshhh" pinta Arsen.


"Oke refresh, ulang dari lu, sen."


"Satu keyakinan hati ku ini."


"Ini-- judulnya goyang nasi padang."


Asya kicep, otaknya masih berfikir.


"Satu"


"Dua"


"Ih woi tunggu!!"


"Tiga"


Asya menghela nafas, mereka langsung berdiri. "Asya kalah!!"


"Goyang Nasi Padang, pakai sambal randang"


"Sama orang Minang yang ikut bergoyang"


"Dijamin pasti tak mau pulang"

__ADS_1


"Karna ketagihan, maunya terus digoyang"


Mereka nyanyi bersahutan sambil meledek Asya yang kalah.


"Benar-benar laknat kaliann" Mereka terkekeh.


"Ayo sportif, sana ke supermarket. Beli yang banyakk!"


"Pemerasan dan pemalakan!!"


"Rasah nyocot. Ndang, tuku seng akeh!!"


"Asu kon!!"


"Hahaha"


Haikal mengusap pucuk rambut Asya, "udah sana pergi."


Arsen yang melihat interaksi Haikal dan Asya merasakan sakit di hatinya, seperti patah hati?


"Hiih, pesan apa lu pada?"


"Random aja, beliin banyakk"


"Auto bangkrut.. Gue pergii"


"Tiatii bundd"


Asya menggeleng lalu mengambil kunci motor Haikal, "motor gue juga di colong."


Asya cengengesan, kemudian pergi.


"Eh tapi tangan diaaaa"


"Gue nyusul Asya dulu."


β–ͺβ–ͺβ–ͺ


"Eh? Lu ngapain??"


"Gue ikut lahh, masa lu sendiri."


"Gue udah biasa sendirii lah, lu tunggu aja sama yang lain di dalamm"


"Tapi.. lu yakin?"


"Why not?"


"Tangan lo" Asya menoleh tangannya, ia lupa kalau tangannya masih di balut perban.


"Gue yang nyetir." Arsen mengambil alih kunci motor, ia memakai helm dari motor Dino lalu naik ke motor sport Haikal.


"Naik"


Asya naik perlahan, Arsen langsung melajukan motornya menuju supermarket.


Lima belas menit perjalanan mereka tiba di supermarket.


Arsen membantu Asya melepaskan helmnya, sedangkan Asya terdiam sambil menatap mata Arsen.


"Gue tau gue ganteng"


Asya mengalihkan tatapannya, "sok kecakepan luuu"


Arsen cengengesan, "yok masuk." Mereka berdua masuk santai, Arsen juga membukakan pintunya untuk Asya.


"Ikutan mereng otak lu keknya."


Asya langsung pergi mengambil troli, ia berkeliling di area perjajanan. Tanpa melihat harga, Asya langsung mengambilnya.


"Asya?" Asya menoleh.


"Kak pojik??"


"Itu mukanya kenapa cemong-cemong??"


"Haha, abis dapat challenge kak."


"Heran saya, masih tetep cantik juga kamu walaupun mukanya cemong gitu." Asya menunduk sambil senyum, pipinya memerah.


"Ngomong-ngomong kamu sendiri??"


"Itu tadi sama temen kak, kakak sendiri??" Fauzi mengangguk, Asya kembali mendorong trolinya.


"Oh iya, saya mau ngucapin beribu terimakasih sama kamu karena ngelindungin Tara tadi"


Asya berhenti lagi, "Tara cerita kak?"


"Iya, Tara cerita sambil nangis. Tadinya dia mau ngikut kamu ke RS tapi gak jadi karena dia merasa bersalah."


"Dia merasa bersalah karena dia ngerasa kamu jatoh gara-gara dia. Saya baru tau malam ini, karena baru balik dinas jadi gak bisa anterin dia ketemu kamu."


"Yahhh, harusnya gak perlu merasa bersalah kek gitu Tara. Asya malah mau minta maaf karena gak jagain Tara betul-betul."


"Bukan salah kamu juga kok, gak per--"


"Syaa"


"Gue aja y-- pak polisi yang kemaren?"


"Saya Fauzi."


"Saya gak tanya" Fauzi langsung menatap sinis Arsen, Arsen juga membalas dengan tatapan serupa.


"Jangan tatap-tatapannnn, takutnya jatuh cinta. Jadinya gay, kan gak lucuuu."


"Najis!" mereka kompak.


"Cieee adek kakak kompakk"


"Dihhh!!"

__ADS_1


"Saling suka yaaa?"


"Saya sukanya kamu!" "Gue sukanya lu!"


__ADS_2