
"Rapat di mulai"
"Sen, sebelum rapat lu nafas dulu terus minum dulu. Lu masih ngos-ngosan anjirr" ujar Azril.
"Mandi keringet ni anakk" Arsen tersenyum sekilas.
"Gue gak haus"
Asya bergerak, dia mengambilkan aqua lalu memberikannya pada Arsen.
"Makasihh" Arsen meminumnya sambil menatap Asya.
Asya menuju meja tengah, dia mengambil kotak tissue. Asya mengelap keringat yang ada di jidat Arsen.
Mereka semua tak bersuara, semuanya menatap Asya dan Arsen.
"Lo gak luka kan?"
Arsen tersenyum lebar kemudian menggeleng, "nggak sama sekali"
"Menang atau kalah?"
"Menang, dan itu membuktikan lu bukan pelampiasan gue" Asya menatap mata Arsen sambil tersenyum tipis.
"Lu bedua gak tau tempat?!"
Sontak Arsen melempar botolnya ke arah Rafy. "Lu ngerusak momen aja bangsatttt"
Bukan merasa bersalah Rafy malah tertawa. Asya yang tadi di hadapan Arsen pergi menuju kursinya.
"Uwahh, nuna gue udah gede" Asya tidak menjawab melainkan menunjukkan kepalan tangannya. Azril tertawa.
"Oke, ayok kita mulai"
"Rapat kali ini bakal bahas tentang hari guru tanggal dua puluh lima November. Sekitar seminggu lagi waktu kita untuk persiapan"
"Nah, menurut kalian sebagai siswa-siswi teladan, acara apa yang bakal kita buat??"
"Gue sih lebih ngusulin ke acara olahraga gitu, kek semacam siswa-siswi lawan guru dalam setiap bidang olahraga" usul Aldo.
"Gue ngusulin, kita buat acara masak-masak terus di persembahkan untuk para guru" sahut Reva.
"Usul kalian bedua cocok kalau gue bilang. Tapi, gak mungkin kita lakuin secara bersamaan kan?"
"Jujur gue lebih setuju usul nya Aldo, karena kan kebanyakan siswa-siswi SMA suka sama olahraga" jawab Arif.
"Nggak juga sih, rip. Kelas sepuluh aja yang lebih aktif buat olahraga, buktinya tim futsal aja kebanyakan kelas sepuluh. Kelas sebelas dua belas malah cuma beberapa" kata Azril.
"Kalau gitu kita vote aja, yang milih olahraga angkat kaki"
"Angkat tangan begoo" Asya tertawa.
"Itu maksudnyaa"
Mereka mengangkat tangan, "tu wa ga pat ma nam ju pan. Cuma delapan?"
"Terus yang milih masak?"
Sisanya angkat tangan. "Sama sama delapann"
"Osis kan delapan belas orang termasuk gue sama lu, sya"
"Nah, lu bedua milih apa?" tanya Maudi pada Arsen dan Asya.
"Gue milih masak-masak" Mereka berdua kompak.
"Uwahh, cocok banget ya lu bedua"
"Tabok mati luu" Yoga cengengesan.
"Dealnya masak-masak ni berarti, ato ada usulan lain??" Mereka menggeleng.
"Oke dealnya masak-masak, pastinya perkelompokkan. Kelompoknya satu kelas atau diacak??" tanya Viona.
"Enak diacak, karena kan satu kelas isinya tiga puluh bisa kurang bisa lebih. Kalau semuanya disatuin gitu kebanyakan jadi beban"
"Hooh, beban. Sama kayak Irgi, beban" sahut Rafy.
"Ada masalah hidup apa si tali Rapia ni"
"Rafy demen sama lu, gi" kata Haikal.
"Anjirrrr, najisuuunnn" Mereka terkekeh.
"Back to topik, kita acak dari kelas sepuluh sampe kelas dua belas, timnya buat sendiri atau dibuatin?" tanya Fina.
"Lebih baik kita buatin, biar adil" jawab Arsen.
"Kalau gak terima sama timnya?" Sean gantian tanya.
__ADS_1
"Harus terima lah, sehebat apa sampe gak terima sama tim" sahut Asya.
"Menurut lu pada, bagusan cewek cowok atau cewek cewek, cowok cowok"
"Bagusan gabung, karena kan kalau ada barang yang susah untuk dibawa ada cowok yang bisa dijadiin babu" usul Viona.
"Setuju, vi" Asya dan Viona bertos ria.
"Sad banget asuk, jadi babu"
"Yaudah kalau gitu jadi juru masaknya aja" suruh Reva.
"Kalian gak tau sih, sebenarnya cowok itu juru masak terbaik" ujar Yoga.
"Terbaik?"
"Satu sosis, dua telor ditambah sedikit mayones bisa bikin kenyang sembilan bulan"
"Astagaa!!! Miraaa tokok kepalanya Yogaaa!!"
Yoga menghindar sambil terkekeh.
"Aku benci pikiran ku"
"Ahh otak ku teracuni" keluh Asya sambil memegang kepalanya.
"Otak lu emang udah beracun, sya"
"Kembaran macam apa ini?!" Azril tertawa ngakak melihat tatapan datar Asya.
"Biar gak rapat berulang-ulang kita buat proposal sekarang sekalian nentuin tim timnya"
"Siapa yang bawa laptop?" tanya Reva.
"Pinjem pak Jarwo aja" usul Haikal.
"Gue yang minjem" Asya beranjak pergi, Arsen ikutan beranjak menyusul Asya.
"Arsen udah bucin anjirrr"
Di jalan menuju ruangan pak Jarwo, Arsen berjalan di sebelah Asya. "Eh lo ikut??"
Arsen mengangguk, "gue gak mau lu sendirian ntar"
"Dih dih" Arsen membalasnya dengan senyuman, mereka berjalan santai dengan keheningan.
Arsen mengedipkan matanya dua kali lalu tersadar, dia melihat ke Asya yang mengejar pak Jarwo. Arsen menyusul Asya.
"Bapakk mau balik??" Pak Jarwo mengangguk.
"Kalian udah rapat? Udah ada rencana??"
"Udah pak, ini mau buat proposal mau minjem laptopnya bapak tapi gak jadi karena bapak mau pulang" jawab Arsen.
"Yaudah ini pake, besok pagi kembalikan ke saya"
"Gapapa ni, pak??"
"Asal gak dirusakin aja, saya pulang dulu."
▪▪
"Siapaaa yang mau buat proposal nya?" tanya Azril ketika laptop sudah masuk ke ruang osis.
"Kalau gak ada yang mau, gue turun tangan" ujar Asya.
"Kagak usah, biar Irgi aja"
Asya melihat Irgi dan Arsen gantian, "mukanya si Irgi kayak gak mau"
"Muka gue emang gini bangsul, mana sini biar gue buat. Sepuluh menit aja selesai sama gue" Asya memberikan laptopnya.
"Kenapa gengnya si Arsen songong semua??!"
Arsen, Irgi dan Rafy tersenyum sinis, "lu tau gak sya? Sebeban-bebannya gue lebih beban si Aldo"
"Anjirrr kenapa gue yang kenaa?!" Irgi tertawa sebentar kemudian fokus kembali ke tugasnya.
"Proposal yang buat Irgi dibantu Rafy sama Yoga. Kalau di acc, ntar disosialisasikan perkelas"
"Tim sosialisasi di kelas ips, Arif, Reva, Maudi, Fina, Bayu, Ditto"
"Di kelas ipa, Aldo, Sean, Okta, Ramadhani, Mira, Arga"
"Gue sama Asya yang temui kepsek. Gue, Asya, Haikal, Viona, Azril yang bakal susun tim nya nanti"
"Oke deall!!" jawab mereka kompak.
"Btw, kalau gak di acc gimana?"
__ADS_1
"Ya gak mungkinlah, lo lupa gue siapa?"
"Emang lo siapa?"
"Bajing bajing" mereka terkekeh.
"Oiya, osis ikut juga?"
"Kagak, ntar kita nikmatin aja. Keliling tim terus nyicipin atu atu"
"Ehh anjirrr, enak bangett"
"Seriusan??"
Arsen mengangguk, "kita nggak ikut"
"Kagak asikk dong asukkk"
"Nah bener, gak asik" Arsen terkesiap, dia langsung berdiri mendengar suara pak Jarwo barusan.
"Anak osis harus ikut. Kalau gak mau gabung tim, kalian bisa bikin tim khusus osis sendiri. Saya yakin, acara kalian pasti di acc sama pak Andre"
Mendengar nama Andre, Arsen langsung berekspresi datar. Ia kembali duduk, moodnya berubah sekarang. "Bapak gak jadi balik?"
"Masih mau pantau anak didik saya, nanti saya balik lagi" Pak Jarwo pergi meninggalkan ruangan.
"Tiati pakk"
Pak Jarwo mengangkat jempolnya.
"Woii, pena gue mana?"
"Lah lu taro dimana sih ampe ilang?" tanya Viona.
"Tadi disiniii."
"Duhh pena mahal gueee"
"Pena mahal?" tanya Irgi.
Asya mengangguk, "goceng dapet dua."
"Lahhh anjirrr, gue kira mahal beneran. Sejuta satu buah" kata Arif kesal.
Asya tertawa. "Pena gue lebih mahal, goceng dapet satu" sahut Rafy sambil mengangkat pena cairnya.
"Dibanting dikit macet itu, gak maen bosss"
"Mending pena gue, pena multifungsi" lanjut Asya.
"Multifungsi apanya?"
"Ya multifungsi, bisa untuk nulis. Terus fungsi lainnya bisa buat culekk matamu"
"Anjyyyyng"
"Hahahah"
"Ehh, btw www dot ko do aidi, Arsen kenapa?" tanya Viona.
Asya langsung menoleh, melihat ke arah Arsen. "Lu kenapa, sen?"
Arsen diam tak bergeming, Asya melemparkan penanya. Arsen langsung sadar, "apa??"
"Lo kenapa hm??"
"Nggak, cuma mikir aja cocoknya setim berapa orang"
"Alibi" cibir Rafy.
"Okeee guys, finish" Mereka menatap Irgi dan kedua temannya.
"Laju ya" Pak Jarwo muncul tiba tiba. Ia beranjak mengecek proposal mereka. "Luar biasa, buruan di print terus minta acc" Pak Jarwo pergi lagi.
"Luar biasa, pak Jarwo nyeremin"
"Wkwk, print nah sen. Buruan"
"Lah gue?"
"Iyoo, lu bedua aja sono yang print biar sekalian ke ruang kepseknya"
"Gak jadi gue lah, lu aja sya yang ngeprint sekalian minta acc"
"Gue sendiri??"
"Iya"
"Gak gak, ayok"
__ADS_1