Barbar Generation

Barbar Generation
Orang asing


__ADS_3

"Haloo gaissss selamat pagii, semoga sehat selaluu" ujar Asya sambil senyum ketika tiba di meja makan.


"Stressnya kumatt" cibir Azril. Asya cengengesan.


"Ceria amat lu, kenapa? Tumben"


"Mon maap bapak Racksa, Asya Zhafira Syuhaila always ceria bahagia sentosa"


"Bacottt, abis jadian kan lu? Sama siapa? Fauzi? Vernon? Atau Arsen?"


"Mati aja dah lu sanaaa, siapa juga yang jadiann"


"Iya sih, yakin. Mana ada yang mau sama lu, lu kan ajaib"


"Cuma ada dua di bumi, gue sama mommy"


"Pagi-pagii bacott terosss, makannn cepatt" suruh Racksa sinis.


Mereka pun mulai sarapan nasi goreng yang Asya buat tadi.


Setelah selesai, mereka memakai sepatu tepat di depan pintu.


"Syaa" Asya mengangkat kepala menatap Azril.


Azril menunjuk ke arah Arsen yang sangat-sangat rapi, ia bersandar pada mobil di depan pagar rumah abu-abu.


Asya yang terkejut mempercepat gerakannya, ia mengalungkan headphone nya lalu menghampiri Arsen.


"Lu jemput??" Arsen mengangguk santai.


"Dari rumah lu kesini kan jauhhh"


"Iya, emang jauh. Tapi gue gak peduli, sejauh apapun itu gue bakal tetep samperin. Kenapaa? Karena gue pengen lu jadi orang pertama yang gue liat pagi ini."


Asya tersenyum manis untuk pertama kalinya di hadapan Arsen, "pagi-pagii udah makan gombalan ajaaa guee"


Arsen tidak merespon lagi, ia membukakan pintu mobil untuk Asya. "Silahkan masuk, cantik."


Asya menoleh ke belakang, Azril dan Racksa sedang bersandar di depan mobil. "Gue sama Arsen yaa?"


"Iyaaa. Hati-hati lu senn, jangan kebut" Arsen mengangkat jempolnya sebagai jawaban. Asya langsung masuk ke dalam mobil Arsen.


"Gue tu bingungg, keluar sama Viona gak boleh bedua. Sama lu kenapa diiziniinn ginii??"


"Because, mereka tau kalau calon suami harus selalu melindungi calon istrinya"


"Yeeeehhhh!! Kagak nyambung luu" Arsen tertawa pelan. Matanya fokus menatap jalan.


"Lu nunggu udah berapa lamaa tadi??


"Sejam ada, mungkin"


"Seriusss???"


"Nggaak lah, sekitar sepuluh menitan kayaknya"


"Kenapa kagak manggil??"


"Niat hati mau manggil pas jam tujuh, ehh jam segitu kalian juga keluar"


"Takut telat lagii??"


"Iyaa, calon istri gue kan keboo"


"Ngaluu muluuu ni anakkk! Bangun hehh" Arsen cengengesan.


"Kenapa lu jemput? Biasanya nggak" tanya Asya.


"Karena kalau lu pergi sama gue, pulangnya ya sama guee. Seterusnya gue mau jemput lu"


"Terus, kalau gue gak mau pulang sama lu?"


"Emm.. gue bujukin sampe mau"


"Kalau tetep gak mau?"


"Gue cium luu"


"Pagi inii Asya kenyang makan gombalaaannn" Arsen tertawa kecil.


"Jujur deh sama gue, lu modusan mulu kann. Semua gombalan luu, semua perkataan lu, modus doang kan??!"


"Astaghfirullah, nggak Asyaa. Gue bener-bener udah cinta banget sama lu"


"Kenapa?"


"Apanyaa?"


"Y-ya kenapa bisa cinta sama guee??"


"Cinta gak butuh alasan"


"Okeee, cukup. Kesimpulannya, kamu modus!!"


"Kalau modus gue udah mundur dari dulu, gue bukan tipe cowok yang terlalu sabar ngadepin cewek. Tapi ke lu, sampe lu gimanain juga gue sabarr ngadepinnyaa"


"Modus lagiii."


"Sya, gue gak tau kenapa"


"Gak tau kenapa apa??"


"Gak tau kenapa bisa suka sama lu, secara lu gak kek cewek gini"


"Tunggu, jadi maksud lu? Gue gak cewek?"


"Coba tunjukin, lu cewe bukan"


"Astaghfirullahalazim.." Asya melepas tasnya, menggulung lengan bajunya sampai siku kemudian menyamping menatap sinis Arsen.


"Mau babak belur pagi-pagi gak??"

__ADS_1


▪▪▫▪▪


Setelah beberapa menit di perjalanan, mereka tiba di sekolah. Setelah dua mobil masuk, mobil Vernon pun ikut masuk.


Viona, Vernon dan kedua temannya mengamati gerak-gerik Asya. "Gimana semalam? Lancar?" tanya Anton.


Vernon menghela nafas, "lancar darimana.. dia aja pergi di kawal sama dua sodara cowoknya itu."


"Hah? Serius?" Viona mengangguk.


"Pergi semobil sama mereka, gak jadi nonton. Terus, Arsen datang tiba-tiba" sahut Viona.


"Wahh bisa-bisanya kebetulan gituu"


"Terus gimana sekarangg?" tanya Jodi.


"Gak tauu. Gue nyerah kayaknya, otw move on" jawab Vernon.


"Yahhh cemennn, Vernon mundur sebelum berjuangg."


Di sisi lain, Asya terus menghindari Arsen. Arsen yang merasa dihindari terkekeh geli, ia menjahili Asya dengan terus mendekati nya.


"Kenapa lu? Stress??" tanya Azril keheranan.


"Traummaaaa, Arsen mesum."


"Anjrittttt su'udzon!!" cibir Arsen.


"Ih sumpah, Zril. Masa tadi di mobil, dia suruh gue nunjukin gue cewek apa nggaakk" Azril dan Racksa langsung menatap sinis Arsen.


"Ehh, nggakk. Bukan gituuuu, gue nanya tuh maksudnya mau nantangin diaa buat kalem hari ini gituuu. Bukan gue suruh buka bajuu"


"Bismillahirrahmanirrahim, HEADSHOTTT!" Asya hampir meninju muka Arsen, untungnya Arsen menahan tangan Asya lalu menariknya.


"Woilahh, sekolah ini tuu" protes Racksa kesal.


Asya langsung mendorong paksa Arsen, Arsen yang di dorong hanya tertawa pelan.


"Bagus-bagus lu ya, sen. Macem-macem ke Asya gak tinggal diem guee"


"Iyaa abang ipar, santaii ajaa"


"Abang iparr kepala mu kotakkk" cibir Asya kesal.


"Ribut terus gue nikahin lu bedua, gue duluan" ujar Azril sambil masuk ke kelasnya.


"Ngaco mulu gue tampol ya muke lu" sahut Asya kesal. Azril tak merespon lagi, ia hanya tertawa sekilas.


Arsen, Racksa dan Asya berjalan menuju kelas mereka.


Bukan IPA 1 namanya kalau gak ribut, semua ricuh pagi-pagi ketika mereka bertiga masuk.


"Arseeenn, gue nyontek ulhar kimia. Pokoknya lu ga boleh budeg!!" protes Rafy.


"Stress ni anakk" cibir Arsen.


"Ahh c'mon daddy, bagi contekan yaa"


"Najis gue denger daddy-daddyan. Baby sugar Arsen lu?" tanya Asya sinis.


Pletakk!!


"Gininih kalau otaknya ketinggalan dirumah" cibir Asya kesal.


"Astaghfirullah, Asya dzolim!"


✾✾✾


"Ahh, kenapa di tunda ya ulhar kimia?! Harusnya hari ini ajaaa, biar gue bisa bolos ulhar karena rapat" Keluh Rafy di ruang osis.


"Bagusan lagi gak jadi ulhar, gue kasih tau nih py. Kalau ulhar rame-rame kan bisa nyontek" sahut Haikal.


"Nyontek darimana, temen gue pelit semua. Kuping di sumpel pake kain jadinya gak denger kalau di panggil. Bajingan emangg" Arsen dan Irgi yang tersinggung malah tertawa.


"Py, kalau gitu lu bales dendam" ujar Asya dengan muka serius.


"Dendam?"


"Lu jago mapel apa?"


"Gak ada"


"Ohh gitu, yaudah mati aja sana di air-air"


"Anjirrr luu!!"


"Hahaha"


"Ehem, assalamu'alaikum.. udah bercandanya ya"


"Waalaikumsalam pak Jarwo, sopo ne nandi yo?"


"Istighfar saya, punya murid seperti kalian" Mereka cengengesan.


"Oh iya, maaf kemaren saya pehapein kalian"


"Udah sering pak, makanan sehari-hari. Udah kenyang sayaa" sahut Rafy.


Pak Jarwo nyengir, "ya saya minta maaf."


"Okey skip. Singkat aja ya, gak pake muqaddimah yang kepanjangan. Saya cuma mau suruh kalian sosialisasi ke setiap kelas tentang ekstrakurikuler. Ada banyak ya, setiap siswa-siswi maksimal memilih tiga ekstra. Yaudah gitu aja, saya ada jam pelajaran. Sekian terimakasih"


Pak Jarwo langsung pergi.


"Kalau di fikir-fikir, pak Jarwo serem ya? Datang tiba-tiba pergi juga tiba-tiba" ujar Arif.


"Anjritt mendadak merinding" sahut Irgi. Mereka terkekeh.


"Gue kira si Arip sariawan" ujar Reva.


"Kenapa, rindu suara Arip?" ledek Viona.

__ADS_1


"Nggak lahh, cemburu yaaa?"


"Hey hey hey!! Udah, gue tau gue ganteng" balas Arif dengan santai.


"Najisss!!"


"Anjim bangetttt woi"


Mereka tertawa lagi.


"Udah udah! Kita bagi tugas. Karena gue cuma ngajak sembilan orang, jadi tiga orang per-lantai"


Mereka diam tanda setuju, "tim lantai satu. Kumpulan para kakel songong, gue, Asya sama Irgi. Tim lantai dua Haikal, Viona, Azril. Tim lantai tiga Rafy, Reva, Arif"


"Anjim banget gue lantai atasss"


"Bentar lagi lah ya geraknyaaa, capek gue nanti ke lantai atas" pinta Reva.


"Btw, lu pada ikut apa?" tanya Asya.


"Lu sendiri?"


"Emmm.. olahraga semua sih."


"Tiga??" Asya mengangguk santai.


"Anjirr kuattt ahh"


"Ketua milih apa? Gak ikut basket lagii?"


Arsen memutar kursinya, "why not?"


"Pacarnya mantan lu disana, panas ntar lu liat mereka suap-suapan di pinggir lapangan" jawab Irgi santai.


"Mereka suap-suapan tangan ke mulut, gue ntar mulut ke mulut sama Asya."


"Terus bermimpi, mimpi, mimpi, mimpi, mimpi aja terus gak usah bangunn"


♧♧


"Asyaaa" Asya menoleh, Arsen yang sedang berkeringat mengejarnya.


"Kenapa??"


"Balik bareng gue"


"Bukannya lu lagi latihan futsal??"


"Azril sama Racksa juga udah balik duluan. Gue juga mau balik"


"Mereka belum balik lahh, tuh liatt. Malah jajan siomay" Arsen menoleh kearah mereka berdua yang sibuk makan siomay.


"Jadi laper, ayok. Gue bayarin" Asya di tarik Arsen menuju kang siomay depan gang ehh depan gerbang.


Arsen memesan siomay untuknya dan untuk Asya. "Alhamdulillah, hari ini gak riweh guee" ujar Asya.


"Gak riweh apaa??"


"Gak masakk, kan lu udah kenyang"


"Ehh monyett, lu kira kita malem kagak makan?!"


"Astaghfirullah.. berasa ngurusin dua anak babii"


"Huuuu, smackdown beserak kauu!!" Asya terkekeh.


Di tengah-tengah menunggu siomay, dia mobil hitam berhenti tepat di depan mereka. Satu mobil tepat di depan Asya terbuka.


Pria yang berpakaian serba hitam keluar dari mobil, "nona Asya?"


Asya menoleh kearah Azril dan Racksa lalu mengangguk, "saya Asya. Ada apa??"


"Ada panggilan khusus dari bos kami, beliau ingin bertemu dengan anda"


"Maaf, saya sibuk"


"Nona, tolong kerja samanya"


"Gak"


"Untuk apa? Siapa yang mau ketemu Asya?" tanya Azril mewakili.


"Kami gak bisa kasih tau identitas bos ke tempat umum, lebih baik ikut saja"


"Nona, dengan senang hati ikut kami atau kami geret paksa"


"Ck, saya bilang gak mau ya gak mauu!"


Pria itu melihat kearah temannya yang juga memakai pakaian serba hitam.


"Dengan berat hati, anda kami geret paksa" Asya pun di tarik. Azril, Racksa dan Arsen bertindak. Mereka menarik Asya agar tidak di tarik mereka.


"MATI GUAA KALAU GINIII!! DIKATA TARIK TAMBANG APAAA, LEPAASSSS!!" mereka melepas cengkeraman.


"Kasih tau dengan jelas, siapa bos kalian. Baru saya bisa ikut"


"Tidak ada waktu lagi nona, waktu kami tinggal sedikit lagi. Saya akan jelasin di mobil" Asya di tarik lagi, ia langsung masuk ke mobil dan mobil langsung jalan tanpa aba-aba.


Bugh!!


Azril memukul pria itu.


"Bajingann" Pria itu diam, dia tidak membalas.


"Zril, tahan. Mending kita kejerrr" Arsen langsung masuk ke dalam gerbang mengambil mobilnya.


"Saya pergi, terimakasih pukulannya" Azril menatap sinis pria itu. Dia masuk ke mobilnya lalu pergi.


"Woii ayoo" Mereka bertiga pun menyusul, mengejar Asya.


"Itu orang siapaaa si anjingg?! Kesel guaaa!!" cibir Azril.

__ADS_1


"Sabar bro, sabar"


"Sabar gimanaaaa, bisa di jadiin ayam geprek gueee kalau daddy mommy tauu."


__ADS_2