
17.08
"Cieee yang udah dapat liburr, jomblo mo kemana pakk?" tanya Yuda dengan nada meledek.
"Sleeping everyday"
"Bullshit!!" Fauzi cengengesan.
"Liburan ajak guaaa kek"
"Ogahh, lu rusuhhh"
"Astaghfirullah ji, kejam bangett lu"
"Alay bangett luu" Yuda menatapnya sinis, Fauzi tertawa melihat tatapan Yuda.
"Eh bang Fauzi, udah dapat liburan?" tanya Debi, polwan cantik rekan Fauzi dan Yuda.
"Iyaa" jawab Fauzi singkat.
"Mau kemana?"
"Nggak tau juga, mungkin rebahan di rumah"
"Gak yakin sih gue lu bakal rebahan everytime, mau ngajak keluar anak SMA itu pastikan?" Fauzi tersenyum tanpa menjawab.
"Gue balik" Fauzi menepuk pundak Yuda kemudian pergi.
"Anak SMA siapa bang?" tanya Debi.
"Temen adeknya si Fauzi."
"Cakepp?"
"Lumayann, cuman pembangkang gitu sedikit bandel jugaa"
Disisi lain..
Fauzi mengendarai mobilnya menuju apartemen, banyak tempat yang ingin ia datangi semasa libur nugas.
Ia baru saja mendapat cuti setelah menyelesaikan tugas dari atasannya, karena tugas itu juga ia jarang berhubungan dengan Asya.
Fauzi mengambil ponselnya kemudian menghubungi Asya.
...Asyaa...
^^^"Assalamu'alaikum.. selamat siang nona"^^^
π"Waalaikumsalam kak pojiiiikkk, apa kabar? Sombong bangett, herann"
^^^"Haha, saya baik baik aja.. kamu rindu sayaa??"^^^
π "Haha, mungkin"
^^^"Saya baru selesaiin tugas misteri,^^^
^^^gak sempat kabarin kamu.. maaf ya"^^^
π "Hehe gapapa kak, jangan lupa makan.. jangan lupa istirahat"
^^^"Iyaa, kamu apa kabar??^^^
^^^Saya rinduu banget sama kamu"^^^
π "Hahaaa, yakalii kak pojik rindu Asya. Asya baik baik aja kokk"
^^^"Saya serius, saya rindu sama kamu"^^^
Asya diam..
^^^"Sya??"^^^
π "Iya kak?"
^^^"Ketemu yukk, udah pulang sekolah kann??"^^^
π "Kak pau gak mau istirahat dulu??"
^^^"Kak pau? Banyak banget^^^
^^^panggilan istimewa untuk saya, ya?"^^^
π "Hahaah, iyaa banyakk. Kak pau, kak paujik, kak pojik, kak ujikk, terus apalagi yaa? Banyak pokoknya"
Fauzi tertawa mendengar celotehan Asya, Fauzi membayangkan betapa imutnya Asya saat mengatakan itu.
π "Terus, Asya manggilnya apa yaa??"
^^^"Terserah kamu mau manggil^^^
^^^apa kalau gitu, sayang juga bolehh"^^^
π "Moduuuss"
Fauzi cengengesan.
^^^"Boleh gak nih saya ajak ketemu? Saya ajak jalan??"^^^
π "Kak pau emang gak capek??"
^^^"Nggak juga sih"^^^
π "Istirahat aja duluu, libur masih lama kan??"
^^^"Lumayan lama kalau liburnya,^^^
^^^tapi saya udah gak sabar ketemu kamu"^^^
π "Dimodusinn lagii"
^^^"Hahaha, saya lagi bayangin pipi^^^
^^^kamu yang merah terus pura-pura ngambek"^^^
π "Jujur deh, kak pau cenayang kan?!"
^^^"Mungkin"^^^
Asya dan Fauzi sama sama tertawa kecil.
^^^"Kamu baru pulang sekolah kayaknya,^^^
^^^istirahat ya. Jangan lupa makan"^^^
π "Iyaa, kakak juga"
^^^"Saya jemput nanti malam, setuju??"^^^
π "Okeeeyy"
^^^"Yaudah, saya matiin telepon nya.^^^
^^^Assalamu'alaikum.. "^^^
Fauzi memutus panggilan telepon nya. Ia menambah kecepatan laju mobil agar cepat sampai di apartemen.
"Assalamu'alaikum.." Fauzi tiba di apartemen.
"Kakaakk" Tara langsung memeluk Fauzi erat. Fauzi juga melakukan hal yang sama, ia membalas pelukan Tara sambil mengelus rambutnya.
"Baik-baik aja kaan? Ada yang gangguu?" Tara menggeleng.
"Ada Asya yang tiap hari temenin Tara"
Fauzi mengangguk-angguk, "kalau ada apa-apa jangan lupa cerita sama kakak!" Tara mengangguk.
"Kakak mau minum apa? Teh? Kopi? Atau mau istirahat? Kakak pasti capekk, istirahat ajaa gih" Fauzi tertawa kecil.
"Bawel banget adek kakak yaa" Tara cengengesan.
"Kakak mau istirahat aja deh. Oh iya, nanti malam kamu mau keluar??"
"Nggakkk kak, Tara mau tidurr cepet. Capeek tadi ikut ekstrakurikuler"
"Ikut eskul apaa?"
"Voly, sama Asya"
__ADS_1
"Bisa kamu??"
"Bisaa dongg" Fauzi tersenyum sambil mengelus kepala adiknya.
"Baguss deh, siapa tau kamu juga mau jadi abdi negara kayak kakak, jago voly bisa buat nilai tambahan"
"Hehe, kakak mau keluarr??" Fauzi mengangguk.
"Nanti kakak mau keluar sama Asya"
"Cieee makin deket" ledek Tara sambil sedikit tertawa.
"Dia sama temen kamu akrab banget gak?"
"Siapa kak? Arsenn?"
"Iya"
"Lumayan deket sih kak, kalau ke kantin barengan teruss kadang pulang pergi sekolah barengan" Fauzi mengangguk paham.
"Yaudah kakak mau istirahat dulu"
"Kakak gak lapar?? Tadi Tara buat sup"
"Nanti kakak makann yaa" Tara mengangguk sambil tersenyum lebar. Fauzi pun masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
βͺβͺβͺ
19.08, rumah abu-abu.
"Asyuuu"
"Apasiiii budjang"
"Lu kagak jadi pergi?" tanya Azril.
"Hah?? Lu tau dari mana?? Lu sadap kamar guaa?!"
"Sadap matamu, lu kira rumah abu-abu ada filter ruangan kedap suara? Kan gak adaa"
"Berarti lu ngupinggg!!"
"Racksa yang nguping" Azril menunjuk Racksa yang sedang mengupil santai di sofa.
"Gue ngupil gak nguping," ujar Racksa datar.
"Ku suka kejujuranmu" Azril dan Asya tertawa kecil.
"Lu jadi pergi?" tanya Racksa yang masih ngupil.
"Nggak tau juga, kak Fauzi belom ada ch--"
Ting...
"Siapa?" tanya Azril.
"Kan belom di bukaa, samsull" Asya meraih ponselnya.
For you information Asya baru saja mengganti ponsel lamanya dengan ponsel baru pemberian Zia.
Belom sempat Asya membuka isi chat, Fauzi meneleponnya.
π "Assalamu'alaikum Asya"
^^^"Waalaikumsalam kak pauuu"^^^
π "Jadi gak nihh?? Kamu free?"
^^^"Asya free kak, emang mo kemana??"^^^
π "Kemana aja yang penting berdua sama kamuu"
^^^"Lah, Tara gak ikut kak??"^^^
π "Tara kecapekan katanya"
^^^"Ooo"^^^
π "Saya otewe jemput kamuu"
^^^"Ehh?? Sekarangg??"^^^
Asya langsung senyum-senyum karena ucapan Fauzi.
^^^"Yaudah, hati-hatii kak"^^^
π "Iya, pasti, saya matikan ya? Assalamu'alaikum"
^^^"Waalaikumsalam"^^^
Fauzi memutuskan panggilannya.
"Na na na na naaa"
"Jadii??" tanya Racksa, Asya mengangguk.
"Behhh, kamu sudah masuk nominasi pakgerl! Semalam sore sama Arsen, malam ini sama Fauzi. Tetapkan hati kamu, nak" ceramah Azril.
Asya pura-pura berfikir, "gue tau pilihan gue."
"Siapaa?"
"Vincenzo Casano"
"Halu terosss sampee mampossss"
"Bodoo amaaaatt" Asya pergi ke kamarnya sambil tertawa kecil.
Beberapa menit kemudian, Asya keluar dari kamarnya. Ia mengenakan t-shirt dan jeans sebagai outfit, ia memakai sneakers sebagai alas kaki.
Terlihat sederhana, namun harganya bisa untuk makan sebulan lebih.
"Ehh coy, bentar lagi si Apin bidayy"
"Hah?? Eh iyaa" jawab Azril.
"Lu mo beliin apaa?" tanya Azril.
"Lah? Kan manusianya gak disini" ujar Racksa.
"Hadiahnya di paketin" jawab Asya.
"Serius??" Mereka berdua mengangguk.
"Semuanya selalu gituu, Cakaa yang di Paris aja waktu itu ngadoin Dinoo lewat paket. Terus ntar kalau pulang makan-makaan traktirann"
Racksa berohria.
"Beliin apaa ya? Gue bingung"
"Sempakk aja gimanaa?" usul Racksa.
"Gue tabok lu aja gimanaa?" tanya Azril kesal. Racksa malah terkekeh.
Ting tong..
"Dateng tuhh"
"Iyee tauu" Asya menuju pintu, dua makhluk pribumi itu membuntutinya.
Asya membuka pintu rumahnya, langsung tampak Fauzi dengan celana cargo hitam atasan putih dan jaket denim sebagai outer.
Terlihat... sangat tampannn.
"Katanya sejam, kak"
"Kalau macet sejam" jawab Fauzi cengengesan.
'Tampilan gimanapun tetep cakeppp, cinta itu buta emang' batin Fauzi.
"Hati-hati y--"
Plakk!!
"Apaa salah guaaa syuu?!"
"Lu ngagetin guaaa, samsolll" Azril cengengesan sambil mengelus tangannya yang di pukul Asya.
__ADS_1
Fauzi tertawa melihat keduanya, "pak Fauzi, Asya nya jangan sampe ilang dari genggaman yaa. Dia kalau di keramaian suka lupa diri" ujar Racksa.
"Sesungguhnya pengumbar aib terbaik adalah keluarga sendiri. Kak pauuu, ayo pergi" Asya menarik tangan Fauzi.
"Heh hehh!! Salim dulu! Adek ga sopannn"
"Kebaleeek goblkkkk" Mereka tertawa.
"Gue pergi dulu baaaii" Asya melambaikan tangannya lalu masuk ke mobil yang sudah di bukakan pintunya oleh Fauzi.
"Hati-hati kesesat ya, pak" ujar Azril mewanti-wanti.
"Tandai ko ya!" Azril mengangkat jempolnya sambil tersenyum, Asya masuk ke mobil Fauzi. Fauzi pun berpindah ke sisi sebelahnya.
"Saya pinjem Asya dulu, yaa"
"Oke Pak, amaan. Hati-hati loh pak, di jaga baik-baik" Fauzi membalas dengan senyuman. Ia masuk ke mobilnya lalu pergi.
"Kita mau kemana, kak?" tanya Asya beberapa menit perjalanan.
"Kamu maunya kemana?"
"Emm... terserahhh"
"Kata-kata andalan wanita, terserah."
β«β«
Mereka berdua keluar dari bioskop.
Fauzi mengajaknya nonton film horor di bioskop. Asya yang benar-benar parno akan hal mistis selalu menoleh ke belakang. Fauzi melihatnya sambil tertawa kecil.
"Gak ada setan di belakang kamu, adanya sayaa" bisik Fauzi dari samping. Asya cengengesan.
"Kenapa ngajak tadi kalau jadinya takut?" tanya Fauzi.
"Asya penasaran kaaak, keknya seruu. Eh beneran seruuu, seruu nakutinnya" Fauzi terkekeh.
"Mau makan dimana??"
"Terserah"
"Makan makanan Jepang mau? Atau Korea?"
"Kak Fauzi maunya apa?"
"Kenapa tanya balik?"
"Gapapa nanya ajaa"
"Saya tetap makan apapun yang kamu pilih. Jadi mau makanan Jepang atau Korea?"
"Korea"
Fauzi tersenyum manis, "udah saya duga. Ayoo" Mereka kembali ke mobil.
"Kak pau pau"
"Hmm?"
"Kak pau pau gak punya doii?? Kenapa ajak keluar Asya?"
"Doi saya kan kamu" Asya melihat keluar jendela karena pipinya memerah.
"Bu polwan kan cakep-cakep, kenapa Asya yang jadi doi kak pau?"
"Karena saya maunya kamu"
"Moduss terosss" Asya kembali melihat luar jendela.
"Wahh martabaakk" gumam Asya sangat pelan.
"Kamu mau?"
"Hah? Eh?? Kak pau denger?" Fauzi mengangguk, "mau martabak?" Asya cengengesan.
Fauzi memutar balik mobilnya.
"Martabak apa? Kacang? Coklat?"
"Emm.. coklatt"
"Kamu tunggu sini" ujar Fauzi, ia mengelus puncak rambut Asya kemudian keluar mobil.
Asya yang bosan di dalam mobil pun keluar, "kok keluarr?"
"Bosenn di dalam" Asya duduk tepat di sebelah Fauzi.
"Pacaran ya, mas?" tanya ibu yang duduk dekat mereka.
"Ha?? Iya bu" jawab Fauzi santai.
"Ngadi-ngadii" bisik Asya, Fauzi terkekeh pelan.
Asya mengedarkan pandangannya. Matanya terfokus melihat pria memakai topeng dengan sedikit mengendap-endap.
"Kak pauu" Fauzi menatap Asya, Asya menunjuk pria tadi.
"Maling!! Malingg!!" Fauzi langsung berlari mengejar pencuri itu. Asya yang terkejut menoleh ke sekitarnya.
"Lewat situ, nanti tembus..." Asya ikut berlari dari arah yang berlawanan.
Mereka sama-sama berlari, sampai akhirnya pencuri menemukan Asya di depannya. Fauzi yang di belakang mengepung sang pencuri.
"Siniin tas nya baik-baik atau anda cacat" ancam Asya.
"Dalam mimpi!" Dia berlari lagi. Asya dan Fauzi kembali berpencar.
Di titik terakhir, pencuri kembali terkepung karena jalan buntu. Asya mendekat kemudian menendang kakinya.
"Maen-maen pula!" Asya merampas tas nya. Fauzi menarik Asya ke belakang tubuhnya.
"Kenapa kak?"
"Dia bawa senjata" bisik Fauzi. Fauzi mendekat langsung mengambil pisau di sakunya. Pencuri yang masih kesakitan karena di tendang hanya diam.
"Kerja kalau mau dapat duit!" ujar Fauzi sinis. Mereka terus menjaga pencuri itu sampai akhirnya Yuda tiba karena panggilan dari Fauzi.
"Lu gak nugas pun tetep aja gelut" ujar Yuda.
"No gelut no life, lu beresin. Gue mau lanjut dinner!" Fauzi menarik tangan Asya pelan.
Asya mengikuti Fauzi santai.
Mereka kembali, bertepatan dengan selesainya martabak. Setelah mengembalikan tas, mereka masuk ke mobil.
"Emm.. enakk" gumam Asya.
"Kak pau mauu?"
"Saya gak suka martabak, kemanisan"
"Padahal ini gak manis-manis bangett"
"Iya mungkin, tapi saya kan makan sambil liatin kamu. Jadinya kemanisan"
"Sa aee" balas Asya cengengesan.
"Ehh kak, di depann ada orang tuh" Fauzi menghentikan mobilny tepat di depan mobil seseorang.
"Kenapa mobilnya mas?"
"Gak tau bang, mogok kayaknya"
"Izin saya cek" Pria itu mengangguk.
Fauzi membetulkan mobil pria ini, Asya di sampingnya sebagai asisten yang memegang senter.
Tanpa mereka sadari, mobil yang dikendarai sudah lenyap.
"Mas coba diidupin" suruh Fauzi. Tidak mendengar respon, mereka sama-sama melihat sekeliling.
"Kaaakk, kok sepi?" tanya Asya.
"Gak tau" Asya menoleh ke belakang, "kak Pauuu mobilnyaa?!"
Fauzi ikut menoleh, "wtf."
__ADS_1
"Gagal romantis!"