
Arsen terbangun lebih awal hari ini karena sinar matahari mengganggu menyilaukan mata. Arsen melihat ke sebelah. Sang istri sedang tertidur pulas sambil memeluknya.
Arsen tidak berniat membangunkan, ia malah membalas pelukan sambil mengusap-usap punggung Asya agar tidur lebih nyenyak.
Arsen terus mengelusnya dengan senyuman, sesekali ia mengecup jidat Asya yang luas bak bandara soekarno-hatta. Nggak deng, bercanda!
"Awwehhdzann... iya... jsnsbsnannak.. ehmm..."
Arsen terheran-heran mendengar suara Asya mengigau. "Apa yang dibilangnya nii?" lirih Arsen.
"Eyy... naw naw.. Asen, my cool husband... he's so perfect... he's have hmmm eight packs? OMG, my husband is hott bro!"
Kali ini Arsen tertawa. Arsen tidak tau Asya sedang berbicara dengan siapa di mimpinya, yang jelas, Arsen merasa gemas dengan Asya.
Tanpa Arsen sadari, ia mendekap Asya lebih kencang. Asya jadi terbangun karena dekapannya. Tepat disaat Asya bangun, Arsen malah pura-pura tidur.
Asya sendiri bukannya bangun malah kembali memejamkan matanya. Tapi sebelum benar-benar tidur kembali, Asya menoleh ke arah jam. Asya terkejut!
"UDAH JAM DELAPANNN?!"
"Arsen, ayo bangun!" Arsen membuka matanya perlahan, "Kenapaa, sayang? Harus banget nih bangun sekarang?"
"Heum! Harus! Kamu kerja kann? Ahh, aku belum buat sarapan lagii. Kamu buruan bangun dehh biar aku bikin sarapan," Asya memaksa lepas dekapan Arsen. Arsen menahan, tidak ingin melepasnya.
"Sennnn..."
"Males, sayang. Lagian aku telat juga gak masalah, wong aku bosnya."
"Ya gak bisa gitu dong. Ayoo bangun!" Arsen tersadar akan satu hal. "Oh iya lupa, mau pergi sama mbak sekre!" Asya gantian mengeratkan dekapannya.
"Gak boleh pergi!"
"Lhoh, tapi tadi..?"
"Gak! Gak boleh pergiiii," Semakin erat dekapan Asya membuat Arsen tersenyum menggoda. "Aku baru inget lagi, kemarin kamu larang pergi kan ya terus kamu bilang setuju untuk dikamar seharian sampe ga bisa jalan. So, let's start right now?" Asya langsung melepas dan pergi ke kamar mandi.
"Heyy? Babyyyy!"
"Aku gak denger, aku pake headphone!" Arsen tertawa. Ia bangun dan mendekati kamar mandi. Arsen membuka pintunya dengan santai.
"LOHH?! Ah iyaa lupa nguncii," gumam Asya berlindung di sudut kamar mandi. "Kamu ngapain disitu?" tanya Arsen semakin mendekat.
"Kamu ngapain ikutan masukk?!"
"Mau... makan kamu."
"Sennnnn! Ish sumpah deh, kamu kek om-om genitt tauuu, seremmm!" Arsen tersenyum smirk lalu berjalan cepat memegang Asya. "Om, ampun!"
Arsen menggendong Asya dan membawanya ke bath up. Posisinya Arsen di bawah dan Asya di atas. "Mau ngapain siii? Kamu gak lapar apaaa, hahh?"
"Ya lapar, makanya ini mau makan kamu."
Asya beranjak pergi dari sana, tapi Arsen menarik tangannya untuk kembali duduk di paha Arsen. Asya pasrah, ia malah merebahkan tubuhnya di atas tubuh Arsen. "Kok tidurr?" tanya Arsen heran.
"Ini tu pura-pura mati, hehehe."
"Emang ada aja tingkah kamu mah. Aku gak makan kamu sekarang kok, bangun buruan sebelum aku berubah pikiran."
Asya kembali duduk. "Ya udah kalau gitu aku keluar, oke, byee!"
"Baju kamu basah btw. Mandi bareng aja ayo? Mandi bareng atau sekalian berendam bareng gituu."
"Nggak dulu, makasih. Gini aja kamu udah turn on, apalagi kalau berendam bareng. Bisa-bisa langsung di ngapp aku sama kamu."
...◕◕◕ (๑´ㅂ`๑) ◕◕◕...
Pada akhirnya Asya bisa sedikit lega, ia ditinggal kerja oleh sang suami pagi ini karena urusan mendadak. Asya senang gak jadi di ngap. Saat ini dirinya baru saja selesai beberes seisi apartment dan sekarang sedang duduk santai di sofa.
Asya tidak ada jadwal kuliah hari ini, jadi dirinya sedikit gabut sendirian di apartment. "Masih jamm sebelas kurang, kemana enaknya ya?" Asya mengambil ponsel dan membukanya.
"Widii seru nih, pada ngajakin main. Ikut ahh. Tapi apakah Arsen akan mengizinkan? Hmm, mari kita izin dulu."
Asya menelepon Arsen. Tanpa menunggu waktu lama, Arsen yang sedang sibuk-sibuknya langsung mengangkat panggilan Asya.
📞 "Assalamu'alaikum. Ada apa, sayang?"
^^^"Wa'alaikumsalam. Mau izin main bolee? Samaa rombongan Shaka doang kok."^^^
📞 "Lama? Berapa lama? Naik apa?"
^^^"Nantii minta jemput Alvin atau siapa gitu, berapa lamanya yaa gak tau hehehe. Boleh kann?"^^^
📞 "Bolehh, sayang? Nanti minta tolong sama mereka antarkan kamu ke kantor aku buat ambil kartu ya. Tadi pagi aku lupa kasih."
^^^"Aku ada duit kok."^^^
📞 "Simpen aja duit kamu, belanja pake duit aku. Kamu harus ke kantor pokoknya, ambil kartu aku dan pake aja sesuka kamu. Udah, aku tunggu di kantor ya, assalamu'alaikum."
^^^"Wa'alaikumsalam..."^^^
Asya melihat ponselnya sambil tersenyum setengah senang. "Punya laki crazy rich emang menyenangkan." Asya berjalan menuju kamarnya dan masuk ke kamar mandi untuk mandi.
Tiba-tiba saja dirinya teringat dengan apa yang dilakukan Arsen pagi ini. Pipi Asya bersemu. "Roti koyaknya Arsen keren banget, Ya Allah. Bener-bener beuhh dan ahh... aku tidak bisa berkata-kata."
__ADS_1
"Sudahlah sudah. Berhenti memikirkannya Asya, atau nanti mandimu tidak akan selesai berjam-jam. Tapi ngapain mandi lagi ya? Tadi udah mandi deh abis berendam sama Arsen."
"Dahla gapapa, biar wangi."
Asya terus bermonolog di kamar mandi sembari melanjutkan ritual mandinya. Sehabis mandi, Asya mengenakan baju lalu kembali ke sofa mengambil ponsel. Dirinya meminta salah satu teman untuk menjemput.
Yang menjemputnya kali ini memang benar Alvin karena searah dengan tujuan. Asya keluar apartment setelah mendengar Alvin sudah di depan.
"Haii, assalamu'alaikum, akang."
"Wa'alaikumsalam, neng. Sesuai titik yaa!" Asya tertawa sekilas. "Mampir dulu ke kantor Arsen boleh? Arsen suruh kesana tadi."
"Siap. Kita meluncur ke kantor ayangmu," Alvin mulai mengemudi dengan santai. "Jadi gimana kehidupan setelah menikah, nona William?"
"Ya begituu. Kadang shock ajaa karena tiba-tiba liatt Arsen, sikap Arsen keknha hampir sama sih sama daddy. Mepet terossss."
"Ahahaha! Yang pasti lebih seru lah yaa, karena apa-apa udah sahh," Asya mengangguk. "Itu jelass, lu kapan nyusul?"
"Tar dulu njerr. Gue belum kayak laki lu yang udah bisa nafkahin anak orang, gue nafkahin diri sendiri aja masih susah."
"Pertanyaan gue, ayangnya ada kagakk?" tanya Asya meledek. "Kalau masalah ayang mah ntaran dulu bestiee, karena kalau banyak duit ayang pasti datang dengan sendirinya."
"Jiakhh! Kek betul aja lu."
Alvin cengengesan. "Inget yo, kalau Arsen kasar sama lu kasih tau gue atau kasih tau anak-anak yang lain. Kita saudara dari kecil, dan gue abang lu. Jadi jangan takut-takut mo cerita."
"Yeekk. Abang apaan, bedanya aja gak jauhh."
"Loh, yang jelas gue lebih duluan lahir daripada lu," jawab Alvin gak terima. "Iya deh, iyaa. Lu yang tua ya berartii."
"Yya ga... ah karepmu!" Asya tertawa lagi.
"Lu pernah ada suka sama cewek ga sih, Pin?"
"Of course. Gue cowok normal, ya kali gak suka cewek," Asya tersenyum menggoda. "Siapa tuh ceweknya? Kok gak pernah ceritaaa?"
"Kalau gue cerita, pertemanan kita hancur."
Asya terpaku, terkejut. "Bukan gue kan?"
"Bukan kok bukann. Tapi gue pernah suka sama mantannya Dino, anaknya om Rafael. Siapa namanya? Yuna? Keiji? Atau siapa itu gue lupa."
"Lu pernah suka dia? Sumpahh?" Alvin mengangguk. "Kenapa gak bilangg?"
"Ya gimana mau bilang begoo, yang gue sukai pacarnya temen gue. Makanya diem ajaa, jangan kasih tau Dino. Daripada nantii kita berantem."
"Heum. Iya juga sih ya, terus sekarang lu udah move on kan dari dia?" Alvin mengangguk lagi. "Gak butuh waktu lama buat move on dari orang yang udah jahatin lu."
"Belum adaa sii, takut tar salah suka orang lagi. Eh gue mau minta saran deh sama lu, kalau gue suka samaa yang diatas kita umurnya, gimana?"
"Ya gak masalah. Umur hanyalah angka, bestie!" Alvin tersenyum senang. "Oke, bisa dong gue gas kali ini."
"Katanya tadi gak suka sama siapa-siapa, itu mo deketin siaapaa?"
"Nyokap lu."
"GILEE!" Asya menoyor pelan kepala Alvin. Alvin malah tertawa ngakak. "Bercanda, bestie. Bisa di geprek sama om Aska gue kalau ngerebut nyokap lu."
"Bener sii. Nyokap juga gak bakal mau sama lu." Alvin auto menatapnya sinis, "Kau melukai hati kuh!!" Asya gantian tertawa.
"Ini udah sampe kantor ayangmu, sana samperin gue tunggu di mobil. Jangan lama-lama yaa!" Asya tersenyum, "Tunggu yak, gue gak lama kok."
Asya pergi sambil berlari ke dalam kantor Arsen. Tanpa tanya ke resepsionis, Asya langsung menuju ke dalam ruangan Arsen.
"Sayaaang, ak—" Ucapan Asya terhenti ketika melihat ada tamu penting yang berada di ruangannya. Asya nyengir, "M-maaf mengganggu. Saya keluar dulu."
"Ngapain keluar, sayang? Masuk aja siniii," Asya diam sejenak lalu masuk. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Arsen tersenyum lebar. Ia menghampiri dan mengelap keringat Asya. "Kamu lari-lari?"
"I-itu tadi karenaa kasian sama Apin, nanti nunggu lama. Kamu, itu tamu kamu gimana.. ih aku malu," keluh Asya berbisik.
"Sstt, tenang. Itu om aku, bukan tamu penting," bisik Arsen gantian. "Dia ini siapa, Arsen?"
"Ini istri Arsen, Asya namanya."
"Woahh.. cantik banget! Asya, mau jadi sugar baby om dak?"
"WOI!" Om-nya Arsen tertawa. Sedangkan Asya tertawa canggung karena belum terlalu mengenal om-nya yang ini. Yang Asya tau hanya om Mikko.
"Gak usah dengerin dia, sayang. Kamuu ambil nih kartunya, abistu pergi. Aku takut pula kamu dijadikan istri kesekian sama om-om itu," Asya cengengesan lalu menerima kartu Arsen.
Asya berjinjit dan mengecup bibir Arsen. "Akuu main dulu yaaa?" Arsen tersenyum, ia juga membalas kecupan Asya. "Have fun, baby."
Asya tersenyum lagi kemudian pergi setelah berpamitan sedikit dengan om-nya Arsen. Di ruangan itu, om-nya Arsen tersenyum meledek melihat Arsen.
"Masih bayi udah nikah."
"Daripada om, udah tua bulak-balik nikah."
"Om jahit nanti bibir kamu ya, Arsen."
Arsen tertawa, "Ah, skip! Om baperan."
__ADS_1
...◕◕◕ ᕕ( ՞ ᗜ ՞ )ᕗ ◕◕◕...
"Pliss, toko ini yang terakhir yaa! Gue capee cokk nemenin kalian belanja bajuu," keluh Dino tepat di depan toko yang ada di mall.
Asya, Ara, Cia dan Naina hanya bisa tertawa mendengar keluhan Dino barusan. "Sabar, Din, sabarr!"
"Ya niatnya mau sabarr, tapi yaa ini udah kemana-mana masa gak nemu-nemu yang pass?!"
Alvin mendekati Dino, mengelus pundaknya. "Lu protes terus tar ditendang Asya mau? Tinggal ngikutin be susah lu!" Asya cengengesan.
"Tapi ini kami gak salah tau, salah siapa lu pada mau ikutin terus?" tanya Ara membela diri. "Kalau kagak diikutin tar lu matanya jelalatann maemunah!"
"Hehe, nggak-nggak."
"Nggak-nggak apaan. Gak yakin gue. Udah buruan kalau mau beli baju, pilih sekarang cepettt!"
"Iyaaa sabaarrrrr!" Keempat wanita itu masuk setelah berdebat di depan toko. Tujuan mereka berempat mencari baju dengan warna yang sama, ceritanya mo couplean.
"Syaa, keknya lu butuh ini deh."
Asya menghampiri Glacia. "Gila lu?! Bisa mampusss tar di ngapp sama laki gue. Mana anaknya nyosor muluu," kata Asya curcol. Glacia dan yang lainnya tertawa.
"Beli aja kalau kata gue. Nyenengin suamii," sahut Alvin tanpa disuruh. "Ye nyengin mah nyenengin, gue nya yang kagak seneng. Lagian itu kebuka banget anjritt!"
"Kan baju dinas cokk, yakali baju dinas tertutup kek baju hanbok Korea."
"Bener juga. Tapi ogah gue, gak mau belii!" Asya langsung pergi menghindari mereka. Glacia bersama yang lainnya masih di sana melihat-lihat lingeriee. "Gue pengen beli deh, keknya lucu kalau dipake."
"Lucu matamuu."
••
Sejam kemudian. Asya dan semua temannya sudah kembali ke rumah masing-masing. Asya juga baru saja tiba di apartmentnya setelah diantar oleh Alvin.
Asya berjalan santai menuju apart sembari membawa beberapa belanjaan. Jujur, Asya jarang belanja, tapi karena kena racun temannya hari ini, banyak yang Asya beli.
Asya juga membeli baju couple dengan Arsen dan beberapa baju untuk Arsen.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam," jawab Arsen dari dalam. Dirinya berjalan menghampiri Asya lalu membantu Asya membawakan barang ke kamar.
"Bagusss."
Asya heran, "Apanya yang bagus? Aku kebanyakan belanjaa yaa?"
Arsen spontan menggeleng. "Baguss karena kamu memanfaatkan kartu itu dengan benar. Kamu gak belii makanan, sayang?"
"Makanan apaa? Kamu dak bilang pengen makanan. Aku panasin yang tadi pagi aja deh ya," Asya keluar kamar menuju dapur. Ia mendapati semua makanan yang di masak pagi tadi sudah habis ludes tanpa sisa.
Asya berbalik, menatap heran Arsen. "Kamu manusia kan? Kokk semuanya udah abisss??"
"Yaa gimanaa, masakan kamu enakk. Itu udah abis daritadi, aku pulang makan jam satu terus abis semua."
"Jadi kamu pulang jam satu? Kenapa gak bilaaangggg?" tanya Asya kesal mendekati Arsen. "Yo ngapain bilang orang kamu lagi asik main."
"Harusnya bilang ajaa, honeyy, biar aku pulang. Masa suami pulang kerja istrinya gak di rumah, kan gak baguss."
"Yowes rapopooo."
"Yowes rapopo, yowes rapopo. Besok-besok bilang!" Arsen mengangguk sambil tersenyum. Asya pergi mendekati kulkas mencari makanan, Arsen mengikutinya lalu memeluk dari belakang.
"Mau makan apalagi nih?"
"Mi."
"No."
"Kalau gitu gak jadi makan, ayo turu." Arsen menggendong Asya dan membawanya ke kasur. Asya diam, pasrah. "Katanya kamu lapar tadi?" tanya Asya setelah bersandar di headboard kasur.
"Gak ada yang bilang aku lapar, tadi aku cuma tanya kamu bawa makanan atau nggak. Karena aku pikir kamu mungkin bawain burger atauu apa gituu sejenisnya," jawab Arsen melepas baju.
"Terus gak mau aku masakin makanan lagi? Nanti malam makan apa?" Arsen diam sejenak kemudian naik ke tempat tidur tanpa baju. Ia menimpa tubuh Asya. Letak kepalanya berada tepat di perut Asya bagian atas.
"Makin kesana makin kesini, hug dan kiss sesuka hati," gumam Asya pelan. "Apa, sayang?"
"Nggak. Kamu mau aku masakin lagi nggakk?"
"Ngapain masak lagi, kamu juga baru pulang, pasti capek. Kita tidur aja yaa," Asya menghela nafas panjang lalu mengelus rambutnya. "Yakin mau tidur? Inii udah jam tiga kurang."
"No problem. Tidur sebentar pun kalau bareng kamu jadinya lama," Arsen mulai memejamkan mata.
"Penggombal handal," gumam Asya tanpa di dengar Arsen. Mungkin Arsen sudah terlelap. "Nanti malam makan apa, honeyy?" tanya Asya sengaja agar Arsen tidak tidur.
"Heum... Kursi, meja, sofa, dan yang lainnya masih bisa di makan, sayang."
Asya menggeplak punggung Arsen. "Aku seriusss, kalau mau makan diluar kan aku gak perlu masak lagiii."
"Ya udah kita makan diluar aja nanti malam. Sekarang ayo tidur. Aku gak mau kamu kecapean."
...----------------...
...Siders ku banyak banget yakk......
__ADS_1