
Di dalam rumah utama, Febby dengan telaten mengobati Darren. Gimanapun juga, Darren harus diobati.
Tidak terlalu parah sebenarnya. Hanya sudut bibir, pelipis, dan hidung Darren yang berdarah.
Oh iya, setelah dipapah masuk tadi, Darren menyuruh sekretarisnya membawa pulang Dave. Jadi hanya tersisa dirinya dirumah utama.
Jika Darren sedang diobati, lain halnya dengan Asya yang sibuk tidur dipaha Arsen. Arsen masih cuek pada Asya karena kecemburuannya tadi.
Dan untuk membujuk Arsen, Asya tidur dipaha Arsen.
"Sya, duduk bagus." Titah Zean.
"Maaf ya, ongkell. Bukannya Asya gak mau nurutt, tapi Asya encokk duduk di mobil berjam-jamm. Dan lagii, Asya masih dalam misi membujuk pangeran tampan yang sedang badmood karena jealous."
Jujur, Arsen ngefly sekarang.
Jarang jarang Asya memujinya secara terang-terangan dimuka umum seperti ini.
Arsen berusaha menetralkan ekspresinya. "Duduk buruan." Ujar Arsen datar.
"Gak mau."
"Beli seblak nanti, duduk sekarang."
"Gakk."
"Syaa, duduk. Kalau gak mau nurut aku makin males bicara sama kamu." Bukannya duduk Asya malah mempoutkan bibir sambil menatap Arsen.
Arsen yang juga menatapnya benar-benar tidak kuattt.
"AHH TOLONGG." Teriak Arsen tiba-tiba.
"Kenapaa weh?"
"Nggak kuattt, pengen cium Asya."
"Tak tampoll ntar kalau kamu ngelakuin hal yang nggak-nggak!" Omel Zai.
Arsen cengengesan, "Arsen tahan ni loh omm. Tapi kalau oknumnya gini gimana nahannya cobaa?!"
"Syaa, jangan mancing-mancing kamuu."
Asya nyengir, "Asya lagi rebahan, ongkell. Bukan mancinggg."
"Dahlah, ngeselin pulak dia kalau dah ketemu." Cibir Alvin. Asya senyum pepsodent.
"Ehh, Ara, Keiji samaaa Nai mana?"
"Pulangg. Kalau disini terus, mereka gak bisa istirahat." Jawab Dino.
"Teruss, lu pada kenapa gak pulang?"
"Pertanyaan paling bodoh yang gue denger." Cibir Haikal.
"Lahh? Pa maksuddd?"
"Gimana kami pulangg kalau lu nya aja belum ketemuuu, begooo?!" Asya cengengesan.
"Arsen aja belum ada makan karena gak tenang."
Asya menatap Arsen.
"Apa?" Tanya Arsen.
"Makan sekarang, yaa??"
"Nggak. Ntaran ajaa."
"Sekarang!"
"Nantii."
Arsen tetap menjawab dengan jawaban yang sama.
"Sekaraangg!"
"Nantiii."
"Bandel bangett siii!!" Asya bangun lalu pergi ke dapur. Ia mengambilkan nasi beserta lauk untuk Arsen.
"Nihh."
"Kan aku bilang nanti."
"Nanti kapann?? Mau makin kurus tinggal tulang kamu?" Tanya Asya dengan omelannya.
"Kok jadi bawell?"
"Ohh, jadi gak boleh bawell?"
"Loh lohh, kok kamu yang marah?"
"Nggak marahh. Udah buruan makann!"
"Nggakk."
"Ngeyel banget aslii, anak siapa sii?"
Asya mencoba untuk menyuapi Arsen. Arsen tersenyum senang melihatnya.
Darren kepanasan karena mereka berdua.
Yang lain, hanya menonton mereka. Agak sakit mata karena ulah dua manusia bucin ini.
"Mau gipeweyy mataaa. Yang minat pc guee, tertanda Alvin."
Mereka tertawa.
"Kasian bangett joness." Ledek Zean.
"Om Ze solimi bangettt!!"
Di kamar.
"Aska.."
"Hm?"
"Masih emosi??"
"Kenapa?"
"Kalau orang tanya tu jawab, bukan malah tanya balik."
Aska tidak merespon, ia malah mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajah dileher Zia.
"Udah dongg emosinyaa. Anak-anak nunggu tuh dibawahh."
"Kita denger dulu penjelasan Darren, ya?"
"Biarin aja Bang Ze yang ngurus, setelah Darren pergi aku keluar." Jawab Aska.
"Kalau kamunya salah gimana? Kamu harus minta maaf karena udah ninju dia tanpa dengar penjelasan."
"Zia, shut up please. Masih ngomongin itu lagi kamu tinggal pilih, aku atau kamu yang pindah kamar."
Zia diam. Ia memikirkan strategi agar Aska mau keluar dari kamar. 'Okee, rumus ngambek bales ngambek.' Batin Zia.
"Ayok keluar temuin Darren."
Aska melepas pelukan dan berbalik arah.
"Yaudahh kalau kamu gak mau mah gapapa. Aku aja keluar, bye." Zia benar-benar pergi dari kamar.
Aska sendiri menatap cengo Zia. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menyusulnya.
"Punya bini ga pekaan susah emang."
Di sisi lain, Zia menuruni tangga dengan santai. Yang ia lihat adalah Asya tidur dipangkuan Arsen yang sedang makan.
Zia juga melihat Darren masih diobati.
"Powerful banget Aska sampee lama banget ngobatinnya." Ujar Zia keheranan.
"Eh, udah turun kak?"
Zia mengangguk.
"Nggak terlalu parah inii, lama tadi karena kakak baru balik ngambil peralatan." Zia berohria.
"Laki lu agak gila sii, rahang Darren sakit buat ngomong keknya. Pukulan Aska keras tadi." Jawab Zean.
Zia menatap iba Darren.
"Maaf ya, Tuan Darren."
"No problem." Balas Darren dengan senyuman tipis-tipis.
"Daddy masih marah, momm?" Tanya Azril.
"Iyaa tuh, biiarin ajaa mommy diemin balik. Paling juga tar malem bujuk mommy gantian."
"Hahayy, topp mommy." Puji Asya gembira.
"Dari sini Racksa benar-benar tau, cewek diambekin bukannya bujuk malah ngambek balik."
"Uncle kalau jadi Aska gak bakal bujuk balik. Kalau Aska bujuk balik, lemah dia."
"Bacot pula ku tengok. Mau di smekdon kau, bang?"
Aska keluar dari kamar, bajunya telat berganti.
"Kok keluarr?" Tanya Zia meledek.
Aska menatap sinis Zia, "yang nyuruh keluar tadi siapa? Kamu, kan?" Zia cengengesan.
"Bukannya tante Zia lagi diemin Om Aska?" Tanya Haikal.
"Mana bisa tante-mu dieminn om." Jawab Aska sombong.
"Halahhh, cocotee!" Mereka tertawa.
"Asya, ngapain tidur dipahanya Arsen? Kan punya paha sendiri."
"Gimana bisaa Asya tidur dipaha sendirii, daddyyy?!"
"Oiya," Aska cengengesan.
"Dia kalau abis emosi, otaknya keriset agaknya." Ledek Zai. Mereka tertawa lagi.
Darren disitu hanya terdiam. Aska tau Darren masih diobati, jadi tidak ingin berbicara dengan Darren.
"Sen, buang aja Asya kalau kamu pegel."
"Ya Allah, daddyy. Nanti kalau Asya nyender ke daddy mommy auto ngamokkk."
"Cangkemmu, Sya!" Asya nyengir kuda.
"Om."
Aska menatap Arsen. "Opoo?"
"Ngene lho. Arsen wes ra kuat karo Asya."
"Buangg!"
"Ora ngono maksute."
"Lah terus piye maksudmuu?"
"I want to marry Asya."
Aska tercangang lalu bertepuk tangan.
"Bagoss, bagosss. Mau nikah kapan?"
"DADDYY!"
"Yes, my princess?"
__ADS_1
"What do you mean, daddy?"
Aska terkekeh mendengar pertanyaan Asya.
"Du willst es nicht?" Tanya Aska.
(Kamu tidak menginginkannya?)
"Ich will es, aber nicht jetzt." Jawab Asya.
(Aku menginginkannya, tapi tidak sekarang.)
"Dann wenn?"
(Lalu kapan?)
"I don't know, but, not now."
[ps; correct me if I'm wrong, aing pake gugel translate. Kalau salah, mohon diluruskan <3 ]
"Ni maksudnya apaa, yaa?! Speak Indonesian, please." Pinta Dino.
"Minta bahasa Indonesia, tapi dia ngomong bahasa Inggris. Cangkemmu meh tak tampar po piye?!" Dino cengengesan karena Alvin protes.
"Ku tak mengerti sama sekalii, mereka berdua ngomongin apa?" Tanya Haikal pada Azril.
"Asya bilang kalau mau nikah secepatnya."
Bugh!
"Jangan mengasal nak paokk!" Azril tertawa kecil sambil meringis kesakitan.
"Arsen ngerti nggak?" Tanya Zean.
"Dikit, om."
"Seriuss? Apa artinya?" Alvin heboh.
"Om Aska tanya, Asya nggak mau? Asya jawab mau, tapi nggak sekarang."
"Lahh, kirain gak tauuu. Percuma pake bahasa Jerman, Syaa."
"Daddy sihh. Pake bahasa yang itu aja harusnyaa." Jawab Asya.
"Yang mana? Oh ituu?"
Asya mengangguk.
"Askskskaskdskkk." Aska memulainya.
"Hshshsehshsnhsss." Asya pun merespon.
"Akskhsjkrdkskskshskks."
"Shshshshiwpdksshkk."
"Kjshskhngshsghd."
"Liatlah, bapak dan anak ini butuh bantuan psikiater." Aska dan Asya terkekeh.
Melihat Darren selesai diobati, Aska mencoba untuk membuka topik.
"Udah becandanya, ayok mulai serius persidangan ini."
Jeng jeng jeng jeng!!
Suasana sedikit menegang.
"Asya, apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Zean.
"Bang, kan harusnya Aska yang nanya."
"Kalah cepat. Udah, diemm. Katanya mau seriuss." Aska auto mingkem.
"Jadi ginii. Kemaren ituu Asya bareng mereka di halaman belakang rumah abu-abuu. Asya kan dapat kelinci abu-abu, nahhh, kelincinya ituu kaburrr dari kandangg. Asya ngej— kelincinya ketemu??"
Tanya Asya sambil menatap Haikal.
"Hah? Emang ilang?" Tanya Haikal gantian.
"Ih serius anjirrrr! Di rumah ada nggakkk?!"
"Ada cuma satuu." Dino yang menjawab.
"Aaahh ilangg dongg?"
Raut wajah Asya berubah seketika.
"Maybe."
"Ah gak mau ah. Males cerita udahh. Gak mau cerita!"
Dengan mata yang berkaca-kaca, Asya pergi ke dapur.
"Lah ngambek tuu bayii." Ledek Zean.
"Mana gemoy banget pulaa."
"Bucin akut lu, syalandd!" Arsen cengengesan.
"Beneran ilang apa gimana?" Tanya Zai heran.
"Keknya iyaa, om. Kelincinya cuma satu dikandang." Jawab Shaka.
"Ada ajaa kan emangg."
"Syaa, Asyaa. Lanjut cerita dulu, nakk. Nanti daddy beliin yang baruu."
"Gak mauu. Asya maunya yang kemarenn, daddyyy."
"Yaudahh nanti dicari bareng-bareng."
"Alah udah ilangg. Kalau mati gimanaaa?" Tanya Asya kembali keruang tamu sambil meminum susu.
"Nggakk. Nggak matii."
"Mommy bukan peramall."
"Asya mah gak mau ceritaaa sebelum kelincinya ketemuu."
Aska meraih ponselnya untuk menghubungi anggota bodyguard Asz.
📞 "Assalamu'alaikum, boss, ada apa?"
^^^"Wa'alaikumussalam, cari kucing Asya yang hilang^^^
^^^disekitaran rumah abu-abu."^^^
"Mon maap, pak, kelinci bukan kucing." Cibir Zai.
"Oiya." Aska cengengesan.
^^^"Carii kelinci Asya yang hilang."^^^
📞 "Kelinci nona Asya ada berapa, boss?"
^^^"Duaa."^^^
📞 "Oo, kelinci dikandang ada dua kok, boss. Kemarinn kelincinya dipegang sama Mas Sunda."
^^^"Saya loudspeaker kamu ngomong ulang."^^^
^^^Asya mengklik loudspeaker.^^^
📞 "Kelincinya udah di dalam kandang, nona. Udah dikasih makan jugaa."
^^^"ALHAMDULILLAH. Okeeey, makasih ommm."^^^
Aska dan Zia geleng-geleng kepala melihat putrinya kesenengan.
📞 "Sama sama, nonaa."
^^^"Yaudahh, saya matikan. Assalamu'alaikum."^^^
📞 "Wa'alaikumussalam, boss."
Aska mematikan panggilannya.
"Udahh?" Asya mengangguk sambil tersenyum.
"Padahal dia baru beberapa menit keknya megang tu kelinci, bisa bisanya sampe mogok cerita gara-gara itu." Sindir Racksa.
"Lu gak tau gimana rasanyaa jatuh cinta dalam beberapa menit teruss tiba-tiba yang dicintai menghilang." Balas Asya songong.
"Lohh, aku ngerasain barusan. Bukan beberapa menit lagi jatuh cintanya tapi udah tiga taunnn. Yang paling nyeseknya pas ketemu gak ada dipandang sama sekali, doi sibuk sama cowok lain."
Asya cengengesan, "ya maapp."
"Yi miipp." Mereka terkekeh melihat Arsen menirukan ekspresi Asya.
"Dasarr bucin lu beduaa. Capek banget mata gue liatnya." Cibir Alvin kesal.
"Makanya, buang mata." Jawab Azril.
"Ha kan, kann. Ilang otaknya."
Mereka terkekeh.
"Okee lanjutt cerita!" Titah Aska.
"Asya ngejer kelinci ituu kan, teruss tiba-tiba dihadang sama mobil hitam dan dibawa masuk ke mobill. Asya disumpel pake kain makanya gak bisa teriak. Ish, Asya mo pingsan karena kainnya bau. Macem gak dicuci tujuh taunnn."
"Tau darimana lu tujuh taun?" Tanya Azril.
"Perkiraan ajaa, di tengah-tengah lima sampe sepuluh kan tujuh."
"Ya Allah. Suka ati kau lah, Sya!" Asya tertawa kecil.
"Mulai dari emak, bapak, istri, anak, adek, adek ipar, sepupuu sampeee keponakan. Kalau cerita gaaaaakkkk pernah betoll, mengcapek saya."
Mereka tertawa lagi setelah ucapan Zean tadi.
"Selo aja, ongkel. Biar gak tegang kali."
"Lanjut yaa. Nah, Asya diculik, dibawa pergi ntah kemana. Tapi dijalan Asya berhasil kabur dan itu juga berkat bantuan Om Darren."
Aska sedikit melirik ke Darren.
"Terus?"
"Asya dibawa pergi ke mansionnya Om Darren waktu ituu dan Om Darren yang urus sisanya. Di mansion Om Darren, Asya main sama Dave."
"Dave siapa?" Tanya Zai.
"Anak angkat Om Darren, ongkell. Abistuu kan Asya minta pulang, tapi gak dibolehin sama Om Darren kar—"
"Kenapaa?!"
Ctak!
Jidat Aska disentil istrinya.
"Kalau orang cerita gak usah dipotong, nanti salah paham!!" Aska nyengir.
"Saya larang Asya karena waktunya udah mendekati maghrib. Jembatan menuju mansion saya roboh, jalan satu-satunya dari hutan. Saya gak mau ambil resiko, makanya saya larang Asya pulang." Darren memberi penjelasan.
Mereka berohria.
"Asya dirumah Om Darren, kan? Tidurnya dimana?" Tanya Shaka. Overprotective nya kumat.
"Yaa tidur dikamarrr." Jawab Asya.
"Kamar siapa?" Haikal ikut bertanya. Asya ragu untuk menjawabnya.
"Kamar siapa, Asya?"
"Kam–"
"Kamar saya. Nggak seranjang kok, Asya tidur dikasur saya disofa. Bukan maksud apa apa, cuma jaga Asya aja." Mereka berohria.
__ADS_1
Aska mengangguk paham.
"Teruss, siapa yang culik kamu?" Tanya Aska pada anaknya.
"Katanya musuh daddy dari Jepang. Udah tua dia macam bapak-bapak hamil."
Aska terdiam seketika, didalam hatinya ia mengumpat secara aesthetic.
"Yang Asya lebih takutnya, daddy... dia bilang Asya mau dijadiin tumbal."
"Tumbal??" Asya mengangguk.
"Saya gak tau pasti tumbal apa, tapi orang campuran Jepang yang satu itu emang selalu menjadi buronan karena selalu nyari tumbal untuk perusahaannya." Jelas Darren.
Aska meremas rambutnya, "apa jadinya kalau kamu jadi tumbal itu Asyaaa. Daddy minta maaff udah bahayain kamuuu."
"Daddy gak perlu minta maaaff. Asya tau lah gimana resiko punya papa yang super khayhaaa dan super thamphann."
Aska membalas dengan senyuman.
"Mengjamettt kan dia, jamet betul emang."
"Tak usah bacot kau!" Alvin cengengesan.
"Saya rasa, anda perlu memperketat keamanan dimanapun itu. Meskipun saya tau keamanannya udah teramat sangat ketat."
Aska mendongak, ia tersenyum tipis.
"Terimakasih sarannya. Dann, saya minta maaf karena sudah menghajar anda tadii."
Darren juga tersenyum tipis.
"Saya mengerti. Saya juga akan melakukan hal yang sama jika diposisi anda. Saya rasa, saya juga pantas mendapat pukulan tadi."
"Pantas? Kenapa gitu?" Tanya Zai.
"Kucing yang waktu itu... karena ulah saya."
"Bukannya Tara?" Tanya Dino heran.
"Tara? Ran maksudnya?"
"Ran??" Haikal tanya balik.
"Tara Naila, kan?? Adeknya Taxa Fauzian?"
Mereka mengangguk.
"Saya manggilnya Ran. Tragedi itu bukan salah Ran ataupun Taxa. Itu salah saya."
Asya menyipitkan mata.
"Bukannya karena suby om?"
"Suby?"
"Siapa lagi ini maemunahhh?!"
"Aihh lu pada gatau, ekan? Gue juga baru tau karena kemaren pas dirumah Om Darren terungkap hal yang mengejutkann. Om Darren punya suby dan itu... Adinda."
Mulut mereka menganga karena terkejut.
"Serius lu?" Asya mengangguk.
"Adinda yang dekat sama Azril, kan?" Tanya Zia.
"Pacarnya Alex, momm." Jawab Azril cuek.
"Jadi ulah dia atau siapaa?"
"Masalah kucing, itu salah Geb– maksud saya Adinda. Saya sama sekali gak ada menyuruhnya untuk melakukan itu."
"Lalu, kenapa anda bilang itu salah anda?" Tanya Zean.
"Karena waktu itu, bodyguard yang nyamar anak buah saya."
Aska memejamkan mata menahan amarah. Zia yang merasakan hawanya langsung menggenggam tangan Aska.
Aska membuka mata, Zia menggeleng kearahnya.
"Saya tau saya salah, saya minta maaf. Waktu itu saya dendam sama anda, Pak Aska. Tapi sekarang tidak lagi, makanya saya cerita semuanya biar kita bisa damai."
Aska menghela nafas.
"Kita lupakan aja yang dulu. Sekarang, sebagai rasa terimakasih saya, saya mengundang anda makan malam disini. Sekalian ajak anak anda."
"Insya Allah, saya datang bersama Dave."
Aska mengulurkan tangannya.
Darren langsung membalas uluran tangan itu.
"Sekali lagi, terimakasih."
◕◕◕
19.23, masih dirumah utama.
"Asya.. bangunn."
Zia menggoyangkan tubuh Asya.
"Asyaa.. bangunn heyy."
Asya mengerjapkan mata.
"Eummh? Asya ketiduran ya, mommy?" Zia mengangguk.
"Cuci muka gih, terus lari lari."
"Lah?"
"Biar kecapekan terus bisa tidurr."
Asya tertawa kecil, "kalau gak bisa tidur Asya tinggal baca buku biologi. Kan buat ngantuk." Zia ikut tertawa.
"Udah bangun buruan, yang lain nunggu kamu dibawah."
"Yang lain masih disinii?" Zia menggeleng.
"Cuma ada Azril, Racksa, sama daddy."
"Om Darren?"
"Belum, mungkin bentar lagi." Asya berohria, ia bangun lalu masuk ke kamar mandi.
"Mommy tinggal ya, sayang?"
"Iya, mommm." Zia pergi meninggalkan Asya.
Dikamar mandi, Asya mencuci mukanya dan menyikat gigi. Kemudian berganti dengan baju tidur yang ada di lemari lalu keluar dari kamar.
Tanpa mandi?
Asya udah mandi tadi, sebelum maghrib.
"Hmmhh, masih ngantukk."
"Ehh, haii tuan putri. Udah bangun?" Asya membuka matanya, Arsen berada jauh didepan tangga. Kedua tangannya di belakang.
"Kamu megang apaa?" Tanya Asya yang masih diatas.
"Coba tebak."
"Nggak tau apaaan."
"Tebak duluu."
"Ngga taukkk, bagi tau buruann."
"Hahaa, gemoynya bidadarikuu. Ini tuh aku bawa seblak sama martabak coklat kesukaan kamu." Mata Asya berbinar.
Ia langsung berlari turun tangga untuk menghampiri Arsen. "Jangan lari lar–"
Perkataan Arsen terhenti karena Asya langsung memeluknya. "Makasiii banyaaakkk."
Arsen tersenyum, kedua tangannya yang berisi makanan tidak bisa membalas pelukan Asya.
"Sama sama, sayangg."
Asya melepas pelukan, ia menatap Arsen dengan senyuman.
"Mari kita makaann."
"Eitss, kamu makan nasi dulu lah."
"Udah tadii soree."
"Yang bener?" Asya mengangguk.
"Okee, ayokk makan seblakk." Mereka berdua menuju ruang keluarga.
"Whooi kang molorr!" Racksa datang mengrusuh.
"Dih widihh. Lu juga molor kann?!"
"Yaiyalah masa nggakk!"
Jawab Racksa cengengesan.
"Si Azril?" Tanya Asya.
"Jelas tidur tadii. Gak lu liat dia kea mayat idup noh disono, macem manekin pun udah." Mereka bertiga tertawa.
"Btw, Sen, lu beli seblak cuma dua?"
"Iyalah. Yakali beliin lu juga. Ingatt, jangan berharap untuk yang tidak pastii." Cerocos Arsen.
"Kamprettt lu bucin!!"
"Nunaaa~"
Azril merengek sambil menghampiri Asya.
"Ya Allah. Pake baju, Azrilll. Lu gak usah pamer roti dah ahh. Pakee baju buruann!"
"Panasss." Jawab Azril sambil menyadarkan kepalanya dipaha Asya.
"Ehh, Zrill, badan lu panass benerann. Lu sakit?" Tanya Asya panik.
"Nggakk."
Arsen gantian mengecheck suhu badan Azril. "Panas betul ini."
"Zrill, bangun yok. Pindah kekamar biar leluasaa tidurnya." Ajak Asya.
"Disini ajaa sama nunaa." Jawab Azril dengan mata yang terpejam.
Asya membiarkan Azril.
"Jill, mau martabak?" Azril menggeleng.
"Jadi mau apa?? Bilang biar gue yang beli." Sambar Arsen.
"Eumm, mantepp. Abang ipar terjoss." Puji Racksa sambil menyomot martabak.
"Gak ada yang nyuruh lu makan anjirrr."
"Diem. Gak boleh pelit sama orang ganteng!"
"Pedean banget, sukk!" Racksa cengengesan.
"Jill. Lu mau apaa? Mau makan apaa?"
"Gak mau makan apa-apa. Maaunyaa Naina."
Racksa, Asya dan Arsen langsung menatap cengo Azril. "Dia sudah terdeteksi bucinn."
"Ketularan lu bedua!" Cibir Racksa, Arsen senyum pepsodent dengan bangga.
__ADS_1
"Btww, makhluk bucin bertambah ya pemirsaaa."