
Jika para anak-anak muda berkumpul di rumah megah Aska, lain hal nya dengan sang pemilik rumah.
Ia dan istrinya sedang berkumpul di rumah Ivan bersama dengan yang lainnya. Termasuk Samuel, Qiara, Jimmy, Alya, Racksa dan Refiona.
"Lu kenapa gak bilang dari awal kalau ngelarang, begooo?!"
"Biar keliatan reall, no tipu-tipu."
"Lagian kenapa lu larangg?" Tanya Dimas gantian.
"Takutnya mereka kenapa-kenapaa. Musuh gue masih jadi buronan di Jepangg. Lebih baik mencegah, kan, daripada mengobatii?"
"Benerr sihh. Daripada hal yang nggak-nggakk terjadii," sahut Ica.
"Terus mereka maunya kemanaa?" Tanya Alya.
"Masih diskusi tuh tadii, katanya mau ke Bali." Zia gantian menjawab.
"Btww, anak lu kuliah dimanaa?" Zia menatap Ica.
"Katanya tu mau ke London, Dino juga kann?"
"Heemm. Betingkah kalii punn."
"Parah siii, mending dia mau hidup mandirii, nyari suasana baruuu. Malah dilarang bapaknya, goblokk emangg." Ceramah Aska.
"Nyenyeee! Si kembar dimana?"
"Indonesia katanyaa. Terserah mereka ajalah, yang penting jelass."
"Alvin dimana??" Refiona menoleh ke Alya.
"Dia malah pengen balik Indo."
"Keknya recok kalii kalau semuanya disini." Ujar Jimmy.
"Depresi dosen ngadepin merekaa. Bagus pisah aja udahh," sahut Qiara.
"Shaka dimana??"
"Dia minta ke New York."
"Berarti Haikal sama Dinoo di London, Shaka di New York. Alvin, Racksa, Asya, Azril di Indonesia?"
"Ho'ohh."
"Asya Azril gak bisa pisah apaa?" Tanya Tania heran.
"Bertanya-tanya juga guee, mereka kalau pisah bakal gimana?"
"Yang pastiii, gak ada satu menit pun lepas dari telponan."
"Walaupun deket sukanya gelut, kalau berjauhan gitu pasti pada kehilangan."
"Yaa jelaslahhh, dari dalam perut lu juga udah berduaa."
◕◕◕
14.57
"Gue punya ide!!" Mereka menatap Dino.
"Udah lupa lagi."
"Ku lemparr nanti kau, betullahh!" Dino nyengir tanpa rasa bersalah.
"Jadinya kemana siii?" Tanya Alex yang masih bingung.
"Masih gak jelass. Ujung ujungnya gue ajak rebahan aja lahh!" Kata Haikal sedikit es~mosi.
"Gimanaa kalauu kita carii area perhutanan terus buat kemah kemahan gituu?" Usul Shaka.
"Eemm!!" Asya menjentikkan jarinya.
"Kenapaa?"
"Belakang basecamp JL kann air terjun, gimana kalau daerah situ ajaaa?" Tanya Asya meniru pertanyaan Shaka.
"Nahh, bagusss! Kita tu jarang banget ngirup udara segarr, jadi apa salahnya buat menyatu dengan alam?"
"Gak buruk juga si ide luu. Murah biaya jugaa, gak pake ribett!" Balas Alvin.
"Kita bawa bajuuu, tapi bajunya di taro basecamp. Kita tidurnya di tenda kemahan ituuu, masaknya juga di deket situu."
"Ya jelaslah disitu, seinget gue basecamp JL gak adaa dapurr."
"Buat makann, hari sebelumnya beli dulu dii supermarket kan enakkk."
"Saya jadi tidak sabarr!!" Asya excited.
"Eumm, ceweknya masa cuma Yuna, Kak Ara sama Kak Asya. Tambah lagi gituu?"
"Zril, ajak Naina!!"
"Ashiaaaappp."
"Lu bedua gak punya cewek?" Tanya Arsen kearah Shaka dan Alvin.
"Tidak ingin memelihara yang tidak penting."
"Sadis betull si Apinn!" Alvin cengengesan.
"Mau ngajak Adinda gak nih?" Tanya Alex menggoda.
"Gue lempar pake swallow ntar lu kalau sampe ngajakin Dinda!" Alex tertawa mendengarnya.
"Dinda sahaa??"
"Besok ajaaa jelasinnya biar ada bahan. Ehh, berangkatnya kapann?"
"Yaa besok ajaa, besok soree. Ini hari apasiii?"
"Ni hari Kamis."
"Untung ini hari kamisnya. Berarti besok jum'at teruss minggu pulang. Deall?"
"Owgheyy, deall!!" Mereka super duper semangat.
"Yang punya tenda siapa ajaa? Tenda sendiri-sendiri atau barengann?"
"Setenda bedua ajaa laaa. Ntarr gue sama Naina, Ara sama Yunaaa."
"Okeee! Dino sama Alvin, Shaka sama Racksaa, Arsen sama Azril, Alex.. Lex lu sama siapaa? Oh iyaa, Haikalll."
"Jangan jangannn. Susah tidur nanti si Haikall, Alex tidur gak bisa diamm. Mending Alex sama guee, Azril sama Haikal."
"Keknya itu lebih baikk, mengingat Arsen tidur juga lasaknya na'udzubillah!!" Mereka tertawa kecil mendengar perkataan Azril.
Beberapa kali Arsen tidur bersama mereka, kadang Arsen tidur seperti mayat yang diem di tempat.
Kadang seperti cacing kepanasan yang selalu berpindah tempatt.
"Pas, kann? Dua belas orang?" Tanya Ara.
"Iya keknyaa."
"Yang bawa tendanya siapaa ajaa?" Tanya Shaka gantian.
"Punya gue gak disini, Ka. Lu aja yang bawaa!"
"Amaann, selo aja luu!"
"Pin, gue yang bawa."
"Ngeliat lu nawarin diri, gue jadi curigaa." Dino cengengesan.
"Ndak boleh su'udzon yaahh!"
"Keanya bakal trauma gue kalau tidur bareng Dino." Mereka terkekeh.
"Azril yang bawaa."
"Lu ajaaa, tenda gue kan gabung sama Asya. Kalau Naina gak punya tenda gimanaa?"
"Oiyaa, oke dehh. Gueee." Kata Haikal.
"Kak Ara, yaa?" Ara mengangguk.
"Senn?"
"Iyee bacott!"
"Okeee, berarti yang bawaaa Shaka, Dino, Haikal, Ara, Asya sama Arsen?"
"Iyaaa."
"Keramean gak sih anjirr?? Bagi tiga kan empat orang se tendaa."
"Tapi nanti sempit kalii. Kalau dua orang kan luass." Jawab Ara.
"Eumm, jeniuss. Araa, sama gue aja yaa. Gak usah sama Haikall!"
"Pinn, masih sabar nih guee. Kesabaran gue abis, gue tendang lu ke samudra Atlantik!" Alvin tertawa.
"Sampe sekarangg, gue masih bertanya-tanya. Lu bedua memang ga punya pacaarr?" Tanya Asya sambil menyipitkan mata menatap Alvin dan Shaka.
Dengan santainya, Alvin mengusap muka Asya.
"Gak usah disipit-sipitin, mata lu udah sipit begee!"
"Pantesan tadi cuma nampak segarisss."
"Dodoll!" Asya cengengesan.
"Gue kira cuma gue yang penasaran, ternyata tidak. Ngapa gak bawa cewek sekalian sih dari Swiss sanaaa?" Tanya Arsen.
"Whidii, ngebet banget pengen cewek Swiss? Hahaa, yasihh, pasti lu udah depresot ngadepin Asya."
Bughh!
Bantal sofa terlempar.
"Gilaa. Orang macem dia kok tenaganya kuat sii?"
"Jangan maen maen makanyaa, mau masuk rs lu? Nyari masalah mulu dari tadi."
"Yayaya!" Asya menatapnya datar.
"Gue yakin sii, mereka pasti punya pacar tapi gak dipublikasikan." Ujar Azril.
__ADS_1
"Rasah sotoy wess!" Protes Alvin.
"Biasanya kalau marah si beneran adaaa." Kata Dino.
"True! Eh lu ngapain? Hape lu kok miring??" Tanya Haikal menatap Dino.
"Hehe, login duluann." Asya langsung merampas ponsel Dino.
"Syaaa?!"
Asya tidak merespon, ia menggantikan Dino bermain.
"Salahh, jangan lewat situu! Liat peta nohh." Arsen mengarahkan kedua tangan Asya.
Kefokusan Asya malah buyar ketika melihat tangan Arsen berada diatas tangannya.
Eemm.. ia juga merasa deg-degan.
"Ekhmmm!" Arsen langsung melepaskan lalu mengangkat tangannya.
Di depan Shaka, tidak boleh ada skinship. Gimana pun itu. Shaka juga tidak mengizinkan teman-teman prianya bersentuhan fisik dengan wanita yang bukan mahromnya.
Bapak JeeL overprotective!
"Refleks, Pak, reflekss." Arsen cengengesan.
"Di sengaja itu, yakin gue!"
"Diem luu!" Arsen menendang Alex, Alex menghindar sambil cengengesan.
"Aaa bodoamat." Asya menjatuhkan ponsel Dino lalu pergi ke bawah.
"HEEEHHH, HAPE GUEEEE!!"
"Oiyaa, sorry gak sengajaa. Karena kalah gue auss, lu sihh punya hero overburik jadi nya kalahkan." Cerocos Asya sambil menuruni tangga.
"Nak paooookkk!"
◕◕◕
08.37, rumah utama.
Mereka semua berada di rumah Aska, tadi malam mereka tidak pulang karena hujan.
"Jadi pergi? Nanti sore, kann?" Tanya Zia di sela-sela makan.
"Iya, Tante. Nanti sore," jawab Ara mewakili.
"Moga gak ada ujaan."
"Aamiin."
"Kenapa gak jadi ke Bali?" Tanya Aska gantian.
"Kejauhan, Om."
"Lagipula mager juga ke Bali." Sahut Shaka.
"Oo gituu. Om udah taro beberapa jenis minuman di kulkas ituu, jadi gak repot beli. Air mineral juga ada, yaa. Kulkasnya dua dua berisi minuman itu." Aska selesai makan.
"Susu adaa??" Tanya Asya dan Azril kompak.
"Oh iyaaa, lupa nya susu! Pantesan kemaren berasa ada yang lupaa." Kata Zia.
"Yaaah."
"Susunya kalian beli aja sendirii, nanti daddy transfer."
"Ga usah lah, Om. Nanti pake uang Arsen aja."
"Serius nii?" Arsen mengangguk.
"Yaudah kalau maunya gituu." Jawab Aska sambil tersenyum senang.
Kan lumayaann, uangnya ga kurang hahahaa.
"Mommy juga udah letak alat masakk, jadi gak usah repot bawa."
"Serius, Tantee?" Tanya Ara, Zia mengangguk dengan senyuman.
"Kapan om sama tante kesanaa?"
"Yaa nggak kami yang kesanaa, tinggal telpon kan langsung sampee."
"Wiss, mantap kali emang kalau beduit nii." Ujar Dino, mereka tertawa mendengarnya.
"Syaa, ini punya gue kan?" Tanya Azril sanbil menunjuk susu vanilla disebelahnya.
"Enak ajaa! Itu punya gueee."
"Teruss, punya gue manaa?"
"Kan udah lu abisin!!"
"Lu yang abisin susu luu. Ini punya gueee," jawab Azril.
Aska geleng kepala melihat keduanya, perkara susu jadi ribut. Ia pun memanggil bude art.
"Bikinin satu gelas lagi, untuk Azrill." Bude itu mengangguk lalu pergi.
"Udah? Masih mau ribut? Nggak malu diliatin sama temennya?"
Akhlak minus emang!
"Gue lempar sendok nantii lu!"
"Lempar balikk lahh, kan gampang."
"Astaghfirullah!! Semerdeka kau aja, Pin!" Aska dan Zia tertawa melihat mereka.
"Oyaa, daddy tau nggak. Semalamm Azril jalan samaa cewek orang. Laporin ke Ongkel Ze ya, daddy, biar dia di tampolll."
Takkk!
Azril menyentil jidat Asya.
"Udah gue bilang dia gak punya pacarrr!"
"Dia single, Momm, Dad. Yang kemaren jalan sama dia ituu abangnya."
"Alesan tuh pasti, Momm." Kata Asya sambil mengelus jidatnya.
"Syaa, gue tabok terbang lu ke Afrika!"
"Tabok balik lah, kan gampang."
"Dihh, ga kreatiff." Cibir Alvin.
"Gak usah sok kenal!" Alvin menatap sinis Asya.
"Lagian lu ga bisa tabok balik, kan lu di Afrika." Ujar Alex.
"Eh iya benerr."
"Kamuu.. Alex, kan?? Yang waktu itu retakin kaki Azril?"
Alex gugup, "i-iya, Om."
"Kalau saya patahin gantian, gimanaa?"
Serentak, mereka menatap Aska dan Alex secara bergantian. Sedangkan Aska menatap Alex dengan serius.
"Silahkan, Om."
Aska tersenyum tipiss, "kenapa kamu izinin?"
"Karenaa ini konsekuensinya."
Aska tersenyum lebar sekarang, "saya bercanda. Waktu itu juga, singa betina udah ngehajar kamu."
"Next time, apa apa itu di tanyain dulu. Jangan langsung ambil kesimpulan sendiri, cara selesaikannya juga pake kepala dingin. Jangan sambil emosi."
"Iya, Om. Makasih, Om." Aska membalas dengan senyuman.
"Kalian lanjut makan, yaa. Om sama tante mau pergi duluu."
"Pigi terosss. Mau kemanaa?" Tanya Asya.
"Daddy ada urusan. Mommy mu mau ke ZiCF."
"Aseekk, ZiCF. Bisa dongg, traktir kami makan, Tann." Goda Haikal.
Zia dan Aska tertawa, "boleh boleh ajaa. Kalau mau, ke ZiCF aja ntar. Voucher makannya nanti tante kirim lewat wa."
"Asoyyy. Makasihh loh, Tanteee." Kata Dino senang.
"Iyaa, kenyangin makannya, yaa." Mereka mengangguk.
"Ehh, Mommy, Daddy, nanti kami ke rumah abu-abuuu." Teriak Azril.
"Okeee. Nanti daddy suruh orang dulu yaa buat bersihin rumahnya sekalian di sterilkan. Udah lama gak di tempatinn itu."
"Kesananya setelah daddy kabariii."
"Okesiapp, bosss!"
◕◕◕
Beberapa jam kemudian. Setelah mendapatkan pesan dari Aska, mereka pun menuju mobil yang terparkir di garasi.
"Lu bedua sama Arsen kan, yang ke supermarket?" Tanya Ara pada Asya.
"Iyeee. Duit patungannya manaa??" Tanya Asya.
"Nanti mereka kasih ke gue, gue tf ke Arsen." Ujar Shaka.
"Lah kok Arsenn? Ke gue ajaa ishh." Protes Asya.
"Suami yang harus memegang uang." Jawab Haikal.
"Suami pala lu peang!" Haikal nyengir tanpa rasa bersalah.
"Udahhh, gak usah protess!" Mereka masuk ke mobil masing-masing lalu pergi meninggalkan Asya dan Arsen.
Arsen masih di dalam mencari kunci mobilnya yang hilang. Karena tidak sabar, Asya menyusul Arsen.
"Belum ketemuu?" Arsen menggeleng.
"Ceroboh bangett sihh." Arsen cengengesan.
__ADS_1
"Daripada kamu ngedumel mulu, mending bantu aku cari." Pinta Arsen.
"Kea gimana kuncinya?"
"Ada gantungan gelang yang kita beli dua tahun lalu di pasar tradisional." Asya menatap kesal Arsen setelah mendengar jawabannya.
Arsen melihat Asya. "Whyy?"
"Kan ada di tangan lu!!"
"Hah?"
Dan ternyata benar! Gelangnya Arsen pakai tadi dan kuncinya menggantung.
"Pelupa bangett, astaghfirullah!!"
"Hehee, maklum. Kebanyakan mikirin kamu ini."
"Modus bangett!"
"Yang lain udah berangkat??" Tanya Arsen. Mereka sedang berjalan menuju luar rumah.
"Udahh, tadiii. Kamu aja kelamaann!"
Mendengar Arsen menggunakan kata aku kamu, Asya pun juga mengikutinya. Terasa lebih nyaman baginya daripada menggunakan kata lu gue jika bersamaa Arsen.
"Ya maappp." Arsen nyengir nyengir.
Ting.. Ting...
Asya meraih ponselnya.
yupiii
online
Sya
Asya!
^^^whyy??^^^
Lu dimana?
^^^di rumah daddy mauu ke supermarket, ada apaa??^^^
Upi belum membalas. Asya terheran-heran melihatnya. Sembari menunggu balasan, Asya masuk mobil disusul Arsen.
"Pake seat belt nya." Suruh Arsen.
But, Asya tidak mendengarnya. Arsen pun mendekat dan memasangkan seat belt Asya. Asya terkejut karena ulahnya.
"Serius banget kamu tuu. Liatin apaa?" Tanya Arsen sambil menatap matanya.
"Ada postingan anonim di lambe turah SMA. Isi postingannya aku yang lagi jalan sama sugar daddy."
"Hah??" Asya menunjukkan postingannya.
"Itu foto dari belakang, kan belum tentu kamuu!"
"Itu fotokuu, ada di feed instagram." Arsen meraih ponselnya sendiri dan mencari foto di feed Asya.
"Kamu sendiri disini. Itu jelas editan."
"Pastiii editann. Tapi siapa yang ediittt?? Ishh, sumpahh kesel aku tuuu!!"
Arsen mengelus rambutnya, "tenang, ya? Sabar. Nanti aku sama Azril yang bakal ngelacak. Kita ke supermarket, kamu mau susu atau coklat nanti ambil aja. Aku yang bayar, okee??"
Asya mengangguk.
Arsen pun mulai menghidupkan mobilnya, ia mengeluarkan mobil dengan hati-hati.
"Hati hati, nona dan tuan muda." Kata satpam di rumah Aska.
"Oke, Pak. Makasihh. Semangat kerjanyaa." Jawab Arsen dengan senyuman yang merekah.
Tanpa menunggu jawaban satpam itu, Arsen membelokkan mobil dan langsung tancap gas menuju supermarket.
"Masih badmood?"
"Hm. Bangettt."
"Kamu tau dari siapa?" Tanya Arsen.
"Upi tadi ngechatt."
"Yaudahh, tenang. Kan nyatanya kamu gak seperti yang mereka bilang." Satu tangan Arsen menggenggam erat tangan Asya.
"Ish tapi... aahhh!" Arsen mengelus tangan Asya untuk menenangkannya.
"Aku belum cari dudaaa belum cari sugar daddy, masa udah di gibahin."
Arsen menatap kesal Asya sekarang, ia langsung menarik tangan dari genggamannya.
"Yaahh yaaahhh, ngambeeek. Becanda doaang kokk, hehee." Asya menarik tangan Arsen yang ada di kemudi.
Ia kembali menggenggamnya, "tangan kamu berurat bangett!!"
Arsen menoleh sekilas.
"Kerennn. Jadi machoo gitu keliatannyaa."
Arsen tidak merespon.
"Enak banget di genggammm."
Arsen tetap tidak merespon.
"Ishhh, tadikan aku yang badmood kenapa sekarang kamunya yangg badmood?!!"
"Salah kamu sendirii mau nyari duda."
"Nggak kokk. Nyari yang bujangan ajaa kea kamuu. Lebih enak yang bujang."
Arsen menatap heran Asya.
"Ambigu sekali. Enak apanya??"
"Entah nggak tau." Asya cengengesan.
"Dah ya jangan ngambek kamunya. Nanti kita beli susuu!"
"Kan kamu yang minum."
"Bagi duaa."
"Betul mauu bagi duaa?"
"Nggaaaaa." Arsen tertawa melihat ekspresinya.
"Mau cari dudaa? Atau sugar daddy? Client ku banyak."
"Nggakk, mau kamu aja."
Arsen salting!!
"Wahhh, singa betina jadi buaya betina."
"Iyakah? Ketularan kamu ini mah!" Arsen tertawa lagi.
"Heeeem, kira kira siapa yang post?? Melii? Tara? Atau Adinda??"
"Yang jelas orang tersebut iri sama kamu karena kamu berduit."
Asya mengangguk setuju, "true."
Semenit kemudian, mereka tiba di supermarket besar yang super lengkap.
"Kata Shaka tadi, uang patungan di transfer ke kamuu." Arsen melihat ponselnya lagi.
"Belum adaa, paling nanti. Kamu beli aja apa yang dibutuhinn." Asya mengangguk, Arsen mengikutinya di belakang sambil mendorong troli.
"Eehh eehh, sinii." Asya mundur.
"Kyutt tauu mug nyaa. Belii mau gakk?"
"Mau mauuuuu. Kamu pink aku biru?" Tanya Asya.
"Tebalekk, sayangkuu. Kamu pink aku biru."
Asya cengengesan, "oke deehh."
"Benerr nii?? Bakal di pake nggakk?"
"Di pakeee, seriusan bakal di pakeee." Arsen tersenyum senang mendengarnya. Mereka berdua meletakkan mug nya perlahan-lahan di troli.
"Gimana kalau pisah aja?? Biar cepett."
"Pertama, aku mager. Kedua, aku gak tau beli apa. Ketiga, aku gak mau jauh dari kamu."
"Hiiih gantian di modusin lagiii."
Arsen nyengir, "padahal gak modus."
Asya sedang memilih daging sekarang. Tiba-tiba ada satu tangan berada diatas tangannya. Itu jelas bukan Arsen karena Arsen ada di samping kirinya.
"S-sorry."
"Gapapa, Pak." Asya langsung mendekat ke Arsen dan memasukkan tangan ke kantong hoodie Arsen.
Arsen yang tadinya ikut memilih daging melihat ke Asya heran. Arsen langsung menoleh kearah mana mata Asya. Ternyata menuju seorang pria yang berada di depannya.
Arsen menarik Asya ke belakang.
"Bapak siapa??"
"Bukan siapa-siapa. Itu tadi saya gak sengaja megang tangan adeknya. Maaf, yaa?"
"Gapapa, Pak. Bapak ambil aja daging yang bapak mau." Ia memilih yang dipilih Asya.
"Adek ini.. pemilik rumah abu abu kan?" Asya terheran-heran.
"Kita sekomplek." Asya Arsen berohria.
Arsen berbalik untuk memeluk Asya, tujuannya hendak berbisik. "Bapak ini mencurigakan, nanti balik lagi aja ke daging, ya? Kita cari yang lain aja dulu." Asya berdehem pelan.
"Yaudah, kami duluan, Pak." Arsen menggenggam tangan Asya lalu pergi.
Pria tadi terus menatap mereka sampai mereka hilang dari pandangannya.
__ADS_1
Ia tersenyum smirk. "Finally, i found it."