Barbar Generation

Barbar Generation
Mulutmu harimaumu


__ADS_3

"Kalian siapa sih bawa paksaa sayaa? Kalau emang mau jemput, setidaknya saya ganti baju duluu. Bajunya bau keringet iniii" keluh Asya yang mulai pasrah.


"Kami sudah membelikan baju ganti untuk anda"


"Jadi takut gue" gumam Asya pelan. "Ketemu siapaaa siiii?!"


"Bos kami, namanya Darren Kim. Versi Indonesia bos bernama Darren Arreyyan. Beliau asal Korea tapi di umur tujuh belas tahun beliau pindah ke Indonesia beserta keluarganya. Beliau pengusaha muda, dalam setaun penghasilannya bisa lebih dari satu triliun. Beliau beragama Islam dan umurnya sekarang dua puluh lima tahun."


"Anjirrr om omm huhuu" keluh Asya pelan. "Terus, maksud dan tujuan bos kalian jemput saya itu apaa?"


"Anda bisa tau nanti"


"Aelah, tinggal kasih tau susah amatt" cibir Asya kesal. "Btw, kalian pasti tau siapa saya bukan?"


"Iya, kami tau. Anda anak manusia"


"Anjjj- ahh astaghfirullah"


Asya menoleh kesekelilingnya, mereka semua memasang wajah datar. Benar benar datar.


"Terlatih tanpa ekspresi" cibir Asya.


"Om om tua, geser. Lima meter"


Dua orang yang di samping Asya keheranan, "ada apa?"


"Bukan muhrim, geser cepat" Ntah terlalu penurut atau terlalu bodoh, mereka bergeser sesuai permintaan Asya.


"Jangan kabur, nona"


"I don't care, I know itu cuma usaha yang sia-sia"


'Tapi boong yaaaa!! Palpalepalpale. Tunggu time yang tepat gue kaburr' batin Asya.


Ting.. Ting... Ting...


Asya merogoh tasnya, ia mengambil ponsel.


...hensembroder...


...online...


sya


sya


lu aman? lecet???


^^^aman bro, lu ngikutin kaga??^^^


iya, gue dibelakang. gak pala jauh si, lu jangan noleh kebelakang.


^^^fine.^^^


^^^bodyguard daddy?^^^


harusnya mereka ikut ngejer kan? tapi knpa gak ada mobil lain yg ngejer selain mobil arsen ini


^^^i don't know.^^^


lu tunggu ya, gue sama yang lain ntar bakal keluarin lu.


^^^oke aman, lu jaga jarak dan liat terus kearah gue.^^^


^^^gue bisa keluar sendiri disini.^^^


jangan sampe lecet!


Asya memasukkan ponselnya kembali ke tasnya. Ia menoleh samping kanan dan kiri, mereka serentak memegang telinga.


Pria yang di depan langsung berbalik, "nona. Tolong jangan kabur, kami gak bakal nyakitin nona"


Asya terkejut, 'merekaa...? ah sial.'


"Iya iyaaa, saya sumpek disini. Bisa pindah ke belakang?!"


"Nona, tidak ada yang akan terjadi jika anda tidak menolak"


"Menolak apa sih om. Saya kan ikut ini, saya pengap!"


Pria itu menghela nafas, "jangan lakukan hal hal aneh" Asya membalas dengan mengangkat jempolnya. Sebisa mungkin ia pindah ke bangku belakang.


'Gue langsung lompat ke belakang bisa auto mati, ck, gue belum sukses lagi ha. Yaudahla gausah kabur' batin Asya.


Dua pria yang di tengah terus menatap Asya. "Tatapan anda biasa aja dong! Saya risih!!"


"Jangan di tatap" Mereka langsung melihat ke depan.


"Kenapa lama banget sii? Siomay saya tadii gak jadi dimakan kan sayanggg"


"Patut bos ingin bertemu dengan anda, anda seperti ini" ujar salah satu pria yang tadi di sebelah Asya.


"Maksudnya apa??"


"Nggak, bukan apa apa. Kita sudah sampai"


Asya melihat keluar, "rumah sakit??"


"Wait.. jangan-jangann"


"Ayo keluar, nona" Asya keluar perlahan-lahan. Ia mengambil kembali ponselnya ketika mendengar notifikasi.


...racksasahaha...


...online...


sya, ini rumah sehat tempat kita kemaren nganterin korban kecelakaan


^^^iya gue tauuu.^^^


^^^tapi sa, namanya RUMAH SAKIT^^^


^^^bukan RUMAH SEHATT^^^


^^^gue gaplok juga lu ya ntarr^^^


yahahahaah


jadi gimana? kami ikut masukk??


^^^iyalah, yakali ngga^^^


oke, otw


"Nona, ayoo" Asya menutup mukanya dengan masker yang selalu stay di tasnya. Asya pakai masker karena ia malu jadi bahan perhatian orang-orang.

__ADS_1


Arsen, Azril dan Racksa mengikuti dari belakang.


Tok tok..


"Bos--"


"Masuk"


Asya memejamkan matanya, takut dengan apa yang terjadi selanjutnya.


"Nona, ayo masuk" Seperti orang mengendap-endap, Asya pun masuk ke ruangan Darren.


"Hai, kita jumpa lagi"


Asya terpaku, 'bener ternyata. Yang gue tolongin waktu ituu'


"Mon maap aja ni pak. Saya gak terlalu bisa lama-lama dirumah sakit, saya gak kuat cium aromanya. Jadi, kalau bisa di percepat"


Darren tersenyum, "saya ngerti kamu takut. Saya gak jahat kok"


"Kagak jahat darimanaa, adek gua di bawa paksa" Azril masuk bersama Racksa dan Arsen.


"Heh!! Lu kenapa buat gue kagett sii, kabarin kek kalau mau ngagetin, udah tau gue merindi--"


Racksa langsung menarik Asya dan menutup mulutnya, "bacot mulu." Asya memberontak, Racksa langsung melepas bekapannya.


Darren tertawa melihat mereka, ia perlahan duduk. "Michael, kenapa bawa paksa dia?"


"Bos sendiri yang bilang harus dibawa kesini, jadi mau gak mau kami paksa"


"Kami minta maaf, nona" Ujar Michael sambil membungkuk.


"Nee gwenchana" jawab Asya ikut membungkuk. Darren langsung menatap Asya kagum.


"Bisa bahasa Korea?"


"Sedikit"


"To the point aja pak, maksud dan tujuannya apa?!" tanya Arsen gak sabaran. Arsen bisa mengerti arti tatapan Darren pada Asya.


"Em.. saya bisa bicara berdua dengan Asya?"


"Noo!" tolak Azril langsung.


"Saya gak bakal macem-macem" Azril dan Racksa saling pandang.


Mereka pun keluar dan ikut menggeret Arsen, "budak budak laknat." cibir Asya kesal.


"Michael, kamu juga keluar" Michael --bodyguard Darren-- dan beberapa anggotanya juga keluar.


"Asya, kamu inget saya kan?"


"Kagak"


"Saya tau kamu bohong"


"Kalau tau kenapa nanya om?!"


"Om?"


"Kan udah tua ya om om la yakali saya panggil nama doang atau manggil mas yang ada saya gelii" cerocos Asya tanpa titik koma.


"Kamu menarik banget ya"


"Emang ya, cowok gak ada yang beda kecuali papi gua tercinta" gumam Asya sangat pelan.


"Asya, saya lapar. Bisa suapin saya?"


"H-hah???"


"Tangan saya masih sakit"


"Tapiii"


"Hanya menyuapi"


"Om, perempuan dan lelaki yang bukan mahram gak boleh beduaan. Jadi saya keluar aja ya, biar saya suruh Azril atau Racksa yang nyuapin"


"Saya normal Asya, saya maunya kamu bukan mereka"


"Kenapa sayaa?!"


"Karena kamu yang nabrak sekaligus orang yang nolongin saya"


"Nabrak??"


"Di supermarket"


"Khilaaf om, pake diungkit segala" pembelaan Asya.


"Ngomong-ngomong, waktu itu kamu natap saya lama banget. Kenapa?"


"Gak usah kegeeran deh om, saya ngelamun ituu bukan mandangin om!" Asya mulai mendekat dan membantu Darren.


Siap menyuapi Darren ia bisa pulang, begitu pikir Asya.


"Kamu ngelamun? Ngelamunin apa?"


"Harus saya kasih tau??"


"Iya"


"Saya ngelamunin kenapa saya ngelamun" Darren langsung menatap nya kesal. Asya terkekeh melihatnya, 'om om kenapa bisa se gemoy ini sii?!'


"Kamu cantik kalau ketawa"


"Biasanya, kalau saya dipuji saya gak bakal lakuin itu lagi"


"Jadi saya salah bicara?"


"Yes"


"Yahh, saya butuh senyum dan tawa kamu buat sembuh"


"Modus biaawaak!!"


"Anda kenapa sih minta saya suapin?! Anda punya istri kan?!"


"Saya lebih suka kamu panggil om, dari pada Anda"


"Tadi kaagak mauu"


"Sekarang mau" Asya menatap nya datar sekilas.


"Tau darimana saya udah punya istri?"

__ADS_1


"Waktu om jatuh tu, kata Racksa dia ketemu sama cewek sambil gendong anak pergi ke ruangan om" Darren tertawa kecil.


"Itu bukan istri saya"


"Jadii??"


"Saya kenalin nanti kalau saya pulang"


"Hari ini??"


"Mungkin"


"Ciri-ciri manusia nambah penyakit" cibir Asya.


"Btw, itu yang di depan temen kamu semua? Yang suruh to the point, pacar kamu??"


"Itu temen sayaa, terus yang dua lagi saudara kembar saya. Kalau pacar, pacar saya kebetulan ada di Korea, pak"


"Jangan bilang idol Korea?"


"Bukan lah pak, pacar saya namanya Hwang In-yeop"


"Sama aja"


"Aktor pak bukan idol, bapak gak usah lawan saya deh. Gak bakal menang."


"Iya iya, cewek juga susah di lawan. Saya nurut aja sama calon istri"


"Wahh, sepertinya otak bapak ke geser ya pas jatoh?"


"Nggak, otak saya diem di tempat nih."


"Gak maju-maju berarti"


"Kalau nggak maju, saya nggak kaya"


"Jadi maksudnya mau pamer??"


"Kenapa kamu jadi sensi sama saya?"


"Ya mana saya tau, tanya sama rumput yang bergoyang aja, pak!"


▫▪▪▪▪▪▫


17.04


"Makin banyak cobaan hidupppp" keluh Asya, ia merebahkan tubuhnya di kasur tercinta.


"Dari sekian ribu cewek, kenapa lu sih sya?? Om om lah polisi lah temen sekelas lah, kenapa ngefans sama lu?" tanya Azril kesal.


"Ya kalau ngefans sama lu, ntar jadinya gay" jawab Racksa.


"Nggak gitu jugaaa, maksud gue, kan ada cewek lain. Kenapa mesti Asyaa?!"


"Lu liat aja deh ratu kita gimana cantiknya, yaa jelas banyak cowok yang sukaa" Asya nyengir.


"Gue juga pening, Zril. Kalau om om tadi tu gue yakin gak naksir sama gue, cuma minta gue jadi babunya sehari doang"


"Kalau besok lu dijemput lagi?"


"Gampang, tinggal cabuttt"


"Yakin bisa?"


"Apa gue kudu fake nerd dulu??"


"Gak usah betingkah" Asya cengengesan.


"Terus yang katanya istri dia cemana??"


"Kagak tauu, katanya sih bukan istri dia. Mau kasih tau ke gue katanya tadi, tapikan gak jadi karena kita kabur pas dia tidur."


"Keknya doa lu terkabul dehh"


"Doa apa??"


"Doa minta ketemu papa gula"


"Apa papa gulaa???" Haikal masuk rumah abu-abu bersama dengan Dino.


"Lu beduaaaa kaga ngotakk dih, langsung masukk kagak salam"


"Udah salam, lu pada kagak dengerrr" ujar Dino membela diri.


"Lu gapapa? Gue denger dari anak-anak lu di bawa paksa sama orang item itemm" tanya Haikal.


"Orangnya gak item, tapi bajunya yang item"


"Itu luh pokoknya, terus gimana? Lu diapain?"


"Gue sak---"


"Sakit apaaa?! Lu diapain?!" tanya Haikal cemas.


"Lebay banget sianjirrr" ledek Racksa.


"Kaget guaa, sakit apaa lu??"


"Sakit atii, ketemu buaye muluuu"


"Buaya??" tanya Dino.


"Kemaren tu kami bantu cowok jatoh, gak taunya om om umur dua puluh lima taun. Dan tadi, Asya di bawa sama bodyguard nya cowok itu."


"Om om, dua puluh lima taun? Duda? Single?"


"Kagak tauu, gak jelas statusnya" jawab Racksa.


"Ati ati lu monyettt"


"Iyeee makhluk punah" balas Asya meledek Dino.


"Terus papa gula tadi apa??" tanya Dino.


"Denger sendiri kan lu, waktu itu Asya mau cari daddy sugar katanya. Nahhhhh, si cowo tadi jawaban dari Allah"


"Wahhh, doanya di ijabah"


"Nyesel gue, jadi takyutt"


"Hayolah, di unboxing gimana lu?!"


"Diam anjjj!!!" Mereka terkekeh melihat muka kesal Asya.


"Ampun gue, ternyata bener kata pepatah. Mulutmu harimaumu. Pesan buat kalian nih, jangan asal ngomong, karena omongan adalah doa."

__ADS_1


__ADS_2