
14.32
"Dikit lagi dikit lagi"
"Yak yak yakk, yes!!!!"
Azril bersorak kegirangan di kamarnya. Dia baru saja memenangkan game online yang dimainkannya bersama Adinda.
"Lagi gak nih?" tanya Adinda dari voice message nya.
"Terserah lu, mau stop gue turutin, mau lanjut gue jabanin" jawab Azril sambil bersandar di kursinya.
Azril sendirian di rumah, Asya sedang pergi bersama dengan Racksa ke rumah tante Yuka.
"Lanjut dehhh" ajak Asya.
"Skuyy" Azril kembali ke posisi sebelumnya.
"Din"
"Hm?"
"Din"
"Hm?“
"Dinda"
"Iya Azril, lu kenapa manggil mulu?"
"Ngga apa-apa. Gue cuma pengen denger suara lo"
Azril ramal, Adinda sedang senyum-senyum di apartemennya.
"Din"
"Iyaa"
"Adindaa"
"Manggil lagi besok gue tabok!" Azril tertawa.
"Lo sendirian di apart?"
"Iya"
"Bosen gak?"
"Sepuluh persen bosen. Sisanya nggak, karena lo"
"Gue?"
Adinda berdehem. "Karena lo, gue gak gabut lagi. Karena lo, gue gak suntuk lagi. Dan karena lo, gue ada temen ngobrol"
"Ooo.. jadi, kalau gak ada gue. Lo kesepian?"
"Delapan puluh lima persen bener" Azril tertawa.
Azril fokus ke game-nya, dalam game. Dia mendekat ke Adinda. Mereka berpegangan sambil jalan mencari musuh.
Ketika ada tembakan, Azril langsung maju ke depan Adinda. Azril menyerang lawan, dibantu Adinda dari belakang. Musuh mati.
Dua puluh lima player lain masih menanti untuk ditembaki peluru oleh Adinda dan Azril.
"Zril"
"Hm?"
"You're the most romantic player I have ever known"
Azril tersenyum senang. "I know that" Adinda tertawa disusul tawanya Azril.
"Din"
"Iya?"
"Nanti malem.."
"Kenapa? Lo gak bisa mabar?"
"Bukan ituu"
"Nanti malem... lo ada jadwal?" tanya Azril.
"Maksudnya, ada janji sama Alex atau siapa gitu?"
"Nggak ada, kenapa?"
"Mau ngajakin lo keluar. Boleh gak ya?"
"Mau izin ke Alex emang?"
"Em.."
"Jangan cari mati"
Dalam game Azril berhenti lalu menghadap Adinda, "Maksudnya?"
"Seriusan gak tau?" Adinda juga memutar heronya menghadap Azril.
"Nggak, maksudnya gimana?"
"Tadi lo bilang boleh gak ya kan? Otak gue mikir lu bakal izin ke Alex"
"Kalau gue izin ke Alex?"
"Jangan betingkah!"
"Takut gue kenapa kenapa ya?"
"E-enggak" Hero Adinda pergi meninggalkan Azril.
"Eh tunggu" Azril mengejar Adinda.
"Jadi? Mau gak gue ajakin keluar?"
__ADS_1
"Em... mau kemana?"
"Kemana pun.. sesuka hati. Kalau gak mau, gue gak maksa kok"
"Tapi"
"Tapi apa?" tanya Adinda.
"Gak jadi, balik kebelakang"
"Hah kenapa?"
"Lima meter di depan, ada musuh. Mundur cepatt, gue gak mau lu mati"
"Cie yang gak mau gue mati" Azril cengengesan.
Dor..
"Headshot!!"
"Master exoticdevil benar-benar menakjubkan"
"Hahahaha"
Mereka kembali berjalan mencari player lain yang notabene nya musuh. Masih ada dua puluh player lagi.
"Jadi gimana?" tanya Azril.
"Jam berapa?" Adinda tanya balik.
"Jam makan malam"
"Mo kemanaa?"
"Kemanapun lu mau"
"Lu jemput atau---"
"Gue jemput"
"Okee"
"Oke apa niii?"
"Yaa.. oke"
"Lu mauu?" Adinda berdehem.
"Serius?" Adinda berdehem lagi.
Azril kesenangan dalam hatinya. Sedangkan di seberang, Adinda memegangi mukanya yang memerah.
"Lewat sini"
▪▪▪
"Zril"
"Bangs-- lu kapan pulang maemunahh?!!"
"Keluar bentar"
"Kemana?!"
"Makan"
"Lu belum makan?" Azril menggeleng.
"Serius mo makannn?!!" Azril mengangguk.
"Ngomong kek ah, kek orang bisu"
"Racksa mana?"
"Au, tidur dikamarnya paling"
Azril pergi menuju dapur mengambil satu susu kotak rasa vanilla.
"Gue pergi dulu"
"Jangan lama-lamaaa"
"Iyaa!"
Azril pun pergi dari rumah abu-abu menggunakan mobil sport nya.
Ia menjemput Adinda sedikit jauh dari apartemennya Adinda. "Assalamu'alaikum Azril"
Adinda melambaikan tangannya tepat di muka Azril yang sedari tadi belum berkedip karena terpukau akan kecantikan Adinda.
"Zril??!"
"Eh? Iyya, waalaikumsalam"
Azril mengubah pandangan ke arah setir bulatnya. "Udah nih? Berangkat?"
Adinda mengangguk.
"Lo kenapa dah?"
"Gugup samping-sampingan sama cewek cantik"
"Dih gombal" Azril cengengesan.
"Serius ga boong"
"Yain, biar cepet"
Azril tersenyum. "Mau makan dimana?"
"Dimana aja"
"Makan di tempat favorit gue ya"
"Manut deh" Azril pun melakukan mobilnya menuju restoran kesukaannya.
__ADS_1
▪▪▪
Selesai makan di restoran, Azril mengajak Adinda pergi keliling-keliling.
"Zrill, kesitu yok" Adinda menunjuk taman yang lumayan ramai.
"Yakin?" Adinda mengangguk. Azril memutar balik mobilnya lalu parkir di tempat parkir yang tersedia.
Setelah itu mereka berdua keluar.
"Aaah.. udah lama gue gak hirup udara malam hari" Adinda bersandar di dekat air mancur.
"Kalau mau hirup udara segar mah gak disini. Lu liat tuh ada yang merokok, ada asap lagi"
"Ya gak apa-apa lah, daripada di tempat sepi beduaan jadi nya dosa"
Azril mengangguk setuju. "Kalau boleh tau, lu kok bisa ketemu Alex gimana ceritanya?"
"Gue sebenernya tinggal di perkampungan. Bokap petani, nyokap ibu rumah tangga biasa. Gue sih lupa detailnya tapi waktu itu bokap ajak Alex ke rumah ntah karena apa"
"Gue ketemu sama Alex dan beberapa hari itu Alex sering ke kampung buat ngajakin gue main. Istilahnya pdkt lah"
"Nah terus"
"Alex minta izin nyokap bokap buat ngajak gue ke kota, ntah kenapa bokap nyokap izinin. Yaudah deh sampe sekarang dia yang bayarin semua kebutuhan gue"
"Terus bokap nyokap lu?"
"Mereka... udah meninggal setaun yang lalu"
"S-sorry"
"No problem" jawab Adinda santai.
Adinda melihat ke arah Azril yang mukanya gak ngenakin.
"Santai ajaaa kalii"
"Gue.. ngerasa gak enak aja gitu"
Adinda malah tertawa.
"Ohiya, bukannya lu dijagain ketat sama Alex? Kok bisa keluar?"
"Gue pake tali loncat dari jendela"
"Aturan kalau gabisa lu bilang gabisa, gue jadi makin ga enak"
"Gak usah sok gak enakan deh. Mending lu bayangin aja waktu gue terjun pake tali"
Azril cengengesan lalu membayangkannya. "Gak kebayang sih, ternyata lu sebelas dua belas sama Asya"
"Tapi keknya, ganasan lu"
"Enak ajaa" Adinda menyiramkan air di pancuran ke Azril.
"Hsss"
Adinda tertawa lalu lari.
"Ayo balas dendam sini, hahaha" sambil tertawa, Azril mengejar Adinda.
◆◆◆
"Dari mana?"
Suara Alex terdengar begitu datar. Seketika Adinda merasa hidupnya dalam bahaya.
"Keluar sebentar"
"Kamu keluar jam setengah delapan, balik jam sembilan. Itu sebentar?"
Adinda terdiam.
"Kenapa gak izin bodyguard. Kamu keluar sama siapa?!"
Adinda masih diam.
Alex bangkit dari sofa lalu menarik tangan Adinda, Alex mendorong pelan Adinda ke dinding. Ia juga meletakkan kedua tangannya di dinding mencegah Adinda keluar.
"Jawab gue"
"S-sama temen"
"Jawab jujur atau lo gak perawan lagi malam ini"
"Gue itung sampe tiga, lu gak jawab gue tarik paksa ke kamar"
"Satu"
"Dua"
"Ti--"
"Sama Azril"
Alex menjauh dari Adinda. "Udah gue duga"
"Mana hape lo? Siniin" Dengan sangat terpaksa, Adinda memberikan ponselnya.
Alex menghapus game-nya. "Gue biarin lu nge-game selama ini biar lu gak bosen tapi ternyata lu selingkuh di game itu. Bagusss... baguss banget Adinda!"
Brakk
Alex membanting ponsel Adinda.
"Sejak kapan kamu deket sama Azril, hah?!"
"K-kamu jangan marah ya plis. Aku sama Azril cuma temenan kok"
"Temenan? Keluar berduaan? Kejer-kejeran?" Adinda diam.
Alex kembali duduk di sofa.
"Jauhin Azril sebelum gue bunuh dia"
__ADS_1