
Tunangan akan dilaksanakan bulan depan, karena Aska harus keluar negeri dulu untuk mengurus pekerjaannya.
Saat ini, Aska beserta anak istri dan keponakannya sedang sarapan pagi di meja makan.
"Azril, Racksa, tolong jagain Asya. Jangan sampe dia keluar lagi sama cowok asing." Ujar Aska setelah selesai makan.
"Oke, daddy. Santai aja, kalau ketauan kami smekdon Asya."
Aska dan Zia tertawa, "nggak gitu juga."
"Oiya lupa, jadinya mau kuliah dimana? Biar daddy kalian yang daftarin." Tanya Zia.
"Mom.. Azril males kuliah."
"Loh kenapa?" Tanya Aska gantian.
"Nggak tauu, mager aja." Azril cengengesan.
"Kalau gitu jadi gembel aja sana, mulung terus ngemis."
Asya dan Racksa tertawa mendengarnya.
"Daddy gak nentuin jadi apa kalian ke depannya, tapi ya kalau bisa tu sampe jenjang yang lebih tinggi dari daddy mommy. Bukan malah makin turun."
"Bener kata daddy kalian, mommy daddy tamat S1. Setidaknya kalian juga S1 lebih bagus bisa S2."
"Besok Asya es teler, es dawet, es krim, terus es apalagi yaa? Pokoknya es es." Mereka tertawa mendengarnya.
"Azril kuliah kok, tadi cuma ngeprank aja."
"Cocotee." Cibir Racksa.
Azril nyengir kuda.
"Uncle aunty masih lama kan perginya?"
"Ntar siang."
Ketiga manusia itu berohria.
Karena sudah selesai makan mereka pun pindah ke ruang keluarga. Lain halnya dengan Asya yang menuju kamarnya mengambil ponsel.
Tepat ketika ia memegang ponsel, Arsen menelepon.
π "Assalamu'alaikum, sayang. Kamu lagi dimana?"
^^^"Wa'alaikumussalam, dirumah."^^^
π "Mau main sama the bacot?"
^^^"Nggak tau jugaa. Emang kenapa? Kamu dimana?"^^^
π "Aku di kantorr, ngelanjutin projectt."
^^^Asya berohria.^^^
^^^"Jangan kecapekan."^^^
π "Iyaa, kamu juga. Ntar pas mau main, kalau sempat, bilang ke aku yaa. Bukan izin tapi bilang ajaa, biar aku tau kamu kemanaa."
^^^"Okesipp paboss!"^^^
π "Gemessh bangett!"
^^^"Haha, modus. Udah sana,^^^
^^^katanya lagi ngelanjutin projectt."^^^
π "Kamu gak ada niat buat nemenin?"
^^^"Nggak, maless."^^^
π "Astaghfirullahalazim, sayangg."
^^^Asya tertawa.^^^
^^^"Nantii gak bakal fokuss."^^^
π "Ya bener sii. Yaudah, have a nice day babyy!"
^^^"Hmm."^^^
π "I love uu."
^^^"Love u too."^^^
π "Aiiii, dibales dongg. Ngefly aku!!"
^^^"Lebay, lebayy!"^^^
Arsen terkekeh.
π "Yaudah, yaa. Assalamu'alaikum."
^^^"Wa'alaikumussalam."^^^
Arsen mematikan panggilannya.
Asya pun turun dan kembali bergabung dengan yang lain.
"Abis ngapain?" Tanya Aska.
"Aghh daddy engaapppp. Masa Asya diketekin siii?!" Keluh Asya kesal, Aska malah tertawa.
"Asya abis ngapain, hm? Jawab dulu baru daddy lepas."
"Ambil HP doangg. Daddy, nanti Asya mati gimana? Lepass ishh."
Aska melepasnya sambil cengengesan. Zia geleng-geleng kepala melihat tingkah bapak dan anak itu.
"Gak nyangka ya, bentar lagi bakal sama cowok lain yang bakal jadi suami kamu." Ujar Aska sambil mengelus rambut Asya.
"Paan?! Masi lamaaa." Jawab Asya ngegas.
"Lahh lahh, gayanya. Semoga gak nyesel Arsen milih kamu."
Asya menatap sinis bapaknya itu, "ini teh maksud daddy apaan?!"
"Gadaak kok gadakk." Aska cengengesan.
"Hilih tebongakk."
Asya mengabaikan Aska yang mengelus rambutnya. Ia membuka ponsel dan mengscroll video-video di aplikasi tiktok.
"Daddy daddyyy."
"Eumm?" Tanya Aska.
"Liat nii, lucu kan?" Asya menujukkan satu video panda sedang guling-guling.
"Mirip kamu pas belajar jalan."
Zia, Azril, dan Racksa yang mengintip tertawa mendengarnya.
"Azril gitu juga gak, daddy?"
"Ya sama kalian bedua." Racksa tertawa meledek.
"Racksa dulu, orang belajar jalan dia belajar kayang."
"Yang penting freestyle bosss."
"Uncle Aksa bilekk, anak siapa ini? Bukan anak gue." Mereka gantian tertawa.
"Sebenarnya, maksud dan tujuan kamu nunjukkin ini apaa, Sya? Pasti ada udang dibalik batu." Kata Zia yang paham dengan tingkah anaknya.
"Hehe, tau ajaa. Beliin panda dong, momm."
Pufttt!
Aska yang sedang minum langsung menyemburkannya.
Namun tidak mengenai Asya, tapi mengenai Racksa.
Azril tertawa ngakak melihat ekspresi Racksa setelah disembur. "Puas banget lu anying!" Azril makin tertawa, Asya dan kedua orang tuanya ikut tertawa.
"Maaf ya, Saaa. Uncle beneran gak sengajaa."
"Gapapa kok om. Demi alek kagak ngapa-ngapa." Aska tersenyum menahan tawanya.
Racksa mengelap semburan Aska menggunakan tissue. "Wahhh, setelah disembur. Wajah Racksa jadi glowappp. Sepertinya ini manjur untuk mengglowing." Ujar Asya.
"Glowap matamu cokkk cokk!" Asya cengegesan.
"Btw, kamu ngomong apa tadi, Sya?"
"Minta beliin panda."
"Kok ngaco gitu lhoo? Panda dilarang untuk diperjual belikan. Panda jadi perhatian dunia karena jumlahnya terus berkurang dan terancam punah. Jadi ya gak bisa lahh." Jelas Aska.
"Singa aja kalau mau, cocok sama lu." Ledek Azril.
"Lambemu!" Azril nyengir kuda.
"Kamu udah punya kucing, kelinci lagi masih mau pelihara panda?" Tanya Zia, Asya mengangguk.
"Mau bikin rumah jadi kebun binatang?"
Asya menggelengkan kepala sembari tertawa.
"Yang lain gapapa, nanti daddy beliin asal mau rawat."
"Okeee! Nanti Asya cari dulu." Aska mengangguk lalu kembali mengelus rambut Asya.
"Daddy, kalau Azril minta pelihara hewan boleh juga gak?"
"Of course, Azril mo apa?"
"Buaya."
"Siaa mahh gobloug pisannn! Lu kan buaya juga bodooo!"
βββ
10.01, the bacot sedang berkumpul di kafe. Kafe ini baru saja buka dan pemiliknya adalah Zia.
Kafe yang ia buat kali ini layaknya bar tapi bukan bar. Zia sengaja mendesainnya seperti bar agar anak muda bisa merasakan pergi ke bar.
Tapi ini bar versi halal.
"Woii, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Datang juga lu, Sen?" Arsen menanggapinya dengan senyuman.
Ia duduk disamping Asya. Melihat Arsen datang, Asya langsung bersandar dipundak Arsen.
"Ha kan kan, mengkekk lah mengkek." Cibir Racksa.
"Berisik lu monyettt."
"Racksa tu irii, maklum aja, dia belum punya uke."
"Uke uke ajaa, emang gak ada akhlak kelen. Dah gue bilang, gue warass!" Mereka terkekeh mendengarnya.
"Btw, Sen. Lu udah sembuh beneran?"
Asya duduk kembali lalu menatap Arsen.
"Masih sakit, kan?"
Arsen menggeleng, ia menarik kepala Asya untuk bersandar lagi. Tapi Asya menolaknya.
"Jawab duluuu."
"Nggak, sayaangg. Aku udah sehatt."
"Kemaren sakit apanya? Luka banyakk?"
"Nggak juga. Sakit disini."
Arsen menunjukkan area dadanya.
"Parah?"
"Kamu mau liat?" Asya mengangguk.
"Sini dekett."
Asya mendekati Arsen.
Semakin dekat dan...
__ADS_1
Cup~
Bukannya menunjukkan luka, Arsen malah memancing Asya untuk mendekat lalu mengecup keningnya.
Memang kang moduzzz.
"Kamprett!" Arsen tertawa.
"Ini baru mo tunangan aja udah keliatan banget meresahkannyaaa. Kalau udah nikah gimanaaa woi, pasti suka bikin jomblo ketar-ketir!"
"Wkwk, tujuannya begitu. Kalau dah nikah kan sangat halalll. Dan tidak masalah untuk pamer, whahaaha!"
"Tandai ya lu, awas aja begituu!"
Arsen cengengesan.
"Agak ngeri kang nyosor ni." Shaka berpindah menengahi Asya dan Arsen.
"Astaghfirullahalazim, Pak Shakaa." Dumel Arsen.
"Masih belum halal, jadi gak boleh!"
Arsen mengelus dada karena perkataan Shaka.
"Kak Syaa."
"Apee?" Tanya Asya sambil menatap Keiji.
"Kei punya temen di kelas, teruss temen Kei itu pengen ketemu kakakk."
"Sekarang?"
Keiji mengangguk. "Dia pengen sekarang, katanya ngepenss banget sama kakak."
"Suruh kesiniii." Titah Haikal.
"Nggak mau bangg, malu katanyaa."
"Terus mau ketemu dimana?" Tanya Alvin.
"Dia bilang di kafe ituuu."
Keiji menunjuk kafe yang ada di seberang kafe Zia. Serentak, mereka menoleh.
"Katanya, dia udah disitu."
"Yaudah ayokk." Ajak Asya.
"Terus kamii gimanaa?" Tanya Naina heran.
"Ya sini ajaaa. Dah dehh, gausah ngekorr. Mau ketemu pensss nichh."
"Najis banget, astaghfirullah!" Asya cengengesan.
"Ayok, Keiii." Sambil bergandengan, mereka menuju kafe seberang. Yang lain hanya memandangi mereka.
"Firasat gue gak bagus sialann." Ujar Azril tiba-tiba.
Mereka langsung menatap serius Azril, "maksud lu apa?"
"Nggak tauu. Gue gak tenang."
Azril mengambil topi di kepala Alvin lalu pergi menyusul Asya dan Keiji secara diam-diam. Arsen dan yang lain pun mengikutinya.
Di dalam kafe.
"Wahhh, Kak Asyaaa! Duduk kakk."
Asya tersenyum lalu duduk di depan temannya Kei.
"Kak Asya cantik bener, yaa!"
"Makasih. Lu juga cantik kok."
"Kakak mau minum apa?"
"Samain aja sama lu gapapaa."
"Sebentar ya, kak. Mau mesen."
Temennya Kei pergi. Asya pun berbincang-bincang dengan Kei tentang temannya.
Beberapa menit kemudian, temennya Keiji kembali.
"Maaf lama ya, kak."
"Gapapa kok." Jawab Asya sambil tersenyum.
"Kakk, Kei ke kamar mandi bentar, yaa." Asya mengangguk, kini Asya dan temannya Kei berduaan.
"Ehh, kak. Itu di bahu kakak ada apa?"
Asya merabanya.
"Biar aku aja yang ambil."
Temannya Kei mendekat dan 'ingin' membersihkannya. Tapi ternyata diluar dugaan.
Wanita itu... menggores leher Asya dengan pisau.
"Aaghβ"
Asya terus memegangi lehernya, ini menyakitkan!
Temannya Kei berusaha pergi, namun sayang, pergerakkannya sudah dikepung the bacot.
Ntah darimana asalnya, tiba-tiba saja muncul beberapa pria berpakaian serba hitam.
Salah satu pria menodongkan pisau kearah Arsen, Arsen menggunakan taktik untuk mengambil pisau itu. Setelahnya Arsen langsung menusukkan ke perut pria tadi.
Perkelahian pun terjadi.
Naina dan Ara yang tidak bisa berkelahi menghampiri Asya yang sudah tepar di lantai.
"Syaaa! Asyaaa!"
"Syaaa, tahann bentarrr. Asyaaa!!"
Naina dan Ara kelimpungan.
"I-ini kenapaaa?" Keiji datang.
"Lu pura-pura gak tau apa gimanaaa, anjjg?!" Ara langsung emosi.
"Maksβ"
"MINGGIR, GAK USAH BANYAK BACOT!"
Arsen mendorong mereka lalu menggendong Asya yang sudah tidak sadarkan diri.
Karena di pintu masuk, mereka masih berkelahi. Arsen memilih lewat kaca yang ada didepannya. Dengan sekuat tenaga, Arsen menendang kaca kemudian membawa Asya pergi.
Naina dan Ara mengikuti, kecuali Kei yang masih bingung dengan semuanya.
Kei menatap pria yang baru selesai berkelahi tadi. Azril yang tau Kei masih disitu menghampirinya dan menarik kerah baju Kei.
"Jujur, lu sekongkol kan sama tu orang?!"
"Se-sekongkol apa, bangg? Kei gak tau apa-apa."
"Bacot lu! Jangan pernah gabung sama kita lagi. Munafik!" Azril mendorong Kei lalu pergi menyusul mobil Arsen.
Yang lain juga mengikuti Azril, terkecuali Dino. Ia menatap Keiji yang sedang menangis di lantai.
Dino memang sayang Keiji, tapi ia rasa persahabatannya lebih penting daripada cinta.
"Gue kecewa sama lu, Kei."
βββ
14.34
Saat ini, Asya sudah tersadar. Goresan pisau yang tadi sudah diobati di rumah sakit.
Tapi karena Asya anti bau obat-obatan, ia memaksa daddy nya untuk pulang. And finally, mereka dirumah utama sekarang bersama yang lain.
"Daddy.. daddy bakal slek sama Om Rap?" Tanya Asya sambil menatap Aska.
Aska berfikir sejenak lalu membalas hanya dengan senyuman. Perban di leher Asya membuat Aska merasa geram dengan sang pelaku.
"Daddy gak jadi keluar negerii?"
"Gimana bisa daddy keluar negeri kalau kamu lagi sakit gini?" Asya auto diam.
Ting tong..
Mereka menoleh kearah pintu, bibi sudah membukakannya. Oh, ternyata Rafael datang bersama dengan Keiji.
"Assalamu'alaikum, Ka."
"Wa'alaikumussalam. Kenapa?" Aska to the point.
"Alhamdulillah semua disini, saya mau jelasin yang sebenernya."
"Kei sama temennya itu gak ada sekongkol sama sekali. Keii hanya dijadikan sebagai pemancing doang."
"Bukti?"
Aska benar-benar dingin.
Rafael mengangkat ponselnya lalu meletakkan di meja.
"Inii, rekaman suara yang saya ambil dari temennya Kei." Rafael memutar rekaman itu.
β "Gue sama sekali gak bersekongkol sama Kei. Dan hal yang tadi di kafe, gue disuruh sama orang."
"Siapa yang nyuruh??!" (Rafael)
"Kakell, namanya Adinda."
"Kenapa mau disuruh?!" (Rafael)
"Karena dia bakal kasih saya duit."
"Bodoh. Kalau Anda tidak menuruti perkataannya dan langsung cerita sama orang yang bersangkutan, lima kali lipat uang bisa Anda dapatkan." (Rafael)
"Impossible."
"Impossible? Helloo, Asya dari keluarga berada. Beli harga diri Anda juga bisa!" (Rafael)
Hening.
"Lagipula saya juga muak sama Asya, dia selalu sok cantik pasti hasil oplas, kan?"
"Penyakit hati rupanya. Dengerin baik-baik ya, limbah pabrik, Asya cantik udah dari lahir. Kalaupun dia oplas, bentukannya bukan seperti sekarang. Tapi, seperti barbie hidup."
"Ahh.. sudahlah. Iq dibawah rata-rata gak bakal paham apa yang saya bicarakan. Karena Anda sudah mengusik kehidupan Asya dan anak saya, maka bersiaplah menikmati siksaan." β
"Haha, limbah pabrik." Ledek Alvin dengan smirknya yang misterius.
"Cakk, perlu dibantai nii." Alvin menatap Shaka dengan senyuman misteriusnya.
"Tapi menurut gue lebih bagus ngebantai Adinda." Sahut Arsen.
"Emang bit*h satu itu perlu dimusnahkan dulu biar aman." Ujar Dino.
"Bagi tugas, gue, Arsen sama Haikal urus Adinda. Caka, Apin sama Dino urus tu limbah pabrik." Kata Azril.
"Oke, ayok!"
Aska yang berada di dekat Azril langsung menarik bajunya agar dia tidak pergi.
"Gak usah ngotorin tangan suci kalian, ini biar jadi urusan om." Mereka auto diam.
"Ehm. Ka, saya disini bukan hanya membela Keiji, tapi sekaligus meluruskan kesalahpahaman yang terjadi."
"K-Kei minta maaf. Kei juga salah karena bawa Kak Asya ke kafe itu."
Tidak ada yang menjawabnya.
"Rap, bodyguard yang jaga dimana?"
"Para bodyguard ada didepan."
"Suruh ketua a ataupun b masuk." Rafael memanggilnya.
Kedua ketua tim masuk.
Aska berdiri dari tempatnya dan menghampiri keduanya.
Plak!
__ADS_1
Plak!
Wajah mereka sampai berpaling karena tamparan kuat dari Aska. Mereka yang diruangan terdiam, sisi gelap Aska comeback!
"Siapa penanggung jawab anggota?"
"K-ketua tim, bos."
"Salah kalau saya tampar kalian?"
"Ng-nggak, boss."
Aska menghela nafas ketika sadar ia sedang ditonton anak-anak. "Tim siapa yang jaga tadi?"
"T-tim a, boss."
"Berapa orang jaga?"
"Dua, boss."
"Ketua tim, bawa anggota mu ke ruang bawah tanah. Hanya ada kalian disana dan jangan keluar tanpa perintah!"
"B-baik, boss." Ketua itu pergi dari hadapan Aska.
"Ketua tim b, cari Adinda! Cari sampe ketemu! Kerahkan anggota mu sebanyak mungkin, jangan sampe tu orang ilang!"
"Siap, boss."
"Pergi!" Ketua tim b juga pergi.
Aska kembali duduk. "Asya, Azril, kalian daddy kurung di rumah. Gak ada satupun diantara kalian boleh keluar sampe daddy rasa aman."
"Dan kalian, kalau mau main tinggal datang kerumah. Asalkan gak ngajak pergi keluar rumah."
"Oke, om."
"Asya, Azril, kalian berdua mau protes?"
"Kalau mau protes silahkan..."
"Maksudnya, silahkan keluar dari kartu keluarga."
Asya dan Azril auto panik dan menutup rapat mulutnya. Bukan hanya mereka, yang lain juga melakukan hal yang sama.
"Daddy bercanda. Kalian mau protes apa?"
"Daddy..."
"Kenapaa?"
"Asya pengen pelihara hewan lain."
"Singa? Macan? Kudanil? Beruang? Apa gajah? Gak bisa, berat."
"Ya nggak ituuuu!"
Aska tertawa kecil, "jadi apa?"
"Mau pelihara marmutt."
"Okee."
"Rapp, telepon tukang bangunan. Disudut kanan halaman buat rumah sepetak buat tempat hewan-hewan peliharaannya Asya." Rafael mengangguk paham.
"Apalagi?"
"Azril kalau gabut gimanaa?" Tanya Azril.
"Kamu gabut ngapain?"
"Main game atau ke kafe gituuu."
"Ayy, kafe barumu gak bisa dipindah?"
"Ya nggak, kok ngacok!"
"Hmm... oh gini ajaa, Rapp sebelah rumah peliharaan Asyaa buat dia rumah lain lagii. Satu buat ruangan game atau ngedrakor twins. Satunya lagi buat kafe kecil-kecilan, tapi yang kafe agak digedein ajaa."
"Ehh, nggak nggak, gak usah di halaman. Tanah sebelah kosong kann?"
"Iya, kosong."
"Nah, itu beli terus buat yang gue bilang tadi. Agak digedeiin dikit. Oiya, jangan di dempett. Ruangannya dari ujung ke ujung, tengahnya kasih kolam buat ikan hias."
"Yang ruang game sama ngedrakor di pisah ajaaa. Ntar yang ngegame beli sekalian keperluannya biar mereka bisa main bareng. Yang ruangan drakor ituu juga, jangan lupa penuhi makanan."
"Okeesip! Karena lu ngomongnya kecepetan, ntar gue tanya lagi." Aska geleng kepala mendengarnya.
"Udahhkann?" Twins mengangguk antusias.
"Keknya gampang banget gitu, yaa? Tinggall nyuruh, bayar, jadi, pakek." Gumam Haikal.
"Penasaran guee nii, duitnya Om Aska berapa karung??"
"Gak pake karung bodooo, kan ada black card."
"Betulll betull. Ada black card. Pasti black card om sama tante ada sepuluh, yaa?"
Aska dan Zia malah tertawa.
"Om Rap, yang ruangan zoo nya gedein yaa. Siapa tau Asya mau melihara jerapah."
Mereka terkekeh.
"Negosiasi selesai. Daddy sama Om Rap mau pergi dulu, kalian baikan sama Kei, minta maaf sama Kei karena udah salah paham."
"Iyaa, nanti minta maaf."
"Dahh. Rap, ayo ikut gue!"
Rafael membuntuti Aska, mereka berdua pergi meninggalkan rumah.
"Ka, temennya Kei perlu cari orang tuanya?"
Aska menggeleng, "dia sebaya Kei, hukuman yang bakal gue kasih bakal lebih ringan dari biasanya."
"Tumben?"
"Gue masih punya hati nurani, anak sebaya dia masih labil, masih gampang diprovokasi."
Rafael mengangguk paham.
"Lu tadi marah sama gue?"
"Gak."
Rafael diam sambil tersenyum.
Mereka tetap hening sampai akhirnya tiba di ruang bawah tanah.
Ruang penebus kesalahan~
Tanpa basa-basi, Aska menendang pintu dan masuk kedalam. Mereka bertiga berdiri sambil menunduk.
"Ngapain aja kaliann?!"
"M-maaf, boss. Kami ketiduran di mobil."
Bugh!
Aska menendang kaki si penjawab.
Setelahnya, Aska menatap Rap. Rap yang paham mengambil kebutuhan Aska.
"Kalian taukan konsekuensinya kalau lalai terhadap pekerjaan?"
"T-tau, boss."
"Konsekuensinya udah ada di surat kontrak, bukan?"
"I-iya, boss."
"Okee, sekarang pilih mau yang mana."
Mereka mendongak.
Diatas meja sudah ada berbagai macam alat mengerikan.
"Diskusi."
Mereka berbincang.
"Y-yang tengah bos."
Ikat pinggang~
"Yakin?"
"Y-yang pertama aja, boss."
"YANG JELAS!"
"Tongkat golf."
Aska mengambilnya.
"Kamu ngapain disini? Pindah ke samping Rafael. Saya suruh buat jagain doang tadi." Ketua tim pun berpindah.
"Okee, segala sesuatu diawali dengan basmallah bukan? Bismillahirrahmanirrahim."
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Aska langsung memukul mereka tanpa ampun.
Sakit? Ya jelas!!
"SAYA BAYAR KALIAN MAHAL BUAT JAGA-JAGAA, TAPI KENAPA MALAH TIDURR?!"
Mereka tidak menjawab karena kesakitan.
Aska kembali memukul mereka.
Darah? Jelas berdarah!
Pukulan Aska bukan pukulan klemak-klemek, tapi pukulan yang benar-benar menyakitkan.
Melihat tongkatnya sudah banyak darah, Aska pun berhenti.
"Kalian berdua saya pecat!" Aska mengambil dompet lalu memberikan satu black card.
"Obati luka kalian, bayar pake itu."
Aska pergi dari sana meninggalkan Rafael dan yang lain.
"P-pak Rafael. T-tolong bujukin boss, beri kami kesempatan kedua..."
Rafael mendekat, "kalian jelas tau kan, kesempatan kedua itu gak ada di kamusnya Aska."
"Gak usah mikir kerjaan lagi, fokus aja sama pemulihan."
"Ingett yaa, kalau kalian dendam sama Aska dan berencana balas dendam, hukumannya bisa lebih parah dari ini."
"Ketua tim, bantu bawa mereka berdua ke rumah sakit."
"Baik, pak."
Rafael pun menyusul Aska dan meninggalkan mereka disana.
"Makin gila aja lu yaa. Kek psikopat kejamnya."
"Lu kira gue sadar ngelakuinnya?"
"Emang gak sadar??"
"Ya sadar, tapi cuma setengah."
Ddrt... drt..
π "Bos, kami ketemu dengan Adinda."
^^^"Sharelock."^^^
Aska langsung mematikan panggilan.
"Mau lu apain?"
__ADS_1
Aska tersenyum smirk, "gimana kalau langsung penggal aja kepalanya?"