Barbar Generation

Barbar Generation
Perkara kedinginan


__ADS_3

Masih di area pantai. Asya dan yang lain masih menikmati waktu healing mereka.


Asya dan Arsen sendiri sedang main pasir, mencoba buat kastil. Sama seperti lika-liku hidup mereka, beberapa kali kegagalan tidak membuat mereka menyerah.


"Sayaang, jangan di situuuu nanti roboh lagii," omel Arsen.


"Ishh. Masa di sampingnya? Ntar kelebaraaan," jawab Asya kesal.


"Ya jangan di atasnya, ayangg. Kalau roboh ntar kita mulai dari awaall."


"Ahh ga tau ahh, males aku!" Asya pergi meninggalkan Arsen sendirian di sana. Arsen pun diam dan melanjutkan karya seninya.


Asya yang tidak terlalu jauh dari Arsen sedang berjalan-jalan ke pinggiran pantai, ia menikmati dinginnya air. Di tengah keasikannya main air, ada orang yang menghampiri Asya.


"Excuse me?"


Asya menoleh.


Dua orang bule ada di hadapannya sekarang.


"Ur so beautiful, can i take a picture with u?"


Asya melihat ke arah Arsen yang sedang menatapnya sinis. Arsen bisa mendengar mereka karena memang gak jauh jaraknya.


Asya tersenyum tipis, 'hahaha jealous agaknya. Iyain aja dah biar makin jealous. Salah siapa nyebelin banget tadi!' batin Asya sambil senyum penuh misteri.


"Sure," ujar Asya sambil tersenyum.


Arsen jelas makin jealous dong! Dirinya meninggalkan dunia perpasirannya lalu datang menghampiri Asya. Tanpa sepatah kata Arsen menggendong Asya.


Asya tidak bisa berkata-kata lagi selain tersenyum di gendongan sambil melambaikan tangannya pada dua bule itu.


"Dasar posesif!" cibir Asya setelah agak jauh.


"Aku ga posesif kalau kamu ga nakal."


"Aku kan gak nakall," bantah Asya masih di gendongan.


"Nakal bangett gitu. Kamu tau tadi aku natap sinis artinya aku gak bolehin, tapi kamu malah ngeiyain. Mana tadi tu si bule rapet banget sama kamu," protes Arsen kesal.


"Jadi ceritanya kamu cemburu?"


"Ga."


Asya terkekeh.


"Dasar posesif!"


"Udah aku bilang aku gak posesif ayaaanngg."


"Iya iya, nggaaa posesif nggaa."


"Nah gitu dongg."


"Ehh. Perasaan tadi aku yang marah, kok jadi kamu yang marahh?!" tanya Asya kesal.


"Ngapain kamu marah? Aku gak ada buat salah dah."


"Kamu nyebelin ya!! Masa aku ga boleh numpuk pasirnya di atas?!"


"Yaa kan biar ga rusak ayanggg."


"Ga bakal rusakkk, aku hati-hatii kokkk."


"Yaudah yaudahh. Ayok balik lagii ke pasiran tadi," ajak Arsen. Langkah mereka terhenti karena melihat kastilnya...


"Udah hancurrr."


"Ihh, gara-gara kamu sii!" dumel Asya kesal.


"Kok jadi aku sihh? Kan kamu tadi yang nakal deketin bulee!"


"Wahh wahhh, apeniii. Gelut ya? Asikkk geluttt," Keja dan Upi muncul mendadak.


"Diem tuyul!" ledek Asya.


"Padahal dia yang tuyul. Lu bedua berantem yaa? Waahahhaaha, momen yang gue tunggu-tunggu ni."


"Siapa yang berantem?" tanya Asya dan Arsen kompak.


"Kan lu bedua berantem ya anjirr!!"


"Emang ada orang berantem gendong-gendongan?"


Keja dan Upi saling tatap.


"Iya juga."


"Eh bisa ajaa tauu. Gue aja berantem sama Upi cium-ciuman."


"ANJWINGG! KAPANN GUE CIUMANN AMA LU?!"


"NGADI-NGADI LU ANJIRRR!!"


◕◕◕


Malam ini mereka membuktikan diri bahwa mereka keturunan keluarga kaya dan terpandang. Itu karena pakaian yang mereka kenakan berasal dari merk-merk ternama. Mereka juga makan di restaurant mahal yang ada di kota.


Mereka siapa? Ya persepupuan Hitler!


Bersama para kekasih juga.


Bagi yang punya.


Wkwk.


"Bang Zap, jadi gimana?"


"Gimana apa?" tanya Zap heran.


"Ckk, pelupa abang ni. Kan kata abang kemaren kalau Arsen berhasil nyelesaiin masalah dalam dua hari boleh nikah duluan dari abang," jawab Arsen udah meletakkan garpu.


"Iya itu kan maksudnya buat semangatin kamu doang, Sen. Lagipula kalian belum ada persiapan kann?! Gak boleh juga ngelangkahin yang tua."


"Alasan bang Zap aja itu. Yang iyanya bang Zap takut tersaingi," sahut Frizy polos.


"Cangkeman! Jajan mu abang kurangi ya, Zy?"


"Jangan atuh ahh. Abang kan abang yang baik, ganteng dan tidak sombong."


"Huuuu pencitraan!!!" ledek Asya.


"Diem kamu bocil."


Asya langsung terdiam.


"Zyy.. liat tu adeknya jadi merajuk," omel Zafran lembut.


Frizy melihat Asya. "Amboyyy, si bocil auto mellow. Jangan merajuk yaa, nanti abang beliin boneka ultraman," bujuk Frizy.


"Adaaa pulak bujuk cewek begitu? Pantesan gak ada yang mau sama lu, bang," cibir Azril.


"Wahh, adek kurang ajar. Gue rebut Naina ketar-ketir lu!"


"Masalahnyaaa.. Naina tu gak mau sama lu, bang."


"Kita tanya dulu."


Frizy menoleh ke arah Naina.


"Nai, do u like chocolate?" tanya Frizy.


"Yes!" jawab Naina santai.


"Do u like matcha?"


"Yes!"


"Do u like vanilla?"


"Yes!"


"Do u like me?"


"No."


"Puft.. HAHAHAHAHAHA!"


"Dahla, pulang gue."


Azril makin terkekeh melihat abangnya itu.


"Puas lu, puas!!"


Azril tertawa lagi.


"Aduh.. kasian banget abang gueeee," ledek Keja ikut-ikutan.


"Keknya si Keja amnesia deh. Kan tadi sore dia juga di tolak sama Naina," ujar Upi.


"HAHAHAHHAHA!"


"Yailaaahhh! Si upil kagak bisa diem anjirr," Upi cengengesan.


"Udah, udah. Cewek di bumi ini banyak, jangan rebut cewek orang," ceramah Zafran.


"Bang, kalau cewek lu gue rebut gimana?"


Zafran auto tatap tajam matanya Keja.


"Mau baku hantam berapa hari kita?"


"Woppp, ngeri cugg ngeriii."


"Mampusss luu! Makanya jangan main-main sama abang gueee," kata Asya songong.

__ADS_1


"Abang lu kan abang gue juga anjjr."


"Oya. Baru ingat," Asya nyengir.


"Kasian, mana masi muda. Btw bang, ntar nginep di mana nihh? Apa mo pulang?"


"Kalian mau nginep ga? Kalau iya ntar abang check-in kan hotell."


"Abang ikut juga kan?"


"Nggak. Kak Aisyah besok ada kelas."


"Yaah... yaudah deh kita ikut pulang," ujar Frizy mewakili yang lain.


"Loh, kenapa gak nginap aja?" tanya Aisyah.


"Gak asik dong kalau kakak sama bang Zap ga ikut. Next time aja deh kita keluar lagi terus nginap bareng-barengg," jawab Asya.


"Liburan aja gimana?"


"Bole boleee."


"Btw abang sama kak Aisyah bakal honeymoon?" Zafran dan Aisyah sama-sama mengangguk.


"Nahh, kalau kami ikut gimana?"


"Pertanyaan bodoh ya, Kejaaa! Mereka kan mo berkembang biak, ngapain lu ikutt?!"


"Yaaa kan bisa sekalian belajarr," kata Keja cengengesan.


"Oke fiks, Keja tolollnya ga bisa di tolerir."


◕◕◕


Jam sebelas lewat empat puluh satu menit, Azril dan Zafran masih mengemudikan mobilnya masing-masing. Mereka berdua akan kembali ke rumah papanya Zia.


Di mobil Azril, Naina sudah tertidur di samping kursinya dan Asya juga sudah tertidur di paha Arsen. Arsen sendiri enggan untuk tidur karena ingin menemani Azril mengobrol.


"Gimana lu nyelesaiin masalah Angela tadi?" tanya Azril.


"Jujur, gue malu buat cerita."


Azril menatap Arsen sekilas dari kaca.


"Kenapa?"


"Karena semuanya di bantu bokap lu."


"Pasti gak semua. Sedenger gue lu ada jual sesuatu, lu jual buat lunasin hutang kan?"


"Iya. Gue jual mobil gue yang baru di beli," jawab Arsen santai.


"Anjirr, serius lu?"


"Heem. Sekarang ungnya malah ga tepake karena bokap lu yang udah bantuin bayarr."


"Bagus dong, bisa lu tabung kan buat nikah? Bisa juga buat beli mobil yang lain. Jangan merasa lu gak bisa apa-apa, Sen. Lu taukan niat bokap gue baik?"


"Iyee tau. Tapi tu gue pengen ngurusin sendiri, biar mandiriii."


"Bokap tau segimana mandiri lu. Menurut gue, selama ini lu udah terlalu mandiri. Bokap bantu karena bokap gak mau lu urus masalah lu sendiri lagi."


"Sekarang waktunya lu untuk berbagi masalah, ntah itu ke Asya, ke bokap, ke gue, atau mungkin ke temen-temen."


Arsen tersenyum tipis. "Gue ngerasa bersyukur si sebenernya masuk keluarga ini, tapi juga ngerasa ga pantes aj—"


"Eungh.. Ceenn.."


Asya tiba-tiba terbangun.


Arsen langsung diam dan menyuruh Azril juga diam. Arsen mengelus-elus rambut Asya untuk menidurkannya kembali.


"Arsenn..."


"Humm? Kok bangun??" tanya Arsen setelah melihat Asya membuka mata.


"Dingiin."


"Aku ga bawa jaket pula, sayangg. Kamu duduk depan aku aja sini biar aku peluk."


"Ngga gitu juga begoo. Lu berdua belom sah, ga bole!" larang Azril tegas.


"Ya terus gimana? Gue ga bawa jaket, lu juga nggak. Ntar Asya makin kedinginan gimana?"


"Kita tanya mobil depan, kali aja ada yang bawa jaket." Azril melajukan mobilnya hingga berdampingan dengan mobil yang dikendarai Zafran.


"Bang, ada yang bawa jaket?" tanya Arsen pada Zafran setelah mobil mereka bersebelahan.


"Ada kayaknya, kenapaa?"


"Asya lagi kedinginan."


Frizy yang di dalam mobil langsung melepas jaketnya dan memberikan ke Arsen. Yaa begitulah Frizy, terlihat gak sayang sama adiknya padahal aslinya sayang banget.


"Bau bau mo sakit ini mah."


"Zaff, kita cari hotel aja deh biar Asya bisa istirahat di hotel," kata Aisyah yang ikut khawatir melihat Asya.


"Terus ntar kamunya gimana? Katanya ada kelas."


"Ntar ngasih tugas ke asdos aku aja. Kasian ntar Asya jadi sakit benerann."


Zafran menatap yang lain.


"Deal, deal!"


"Ok—"


"Ngga usah dehh... kita pulang ajaa," pinta Asya masih memejamkan mata.


"Tapi ntar lu nya sakit, Asyaaa," kata Naina yang tadi ikut terbangun.


"Gue kuatt."


"Ck, gak usah sok kuat. Ayok check-in aja, bang!" kata Azril mengsinis.


"Iya bang, ayo check-in aja. Gue juga cape di jalan," ajak Upi.


"Yaudahh yaudahh, ayo cari hotell." Zafran dan yang lain pun kembali ke mobil, perjalanan kembali berlanjut.


"Zril berhenti, Zril!!" pinta Asya tiba-tiba. Tepat saat mobil berhenti, Asya langsung buru-buru keluar dan muntah di pinggir jalan.


Melihat itu, Arsen ikut keluar dan menghampirinya. Arsen mengurut tengkuk Asya pelan.


"Udah muntahnya?"


Asya mengangguk pelan.


"Bentar ya," Arsen berbalik ke mobil.


"Muntah banyak?"


"Lumayan. Minta tissue sama air mineral," Azril memberikannya dengan perantara Naina. Arsen kembali ke Asya.


"Minum dulu sayang."


Asya jongkok kemudian meminumnya.


"Udah larut malam ni, ayok masuk mobil biar istirahat di hotel."


"Aku ngga kuat bangkit," rengek Asya. Arsen memasukkan air mineralnya kembali ke mobil lalu menggendong Asya ala bridal style.


"Bisa buka mobil?"


"Bantuin." Azril membukakannya, Arsen pun masuk bersama dengan Asya. "Thank you, brother!"


"Yoai."


Azril lanjut mengemudi.


"Pucet banget mukanya Asyaa," ujar Naina khawatir.


"Gimana ga pucet, orang muntahin semua makanan yang di makanannya."


"Anw, Asya hamil anak siapaa?" tanya Azril.


"Jangan tolol dah, gue tonjok nanti muka lu!" Azril nyengir mendengar jawaban Arsen.


Hening kembali tercipta.


Arsen sibuk memangku kepala Asya sambil mengelus pipinya, dan Azril sibuk mengemudi sambil memegangi tangan Naina.


Drtt.. Drrt..


Ponsel Azril berbunyi.


📞 "Oiyyy, dimanaa?!"


^^^"Salam dulu kek, bang."^^^


📞 "Assalamu'alaikum. Kalian dimana?


Mogok mobilnya?"


^^^"Ngga, bang Zap. Ini tadi Asya muntah,^^^


^^^keknya masuk angin dia."^^^


📞 "Kirain mogokk. Abang di apart


keduanya Upii, buruan kesini ya.


Alamatnya abang share nanti."


^^^"Ke wa Arsen ajaa,^^^

__ADS_1


^^^hp nya Azril lowbatt."^^^


📞 "Yaudah. Jangan lama-lama,


kasian nuna mu."


^^^"Ngogheyyy."^^^


📞 "Jangan ngebut yaa,


assalamu'alaikum."


^^^"Iyo, bang.^^^


^^^Wa'alaikumussalam."^^^


Panggilan terputus.


"Sen, check hp lu. Bang Zap sharelock tadi."


Arsen mengambil ponselnya.


"Nihh alamatnya."


"Password handphone lu apa?"


"B'day Asya."


"Bucin banget anjj!"


"Lu juga bucin satt! Tangan dari tadi gak lepas, gandengan teroossss."


"Bucinan lu njem. Keknya semua password lu berhubungan sama Asya deh," tebak Azril asal.


"Iya."


"Pin kartu lu b'day nya Asya juga?"


"Kepo banget anjirr! Kalau gue kasih tau ntar duit gue lu colongg." Azril cengengesan, "tau aja kalau gue mo nyolong."


"Goblougg."


◕◕◕


08.10, apartement Upi.


Perlahan tapi pasti, Asya membuka matanya. Dirinya diam sejenak, membiarkan nyawa hampir terkumpul.


"Eh udah bangun. Morning ayangg.. masih kedinginan nggak?" Asya terkejut lagi karena mendengar suara Arsen.


Arsen menoleh ke samping.


"K-kamu kok disini?"


"Kamu yang minta aku disini."


"What?" Asya langsung duduk.


Di detik itu juga Asya melihat Arsen tanpa baju.


"KAMU NGAPAIN AKUU?!! KENAPA GA PAKE BAJUU?! AKU LAPORIN BANG ZAP BIAR DI TAMPOL KAMUNYA!!"


Asya beranjak keluar selimut.


"Yaa kalau mau laporan pake baju dulu sayaang."


Asya menoleh, posisinya tepat di samping kaca. Asya baru tau kalau dirinya cuma mengenakan tanktop dan hotpants. Detail bodynya benar-benar terlihat.


Asya berbalik menatap Arsen yang sedang menutup mata. "Aku gak liat cop, gak liat."


"ISHHH!" Asya menghampiri Arsen, mengambil guling lalu memukul-mukulkannya pada Arsen.


"KAMU APAIN AKUUU?! HAH?! ISH JAHAT BANGET SUMPAH JADI COWOK!! KENAPA AKU BARU SADAR KALAU KAMU ITU JAHATT!!"


"JAHATT ARSEN JAHATT!" Mendengar suara Asya gemetaran, Arsen menghentikan gerakan tangan Asya.


Benar dugaannya, Asya sedang menangis.


"Sayang? Kamu nangis?"


Bodoh bah!


Ngapain lu nanya pe'a?!


"Kamu salah pahaaamm."


"Sayaangg?"


"Kamu jahatt!" Asya langsung pergi sambil menarik selimutnya dan berjalan lompat-lompat.


Macem tuyul. Eh, pocong!


"Lu ngapain keluar kamar kaga pake baju, Asyaa?!" tanya Frizy yang berada di sofa.


"Asya... Asya udah ga suci.. huaaaaaaa!"


"Yah yah yahh, nangis si bocill. Bang Zaaaaappp!!"


Zafran yang berada di dapur auto menyusul. "Kenapa pagi-pagi teriak, Zyyy?!"


"Si bocil nangisss," adu Frizy dengan tampang paniknya.


"Loh? Asya kenapaa?" tanya Zafran panik. Karena Asya cuma pake selimut, Zafran ragu memeluknya. Begitu Aisyah keluar kamar, Asya langsung di peluk.


"Asya kenapaa? Cerita sama kakak.."


Asya masih diam.


"Zyy, kenapa?"


"Kaga tauu. Tadi dia datang terus bilang 'Asya udah ga suci lagii' gitu."


"Wtf! Arsen cari mati ya?"


Zafran masuk ke kamar Asya tadi.


"ARSEN!"


"Bang, demi Allah gue gak ngapa-ngapain Asya. Sumpah dah. Kan abang tau tadi malem Asya kedinginan dan gue yang angetinn," jelas Arsen was-was.


"Terus kenapa Asya bilang dia kagak suci lagi?"


"Ya dia kan Asya bukan suci."


"Saya gak segan-segan nikam kamu ya, Arsen," Zafran mulai sinis sekarang.


"Ampunn! Asya salah paham, baanggg."


"Gue ga pake baju, terus dia cuma pake baju gitu. Dia ngira gue ehm-in dia, padahal kan nggak. Gue cuma ngangetin doangg," jelas Arsen lagi.


"Yang betul?"


"Sumpah Demi Allah. Kalau gue boong, bedel jantung gue sekarang, bang."


Zafran keluar kamar.


"Asya denger tadi? Arsen gak ngapa-ngapain kamu kok, tenang ya, kamu masih segel."


Asya diam, dia tenang.


Lebih tepatnya sok tenang.


"Tadi malam kamu kedinginan, terus bang Zap suruh skin to skin. Bang Zap sama yang lain ga bisa, katanya takut kebablasan, makanya Arsen yang gantiin."


"Nah betul kata kak Aisyah. Kemaren tu Arsen juga mau mundur, dia juga takut tangannya gratill. Tapi karena lu tarik tangannya pas di kamar, Arsen ga bisa lepas. Dan jadinyaaaa.. gitu," sahut Frizy ikut menjelaskan.


'Honestly, GUA MALUUU COKK!' batin Asya.


"Asyaa? Udah jelaskan?" tanya Zafran.


Asya hanya mengangguk pelan.


"Asya mo ke dapur dulu.. mo minum," kata Asya mencoba kabur.


"Mau gue ambilin?" tanya Frizy.


"Asya aja, bang." Masih sambil menggeret selimut, Asya berjalan menuju dapur.


Sialnya!


Dia tersandung dan terjatuh.


"Aduhh... Asya awas jatoh!"


"Udah jatoh!!"


Asya menghela nafas panjang. "Langit... bisakah kau hilangkan aku sebentar? Aku malu sama mereka..."


"HWAHAHAHAHA!"


"Puas bangett ketawanya bang Prizz! Tandai ya luuu, awas aaja!!"


"Wleee~"


"Jahattt!"


Frizy nyengir kuda.


"Ayok ku bantu bangun," Arsen muncul tiba-tiba di samping Asya. "Gaa gaa gaa. Aku bisa sendiri," Asya pun berdiri tanpa bantuan Arsen.


Asya berhasil berdiri sempurna, ia langsung melanjutkan jalannya menuju dapur.


Sialnya lagi! Selimut yang dibawa Asya jatuh karena gak sengaja keinjek Arsen.


"HYAAA, ARSSENNNNN!!"

__ADS_1


__ADS_2