Barbar Generation

Barbar Generation
Tetangga baru


__ADS_3

12.45, Asz group.


"Jadi, lu suruh siapin penerbangan cuma buat ambil sepatu sama bola nya si twins??" Aska mengangguk santai.


"Gila si gilaaa, lu bener benerrrr debes si menurut gueee!!"


Sembari mengerjakan pekerjaannya, Aska tertawa kecil.


"Apapun buat mereka. Lagian itu sogokan biar gak sering keluarr."


"Masih takut soal kemaren??"


"Lu di posisi gue deh, Rap. Tidur aja susah gue, takut banget twins kenapa-kenapaaa." Rafael mengangguk setuju.


"Bisa ngerasain sih gue, mata lu aja berubah jadi kea mata panda. Btw, kenapa gak bawa balik ke rumahh utama?"


"Ngadi-ngadiiii! Makin tau lah dia tentang anak guee." Rafael mengangguk lagi.


"Tenang, santuyy, positif thinking terus mikir kalau gak bakal terjadi apa-apaa."


"Mo di positifin gimana pun tetep negatif, Rap." Jawab Aska sambil menghela nafas.


Tok tok..


"Masuk!"


"Permisi, pak. Di depan ada CEO muda William Company."


"Suruh masuk."


"Baik, pak." Karyawati itu pun keluar.


"Arsen?" Aska mengangguk.


Gak lama setelahnya, masuklah Arsen.


"Assalamu'alaikum, om." Arsen masuk kemudian menyalami tangan Aska dan Rafael.


Berandalan tapi sopan, Arsen contohnya.


"Wa'alaikumsalam."


"Arsen gak telat kan, om?" Tanya Arsen cengengesan.


"Dua menit lagi jam satu siang, gak telat sihh tapi mepet banget." Arsen tertawa kecil sambil memegangi tengkuknya.


"Tadi ada urusan bentar, om."


"Iyaa, urusan nganter Asya."


Arsen tercidukkk!!


Ia cengengesan mendengar jawaban Aska.


"Mau makan siang, Sen??"


"Nggak deh om, tadi Arsen udah makan indomie di rumah."


"Mie gak baik lah, jangan terlalu sering." Arsen mengangguk.


"Mau minum?"


"Nggak, om."


"Oke.." Aska memencet tombol, "bawa dua coklat dingin sama satu kopi."


"Kopi? Buat siapaaa?" Tanya Rafael.


"Lu lahhh."


"Samain ajaa kek, tega amat lu." Aska tertawa melihat ekspresi Rafael, ia pun mengubah pesanannya lalu duduk bersama di sofa.


"Gimana di sekolahh?? Masih sering baku hantam gak, Sen?" Tanya Aska.


"Gimana mau baku hantam, om. Arsen emosi dikit aja Asya marah."


"Uwaaahh, di pawang Asya rupanyaa. Pantesan insyafff." Sahut Rafael.


"Iyaaa yang di pawang insyaf, pawangnya suka ngulah." Mereka berdua tertawa.


Tok tok..


"Masukk!"


"Mau nganter pesanan bapak."


Aska mengangguk, office boy itu langsung menempatkannya di meja lalu keluar ruangan Aska.


"Di minum, Sen. Gak usah malu-maluu kea ni manusia ni, malunya kagak adaa." Cibir Aska sambil menunjuk Rafael yang sibuk menyeruput coklat dinginnya.


"Auss, pak. Gak ngasih minum sihh!"


Aska menatap kesal Rafael, "depresi gue bener deh. Kan tadi gue udah tawarin lu, Rap. Mau minum apa nggak?! Lu jawab kagakk, lah ini kenapa gue lagi yang salahh?! Mau pensiun aja dah gua!!" Rafael cengengesan.


"Manusia manusia kek gini ni, Sen. Musti di hancur kan. Caranya? Bekap pake bantal biar gak nafas." Aska ingin mempraktekkan nya.


"Eitss.. tidak bisaaa! Nanti lu kagak punya sekretaris dan asisten se-perfect, se-kece, se-keren, se-fashionable, se--" Aska menyumpal mulut Rafael dengan roti.


"Banyak cerita bahh, emosi pula aku dengernya!" Rafael menatapnya kesal sambil mengunyah roti itu.


"Istighfar kamu, nak!"


Tawa Arsen pecah melihat ulah keduanya. Benar-benar di luar nalar.


"Oiyaa, Sen. Kamu tau apa tujuan om panggil kesini?" Arsen menggeleng pelan.


"Kenapa, om? Om mau bicarain bisnis atau...?"


"Bukan bisniss, sesuatu yang bersifat pribadi. About Asya."


Arsen menghadap Aska, "Asya kenapa, om??"


"Om minta tolong bangett, kamu jagain Asya. Om tau, selain kamu ada Azril sama yang lain. Tapi om minta tolong secara pribadi untuk jagain Asya."


"Tentang musuh kemaren ya, om?" Aska mengangguk.


"Kalau Arsen boleh tau, siapa musuh nya om??"


"Darren Kim."


Arsen terpaku, "Darren Kim??"


"Kamu kenal??" Tanya Rafael.


"Familiar namanya, bentar Arsen ingat."


"Dia keturunan Korea."


"Aahh iyaa, pengusaha juga kan om??" Aska mengangguk.


"Kamu kenall??"


"Dua tahun yang lalu dia pernah bawa Asya pas mau pulang, om. Teruss, di dua tahun kemudian waktu om sama Asya mau holiday ituu tuan Darren temuin Asya lagi setelah ngilanngg."


Gelas yang di pegang Aska dan Rafael jatuh bersamaan.


"Dua tahun yang lalu??" Arsen mengangguk.


"Mampusss gue!"


"Teruss, apa lagi yang kamu tau??" Tanya Aska.


"Tuan Darren Kim suka sama Asya."


"Whatt the f-- KENAPAAA JADI GINIII?!"


Arsen menelan ludah melihat Aska yang emosi.


"Yang baru-baru ini ituuu.. kamu ada??" Tanya Rafael, Arsen mengangguk pelan.


"Darren bilang apa??"


"Seingat Arsen, tuan Darren tu pertamanya telepon Asya. Abistu tiba-tiba muncul, dia marah karena panggilannya di tolak lagi dan nomornya di blok Asya. Setelah itu, Asya ngajak pergi dari sana dan Arsen ikuti kemauannya Asya."

__ADS_1


"Kok.. kok bisa Darren Kim ketemu duluan sama Asyaa?? Kok bisaaa??" Tanya Rafael yang kini ikut stress.


"Haha.. hahaa.. gimana bisa gue positif thinking sekarang Rafaelaa??"


"Gimana sekarang lu telepon Darren terus bilang setuju tentang kontrak kerja sama."


"LU GILAKKK?!" Rafael mengelus dada mendengarnya, begitupun dengan Arsen.


"Sekarang, suruh bodyguard Asz pilihan lu buat ngikutin Darren. Jangan sampe lu pilih bodyguard abal-abal! Oiya suruh juga bodyguard yang lebih kuat buat jaga di sekitar rumah abu-abu sama rumah utama. Inget, jangan yang abal-abal!" Rafael mengangguk ia membungkuk kemudian pergi ke kantor bodyguard Asz.


Aska menuju mejanya, memencet tombol dan memanggil office boy untuk membersihkan ruangannya karena tumpahan coklat dingin tadi, Aska juga menyuruh ob itu untuk membawa air mineral.


"Apa lagi yang kamu tau, Sen?"


"Arsen lupa, om."


"Siapa aja yang deketin Asya?? Polisi waktu itu?"


"Sekarang jarang muncul, om. Mungkin nyerah karena kalah telak dari Arsen." Aska mengangguk setuju.


"Dari segi mana pun memang kamu yang menang!"


"Sa ae omm."


"Asya sama yang lain di rumah kan?"


"Kayaknya iya, om. Om tenang ajaa, Arsen bakal jaga dan lindungin Asya meskipun nyawa taruhannya."


❀❀


16.37, rumah abu-abu.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Eehh, buaya seniorr."


"Rawrr!" Asya tertawa melihatnya.


"Nih gue bawa martabak coklat buat lu."


"Waaawww, thank you." Arsen mengangguk sambil tersenyum.


"Ayok masuk."


Arsen pun masuk mengikuti Asya. Di dalam semua nya berkumpul.


"Sumpah yeee, lu beduaa tuu cocok bangettt." Ledek Adinda.


"Berisik lu!" Mereka tertawa mendengarnya.


"Apa itu, Sya?" Tanya Haikal.


"Ada deh.. kepo bangett."


"Nak an.. sabar Dino sabarr!" Asya cengengesan, ia langsung pergi ke dapur.


"Lama banget lu datang, Sen. Udah di tunggu dari tadi," ujar Racksa.


"Tadi ada urusan guee, terus ketidurann jadinya telattt." Mereka berohria.


"Azril mana??"


"Di kamarrr tuh, nonton plus plus."


"SU'UDZON LU BANGKAII!!" Mereka terkekeh melihat Azril marah.


"Arseeeennn."


"Oyy, kenapaa?" Arsen menyusul Asya ke dapur.


"Gapapa, lu mau makan gak??"


"Lu masak??"


"Nggakk, tadi Adinda sama Yuna yang bawa hehe."


"Yaudah ntaran aja gue makan. Makan masakannya lu."


"Kerasukan kepala lu petakk." Asya tertawa.


"Kepala gue segitiga cuyy."


"Gue jajar genjang." Keduanya terkekeh.


"Woilahh, malah pacaran di dapurrrr." Cibir Azril.


"Emang minta di tabok tu anakk," Sambil membawa martabak yang sudah ia letakkan di piring, Asya menuju ruang keluarga.


"Gini ni yang bagosss. Bertamu bawa makanann!" Sindir Racksa.


"Nyindir aluss banget bang Racksaa." Ujar Aryuna, Racksa cengengesan.


"Main volly kuyyy," ajak Adinda.


"Kuyy!" Azril bersemangat.


"Lu pada aja deh, gue nggak." Ujar Racksa.


"Ayoo, Sa. Gak acik lah gak main semuaa."


"Yuna ikutt kah?" Tanya Dino.


"Ikutt, Yuna bisa tapi gak terlalu jagoo."


"Yang penting usaaha, gak kek orang di sebelah gue. Gak bisa gak usahaaa."


"Di sindir balik bahh!" Mereka tertawa.


"Kuy laaaah."


Bersamaan, mereka menuju halaman depan.


"Ehh, Sya. Air mineralll!" Asya masuk lagi disusul Arsen.


"Mana? Biar gue bawa."


"Gue ajaaa."


"Gak usah protes, gue aja!" Asya pun menunjuk sekotak air mineral. Arsen mengangkatnya kemudian membawa keluar.


"Berapa orang nii??" Tanya Asya.


"Delapan."


"Empat-empat berarti. Gue mau suit samaa Racksaaa." Ujar Haikal. Mereka pun cari pasangan untuk suit.


Terbentuklah dua tim. Asya, Arsen, Haikal dan Racksa tim pertama. Sedangkan Azril, Adinda, Aryuna dan Dino di tim kedua.


Mereka pun mengambil posisi.


"Yang kalah gimana nii?!" Tanya Azril menantang.


"Yang kalah traktir es krimm!" Sahut Asya.


"Esss muluu. Udah berapa kali lu minum es hari ini?" Tanya Arsen sinis.


"Yahaaa, di omelin pawang nyaa guys." Asya mengelus dada.


"Gimana kalau yang kalahh ntar malem traktir buat makan-makan. Kita manggang ayam?" Usul Adinda.


"Nice idea!! Sekalian es krim."


"Asyaaa.." Asya nyengir sambil menatap Arsen.


"Lu sakit ntar kebanyakan minum esss."


"Kali ini ajaa, soda deh gak jadi es krim."


"Yowes karep mu wae lah, by."


"Xixiii."


"Mending kita mulai dari pada nontonin dua manusia meresahkan ini." Ujar Haikal kesal, Asya terkekeh melihatnya.

__ADS_1


Mereka pun mulai bermain. Dan yaaa, seperti biasa penuh canda tawa.


Berkali-kali bola di oper ke Racksa tapi Racksa malah menghindar. Kadang Racksa ingin passing tapi sering tidak kena.


Ini waktunya Racksa servis.


"Tiati kelenn, bisa kena kepala kalian ni nantii!" Ujar Racksa songong.


"Gue.. gue takutnya kena kepala gue." Kata Haikal sedikit tertawa.


"Gak gakk, tenang ajaaa."


"Buruan coyyy, minta di getok?"


Racksa melambungkan bola nya kemudian melompat untuk memukul. Bola pun masuk, tapi tidak ada satu pun yang menerimanya karena terkejut.


Srett...


Racksa terpeleset setelah melompat.


"Bangkeee.. ngapa musti jatuh si, pakkk?!" Tanya Asya sambil terkekeh.


"Kepleset anyingg! Aduhh.. sakit banget cokkkk!"


Bukannya membantu mereka malah semakin terkekeh, tergolak, dan terbengek-bengek.


"Gila demi apa, perut gue sakit woi ahh." Keluh Azril.


"Receh bangett astaghfirullah. Gini aja sampe bengek guee," sahut Adinda sambil menyeka air matanya yang keluar sedikit.


"Dah dahhh. Jangan ketawaa, kasian Racksa." Asya menahan tawanya.


"Huhhh uhuk, ayo mas saya bantu." Arsen mengulurkan tangannya, Racksa menerimanya kemudian berdiri.


"Bajingg, encok guaaa!" Mereka terkekeh lagi melihat Racksa terbungkuk-bungkuk.


"Agaknya Racksa trauma main volly." Kata Arsen sambil membantunya duduk ke teras rumah.


"Trauma gue traumaaa. Jangan ajakin lagi!"


"Iya iyaa, minum dulu mas." Arsen memberikan air mineral untuk Racksa. Racksa meneguknya.


"Padahal tadi udah baguss dia servis masukk ke area musuh ye kann, ehh malah jatohhh."


"Kepelesettt."


"Tepelekok lu, bukan kepeleset." Ujar Adinda, mereka menghampiri Racksa untuk istirahat sejenak.


"Huhh, capek ketawa gue." Haikal menahan tawanya lagi.


"Lu pada kejam si aswuuu. Bukannya nolong malah nge-golak mulu!"


"Kan yang penting di tolonginn." Jawab Azril, Racksa menatap datar Azril yang kini cengengesan.


"Btw, makin ketat aja keamanan rumah abu-abu. Liat tu, bodyguard tiga di depan, samping kanan kiri ada dua, di belakang juga kan?" Asya mengangguk.


"Gara-gara musuh nya daddy kak Asya?" Asya mengangguk lagi.


"Mereka gak capek apa ya? Berdiri mulu tauu." Kata Asya terheran-heran.


"Udah kewajiban mereka buat jaga, harus siaga bukan leha-leha." Sahut Arsen.


"Eh, kang siomayyy lewatt."


Arsen menatap Asya, "mau?" Asya mengangguk ragu.


"Yaudah ayo beliii."


"Gue mau, Senn. Bayarin yaaah?" Azril memasang puppy eyes-nya.


"Astaghfirullah najis banget liatnyaaa, iya gue bayarin."


"Gue juga mauuu!!"


"Oke delapannn." Asya keluar pagar, ia memesan siomay. Arsen menyusulnya.


"Gue aja yang bayaarr." Ujar Asya.


"Apa pula lu? Gue ajaa."


"Gakk, gue aja. Gue juga mau beliin bodyguard nya daddy."


"Yaudah sekaliann! Biar gue aja, udah tanggung jawab suami buat bayarin istri."


"Prettt!" Arsen tertawa kecil mendengarnya. Tak lama kemudian pesanan siomay selesai, Arsen dan Asya patungan untuk membayar.


Arsen sudah menolak, tapi Asya tidak terima. Jadinya patungan.


"Lu bawa yang punya mereka, gue mau kasih ke para bodyguard." Arsen mengangguk.


Asya pun membagikan nya pada bodyguard. Setelah selesai Asya kembali ke perkumpulan.


"Eumm, enak. Btw ntar malem siapa jadinya yang bayar??"


"Patungan ajaa. Kan gak ada yang menang juga gak ada yang kalahh." Jawab Haikal.


"Nah benerr!"


"Okee, tar malem yaa."


"Pertanyaan gue gini, lu boleh keluar kagak?!" Tanya Arsen pada Adinda.


"Eem.. boleh lah, tenang aja."


"Usahakan izin, jangan cabutt." Adinda mengangguk.


"Yuna mau balik dulu apa nginep sini aja? Pake baju gue."


"Gak usah kak, balik ajaa. Segen lah gue pake baju mahall."


Asya tertawa, "mahal dari mana? Gak ada yang sejuta baju gue."


"Iyain aja iyain!" Sahut Dino.


"Permisiii.." Mereka menoleh.


"Gue tetangga sebelah, mau ngasih kue ini dari nyokap."


"Aaa.. lu yang tadi liatin kan??" Tanya Asya.


"Eh? Emang nampak?"


"Nampakkk, mata gue tajem. Thank you kuenyaa." Wanita itu mengangguk.


"Kenapa gak samperin dari tadi?" Tanya Azril.


"Gue.. pemalu." Mereka mengangguk paham.


"Nama lu siapa?"


"Gue Arallya Zahicha, bisa panggil Ara atau Icha."


"Inisial A emang serbuk berlian semua. Inisial R meresahkan!"


"Bacooott. Bytheway, si Ical kenapa ya? Ada yang bisa kasih pencerahan?" Tanya Racksa meledek.


Haikal langsung tersadar.


"Ape siii?!"


"Wah ini yang di namakan jatuh cinta pandangan pertama." Ledek Dino.


"Ekhm ekhm... PANDANGAN PERTAMA AWAL ICAL BERJUMPAAAA."


"Jreng jreng jreengg!!"


"SUNGGUH KARENA DIA—"


"Asssoyy!"


"Ngapa jadi dangdutan si woiiii?!"


"Hahahaha!!"

__ADS_1


__ADS_2