
Sedang bertanya-tanya, apakah banyak yang tidak suka dengan kapal Azril dan Naina? Mengapa part mereka sepi syekaliih? ಥ﹏ಥ Mengsedihh karena sepi ╥‿╥
Happy reading ')
...ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ...
..."Setiap kesalahan bisa dimaafkan tapi tidak semua kata maaf bisa menghapus lukanya."...
...ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ...
"Kak Fauzi tuh kemana ajaa sih?? Kenapa pergi dinas gak bilang bilang sama Taraaa?!"
"Tara kecewa sama kakak!"
"Kakak lebih kecewa sama kamu! Kamu bisa mikir gakk? Siapa dulu yang mau temenan sama kamu selain Asyaa? Gak adakan!"
"K-kok kakak belain Asya sih?"
"Gak ada yang kakak bela disini! Kakak gak tau kenapa kamu bodohh banget sampe hianatin temen kamu sendiri. Kamu gak inget dia pernah rela taruhin nyawa demi nyelamatkan kamu dari lantai tiga? INGET GAKK?!" Tara menundukkan kepala.
"Lagian Asya juga–"
"Asya juga apa? Asya juga songong? Asya juga sok berkuasa?"
"Kalau dia songong dia gak bakal mau temenan sama kamu dan cuma bully kamu. Dia sok berkuasa? Kalau dia gitu, dia gak bakal bayarin kamu apapun dan terus morotin uang kamu. Capek kakak liat kamu, gak habis pikir kenapa sebodoh ini."
"Gak usah bicara sama kakak sebelum minta maaf secara resmi sama Asya!!"
◕◕◕
"Gue yakin, mereka pasti katarak!" Naina tertawa.
"Awas keselek, makan dulu aja, yaa. Kita ngobrol nantii."
Mereka berdua pun makan dengan penuh keheningan. Azril lebih suka begini, tapi jika dirumah tidak akan ada keheningan karena si singa betina.
'Aah yaa, singa betina! Dia udah makan belum, yaa?' batin Azril.
Selesai makan dan mencuci tangan, ia mengambil ponsel kemudian menghubungi Asya.
kyutnunaa
last seen today at 09.43
^^^nunaa, mau nasi ampera gakk??^^^
"Mantep, langsung onlinee."
kyutnunaa
online
MAU MAUUU. PAKE LAUKK IKAN NILA BAKAR 2 YAAA!
^^^satu aja napasiii?^^^
kan ada Arsen begook.
^^^kongsi ajalahhh, biar sweet.^^^
niat beliin gak si?
^^^ㅋㅋㅋㅋ^^^
^^^iyaa iyaa, ntar gue beliin.^^^
^^^eehhh, woii!^^^
apaaa?
^^^Racksa??^^^
anak tu lagi lulurannn, bentarr gue tanya.
Sambil menunggu Asya membalass, Azril membuka aplikasi lain.
Ting..
****kyutnunaa****
online
bangsulll, dia luluran dan tadi keluar hanya menggunakan handuk sepinggang.
^^^lu ngintip?^^^
ga sengaja liat perut kotak kotak yang hampir membuncit.
^^^bangsattt, ngakakk guaaa!^^^
hati hati di kata gila.
oyaaa, dia mau lauk ikan rebus.
^^^jangan ngada ngada tololll. gue tampol mauuu?!^^^
axixixi.
ikan nila sambal.
^^^okeee, gue agak lama.^^^
jangan kelamaan anjerrrr.
^^^dih, udh dibeliin. ngamok pula  ̄へ  ̄^^^
ikhlas ga si bngst?
^^^ikhlas nunaa. ikhlas kok ´・ᴗ・`^^^
cepat pulanggg!
^^^y!^^^
"Lagi liatin apaaan? Dari tadi asik bangett." Tanya Naina, ia baru selesai makan.
Azril menoleh kearahnya, "aahh ini Asyaa. Kembaran guee." Naina berohria.
"Yangg waktu itu di kafe kann?"
"Iyaa, yang malam takbiran kita ketemu juga di kafe. Dia cewek sendiri tuhh kalau gak salah."
"Aaa ituu, mukanya positif vibes banget. Pas malam takbiran ituu temen lu semua apa gimana?"
"Sepupuu ituu. Semuanya sepupu guee."
"Waw rameee."
"Rame bangett, recok bangett. Capek gue kadang dengernya." Naina tertawa kecil mendengarnya.
"Tapi asik lohhh, ramee. Btw, Asya cewek sendiri?"
Azril berdehem, "dari generasi ke generasi, keluarga gue emang susah gitu dapat anak perempuan. Nyokap gue dulu juga anak dan cucu perempuan satu satunya di keluarga."
"Oooo, gituuu. Enak lahh di lindungi gituu."
"Iyaa, tapi kadang yang bersangkutan gak mau di lindungi. Selalu bilang bisa ngelindungin diri sendiri."
"Termasuk Asyaa?"
"Hmm, termasuk dia. Yaaa emang dia bisa dalam segala hal sih, jadi ngelindungin dia gak terlalu berfaedah."
"Tetep harus di lindungi tauu, diakan cewek."
"Udah punya pelindung diaa, eumm.. rajanya?"
"Maksud lu pacarnya?"
"Di bilang pacaran sih gak pacaran. Ntah lah, gue juga bingung hubungan mereka apa. Tapi yang jelass, Asya udah jadi ratu di mata rajanya."
"Lu sendiri, udah ketemu ratu?"
"Udahh."
"O-ooo, udahh. Siapaa?"
"Lu."
Naina terkejut mendengarnya, ia menatap Azril yang juga sedang menatapnya.
"G-guee pesen yang untuk dibungkus duluu."
Naina pergi begitu saja.
Ditempat yang didudukinya, Azril tertawa. Ia gemas melihat Naina malu-malu seperti tadi.
Teringat pesanan nuna nya, Azril menyusul Naina.
"Lauk ikan nila bakar pake nasi dua sama ikan nila sambal juga pake nasi satu. Dibungkus ya, Bu."
"Okee."
Naina menatapnya heran, "buat siapaa?"
"Asya, rajanya, samaa abang sepupu gue. Lu udah mesen? Mesen apaa?"
"Ayam gulai, gak pake nasi." Azril mengangguk paham.
"Ni pesanannya, Dek."
"Sama yang tadi makan disini jadi berapa, Bu" Tanya Naina. Penjual itu menyebutkan nominalnya, Naina mengambil dompet untuk membayar.
Belum sempat Naina membuka dompet, Azril sudah membayarnya.
"Loh, tapi...?"
"Makasih, Buu. Ayokk," Azril memegang tangan Naina dan mengajaknya pergi.
"Gue yang mau bayar tadiii. Gue ganti ke lu dehh."
__ADS_1
"Heeehh, gak usahh. Udah kewajiban calon suami bayarin calon istrinya."
"Apaan cobaa?!" Azril tersenyum meledek melihat Naina malu-malu.
"Kalau dibungkus lebih cepat, yaaa?"
"Iyaa. Karena gak perlu piring, tinggal bungkus."
"Bukannya lebih ribet pake bungkus gitu?" Tanya Azril.
"I don't know, maybe yang jual lebih ahli bungkus membungkus."
"Mungkin begitu."
"Eh, itu siapa?"
Azril menoleh. "Kejaa?" Mereka menghampirinya.
"Jakk!"
"Huahahaa, ternyata benerr dugaan guee. Ini motor lu."
"Whyy??"
"Gue mau balapann, pinjem motor ya!"
"Guee pake apaaa, Jakk?"
"Mobil guee."
"Ahh, merusuhh. Mana kuncinya?"
"Yuhuuu. Nihh, hati-hati lohh. Mobil gue mahal."
"Bacot luu! Awas aja sampe motor gue lecet, gue tampol kanan kiri seratus kali."
"Kebalikannya, yaaa?!" Tanya Keja menggoda.
"Yaa!"
"DEAL!" Keja bersemangat.
"Ini cewek cantik, siapaa?"
"Nainaa."
"Oh yang it–"
"Diem!" Keja senyum meledek.
"Halo, Naina. Gue Kejaa, sepupu tertampan di keluarga Azril."
"Dih, najiss!" Azril menarik Naina pelan dan mengajaknya ke mobil.
"Takut banget gue tikungg."
◒◒◒
"Syaa."
"Eumm?" Asya menoleh sekilas kearah Arsen.
"Lu kuliah dimana sihh?"
"Eemm.. bisa ke London ikut Ical sama Dino, atau mungkin keee Pariss ngintil Pak Caka. Bisa juga ke Swiss barengan Apin. Whyy?"
"Seriuss dehh, kuliah dimanaa?" Tanya Arsen mencoba sabar.
"Koreaa."
"Seriously?"
"No no, i'm kidding. Gue kuliah di Indonesia."
Arsen tersenyum senang.
"Ngapa lu senyum senyumm? Lu sendiri dimanaa?"
"Kairoo atau mungkin ke Amerika?"
Asya menyipitkan matanya yang sipit, "gue seriuss ish!"
"Gue juga serius, cantikk."
"Yang beneeerr! Seriusnya kemanaa?!"
"Seriusnya kehatimu."
Asya menatap kesal Arsen lalu mendorong muka Arsen dengan tangannya yang mungil.
"Gosa bicara sama guee!"
"Yailaahh, cantiknya Arsen ngambekk."
"Kita gak kenaall!" Arsen tertawa mendengarnya.
"Assalamu'alaikum!!"
"Bukannya jawab salamm."
"Oyaaaa, waalaikumsalam." Asya cengengesan.
"Guee ke kamar bentar, yaa!" Asya berdehem sambil meletakkan nasi bungkusnya diatas piring. Tapi tetap berada di kertas nasinya.
Ia juga melakukan hal yang sama untuk Arsen. Setelah itu dia membawanya ke ruang keluarga.
"Thank you, sayaang." Asya tidak menjawab, ia makan dengan tenang.
"Ishh, pedesss." Arsen menoleh kearah Asya yang keringatan. Ia meletakkan piringnya ke meja lalu pergi ke dapur mengambilkan air mineral.
"Pelan-pelan, ati-ati durinya ketelan." Asya mengangguk.
Mereka makan dengan tenang, benar benar tenang. Itu karena Asya yang kepedasan, jika tidak mungkin dia akan mengoceh.
Asya meletakkan piringnya di meja setelah makan. Gak kuatt diaaa karena kepedasan.
"Masih kepedesan?" Asya mengangguk. Arsen menyodorkan minumnya.
Sampai habis minum Arsen pun, Asya tetap kepedasan. Hanya susu obat penawarnya saat ini. Sesudah meletakkan bekas makannya dan Arsen, Asya mengambil susu.
"Mau jugaaa nggakk??"
"Mauuu." Asya membawa dua susu, ia memberikan kepada Arsen susu yang satunya.
"Lu kok keknya gak kepedesann?!"
"Gue kepedesann, gak banyak minum karena ntar yang ada kekenyangan."
"Iya sii, gue kekenyangann." Asya mengusap perutnya.
"WOII, NGAPAIN USAP PERUTT?! ADA ARSEN JUNIOR?"
"Gila kau kurasaa." Cibir Asya kesal, Alvin dan yang lain tertawa.
Yaa, mereka kembali setelah beberapa jam pergi. Semuanya sudah ada disini.
"Diizinin??"
"Ada deeehh."
"Kamprett."
"Azril sama Racksa mana?" Tanya Ara.
"Azril dikamarnyaa, Racksa main game keanyaa."
"Nggak lahh, gue makan kue disinii." Azril dan Racksa makan dengan santai di ruang tamu.
"Kok gak keliatan ya tadi??" Tanya Haikal heran.
"Kita gak noleh tadii."
"Lu udah izin, Sa??"
"Dahh."
"Pake kertass?" Tanya Yuna, Racksa mengangguk.
Racksa mengambil ponsel lalu menunjukkan buktinya. Ia menulis surat dengan tangan lalu mengirimnya pada Aksa dan menyuruh Aksa tanda tangan.
Luar biasa IQnya!
"Bokap nyokap diluar kota, tempat Tante Yuka. Makanya gue izin begini. Yang penting ada tanda tangan." Jelas Racksa santai.
"Semerdeka dia ajalah, yaa!"
"Bentar, gue panggil daddy." Asya memberikan bantal sofa ke Arsen kemudian pergi menemui daddy nya.
Tok tok!!
"Daddyyyyy."
"Kenapaa, sayaang?"
"Udah ngumpul semuaaa tuhh."
"Suruhh ke ruang keluarga lantai tigaaa."
"Asiaappp." Asya kembali turun dan menyampaikan pesan Aska. Lalu naik lagi menuju ruangan yang di suruh Aska.
Melelahkan!
Bisa ajaa tadi kirim pesan lewat chat!
Drrtt... Drtt..
Ponsel Asya berdering.
"Siapaaa?" Asya tidak merespon.
__ADS_1
...Unknown...
...+62853677xxxxx...
📞 "Halo, assalamu'alaikum."
^^^"Waalaikumsalam, siapa??"^^^
📞 "Tara."
^^^"Ohh, Taraaa. Kenapaa? Ngajak gelut lagiii?"^^^
"Heh, heh! Loudspeaker!!" Asya menuruti perintah Dino.
📞 "Nggak. Gue mau ngajak lu ketemu, bisa?"
^^^"Gue sibuk. Mau bicarain apaa?"^^^
📞 "Kita ketemu ajaa."
^^^"Udah gue bilang, gue sibukk!"^^^
^^^Asya mendengar Tara menghela nafas.^^^
📞 "Gue sampein dari telepon."
📞 "Gue minta maaff untuk penghianatan kemaren."
^^^"Udah gue maafin. Dahkan? Gitu doang? Gue sibuk, bye!"^^^
Asya langsung memutuskan panggilan.
"The goblokk girl." Cibir Alvin.
"Whyy??"
"No what whatt."
"Harusnya kamu gak ketus gitu, Sya." Zia muncul bersama dengan Aska.
Aska menatap sinis Zia, "yaa bagus lah Asya ketus. Setiap kesalahan bisa dimaafkan tapi tidak semua kata maaf bisa menghapus lukanya."
"Tapikan–"
"Emang kamu mau anakmu dihianati lagi untuk yang kedua kalinya? Aku sih nggak, aku nggak mau anakku ataupun temen-temen anakku ngerasain penghianatan."
"Yaa, belum ten–"
"Belum tentu berhianat? Penghianat, sekalinya berhianat bakal terus berhianat."
Plak!
Aska meringis kesakitan karena tangannya dipukul Zia.
"Apaa salah kuu, sayaaang?"
"Kesel aku tuuu, ngomong dipotong muluu!" Aska menanggapinya dengan cengiran khasnya.
Ia menoleh kearah Asya dan temannya yang sedang menahan ketawa. "Ehm!"
"Udah ngumpul semuaa?"
"Udahh, Om." Shaka mewakili, mereka mengumpulkan surat izin dimeja. Aska dan Zia membacanya satu persatu.
"Gimana kesepakatan? Satu gak diizinin, bakal tetap pergi?"
"Nggak, Om. Satu gak diizinin, gak bakal ada yang pergi." Jawab Alvin.
"Nahhh, benerr." Sahut Dino.
"Berarti kalian gak jadi pergi."
Mereka menatap serius Aska.
"Tapikan semuanya diizinin, Dadd."
"Racksa punya udah di kirimkan ke wa nya auntyy."
"Iya udahh. But, papa mu berubah fikiran, kamu gak diizinin ke Jepang."
"Lahh??"
"Tadii..."
"Berubah fikiran."
Mereka pasrah.
Berbeda dengan yang lainnya, Arsen malah menatap Aska dengan penuh tanda tanya.
Aska sadar itu, ia merasakannya. Tapi, Aska memilih untuk tetap diam.
"Okeeyy, gak jadi ke Jepang. Cari tempat wisata lainn." Ajak Haikal.
"Dalam negeri aja gak sihh? Indonesia banyak tempat wisata juga, kann?" Tanya Ara.
"Setujuu. Eumm, Bali??"
"Atau kita muncak ajaa gimana? Daki gunung?" Sahut Alvin.
"Nahh, ide baguss." Kata Asya.
"Ide bagus apanya? Kamu pulang nanti kecapekan, merengek ke daddy." Ujar Aska santai sambil memakan kue lebarannya yang juga tersedia disana.
"Emang Kak Asya kalau kecapekan merengek, Om?" Tanya Yuna.
"Eeem.. dia kalau kecapekan super duper manjaa. Sampe sekarang om juga heran kenapa Arsen tahan sama ni anak."
"Astaghfirullahalazim, daddy. Solimi sekalii!" Aska cengengesan dan yang lain tertawa.
"Bali aja, ke Bali. Daddy Asya punya hotel disanaa, papanya Haikal juga punya villa kann? Nanti kalau mau kesanaa pake helikopterr."
"Diskusikan aja duluu, kalau butuh bantuan panggil, Om." Aska bangkit dari tempat duduknya.
"Daddy tinggal duluu, jangan mabukan lagi!! Sempat mabuk lagii, masuk ruang bawah tanah!"
Mereka menelan ludah mendengarnya.
Masuk ruang bawah tanah bukanlah hal yang menyenangkan pemirsaaa.
"Akur akur, yaa!" Zia dan Aska pergi bersama.
"Yaahhh, gagal ke Jepangg."
"Gapapa gapapaa, mari cari destinasi lainn!!"
"Kemanaa gaiss?" Tanya Dino.
"Puncak ajaaa, yuuuu."
"Gue sih pengennya ke Balii." Sahut Asya.
"Samaa!" Asya dan Ara bertos ria.
"Yaudahhh, ke Bali aja gimanaa?" Tanya Alex.
"Gue sih, yess!"
"Assalamu'alaikum!!" Mereka menoleh, ohh ternyata Kejaa.
"Waalaikumsalam."
"Haiiyyy, Kejaaa!" Keja melambaikan tangannya.
"Sok artis banget anjirr, geli gue liatnya." Cibir Arsen.
"Wahaaa abang sepupu ipar kurang hajarr!" Arsen cengengesan.
"Ngapain lu kemari?" Tanya Alvin.
"Bang Alpinn, auhhh, Bang Alpinnn. Kurinduuuhh!!"
"Najisss anjirrr, pliss. Aiiii, gelii gueeeeee!" Mereka terkekeh melihatnya termasuk Keja.
"Ngumpul gak ngajak gue lu pada!"
"Sok kenal pulakkk budak satu nii." Sindir Azril.
"Nak ngennn– nih kunci luu!"
"Baik baik ajakann?"
"Hmm! Thank you lohh, berkat lu gue dapat sepuluh juta."
"Njaayy, bisa dongg traktirrr." Kata Dino menggoda.
"Aawww, call aja Bang Dinn, kemana lu mau kita pergi." Goda Keja sambil mengedipkan mata.
"Nak anjj. Jangan begitu napasiiik, geli bangsaatt!" Keja terkekeh.
"Lu bedua ketemu tadii?" Tanya Arsen.
"Hmm, di rm amperaa. Dia sama cewek yang waktu itu, yang malam takbiran ketemu di kafe."
"Nainaa?" Keja mengangguk.
"CIEEEE CIEEEE. YANG BENTAR LAGI DI TAMPOL SAMA ONGKEL ZEEEEE." Ledek Asya.
"Apa pulak?" Tanya Haikal.
"Ongkel Zee bilang, kalau Azril masuk tengah bakal di tampol."
"Huahaha, saya tidak sabar melihatnya."
"Janlup di live streaming!" Titah Ara.
"Mari kita tertawa jahat."
"HUA HA HA HAA!"
__ADS_1
"Kek orang stresss lu padaaa!"