Barbar Generation

Barbar Generation
Pasar tradisional


__ADS_3

Author POV


19.14


"Eeeh anjirrr la, gue pake baju apa ini??"


Asya pusing tujuh keliling karena baju. Bajunya banyak, tapi dia tidak tau ingin pakai baju yang manaa.


"Woii anak stress lu ngapainn?" Azril tiba tiba muncul mengejutkan Asya.


"Gue bingung pake baju apa"


"Sebanyak itu la gila, tinggal pilih satu langsung pake. Lo mau kemana sii?"


"Keluar bentar bayar utang sama Arsen"


"Woppp lajuuuu" Racksa langsung ikutan muncul.


"Anak gaib"


Racksa tertawa. "Jadi ceritanya lo bingung pake baju apa karena mau nge-date sama Arsen?" tanya Racksa dengan nada mengejek.


"Bukan nge-date bangkeee, gue bayar utang"


"Ngedate iming-iming utang" cibir Azril.


"Lu bedua keluar deh, makin pusing pala gue liat lu bedua"


"Yeee bangsatt sinis amattt"


"Jangan pake baju seksi loo" ujar Azril.


"Jangan pake yang ketat dan tembus pandang" sahut Racksa.


Berbarengan mereka keluar.


"Sejak kapan gue suka pake baju nganeh nganeh kek gitu?" tanya Asya heran.


"Gue peakk bangett milih baju, gak kek emak yang instagramable bingittt" gumam Asya.


Akhirnya, Asya memilih baju putih dengan bawahan jeans, dia menambahkan jaket levis dan sepatu sneakers putih.


Drrrttt drrttt...


Asya mengambil ponselnya.


...- Biawak -...


πŸ“ž "Assalamu'alaikum, sekitar lima menit lagi gue nyampe. Lu udah siap kan?"


^^^"Waalaikumsalam, hah? Apa? Mau kemana??"^^^


πŸ“ž "Sya!! Lu astaghfirullah, nyebelin banget sumpah"


^^^"Hahaha, gue lagi siap-siap"^^^


πŸ“ž "Gue udah nyampe nii"


Asya mematikan panggilannya, dia langsung berjalan keluar rumah mengabaikan panggilan dua pria jones.


"Haiii" sapa Asya.


"Lu kok cantik banget sii?"


Asya tertawa, "Sa ae lu biawak"


"Lo juga tumben banget ganteng gini?" Tak bisa di pungkiri, Arsen memang tampan malam ini.


"Tiap hari gue emang ganteng"


"Pede amatttt pakk" Arsen tertawa.


"Berangkat sekarang nih??"


"Terserah lu"


Arsen pergi ke sisi mobil, ia membukakan pintu untuk Asya. "Masuklah" Sembari tersenyum, Asya masuk ke mobil Arsen.


Arsen menyusulnya di kursi pengemudi, "Sabuk pengaman jangan lupa"


Asya langsung memakainya.


"Bismillahirrahmanirrahim" Arsen menjalankan mobil.


"Kok.. mobil lu agak lain dari biasanya, sen?" Asya tau itu karena tiap ke sekolah selalu melihat Arsen dengan mobil favoritnya.


"Ini mobil favorit nyokap, mobil kesayangan gue. Gue jarang pake. Bahkan ini yang kedua kalinya gue pake setelah nyokap wafat"


"Serius? Masih bagus yaa"


"Di servis mulu sama om gue, ya bagusla jadinya"


"Tadi lo bilang dua kali pake, berartii selama ini kalau lo jalan sama mantan lo pake mobil yang biasa lo pake?" Arsen mengangguk.


"Ini mobil gue pake ke orang spesial, contohnya lu"


"Ngardus dihh" Arsen tertawa.


"Jadi kita mau kemanaa?"


"Terserah lo, kan lo yang ajakin keluar. Lo juga yang minjem waktu gue"


"Yaudah kalau gituuu gue pengen nonton bioskop"


"Nonton apaa??"


"Ntar liat aja disanaa, apa yang enak" Asya mengangguk setuju, Arsen melajukan mobil menuju mall.


β–ͺβ–ͺβ–ͺ


"Horor aja"


"Jangan lahh, romance ajaa"


"Horor ajaaa la, senn"


"Romance"


"Lu takut, yaa?"


"Gue gak suka horor karena horor. Lebih baik romance"


"Kita ambil jalan tengah aja deh ya"


"Komedi!!" mereka berdua kompak.

__ADS_1


"Oke fikss, komedi"


"Nah, pake ini" Arsen menyodorkan kredit cardnya.


"Gue bawa duit jugaa"


"Asya, di mana mana kalau cewek jalan sama cowok yang bayar cowoknya. Lagian gue yang ngajak lu keluar, jadi pake duit gue aja"


"Gue yang beli pop corn nya nanti"


"Udah sono beli tiket"


Ketika Asya membeli tiket, Arsen pergi membeli pop corn dan minuman. Dia kembali bertepatan Asya yang kembali.


"Licikk!! Kan gue bilang gue yang bayar pop corn"


"Bawel dih, nih minum" Asya menerima minumnya, mereka masih menunggu waktu.


"Arsen" Yang di panggil berdehem.


"Gue gak sengaja"


Arsen menatap heran Asya, "Gak sengaja liat. Itu tadi resleting celana lu kebuka"


"Hah???" Asya membelakangi Arsen.


Arsen kembali menutup resleting celananya, 'anjirr anjirr, malu bangett sattt!!'


"U-udah?" tanya Asya.


"Udah aman," Asya bernafas lega lalu berbalik.


"Ayok masuk"


Satu jam kemudian, mereka keluar masih sambil terkekeh.


"Gila gue sakit perut" keluh Asya.


"Kenapaa? Lo sakittt?" Arsen panik.


"Kagak la, itu tadi film-nya. Capek ngakak gue" Arsen tertawa melihat Asya.


"Aduhh, udahlah. Ntar gue ngompol" Asya menjeda tawanya. Menarik nafas lalu mengeluarkannya perlahan.


"Udah??" Asya mengangguk.


Arsen mendekat, ia merapikan rambut Asya. "Ketawa lo mood banget di gue, nular kek virus"


Asya menatap Arsen lalu tertawa kecil, "Dasar biawak"


"Abis ini kemanaa?" tanya Asya mengalihkan pembicaraan.


"Lo nurutin permintaan gue kan? Sesuai yang lu bilang kemaren??" Asya mengangguk.


"Gue mohon jangan nganeh-nganeh"


Arsen tersenyum, "Nggak lah"


"Jadi lo mau apa lagi??"


"Emm.. lu tau sendiri gue kea patah hati gitu di selingkuhi. So, ajakin gue ke tempat-tempat yang menurut lo asik, nyenengin dan gak ngebosenin"


Asya mengangguk paham lalu menengadahkan tangannya, Arsen ikut menengadahkan tangannya.


Asya menatapnya kesal, "Maksudnya apaa?? Minta duit??" tanya Arsen.


Arsen cengengesan,"Bilanglah" Ia mengeluarkan kuncinya dengan menengadahkan tangannya lagi. Asya mengambil kunci lalu menggenggam tangan Arsen.


"Ayookkk ikott" Asya menarik tangan Arsen keluar mall.


"Mo kemana njirrrrr?!"


"Ikut ajaaaa"


Arsen yang ditarik pun diam mengikuti langkah kaki Asya, matanya terus menatap tangan Asya yang menggenggam tangannya.


Arsen deg-degan hanya karena tangannya yang di genggam.


'Gue bener-bener jatuh cinta sekarang??'


βš›βš›βš›


"Syaa, lu kalo mau mati jangan ngajakk guaaaaa" Arsen terus merengek karena Asya membawa mobil dengan kecepatan di luar batas.


"Bawell dih penakuttt" ledek Asya.


"Sumpah lu gilaaaaaaaa. Mamaaa Arsen nyusullll"


Pletakk!


Asya memukul paha Arsen.


"Gada otakk lu ihhh. Gak usah takuttt, gue jamin deh lu kagak bakal mati mudaa" ujar Asya sambil tersenyum. Arsen memandang kagum senyum Asya.


"Lo udah sering kebut-kebutann??" Asya menggeleng.


"Sering sih enggakk, cuma beberapa kali. Jarang lahh keknya"


"Sejak kapann??"


"Smp, sejak smp gue kebut-kebutan. Itupun karena si Apin, karena enak gue sering nyoba deh"


"Apin siapaa?"


"Squad JL, sahabat dari orok" Arsen berohria.


"Ngeriii anjirr lo.. wah singa betina"


"Lo emang gak pernah?"


"Ya sering lahh, tapi kalau di kursi penumpang baru kali ini. Sumpah, mendadak takut mati" Asya terkekeh.


Cittttt...


"Asyaaa!!"


"Sans bro sansss"


"Huftt.. untung di belakang gak ada mobil yaaa"


"Hehee, kelewatan sihh tempatnya gara-gara lu ajakin gue ngobrol" Asya memutarbalikkan mobil.


Sekitar sepuluh meter setelah berbalik Asya membelokkan mobil Arsen. Ia membawa Arsen ke pasar tradisional.


"Udah sampee"

__ADS_1


"Aneh lu? Pasar?? Ini kagak ada asiknya"


"Lo belum tau sii, udah ayok turunn" Mereka berdua turun dari mobil.


"Ada pulak pasar bukanya malem"


"Ini dari sore"


"Lo tau darimana??" tanya Arsen.


"Asya serba tauu lah. Ayok masukk"


Arsen dan Asya masuk ke dalam pasar tradisional itu. "Ramee yaa"


Asya mengangguk, "Lo laper gakk?" Arsen menggeleng.


Kriuk.. Kriuk...


"Kang tipu. Gue tau lu gak mau karena gak higienis, tapi gue rasa persepsi lu salah. Pasar ini higienis, makanan nya juga enak"


"Yakin?" Asya mengangguk.


"Ayok makan disitu"


Asya mengajak Arsen makan di warung nasi.


"Lo mau lauk apa??"


"Emm.. Ayam bakar aja deh"


"Bude ayam bakarnya dua yaa" Penjualnya mengangguk.


Asya mengajak Arsen duduk di tempat yang disediakan.


"Iya juga si, mejanya aja gak bedebu" ujar Arsen.


"Tuhkan, makanya jangan ngeyell"


"Ini mbak ayam bakarnya"


"Makasih budee" Bude itu tersenyum lalu pergi ke tempatnya lagi.


"Padahal rame ini, laju juga yang jual"


"Cobain gih" Arsen meraih sendok, Asya menahannya. "Pake tangan lebih ber-sensasi"


Arsen menyelupkan tangannya di baskom kecil berisi air, ia pun mulai membelah ayamnya lalu memasukkan ke mulut bersamaan dengan nasi.


"Gimana??"


"Enakk anjirrr"


"Gue tau enakk" Asya melakukan hal yang sama dengan Arsen.


"Mas mbak nya mau minum apaa?"


"Lu apa, sen?"


"Es jeruk aja deh"


"Es jeruknya dua" anaknya bude tadi pun pergi menyiapkan minuman.


"Lo sering kesini??" Asya mengangguk, "Waktu SMP"


"Sendirian??"


"Samaa pembantunya bokap. Pokoknya tiap dia bilang mau belanja ya gue ikut" Arsen berohria lalu melanjutkan makannya.


Lima belas menit kemudian mereka selesai makan. "Gue kenyang" ujar Arsen sambil leyeh-leyeh.


Asya tertawa, "Gue bayar"


"Gue ajaaaa"


"Ssstt diem, gue aja"


"Tap--" Asya langsung pergi.


Lima menit kemudian dia kembali, "Ayok"


"Kemana lagii??"


"Lantai atas"


Arsen mengikuti Asya, mereka berjalan santai.


"Sen, lu mau itu kagakk?" Asya menunjuk es goreng.


Fyi, es goreng kalo disini es yang di celupin ke coklat terus dikasih seres, enakk woiii sumpah tapi udah langka di sini :)


"Rasanya apa??"


"Rasanya ahh mantapp" Arsen menatap sinis Asya.


Asya cengengesan, "Enakk rasanyaa"


"Pak, es nya dua"


"Oke, neng"


Hanya butuh waktu lima menit, es mereka sudah jadi. Asya mengeluarkan dompetnya.


"Gue ajaaa, lu udah tadi"


"Berapa, pak??"


"Goceng aja" Arsen mengeluarkan uang sepuluh ribu di dompetnya.


"Ambil aja kembaliannya, pak"


"Alhamdulillah, makasih yaa nakk. Semoga kalian langgeng sampe kakek nenek ya"


Asya tersenyum canggung, "Cuma temen, pak"


"Bentar lagi jadian pasti, neng. Kalian serasi banget lohh"


'Bapak ini ngelantur' batin Asya. Dia hanya tersenyum.


"Yasudah kalau begitu kami pergi dulu, makasih ya, pak"


"Iya sama-sama"


Asya dan Arsen pergi.


"Malu yaaa lu, salting yaaa"

__ADS_1


"Apaan siii, diem lu, biawak"


"Hahaha"


__ADS_2