Barbar Generation

Barbar Generation
Maen game


__ADS_3

Di keheningan malam dengan angin menerpa wajahnya, Arsen duduk di balkon apartemen.


Arsen memikirkan sesuatu yang terlintas di otaknya.


Asya


Itu nama yang melintas di otaknya.


Arsen mengingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Asya di McD waktu itu. Arsen mengingat saat-saat Asya menarik dasinya ketika mau berantem.


Arsen membayangkan wajah Asya yang tertawa, wajah Asya yang tersenyum dan wajah Asya yang menggemaskan.


Tanpa sadar Arsen senyum-senyum sendiri karena Asya.


"Ar, waras kan?" itu paman Arsen.


Abang dari ibunya. "Ya waras lah om, waras banget malah"


"Terus ngapa senyum-senyum sendiri? Ada cewek yang bisa buat kamu jatuh cinta?"


"Arsen gak yakin sih, om. Tapi liat senyumnya itu adem banget, di deket dia Arsen nyaman"


"Wah, playboy merasakan cinta yang sesungguhnya" ledek omnya.


Arsen tertawa. "Siapa sih memang? Pacar kamu yang tadi?"


"Jelas bukan lah, om. Yang tadi mah masih kalah jauh kalau soal nyaman"


"Lah jadi siapa?"


"Arsen kasih tau juga om gak bakal tau" Arsen cengengesan.


"Kalau emang demen, tobat kamu jadi playboy. Nanti waktu kamu mau serius sama satu cewek, om yakin, cewek itu bakal susah percaya sama kamu"


"Arsen tobat kapan-kapan aja om, masih menikmati"


"Ati-ati kena karma loh, Ar"


Arsen nyengir. "Arsen mau deketin tu cewek juga susah om. Anaknya dikelilingi cowok ganteng ganteng. Tadi aja Arsen ketemu dia sama cowok beda lagi"


"Heeh.. kamukan gak tau cowok itu siapa. Bisa aja sepupunya atau siapa nya gituu, cemen banget gitu aja nyerah"


Arsen menghela nafas. "Lagian, tu anak kayak udah benci banget sama Arsen"


"Kan kayaknya"


"Kalau nyatanya iya?"


"Em... berjuang aja dulu. Nggak deng, tobat aja dulu kalau emang niat"


"Oh iya, besok temenin om ke perusahaan. Kan besok hari libur"


"Lah?"


"Kamu harus ngerti seluk-beluk dunia perbisnisan. Perusahaan yang om kelola itu punya mama kamu, om cuma bantu biar kamu gak jadi gelandangan di luar sana"


"Makasih om, cuma om yang peduli sama Arsen ketika dunia benci sama Arsen"


〰〰〰〰


Pagi hari di kediaman Aska Kusuma.


Aska dan Zia kembali kerumah mereka dengan alasan Aska ada kerjaan yang gak bisa ditunda. Nyatanya, Aska ingin memberikan Zia hukuman.


Hukuman ranjang...


Asya, Azril punya adek?


Mungkin...


Iya


Wkwkw


Aska baru membuka matanya, dia melihat ke arah sang istri yang bersembunyi di balik selimut. Aska tersenyum bahagia sambil menggeser kan rambut yang menutupi muka cantik Zia.


"Semoga gak ada yang misahin kita kecuali maut ya, sayang" ujar Aska pelan tak mau mengganggu tidur istrinya.


"Iyaaa" Aska terkejut.


Istrinya ngigau?


Perlahan mata Zia terbuka juga. "Udah bangun ternyata, bangun jam berapa?"


"Dah dari tadi, cuma mager mau bangun" jawab Zia.


"Capek?" Zia mengangguk. Aska mengacak rambut Zia gemas.


"Kamu kok cantik banget sih?"


"Ya namanya Zia, gak Zia namanya kalau gak cantik" jawab Zia dengan pedenya.


"Iya deh iyaa, untung suaminya ganteng"


"Emang kamu ganteng?" Aska menatap Zia datar.

__ADS_1


"Dahlah"


Zia cengengesan lalu mendekat ke Aska mengecup bibirnya. Hanya ingin mengecup. Namun, Aska malah memperdalam ciuman mereka.


Tiga menit kemudian ciuman terlepas. "Kamu mancing ya?"


"Mancing apaan? Kan kita di kamar sayang bukan di kolam"


"Ck.. ayo jujur, mau lagi kan" Aska berpindah ke atas Zia.


"Apaannn nggak, heh ngaco"


"EONNII OPPAA ASYA DATANG BAWA SARAPAN DARI HALMONI"


Aska langsung menjatuhkan tubuhnya di sebelah Zia.


'anak akuw debess emang, menyelamatkan mommynya dari harimau jantan yang lagi ganas' batin Zia.


"EONNII OPPAA? ADA ORANG GAKSIII??"


"Tunggu aja dibawahhhh!! Nanti kami turunn" teriak Aska.


Zia bisa mendengar suara kesal Aska. "Satu aja deh, ya sayang"


"Eh apaan, anaknya udah nunggu tuh mau sarapan bareng. Mandi sana"


"Ck. Berarti kamu utang, nanti malem"


"Nggaaa"


"Kalau gitu sekarang"


"HYUNGG NUNAA BURUANNN LAHHH LAMAAA BANGETT" teriak Azril gantian.


Zia tertawa. "Anaknya udah kelaparan, sayang"


"Rusuh emang"


♧♧♧


"Kkumi.. kamu cantik sekali. Kalau aku goreng kamu apa rasanya?" Azril berbicara pada ikan laga kesayangan daddy nya.


"Rasanya sakit" sahut Aska.


"Akhirnya keluarrr" ujar Asya lega melihat daddy nya muncul. Pasalnya dia sudah sangat lapar dari tadi.


"Sakit? Sakit kenapa, daddy?" tanya Azril.


"Sakit karena kamu bakal daddy gebukin kalau sampe goreng Kkumi"


"Udahh ayok sarapan" ajak Zia. Mereka duduk di meja makan.


"Mommy tumben pake turtleneck. Kenapa? Mommy sakit?" tanya Azril khawatir di sela-sela sarapan.


'kalau kaga pake ini lu pada nampak keganasan bapak luu' batin Zia.


"Hah? Nggak kok. Cuma pengen make aja, kan kasian di lemari jadi pajangan doang" Zia berbohong.


Aska cengengesan mendengar alasan Zia. "Serius mom?" tanya Asya gantian. Zia mengangguk.


Zia melihat sinis ke arah Aska. Aska cengengesan lagi.


Lima belas menit sesudah sarapan, mereka semua berkumpul di ruang keluarga sambil bercanda ria.


Ting tong...


"Mbakk bukain"


Pembantu mereka membukakan pintu.


"WOI DIMAS KAMBEKK"


"Anjirrrre anak ajaib" cibir Zia.


"Tamu tak diundang" sahut Aska.


Dimas menatap datar keduanya, Aska dan Zia membalas dengan datar juga. Asya dan Azril tertawa melihat mereka bertiga.


"Lu betiga kenapa tatap-tatapan?" tanya Ivan yang baru masuk.


"Mau gelut tuh om" jawab Azril.


"Boleh juga nih, kebetulan gabut" Dino muncul.


"Eh?"


"Haiiy, kalian bedua makin makin yaa" puji Tania.


"Makin apa tante?" tanya Asya.


"Makin buriqq" bukan Tania yang menjawab tapi daddynya.


"Bapak gue sensi banget astaghfirullah"


Mereka terkekeh.

__ADS_1


"Lo pada datang kagak bawa apa-apa?" tanya Zia.


Ivan, Ica, Ical, Dimas, Tania, dan Dino menggeleng.


"Gak di terima. Sana pulang" usir Aska.


"Definisi temen laknat yang sesungguhnya" cibir Ica.


"Gue cabut ahhh"


"Dihh, Dimas baperannn!" ledek Zia.


"Emang iya tante, baperan banget" sahut Dino.


"Bongkar aib uang jajan potong setengah!"


"Papi gak boleh gitu, nanti Dino ngutang"


"Kamu ngutang? Gampang! Suruh aja Azril atau Asya yang bayar" jawab Dimas.


Aska menatap sinis Dimas, "Gini nih kalau otaknya hampir ilang"


"Hahahahaah"


▪▪▪▪


13.35


Mereka semua sedang battle game, tidak hanya cowok tetapi cewek juga.


Dari hasil suit Dimas, Azril, Ical, Tania, dan Asya dalam satu grup. Sedangkan Aska, Ivan, Dino , Ica, dan Zia berada di grup lainnya.


Mereka semua bukan seperti orang tua dan anak, melainkan seperti teman satu sama lain.


Meskipun begitu, Dino, Ical, Asya, dan Azril masih tau bagaimana tata krama dan sopan santun.


"Azrill kanann" teriak Haikal.


"Ck. Jauh lah, capek akuuu jalan. Ngertiin napaa"


"Malah curcolll" cibir Asya. Azril tertawa.


"Ehhh om, tanteee tolong Dinooo, masa iya mau dibunuh bokap sendiriii" keluh Dino.


"Cabut cepatt cabut.. bentar gue otewe kesanaa" Itu Ica.


"Besiap lah, Dimas!! Lo matii bentar lagi" Ivan dan Ica mengejar Dimas yang lari.


"Sok jadi pahlawan kesiangan lu bedua. Heran gue liatnya" cibir Aska.


"Om Aska juliddd bangett astaghfirullah" Aska tersenyum miring.


"Gak usah dengerin diaa, jangan sampe kalah sama tetangga" sahut Zia.


"Aibahh, Dino disini berasa jomblo akutt. Om Aska sama tante Zia beduaan. Om Ivan sama tante Ica juga gituu. Lah Dinoo?!"


"Sama gue siniii" ajak Asya.


"Langsung lu bunuh"


Asya tertawa.


"Gue disini macem bapak tiga anakk"


"Hahahah"


"Asyaa, Asyaa bantuinn tante" pinta Tania.


"Otewe tan" Asya langsung berbalik menghampiri hero Tania. Membantu menyerang Aska dan Zia.


"Heh kamu jangan durhaka ya Asya, malah bunuh orang tua sendiri" cibir Aska.


"Daddy meresahkan"


Aska mati dalam game.


"Yah yah sayang.. Kok mati sihhh?!" protes Zia.


"Kan tadi nyawa tinggal seupritt.. sabar tiga puluh detik lagi aku balik kita serang mereka bedua"


"Mana sempat keburu telatt"


"He'eh mana sempattt"


"Hahahahaha!! Cemen lu pada. Kita menang anak-anak"


"Kalau gue idup lu pada kagak menang" kata Aska.


"Daddy handsome, akui saja kekalahan"


"Kalau gitu... Ayok main lagi!!"


〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰


Aska adalah bapack-bapack yang gamo kalah 👎🏼🤣

__ADS_1


__ADS_2