
14.37
"Lu darimana ajaaa?! Lama bangettt anjritt" protes Dino.
"Ya maaap, nih pesanannya" Asya langsung pergi ke kamarnya untuk menutupi luka di sudut bibir.
Asya juga terkena beberapa pukulan tadi.
"Sya, tunggu!" Asya berhenti. Arsen berdiri, sedikit terpincang ia mendekat ke Asya.
Arsen mengangkat dagu Asya, "bibir lu kenapa?? Lu abis tengkar? Sama siapaa?"
"Hahh?" Dino, Haikal, Racksa dan Azril langsung melihat Asya.
"Itu.. tadi.."
"Jujur, jangan bohong! Lu kenapa? Siapa yang ngapainn?" tanya Arsen lagi.
"Tadi tu.. bantuin orang di gang. Dia di palak, jadi gue bantuin" jawab Asya.
"Lu lawan sendiri??" tanya Racksa, Asya mengangguk pelan.
"Berapa lawan?" tanya Haikal gantian dengan nada sinis.
"Enam"
"KENAPA KAGAK MANGGIL KITAAAA, peaaaak?!" tanya Azril kesal.
"Yee.. gue bisa sendirii kok. Toh jugaa--"
"Toh juga apa? Toh juga lu bisa lawan? Gitu?"
"Iyaa bisa, tapi bibir lu luka sekarang. Ada lagi gak sakit yang lainn?" tanya Arsen dengan nada kalem.
"Nggak kok, gue gak apa-apa. Seriuss dehh"
"Zril, kotak p3k mana?"
"Itu deket tipii" Arsen mengambilnya kemudian menarik Asya pelan menuju sofa, Arsen mengobati Asya.
"Luka kecil doangg"
"Diem" Asya langsung terdiam, nada bicara Arsen memang santai tapi terkesan tegas.
"Mata gue panass, mo beli doi ah besok" ujar Haikal sambil membawa tteokbokki dan yang lain ke dapur.
Racksa, Arsen, Dino dan Azril tertawa mendengar perkataan Haikal.
"Kartu gue mana??"
"Astaghfirullah!! Dimanaaa?"
"Heeee anak laknatt, jangan maen-maenn. Di pecat dari kk gue kalau ilangg" Asya cengengesan kemudian memberi kartu kredit Dino.
"Lu nolongin siapa sih tadi??" tanya Racksa.
"Nolongin orang, gak dikenal"
"Ngapain lu ikut campur? Kalau lu yang di apa-apain gimana?" tanya Azril sinis.
"Yee.. tenang ajaa. Darah bar-bar mommy mengalir derasss, lagian daddy kan sering ajarin silatt jadinya amaan"
"Ya tapi sama ajaa, lu sendirii mereka berkelompok!" sahut Dino.
"Udah lewat kok udah lewat, jangan pada merepet yaaa? Okee" Asya beranjak menuju kamarnya karena Arsen sudah selesai mengobati.
"Woii ini gimana masak nyaa?" tanya Haikal dari dapur.
Dino menghampiri Haikal, "buka yutub! Cepatt"
"Lu ajaaa"
"Abis kuotaa gue"
"Dih bacoott"
"Wifi ada nii wifii, sandinya greyhome no spasi" kata Racksa yang ikut ke dapur.
"Kenapa gak bilang dari tadi bambangg"
"Kan gak nanyaaa anjirr" Ketiga pria itu pun sibuk menonton youtube.
Ketika tiga pria tadi sibuk membuat makanan, Arsen dan Azril memilih bersantai di ruang keluarga sembari bermain playstation.
"Siapa kira-kira yang Asya tolongin?" tanya Azril.
"Nggak tau juga si, tapi, kenapa coba dia harus nolongin?"
"Tau lah Asya gimana, otaknya tinggal seperempat kan jadinya gitu"
Bugh!
"Mantapp, headshot" ujar Asya girang setelah melempar hoodie nya ke muka Azril.
"Setan emang" Asya tertawa.
Ia keluar memakai t-shirt berwarna coklat susu dan celana jeans yang tidak ketat.
"Sya, besok besok kalau ada kek gitu bagus lu ngehindar yaa!" suruh Azril.
"Di usahakan"
"Babuuuuu cepattt bantu cemana ini?!?" teriak Haikal dari dapur.
"Anjirr betul bah. Babu pulaa di bilangnya" cibir Asya sambil menuju dapur. Asya membuat tteokbokki untuk makan siang.
Setelah selesai ia bawa kembali ke ruang keluarga, mereka makan bersama.
__ADS_1
"Ishh.. perih anjj" keluh Asya pelan.
Arsen menoleh ke arahnya sambil memberikan air putih, "cemana gak perih.. bibir lu kan luka"
"Tu lah betingkah, kalau gak abis sini buat gue" pinta Dino.
"Kamprett manusia satu ini" Dino cengengesan.
"Jam tiga nanti kita keluar, ke tempat kang urut dulu tuh ngobatin kakinya Azril sama Arsen. Abistu ke mall" ajak Haikal.
"Ngapain ke mall?" tanya Dino.
"Mulung!"
"Ahnjing"
▪▪
Sesuai schedule, mereka sekarang sudah berada di mall setelah satu jam lebih menemani Azril dan Arsen mengobati kakinya.
Kaki mereka berdua sudah lebih mendingan, cara jalan mereka juga sudah sedikit normal.
Tiba di mall, mereka tidak langsung mencari hadiah untuk Alvin. Melainkan pergi ke tempat bermain di mall.
"Gue laperrr, cari makan yukk" ajak Dino.
"Gila emangg, beberapa satu setengah jam yang lalu kan abis makaan" jawab Arsen.
"Dinosaurus mah emang gitu" sahut Haikal.
"Gue masih kenyang" ujar Asya.
"Tumben gak kek biasanyaaa," ledek Azril.
"Diett bukk?" tanya Dino.
"Diett matamuu, gue diet jadi apa? Lidi?" Mereka malah tertawa.
"Beli es krim laaa yookk"
"Ayok dahh, gue yang bayar" Mereka bersamaan menaiki eskalator.
"Naaahh, lop sekebonn buat icaall" ujar Asya bahagia.
"Ini nii ciri-ciri bukan makhluk hidup melainkan titisan setan" Asya cengengesan.
"Di depan mall adaa tu yang jual es krim. Toko es krimmm"
"Di dalem mall aja napaa, capekk jalann" keluh Azril.
"Dih lebayy!! Kalau sakit kaki itu banyakin gerakk, bukan malah di manjainnn"
"Nyenyenyee" Asya tertawa melihatnya. Mereka pun mengikuti kemauan Asya untuk membeli es krim didepan mall.
"Gue es krim, vanillaa. Peseninn okee, kebelet guee"
"Hati-hatii" Asya mengangkat jempol kanannya lalu pergi.
"Ohh mau ke kamar mandi mbak nyaa, ntar dari sini lurus abistu belok kiri ya mbakk"
"Oke, makasih mbakk" Karyawati itu tersenyum, Asya membalas nya juga dengan senyuman kemudian pergi sesuai arahan.
"Ahh.. legaaa" ujar Asya setelah selesai.
"Wah.. kebetulan bukan kira-kiraa" Asya menoleh ke samping.
"Disini juga, kak Laila?" sapa Asya ramah.
"Cuih!! Sok ramah banget luu, najis gue liatnya" Asya diam tidak merespon.
"Gue kira lu gak bakal mau deketin Arsen, ehh taunya.. emang dasar pelakorr yaa" cibir Laila.
"Pelakor? Gue? Wait wait, pelakor ituu perebut laki orang. Deketin Arsen di bilang pelakor berarti lu sama Arsen pernah nikah, dan sekarang udah gak sama Arsen lagi itu artinyaaa... lu jandaa yaa?"
"Sialann!"
Plak!!
Asya memejamkan matanya setelah mendapatkan satu tamparan dari Laila.
Setelah tamparan itu,Laila menyuruh temannya memasukkan Asya ke dalam satu toilet. Mereka menyiram Asya dengan air dari atas.
Laila tertawa puas setelah melihat Asya yang sudah seperti gembel di pojokkan. Ia pun pergi bersama kedua temannya.
"Huh.. santai Asya, calm down. Ada waktunya untuk di balass" gumam Asya sambil mengelus dada.
Bruk!!
"Nona mudaaa" Asya menoleh.
"Asz bodyguard?"
Kedua pria itu membantu Asya berdiri dan keluar dari kamar mandi.
"Nona muda ada yang lukaa?" Asya menggeleng.
"Bapak bisa bantu saya?? Beliin baju di mall depan. Pliss yaa, kali ini aja saya minta tolong. Saya gak mau Azril sama yang lain ngamuk liat kondisi saya seperti ini"
Salah satu dari mereka langsung pergi sesuai permintaan Asya.
"Tumben muncul, pak?" tanya Asya sembari menunggu baju.
"Jangan panggil pak, saya teh masih muda" Asya tersenyum.
"Orang sunda?" Bodyguard Asz mengangguk.
"Maaf kami kurang sigap"
__ADS_1
"Nggak masalah, jangan sampe bilang daddy ya, pak."
Bodyguard itu diam tidak merespon, "tadi bilang masih muda emang umur berapaa?"
"Saya masih dua puluh satu tahun"
"Ooo, kalau gitu saya panggil om!" Pria itu malah tertawa kecil mendengarnya.
"Nona muda, ini"
Bodyguard Asz memberikan Asya sweater dan celana joger.
"Dalemannya?" tanya rekannya.
"S-saya lupa"
"Aish.. gak perlu gapapa. Makasihh" Asya masuk kamar mandi mengganti baju.
Untuk dalemannya, Asya tetap memakai yang sebelumnya karena tidak terlalu basah.
"Nona muda, baju yang basah biar kami saja yang bawa"
"Ohh gitu, oke. Makasih ya om, makasihh banyaakk" Mereka berdua mengangguk sambil sedikit membungkuk.
Asya memberikan paper bag berisi baju basah tadi, "saya temui yang lain dulu ya om. Sekali lagi, terimakasih"
"Sama-sama nona muda" Asya tersenyum lalu pergi.
"Kamu teh udah ngadu sama bos besar?" tanya bodyguard Asz pada rekannya yang pergi ke mall.
"Yang di mobil udah ngadu, kenapa toh?"
"Nona muda minta buat gak di aduin"
"Kita yang di omelin kalau nggak ngadu, mass."
Di sisi lain, Asya kembali ke meja nya dengan santai seolah-olah tidak ada yang terjadi.
"Lama amatt, boker lu??" tanya Dino. Asya menggeleng sambil tertawa, ia duduk di antara Haikal dan Arsen.
"Baju lu beda, tadi lu gak pake sweater" ujar Arsen.
"Lu kenapa lagi di kamar mandi?" tanya Azril.
"Nggapapaa seriuss, tadi gue kepeleset terus jatoh. Nah baju nya kan basah tu, jadi gue pinjem baju mbak pegawai nyaa"
"Terus baju lu yang basah kemanaa?" tanya Haikal gantian.
"Gue buang karena kotor"
'Gue tau lu bohong, sya' batin Arsen.
"Yaudah itu es krim lu" Asya mengambil es krim nya kemudian makan dengan santai.
"Ehh gue mau ceritaa" Seketika mereka menatap Azril.
"Cerita horor?" tanya Dino, Azril menggeleng.
"Pas kita tadi mau adu basket sama Alex, gue dapat pesan dari seseorang. Dia bilang buat gak usah ikut karena takut gue kenapa-kenapa"
"Dan lu jadinya kenapa-kenapa"
"Hoohh, setelah ituu gue di chat lagi. Ini isinya" Azril menunjukkan chat nya dengan orang misterius itu.
"Tanda tanya mengelilingi otak gue, ini orang tuu siapaa?!" tanya Azril.
"Wah.. penggemar rahasiaa" ujar Haikal.
"Ntah kenapa pikiran gue tertuju pada Adinda."
"Adinda?" beo Dino sambil melihat Asya.
"Iya Adinda, Adinda pasti ngerti dong gimana gimana nya Alex"
"Bisa jadi juga sihh, tapi yakali Adinda" sahut Arsen.
"Lu masih sering ngegame sama Adinda??" tanya Haikal.
Azril menggeleng, "kagak lagi. Akun nya juga mendadak hilang"
"Terusss yang kemaren itu gimana, zrill?? Followers luu?" tanya Asya.
"Udah punya doii anjiirr, doinya pelaut"
"Berdamage sekaliii"
"Gue dulu pengen tu jadi pelaut" ujar Dino.
"Terus kenapa gak jadi?" tanya Arsen.
"Nggak pengen lagi" jawab Dino cengengesan.
"Sekarang lu pengen nya jadi apaa?" tanya Haikal.
"Pengen jadi manusia aja"
"Oke fiks, kamu bukan manusia saat ini!" kata Racksa.
"Anjj"
Mereka terkekeh.
"Lu call, pengennya jadi apaa?" tanya Asya.
"Pengennya jadi ayah untuk anak-anak kita nanti"
"Astaghfirullahalazim astaghfirullah!! Kebanyakan makan kulit jengkol gininii!" Haikal tertawa.
__ADS_1
"Eh.. Arsen keliatan badmood guys, cemburu nampaknya" ledek Racksa.
Haikal, Dino, Azril dan Racksa tertawa. "Santai aja, sen. Kami punya prinsip hidup, teman adalah teman."