Barbar Generation

Barbar Generation
Apartment


__ADS_3

Pagi hari tiba.


Pasangan yang baru saja sah kemarin masih tidur sambil berpelukan. Mereka tidak melakukan apapun tadi malam karena sehabis mandi langsung tidur bersama. Mungkin ditambah dengan hujan dan mereka saling berpelukan, makanya tidak ingin bangun lebih awal.


Drrt.. Drrrt..


Suara ponsel ini cukup mengganggu pendengaran Asya. Sekali dua kali Asya masih mengabaikan ponsel itu, namun tidak untuk yang ketiga kalinya.


📞 "Assalamu'alaikum. Sudah bangunn?"


^^^"Wa'alaikumsalam. Belum, daddy. Hujan disini jadi masih ngantuk."^^^


Dengan mata yang masih tertutup, Asya menjawab telepon daddynya.


^^^"Asya ngantuk banget ini, masih capee jugaa. Asya matikan ya, daddy? Mau lanjut boboo."^^^


📞 "Abisss di unboxing beneran kamu?"


Kini suara Zia yang terdengar.


^^^"Nggak, mommy. Siap mandi langsung boboo maren. Udah yaaa??"^^^


📞 "Iya-iyaa. Nanti kalau udah bangun dan udah berhenti hujannya, ke rumah utama ya!"


Asya berdehem lalu meletakkan ponselnya kembali ke meja. Tidak perduli sudah mati atau belum, yang ia inginkan sekarang adalah tidur.


"Siapa, sayang?" tanya Arsen yang ikut terbangun.


"Itu tadi momm. Kita di suruh ke rumah utama hari inii," jawab Asya malas.


"Sekarang?"


"Nooo, nanti kalau udah bangun."


Asya memejamkan mata dengan tenang, tapi kini Arsen yang membuka mata. "Sayang?"


"Hngg?"


"I'm hungry, I want to eat you."


"Ckk! Cannibal."


Arsen kembali diam dan memejamkan matanya. Tiba-tiba saja terdengar suara perut. Dapat dipastikan itu perutnya Arsen. Asya melepas pelukan Arsen lalu duduk di kasur.


"Wake up, honey. Let's have breakfast," ajak Asya masih mengumpulkan nyawa. "I'm so hungry, but I'm sleepy, baby."


"So, WHAT ARE YOU DOING?!!" Asya terkejut karena tiba-tiba Arsen menarik tangannya dan kembali memeluknya erat. "I want to sleep, baby..."


"Tapi jangan begini jugaa. Get up now or I'll kill you, honey!!!" Arsen mendengus kesal.


"Baru nikah padahal, udah mo dibunuh ae suaminya," Asya tertawa. "Makanya ayo bangunn, aku gak mau ya kamu sakit perut! Mommy daddy juga udah nunggu tuh di rumah."


"Hujan. Gimana mau berangkat?"


"Kita punya mobil. Jangan kek orang susah deh, ay, mobil kamu bejibun jugaaa!" Arsen nyengir lalu bangun dan duduk di kasur. Asya mengikutinya.


Cup!


"Aku akan memulai setiap pagi kita dengan kecupan seperti tadi. Every day harus ada kecupan." Asya menyipitkan mata, "Siapa yang mengharuskan?"


"Aku, suamimu."


Asya keluar dari selimut kemudian menutupkannya ke seluruh tubuh Arsen. "Kalau ngomong di saring dulu, aku gak mau ya mati muda karena serangan jantung!"


"Hahahaha! Kalau salting bilang, sayanggg."


"ORA KRUNGUUU!"


...◕◕◕ (*¯ ³¯*)♡ ◕◕◕...


Asya dan Arsen dalam perjalanan menuju rumah Aska. Mereka tanpa supir kali ini, tapi mengenakan mobil baru yang dihadiahkan dari satu keluarga Hitler.


Owww iyaaa! Kalau ada yang tanya apa mahar Arsen kemarin, maharnya adalah saham dan seratus gram logam mulia serta seperangkat alat sholat dibayar tunai.


Itu yang Arsen katakan dulu saat acara party ulang tahun Asya (chapter sembilan puluh sembilan). Ucapan memang do'a, jadi bicaralah dengan baik dan jangan pernah menyakiti orang lain.


Back to pasutri baru.


"Mau honeymoon?"


"Gak. Ngeri."


"Yakin nihh gak mau honeymoon?" Asya menganggukkan kepala, teguh dengan pendirian. "Ya udah kalau gituu aku pergi sama mbak sekre ajaa."


Asya menatap tajam suaminya. "Macam-macamm aku potong jadi lima itu kamu!!" Arsen langsung menutup aset berharganya. "Tapi aku beneran mau pergi sama mbak sekre besok, buat urusan kerjaa."


"Harus besok? Kita baru semalam nikah ih, jahat banget udah ditinggallll!" Arsen menarik dagu Asya lalu mencium bibirnya sekilas. "Emang harus besok, sayang. Makanya ayok ikut, kamu diajakin gak mau sih."


"Kemana emang? Ngapain?"


"Keluar kota doang, sayang. Kata om Mike cuma datang ke acara investor," jawab Arsen jujur. "Terus kenapa harus sama mbak sekree? Kenapa gak sama om Mike?"


"Om Mike mau ngurus yang di luar negeri. Kalau kamu mau honeymoon sekalian, ya kita aja yang keluar negeri biar om Mike urus yang disini."


Asya diam, berfikir sejenak. "Gak mau datang dua-duanyaa, pasti ribet tar pake gaun. Gak sukaa!"


"Yaudah, aku pergi yang deket aja sama mbak sekre," Asya kembali menatap tajam Arsen. Tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya, Asya berpindah dan duduk berhadapan di pangkuan Arsen.


Arsen langsung menghentikan mobilnya, untung tidak ada mobil lain di belakang. "Kamu ngapain, sayangg?"


Asya tidak menjawab dan malah memeluk Arsen erat. "Cari hotel baru aja ya kita? Nampaknya kamu pengen main."


Asya tetap diam.


"Sayang? Kamu mau tanggungjawab kannn??" Asya melepas sejenak dan menatap Arsen. "Kamu hamil?"


"Nggaa gituu, cantikkk. Allahu Akbar. Balik ke tempat kamu aja gih buru," Asya menggeleng, tangannya kembali memeluk. "Tidak akan berpindah sebelum kamu bilang batal pergi sama mbak sekre."


"Terus aku pergi sendirian aja gitu?"


"Gak juga. Gak boleh pergi."


Arsen menghela nafas panjang. Ia membuka mobil, menggendong Asya lalu membawanya menuju kursi belakang. Tanpa aba-aba, Arsen menindih Asya. "Jadi aku gak boleh pergii?"


Asya mengangguk kaku. "Oke, fine. Tapi kamu aku kurung dikamar seharian, sampe gak bisa jalan. Gimana, mau?"


"Boleh juga tuh," jawab Asya menantang.


"Gak takut?" Asya menggeleng tegas. Dirinya menjawab begitu yakin karena tau Arsen tidak akan melakukannya. "Bener niihh?" Asya mengangguk.


Melihat jawaban Asya barusan, Arsen tersenyum miring. "Kalau gitu siap-siap capek ya kamu, aku gak bakal berhenti kalau udah mulai."


"Kamu..... bercanda kan?"


Arsen menggeleng, ia mendekat untuk berbisik. "I'm serious, honey." Asya terpaku melihat senyum mesumnya Arsen.


"Huaa... Ya Allah, tolong selamatkan hamba-Mu ini dari singa yang kelaparan." Arsen tertawa melihat ekspresi Asya.


"Makanya jangan bangunin singa yang lagi tidur sayang," bisik Arsen lagi. "Padahal aku cuma bangunin burung bukan singa."


"HEH MULUTNYAA. Wahh, kok bisa ngomongnya lancar bangett? Siapa yang ajarin?"

__ADS_1


"Kamu."


•••


Asya dan Arsen tiba di rumah Aska. Mereka langsung masuk sambil bergandengan tangan. Sejujurnya, Asya masih memikirkan nasibnya besok, ia berharap Arsen berubah pikiran.


"Ohayou, pasutri baru!" sapa Azril girang.


"Owhay wibuuuuuu!"


"Cihh. Masuk deh lu buruan, udah ditunggu dari tadi sama mom and dadd." Tanpa menjawab perkataan Azril, keduanya kembali berjalan masuk.


"Assalamu'alaikum, mom, daddy..." Asya menyalami tangan orangtuanya. Arsen juga mengikuti dari belakang. "Kok baru datangg? Kesiangan?" Asya nyengir.


"Ya udah ayo sarapan dulu," ajak Aska memimpin jalan menuju meja makan. "Mommy daddy belum makan? Nunggu kami duluu?"


"Pedee lu. Mom and dadd baru makan karena baru lapar, bukan gegara nungguin lu," sahut Azril tiba-tiba. "Jujur dahh, lu ada dendam apa sama guee? Gue liat-liat lu kek monyett ngomel mulu."


"Dih. Lu—"


"Udah deh, Zril. Berisik aja kamu tuhh, kalau kangen sama Asya langsung to the point jangan ngajak ribut," kata Naina kejujuran. Asya dan yang lain tertawa.


"Jadi lu kangen gue, Zril?"


"Ogah banget gue kangen sama lu. Ayok kita makan aja, daddyy!" Aska tersenyum lalu menunggu Zia meletakkan nasi goreng ke piring. Melihat Zia seperti itu, Asya mengikutinya.


Arsen ikut tersenyum. "Makasih, sayang." Asya juga tersenyum tanpa mengatakan apapun. Di sebelah Asya ada Naina dan Azril yang meletakkan nasi gorengnya sendiri-sendiri.


Mereka mulai makan bersama.


"Jadi tadi malam unboxing, Sen?" Aska memecah keheningan sekaligus membuat Asya tersedak dengan pertanyaannya.


"Daddy.. apaan sihhh? Nanyanya aneh-anehh," dumel Asya setelah minum. "Maksud daddy unboxing kado, nak. Kamu pikir unboxing apa?"


"Yya.. ah pokoknya daddy jangan nanya gituan dah sekaranggg. Nanti Asya mati keselek gimana?!" Aska tertawa. "Gak ada sejarahnya orang mati karena keselek egee!"


"Adaa yaa! Ehhh, ada gak sih? Ah gak tau. Pokoknya jangan bahas unboxing!"


"Lu unboxing beneran gak, Sen? Tapi keknya nggak sih ya, Asya b aja jalannya. Tidak seperti yang lain. Ohh, atau mungkin lu mainnya pel—"


Perkataan Azril terhenti karena Asya menusukkan garpunya dengan keras di sosis. "Zril, coba bayangin kalau punya lu gue tusuk begini. Keren keknya yakan?"


"Sialll! Ngilu begoooo."


Asya tersenyum miring, ia melepas sosisnya lalu mengarahkan garpu tadi ke arah Azril. "Ampun, Sya. Demi Allah, Azun ngiluuu!"


"Azun sahaaa cugg?"


"Azril junior. Kece kan namanya?"


Asya meletakkan garpu tadi dan memegangi kepalanya, "Agak kurang seperempat ya otak lu?!"


"Hahaaa, nggakklahhh. Keren kan nama punya gue? Punya lu apa namanya, Sen?" Arsen diam tidak menjawab. Mungkin bingung memikirkan nama yang tepat.


"Skip, Zril. Kenapa malah jadi bahas ituuu?" Azril tersenyum menampakkan giginya. "Seruu tau. Daddy punya namanya apa? Asun or Kajun?"


"Jamalll."


Azril tertawa ngakak diikuti yang lain. "Mari kita anggap itu Jamal premium."


"Pertamax, Zril, pertamax!"


"Dahh dahh ahh. Lagi makann kok malah bahas yang aneh-aneh," kata Zia menengah. Mereka pun lanjut makan dengan santai. "Tadi malam kamu langsung tidur, Sya?" Asya mengangguk.


"Arsen?"


"Hah? Eh iya, mommy," jawab Arsen gelagapan. Sedikit berbohong Arsen, tadi malam dirinya keluar untuk makan sendirian.


Bukan bermaksud apa-apa. Arsen pergi sendiri karena tidak enak membangunkan Asya yang sudah tertidur pulas.


"Kenapa gak langsung ke rumah?"


"Maless, daddy. Masih berdua juga ngapain di rumah? Nanti pas Arsen pergi, Asya sendirian."


"Apa bedanya kalau gitu?"


"Di apart kan masih gak terlalu gede, jadi Asya berani ditinggal sendiri. Kalau rumah kan udah pasti gedeeee, Asya takut sendirian di rumah gedee."


"Jadi nanti rumah besarnya Arsen kosong?"


"Nggak, daddy. Rumahnya Arsen kasih om Mike, terus nanti Arsen buat rumah dari desain yang dibuat bareng Asya."


"Mantap memang, daddy bakal selalu dukung kalian. Oh iya, kalau pindah atau apaa ntar kabarin daddy, kasih tau juga alamatnya."


"Tanpa daddy minta pasti nanti Arsen kasih tau," Aska tersenyum. Sarapan mereka selesai, Asya dan Naina membantu Zia meletakkan piring kotor ke wastafel. Yang mencuci asisten rumah tangga, bukan mereka.


Sehabis makan tadi, Arsen mengajak Asya ke kamar untuk packing beberapa baju yang akan dibawa ke apartment. Arsen tidak membantu, ia hanya merebahkan tubuh sambil menatap langit-langit kamar Asya.


"Gak usah bawa banyak ya, sayang. Biar aja disini beberapa, kan datang nanti gak perlu lagi bawa baju. Kalau kamu kurang baju di apart, nanti kita beli."


"Aku tau kamu kaya, tapi gak boleh boross. Lagian kalau banyak baju tar banyak hisabnya," Arsen mengangguk paham lalu duduk menatap Asya yang sedang membuka laci-laci.


Tanpa aba-aba, Arsen menarik Asya. Asya duduk di pangkuan dan mengahadap Arsen sama seperti di mobil sebelumnya.


"Ngapainnn?? Nanti makin lama packingnyaa," protes Asya. Kini gantian Arsen yang tidak bergeming. "Aku gak mau tanggungjawab yaa, kamu loh ini yang narik."


Arsen mengecup bibirnya. "Aba-abaaa dulu kekkk! Aku belum terbias—" Satu kecupan lagi mendarat di bibir Asya.


"ARS—" Satu lagi.


"Hiiihhhhh! Kamu mau apa sih, Senn?"


"Mau ciuman."


Arsen menarik tengkuk Asya.... dan yaaa begitulah~


Beralih ke ruang keluarga. Di sana Azril celingukan mencari kedua pasutri tadi. "Mau ledek-ledekan lagi makanya dicariin?" Azril nyengir, "Seru tau ledekin mereka berdua."


"Yeuuuu, tapi Asya jadi salting muluu."


"Yaaa kan lucukk. Btw aku jadi pengen nikah, kamu siap gak?" Naina menyipitkan mata, "Kamu tuu nanya doang gitu ya? Sat set sat set gitu dongg, gak pake nanya langsung gas."


"Kaalau gitu ayok ke KUA sekarang," ajak Azril semangat. "Gak dulu deh, bro, makasi."


"Yahaha! Kasian," Azril menoleh sumber suara. Sudah pasti dan sudah jelas, itu adalah Arsen dan Asya. "Lu berdua ngapain ajaa anjirr dikamar?" tanya Azril mengubah topik.


"Ini urusan yang udah nikah bukan urusan tukang gantung hubungan kek lu."


"Bangs—"


"Azril omongannyaa..."


"Bangsawan tadi maksud Azril, momm."


"AHAHAHAHAHA! Ngeles bangett luu kutil gorila."


...◕◕◕ (๑´ㅂ`๑) ◕◕◕...


Tidak berlama-lama di rumah Aska, Asya dan Arsen sekarang sedang menuju ke apartment baru. Karena apartmentnya tidak pernah ditempati sebelumnya, mereka harus beberes dulu nanti.


"Sen, kita gak ke tempat om— maksudnya papa?" Arsen diam sejenak. "Haruskah?"

__ADS_1


"Ya massa nggaa??"


"Besok-besok aja deh ya? Kalau sekarang tar kita lama istirahatnya. Aku masih cape btw," Asya mengangguk setuju.


"Jadi besok?"


"Iya besok, kapan-kapan."


"Kirain beneran besok. Oh iya, di apartment ada bahan-bahan makanan gitu kan?"


"Adaa kokk, sayang. Apa mau belanja lagi nih sekalian??" Asya menggeleng. "Kalau udah ada ngapain beli lagi?"


"Ya udah kalau gitu langsung ke apart aja yaa gak mampirr-mampirr?" Asya ragu-ragu menjawabnya. Ia ingin sesuatuu! Asya melihat sekeliling dan menemukan toko cake.


"I want cake, honey."


Arsen menoleh sekilas lalu membelokkan mobilnya ke toko cake. Untungnya tidak nyebrang. "Aku yang pilih atau kamu?"


"Akuuu. Tapi kamu ikut masuk juga yaa!" Arsen mengangguk mengiyakan permintaan Asya. Mereka berdua pun turun dan masuk bersama.


"Kamu pilih yang mana? Matcha atau cokelat?" tanya Asya menatap Arsen. "Chocolate."


"Okey, matcha kita eliminasi. Chocolate cake or rainbow cake, honey?"


Arsen memperhatikan cake nya baik-baik. "Gimana kalau kita beli dua-duanyaa aja? Keknya sama-sama enak."


"Tapi nanti kalau dak abis gimanaa?"


"Pasti abis. Kamu kan demenn makannya," Arsen benar. Asya sangat menyukai cake. "Mbak, saya mau yang rainbow sama yang cokelat yaa."


"Baik, mbak." Karyawan toko itupun membungkuskan dua cake pesanan Asya. Asya menerima bungkusan dan Arsen yang membayar. "Terimakasih, mbak."


Asya tersenyum lalu pergi sambil menggandeng tangan Arsen. "Mau beli apalagi, sayang?"


"Keknya udah deh. Eh, di apart kamu ada jajan kannn?"


"Adaa, sayang. Tenang ajaa kamuu tu. Kemarin udah aku atur apartnya biar kamu nyaman dan tetap senyum bahagiaa."


"Jiakhh! Jadi gak sabar akuu. Let's go!" Arsen kembali mengemudikan mobil menuju apartment. "Masih jauh, sayang?"


Sesudah pertanyaan tadi, mobil Arsen kembali berbelok. "Lahhhh? Dekettt yaa sama toko cake tadii? Jadi enak dong akunyaaa."


Arsen tersenyum senang. "Aku sengaja nyari tempat yang dikelilingi makanan, biar kita gak cape keluar." Asya auto memeluk Arsen setelah mendengar jawabannya. "Thank you so muchh, honeyy! I love youuuu, really love you!"


Arsen membalas pelukannya erat. "I love you more, baby. Tar lagi pelukannya yaa, kita turun dulu sekarang, okayy?" Asya mengangguk kemudian keluar terlebih dahulu. Arsen menyusul sembari membawa koper Asya.


"Assalamu'alaikum... ahh akhirnya sampeee," kata Asya setibanya di dalam. Kesenangannya berubah seketika karena melihat apartment mereka berantakan dan berdebu.


Asya berbalik menatap Arsen. "Hehehe, ayo semangat beresinnya." Asya berjalan meletakkan cake yang dibawa menuju kulkas.


"Kulkas isinya lengkap, di kamar juga beneran ada kulkas kecil khusus makanan yang isinya juga lengkap. Tapi kenapaa cuma itu yang tertata rapiii?"


"Kemarin cuma sempat nyusun makanan, sayang. Yang lainnya tu gak sempat karena aku ada urusan lain, makanya masih berantakan."


"Ya udah gapapa. Ayo beresin bareng," Asya menggulung lengan bajunya lalu mulai mengambil sapu.


Asya membersihkan sawang-sawang dan mengelap bagian-bagian yang berdebu. Sedangkan Arsen menyusun tata letak barang.


Mereka kerja sama dengan kompak, seluruh apartment dibersihkan sekalipun sudut-sudut yang sulit dijangkau.


Seperti sekarang ini, di sudut atas ada sarang laba-laba. Asya mencoba naik kursi untuk membersihkannya, ia juga berjinjit, namun tetap saja tidak sampai.


Melihat kursi Asya bergoyang-goyang, Arsen mendekat untuk berjaga-jaga. Tepat sesuai dugaan, satu menit setelah Arsen dibelakang Asya, Asya terjatuh dan menimpa tubuh Arsen.


"Awhh... sakitt," keluh Asya berusaha bangun. Ia menoleh ke belakang. "Arsenn? Sayangg? Sayangggg?" Asya auto panik karena tidak ada respon dari Arsen.


"Arsennnn.. kamu masih hidup kan, sayang? Honey, kita baru nikahhhhh, masa aku udah jadi janda? Agh aaa..." Asya gelagapan ketika Arsen menarik tangannya.


"Aku masih muda, sayang. Ya kali aku mati cuma gegara ketimpa kamu," jawab Arsen. Asya menepuk pelan bibir Arsen. "Salah siapaa gak langsung bangun? Aku panik!!"


"Iyaudah salah aku. Sekarang kanu bangkit aja deh buruan, pinggang aku udah encok nih."


Asya berdiri lalu membantu Arsen berdiri. "Katanya masih muda, kok encokan?"


"Iyaa aku kan anak muda jompo, dikit-dikit encok." Asya tertawa mendengarnya.


"Kamu dah siapkan? Aku juga udah nih, tapi tinggal yang itu tinggi banget dia. Kamu tunggu di meja makan aja dulu yaa, nanti abis ini kita makan cake nya barengan."


Arsen tidak mendengar Asya, ia jongkok di depan Asya lalu menggendong Asya di pundak. "Arsenn! Demi Allah aku takut, Sen. Arsennnn, turuniiiiinnnn," rengek Asya takut.


"Sstt. Buruan sapu itu sarang laba-labanya, biar cepett." Walaupun sedikit gemetar, Asya menuruti perkataan Arsen. Asya lanjut menyapu lantai setelah membasmi sarang laba-laba tadi.


Selesai Asya menyapu, Arsen langsung mengepel. "Uwiiihhh, keren juga nih suami aku. Rajin sekalii," goda Asya macam orang genit.


"Biar cepett makan cake. Aku tiba-tiba lapar karena abis beberes," jawab Arsen santai.


"Aku masak aja gimana? Aku cari menu yang gampang dehh. Nanti kalau kamu udah siap ngepel, tunggu disofa, nonton televisi. Jangan recokin aku, okayy?" Arsen mengangguk patuh.


Asya langsung pergi ke dapur, berkutik dengan bahan makanan yang akan ia buat. Asya akan membuat menu sederhana, yaitu telur dadar dan tahu disambal.


Arsen mengintip di dapur sambil tersenyum. Dirinya merasa senang, karena sekarang Asya sudah bergelar istrinya.


"Arsenn! Kalau kamu udah siap jangan lupa cuci tangan!!" teriak Asya dari dapur. "Iyaa, aku mau langsung mandi aja ini."


Tidak ada jawaban lagi dari Asya. Arsen langsung masuk kamar mandi, sebelum mulai mandi Arsen menyikat kamar mandi agar terlihat lebih bersih.


Hampir setengah jam berlalu, Arsen baru keluar kamar mandi dan selesai berganti baju. Ia menuju dapur dan melihat makanan sudah matang.


"Wahh... dari tampilannya, pasti enak. Aku gak sabar mau nyobaa!"


"Semoga tidak mengecewakan yaa!" kata Asya merasa ragu dengan masakannya. Arsen duduk tepat di depan Asya, dirinya mengambil sendok dan mengambil tahu untuk dicicipi.


"Uhuk, uhuk!"


Asya langsung menyodorkan minum pada Arsen.


"Gak enak ya, sayangg??"


Arsen bingung harus bagaimana.


"Ehm... tampilannya tu udah keren, sayang, aku suka. Tapi maaf ya, rasanya keasinann. Kamu kebanyakan kasih garam ya tadii?"


Asya nyengir.


"Ini enak kok, pedesnya gak terlalu. Cuma keasinan ajaa. Besok-besok jangan kebanyakan garamnya ya, biar lebih enak." Arsen kembali memakan masakan Asya, namun kali ini bersama nasi.


Asya sedikit penasaran, ia mengambil tahu dan memakan tanpa nasi. "Uhuk, uhuk!! Ahh.... udah-udahh, kamu gak usah makan lagi! Ini asin banget tauuu," kata Asya mengambil piring lauk.


Arsen menahannya.


"Ini masih bisa aku makan. Sayang kalau dibuang, ini masakan pertama yang kamu bikin susah payah untuk aku. Masa mau dibuang gitu aja?"


"Tapi ini asin banget, Arsenn."


"Nggak bangett," Arsen tetap makan dengan santai. Asya sendiri menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Arsen mendekat, "Kenapaa kok malah mau nangis?"


"Yaa gimana gak nangisss, suami aku baik bangett ginii..." Arsen mengelus pipi Asya. "Semangat teruss yaa, jangan berhenti hanya karena masakan pertama kamu asin."


"Ingett, apapun hasil masakan kamu bakal tetep aku makan karena dibuatnya pake tangan kamu sendiri."


...----------------...

__ADS_1


...AHAHAHA! SALTING MASS. ...


...Btw, kalau aku ada buat cerita lain di wtpd, ada yang mau baca dak sii? Hehehe. ...


__ADS_2