Barbar Generation

Barbar Generation
Chapter 132


__ADS_3

"Hoam.. ughhh!"


"Eh, Sya? Lu udah bangun? Cepet amat tidurnya," kata Azril meledek.


"Lu kan tau sendiri si gue tidur mulu di perjalanan, udah capek tidurr. Lu masak apaan?"


"Cuma ngegoreng nugget."


"Mauuu!"


"Iya iyaa, ni sekalian gue gorengkan."


"Terbaik lahh Azrilll!"


"Bacrit."


Asya cengengesan.


"Arsen mana? Udah pulang?"


"Dii ruangan kerja daddy, lagi rundingan."


"Ruang kerja? Rundingan? Rundingan apaan jam segini?"


Azril tersadar.


"Oh itu.... katanya si rundingan pernikahan lu."


"Hah? Masa iyaa? Aww mo nguping!"


Asya berlari ke arah ruang kerja daddynya.


Sampai di depan pintu, Asya langsung menajamkan indera pendengarannya.


Samar-samar Asya mendengar...


"Angela teguh pendirian banget sama perjodohan itu, Angela juga gak mau jauh dari Arsen. Arsen udah coba jauh, tapi Angela tetap samperin Arsen."


Asya mengedipkan matanya dua kali.


'Angela? Kucing yang ada di game? Eh eh bukan tolilll. Perjodohan? Perjodohan apaan njem?'


Asya makin menajamkan telinganya...


"Angela maksa Arsen terus biar mau di jodohin, Angela juga sering ganggu Arsen di mana pun itu. Angela sering ngungkit utang juga, pokoknya Angela semena-mena sama Arsen."


Asya menganggukkan kepalanya.


'Ohhhh, perjodohan karena utang... si kucing ibliss itu maksa buat perjodohan tetap berlanjut.. oke okeee gue paham.'


Asya berjalan kembali menuju kamarnya tapi tiba-tiba tertahan karena Azril.


"Lu denger apa aja tadii?"


"Lu ngejer gue ya? Aaaa.. lu pasti tau tentang perjodohan Arsen sama kucing ibliss."


"Perjodohan?"


"Gak usah sok gak tau!"


"Udah ah. Awas!"


Asya menghempaskan tangan Azril lalu lanjut berjalan ke kamar.


"Eh, Syaa, lu mau kemanaaa??"


"Sleep!"


Di dalam ruang kerja.


"Kamu punya mobil-mobil mahal, perusahaan dan usaha baru kamu juga lancar. Kenapa sekarang jadi kea orang melarat? Kamu kan bisa jual mobil aja buat nalangi," kata Zia.


"Tadinya mau gitu tante, tapi Om Mikko gak pernah ngizinin. Dia selalu bilang jangan jual aset apapun itu untuk bayar, biar nantinya dia yang bayarin semua."


"Arsen inget itu terus makanya gak pernah jual apa-apa. Ntah Arsen doang yang ngerasa apa gimana, makin ke sini Om Mikko gak ada usahanya buat bantu bayar utang, Arsen ngerasa dia sengaja mau jual Arsen."


"Gak gitu, pasti gak gitu. Ya kali Pak Mikko mau jual kamu, kalaupun iya dari dulu seharusnya dia ngelakuin hal itu." Ujar Aska menyadarkan Arsen.


"Iya bener kata om kamu. Pak Mikko itu jaga kamu banget dari dulu, jadi gak mungkin dia sengaja jual kamu. Bisa aja dia lagi buntu sekarang, gak mungkin juga dia jual perusahaan kan?" Sahut Zia.


Arsen diam merenung.


"Setelah di pikir-pikir, lima miliar itu kebanyakan. Masa ruginya sebanyak itu?"


"Om Mikko pernah bilang, mungkin di manipulasi."


Aska mengurut pelipisnya sejenak.


"Kita lanjut besok aja lah ya, ini udah malam. Kamu juga kerja seharian pasti kurang istirahat. Gak usah pulang nginep sini aja," kata Aska.


"Om Aska paling pengertian deh, sayang bangett!!"


Aska Zia tertawa mendengarnya.


"Yaudah ayok keluar."


Mereka bertiga keluar ruangan dan menuju ruang tamu. Azril di sana makan nugget sambil gelisah.


"Zril?"


"Ehhhh mommy, daddy, Arsen."


"Kenapa keliatan panik gitu?"


"Itu.. Asya tadi nguping."


"Hahh?! Yang benerrr?!"


Azril mengangguk pelan.


"Terus di mana dia sekarang??" Tanya Aska.


"Di kamar, katanya tidur."


"Beneran tidur?"


"Tadi gue liat sih emang tidur."


Aska merasa janggal. Ia berlari ke kamar Asya, tiga manusia lainnya pun menyusul.


Ceklek!


"Asya? Udah tidur, nak?"


Zia menerobos masuk membuka selimut.


"Bener dugaanku. Asya gak pernah pake selimut sampe mukanya. Ini bukan Asya, tapi.... bantal."


"Wtf!"


Aska keluar kamar, menyuruh semua bodyguard mencari Asya. Dirinya beserta Zia, Arsen dan Azril ikut mencari dengan mobil masing-masing.


"Asya kemanaa sii?"


"Ya Allah, sehatkan otak Asya biar bisa mikir jernih... Aamiin."


◕◕◕


"Sudahi depresi mu, Asya. Kamu terlalu cantik untuk menjadi gila. Hahaha!"


"Ini udah keliatan gila anjj. Astaghfirullahalazim. Ehm ehm!"


"Nona muda... pulang aja ayok. Nanti di cariin sama bos besar."


Asya menoleh ke arah bodyguardnya.


"Ck, gak seru lah kalau pulang."


"Eh btw, emangnya bakal di cariin?"


"Gak mungkin nona muda di biarin kelayapan malam-malam, pastinya di cariin."


"Bener juga si. Wait, itu om bodyguard dapat telepon dari siapa?"


Salah satu bodyguard Asya mengambil ponselnya.


"Ketua tim, nona."


"Agaknya udah di cariin."


"Saya gak suka kalau ini berhenti sampe di sini doang. Ini tu tanggung," kata Asya mengomel.


"Saya mau nuntasin. Saya bawa pisau nih, kalau ada yang gagalin rencana saya, pisaunya bakal saya tusuk ke perut saya sendiri."


"A.. Aduh nonaaa, jangan gitu dong."


"Kita buat kesepakatan aja. Jangan laporan, maka saya gak akan nusuk perut saya."


"Iya nona iya, gak bakal melapor. Kami berdua gak bakal melapor ke siapapun."


"Oke bagoss."


"Non, ini gedungnya bener? Nona muda tau dari mana?"


"Saya ini keturunan jago komputer, jadi bisa ngelacak. Dikit."


"Dikit gimana dah? Kalau salah gimana non?" Tanya bodyguard itu.


"Nanti tinggal bilang, maaf bu atau kak atau mas atau bang atau apalah panggilannya bilang maaf karena salah apart. Beres!"

__ADS_1


"Busettt, santai syekali~"


"Ayok masik ke apartnya!"


"Sekarang nona??"


"Tahun depan."


"Ya sekaraanggg om bodyyy!"


Mereka berdua cengengesan.


"Maaf nona muda, galfok tadi."


"Ini mau masuk dari mana nona?"


"Dari mata turun ke hati."


"Om bedua ni saraf otaknya keselimpet? Kenapa jadi ngeheng?"


"Galfok nona, takut di marahin juga."


"Kalau gitu biar saya sendiri aja yang lanjutin, om bedua balik. Tapi bilang aja gak ada antar saya tadii," kata Asya diskusi.


"Oh gak gak, lebih baik kami ikut nona."


"Yoda yok masukk! Kita lewat jendela aja biar cepett," ajak Asya bersemangat.


"Nona bisa manjat emang?"


"Pohon kelapa aja bisa saya panjat apalagi gedung apartemen. Kacang tojin lahh," jawan Asya songong.


"Nona hati-hati yaa."


"Iye iyee. Udah bah jangan ngomong lagi, nanti ada yang dengar di sangka maling."


"Oke nona."


Mereka bertiga mulai beraksi.


Manjat sana, manjat sini tanpa takut jatuh.


Si pemimpin pasukan paling lincah karena sudah terlatih. Terlatih cepat maksudnya, bukan terlatih manjat gedung ˙˚ʚ(´◡`)ɞ˚˙


"Nona muda, pstt psttt!"


Asya menatap dua ajudannya.


"Ngapa dah?"


"Ini kamarnya," bisik bodyguard itu.


"Bukannya di atas?"


"Bukan. Ini yang betull."


Asya turun lagi pelan-pelan. Setelah tiba di samping jendela, Asya mengeluarkan alatnya. Linggis dan kunci Inggris.


"Nona muda ngapain bawa kunci Inggris?"


"Kunci Indonesia gak ada jadinya bawa kunci Inggris."


"Allahu Akbar! Depresot saya dengernya."


"Om body gak bakal kuat, biar saya aja."


Asya nyengir kuda sambil membuka jendela.


"Nona tarok di mana tadi tu?"


"Di kantong Doraemon."


"Nona yang betull bah jawabnyaa."


"Banyak tanya om body nii! Saya tarok di kantong celana jeanss," jawab Asya.


"Kok gak jatoh?"


"Ada ilmunya biar gak jatuh. Udah diem dulu, susah nihhh." Asya kembali fokus mencongkel-congkel.


"Nona muda, ini keknya gak di kunci deh."


"Iya kah? Coba buka."


Salah satu bodyguard mencoba membukanya. Dan ya benar saja! Tidak terkunci.


"Ngapa gak bilang dari tadi sii?!"


"Kan baru tau juga, nonn."


Asya berohria santai lalu mencoba masuk duluan.


"Calm down, nonn."


Dor!


Suara tembakan yang mengejutkan.


Seketika itu juga Asya dan kedua bodyguard berpencar mencari tempat persembunyian.


'Ooo jadi gini cara mainnya. Sengaja di buka biar ketembak, pinter juga. Untung gelap,' batin Asya masih sembunyi.


"Siapapun lu yang mau celakain gue, sini langsung berhadapan! Gak usah sembunyi!"


"Lu Angela?" Tanya Asya.


"Iya! Gue Angela."


"Kalau mau berhadapan langsung, terapkan Pancasila yang ke-lima!"


"Yang ke-lima tu yang mana?"


"Ck. Bolos SD ya lu? Kok tolol banget!"


Angela diam, dirinya masih mengingat sila dari Pancasila yang ke-lima.


Melihat kelengahan Angela, dua bodyguard mengode Asya untuk menjalankan rencana.


Asya berjalan mengendap-endap melewati sofa. Tanpa Angela sadari, Asya sudah berada di belakangnya.


"Gue tau Pancasila yang ke-lima. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Terus maksudnya apa?"


Asya bungkam. Ia berjalan maju satu langkah kemudian berbisik, "tololl."


Angela mencoba berbalik namun gagal karena Asya menahannya dan langsung menodongkan pisau.


"Lu siapa?" Tanya Angela.


"Lu gak perlu tau gue siapa."


"Lu tau gue siapa?"


"Gue gak tau dan gak mau tau," jawab Asya penuh penekanan.


Hening sejenak.


Asya sadar dengan apa yang akan Angela lakukan. Karena kesigapannya itu, Asya bisa menghindari tendangan Angela.


Tiba-tiba...


Tiitt!!


Lampu hidup dan muncullah beberapa pria yang berada di sudut ruangan. Semuanya berbadan tegap, terlihat seperti orang terlatih.


Bodynya gak kalah besar dari bodyguard Asya. Oiya, sekarang bodyguard Asya masih pada sembunyi.


Asya melihat sekeliling sambil memutarkan tubuh Angela. 'Ah sial, jebakan batman.'


"Lu masuk apartemen gue tanpa izin, lu gak bisa keluar hidup-hidup." Kata Angela yang masih di todong pisau.


Asya tersenyum smirk. "Gimana kalau gue mainin dikit kata-kata lu? Lu ganggu hidup gue dan tunangan gue, lu gak bakal bisa hidup tenang."


Angela cukup terkejut mendengarnya.


"Lu tunangan Arsen?"


Asya diam sejenak, dirinya sedang berfikir. Gimana cara mengambil pistol yang ada di tangan Angela.


"Lu udah tau sila ke-lima Pancasila kan?"


"Jelas udah."


"Tapi kenapa masih bersikap gak adil gini hm?"


"Maksud lu?"


"Gue solo dan lu.. bawa pasukan. Adilnya di mana?" Tanya Asya di telinga Angela.


"Jadi lu mau by one?"


"Yes. Dengan tangan kosong," bisik Asya lagi.


"Sure."


"Kalian gak usah ikut, biar gue by one sama dia."


"Baik."


Di detik berikutnya Asya menggeserkan pisaunya sehingga Angela dapat terbebas.

__ADS_1


Dengan kecerdasan paripurna, Asya langsung menendang perut Angela dan merampas pistolnya.


Dor!


Dor!


Dor!


"Wauww, tepat sasaran semua. Masuk paru-paru gak ya?" Tanya Asya sambil menatap bodyguard Angela yang berlumuran darah.


Asya mengalihkan pandangannya, kini menatap Angela yang berada di sofa sedang meringis kesakitan akibat tendangan Asya.


Asya mendekati Angela, ia duduk tepat di paha Angela. Tangannya menodongkan pisau ke perut Angela.


"Jauhi tunangan gue, jangan ganggu dia lagi."


"G-gak bakal."


"Masih ngeyel? Bukan hanya satu peluru yang bakal bersarang di tubuh lu."


Angela diam.


"Sebenernya, apa yang lu mau dari tunangan gue?"


"Anak."


Dor!


"NONA MUDAA!!"


Asya menoleh ke belakang, kedua bodyguardnya itu terlihat cemas.


"Kenapa manggil?" Tanya Asya santai.


"Anu... nona muda kenapa nembakin peluru?"


"Karena pengen. Tapi saya belum puas sih," Asya meraih sakunya dan mengambil pisau tadi.


"Nona muda jangan.. nona.. nonaa.. udah nonn."


"Ck, berisik!"


Asya menghiraukan mereka dan menatap Angela yang kesakitan. "Wajah orang kesakitan memang macem obat ya? Tau gitu kemaren-kemaren kalau ada masalah langsung dor dorr."


Angela meringis.


"L-lu g-gak p-punya h-hati y-yaa?"


Asya tertawa melihat Angela gagap.


"Punya. Hati gue tu ada, tapi kalau untuk lu gak ada."


"Kita sama-sama perempuan, harusnya lu bisa paham gimana perasaan gue. Coba lu bayangin, kalau lu di posisi gue."


Angela diam karena merenung dan juga karena menahan darah agar tidak keluar lagi.


Asya yang melihat itu malah makin mendekat dan menempelkan pisaunya ke leher Angela.


"Sekarang coba request, mau di tusuk-tusuk atau di gores-gores?"


"D-dasar g-gila!"


"Ahh keduanya. Kalau gitu, say to good bye."


Asya hendak menusukkan pisaunya, namun gagal karena...


"ASYAA!"


Suara Arsen muncul tiba-tiba.


Asya menoleh ke sumber suara, ada Arsen yang terkejut melihat darah berceceran.


"Astaghfirullahalazim..."


Perlahan tapi pasti, Arsen berjalan menghindari darah kemudian mendekati Asya.


"Ngapain sih kamu?"


"Suka-suka aku dong ngapain. Gak usah sewott!"


Arsen menggelengkan kepala. "Dia udah sekarat, kalau kamu lanjutin, dia bisa mati. Dan kamu bisa di cap pembun—"


"GAK USAH BAWEL BISA GAK SI?!"


Arsen menghela nafas lalu menarik Asya dan langsung menggendongnya ala bridal style.


"Turunin! Turunin aku!! AKU BELUM SELESAI!"


"Ck, diem."


Arsen menghampiri bodyguard Asya, "urus sisanya, bawa ke rs."


"Iya, mas."


Arsen tidak menjawab lagi dan pergi meninggalkan apartemen.


"AAAAAAKKK!"


Arsen teriak karena dadanya di gigit Asya.


Bukannya menurunkan Asya, Arsen cuma berhenti di tempat. "Udah berubah jadi kanibal?"


"Turunin aku!"


"No, never."


"ARSEN!!"


"Diem atau aku cium sekarang?!"


◕◕◕


Arsen membawa Asya menuju rumah makan favorit. Arsen tau Asya belum makan berat malam ini, makanya di ajak makan.


"Turun, kita makan dulu."


Asya tidak menjawab dan langsung turun. Arsen juga mengikuti Asya.


Mereka harus menyebrang terlebih dahulu karena mobil agak payah untuk berbelok kesana.


"Kamu kenapa diam? Tadi berontak terus."


Asya tetap tutup mulut.


"Kamu gak capek fisik hm? Bisa pula baru pulang dari perjalanan jauh gak ada capeknya."


"Siapa yang suruh kamu buat nyerang gitu aja? Kamu tau yang sebenarnya atau nggak?"


"Asya, jawab aku."


Melihat Asya tetap diam, Arsen menahan tangan Asya. "Punya mulut kan? Jawab pertanyaan ku."


"Apasih? Tadi nyuruh diam!"


"Sekarang aku suruh bicara."


Asya memejamkan matanya.


"Kamu tu salah, coba akui kesalahan jangan mikir nyari alasan. Pikirin apa yang kamu lakuin tadi, kalau aku telat Angela bisa mati."


"Oh. Kamu takut Angela mati? Berarti udah jatuh cinta sama dia ya?" Tanya Asya sinis.


"Kenapa malah kesana nyautnya? Aku gak jatuh cinta sama dia." Arsen masih menjelaskan dengan kalem, dirinya juga menarik Asya ke pinggiran.


"Kamu bela dia terus, keliatan jelas dari gerak-gerik kamu. Kamu suka sama dia!"


"Aku gak suka sama dia, Asya. Jangan nuduh sembarangan," jawab Arsen.


"Faktanya gitu Arsen. Kamu bela dia, kamu juga natap dia dengan tatapan yang beda banget. Udah keliatan Sen, keliatan!!"


"Setelah aku pikir sih yaaaa jelas kamu suka sama dia, dia seksii semokk montokkk. Apalah daya aku kena angin pun bisa terbang."


Kalian tau kan, Arsen susah mengendalikan emosi akhir-akhir ini? Sekarang dirinya sedang berusaha setengah mampuss agar tidak meluapkannya pada Asya.


"Asya, denger. Kamu itu jauh lebih seksi dari pada dia, kamu lebih bisa naikin hormon aku dari pada Angela. Paham?"


"Cih, bacot."


"Akui perasaanmu sendiri, gak usah nyari alasan!"


Asya beranjak pergi meninggalkan Arsen. Arsen sendiri sedang mengatur nafasnya dan juga mengontrol diri. Ini berat, tapi Arsen mampu menahannya.


"Asya, balik sekarang."


Tidak bereaksi.


"Asya."


Masih tetap tanpa reaksi.


"Asyaa. Balik sekarang juga."


Arsen geram, ia mengejar Asya lalu menarik tangannya cukup keras. Asya pun berbalik, Arsen langsung menarik tengkuk Asya kemudian mencium bibirnya.


Namun siapa sangka yang terjadi setelahnya?


Ada sesuatu yang mengalir di perut Arsen. Arsen tau, Arsen sadar, seketika itu juga Arsen melepas ciuman.


"Egh.. eungh."

__ADS_1


"A-Arsen, i-i'm sorryy..."


__ADS_2