Barbar Generation

Barbar Generation
Ovt


__ADS_3

Setelah mendapat kabar menggembirakan tadi, Asya, Azril, Arsen, Naina, dan yang lainnya kembali ke rumah utama. Di rumah utama juga ada Zai, Zean dan para istri.


Saat ini mereka sedang berbincang banyak hal. Para generasi muda hanya bisa terdiam ketika bapack-bapack itu membicarakan tentang perusahaan. Terkecuali Arsen yang kadang ikut nimbrung.


Di sela-sela obrolan, Zia yang tadinya duduk santai di samping Aska langsung buru-buru pergi ke wastafel dapur. Zia mual. Aska ikut berlari menyusul Zia dan memapahnya ketika Zia ingin kembali ke ruang keluarga.


Asya yang melihat mommynya mual-mual merasakan perasaan yang campur aduk, Asya sendiri bingung bagaimana cara mengungkapkannya.


Asya menghela nafas panjang, "Gara-gara doa lu nih, Zril!!" dumel Asya kesal.


"Whahaha! Allah baik banget sama gue, apa yang gue minta langsung dikabulin. Terimakasih, Ya Allah," kata Azril dengan wajah super sumringah.


"Ohh, jadi Azril memang pengen punya adekk?" tanya Febby menggoda. "Iya dong, ontyy. Pengen jadi abang biar bisa suruh ini ituu," jawab Azril bangga dengan tampang polosnya.


"NGGA BEGITU KONSEPNYAAAA OONNN!"


Azril malah tertawa cengengesan.


"Memang benar rupanya, muka tampan tidak menjamin kepintaran."


Mereka tertawa bersama karena ucapan Ara. Azril sendiri mengelus dadanya sambil tersenyum, "Sabar Azril, kamu memang tampan dan pintar kok."


"PEDEAN!"


"Anjerott ngegas benerrr!" Para orang tua hanya menggelengkan kepalanya dengan sedikit tawa.


"Asya kok jadi diem ajaa? Beneran gak suka punya adek?" tanya Zai keheranan. Semua pandangan auto menuju ke arah Asya.


Asya duduk tegak lalu menggeleng, "Kalau dibilang suka ya suka. Mommy, daddy, Azril sama yang lain juga kelihatan suka banget kan mau ada adek."


"Terus kenapa kamu keliatan tanpa ekspresi gitu?" tanya Zean gantian.


"Asya bingung harus bereaksi apa. Ya jujur Asya senang juga mau punya adek, tapi Asya takut mommy kenapa-kenapa nantinya. Asya tu gak mau liat mommy kesakitan ataupun kesusahan, mommy mual-mual tadi aja Asya udah sedihh..."


"Suatu pengakuan yang cukup mencengangkan. Tapi bukannya tadi lu bilang takut subsidi keuangan berkurang?"


"Itu alasan kedua sihh."


Aska, Zia dan yang lain tertawa lagi.


"Putri cantiknya mommy udah gede yaa, sekarang bisa banget ngertiin kondisi mommynya. Sayang, mommy tau kok kamu khawatir, kita berdoa yang terbaik aja yaa? InsyaAllah gak kenapa-kenapa," kata Zia menenangkan.


"Masalah subsidi keuangan mah gak bakal daddy kurangi, Nak. Nanti bakal daddy tambah kalau kamu mau ikut jaga dedenya," sahut Aska. Asya sedikit sumringah setelah mendengar perkataan Aska tadi.


"Dia kalau menyangkut uang bener-bener laju ye anjirr!" Asya cengengesan. "Kalau misalnya mommy kenapa-kenapa, kamu bisa bantu daddy jagain babynya kan?"


"Mommy ngomong apaa siiii?!" tanya Asya dan Azril barengan. "Yaaa mommy cuma mengantisipasi aja, siapa ta—"


"Gak usah ngaco, momm. Dahlah, Asya males bicara sama mommy!" Asya langsung pergi keluar rumah, ia juga mengabaikan setiap teriakan mereka.


"Asya gak beneran merajuk itu. Kalau merajuk dia pasti ke kamar dan kunci pintu," kata Azril. "Iya bener, Asya gak betul-betul merajuk itu."


"Tapi perlu dipastikan juga bukan? Arsen mo susul Asya dulu ya, om, tante."


"Iyaa, Sen."


Arsen tersenyum lalu pergi.


"Dia bener-bener takut banget ya kehilangan mommynyaa," celetuk Zai. "Memang lu kagak takut kehilangan emak lu? Setiap anak juga pastinya bakal takut kehilangan emak," jawab Zean tidak santai.


"Bener juga sii, tapi bisa ga lu SANTAI AJA GITU JAWABNYAAA?!"


"Gini nih kalau punya adek titisan setan. Sopannya ilang!" Zai malah tersenyum smirk. Terlihat seperti manusia prik.


"Btw, om Aska..."


Aska berdehem, "apa?"


"Kenapa pas buat om gak live streamingg? Kan Dino yang polos ini mau melihat behind the scenenya."


"Dino... Lu lebih baik punah aja gak si?"


Disisi lain, Arsen melihat Asya sedang duduk di ayunan playground. "Kok nggak takut hantu?" gumam Arsen pelan sembari mendekati Asya.


Arsen membuka jaket dan memakaikannya pada Asya. "Kenapa keluar? Di luar dingin tau."


"Kamu sendiri kenapa nyusul?"


Arsen yang tadinya menatap langit, kini menatap mata Asya. "Mau nemenin kamu dong. Masa aku biarin kamu di luar sendirian dingin-dingin begini, kan kejam banget jadinya."


Asya tersenyum simpul lalu meletakkan kepalanya di bahu Arsen. "Acenn, menurut kamu aku salah nggak sih berpikiran buruk kayak tadi?"


Arsen mengelus lembut rambut Asya dan menggeleng, "Kamu gak salah. Kalau aku diposisi kamu juga pasti bakal mikir gitu."


"Aku takut omongan aku tadi nyakitin hati mommy ataupun daddy. "


"Aku nggak tau itu bakal nyakitin atau nggak, tapi aku yakin mereka pasti ngerti gimana perasaan kamu," jawab Arsen masih mengelus rambut Asya.


"Acen...."


"Hmm?"


"Aku selalu takut kehilangan mommy, daddy ataupun Azril. Aku takutt, takutt bangett..." Arsen tidak bisa membalas perkataan Asya, yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah menenangkan Asya dari pemikiran buruknya.


"Apa aku pergi duluan aja ya biar gak ngeliat mereka pergi?" Arsen auto menggeser tubuh Asya.


"Ngomong apa sih? Hah? Ngomong apaa kamu?" Asya terpaku, dirinya terlihat linglung.


"Kamu gak sayang aku makanya bilang gitu? Kamu tau sendiri aku paling takut kehilangan kamu. Kalau kamu maunya gitu, aku aja deh yang pergi duluan."


Asya menganga, "barengan aja gimana?"


"Gak usah ngaco! Pergi-pergi apaan?! Inget dosa kalian banyak, sedangkan pahalanya cuma seuprit. Kebakar di neraka mampuss dah lu berdua."


"Haikal asuu."

__ADS_1


"Tidak ramah, tidak ada bintang!"


...◕◕◕ ʕ•ᴥ•ʔ ◕◕◕...


"Morning gaiseuuuu!!" sapa Asya pada seluruh penghuni rumah. Mereka tersenyum melihat Asya kembali menjadi Asya pagi ini.


Oh iya, just for information. Teman-teman, onty dan ongkel Asya sudah kembali ke rumah masing-masing tadi malam. Hanya tersisa Arsen dan Naina dirumah utama.


Arsen ada karena malas pulang, dan Naina ada karena sekarang dirinya memang tinggal di sana.


Jadi kemarin, setelah Azril membogem abangnya Naina, Aska mengurus sisanya lalu membawa Naina ke rumah.


Aska mengurusnya bukan karena permintaan Azril, tapi Aska sendiri yang ingin ikut campur. Aska memang selalu merasa setiap urusan anaknya juga termasuk urusannya.


Tapi kadang, sebelum Aska ikut campur, dirinya selalu bertanya dan melihat situasi. Jika benar-benar butuh bantuan, Aska selalu siap membantu.


Okay. Back to meja makan!


"Morning too, my princess."


Asya senyum pepsodent. "Mommy mual-mual ndak pagi ini? Biar Asya catat dulu."


"Dicatat? Catat buat apaan egeee?" tanya Azril heran. "Buat catatan aja la, biar ntar pas dede udah lahir gue yang baless rasa sakitnya mommyy."


"Jadi kasian sama dede, besok pas lahir udah kena mental dibuat kakaknya," Asya malah tertawa. Dirinya yang terlihat bahagia juga menjadi kebahagiaan bagi Zia.


Zia bangkit dari kursi lalu mengoleskan selai di roti untuk Asya. "Lhoh lhohh?! Asya bisa sendiri keleesss. Mommy duduk aja diem, nda bole capek-capeek!"


"Kan ngga cape kalau cuma ngolesin selai, sayang. Udah makan buruan roti kamu, setelah itu berangkat kuliah. Oh iya, Azril sama Naina juga berangkat?"


"Nanti siang, tante." Zia berohria lalu lanjut menikmati sarapan. Karena tadi pada kesiangan dan pembantu mereka juga tidak dirumah, sarapan pagi ini hanya ditemani dengan roti.


Di tengah keheningan, Arsen tiba-tiba terpikir akan satu hal. Dirinya mulai pura-pura batuk agar bisa membuka topik.


"Keselek truk lu? Daritadi batuk mulu," cibir Azril tidak peka. Arsen diam cengengesan. "Ada apa, Arsen? Ada yang mau kamu bicarakan?" Arsen mengangguk.


"Arsen... Arsen mau menyegerakan, om."


"Menyegerakan? Maksudnya?" Arsen tidak bersuara, ia menoleh sekilas ke arah Asya. "Ooohh, om paham. Mau kapann?"


"Kalauu akhir bulan ini atau awal bulan aja gimana, om?" tanya Arsen. "Om terserah kalian berdua, kapan maunya om turutin."


"Bahas apaan? Asya ndak paham."


"Gak usah sok gak paham. Udah mo nikah masih aja dongo!" Azril langsung mendapat dua pukulan. Satu dari Asya dan satu lagi dari Naina.


"Kalau ngomong disaring dulu ngapasii? Mau ku saring pake apa mulut kamu itu??!" Azril nyengir, "Maaf, nuna, keceplosan. Tapi emang sengaja si."


"Btw, gue mau kasih usulan," Azril pun mengganti topiknya agar tidak diserang kembali oleh dua wanita tadi. "Usulan apa?" tanya Arsen.


"Gimana kalau lu nikahnya ntar pass libur kuliah aja? Kasian Asya bolos kuliah mulu. Lagipula kan libur kuliah bentar lagi. Sabilah nunggu, gak bakal lama tuh," jawab Azril.


"Boleh jugaa. Ntar nikahnya kita buat mewah tapi tertutup. Kalau mau masuk harus pake kode QR biar orang asing gak bisa ngerusak acaranya," sahut Aska juga memberi usulan.


"Ehh mantep tuh, kekknya kecee deh. Kita sewa gedung aja, dadd," kata Asya ikut antusias. "Kok sewa gedung, mending daddy beli aja lah gedungnyaa."


"Hahaha! Tapi terserah kalian aja maunya gimana. Mau sewa ya terserah, mau beli ya oke. Terus fix-nya kapan, Sen, biar segera kita persiapkan."


"Nanti Arsen diskusiin dulu kali ya sama Asya, om Mikko sama pak Andre," Aska mengangguk paham. "Kalau udah nanti kasih tau om."


"Siapp, om."


"Dadd, momm, Asya sama Azril kan kembar nii. Nikahnya bareng aja gasiii? Biar lebih enakk gitu ekann," kata Azril menggoda.


"Kamu mau nikah? Sama Naina?" Azril mengangguk antusias. "Mau kamu kasih makan apa Nai? Batu bata?"


"Batu krikil rencananya, dad. Yaa makan nasi atuh daddyyyy."


"Iyaa, makan nasi. Nasi sebelum jadi nasi kan beras, beli beras pake uang, emang kamu punya uang??" tanya Aska meledek. "Punya dongg, yakali tuan muda Azril tidak punya uang."


"Punya? Uang darimana, nak?"


"Dari daddy."


"Jadi kamu nafkahin orang pake duit daddy gitu?" Azril diam sejenak. "Oiyaya? Kok jadi pake duit daddy? Ehh, nggak dong gak pake duit daddy. Kan duitnya udah dikasih ke Azril, artinya duit Azril."


"Yaaa lu dapat duitnya dari om Aska egee, berarti sama aja om Aska yang cari nafkah!" sahut Arsen geregetan. "Lu kalau mo nikahin anak orang tu beduit dulu, tuan muda. Masa ngandelin ortu, gimana sichh?!"


"Anjerrr. Iya jugaa! Yaudah, kalau gitu gue mulai kerja nantii," kata Azril yakin. "Kerja apa, nak?"


"Mulung."


"GUE LEMPAR PAKE GELAS INI PECAH PALA LU, ZRIL! Ngeselin banget lohhh dari tadiii," dumel Asya kesal. Azril malah terkekeh mendengarnya.


"Daddy gak masalah kalau Azril mo nikah juga, tapi beduit dulu. Asya kan calon lakiknya udah bisa nafkahin karena dolarnya beserak, lah kamu? Uang koin yang beserak, gimana mo nafkahin Nai?"


Azril diam dan berfikir. "Berarti, Azril harus punya dolar yang beserak dulu ya, daddy, baru bisa nikah?"


"AJIIL ASTAGHFIRULLAHALAZIM. Minggat yok, Cen, minggat. Ntar aku darah tinggi ngadepin siblings kek dia!" Arsen tertawa, ia menyetujui permintaan Asya.


"Momm, dadd, Asya sama Arsen mau cabut. Daddy jagain mommy ya, jangan sampe darah tinggi kek Asya gara-gara ngadepin Azril."


"Kalau gak sabar daddy tendang dari rumah ini nanti dia," jawab Aska.


"Baguss, dadd, bagusss!"


"Jahatt kalyann. Eh tapi sok-sokan mau buang aku, emang bisa hidup tanpa aku? Kan ga bisa."


"Iyain aja biar cepettt!"


"Hmzz, kit ati abang dek."


Asya menatap sinis Azril sekilas kemudian menyalami tangan Zia dan Aska, Arsen pun ikut melakukan hal yang sama. "Hati-hati di jalan, jangan kebut-kebutan ya, Arsen!"


"Aman, om. Kami pergi dulu, assalamu'alaikum," setelah jawaban salam terdengar Asya dan Arsen pergi meninggalkan rumah.

__ADS_1


Di perjalanan sangat hening. Tidak ada yang membuka pembicaraan karena sibuk bergelut dengan pikiran sendiri.


Arsen tersadar dari lamunannya. Untuk melenyapkan keheningan di mobil, Arsen menyetel lagu yang sedang ngehype di sosial media. Arsen menoleh sekilas, Asya masih melamun.


"Perempuankuuu, engkau cintakuuu. Tak mungkin bisa bila aku jauh darimuuuu. Bisa bilaku pasti sedihh, ku cinta engkau cinta pada perempuankuuuu..."


Asya tersadar.


"Semakin lama semakin ku tauu, maksud hati tak hanya mencintaimu. Hanya ku ingin habiskan seluruh hidup ku hanya untukmuuu..."


"Perempuankuu, engkau cintakuu. Tak mungkin bisa bila aku jauh darimuu. Bisa bila ku pasti sedih, ku cinta engkau cinta pada perempuan kuuu..."


Arsen terus menyanyikan lagu dengan pandangan fokus ke jalanan, namun satu tangannya menggenggam erat tangan Asya.


"Perempuankuu..."


Di akhir, Arsen menatap mata Asya, Asya juga sedang menatap matanya. Tau mereka saling pandang, Asya membuang muka. Asya salting!


"Kenapa buang mukaaa? Suara aku jelekk? Kamu lagi marah? Apa aku ada bikin salah sama kamuu?" tanya Arsen heran. "Ssttt, diem! Aku lagi saltinggggg!" Arsen tertawa mendengarnya.


"Salting tohh. Yaudah, aku lanjut lagi."


"Senyuma—"


Asya meletakkan telunjuknya dibibir Arsen kemudian mematikan musiknya. "Kamu gak cape bikin aku salting teruss?!"


"Ndakk. Lucu kamu kalau salting, pipinya merah meronaaa."


"ACEEEENNN!"


"Gemess bangett, Ya Allah! Pengen nyiummm," balas Arsen seratus persen sadar. "Cenn, aku tabok ya mulut kamuu?" Arsen malah tertawa.


"Oke deh, nggak lagiii."


"Nah gitu dong. Diem pokoknya, aku capek salting muluu!" Arsen pun diam sambil senyum-senyum menggoda.


"Eh btw, ayangg, kamu setuju ndak si sama usulan Azril tadi?" tanya Asya mengganti topik. "Kamu dari tadi mikirin itu apa gimana?"


"Iyyaa ga sepenuhnya mikirin itu sih, tapi ya mikirin itu. Jadi menurut kamu gimanaa?"


"Aku mah mau-mau aja, sayang. Sesiapnya kamu kapan. Kalau pas libur kuliah juga boleh, kan bisa sekalian honeymoon."


"Honeymoon gundulmu peang!" Arsen cengengesan, "sekalian gitu loh, sayaangg."


"Gak. Skip honeymoon! Aku juga setuju si sama usulannya Azril, tapi kamu udah beneran yakin kan? Kamu gak bakal cari wanita lain atauu apaa gituu?"


"Ck, mulai ngaconya. Kalau mau cari wanita lain udah dari dulu aku lakuinn, sayaang. Masalah yakin mah aku udah yakin, yakin banget malahh."


"Ehm... Seingat aku, kemarin kamu bilang belum nikahin aku karena ngerasa belum waktunya. Terus sekarang udah waktunya kah?" Arsen mengangguk.


"Aku gak mau memperlama lagi. Oiya, kalau kamu takut aku larang main sama temen-temen kamu, tenang aja sayang, aku gak bakal larang selagi yang kamu lakuin masih positif."


"Kalau kamu bilang kamu masih pengennya pacaran, kita juga bisa pacaran setelah nikah kan? Lagian kita juga udah lama banget deket tanpa hubungan sebelum tunangan, masa mau gitu terus?"


Asya diam, mencerna sejenak apa yang dikatakan Arsen. "Bener siiii. Bodoh banget pasti aku kalau nyia-nyiain yang serius kek kamu," jawab Asya.


"Nah! Sekarang aku tanya balik ke kamu, kamu udah yakin mau aku nikahin? Kamu gak bakal cari pria lain yang lebih dari aku kan?"


"Yakinnn! Aku gak bakal cari pria lain sih, soalnya gak ada yang lebih dari kamu kecuali daddy."


"Daddy masih number one ya, sayang?"


"Ouww ya jelasss. Sumber uang nomor satu!" Arsen tertawa sambil menggelengkan kepala, "lapor om Aska enak nihh..."


"IIIIIIHH, NDAA BOLE CEPUUU!"


...◕◕◕˙˚ʚ(´◡`)ɞ˚˙◕◕◕...


Kelas selesai, Asya dan teman-temannya pun bubar. Karena Arsen masih ada jam, Asya pergi menuju perpustakaan kampus. Asya berjalan sendirian sembaru mendengarkan lagu.


Setibanya di perpustakaan, Asya mematikan musiknya dan mulai berkeliling mencari buku. Disaat sedang asik memilih buku, tiba-tiba saha Asta terdorong.


"Sorryy, so— luu... yang kemarin di taman kan?" Asya diam dan mengerutkan dahi. "Tau dari manaa gue di taman?"


"Gue Stevan, yang minta kenalan kemarinn." Asya mengingatnya sekejap. Setelah teringat, Asya berohria lalu pergi. "Eh tungguu!" Asya berhenti.


"What's ur name? Can you give me ur number?"


"Sorry, but I can't give you my number. Because my number is expensive."


"I can buy it."


"But, I didn't sell it," Asya langsung pergi setelah melihat Stevan terdiam. Dirinya malas kalau nanti berantem lagi perkara Stevan.


Asya mengambil ponsel untuk melihat jam, dan ternyata ini jam pulangnya Arsen. Asya menuju parkiran dan menunggu Arsen di depan mobilnya.


"Heh!" Asya menoleh.


"Lu gak usah sok jual mahal deh ke Stevan! Sok cantik banget lu jadi orang!" Asya mengerutkan dahinya lagi.


"Emang cantik gue mah, btw, gue cuek ke Stevan bukan karena jual mahal, tapi hati gue udah keisi sama nama cowok gue! Kalau lu mah ambil Stevan ya AMBIL AJA EGEEE! Ga perlu lah ampe labrak gue gini, NORAK banget lu!"


"Oh iya. Cowok lu si Arsen, Arsen itukan? Gue pernah liat dia di hotel lagi check-in sambil bawa cewek seksi. Terus pas di lift, gue liat dia ciuman sama cewek itu."


"Hahahaha! Ngaco banget lu goblokk. Kalau ngarang agak pinteran dikit yaa? Karangan lu gak bikin gue ketar-ketir. Cowok gue gak pernah keluar malam, tiap hari bareng gue, bareng keluarga gue."


"Gue gak bilang kejadiannya baru-baru ini sih sebenernya. Tapi lu beneran gak percaya gitu kalau Arsen selingkuh? Kan bisa aja sama..."


"... clientnya."


Asya terdiam. 'Huhh! Maaf, Sen, hati aku percaya kamu gak bakal gitu. Tapi otak aku gak bisa diajak kompromi buat mikir positif...'


"Gue puny—"


"Berisik lu bangsatt! Gue gak percaya laki gue tukang selingkuh, kalau selingkuh dia udah lakuin itu dari dulu dan pasti udah ketahuan!"

__ADS_1


"Orang selingkuh tu lebih pinter tau. Dia belum ketauan karena emang belum waktunya kali? Dia masih sama lu sekarang, pasti karena pengen harta orang tua luu. Gue jadi kasian sama lu, cantik-cantik kena tipu," wanita itu langsung pergi setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.


Asya terdiam lagi, ia bersandar di bagian belakang mobil dengan pikiran yang campur aduk. 'Ah, ****! Gue overthinking berat sekarang.'


__ADS_2