
"Asya, Azril, packing baju sana. Nanti kita berangkat," suruh Aska ketika melihat kedua anaknya sedang menonton televisi di ruang keluarga.
"Nantii??"
"Besok maksud daddy."
"Oo, yaudah besok aja daddy."
Mereka berdua lanjut nonton.
"Packing sekarang biar gak kesibukan besok!!"
"Bawa dikit barang aja kok. Gak bakal sibukk," jawab Asya.
"Sebulan gak bakal sibuk?"
Mereka berdua auto tatap Aska.
"Sebulan?"
"Iya, sebulan. Makanya packing sana," titah Zia yang datang sambil membawa buah-buahan.
"Sebulan ngapain? Mau kemanaa? Ke Jepang sebulan?" Tanya Azril bingung.
"Empat negara dalam sebulan, satu negaranya seminggu. Kalian tinggal request mau kemana," jawab Aska santai.
"Busettt dahh, yang bener daddyy?"
Aska menganggukkan kepalanya.
Asya dan Azril saling bertatapan.
"Bapak gue kaya banget, Zril."
"Bapak lu ya bapak gue juga, dongo!"
Aska Zia tertawa melihat kedua anaknya itu.
"Kemana aja daddy empat negara? Ini beneran kah??"
"Iyaa, yakali bohong. Asya mau kemana, sayang?" Aska mendekati Asya.
"Asya mau ke Kanada deh keknya."
"Kanada? Nyari apa di Kanada?" Tanya Zia bingung.
"Nyari emak bapaknya Mark, kali aja Asya di angkat jadi mantunya."
"Sya, inget kata Doyoung. Jangan halu!"
Mereka bertiga tertawa melihat muka melasnya Asya.
"Asya masih bingung mau kemanaa. Mommy daddy maunya kemana?"
"Kemana aja asal sama kalian. Kan niatnya buat nyenengin kalian berdua," jawab Zia.
"Aaaaa, baper."
"Da ah, lebay! Sana packing."
"Oke, boss." Asya Azril pun masuk ke kamar masing-masing.
Di kamar Azril, Azril mengambil ponselnya terlebih dahulu sebelum mengambil koper.
Ada panggilan masuk dari Naina.
π "Assalamu'alaikum, Azril."
^^^"Wa'alaikumsalam. Kenapa, cantik?"^^^
π "Emm... aku gak enak mau bilangnya."
^^^"Tinggal bilang ke aku, ada apa?^^^
^^^Kek sama siapa aja sih gak enakan gitu."^^^
π "Jadi gini, tadi kan aku keluar taksi. Tapi tiba-tiba, drivernya nyuruh aku keluar terus sekarang lagi di jalan."
^^^"SENDIRIAN?"^^^
π "Iya, sendiri."
^^^"Kenapa gak bilang dari awal kalau mau keluar,^^^
^^^kan bisa aku anterin."^^^
π "Aku gak enak lah sama kamu.
Kamu bukan supir aku, Zril."
^^^"Yaudah iya terserah, pelihara aja terus rasa gak enak^^^
^^^kamu itu. Macem orang asing aku di mata kamu."^^^
Azril memang kesal.
Apapun yang Naina lakukan tidak pernah melibatkan dirinya karena rasa gak enak Naina. Bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali.
Biarpun begitu, Azril tetap peduli pada Naina.
Kini dirinya sedang memakai jaket lalu berjalan keluar kamar.
π "Bukan maksud aku gitβ"
^^^"Jangan di bahas, jangan di matikan teleponnya.^^^
^^^Kamu di mana?"^^^
π "Dii..."
^^^"Sharelock ajaa. Kamu jangan di tempat sepi,^^^
^^^cari keramaian. Aku kesana sekarang."^^^
π "Jangan lama-lamaa, aku takut sendirian."
Azril tidak menjawabnya karena sedang berlari menuju gantungan para kunci.
"Azril, kamu mau kemana?"
"Keluar bentar, daddy."
"Keluar kemana? Bilang sama mommy," titah Zia.
"Ini calon mantu mommy di turunin sama driver taksi gak ada akhlak."
"Lah? Kok bisa? Udah gak usah di jawab, buruan susul! Jangan sampe di apa-apainn."
"Sip. Azril pergi dulu ya, mommy, daddy. Assalamu'alaikum."
"Hati-hati, Azril."
Azril mengangguk lalu berlari keluar rumah.
^^^"Halo, Naina?"^^^
π "I-iyaa?"
^^^"Kenapa gagapp kamunya?"^^^
π "Emm itu.. kamu izinnyaβ"
^^^"Ohh ya ya ya, aku tau.^^^
^^^Salting kamu kan?"^^^
π "Gak si, b aja."
^^^"Ngeles! Jujur aja kamu, salting kan?"^^^
π "Di bilang nggak."
__ADS_1
^^^"Coba bayangin, kamu masuk neraka gara-gara^^^
^^^bohong terus. Tiap di tanyanin jawabnya nggak."^^^
π "Yaudah iyaa salting iyaa!"
Azril tertawa.
π "Kamu apaan coba bawa-bawa nerakaa gitu?
Pengen aku masuk neraka?!"
^^^"Nggak lah."^^^
π "Kalau aku beneran masuk neraka gimana?"
^^^"Nggak, sayang. Aku yang bakal bimbing kamu kelak^^^
^^^biar kita bisa masuk surga bersamaan."^^^
π "Aaaaa!"
^^^"Kenapaa? Sayang?"^^^
^^^"Naina kenapaa? Heyy!"^^^
π "Gapapaa kok, gapapa."
^^^"Kenapa teriakk tadi."^^^
π "SALTING SAMA OMONGAN KAMU!"
Azril tertawa lagi.
^^^"Saltingnya orang cantik teriak ya?"^^^
π "Modus terus, ku geplak ntar!"
^^^"Ku gigit telinga kamu."^^^
π "NGERII-NGERII."
^^^"Jangan macem-macem. Btw, kamu di tempat^^^
^^^rame kan? Kok bisa teriak-teriak dari tadi."^^^
π "Area hutan ramenya di mana?"
^^^"HAH?! DI HUTANNYA?"^^^
π "Iyaa, Azril."
^^^"Ck, kenapa gak bilang?!"^^^
Azril makin tancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lokasi Naina lumayan jauh dari tempatnya.
π "Azrill?"
^^^"Iya kenapa, sayang? Tunggu ya,^^^
^^^bentar lagi sampe."^^^
π "Gak perlu laju-laju banget kamunya,
aku gak sendiri kok."
^^^"M-maksudnya? Kamu di temenin kuntilanak?"^^^
π "NGGAK GITUU!! IH MALAH NAKUT-NAKUTIN."
^^^"Makanye ngomong yang jelas.^^^
^^^Kamu sama siapaa?"^^^
π "Sama handphone."
^^^"Ahh, ku makan beneran ntar kamu!"^^^
Azril mendengar suara Naina tertawa.
aku takut kamunya kenapa-kenapa."
^^^"Aku pembalap, kamu santai aja."^^^
π "Halah!"
^^^"Kamu pake baju apa, sayang?"^^^
π "Hoodie kamu yang warnanya coklat."
π "Eh itu kamu kah? Ada cahaya dari belakang."
Azril tidak menjawabnya. Agak jauh dari tempat berdirinya Naina, Azril berhenti. Azril keluar dari mobil, ia berlari mendekat lalu menarik tangan Naina.
Naina yang ke tarik menabrak pelan dada Azril.
Mereka berpelukan.
"Azrill."
"Hm? Kamu gapapakan? Ada yang ganggu?"
"Anu.. tangan aku kegencet."
Azril cengengesan kemudian melepas pelukan.
"Gak kegencet lagi kan? Jawab pertanyaan yang aku tanya tadi."
"Aku gapapa kok, gak ada yang ganggu juga."
"Yaudah, ayok masuk mobil."
Bukannya membiarkan Naina berjalan sendirian, Azril malah menggendongnya.
"Aku masih punya kaki, Azril!"
"Sengaja aku gendong biar kamunya gak kecapean."
Naina pasrah.
Di gendong ala-ala bridal style membuat tangan Naina berada di dada Azril. Naina bisa merasakan dada bidangnya Azril.
Perasaan Naina?
Pak cepak cepak cepak jeder!
Wkwk.
Naina menatap mata Azril yang sibuk menatap jalan. Azril mencoba fokus biar gak jatuh. Kan gak lucu kalau misalnya kesandung, gagal cool Mas Azril.
"Ehm!"
"Udahh, Nai, udah natapnya. Gugup aku tu di tatap cewek cantik."
Naina tertawa, "modus banget."
Azril cengengesan.
"Tolong bukain pintu mobilnya."
Pintu terbuka, Azril langsung meletakkan Naina lalu berlari ke sisi sebelah.
Sebelum kembali mengemudi, Azril melepas jaketnya kemudian memakaikannya pada Naina.
"Aku udah pake hoodie, kamu aja yang pake jaketnya. Baju kamu keliatan tipis," kata Naina.
"Tebal, setebal rasa cintaku."
"MODUSS!"
Azril nyengir.
__ADS_1
"Pake aja jaketnya, aku gak mau kamu kedinginan."
"Tapi aku udah pake hoodie."
"Apa salahnya di double, sayang. Pake buruan kalau nggak kita gak jalan."
Naina pun kembali memasangkan jaket Azril ke tubuhnya sendiri. Azril mulai mengemudi.
"Kamu mau beli apa tadi?"
"Beli gaun brokat untuk hadiah."
"Hadiah? Mau di kasih ke siapa?"
"Istrinya abang."
Azril berohria.
"Yaudah sekalian beli aja nih ya?"
Naina mengangguk.
"Supir taksi itu kenapa nyuruh kamu turun?"
"Gegara aku bersin dua kali, terus batuk sekali."
"Cuma bersin sama batuk doang kamu di turunin???" Tanya Azril heran.
"Iyaaa, katanya jorok."
"Stress tu orang, kek gak pernah bersin aja."
Naina tertawa kecil melihat ekspresi kesal Azril.
"Udah gak usah di pikirin."
"Gak bisa gitu lah, nanti aku beresin. Kek gak guna otak dia. Bisa pula nurunin cewek sendirian di hutan."
"Mau kamu apain coba?"
"Smackdown."
"Mengaco."
"Udah-udah sabar. Orang sabar di sayang Tuhan."
"Salah, orang sabar bokongnya lebar. Aku gak mau, makanya jadi gak sabaran."
Naina terkekeh.
"Gimana aku bisa pergi kalau kamu begini?"
"Lah, kamu mau kemana?"
"Daddy ngajakin liburan sebulan," kata Azril sembari fokus menyetir.
"Wishsh, kecee dong. Aku gapapa lah kamu tinggal, santai sajaa."
"Santai santai apaan? Kalau kejadian gini lagi gimana? Gak bisa jemput kamu nanti."
"Kan ada yang lain. Ada Alvin, Alex, Haikal sama Dino juga masih di Indonesia."
"Gak gak gak, gak boleh. Nanti yang ada mereka suka sama kamu."
"Widiww, kok mikirnya gituuu?"
"Yaa emang rada gak mungkin mereka suka sama kamu, tapi kan bisa ajaa. Aku gak mau ya kamu oleng ke mereka!"
Naina terkekeh, kenapa Azril posesif terlihat menyebalkan dan menggemaskan di waktu yang bersamaan?
"Kalau aku gak ke mereka, minta tolong ke siapa?"
"Ntar aku yang pikirin."
βββ
22.00
"Assalamu'alaikum, Azril pulaaanggg."
"Lama amat lu kampret! Nyimpang kemana?" Protes Asya langsung.
"Jawab dulu salam ege."
"Wa'alaikumsalam."
Asya, Aska dan Zia menjawab bersamaan.
"Nyimpang kemana dulu tadi?" Tanya Aska gantian.
"Itu tadi Azril nemenin Naina beli gaun untuk kakak iparnya, sekalian makan mie."
"Mie teross."
"Baru bulan ini Azril makan miee, momm."
"Bongaknyaa anda, Tuan Azril. Tiap tengah malam lu kebangun ye abistu masak mie," kata Asya.
"Ngadi-ngadi? Kan gak ada bekasnya."
"Bekasnya lu makan juga pe'a."
"Kan, kan. Asya tololl kumat!"
Aska Zia menggelengkan kepala melihat mereka berdua. Sudah hal yang lumrah~
"Bekasnya tu ada, tapi kamu buang di tempat sampah yang di kamar."
"Mommy tau?"
"Apa yang gak mommy tau?"
Azril cengengesan.
"Mie di tengah malam dengan campuran dua telor itu sangat nikmat, mom."
"Gak kamu, gak daddy mu sama aja. Nyemil mie mulu," omel Zia kesal. Aska dan Azril cengengesan.
"Asya gak ikut-ikut, Asya anak baik."
"Kamu gak makan mie, tapi buat samyang. Di kamar ada tu kan kotak tempat samyang, ramyeon dan sahabat-sahabatnya."
"WAHH, kok mommy tau? Fiks, mommy mata-mata!"
Zia menggelengkan kepalanya. "Jangan keseringan makan makanan instan, kalau laper tengah malam bangunin mommy. Mommy masakin nanti."
"Ahayyy, lopyu icikiwirr momm!!"
"Udah ya istriku, jangan ngomel mulu. Kamu kan juga demen makan mie."
"Puft, hahahaa. Sama sajaaa!"
Zia menahan tawanya.
Benar itu benar.
"Skip. Naina nya gapapa kan pas kamu jemput?"
"Gapapa mommy."
"Oiya, Azril boleh minta permintaan, daddy?"
Aska menganggukkan kepala.
"Of course, boy. Kamu minta permintaan apa?"
"Supir kita kan bakal nganggur tuh, suruh aja jadi supir Naina. Ntar mobilnya pake mobil Azril, terus tu juga kasih minimal dua bodyguard untuk Naina."
"Naina di jahatin?" Tanya Asya serius.
"Nggak, cuma buat jaga-jaga. Gue gak mau ntar Naina kenapa-kenapa selama sebulan gue tinggal."
__ADS_1
Asya berohria.
"Bener juga sii, good boy my twin."