
Asya dan Arsen sama-sama disibukkan dengan tugas-tugas yang membandel. Arsen mendapatkan tugas double karena ada perusahaan yang harus ia urus.
Sulit membagi waktu untuk Arsen sekarang. Pagi ia harus kuliah jika ada kelas lalu pulangnya langsung ke kantor. Ia lebih sering ke kantor sekarang karena ada perut lain yang harus diisi selain perutnya.
Menilik kesibukan yang begitu padat, Asya dan Arsen memiliki sedikit waktu untuk bersama. Hanya ada waktu di jam siang dan malam. Siang saat jam makan siang, dan malam saat waktunya istirahat. Meskipun begitu, mereka selalu menyempatkan diri untuk diskusi dan cerita banyak hal.
Hari ini, sehabis sarapan bersama keduanya pergi ke arah yang sama karena kebetulan memiliki kelas yang sama. "Sayang?" Arsen langsung menoleh ke arah Asya.
"Aku gak bisa biarin kamu sana-sini capek. Jadi pilih, kuliah atau kerja? Kalau kamu fokus kuliah dulu, kamu bisa kasih urusan pekerjaan sama tangan kanan kamu jadinya gak sana-sini capek."
"Gak bisa, sayang. Kalau bisa dua-dua ngapain harus pilih satu? Aku juga gak bisa pilih diantara itu karena dua-duanya sama penting. Aku kuliah biar bisa jaga kamu, kalau kerja biar bisa kasih kamu makan. Semua aku lakuin demi kamu."
"Tapi gak sampe capek gitu juga donggg! Pucet kamu tuhh, kecapean pasti karena kebanyakan pikiran. Putih duluan tu rambut baru tau rasa."
Arsen tertawa. "Aku ngelakuin ini juga gak terpaksa kok, semua demi masa depan kita, honey."
"Aku kasih tau ya, ada di drama, dokter meninggal sendiri di ruangannya karena capek kerja. Aku gak mau kamu kek gituu!!"
"Gak bakal kayak gitu, sayang. Lagian itu dokter, aku bukan dokter btw."
"Au ahh. Susah ngasih tau suami ngeyelan. Nanti abis kuliah ke kantor lagi?" Arsen menatap Asya. "Mau kamu?"
"Dak usah!"
"Okay."
"Hah?"
"Tapi katanya gak usah. Kalau gitu pulang kuliah aku mau cuddle and kiss banyak-banyakk!" Asya menyipitkan mata, "Kerja aja deh kamu!" Arsen tertawa.
"Ehh, kalau aku juga kerja gimana?"
"Hahaha hahaha hahahahahahahahaha. Ngaco! Aku masih mampu biayain kamu, sayang. Tapi kalau kamu mau kerjanya buka klinik sendiri di rumah it's okay, aku bolehin."
"Rumah be belum jadi."
"Nanti malam kita desain bareng, okee?" Asya menggeleng. "Nanti malam pasti kamu pulangnya lama."
"Belum tentu, sayang. Lagian kenapa marah mulu tiap aku pulang malam, bukannya seneng karena gak ada yang ganggu kamu drakoran?"
"Apasiiiiiii? Aku tiap malam sendiri sama aja kea belum nikahh. Makan sendirian, tidur sendirian, nonton sendirian, bicara pun sendirian macam orang gila."
"Iyaudah yaudah, pulang kuliah aku gak ke kantor. Nanti kita istirahat siang, terus sorenya nge-gym bareng, malamnya bebas mo ngapain. Deal?"
"Oke, deal!"
"Gini aja baru sumringah kamu," Asya cengengesan mendengar perkataan Arsen barusan. Tanpa menunggu lama lagi, kini keduanya tiba di kampus. Mereka turun bersama lalu jalan bergandengan tangan.
"Misi, bang. Ini kampus ya, bukan taman untuk orang pacaran." Asya dan Arsen berbalik, ternyata itu Alvin yang juga sedang menggandeng kresek hitam.
"Aduuuu, kasian banget mas gandengannya kresek. Kek saya dong, tangan asli," kata Arsen meledek sambil mengangkat genggamannya. "Dih, gue tabok tar lu yee!"
"Lu berdua kapan berantem? Mau ngeledek nih. Kalau berantem, kabarin. Dah, bye!" Alvin langsung pergi karena malas mendengar omelan Asya.
Asya sendiri hampir melepas sepatu kemudian melemparkannya pada Alvin. Untung di tahan Arsen, makanya sepatu itu tidak jadi melayang. "Ketemu ntar aku toyor noh pala Apin!"
...◕◕◕ ( ͡° ʖ̯ ͡°) ◕◕◕...
Sesuai perkataan Arsen tadi, mereka benar-benar pulang setelah kelar jam ngampus. Keduanya sekarang sudah berada di apartment.
Asya masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, sedangkan Arsen hanya membuka baju dan langsung merebahkan tubuh sembari memejamkan mata.
Arsen agak kurang tenang karena merasa kewajibannya ia abaikan. Dan sekarang dirinya berusaha untuk tidak memikirkan itu, memilih beristirahat.
Asya yang baru keluar kamar mandi tersenyum melihat Arsen menuruti perkataannya. Asya duduk di meja rias, memakai sunscreen lalu ikut merebahkan tubuh. Kepalanya Asya letakkan di dada Arsen, dalam posisi memeluk Arsen.
Arsen membuka mata sekejap, ia tersenyum sambil mengelus rambut Asya dan kembali memejamkan mata. Begitupula dengan Asya.
Baru lima menit tertidur, Asya mendongak dan memegangi dagu Arsen yang terdapat beberapa bulu jenggot yang tipis-tipis. "Kenapaa, sayang?" tanya Arsen masih terpejam.
"Gak laparr? Ayo mamm."
"Mam apaa? Mau beli?" Arsen mulai membuka mata dan menatap mata istrinya. "Nggaklah, ngapain beli? Kan aku bisa masakk."
"Yaudah ayo masak bareng. Mumpung aku belum lapar banget ini, kalau lapar banget nanti gak makan nasi lagi tapi makan kamuu."
"Hyehh. Mulaii!" Asya duduk dan mengikat rambutnya. Arsen sedikit bangkit kemudian menarik karet rambut Asya hingga ikatannya terlepas. "Apaann dahhh?"
"Nanti leher kamu ada hickeynya kalau kebuka gitu. Mau? Dua mingguan loh baru hilang." Asya menyipitkan mata lalu berjalan menjauh, "Dasar mesum!!" Arsen tertawa lalu menyusul Asya ke dapur.
Arsen memperhatikan Asya yang sedang berdiri lama di depan pintu kulkas. Asya bingung harus masak apa hari ini. "Kamu mau makan apa, Sen?"
"Up to u, babe."
"Sup ayam ditambah bakso mau? Mumpung ada wortel sama kentang juga."
"Ayam aja, baksonya besok-besok. Ntah kamu masak yang lain gitu baksonyaa. Kalau digabungin tarr bingung lagi kamu mo masak apaa," usul Arsen.
Asya mengangguk setuju. Ia pun mengeluarkan ayam beserta bumbu yang lainnya kemudian ia letakkan di dekat wastafel. Sebelum memulai, Asya menatap Arsen.
__ADS_1
"Panas tau masak gak iket rambut, nanti kalau rambutnya masuk ke makanan gimana? Aku kuciran yaa?"
Pelan tapi pasti, Arsen mengangguk dan memberikan kembali karet rambut Asya. Asya mulai memasak. Arsen disamping membantu memotongi wortel, kentang dan yang lainnya.
"Sup ini tu ngingetin pas aku sakit tau," kata Asya disela-sela memasak. "Kenapa gituu?"
"Karena waktu sakit dulu kamu masakin sup buat aku, inget gakk??" Arsen tersenyum senang. "Tentu inget dong, sebenernya aku gak expect kamu masih inget itu."
"Ih, aku inget semua yang pernah kita lewati tau. Termasuk bagian cerita susu yang dimasukin kecoa." Arsen tertawa. "Aku juga selalu ingat apapun tentang kita, termasuk yang di McD."
Asya gantian tertawa. "Asli, waktu itu aku bilang najis pas Dino ngeledekin aku jodoh sama kamu. Eh taunya beneran jodohh."
"Takdir emang gak ada yang tau."
Mereka kembali diam dan disibukkan dengan masakan. Namun tiba-tiba yang dilakukan Arsen terhenti karena ponselnya berbunyi. Arsen pergi terlebih dahulu untuk mengangkat telepon.
Asya menatap Arsen sinis dari dapur. Sangat-sangat curiga dengan penelepon. Bukan curiga penelponnya selingkuhan Arsen, tapi curiga kalau itu rekan kerja atau tangan kanan kepercayaan Arsen.
"Pasti mo cabut nih."
"Biarin, biarin, Syaaa. Dia cari duit." Asya fokus lagi ke makanannya. "Ehh, tapi... yaa masaa dia kerja mulu siii? Belum lagi sebulan nikah, masa gue ditinggal muluuu?" keluh Asya kesal.
"Ck. Udah skip. Macem kurang belaian kau, Asya!" Asya kembali tersenyum dan menyingkirkan pikiran-pikiran buruknya. "Kenapa senyum-senyum?" tanya Arsen sehabis teleponan.
"Nggak, gapapa. Telepon apa itu tadi?" Arsen menggelengkan kepala sambil mengelus punggung Asya. "Bukan apa-apa, sayang."
"Pasti tentang kerjaan, ya kan?"
"Hm? Udah ayo lanjut masak aja ya," Arsen membantu Asya mengaduk sup. Sedangkan Asya masih menatap heran Arsen. "Kamu keliatan gelisah banget tauu."
"Nggak kok, sayang. Sup ayamnya udah matang nih, makan sekarang aja yaa?" Asya mengangguk kaku.
"Sebentar, aku ngecas handphone dulu," Arsen pergi ke kamar dan membiarkan Asya menyiapkan semuanya. Arsen kembali tapi terlihat sudah mengganti baju. "Kan, urusan kerjaan pastii?"
Arsen nyengir. "Aku minta maaf ya, sayang. Ini tadi katanya ada client, dia maunya ketemu aku, gak mau ketemu perwakilan."
"Jadi aku ditinggal lagi? Makan sendiri lagi?" Arsen menggeleng lagi. "Aku makan dulu baru pergi. Janji nanti pulangnya cepet, gak pulang malam. Boleh yaa?"
"Aku larang juga tetep pergi kamunya. Yaudah ayo makan duluu, daripada nanti kelaparan walaupun ketemunya juga di tempat makan. Oh, atau mungkin kamu mau makannya bareng client ajaa?"
"Ini kan mau makan sama kamu, sayang. Enakan makan sama kamu, apalagi makan masakannya kamu." Asya mengabaikan Arsen, mereka mulai makan bersama dalam keheningan.
Arsen makan sedikit terburu-buru kali ini, ia takut tidak ontime. Sehabis makan, Arsen langsung meneguk air minum lalu mendekat dan mengecup kening Asya.
"Aku tinggal dulu ya? Sebentar doang kok, okayy?" Asya mengangguk malas, ia menyalami tangan Arsen.
"Gapapa, Sya, gapapa. Janjinya tadi gak lama dan gak sampe malam kan? Okee, mari kita tunggu. Awas aja kalau sampe pulang malemm," dumel Asya terus-menerus tanpa henti. Dirinya terlalu kesal karena sering ditinggal sendirian.
Ting tong!
Asya berjalan perlahan menuju pintu apartment. Pintu terbuka, Asya melihat Azril dan Naina datang bersama. "Mo ngapainnnn?! Gue mo tidur siangg," dumel Asya kesal lagi.
"Yailah, pending bae tidurnyaa. Gue sama Nai bawa salad sama seblak, mau kagak lu?" Asya tersenyum senang. "Silahkan masuk."
"Giliran makanan aja cepet lu!" Azril dan Naina masuk disusul Asya. "Loh ini lu lagi makan, Syaa?" tanya Naina melihat bekas makan Asya di meja.
"Iyaa, baru beres tadi."
"Terus napa kagak nolakk diajak makan seblak egee?" Asya cengengesan. "Perut gue masih muat, gue juga lagi gerah body. Makan seblak keknya cocok untuk menaikkan mood."
"Yain. Arsen mana?"
"Kerjaaa."
"Anyingg? Bukannya tadi pulang sama lu?" tanya Azril keheranan. "Nah bener, tadi pulang sama lu kan? Biasanya kalau dia ke kantor kan langsung aja gak pake nganter lu."
"Barusan dapat panggilan mendadak gitu. Lu gak liat apa dia pergii tadi?" Keduanya menggelengkan kepala. "Ouuu, jadi ini alasan kenapa lu gerah body? Ditinggal lagi sama ayang yaaa?"
"Berisik!"
Azril tertawa meledek. "Sabarr, dia lagi cari cuann. Kan mau beli pulau buat luu," kata Azril sembari membuka bungkusan seblak.
"Pulau? Pulau apaan njerr?!"
"Dia gak bilang? Waktu kemarin resepsi tu Arsen ada bilang sama gue, dia bakal kerja lebih keras supaya bisa beli pulau buat lu. Dia juga bilang tujuannya beli pulau biar bisa berduaan aja sama lu di pulau itu tanpa ada yang mengganggu."
"Ohh my God... I want a husband like Arsenn," kata Naina sambil berandai-andai. "Arsen like me, babe."
"Dih, pede bangett!" Azril menatap sinis kedua wanita itu lalu lanjut makan dengan santai. "Btw, Arsen beneran bilang gitu ke lu, Zril?"
"Hah? Enggak. Gue ngarang aja tadi."
"AZRIL JABINGAN!" Azril tertawa ngakak.
Sebenarnya apa yang dikatakan Azril benar. Tapi karena Azril teringat kalau perkataan Arsen itu surprise untuk Asya, Azril memilih untuk menutupinya lagi dengan membohongi Asya.
...◕◕◕(┬┬_┬┬)◕◕◕...
Tidak sesuai dengan janjinya tadi, Arsen pulang larut malam. Tepatnya pukul dua belas kurang lima menit, Arsen baru tiba di apart.
__ADS_1
Asya yang masih terbangun membukakan pintu untuk Arsen. Arsen tersenyum lebar agar Asya tidak marah, tapi ternyata Asya tetap tanpa ekspresi alias marah plus ngambek.
"Aku bawain martabak cokelat favorit kamu, sayang. Ngantrinya lama tadi, makanya aku pulang juga lama. Maaf yaaa?" Arsen mendekat ingin mengecup Asya, tapi Asya langsung menjauh dan berjalan ke dapur.
Arsen menghela nafas panjang. Ia meletakkan martabaknya di meja sofa lalu masuk ke kamar mandi di kamar. Asya menyusulnya ke kamar, mengeluarkan baju dan celana pendek untuk Arsen kemudian kembali keluar menyiapkan makanan.
Arsen tersenyum tipis melihat Asya masih perduli dengan dirinya. Padahal tujuan Asya menyiapkan baju dan celana Arsen agar lemari tidak berantakan lagi seperti kemarin-kemarin.
Arsen keluar dari kamar mencari Asya. Dirinya melihat Asya sedang memakan cemilan sambil menonton televisi. Arsen lapar, ia langsung menuju meja makan.
"Martabaknya gak dimakan, sayang?" Asya masih diam walaupun yang berbicara berada tepat disebelahnya. "Aku ngajak kamu ngomong loh ini, kok gak di jawab sih? Asya punya mulut kan, sayang?"
Arsen menghela nafas panjang lagi. "Aku minta maaf karena pulang malam hari ini. Tadi tu ada kerjaan yang gak bisa ditunda, terus di perusahaan satunya juga ada masalah karena ada beberapa data yang dicolong. Aku minta maaff bangett, maafin aku okay?"
"....."
"Mending kamu ngomel deh, daripada diemin aku kek gini, Sya. Aku gak suka kamu diemin."
Asya meletakkan cemilannya dikursi, ia mengambil bungkusan martabak tadi lalu masuk ke kamar. Terdengar suara pintu dikunci, Arsen menyusul.
"Lah beneran dikuncii? Sayang???"
Tidak ada respon apapun dari dalam.
"Sayangg, masa aku tidur di luar? Dingin tauuu..." rengek Arsen manja. Tiba-tiba pintu terbuka dan selimut terlempar. Arsen mengambilnya kemudian meratapi nasib. "Gini amatt, Ya Allah..."
Dengan teramat sangat terpaksa, Arsen tidur di sofa. Teringat dengan martabak tadi, Arsen mengambil ponsel untuk mengechat Asya, berniat untuk meledeknya.
asyaa mahoneyy <3
last seen today at 21.20
^^^ciee, ngambek tapii martabaknya juga diambillll^^^
Asya langsung online dan membaca pesan Arsen.
asyaa mahoneyy <3
Online
oh, mo dbuang aj y?
^^^singkat bangett ketikan kamuu. jangan dibuang tu martabaknya, aku ngantri lama tauu demi bawain kamu^^^
ak g minta.
^^^akukan pengertian. btw buka pintunya dong sayaangg, masa aku diluar sendiri??^^^
Asya tidak membalas pesannya lagi. Arsen jadi gelisah galau merana, ia tidak bisa tidur disini sendirian.
^^^ayangg maaff :((^^^
^^^janji ga ulangin lagii ᕕ( ՞ ᗜ ՞ )ᕗ^^^
^^^buka pintunya yaaa, aku gak bisa tidur kalau dak cuddle sama kamuuu. akuu mauu cuddleee :((^^^
Asya tetap tidak membalas pesan walaupun sudah dibaca. Arsen menunggu lama sampai akhirnya menyerah, memutuskan untuk mencoba memejamkan mata. Walau ternyata Arsen tetap tidak bisa tidur.
Di dalam kamar, Asya sedang menahan diri agar tidak kayang karena melihat foto tampan Arsen. Asya sendiri juga gak bisa tidur kalau gak cuddle dengan Arsen, makanya dari tadi Asya belum tertidur.
Masih berlagak sok cuek, Asya berjalan ke depan pintu kamar. Ia membukanya lalu kembali lari ke kasur. Mendengar suara kunci pintu terbuka, Arsen auto berlari ke dalam kamar.
"Akhirnya kamu bukaiinn... maaf yaa, sayangg?" kata Arsen sambil memeluk Asya. Asya mengelus rambut Arsen tanpa menjawab.
"Ih, bicara donggg. Kamu maafin aku ndakk?" Asya berdehem sekilas membuat Arsen kesal.
Tanpa aba-aba Arsen langsung mencium bibir Asya dan mengigitnya pelan. Asya meringis dan memaksa melepas ciuman. Ia menatap kesal Arsen.
"Yaaa maafff. Abisnya kamu diajakin ngomong gak mau ngomongg," dumel Arsen. "Kamunya ngeselin! Janji pulang gak lama tapi apaa? Malah pulangnya lamaaa bangett!"
"Tadikan udah aku jelasinn, masa masi ngambek? Aku juga pengennya pulang cepet tau, biar bisa cuddle sama kamu terusss."
"Alasan!" jawab Asya ketus.
"Ck! Aku cium lagi ya kamuuu? Tapi abistu bablass, langsung tancap gas gak pake remm, mauu??"
"Ahahahaha! No thanks."
"Why not?"
"Kamunya nakall!"
...----------------...
...Aku tadinya ngesend pap visual Arsen, tapi gak bisa...
...makanya gak jadi... ...
...I'm sorryy...
__ADS_1