
Asya benar-benar parno!
Kemanapun Arsen diikuti, bahkan saat dirinya rapat rahasia dengan beberapa orang penting di restoran vip malam ini. Asya duduk di sebelah Arsen, dan sibuk sendiri dengan ponselnya karena bosan dengan pembahasan mereka.
Anggota-anggota Arsen juga tampak santai, tidak merasa terganggu dengan Asya. Rapat rahasia ini memang sengaja diadakan malam hari supaya tidak ada gangguan.
Malam makin larut, Asya semakin mengantuk. Ia sudah mulai memejamkan matanya di atas kursi itu. "Pak, bu Asya keknya udah ngantuk berat itu," kata salah satu karyawan Arsen.
Arsen menoleh, ia menggelengkan kepala sembari tertawa kecil melihat tingkah istrinya. "Gemes ya, Pak. Istrinya single gak, Pak?" Ekpresi Arsen berubah datar. Mereka malah tertawa. "Tenang ae, Pak. Becanda kok, lagian bu Asya mana mau sama saya."
"Alhamdulillah kalau sadar," kata Arsen dengan senyuman. "Bahasan kita masih banyak lagi? Mau diselesaikan malam ini aja atau bagaimana? Biar besok gak ada rapat lagi kita."
"Kalau diselesaikan sekarang, itu bu Asya nya gimana? Kasian, udah terngantuk-ngantuk, Pak." Arsen menoleh lagi, Asya benar-benar terlelap sekarang. "Sayang?"
"Ha? Hem?" Asya membuka mata sekilas. Sepersekian detik berikutnya ia berpindah. Asya duduk dipangku menghadap Arsen dan kembali tertidur. "Aduhh, bu bosss. Meresahkan sekali yaaa."
"Saya belum nikah nii, iriii," keluh karyawan Arsen. Arsen nyengir dengan tangan mengelus pundak dan rambut Asya. "Istri saya gemesin banget, kan?"
"Iyaa. Banget, Pak! Dapet dimanaaa?"
"Bapak dulu ngerjain amalan apa deh, kok dapat istri yang MasyaAllah beginii?" Arsen tertawa mendengar perkataan karyawannya. "Saya juga gak tau ini abis ngapain makanya bisa dapet istri begini."
"Haduh ahh, gemesnya istrikuuu."
"Walah walahhh, Pak. Pulang aja yok, Pak? Saya iri."
...◕◕◕...
Tiba di rumah pukul setengah dua belas. Setelah rapat benar-benar selesai, Asya dibangunkan. Ia terbangun dan jadi gak ngantuk lagi sampai sekarang.
Sehabis bersih-bersih badan, Asya tiduran di kasur dengan senyuman melebar. Arsen yang baru keluar kamar mandi mengenakan handuk sebatas pinggang menatapnya curiga. "Ngapain??"
"Hehehehe. Temenin aku begadang mauu? Besok weekend, sayang."
"Aku udah ngantuk ini. Kamu mah enak udah tidur, aku belum sama sekali. Pegel-pegel jugaa badan aku," jawab Arsen memilah baju. Asya datang menghampiri dan memilihkan baju kaos dan boxer untuk Arsen.
"Aku pijitin kamu, tapi nanti temenin begadang. Deal?"
"Begadangnya mau ngapain?" tanya Arsen kini menatap Asya. "Emmm, ngobrol gitu atauu ngapain? Terserah kamuu deh. Aku gak bisa tidur lagii, gak ngantukk."
"Nugas gimanaa?"
"Aaaa.. Masa malem-malem nugass?"
"Tugas kamu banyak, kan? Mau kapan dikerjakan kalau gak sekarang?" Asya cemberut, "Ya masaa malem-malem harus pening mikirin tugas sih, Mas?" Arsen diam sambil memakai bajunya terlebih dahulu.
"Lagian ni kan, kamu abis mandi, otomatis masih ngejreng juga dong? Ayo ya begadang, tapi jangan nugas."
"Aku bisa aja tidur kalau ketemu kasur. Tapi yaudah iyaa, kita begadang bareng. Terserah mau ngapain." Asya senyum sumringah, ia langsung mengecupi bibir Arsen. "I love you, babeee."
"I love you moree," jawab Arsen bersama dengan senyuman manisnya. "Oke, karena aku sedikit lapar, gimana kalau kita goput?"
"Noo. Kasian nanti yang nganter, waktunya istirahat malah harus anterin pesanan. Mau masak aja gak?" Asya menggeleng, "Aku males ngotorin dapur, hehehe. Toko kue di depan masih buka ndak ya?"
"Cek dulu ayoo." Arsen mengambil dompet tebalnya di meja, memakaikan Asya jaket, kemudian menggandeng tangan Asya lalu pergi menuju ke toko kue di depan apartemen.
Untungnya masih buka.
Asya memilih kue cokelat dan beberapa donat dengan topping yang beranekaragam. Arsen bagian bayar. "Tumben ini malem-malem beli kue? Abis ehem ya mbak sama masnya, kek baru kelar mandi gituuuu," goda mbak penjaga toko.
Asya tertawa. "Nggak, mbak. Ini tadi baru pulang dari luar, terus kelaparan makanya beli kue buat ganjel perut. Ini mbaknya tumben juga belum tutup?"
"Mo ada pelanggan yang ambil pesanan, mbak. Katanya buat surprise temen, makanya jam dua belasan gini diambil."
"Jadi kasian ya mbaknya nunggu sampe malemm," kata Asya basa-basi. "Yahh, demi cuan gimana lagi, mbakk."
"Haha iya dehh. Ini makasih ya, mbak."
"Sama-sama, mbakk."
Asya tersenyum lebar, dan Arsen tersenyum tipis. Setelahnya mereka kembali ke apartemen. "Mbaknya ramah, bintang limaa. Tapi tadi kamu kok diem ajaa?" tanya Asya menatap suami.
"Percakapan cewek itu tadi."
"Helehh prett."
"Kamu mau aku gendong gak?" tanya Arsen gantian mengalihkan topik. "Katanya pegel-pegel?"
"Gakpapa, daripada kamu yang ngerengek pegel-pegel." Asya menatapnya kesal, "Aku gak gitu yaaa!"
"Halahh prett."
"Malah gantiannn."
Mereka sudah sampai di kamar lagi. Asya melepas jaket, membuka kotak donat dan memakannya satu. "Empuk banget donat mbak ini, aku sukaaa."
"Makan sepuas kamu deh, sayang. Nanti kalau kurang beli lagi," jawab Arsen merebahkan tubuhnya. "Kamu mau aku pijet sekarang?"
"Bolehh."
Asya ke kamar mandi untuk mencuci tangan, mengambil minyak urut lalu menghampiri Arsen di kasur. Pria itu sudah melepas bajunya. Asya mengoleskan minyak di punggung Arsen dan mulai mengurutnya pelan-pelan.
"Jangan bobooo."
"Iya, sayangg. Ke kiri sedikitt."
__ADS_1
Asya menuruti Arsen, memijatnya dengan santai agar tidak terasa semakin sakit. Salah satu kemampuan rahasia Asya adalah menjadi tukang pijet.
Asya memijat dari punggung hingga ke kaki Arsen. "Sayang. Dulu sebelum kita nikah, pas kamu pegel-pegel gini siapa yang pijetin?"
"Gak ada. Kalau capek pegel-pegel aku langsung tidurr. Besoknya udah enakan. Makanya kalau aku pegel, aku langsung tidur sambil peluk kamu. Besoknya bukan cuma enakan tapi bisa langsung segar bugar."
"Aku gak tau apa hubungannyaa... pi ya terserah kamu. Kenapa kamu gak minta pijetin aku aja kemaren-kemaren pas lagi pegel gitu??"
"Nanti gantian kamu yang pegel kan gak lucuu."
"Alesan." Kembali hening, Arsen fokus menikmati pijatan istrinya. Hampir saja menutup mata, untungnya Asya kembali bersuara. "Kamu besok mau punya anak berapa?"
"Tiba-tiba banget pertanyaannya bahas itu?" Asya cengengesan, "Gak tau juga, pengen nanya aja."
"Semaunya kamu yang melahirkan dan sedikasihnya sama Allah. Kamu mau berapa?"
"Mau satu tapi ntar kasian kan gak punya temen, mau dua aja deh. Gimana? Atau tiga ya?" Arsen tertawa sekilas. Ia berbalik lalu menarik tangan Asya agar rebahan di sebelahnya.
Mereka rebahan sambil bertatapan. Arsen menatap sembari merapikan rambut Asya yang mengganggu matanya. "Empat?"
"Nggakk, itu kebanyakaann. Dua aja deh dua. Tapi ya sedikasihnya sama Allah," Arsen tersenyum. "Kamu seneng gak sih nikah sama aku?" tanya Arsen gantian.
"Kenapa tanya begitu?"
"Cuma nanya juga. Mau jawaban jujurnya kamu," kata Arsen menopang kepala sambil miring menghadap Asya.
"Aku si seneng nikah sama kamu. Kalau ditanya kenapa, jawabannya karena itu kamu sih. Kamu tipe ideal dan sangat suamiable menurut aku. Terus muka kamu juga gak jelek-jelek amattt, jadi cocok sama aku. Oiya, yang terpenting kamu sayang aku dan aku juga sayang banget sama kamu. Jadi yauda gitu ajaa."
"Eung.. gemesnyaa istriku. Tapi rada ngeselin yaa, aku udah ganteng banget gini masa bilangnya gak jelek-jelek amatt."
"Ahahaha! Tapi kan benerr, gak jelek kamunyaaa."
"Tinggal bilang ganteng aja susah ya, sayangkuu?"
"Iyaa iyaaaa. Kamu ganteng dan cocoookkkk banget sama akuu." Arsen langsung mendekap Asya. Asya tertawa geli di dekapan Arsen. "Sekarang aku yang nanya lagi, coba sebutin hal yang kamu gak suka dari aku?"
"Kamu bebal banget kalau lagi dibilangin, jengkel aku liat kamu pas kek gitu. Terus apalagi ya? Itu aja sih kayanya, soalnya yang lain aku sukaa."
Asya nyengir, "Janji gak bebal lagii."
"Janjimu palsu, sayang."
"Hehehe.. Nggak padahall," Asya mengambil donatnya dan makan lagi. Ia juga menyuapi Arsen, jadi satu donat bagi dua. Padahal masih banyak. "Kamu gak nyesel nikah sama aku?" tanya Asya lagi.
"Nyesel kenapa? Memang gak ada ciptaan Allah yang sempurna, tapi menurut aku kamu itu sempurna banget. Jadi gak ada nyeselnya sama sekali."
"Harusnya aku deh yang jawab gituu. Kamu lebih perfectt. Dari segi apapun, bener-bener kek.... waaahhh. Aku pernah mikir gini, 'ini cowok kek gini beneran mau sama akuu? Dia gak salah pilih? Gak bakal nyesel kah?' gitu, aku mikir gituu."
Arsen tertawa kecil. "Aku jauh dari kata sempurna, sayang. Kalaupun aku keliatan sempurna, itu karena ada kamu disampingku. Bidadari cantik yang sabar banget sama aku, selalu setia disampingku dalam situasi dan kondisi apapun."
Asya memeluk Arsen erat. "Kamu tau gak sih, katanya karena masih pengantin baru aja makanya masih romantis banget ginii."
Arsen tertawa. "Nggak juga, sayang. Mommy sama daddy kamu selalu romantis tuh. Mau sampe berpuluh-puluh tahun nanti, sampe kita tua juga bakal tetep gini kalau kamu gak cari yang baru, sayanggg."
"Hahaha, aamiin. Aku gak bakal cari yang baru, dan kamu juga gak boleh begituu." Arsen tersenyum sembari mengelus rambut Asya pelan.
"Kita udah deh ya deep talknyaa. Nanti makin kesana makin kesini terus aku cryy. Ayok battle main ps aja, mau gaa??" tanya Asya melepas pelukan. "Boleh, ayok battle. Kalah dapet hukuman ya?"
"Kan, kannn. Mulai otaknya, mulaiiiii."
...◕◕◕...
Pagi hari, pasutri itu baru saja pulang dari tempat gym. Mereka sama-sama berolahraga agar lebih sehat dan bugar. Sekarang ini Asya sedang sibuk masak sarapan, sedangkan Arsen duduk di sofa menonton berita di televisi.
"Sayaanggg, tolong buangin sampahnya doonggg," teriak Asya. Arsen mematikan televisinya kemudian menghampiri Asya. "Mana, sini."
"Ituu," Asya menunjuk ke plastik hitam yang berisikan sampah. Arsen mengambilnya dengan tangan kiri lalu berjalan keluar sembari memakan roti selai yang memang Asya siapkan di meja.
Setelah membuang sampah, Arsen ingin masuk kembali. Tapi sorot matanya tak sengaja melihat ada seseorang yang mencurigakan. "Mulai lagi, gak bisa biarin gue tenang apa ya ini orang?" gumam Arsen sedikit kesal.
Arsen mengambil ponselnya, menelepon dengan gaya riang gembira seperti menelepon teman agar tidak terlihat sedang menelepon bodyguard. Arsen masuk kembali ketika selesai.
"Aku mandi duluan, nanti habis itu kamu mandi," perintah Arsen. "Mau pergi kita? Kemana?"
"Ke rumah papa. Habis sarapan kita pergi." Asya mengangguk setuju tanpa curiga sedikitpun. Arsen ke kamar, tepat saat ingin masuk kamar mandi, ponselnya berdering.
📞 "Bos, kabur..."
^^^"Tololl banget gitu aja bisa kabur? Cari sekarang, kalau sampe gak dapet, semuanya gue pecat."^^^
📞 "Ampun boss. Boongan, ini udah ketangkep."
^^^"Sialan. Mau gue pecat beneran?"^^^
📞 "Nggak, ampun bos. Ini tadi baru—"
Arsen langsung mematikan panggilannya begitu melihat Asya masuk ke kamar. "Abis telepon siapa?" tanya Asya santai.
"Alex. Katanya Alex di rumah juga."
"Tetep jadi pergi, kan?" Arsen mengangguk. "Terus kenapa kamu belum mandi juga sampe sekarang?" Arsen tersenyum mesum, "Mandi bareng mauu?"
"Tidak, terimakasii. Udah mandi sana duluan, aku mau ke indoshop sebentar." Arsen yang tadinya hendak masuk kamar mandi kembali berbalik. "Mau beli apa?"
"Something."
__ADS_1
"Iya apaaa?"
"Beliin jajan buat Cilaa."
"Gak usah sekarang, nanti bareng aja sama aku." Asya menatapnya kesal. "Cuma ke depan doang, sayang. Sebentar aja. Sekalian nunggu kamu kelar mandi."
"Nggak. Jangan bandel. Kemarin janjinya apa?"
"Iya-iyaa, okee. Gak beli sekarang, nanti bareng kamuu aja belinyaaa."
"Good girl. Kalau kamu pergi nanti gak bakal bisa jalan," kata Arsen langsung masuk ke kamar mandi setelahnya. Asya sendiri masih ngedumel dalam hati. Dirinya teramat sangat kesal kalau Arsen sudah mulai overprotective lagi seperti ini.
Tidak ingin jadi istri durhaka, Asya menurut. Ia keluar kamar, menata sarapannya lagi sambil menunggu Arsen selesai mandi. "Kalau dipikir-pikir, kek ada yang aneh deh. Menurut aku doang atau emang gitu ya?"
...◕◕◕...
Terlalu fokus dengan Asya dan Arsen, Azril yang notabenenya main center pria malah terlupakan. Padahal ini kisah si kembar, malah cuma satu yang sering kesorot. Maapin aing ye, Zrill. Hehe.
Kali ini kita beralih ke Azril ygy. Ia bersama Naina, mommy dan daddynya sedang sarapan pagi di rumah. Fyi, Naina masih menginap di sana. Dirinya sudah terlihat seperti anak kandungnya Zia.
Anggep aja mantunya.
"Hmm. Pasutri itu kenapa jarang kemari yahh? Keknya mereka lupa sama mommy daddyy," kata Azril tiba-tiba saat sedang sarapan. "Provokatorrr," cibir Naina.
"Tapi aku bener tauuu."
"Nggak gitu. Mereka sibuk, Zril. Asya jelas sibuk kuliah sambil jadi istri, Arsen apalagi. Dia kuliah iya, kerja iya, jadi suami juga iya," sahut mommy membela. "Ya tapikan, setidaknya tiap weekend dateng gitu kek, momm. Ngumpul bareng kan seru."
"Kangen yaa??"
"Nggaklaa. Yakalii."
"Bilang aja kangen, Zrill," ledek Naina tertawa. Azril menggeleng cepat, "Gak kangen. Gak kangen sama sekaliii."
"Alesan bangett."
"Skippp. Akhir tahun nanti Azril udah ada plan. Azril pengen jalan-jalan berdua sama Nai keliling dunia," lanjut Azril usai makanannya habis. "Duit darimana, nakku?"
"Mommy, daddy. Asya kan udah ada suami tuh ya, otomatis tanggungannya sama suami. Terus sekarang tanggungan mommy daddy cuma Azril lah, sama calon dede."
Aska dan Zia mengangguk-angguk. "Jadi kamu mau keliling dunia bareng cewek cantik ini tapi pake duitnya papa?" Azril tersenyum, tanda mengiyakan.
"Cowok macam apa ini? Kenapa terlihat gak modal banget ya?" sindir Zia. "Loh kok gak modall? Kan—"
"Kan apa? Gak masalah sebenarnya mau jalan-jalan, tapi modal dong pake duit sendiri. Duit tabungan kamu atau apa gitu, masa iya minta daddy? Ini tadi kalau Nai yang minta daddy kasih, kalau kamu gak bakal. Usaha cari duit dulu baru foya-foya."
Azril cemberut. "Mau cari duit di manaa? Azril ngamen gitu? Kerja part time?"
"Kerja sama daddy, sayang."
"Ih gak paham laaaa."
"Ya nantikan daddy ajari. Emang ni bocahnye aja kagak niat. Mau nikahin Naina kagak lu? Kok modal nebeng terus gak ada usahaa," cibiran bapaknya yang kali ini sedikit menohok. Azril tersenyum kesal.
"Azril mau ngepet saja, kalau tidak menyopet."
"Ohh, auto keluar KK sih. Berani kek gitu langsung out beneran." Azril tersenyum, "Gak jadi, Azril takut."
"Masih ada waktu, kalau mau usaha kamu bisa jalan-jalan sama Nai nanti tahun baru." Azril menatap Naina, yang ditatap hanya diam. Bingung harus berkata apa. "Ocee. Kanda akan berusaha demi kamu darling."
"Jamet. Yaudah, milih diajarin siapa? Tutormu banyak, ada daddy, ada ongkel-ongkel mu, ada abangmu, ada iparmu juga. Maunya sama siapa?"
"Otodidak."
"Yakin deckk?" tanya Aska ragu.
"Iyalaaa."
"Trukah?"
"Rill min..."
"Anak bapak ini memang sama-sama jamettt! Udah ah, pada mulai aktivitas sana. Naina kuliah juga kan hari ini?" Naina mengangguk dengan senyuman, "Iya kuliah, tantee."
"Kalau gitu berangkat sana sama Azril. Daddy juga, berangkat kerja sana sekarang."
Aska menatap istrinya, "Kamu gak mau ikut?"
"Males, mending tidur."
"Anak kita yang kali ini agak beda kayaknya ya. Dulu pas hamil si kembar kamu nempel terus tuh gak mau lepas, sampe ke kantor juga ikut, kemana-mana ikut. Sekarang kamu ikut aja ayok, malah aku yang khawatir kalau kamu di rumah sendiri."
"Lebaay dehh. Kan ada pembantuu, jadi gak sendirii. Aku tuh mau nonton drakor, banyak list ku yang harus ku penuhi ceklisnya."
"Karepmu, yang. Hati-hati di rumah, kalau apa-apa call," Zia mengangguk. Aska pun berdiri, mengecup kening Zia, "Aku berangkat."
Baru hendak pergi, langkah kaki Aska terhenti setelah mendengar perkataan Azril. "Ke KUA sekarang aja yok, Nai? Ini aku gak bisa banget liat orang romantisan, mau balas dendam." Aska dan Zia tertawa. "Gak punya modal, kebanyakan membual."
"Bapakku kalau ngomong emang... HWAAAHH! Liat aja ya, daddy. Nanti Azril kalahkan duit daddy, Azril kalahkan semuanya!!"
Aska tersenyum meledek, "Buktikan."
"Iya, okee, tunggu aja. Ayok darling kita coolyeah." Aska tertawa melihat anaknya emosi, "Hati-hati ya met, jangan sampe mantu gue lecett."
"Eh, calon mantu maksudnya."
__ADS_1