Barbar Generation

Barbar Generation
Kegepp???


__ADS_3

"Arsen..."


"Napaa?"


"Kamu tau gak kenapa aku sayang banget sama kamu??" Arsen yang tadinya fokus pada laptop, kini beralih menatap Asya. "Kenapa??"


"Ya gak tau kenapa, makanya aku tanya kamu."


"Kirain mau kasih tauu, ternyata nanyaa. Ya mana aku tau kamu sayang aku kenapa. Mungkin karena aku ganteng?"


"Mana lah, kamu aja jelek. Aku sayang kamu karena punya perasaan sih keknya."


Arsen auto menatapnya kesal. "Karepmu ae, yangg!" Asya tertawa lalu mengelus rambut Arsen lembut penuh kasih sayang, "Love youu, Arsen."


"Love you more, baby. Btw kalau sayang sama aku gak usah betingkah lagi ya, jangan sampe masuk rumah sakit lagii," omel Arsen menggenggam tangan Asya.


Asya menganggukkan kepalanya, "InsyaAllah. Kamu juga gak boleh masuk rumah sakit lagi!" Arsen membalasnya dengan senyuman.


"Yaudah lanjut lahh, ngurusin pekerjaan kann?" Arsen gantian mengangguk. "Sabar sebentar ya, sayang, ini untuk masa depan kita."


"Sipp! Tenang saja kamu. Demi mendapatkan CRF aku rela menunggu," jawab Asya mengambil buah apel di nakas.


"CRF mulu yang dipikiran kamu. Heran banget aku liatnyaa," dumel Arsen kesal. Asya cengengesan, "Naik CRF lebih romantiss tau, di jalan kita bisa pelukan."


"Alahh! kamu tu ngincer CRF karena mau kamu yang pake sendiriann. Aku tuh tau isi pikiran kamu, sayangg."


"Ehh nggak yaa. Beneran biar bisa romantis gitu mak— awhhh..."


Arsen kembali mengalihkan pandangan, ia melihat darah menetes dari tangan Asya. "Sayaaaaanggggg. Ai kamu mah gak sayang tubuh apa gimana sih? Berdarah lagi ini tangannyaaa."


Asya tersenyum memperlihatkan giginya yang putih dan bersih. "Aku nggak sengajaa, sayangg. Itutu karena pisau untuk kupas buahnya tajem bangettt."


"Kenapa gak minta tolong aku yang kupasin cobaa?" tanya Arsen sembari membantu Asya mengobati luka. "Kamu kan lagi sibuk, aku jadi ga enakk mo gangguuu."


"Kek sama siapa aja sih? Aku calon suami kamu btw, apa salahnya minta kupasin apel bentaran doang."


Melihat Arsen terus mengobati sambil mengomel, Asya mendekat dan mengecup bibirnya sekilas. "Aku tau aku salah jadi udah yaa ngomelnyaa?"


"Mo ngambek aku sama kamu!"


Asya tertawa kecil, "Gemes bangett lhoh kamu kalau ngambekan gituu."


"Gombalanmu gak mempann."


Merasa gagal dalam trik menggombal, Asya menggunakan trik berikutnya. Asya ikutan ngambek dan memasang wajah cemberut. "Yaudah kalau gitu gak mau teman Arsen!"


"Ya terserah. Lagipula kita bukan temen, tapi suami istri."


"Belum woii! Ngebet amat!!" Arsen tertawa sekilas lalu melanjutkan pekerjaan. "Eh, Arsen, kamu udah sarapan belum si?"


"Belum. Kan belum disuruh makan sama ayang."


"Ayang yang mana niihh?"


Arsen menatap sinis Asya, "Ayang aku ya kamuu lah, cantikk. Siapa lagi coba kalau bukan kamuu?"


"Yaa siapa tau mbak-mbak yang di bar kemarin."


"Mulai lagi nih mulaii."


Asya cengengesan, "Becanda doang kok, sayang. Yaudah makan deh sekarang, udah aku suruh nih. Mau makan nasgor gak kamu, atau mungkin kamu mau makan akuu?"


Arsen senyum menggoda, "Kamu mau dimakan? Mau di rumah sakit nih? Sekarang?"


"Aku yang salah penafsiran apa kamu sih ini?!" tanya Asya kesal. "Nggak tau, pokoknya aku pengen makan kamu sekarang."


"HEH HEH!! Dasar kanibal!" Arsen dan Asya terkejut. Ternyata itu suara Azril yang datang kembali bersama Naina. "Ganggu bae luu!" omel Arsen.


"Kalau gak diganggu bisa bikin terkejut kalian berdua," ujar Naina membela diri. "Hwahaha! Ternyata jadi setan menyenangkan juga."


"Emang lu cocok sih jadi setan."


"Yain aja yain. Nih gue bawa nasi goreng favorit lu, nunaa. Makan lagi biar cepet sembuhnya."


"Tumben bener luu?! Ada angin ribut apa??"


"Baik salah, jahat salah, gelemmu piye jane?" Asya, Arsen dan Naina tertawa melihat komuk Azril. "Lagipula ya, Sya, gak ada salahnya gue baik ke lu sekarang. Bentar lagi kita pisah rumah, lu harus tinggal bareng lakik lu."


"Alahh udah deh ah gak usah dramatis. Nggak jauh-jauh amat juga pisahnya, kan Asya gak pindah ke luar negeri," sahut Naina.


"Ya iya sii.. yaudah skip. Makan nohh!" Asya dan Arsen sudah memakannya sedari tadi. Azril dan Naina pun duduk diam sambil memperhatikan mereka berdua.


"Gue kasih tau ya sama lu berdua. Kunci awetnya suatu hubungan itu saling percayaa, jangan apa-apa dicurigain terus disimpulkan sendiri. Cari dulu betulnya gimana baruu ditanyakan baik-baik, jangan asal aja. Apa-apa itu butuh bukti."


"Jadiin ini pelajaran. Kalau besok-besok ada beginian lagi, gue jamin pernikahan lu berdua bakal batal karena gue bakal hasut satu keluarga buat batalin."


"Anjirr, ngancemnya nakutin. Btw lu ada dari rumah utama tadi? Rumahnya haraboji? Sampe sekarang gue masih kepikiran, bakal batal gak ya pernikahan gue?" tanya Arsen cemas.


"Gue darisana tadi bareng Nai. Masalah pernikahan, lu berdua tenang ajaa. Gak batal kok, malah disuruh percepat sama yang lain."


Arsen mengelus dadanya dan bernafas lega, "Untungnyaa gak dibatalkan."


"Next time jangan gitu lagi pokoknya. Kalau terjadi lagi, gak gue hasut juga mungkin mereka akan batalin pernikahan kalian," ujar Azril santai.


"Keknya emang harus dipercepat ya?"


Azril mengangguk. "Tapi ada satu hal yang perlu gue pastikan, kemarin lu gak bener-bener selingkuh kan?"


"Nggak, Zril. Demi Allah, gue gak selingkuh. Kemarin itu kan gue tidur di big home om Aska, terus gue dapat telepon dari orang yang gak dikenal. Awalnya salah sambung, dia mau nelepon Asya bukan gue."

__ADS_1


"Sebelum dia matikan tu gue ngaku kalau gue sepupunya Asya. Barulah dia bilang bakal ngasih bukti pasti tentang perselingkuhan gue sama client. Gue cepet-cepetlah mau samperin dia."


"Tujuan gue mau ketemu dia itu bukan karena takut ketauan Asya atau karena mau sembunyikan bukti, tapi karena takut dia semakin memanipulasi Asya. Gue juga sekalian mau ngehajar tu orang sampe babak belur karena seenaknya banget nuduh gue yang nggak-nggak."


"Terus, lu beneran ketemu sama orangnya?" tanya Naina.


"Sayangnya tidak. Gue teleponin lagi tu orang malah gak diangkat. Karena sebelumnya dia bilang ada di mall, jadi gue cari keliling mall. Eh, tetep gak jumpa."


"Waktu gue jalan santai sambil liat sana-sini, tiba-tiba aja ada yang mukul keras dari belakang. Gue masih sadar itu. Ketika gue mau bangkit dan ngeliat siapa yang mukul, mata gue malah ditutup terus mulut gue dimasukin sesuatu dan gak tau itu apa. Abistu gue sadarnya pas di bar."


"Tuh kan, berarti dugaan gue bener kalau lu dicekokin sesuatu, tapi apa cobaa? Dan bukti yang mereka maksud itu apaa?" tanya Azril gantian.


"Feeling gue mengatakan itu cuma buat pancingan aja biar dapat bukti yang sebenernya. Mereka fotoin Arsen di club, terus ngirim fotonya ke gue sebagai bukti. Bisa aja kan? We never knows."


"Bener-benerr. Picik banget si otaknya! Pasti tu orang iri banget sama hubungan lu berdua," kata Naina kesal.


"Ntar kalau dalang yang sesungguhnya udah ketahuan, gak perduli dia cewek ataupun cowok, gue janji bakal mukuli dia sampe sekarat di rumah sakit."


"Are u crazyy?"


"Hm. Gue bakal kembali gila kalau ada orang ganggu kehidupan gue dan orang yang gue cintai."


"Wahh... Gue gak sabar lihat tinjuan lu buat muka orang berdarah-darah," tantang Azril.


Arsen tersenyum miring, "gue juga gak sabar buat ninju muka tu orang sampe berdarah-darah."


"Hadehh! Gini amat punya calon suami ganas."


"Eh sebenernya yang jadi pertanyaan gue sekarang tu gini ya. Kenapaa Asya tiba-tiba ada di gudang itu dan ngehalang tubuh Arsen?"


"Nah! Bener lu, Nai, gue mau tanya itu juga tapi lupa," kata Arsen sembari menutup rapat laptop. Sepertinya Arsen akan lembur lagi nanti malam.


"Itu karena..."


Tok tok!


"Selamat pagii."


"Kak Stevan? Kak Stevan kok bisa disini?" Bukannya menjawab, Stevan hanya diam dan tersenyum.


Arsen yang di samping Asya auto mengerutkan dahi. "Kak? What do you mean, Asya? Dia yang kemarin pas jogging kan? Kok kamu tiba-tiba jadi akrab sama dia?" tanya Arsen bertubi-tubi.


Asya menggenggam tangan Arsen, "Dengerin aku dulu. Jadii, alasan kenapa aku datang ke gudang buat selamatin kamu itu karena kak Stevan. Dia yang bantu ngejelasin semuanya."


—· Flashback (again) on


"Inget, Sya, penyesalan itu diakhir. Gue gak mau ya lu nyusul dia nantinyaa."


"Gue gak bodoh."


"Huhh! Sayang banget mommy-daddy udah terbang ke Jerman tadi, siapa yang bisa bujuk lu selain mereka? Bang Zafran bisa gak?"


Azril pasrah, "Arsen rela mati karena disuruh ayangnya. So sweet banget kan ya, gue yakin lu gak bakal nemu duplikatnya Arsen di manapun itu."


"Gak ada respon? Okelah, gue pergi. Gue mau ketemu orang sebaik Arsen, untuk yang terakhir kalinya."


"Syaa?? Lu tidur??"


Masih hening.


"Asyaa?" Azril pergi kembali ke lantai dasar mencari kunci serep. Ia takut Asya kenapa-kenapa karena tidak bersuara sama sekali.


Meanwhile di dalam kamar, Asya sedang terkejut membaca chat panjang dari seseorang.


Chat tersebut berasal dari Stevan. Stevan menjelaskan semuanya tentang tragedi Arsen, Stevan juga memberikan beberapa bukti agar Asya percaya.


Setelah membaca semuanya, Asya berlari keluar kamar. Tepat di tangga, dirinya berpapasan dengan Azril.


"Lu kenapa gak buka pintu setan!! Gue panik, gue takut lu kenapa-kenapaa!!" dumel Azril.


Asya meletakkan telunjuknya di depan bibir Azril, "Ntar dulu ngomelnya. Ayo ketemu Arsen dan batalin percobaan bunuh dirinya, gue takut banget kehilangan Arsen."


Tanpa menunggu jawaban Azril, Asya langsung menarik tangan Azril dan pergi dari rumah. "Arsen dimanaa, Zril? Lu tau lokasinya kann?" tanya Asya sambil mengemudi.


"Tunggu, lu kenapa tiba-tiba mau ketemu Arsen? Tadi ngotot banget gak mau ketemu Arsen," ujar Azril bingung.


"Gak usah banyak bacott! Lu tau nggak dimana lokasinya?!"


Azril menghela nafas panjang, "Iya gue tau. Tukar tempat sekarang, biar gue yang nyetir."


Flashback off ·—


"Teruss Asyaa sampe di gudang dan langsung ngehadang peluru tanpa pikir panjang?" tanya Naina. Azril mengangguk, "tololl kan dia? Emang bawaan lahir sih."


"Sialan lu, Zril!!" Azril tertawa cengengesan.


"Sekarang Asya udah gak kenapa-kenapa kan?" tanya Stevan mendekati Asya. "Gue gak kenapa-kenapa kok, kak. Gak terlalu parah juga lukanya."


Mereka lanjut berbincang banyak hal, namun berbeda dengan Arsen yang masih diam memperhatikan Stevan yang terus-menerus menatap Asya. 'Ahh siall, firasat gue jelek banget soal manusia satu ini,' kata Arsen dalam hati.


"Sayang?"


"Hm? Iya, sayang, kenapa?" tanya Arsen dengan senyuman manis. "Kamu gapapa kan? Kok bengong?"


"Nggakk bengong kok. Cuma lagi merhatiin kecantikan kamu aja," Asya jadi maloeee mendengar perkataan Arsen.


"Buayaaa, buayaaa," ledek Azril.


"Dih, gak mirrorr!" Mereka tertawa bersama.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, lu dapat nomor Asya darimana? Dan, lu kok bisa tau tentang kronologi cerita gue?" tanya Arsen berusaha kalem. "Oiya bener juga. Dapat darimana, kak? Kan gue gak ada ngasih nomor ke lu."


"Dapat nomor Asya dari... dari temen luu yang sering jajan di kantin." Asya dan yang lainnya berfikir, "Dino?"


"Keknya iyaa, gue gak tau namanyaa."


"Kampret emang tu anak, share nomor gue gak bilang-bilang," dumel Asya kesal. "Jangan salahin dia, gue yang salah kok, gue yang minta paksa kemarin."


"Oohh, gituu.. makasih ya, kak, udah bantu lurusin masalahnya," kata Asya sambil tersenyum. Stevan juga ikut tersenyum. "Sama-sama."


Arsen masih tetap memperhatikan keduanya. Karena tidak tahan melihat Asya tersenyum pada pria lain, Arsen berdiri lalu mengecup lama bibir Asya.


Setelahnya, Arsen berbisik. "Bisakah kamu hanya memberikan senyummu padaku? I don't like ur smile being seen by other people."


Asya malah tertawa dan kembali mengecup bibir Arsen. "Ur so cute, if ur jealous of me."


"I'm not jealous. I just don't like Stevan seeing your smile."


"Samaa aja kamu jealous, honey. Remember what I said right now. I love you and only love you, Arsen Shafwan William."


...◕◕◕ヾ(❀╹◡╹)ノ゙◕◕◕...


"Seingat aku, Asya jarang banget manggil Arsen sayang, honey, baby atau sejenisnya. Tadi kok tumben-tumbenan bangett yaa?" tanya Azril pada Naina diperjalanan pulang.


"Kalau menurut aku sih karena ada Stevan. Asya tu suka cemburu gak jelas, si Arsen juga begitukan? Jadi biar Arsen gak cemburu, Asya panggil sayang terus. Mungkin sekalian ngasih tau ke Stevan kalau Asya punya Arsen."


"Mungkin iya sih. Tapi kekk beda banget tau denger Asya manggil Arsen romantis begitu."


Naina tertawa, "Jadi lucu menurut aku mah. Asya memang lucuu bangett, apalagi kalau misalnya lagi cemburu sama Arsen."


"Kalau kata aku sih lucuan kamu."


Naina langsung menatapnya sinis, "Ada maunya yaa?!" Azril malah tertawa, "Aduuhhh, ayang aku lucu bangettt! Ngerepotin hati ajaaaa kamu."


Di rumah sakit, Asya sedang terdiam dengan kegabutan yang melanda. Arsen sedang zoom meeting, jadi tidak bisa diganggu.


Asya meliriknya sekilas. Kebetulan, Arsen juga sedang menoleh. "Kamu masih lamaa? Aku gabutt," kata Asya berbisik. Arsen tidak menjawab dan malah buang muka.


"Dih kacang. Lagian ngapain ni anak pake ngadain zoom meet di rumah sakit. Mending langsung meeting aja sono ke kantor. Akunya juga sama aja dikacangin kan."


Mendengar hal itu Arsen tertawa kecil. "Gak usah ketawaa, kamu jelee!" Arsen diam, sampai akhirnya lima menit berlalu. Kini zoom meeting Arsen sudah selesai. Arsen berdiri dan meregangkan otot-ototnya, lalu beranjak naik ke brangkar Asya.


"Heh! Mo ngapain?!"


"Ku ngantuk, sayang, pengen tidurr."


"Di sofaaa!!!"


"Gak enak, gak bisa peluk kamu."


"Belum sah ya begee. Turun!"


"Pegell di sofa muluuu."


"Ish, nanti ada yang masuk terus salah paham gimanaa? Aku aja dehh yang di sofa."


"No no noo. Aku aja yang di sofaa," Arsen langsung pindah dan merebahkan tubuhnya di sofa.


Asya memperhatikan setiap gerak-gerik Arsen dan menunggu Arsen berbicara. Tapi sampai sepuluh menit berlalu, Arsen tetap diam sambil memejamkan matanya.


Asya tak tahan. "Arsen? Kamu gak ada yang mo dibicarakan gitu sama aku?" Arsen membuka mata dan menatap Asya, "About what? My job?"


"No no, that's not it."


"Lalu??"


"Stevan."


Arsen kembali memejamkan mata. "Dak ada yang perlu dibicarakan. Kamu panggil aku sayang, baby, honey dan sejenisnya pas ada dia itu udah cukup meyakinkan aku, kalau aku punya kamu."


Asya turun dari brangkar, ia menghampiri Arsen dan duduk di meja depan sofa. "U really love me, right?"


"Iyaa, sayangg."


"Ih tapi kok gak cemburuuu?!"


Arsen duduk tepat di hadapan Asya, "Gak cemburu apanya? Lupa yaa kalau tadi aku cium kamu lama karena aku cemburu?"


"Aku cemburu, sayangg. Tapi cemburunya aku simpen biar kita gak ribut. Overthinking aku juga ilang pas kamu panggil sayang terus-terusan."


"Padahal biasanya kamu panggil nama aku doang, ehh pas ada dia malah panggil sayang. Kan aku jadi salting dan tidak bisa overthinking."


Asya tertawa mendengarnya. "Kamu ni terlalu sempurna buat aku, itu sebabnya aku selalu takut kehilangan kamu. Jangan pernah pergi yaaa," kata Asya tiba-tiba sembari memeluk Arsen.


"Kamu yang terlalu sempurna buat cowok kek aku. Asal kamu tau, aku lebih takut kehilangan kamu. Btw, aku gak kemana-mana kok. Kalau gak di rumah berarti lagi di kantor cari duit buat anak kita nanti," bisik Arsen membalas pelukan.


Mendengar ucapan Arsen tadi, Asya melepas pelukannya. "Arsen, kita nikah aja belum ya, kenapa udah mikir anakk?!"


"Berpikir ke masa depan broo. Beberapa tahun lagi juga kita bakal punya baby gemoyy yang ganteng kek aku atau cantik kek kamu."


"Kalau iyaa. Tapi aamiinin aja dehh!" Arsen tersenyum senang. "Coba kamu panggil aku kek tadi lagii. Honeyy atau sayang gituu," goda Arsen sambil memegangi tangan Asya.


"Emm... Honey?" Arsen auto salting, lalu memeluk erat tubuh Asya. "Ebusett! Buayaa beginii amat yak kalau saltingg?"


"Tapi lucukk sii buayanya Asyaa!!" Arsen cengengesan dipelukan Asya. Mereka berdua saling berpelukan erat, tidak ingin melepas satu sama lain.


Namun tiba-tiba...


Ceklek!

__ADS_1


"Assalamuakaikum- Waaddduhh, apaan ini?! Harus langsung dinikahin gak sih cocoknyaaa?"


__ADS_2