Barbar Generation

Barbar Generation
Ngebett


__ADS_3

Asya dan Arsen sudah tiba di kampus dari tadi.


Tapi karena jam kelas Asya di tunda dan Arsen di ghosting sama dosen, keduanya memutuskan untuk ngemil di kantin berduaan.


"Ntarr abis ini cari baju lagi yukk?" ajak Asya menatap Arsen. "Cari baju lagi? Untuk apaa?"


"Untuk di juall! Ya untuk di pake laahh. Nyari bajunya di butik ajaa, cari yang bisa di pake juga buat pestanya bang Zap."


"Beli baju couple aja, sayaaang. Pasti gemes," Arsen tersenyum dan membayangkannya.


"Lebay banget couple-an."


"Nggak yaa! Ahh kamu gak seru, padahal aku pengen couple-an!" Asya tertawa melihat Arsen sedikit merajuk.


"Yaudah ntar beli deh kalau mauu," ujar Asya membujuk. "Bener nih? Alaaah, nanti beli doang di pake nggak."


"Di pake, di pake. Bener deh di pake," jawab Asya meyakinkan. Arsen tersenyum sumringah mendengarnya.


"Okeee, nanti kita belii!" kata Arsen antusias. Asya auto menggelengkan kepala melihat Arsen sekarang.


"Kamu tu dulu fakboyy, sekarang kok macem baby boyy?!" Arsen tertawa kecil, "yang penting dari dulu sampe sekarang masih sayang kamu."


"Moduss teross!"


Arsen cengengesan.


"Aku mauu minta minumnya kamuu bolee?" pinta Asya kalem. "Nihh minumlahh." Asya mengambil minuman Arsen dan mengganti pipetnya dengan pipet punya Arsen tadi.


"Gitu banget, ayaangg," rengek Arsen kesal. Asya tertawa sambil lanjut meminum.


"Wihh! Capek kali aku liatnya, di mana-mana ada uwuu uwu. Ku belah juga nanti dunia ini," cerocos Alvin yang datang tiba-tiba.


Alvin tidak sendiri, ia bersama dengan Alex dan Racksa. Mereka selalu bertiga sekarang, tapi bukan cinta segitiga ya!


"Irii ya, bu?"


"Bu bu apaaan aanjrott?" tanya Alvin sinis.


"Babu."


"Anjirr si Arsen!!"


Asya dan Arsen tertawa.


"Tolong toleransinya abang kakak, jangan uwu-uwuan disini," kata Alex sok sopan.


"Nah betull. Kami disini mo makan kokk, jangan bandel ya lu bedua! Gue sembur nanti," sahut Racksa dengan senyuman mematikan.


"Iya iyaa. Bawel banget mo makan aja," jawab Asya cuek. "Kalau nggak gitu lu bedua resee bangett!"


"Ngga ngga. Udah buruan makan, keburu masuk kelas lu betiga."


"Yain!" Alvin pun pergi memesan makanan, sedangkan Alex dan Racksa duduk di dekat Asya Arsen.


"Btw, lu betiga gak terlibat cinta segitiga kan?" tanya Arsen dengan komuk meledek.


"Nggak begooo. Ah ilah luu! Kami bertiga masih demen cewekk," jawab Racksa ngegas.


"Kalau Alex sama Alvin sih gue masih percaya yaaa. Tapi kalauu Racksa gue raguuu," kata Asya to the point.


"Ragu kenapa?"


"Dia dari dulu ga pernah deketin cewekk woiii. Gak ngeliat dia ada ketertarikan jugaa ke ceweeekk!"


"Eh bener-benerrr. Lu waras kan cugg?" tanya Alvin yang datang dua detik lalu.


"Demi Allah gue waras. Kalau masalah cewek, kan udah gue bil—"


"Bokap? Yes, I know. But, lu tu kek sama sekali gak ada tertarik liat cewekk boyy!" kata Arsen ikutan.


Racksa menghela nafas panjang. "Okee gue bakal jujur tapi ntarrr tunggu kita kumpul bareng."


"Jek sui janco," umpat Asya kesal. Arsen langsung menatapnya sinis, "kamu cewek ya, sayang. Calon ibunya anakku, masa demen banget ngomong kasar."


Asya cengengesan.


"Reflek, Senn."


"Boong tu! Dia sering cakap kasar, Sen, hukum ajaa. Gue saranin deh hukumannya pas malam pertama sampe subuhh," ujar Alvin santai.


Plak!!


"Lu—" ucapan Asya terhenti karena Azril menyahuti. Dirinya datang bersama dengan Naina.


"Lu mo bikin kembaran gue mati apa gimana?"


"Nggakkkk. Gak bakal mati Asya, kalau pun mati pasti dalam keadaan yang lagi keenakan."


"ALVIN MESUM BANGETT!! Gue gebukin tas ntar ya lu," cibir Naina kesal. Alvin malah tertawa melihat ekspresinya dan Asya.


"Pin, Malam pertama tu urusan guee yee. Mana tega gue malper ampe subuh, paling ntar ampe dzuhur."


"MAKIN PARAH GBLOKK!"


Arsen terkekeh.


"Pembahasan unfaedah. Skip!"


"Sebenarnya gue gak ada kelas hari ini. Tujuan gue ke sini cuma mo ngajak lu semua ke bandara sekarang," kata Azril mengalihkan topiknya.


"Ngapain?? Mo jemput siapa?" tanya Racksa.


"Shaka, Dino, Haikal sama Ara."


"Whatt?? Mereka balik?" tanya Asya terkejut. Azril mengangguk. "Kok gak chat gueee anjirr? Kenapa gak bilang ke guee?" tanya Alvin kesal.


"Shaka dah bilang, dia mo ngabarin semuanya. Tapi lu pada gak bisa di hubungiii! Asya di telepon gak aktif, terus lu pada juga di telepon gak ngangkattt."


"Lohh? Emang ada nelepon?" Mereka mengecheck ponsel masing-masing.


"Lah iya anjritt."


"Hp gue matii, ya jelas gak aktif. Kenapa ngabarinnya gak kemaren?" tanya Asya.


"Yo ndak tau kok tanya sayaa."


"Karep mu lah, Zril. Emosi gue liat muka lu!" Azril cengengesan. "Udah ah, ayok ke bandara!"


"Gue baru pesen makan jirrrr, yakali gue batalin?" kata Alvin bimbang.


"Iya udah batalin aja lahh. Kalau nggak lu bilang gak jadi beli sekarang, jadinya besok."


"Rentang waktu yang lama yaaa?"


"Dari pada asal kabur ntar dia rugi. Udah buruan, gak usah banyak mikir!" hasut Naina gak sabar.


Alvin masih berfikir.


"Ke buru di buat, Pin. Tinggal batalin aje susah ya lu," cibir Azril.


"Lakik bini emang gak ada sabarnya! Minjem dulu gue duit gocap, buat nyogok biar gak ngambek."


Azril langsung mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang pada Alvin.


"Pasti yang jual janda makanya Alvin gitu," ledek Racksa.


"Cangkemmu!!"


"Dahlaaa, ayok otw!"


Alvin membatalkan makanannya terlebih dahulu kemudian pergi menyusul yang lain.


Di waktu yang sama dengan tempat yang berbeda. Haikal, Ara, Dino, Shaka dan 'pacarnya' Shaka baru saja tiba di bandara.


Saat ini mereka berlima sedang celingak-celinguk mencari sang penjemput.


"Manaa jemputan nih, lama bangett!" kata Haikal.


"Sabarr dikit kenapa sih jadi orang. Bisa aja mereka lagi di jalan kan?" sahut Ara.


"Iya iyaa. Sabar nih sabaarr," jawab Haikal pasrah.


"Aduh duh...."


Ara menatap Haikal, "apa? Kenapa?"



"Sempakku nyelip."


Ara langsung menutupi mukanya dengan tangan. "Gini amatt punya temeenn," keluh Ara.


"Temen temen ndassmu!"


"Temen hidup, Kall."


"Hahahaha! Aamiin," jawab Haikal dengan senyuman.



Dino menghela nafas panjang.


"Lu bedua bisa ga jangan bucinan mulu? Capek gue liatnyaaa! Mana dari tadi si Shaka sama Glacia gitu jugaa," keluh Dino kesal.


"Yahahahahahahahaha, mampussss! Makanya jangan jomblo," ledek Haikal puas.


"Anjirrr lu ya. Gue do'ain putus baru tau rasa lu!" jawab Dino.


"Udah ah udah! Ini keramaian," lerai Glacia.


"Gue gak mau gelut, Cii, tapi si Ical ngajak gelutt."


"Lah kok guaa anjrott?!"


"Diem ga lu bedua? Gue lempar koper beneran yaa?!" ancam Shaka kesal. Haikal dan Dino auto akur.


"Ehh, itu Asya ga sih?" Mereka melihat ke arah yang di tunjuk Ara.


"Iyaa benerr." Shaka mengambil ponsel dan menelepon Azril.


📞 "Assalamu'alaikum. Lu dimanaa cugg?"


^^^"Wa'alaikumsalam. Liat ke arah jam tiga,^^^


^^^gue lambaikan tangann."^^^


📞 "Ahh itu."


Telepon langsung terputus.

__ADS_1


Shaka pun melihat mereka berlari.


Tepat melihat Asya berlari sambil melambaikan tangan, Shaka ikut berlari dan pada akhirnya mereka berdua pelukan.


"Yeayyy bapak pulaaangg!" ujar Alvin girang.


"Rindu kan lu sama gue?" tanya Shaka yang masih memeluk Asya.


"Ngga sih b aja. Lepas pelukan lu!" Shaka cengengesan lalu melepas pelukan.


"Makin cantik aja adek gue, tapi kok makin kurus?? Arsen gak ngasih makan apa cemana?" tanya Shaka dengan sindiran.


"Gue ajak makan mulu ya, Cak. Lu jangan merusak image gue," jawab Arsen.


Shaka tertawa.


"Gue bercanda, Sen."


"Anyway dia siapa?"


Alex menunjuk Glacia.


"Dia cewek gue," jawab Shaka sambil tersenyum.


"WAHH PARAH LU, parah!! Lu punya cewek ngapa meluk gueee?!" Asya auto mendorong Shaka.


"Au nihh, parah banget. Putusin aja si Shaka, terus jadian sama gue," sahut Alvin.


"Cangkemmu!"


Alvin cengengesan.


"Haii! My name is Asya, nice to meet you."


"Halo, gue Violetta Glacia. You can call me Cia. Nice to meet you too," ujar Glacia dengan senyuman.


"Loh? Orang Indonesia?"


"Iyaa, tapi blasteran. Bapaknya Amerika mix Korea, ibunya Indonesia asli," jawab Shaka.


Mereka serentak berohria.


"Gue sama Shaka cuma temenan, Cii. Lu jangan salah paham yaa?"


Glacia mengangguk. "Gak masalah, Shaka juga udah cerita tentang kalian kok." Asya membalas dengan senyuman.


"Produk blasteran emang gak pernah gagal, cantiknya kebangetan kek bidadari. Btw, kosong delapan berapa nih, Cia?" goda Alvin dengan senyuman.


Shaka yang jealous menutup muka Alvin dengan tangannya. "Senyuman lu macam senyum pedofil, jadi lebih baik gak usah senyum."


Alvin menggeser tangan Shaka.


"Masa iya senyum gue macem pedofil?"


"Iya." Shaka langsung menggeret tas dan menarik tangan Glacia pelan. "Ayo ke rumah abu-abu, gue capek."


"Huuu bacott lu!"


◕◕◕


Tiga puluh menit kemudian di rumah abu-abu. Mereka tidak perlu bersih-bersih karena rumahnya sudah bersih.


"Alhamdulillah, gue bisa rebahaann!" ujar Ara senang sambil tidur di lantai.


"Jangan kek orang pe'a. Itu ada kasurr," cibir Dino sinis. "Enak di lantai, Din, sumpah dah lebih ademm!"


"Karep lu, Raa." Dino duduk di sofa dan bersandar pada Asya.


"Din, lu berat!"


"Beratan dosa lu, Sya."


"Anj— astaghfirullahalazim.."


Dino cengengesan.


"Din, lu geser lah! Kan tadi gue udah booking Asya duluan," protes Shaka kesal.


"Lu kira cewek gue apaan booking-bookingan? Lagian lu ada Glacia, Cak!" ujar Arsen sinis.


"Au tuhh! Ceweknya nempel sama cowo lain kagak bolehh, tapi dia nempel ama cewe lain," sahut Alvin ikutan sinis.


"Ya ilaahh, sensi amat lu beduaa. Glacia kan cewek guaa, Asya adek gua. Gak salah dong kalau gue mo nempel sama adek gua? Lagian dua puluh empat per tujuh Asya sama lu terus yaaa, Sen, sekarang gantian!"


Arsen bisa apa selain bilang iya? Kalau dibalas bisa bikin adu mulut kan? Adu mulut bikin ribut, endingnya Asya bakal merajuk.


Jadi lebih baik Arsen... diam.


"Hahahahahah. Arsen tidak berkutik sekarang," ledek Alex. "Hanya mengalah agar singa cantikku gak ngamuk."


"ALAH SIA BOYYY!"


Arsen auto berlagak songong.


Asya sendiri yang merasa gak enak dengan Glacia auto mendorong Shaka. "Lu sama gue bukan sodara kandung, Cakk, bisa di bilang juga gue orang lain."


"Lah?? Kok gitu??"


"Lu punya cewek pe'a, gue juga punya tunangaan. Jadi mari jaga batasan dan jaga perasaan pasangan masing-masing."


Shaka terdiam.


"Bacot lu jones!" Shaka auto berpindah ke paha Glacia.


"Anying lu!" Shaka tersenyum sinis.


"Oh iya! Lu pada mo minum apa biar gue bikinin?" tanya Asya.


"Sirup ada nggak? Gue pengen sirup," ujar Dino sambil nyengir.


"Boleh ugha tuu, samain aja ntar!"


"Iyaa! Gue check dulu ada apa kagak tu sirup." Asya pun pergi ke dapur seorang diri.


Perjalanan yang jauh membuat mereka kelelahan. Termasuk Haikal. Ia merasa terlalu capek saat ini, makanya dari tadi diam.


Tapi ntah kenapa tiba-tiba capeknya hilang ketika melihat Ara tidur. Haikal merasa gemas! Ia mendekati Ara.


"Jangan gangguuuuu! Aku pengen tidurr," ujar Ara setengah sadar gara-gara Haikal menoel-noel pipinya.


"Wake up, honeyy. Pindah tempat ke kasur yok," kata Haikal sambil mengelus rambutnya.


"Gak mauu. Mending di sini ademm," Ara bergeser manjauhi Haikal. Percuma sebenernya karena Haikal mendekat lagi.


"Tidur di kamar aja biar gak masuk angin," kata Haikal sambil menggendong Ara. Kalau begini yaaaaa, Ara gak ada pilihan lain sih selain nurut.


Di ruang tamu, mereka cuma bisa diam melihat keuwuan yang meresahkan ini.


"Harusnya gak usah gue liat, biar gue gak julid," kata Alex mengelus dada.


"Tos dulu, Lex!"


Alex dan Dino bertos ria.


"Kasian banget jones," ledek Racksa.


"LU JUGA BEGOOO!" protes Alex dan Dino kompak.


"Oiya, lupa."


"Dahlah, mo tidur gue. Kali aja ketemu jodoh," Alvin mencari posisi enaknya lalu mulai memejamkan mata.


Arsen sendiri menggelengkan kepala melihat ulah mereka. Tersadar temannya akan tidur, Arsen pergi ke dapur menghampiri Asya.


"Gak usah di buatt. Mereka pada mau tidurr," bisik Arsen tepat di telinga Asya.


Asya berbalik, "yang benerr?" Arsen mengangguk sambil menyelipkan rambut Asya di daun telinga. "Kamu kenapa senyum-senyum?" tanya Asya heran.


"Seneng aja denger kamu ngomong gitu tadi," jawab Arsen dengan senyuman.


"Aku cewek, Cia cewek, jadi aku bisa tau gimana rasanya kalau aku diposisi Cia tadi."


"Jadi tadi cuma jaga perasaan Cia?"


"Yaa sekalian kamu lah," Asya langsung berbalik lagi karena salting. Arsen tertawa kecil kemudian menarik Asya lagi untuk berbalik.


"Imut banget sih kamuu."


"Modus lagi pasti!"


"Nggakk, aku serius." Arsen diam sejenak, Asya pun juga diam.


"Aku gak pernah sesayang ini sama cewek selain kamu, kalau kamu pergii mungkin aku bakal hancurr banget."


Asya mengelus pipi Arsen. "Gak boleh gituu, buayaa. Jodoh kan di tangan Tuhan, kalau kita gak jodoh mau gimana coba?"


"Aku dah bilang kan kemar—"


"Sstt.. ga boleh gitu. Itu namanya kamu maksa dan melawan takdir Allah."


Arsen auto murung.


"Yaudah ah skip topik."


"Mending kamu awas deh, ntar kalau di liat sama Dino jadinya heboh."


Posisi Arsen memang dapat menggemparkan seisi rumah. Pasalnya jarak diantara mereka benar-benar tipis. Arsen begitu dekat dengan Asya.


"Gapapa deh heboh, yang penting abis tu kita nikah."


"Yekk. Nikah mulu yang di pikirin! Ngebet lu?"


"La lu la lu!"


Asya tertawa.


"Btw, bibir kamu seksi ya, bikin gemes. Kalau aku gigit boleh ngga?"


"Ga boleehhh!!" jawab Asya sambil menjauhkan mukanya ke belakang.


Arsen tertawa kecil melihat pipi Asya memerah. Arsen tebak perutnya ada kupu-kupu.


"Di gigit ga bolehh. Kalau aku cobain boleh ngga?"


"Gaa boleehh!!!"


"Jadi bolehnya diapain?"


"Ga boleh di apa-apain!"

__ADS_1


"Loh kenapa?"


"Yaa karena gaa bolehh!! Belum mahram!"


Arsen tertawa gemas. "Yaudahh kalau gitu besok kita akad ya biar jadi mahram."


"Enough, Arsenn!!"


Cup~


"ARSEEENNN!!"


◕◕◕


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Udah pulang?" tanya Alex.


"Belum, masih di kampus."


"Lah ini siapa?"


"Arwahnya!"


"Hahaha! Lawak lu, Sya."


"Lagian lu goblokk sii. Jelas-jelas gue di sini berarti gue udah pulang kan?"


"Iya iyaa, gue yang salah dah," jawab Alex mengalah.


"Emang lu yang salah! Arsen sama yang lain kemana?"


"Arsen keluar sama Glacia, kalau yang lain masih tidur."


"BOONGG! Astaghfirullahalazim, fitnah banget Alexx. Dengki ya lu sama gue?" tanya Arsen sinis. Alex tertawa lagi, "ya maap."


"Keributan apalagi ini Ya Allah..." keluh Shaka yang baru masuk ruangan.


"Demi Allah, si Caka begitu macam kakek-kakek yang capek ngadepin cucunya," ledek Naina. Mereka terkekeh berjama'ah.


"Gak ada apa-apa kok, pak. Makan siang ayooo gue lapar," ajak Asya.


"Ehh, Syaa, bibir lu pecah-pecah. Gue basahin mau?" tanya Dino nyantai.


"Whahahaha, Din. Gue kira ini hari rabu, ternyata hari kematian lu."


"Ya kan gue cuma nawarin gitu."


"Gue juga nawarin kok, nawarin hari kematian lu."


Mereka tertawa lagi.


"Btw mo makan apa?" tanya Alvin.


"Batu bata."


"Hah?"


"Makan nasii, bodoh. Lu abis ngapain si, kokk jadi makin pe'a?!" ujar Asya menahan kesal.


"Tadi sih gue disuruh ngemilin batu bata sama Racksa," jawab Alvin santai.


"Gue diem terus ya anjirrr, kenapa gue yang kenaaaa?!" Alvin cengengesan.


"Kalian mo makaan apa?" Haikal akhirnya muncul setelah tidur berjam-jam.


"Mimpi apaan sih lu ampe pules banget tidur?" tanya Dino mengalihkan topik.


"Gak tau juga gue, mimpinya lari-lari."


"Lu kata atlet kali tu mimpii."


Haikal nyengir.


"Ini mo makan apaan dah jadinyaa?"


"Makan di luar ajaa," usul Naina.


"Nah betul. Makan nasi uduk aja yok?" ajak Shaka semangat.


"Nasi uduk siang-siang di mana njimm? Jangan ngawur deh," protes Asya.


"Kalau ngga beli pecel lele aja gimana?"


"Baguss juga usulan lu, Pin. Yang lain setuju ga?" tanya Arsen menatap yang lain.


"Gue setuju.. tapi gue mandi dulu ya?" Ara menyahuti dari balik pintu.


"Ini laki bini sama aja kek setan. Tadi Ical muncul tiba-tiba, sekarang si Ara juga muncul tiba-tiba. Titisan apaan dah lu bedua?" cerocos Racksa kesal.


"Alhamdulillah titisan manusia mix surga," jawab keduanya kompak.


"Iyain aja iyain. Raa, lu gak usah mandi deh ya? Cuci muka ajaa. Gue udah laper bangett," keluh Asya.


"Kenapa gak makan tadi, hm?"


"Ya kan niatnya mo makan bareng gituuu."


"Yaudah yaudah. Gue cuci muka dulu, sekalian ganti baju."


"Honeyy, koper kamu di sebelah mejaa," teriak Haikal. "Iyaa iyaaa," jawab Ara ikut teriak.


"Agak geli gue denger si Haikal manggil Ara honey," Alex memulai perjulidan.


"Sama, Lex! Kekk..."


"Kek apa anjirr? Lama amat lu ngomong!"


"Ah lupa gue mo ngomong apa. Yang jelas gue iri, udah gitu aja."


Haikal tertawa meledek. "Gini dong langsung to the point. Gak kek itu tuh yang diselingkuhin."


"Diam kau!! Kenapa diingetin lagi sih, Kall?!" keluh Alex depresot.


"Emang kenapa? Lu belom move on yaaa?" tanya Azril ikut meledek.


"Bukan masalah move on belumnya... gue eneg denger nama tu anak. Jadi merasa bersalah lagi gue sama Asya."


"Alaaaahhh, bacot luu! Bilang aja gamon."


"Gamon? Apaan tuh gamon? Ga ada kata gamon dikamuss gue."


"Songong banget anaknya pak Andreee!" Alex cengengesan mendengar jawaban Asya.


"Anyway, lu pada kenapa pulang?"


"Bang Zap kan mo nikah, kami diundang jugaa," jawab Dino.


"Bonga?"


"Benerann, Zrill! Tiket pulang aja dibeliin sama bang Zap," kata Shaka meyakinkan.


"Mengkeceee! Kaya juga yaa abang gue."


"Kan emang kayaa, Zrill. Tiap bulan juga lu dikasih dana buat top up game," sahut Asya.


"Oiya yaa."


"Pe'a emang. Terus lu pada kok bisa barengan gini pulangnya?" tanya Asya lagi.


"Gue, Caka, Dino sama Cia ke Jepang nyamperin Ara. Terus ke Indonesia nya bareng."


Mereka berohria.


"Cia ikut Caka?"


Glacia mengangguk.


"Lu kuliah di mana, Ci?" tanya Alvin.


"Gue sama Shaka satu kampus, satu fakultas, satu kelas juga."


"Pantesaann. Kok lu mau sama Shaka sih?"


"Pertanyaan Azril bikin gue emosi sumpah dah!" Azril cengengesan melihat Shaka kesal.


"Namanya kepoo."


"Gue jawab deh dari pada lu mati penasaran. Jadii, alasan gue suka sama Shaka itu ga ada. Karena cinta gak butuh alasan."


"Gue mo ribut aja deh sama lu, Ci!" kata Ara emosi. Dirinya baru selesai bersiap.


"Gue udah betul, Raa. Tapi kalau kelen butuh alasan, gue suka samaa Shaka tu karena Shaka gak merokok, gak mabuk-mabukan, gak main ke klub juga gak main cewek sana-sini."


"Ooooooo jadi karena ituu.."


"Udah diem lu semua, gak usah nanya tentang gue lagi!"


"Dih, geer. Yang mo nanya tentang lu siapa?"


Shaka menatap sinis Ara.


"Gue telen juga ntar lu!" Ara tertawa kecil.


"Btw, Sya. Gue di kasih tau sama bokap, katanya lu mau nikah kan sehabis bang Zap. Bener ta?" tanya Haikal.


"Nggak tau, nggak deh keknya."


"Whyy?"


"Gue pengennya tahun depann."


"Abis bang Zap aja atuh yaang," pinta Arsen.


"Tahun depan ajaaa. Cantik tanggal dua puluh dua bulan dua tahun dua ribu dua puluh dua."


"Kelamaan, sayang. Ga sabar aku mah nunggu segitu lamanyaa," jawab Arsen.


"Widihh! Ngebet nikah banget lu anjirr," ledek Haikal.


"Au tuh, ngebet bangett. Pengen ngapain sih baangg," sahut Shaka ikut meledek.


"Pengen peluk, cium, terus tidur bareng Asya dengan cara yang HALAL. Lebih cepat lebih baguskan? Gue macem-macem juga ntar aman."


"Otak gua traveling sumpah dah. Macem-macem gimana nii?!" tanya Glacia.


"Maksudnya tu kek kalau gue buat masalah gede ada yang nenangin gue gitu biar amaan." Mereka terkekeh mendengar jawaban Arsen.


"Lu S3 di dunia perngelesan yaa anjirrr!"

__ADS_1


"Hehhee."


__ADS_2