
"Noh kan tim gue menang!! Dibilangin ngeyel sih. Kalau gue gak mati tadi, jelas poinnya dua kosong"
Aska bersorak kegirangan karena memenangkan pertandingan babak kedua.
"Itu hanya kebetulan, nak Aska" sahut Dimas.
"Kebetulan udelmu" Mereka tertawa.
"Pangkat gue naik drastis" ujar Aska saat kembali melihat ponselnya.
"Alahh, masih tinggi pangkat gue" sahut Ivan.
"Pangkat tinggi tapi gak ada skill gak berguna, brother"
"Ammmjayz, bapack gua sombong bangedd" sahut Azril.
Aska tersenyum miring. "Kamu harus bangga punya daddy seganteng saya, se-multitalent saya--"
Belum sempat Aska menyelesaikan kesombongannya, Zia menyumpel mulut Aska dengan bakso crispy yang di beli pembantunya.
Aska menatap sinis Zia sambil mengunyah bakso itu. "Maklumin pemirsa, Aska lagi sensian"
"Kurang jatah?" tanya Dimas santai.
"Gue yakin sih, yes" sahut Ivan.
"Ck.. kalian bedua ini bahas apa?? Ada empat anak kecil disini!" balas Ica.
"Kecil apaan, bongsor gitu" sindir Zia.
"Fiks, emak ama bapak gua lagi sensian!!" Asya bersuara.
Ica, Ivan, Dimas, Tania, Dino, Haikal dan Azril tertawa.
"Stop mommy stop! Jangan bilang potong uang jajan"
"Dih pedeann, siapa juga yang mau motong uang jajan kamu" jawab Zia.
"Gerak-geriknya kebaca tante" sahut Ical.
"Babe babe sama emak emak jaman sekarang mah gitu, ancamannya wang jajan" balas Dino.
"Gak kreatip" Azril menyahuti.
"Jadi? Mau apa? Mau disita fasilitasnya?"
"Astaghfirullah, gak gitu mamii. Oke, Dino diem mo tobat deh jadi anak baik"
"Puft.. Hahaha"
"Gue gak yakin"
"Gue juga, dia kan penghasut paling top"
"Bazeng"
Tawa mereka menggelegar.
"Eh, tetiba gue teringat sama basecamp Tb dulu lah. Apa kabar, Ka?" tanya Ivan.
"Masih bagus, masih cantik. Gue sering nyuruh orang buat bersihin tu rumah. Ada juga kadang yang nginep orang suruhan gue" jelas Aska.
"Basecamp apa, dad?" tanya Asya.
"Basecamp geng Sma"
"Emang papa, om Aska, sama om Dimas punya geng pas Sma?"
"Punya dong, nama gengnya TB"
"Tb? Asya baru denger. Setau Asya mah OpTb"
"OpTb sama aja sama Tb, cuma beda member"
"Membernya siapa aja emang? Lee Jongsuk? Lee Minho? Ji Chang-wook? Song Joong ki?"
Pletakk..
"Sakit, Dinosaurus!!!"
"Otak lo geser sih, nyambungnya ke aktor Korea" Asya cengengesan.
"Iya. Membernya Ji Chang-wook" Aska menunjuk dirinya.
Lalu menunjuk ke Ivan, "Lee Jongsuk"
"Satu lagi tikus got" Terakhir mengata-ngatai Dimas.
"Parah, gak ngotak nya bukan main"
"Hahahah"
"Gue jadi pengen kesana setelah lo bahas basecamp"
"Yaudah skuylahh"
Mereka bergerak menuju basecamp Triple badboy.
ʕ•ᴥ•ʔ
"Welcome to Triple badboy basecamp"
"Wagilasi, ini mah cakep bangettt"
Dino, Haikal, Azril, Asya, Ica dan Tania berdecak kagum melihat basecamp yang terbuat dari rumah kayu dengan desain interior luar biasa.
"Siapa yang bikin, pa?" tanya Haikal pada Ivan.
"Papa gak inget, tapi penyumbang dana terbesar papa"
"Ngada-ngada lu monyet" ledek Dimas. Ivan cengengesan.
"Ini semua buatan om Aska, dana dari om Aska, desainnya juga dari om Aska" ujar Ivan.
"Wah... luar biasa sekali daddy ku" puji Asya.
__ADS_1
"Kok baru tauu? Lupa ya kalau daddy emang luar biasa sejak lahir?" Aska menyombongkan diri.
"Bagus gak usah kamu puji tadi, Sya. Telinganya jengat, sombongnya mencuat" sahut Zia.
Mereka terkekeh.
Asya, Azril, Dino, dan Haikal menjelajahi basecamp. Tetap seperti dulu, tidak ada yang berubah disini. Ada dua kamar tidur dan kamar mandi, dan beberapa barang lainnya.
Hanya kurang dapur.
Asya tiba di bagian belakang dan melihat ada air terjun.
"Ini luar biasa"
Asya berlari menuju depan mengambil eigernya lalu kembali menuju belakang lewat luar rumah. "Syaa mau kemana?"
Asya tidak menjawab, Haikal, Dino, Azril, dan yang lain mengikutinya. Tiba dibelakang, mereka juga terpukau melihat pemandangan air terjun.
"Keren kerenn" puji Dino.
"Kok gue gak pernah tau ada air terjun disini?" tanya Zia.
"Lupa mau nunjukin ke lu" jawab Ivan.
"Aaaaa... Asya suka disini!!!"
"Gue jugaaa"
"Daddy, kalau penerus basecamp ini kami, boleh gak?" tanya Azril ragu-ragu.
"Kami-nya siapa aja?" tanya Tania.
"JL Squad" Azril, Asya, Dino dan Haikal kompak.
"Boleh"
☪☪☪
Mereka berada di basecamp sampai malam hari, karena lapar mereka memutuskan untuk pulang. Namun sebelumnya mereka singgah di restoran Jepang.
"Aska?"
Semua mendongak. "Eh, Ezaa?
"Whatsap menn" Eza bertos ria dengan Ivan, Dimas dan Aska.
"Apa kabar lu?" tanya Tania.
"Alhamdulillah, baik. Ini anak-anak lo pada?" tanya Eza menunjuk Dino, Haikal, Azril dan Asya.
"Hmm.. ni anak gue, Dino" Dimas menunjuk Dino.
"Dino om"
"Eza"
"Ini gue tau, mukanya sengak mirip bapaknya. Anaknya Ivan kan?"
Haikal cengengesan, "Iya om, saya Haikal"
"Azril om" "Asya om"
"Wah wah.. Cantik banget anak lu, Ka!"
"Emaknya aja cantik, ya anaknya juga cantiklah" sahut Zia.
"Iyain"
Mereka tertawa.
"Lo sendiri?" Eza mengangguk.
"Masih belum nikah lagi?" tanya Ica. Eza menggeleng.
Eza sudah menjadi duda tampan.
Beberapa tahun silam, ketika melahirkan anaknya. Shinta pergi bersama dengan anak yang dikandung.
Semenjak kejadian itu, Eza tak pernah menikah lagi. Bukannya gak mau, tapi Eza masih ingin memperbaiki diri.
"Gue nunggu anak lo yang cakep gede, baru nikah" jawab Eza santai sambil menatap Aska.
"Dih najis, masa anak gue nikah sama om om" jawab Aska.
"Om-om gini banyak yang minat bos"
"Halah taii, buktinya juga ga nikah nikah" sahut Ivan.
"Kan udah gue bilang, gue nunggu anaknya Aska"
"Dahlah, gosa tanggepin. Dia mulai stress"
"Hahahah"
▪▪▪▪▪
Senin, 06.13
"Daddy, pinjem biru yaa"
"Gak"
"Daddy plisss"
"Gak"
"Daddy gantengg, pinjem yaa"
"Gak"
"Astaghfirullah sayang, pelit banget sih sama anaknya" tegur Zia. Aska diam sambil memakan sarapannya.
"Au tuh daddy"
"Yaudah kalau gitu yang kuning ajaa ya?"
__ADS_1
Aska langsung memberikan kunci mobilnya.
"Giliran kuning aja dikasih"
"Asya heran sih, keknya lebih mahalan kuning daripada biru. Tapi kenapa daddy pelit banget minjemin yang biru?"
"Yang biru berkelas, yang biru bersejarah. Kalian gak ngerti masih bocil"
"Iya daddy iyaa terserah daddy" Zia menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya.
Aska kembali menikmati sarapan. "Daddy, duit?"
"DUIT TEROSS!"
✡✡
"Sya syaa" Viona mengejar Asya. Asya dan Azril tiba disekolah lima menit yang lalu.
"Kenapa?"
"Di depan perpustakaan, Arsen adu mulut sama Jun"
"Adu mulut gimana nih? Ciuman"
Viona menoyor kepala Asya, "Mesum sekali otak mu, nak!"
Asya cengengesan, "Ayo kesana"
Hanya butuh tiga menit sampai di depan perpustakaan.
"Kalau emang kalah, yaudah kalah aja! Terima kekalahan. Alay banget sih" Arsen mencibir Jun.
"Lu mainnya curang ya, asw!"
"Curang? Jelas jelas gue menang main secara sportif. Curang apanya? Emang lu nya aja yang begoo, gak jago main game gituan"
"Halah lah, curang aja bangga!"
Arsen menarik kerah baju Jun.
"Masih pagi udah ribut" ujar Asya. Arsen melihat ke sampingnya.
Ahh..
Asya berada di sana sambil melipat kedua tangannya di dada.
Arsen yang mengingat tentang tantangan dan perjanjian, ia pun melepaskan kerah bajunya Jun.
"Lo selamat kali ini!"
Arsen kembali melihat ke samping. Asya hilang?
Arsen pergi mencari Asya, namun saat ingin berlari, Laila menahan tangannya. "Kok gak jadi berantem sayang?"
Arsen terkejut mendengar pertanyaan Laila. Bukannya melerai, dia malah menikmati pertikaian Arsen dan Jun tadi.
Arsen menghempas pelan tangan Laila. "Gue sibuk" Arsen langsung berlari mencari Asya.
Arsen pun menemukan Asya sedang jalan seorang diri sambil mendengarkan musik melalui headphone favoritnya. Viona ke kantin untuk sarapan, jadi Asya sendirian menuju kelasnya.
"Syaa" Asya tak berkutik.
Ya jelasss, kan Asya pakai headphone!
Arsen berlari sedikit lagi, lalu tiba di depan Asya menghentikan langkah kakinya. Asya hanya menatap heran Arsen. Arsen melepaskan headphone Asya.
"Gue.. hosh hosh.. gue belum.. hosh hosh"
"Tarik napas dulu, abistu buang perlahan. Ayo ulang sekali lagi pak, bayinya mau keluar"
"Astaghfirullah, Asyaa!! Lo kata gue mau lahiran?" Asya cengengesan.
"Ada apa sampe ngejer gue?"
"Gue.. hosh hosh.. gue belum berantem tadi. Gak jadi berantem, perjanjian masih berlaku ya!"
"Gimana gue tau kalau lu belum berantem?"
Arsen melihat tangannya. "Tiap selesai mukul orang, tangan gue dingin. Lo bisa pegang tangan gue, tangan gue hangat sekarang"
Asya hanya mengandalkan telunjuknya menyentuh ujung telunjuk Arsen. "Iya anget, oke oke. Masih berlanjut"
Arsen bernafas lega. "Gimana kalau lo disamping gue terus biar gue gak berantem?"
"Hah?"
"Kan perjanjian nya gak boleh berantem, jadi lo disamping gue ya biar gue gak berantem"
"Oh tidak bisa! Perjanjian awal gak gitu"
"Yaa.. diubah perjanjiannya"
"Diubah gimana?"
"Diubah kayak yang gue bilang tadi"
"Eh mamang, kan gue nantang gak ada bikin perjanjian"
"Kan kalau berhasil gue bisa minta apapun ke lo, itu sejenis perjanjian. Pokoknya lo harus disamping gue"
"Kalau gue gak mau?"
"Gue paksa sampe mau!"
"Lo gila ya?"
"Iya, gila karena cinta sama kamu"
Asya menatap intens Arsen. Arsen yang ditatap begitu jadi gugup gak karuan. Asya mendekat ke Arsen memegang jidatnya. "Gak panas kok, Sen. Lo kenapa?"
"Bangkeee! Gue mau romantisan juga"
Asya tertawa. "Gue gak gampang kemakan omongan buaya kayak lo, Arsen"
"Dah ya, gue duluan" Asya pergi sambil memasang kembali headphone nya.
__ADS_1
Arsen menatap Asya dari belakang. 'Udah feeling. Image gue pasti jelek dimata Asya. Gue harus gimana sekarang? Putar balik menikmati mangsa atau mengejar cintanya Asya?'