
"Daddy tumben kesini. Kenapa??"
"Sabtu malam kalian free nggaa?" Azril dan Asya mengangguk.
"Yang lain juga?"
"Sepertinya begitu, om. Kenapa emang?" Tanya Haikal.
"Mau ngajakin kalian ikut party di villa puncak."
"Seriously?" Asya excited.
Aska mengangguk sebagai jawaban.
"Ada acara apa, om?" Tanya Shaka.
"Party anivv perusahaan, sekalian ngerayain birthday twinss."
Asya dan Azril saling tatap.
"Lu ultah sabtu?" Tanya Azril pada Asya.
"Gue lupa anjirr. Kapan gue ultah?"
"Haaa peaa. Gue juga sama si, kenapa cepet banget nambah umur?"
"Gue masih mudaa kok, masih mudaaa."
Mereka tertawa melihatnya.
"Sok muda bangettt!" Cibir Racksa.
"Diem lu orang tua!" Racksa mengsmirk.
"Lu bedua kok bisa-bisanya lupa sama ultah sendiri si? Peaaaa bangett!" Ledek Alvin.
"Si Asya kebanyakan mikir Arsen, si Azril kebanyakan mikir Adinda."
"Matamuii jancoooo." Dino tertawa.
"Nggak, Lex. Nggak. Gue gak pernah mikirin Adinda."
Alex gantian tertawa, "terserah kalau mau lu pikirin. Tapi pikirin juga ntarr uang lu bisa ngilang dalam itungan jam."
"Itungan menit pun." Sahut Ara.
"Sabiii juga sii."
"Ogah banget gue mikirin dia."
"Dihh, gayanyaa. Dulu juga tersuka suka!" Sindir Asya.
"Sotoyy pula kau!" Azril menatap sinis Asya.
Mereka tertawa lagi melihat tatapan keduanya.
"Btw, partynya ngapain aja om?" Shaka mengalihkan pembicaraan.
"Buat perayaan bday si tante mu suruh bbq-an ajaa. Kalau untuk aniv perusahaan, om bagi-bagi hadiah gitu."
"Hadiah apaan, daddy?"
"Yaaa banyakk. Ada doorprize jugaa."
"Doorprize nya apa, om?" Tanya Alex.
"Mercy."
"WHATT?"
"Yang bener aja, omm?" Ara terkejut mewakili yang lainnya.
"Iyaa, Mercy warna putih."
"Mengkeceee bapak guaa." Ujar Azril bangga.
"Daddy ngedoorprize Mercy, teruss kado bday kami?"
"Lamborghini. Tuh, satu daddy bawa. Satunya dirumah utama."
Azril dan Asya saling tatap.
Dua detik kemudian mereka berlari keluar. Yang lain ikut menyusul.
"Wagilasiiii. Ini om beli dua? Beneran dua?" Aska mengangguk santai.
"Biar adill."
"Teruss yang ini punya siapa, daddy?" Tanya Asya.
"Punya Azril, Asya punya dirumah utama." Zia menyahuti.
"Wah keren sih kerenn!"
Asya dan Azril berlari mendekati Aska dan Zia. Asya memeluk Aska dan Azril memeluk Zia.
"Makasih, daddyy." "Makasih, mommyyy"
"Sayang mommy daddy banyak banyakkk!"
Aska, Zia tertawa mendengarnya.
"Suka kan?" Mereka berdua mengangguk.
"Alhamdulillah kalau sukaa."
"Mommy tumben gak marah liat daddy beli mobil. Sekali tiga pula mobilnya. Lamborghini duaa, Mercy satuu."
"Beli ini aja mommy mu yang nyuruh."
"Loh, tumbenn. Ada gerangan apa, momm?"
"Ngga adaa. Sesekali pengennya tu kalian ganti mobil. Bukan cuma daddy kalian aja yang gonta gantii," Mereka berohria.
"Tapi mendinglah tantee, ganti ganti mobil. Daripada ganti ganti istrii."
"Nyindir bapak lu apa gimana anj?" Arsen tertawa.
"Baydeweey, saat ini gue sedang bertanya-tanya. Berapa lemari duitnya Om Aska."
"Ngga pake lemariii, disimpennya pake black cardd." Sabut Haikal.
"Nahh, pertanyaan gue gini sekarang. Berapa banyak black cardd nya Om Aska?"
"Pasti banyak, yakin gua."
Aska, Zia saling tatap lalu tertawa.
"Sabii kali, om, tips jadi kayaa. Ye nggaa?" Alvin menggoda.
"Bener tuh, omm."
"Banyakin usaha, doa, sedekahh. Jangan takut memulai sesuatuu, jangan takut ngambil keputusan, pikirin baik-baik apa yang bakal kalian lakuin. Pikirin juga plus minusnya."
"Rajin rajin sedekah juga penting, jangan pelit sama orang. Tapiii, jangan royal banget kea si Alex sama pacarnya. Oyaa, jangan mau dibodohin sama orang."
"Tapii, emang dasarnya bodoh ya bodoh, omm." Ujar Dino.
"Salah pemikiran kamu. Semua orang itu pinter kalau gak males malesann."
"Asya males malesann tapi tetep juara kelass, omm." Kata Ara.
"Pagi sampe sore aja dia males-malesan. Malemnya begadang buat belajarr."
"Ooo, gituuuu ternyata gaissss. Dia main dibelakangg," ledek Haikal.
"Maksud anda main belakang apa yaa? Jangan buat otak saya travelling!!" Haikal cengengesan.
"Intinya mah kalau pengen suksesss usaha sama do'a dibarengi juga sama sedekah."
"Eumm, jadi pengen beli Lamborghini."
"Belii, jangan kek orang pelittt!" Cibir Asya.
"Anak ngen–"
◕◕
"Dorsss."
"Ngagetinnya pakee simple present tense, yaa." Yuna cengengesan.
"Yang lainn ngapain?"
"Gatau dah, kak. Random banget merekaa," Asya tertawa.
"YUNAAAA."
"Astaghfirullahalazim, ngamokk. Bentarr, gue tinggal dulu ye, kak." Asya mengangguk, Yuna pun pergi.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Asya menoleh, ternyata Arsen datang.
"Masih marah sama kuu?" Tanya Asya.
"Hm? Nggaa."
Asya menatapnya mellow, "yang benerr." Arsen berdehem lalu beranjak pergi.
Asya mematikan kompor, ia mengejar Arsen kemudian memeluknya dari belakang.
"Maaff atuhh. Jangan ngambek muluu." Arsen tidak merespon kali ini, ia tetap pura-pura merajuk walau dalam hatinya sangat ingin berbicara dengan Asya.
Sedari tadi mereka diem-dieman, ketika ada hal yang teramat sangat penting baru saling bicara.
"Lepasinn. Siapa juga yang ngambek? Tadikan ku bilang nggak."
"Nggak apaa, ngobrol aja gak mau?!"
"Ceennn, maafff."
"Ih kamu mah gituu..."
Arsen berfikirr, Asya pasti sangat menggemaskan saat ini! Lagipula, jarang banget Asya bujuk sampe begini.
Seumur umur pun, baru kali ini si Asya bujuk orang. (Sepertinya sih begitu).
"Ceenn."
"Wahai tuan muda William, kenapa anda tidak merespon sayaa?" Tanya Asya sambil mengintip Arsen dari belakang.
"Aaaa.. Arseenn."
Arsen gak kuat, ia melepas pelukan Asya lalu berbalik. Mereka berpelukan erat.
Satu menit kemudian, Arsen melepasnya lalu mengelus lembut rambut Asya. "Maaff, tadi aku bentak kamu muluu karena kelepasann."
"Ngerti aku mahh. Sekarang kamu kedapetan tamu kan?"
Asya menatapnya heran, "kok tau?"
"Apa yang ngga ku tauu?"
"Hiiiihh!" Arsen tersenyum sambil mencubit pipi Asya.
Plak!
"Sakittt!" Omel Asya setelah memukul tangan Arsen, Arsen tertawa.
"Kamu kok gak bentak balikkk?"
"Kenapa harus ngebentak kalau bisa dibicarakan baik-baik?"
"Iya siiii."
"Tapi tadi tu aku ngebentak jugaa, waktu di mall. Maaf yaa, sayangg."
__ADS_1
"Yang mana? Diem atau itu?" Arsen mengangguk.
"Kaget aku bukan karena kamu bentak sih sebenernya, tapi kaget karena kamu bilang cium!"
"Mau di cium kamunyaa?"
"Hyeh. Ya nggaklahhh." Arsen tertawa kecil melihatnya.
"Tumben kamu gak sakit perutt."
"Udah, tadi malem."
"Mau sesuatu nggak?"
Pletak!
"Aku bulanan bukan ngidam!"
"Tapi sama aja sensi muluu."
"Hih, bodo amat ahh!" Asya menjauh, Arsen mengikutinya lagi.
"Kamu kenapa ngacangin aku mulu, hah?"
"Ya abisnya ngeselin, dilarang ngeyel. Di bilang jangan bunuh malah berontak muluu, udah gitu sampe rumah merajuk pulaa."
"Nggak merajuk. Itu lagi gedeggg banget sama kamu!!" Jawab Asya.
"Sangking gedeg nya sampe bentak gitu yekann?"
Asya berbalik, ia cengengesan. "Maaf ya, gantengkuu. Kelepasann sumpah dehh."
"Alesann!" Asya masih cengengesan.
"Tumben yang lain gak masuk masukk."
"Biarin ajaa, kan aku bisa berduaan jadinyaa."
"Mencari kesempatan dalam kesempatin, yaa?!!!" Arsen nyengir tanpa rasa bersalah.
"Mau aku kadoin apa?" Tanya Arsen sambil memepetkan diri dengan Asya.
"Nggak usah juga gapapaa tauu."
"Hmm, gak kece lahh. Gimana kalau pembacaan ijab kabul?"
Asya terkekeh, "ngaco deh kamuuu."
"Whyy?"
"Masih kemudaannn."
"Tapi kan mengkeceee, bisaa pegangan halall."
"Hayukk atuhh, kita nikah."
"Nikah nikah pale luu! Kebelet ngen?!" Alvin dan yang lain tiba-tiba masuk.
"Cangkemuu!"
"Jujur, Senn. Pasti lu kebelet ngenn."
"Alvinanjjing." Alvin terkekeh.
"Gue tu pengen ngehindarin zinaa."
"Alahh siaa, gayanyaa. Padahal yang asli kebelet ngen."
"Anjj u!"
"Ngen tu ngendors maksudnyaaa, omess sih lu!!"
◕◕◕
H-1 party day.
The Bacot Squad –kecuali Asya dan Azril– sedang berkumpul di tempat favorit mereka yaitu kafe.
Q -- kafe mulu guu, kaga kreatip lu?
A -- kalo waktunya pas ntar gua ganti. nongkrong di kuburan.
Hehee, becandaaa woila ╥‿╥
"Udah h min satu tauuuu, gue bingung mau ngadoin apaaa." Keluh Ara.
"Bukan cuma lu, Ra. Gue juga bingung mau ngado apa," sahut Shaka.
"Dia tu punya semuanyaaa. Bahkan udah jadi koleksii," ujar Haikal.
"Makanya itu, bingungg mau ngasih apaaa."
"Gue kasi daleman aja gimana?"
Plak!
Plak!
Plak!
Rip kepala Alex:v
"Sakit anjirrrr!"
"Lah lu gilaaa."
"Daleman maksud gue bajuuu daleman bukan anu. Ah otak ngen teros sii." Mereka cengengesan.
"Cowok otak jaman sekarang gila ngen!" Cibir Naina.
"Betull!! Dasar otak ngen."
"Astaghfirullahalazim. Ara berdosa bangett!" Ara nyengir tanpa rasa bersalah.
"Ehh, Sen, lu ngado apa?"
Mereka menoleh ke arah Arsen yang asik bermain ponsel dari tadi. Ia agak males karena tanpa pawang.
"Apoo?"
"Ngado apa?"
"Saham dan seratus gram logam mulia serta seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Menggilaaa! Yang bener anjj!" Arsen tertawa.
"Gue juga bingung mau ngasih apaaan."
"Btw, yang lu sebutin bakal maharr lu?"
Arsen mengangguk, "sedang saya usahakan semoga Tuhan mengabulkan."
Mengkeceee! ˵ ͡° ͜ʖ ͡°˵
"Seratus gram logam muliaaa woilaahh. Mantep kalii!"
"Kalian gak tau ajaa yaa, kalau Arsen tu kayanya overdosis." Mereka langsung menatap Alex, Arsen sendiri menatap heran Alex.
"Gak ada yang taukan kalau Arsen pengusaha mudaa? Gak ada yang taukan kalau Arsen juga demen ngoleksi mobil mahal kea bokap Asya? Ngga ada yang tau jugakan kalau Arsen punya rumah gede yang ditempatin Om Mikko?"
"Arsen tu kayaa weii. Mobil dia berderet dan atas namanya sendirii, rumah pun juga atas namanya sendiri. Tapi ngga tau si gue, kenapa dia lebih suka tinggal di apart daripada rumah mewahnya."
Mereka menatap Arsen.
"Sepi anjirr, gada siapa siapa disanaa."
"Emang diapart ada orang?" Tanya Racksa.
"Ngga juga sih."
"Fu"Lu bisa kaya darimanaa?""Arsen tu investasi sejak dini, dia punya beberapa macam perusahaan tapi namanya bukan nama asli diaa. Dia juga punya babiii ngepet, makanya kaya." Alex yang menjawab lagi.Arsen terkekeh, "lu tau darimanaa anjirrr?!""Gue mata mata begooo. Agen intelejen.""Bacot!" Alex cengengesan."Lu pada gak percaya? Gue tunjukin rumahnya." Mereka mendekati Alex."Ini fotonya sama mobil yang dia belii.""Bukannya cuma ada...""Dua setau guee, satunya sama Om Aska."Mereka mengangakan mulut."Gue gak nyangka lah sumpah. Penampilan dia tuu gak kek orang orang kayaa pada umumnyaa.""Om Aska sama Tante Zia aja demenannya pake hoodie." Jawab Arsen spontan."Ku kira biasa aja, ternyata luar biasa.""Keren sih inii, beli babii dimana??""Babinya loh yang nunjukin kalian foto tadi.""Gue lempar kopi panas baru mampusss lu!!" Arsen cengengesan."Baju sederhana Arsen harganya mahal, pastii!""Jadi takutt nyentuh dia. Dia gerak berasa liat duit gerak.""Sianjjj. Alay lu padaa!" Mereka tertawa."Ngomongin kopi panas, keinget sama karma Dinda. Itu jadinya gimana?" Tanya Ara."Iyaa gimana? Bajunya dibayar?" Tanya Racksa gantian."Dibayarrr. Tapi dia ngegadein jam tangan Alexander Christie yang warna pink itu.""Kenapa gak lu yang bayar njirrr?" Alvin keheranan."Dih, ogahh.""Gue sama Asya pergi aja dia ngintilll," sahut Arsen. Alex nyengir tanpa rasa bersalah."Sudah cukup habisnya uang saya, tidak akan saya keluarkan lagi seribu pun untuknya.""Asoiiiii!""Teruss, jadinya mau ngado apa?" Arsen mengalihkan pembicaraan."Karena Asya punya semuanya, kita kasih aja yang sederhana tapi berkesan. Gimana?" Usul Arsen."Tapi buat apaa?"▦-▦-▦-▦-▦-▦-▦19.00, sabtu malam.Di villa puncak.Beberapa tamu Aska sudah berdatangan, tentunya dengan style yang berkelas."Sayang, anak anak belum datang?" Tanya Aska pada istrinya."Bentar lagi maybe, nunggu yang lain." Aska mengangguk paham, ia dan istri menghampiri tamu dan berbincang santai.Lima menit kemudian.Beberapa mobil datang secara bersamaan. Itu The Bacot Squadd. Shaka, Haikal, Arsen dan Azril dengan mobil mahal mereka."Kerenn bangett demi apaaa?!""Itu anak tuan Aska semua? Nggakkan, yaa?""Mau sama janda gak tuu yang pake kacamata?"Yang dimaksudnya adalah Alvin.Aska yang mendengar itu tertawa mendengarnya. Mereka kembali menoleh kearah Bacot Squad dan kembali tercengang melihat Asya yang super cantik dengan gaun pilihan Zia.Arsen sendiri masih susah bisa berkedip sampe sekarang."Haiii mommy daddyyy!" Sapa Asya sambil tersenyum."MasyaAllah, cantik bangett tuan putriii. Anak bujangku juga ganteng banget. Kalian berdua anak daddy kan, yaa?" Asya dan Azril tertawa mendengarnya."Bukan cuma Asya yang cantikk, liat ketiga temen Asyaa.""Sama cantiknyaa.""Makasih, om, tantee."Ara, Yuna dan Naina tersipu malu."Cowoknya gak ganteng nih, om?" Dino mulai kepedean."Nggak, b aja.""Ya Allah, sadiesssss." Aska dan Zia tertawa."Daddy, kami kesana dulu yaa."Setelah melihat anggukan kepala Aska, mereka pun pergi."Sebenarnya, saya capek mengenakan high heels." Keluh Asya."Tapi lu cantik begeee. Jangan sampe lu ganti tu high heels pake sneakers!" Asya nyengir."Cill.""Heum?""Kamu cantik bangett." Bisik Arsen, Asya blushing mendengarnya."Kamu juga gantengg bangett." Arsen tersenyum lebar."Arseenn!" Aska memanggilnya, ia mengode Arsen untuk datang. Arsen pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.Cup!!Setelah kecupan di pipi Asya, Arsen pergi menghampiri Aska."Demi apaa, tu anak minta digilingg otaknya." Mereka terkekeh."Btw, dia juga salah satu tamu penting tau. Makanya stylenya mengkecee." Sahut Racksa."Orang penting mah bedaa~""Kenapa, om?" Arsen tiba disamping Aska."Kamu kenal orang ini ngga?""Aaa.. ini yang itu...""Yang mana?" Tanya Aska."Nggak tau, om. Arsen lupa." Aska menatap datar Arsen yang cengengesan."Arsen inget kok, om."Arsen tersenyum menghadap pria berumur itu. "Saya Arsha, CEO perusahaan game Arshaw Group.""Wahh, ternyata masih sangat muda yaa." Arsen tertawa kecil mendengarnya."Senang bertemu anda, Tuan Jonath." Mereka saling bersalaman."Jangann terlalu formall, saya rekan yang sangat dekat dengan Aska." Arsen tersenyum lagi."Tadi Aska panggil Arsen, kamu perkenalan kok jadi Arsha?""Agaknya tergantung perusahaannya, Jon." "Bisa jadii nii." Arsen cengengesan. "Ini yang deket sama anak kamu itu kan, Aska?""Kok tau pula?"Jonath tertawa, "siapa yang gak tau.""Haha, iyaa, dia orangnya.""Padahal mau saya jodohkan dengan anak laki-laki saya.""Opp tidak bisa begitu, Pak Jonath. Putri cantiknya Pak Aska udah hak milik saya." Serobot Arsen."Hahaa, saya bercanda Arsen.""Saya juga, Pak Jonath."Aska dan rekannya itu terus berbincang ria. Arsen yang bosan melirik kearah pawangnya yang sibuk menenteng sepatu.Asya gagal jadi feminim:`Arsen yang benar benar ingin menghampiri Asya pun berpamitan lalu pergi."Eiy eiyy, bisa pula yang punya acara begini modelnya."Asya menoleh, "ish capekk. Tuker sama sepatu kamuu!"Arsen terkekeh, "pakee high heelsnya. Cantik banget kamu jadi kalem.""Apa ya mauu Asya-nya kalemm?!""Bukan gak mauuu. Ntar kalau gue coba malem gitu ekan, ntar keterusan kalemm.""Teruss, kalau keterusan kenapa rupanya?" Tanya Racksa."Nanti kelen kesepiannn.""Cocotte!!" Asya cengengesan."Pake high heelsnyaa.""Iyaaa bawell!" Asya pun kembali memasangnya kembali."Eyowww!" Para sepupu Asya muncul."Aaaaaiiiii, Kijaang sama Upill datangg!!!""Fucekk!" Mereka terkekeh."Pibesdeyy sepupu tercantikkk!" Keempat pria itu memeluk Asya."Maaciwww!""Pibesdeyyy ughaaa kang gamee." Mereka juga memeluk Azril."Tengkyuuu braderrr.""Gue gak punya uangg, jadi kadonya cuma buat Azril.""Ngado apaan lu?" Tanya Shaka."Motorr balap kesayangan gue buat Azril.""Seriuss njirr?" Keja mengangguk."Aaawww, baik sekalii kamuuuhh!""Mengjamett diaa.""Kado buat gue apaaa?" Tanya Asya sedikit merajuk."Sini dekat abang." Asya mendekati Zafran."Liat mobil warna kuning itu?"Asya mengangguk, "buat Asya??""Ya nggak. Cuma nunjukin ajaa."Plak!!Zafran dan yang lainnya tertawa."Kadonya dalam kamar kamu dirumah utamaa, ntar pulang unboxing lah." Ujar Zafran."Serius nii?" Zafran mengangguk."Dari Prijii, Keja samaa Upi juga disanaa.""Aaooo, okee. Mari pulang.""Matamuii pulangg!" Asya cengengesan."Gak sabarr sayaa.""Btww, ada dijenyaa yaa." Kata Frizy terpukau."Jangan, Frizz, jangan." Zafran menahan Frizy karena tau apa yang dilakukannya selanjutnya."Maapkeun abang tercinta, tapi tangan saya gatal." Frizy pun berlari menghampiri kang dj.Frizy memiliki suatu bakat yang jarang ditunjukkan yaitu nge-dj.Zafran menahannya bukan karena skill Frizy burukk, tapi karena takut Frizy gak bisa lepas dari tempatnya.Frizy pun mulai ngedj."Mengkeceeee Bang Prijii!!"Semua menikmati musik yang dimainkan Frizy."Gue jadi keinget yang di apk tiktokk, adu adu aduahhh.." Mereka terkekeh melihat Alvin mencontohkannya."Dah lah, capee ngakakk." Keluh Asya sambil bersandar dengan Arsen."Bisa bisanya dia nyontohin persiss bangett.""Gakk ngertii lagii, kok bisa punya temen beginii!""Malu ga tuhhh temenan sama guee?""Malu lah." Alvin auto diam, mereka malah tertawa lagi."Bahagia banget yaaa anak anakk..." Barbar generasi sebelumnya datang."Bahagia kali, maa. Anakmu terbully disini," keluh Alvin."Alahh siaaa, cocok kamu mah dibully.""Mengsedihhh ini mahh!""Hahahaaa.. nikmatin kebahagiaan kalian sebelum kesedihan menghampiri."ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡHalo gaiseuu.Maapin gue yang jarang banget up. Lagi kagak singkron anggota tubuh guee, trs juga sibuk ujian. Pdhl ujian ngegoog– astaghfirullahalazim hampir saja rahasia saya terbongkar. Hm, skip.Maapp lagi ni, chapter ninety nine kebanyakan menyombongkan harta. Bukan maksud menyombongkan harta sebenarnya, cuma mamerin harta. Sama aja si ya. Tapi gak niat gitu aslinya, wakakakak.Btww, gue mo open qna ada yang mo nanya nanya kagak? Kalo ada gue jawab di chapter seratuss, kalo gada yauda gapapa, gue nangis di pojokan.Oke, see u next chapter.Lop sedandang buat yang baca inii <3ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
"Lu bisa kaya darimanaa?"
"Arsen tu investasi sejak dini, dia punya beberapa macam perusahaan tapi namanya bukan nama asli diaa. Dia juga punya babiii ngepet, makanya kaya." Alex yang menjawab lagi.
Arsen terkekeh, "lu tau darimanaa anjirrr?!"
"Gue mata mata begooo. Agen intelejen."
"Bacot!" Alex cengengesan.
"Lu pada gak percaya? Gue tunjukin rumahnya." Mereka mendekati Alex.
"Ini fotonya sama mobil yang dia belii."
"Bukannya cuma ada..."
"Dua setau guee, satunya sama Om Aska."
Mereka mengangakan mulut.
"Gue gak nyangka lah sumpah. Penampilan dia tuu gak kek orang orang kayaa pada umumnyaa."
"Om Aska sama Tante Zia aja demenannya pake hoodie." Jawab Arsen spontan.
"Ku kira biasa aja, ternyata luar biasa."
"Keren sih inii, beli babii dimana??"
"Babinya loh yang nunjukin kalian foto tadi."
"Gue lempar kopi panas baru mampusss lu!!" Arsen cengengesan.
"Baju sederhana Arsen harganya mahal, pastii!"
"Jadi takutt nyentuh dia. Dia gerak berasa liat duit gerak."
"Sianjjj. Alay lu padaa!" Mereka tertawa.
"Ngomongin kopi panas, keinget sama karma Dinda. Itu jadinya gimana?" Tanya Ara.
"Iyaa gimana? Bajunya dibayar?" Tanya Racksa gantian.
"Dibayarrr. Tapi dia ngegadein jam tangan Alexander Christie yang warna pink itu."
"Kenapa gak lu yang bayar njirrr?" Alvin keheranan.
"Dih, ogahh."
"Gue sama Asya pergi aja dia ngintilll," sahut Arsen. Alex nyengir tanpa rasa bersalah.
"Sudah cukup habisnya uang saya, tidak akan saya keluarkan lagi seribu pun untuknya."
"Asoiiiii!"
"Teruss, jadinya mau ngado apa?" Arsen mengalihkan pembicaraan.
"Karena Asya punya semuanya, kita kasih aja yang sederhana tapi berkesan. Gimana?" Usul Arsen.
"Tapi buat apaa?"
▦-▦-▦-▦-▦-▦-▦
19.00, sabtu malam.
Di villa puncak.
Beberapa tamu Aska sudah berdatangan, tentunya dengan style yang berkelas.
"Sayang, anak anak belum datang?" Tanya Aska pada istrinya.
"Bentar lagi maybe, nunggu yang lain." Aska mengangguk paham, ia dan istri menghampiri tamu dan berbincang santai.
Lima menit kemudian.
Beberapa mobil datang secara bersamaan. Itu The Bacot Squadd. Shaka, Haikal, Arsen dan Azril dengan mobil mahal mereka.
__ADS_1
"Kerenn bangett demi apaaa?!"
"Itu anak tuan Aska semua? Nggakkan, yaa?"
"Mau sama janda gak tuu yang pake kacamata?"
Yang dimaksudnya adalah Alvin.
Aska yang mendengar itu tertawa mendengarnya. Mereka kembali menoleh kearah Bacot Squad dan kembali tercengang melihat Asya yang super cantik dengan gaun pilihan Zia.
Arsen sendiri masih susah bisa berkedip sampe sekarang.
"Haiii mommy daddyyy!" Sapa Asya sambil tersenyum.
"MasyaAllah, cantik bangett tuan putriii. Anak bujangku juga ganteng banget. Kalian berdua anak daddy kan, yaa?" Asya dan Azril tertawa mendengarnya.
"Bukan cuma Asya yang cantikk, liat ketiga temen Asyaa."
"Sama cantiknyaa."
"Makasih, om, tantee."
Ara, Yuna dan Naina tersipu malu.
"Cowoknya gak ganteng nih, om?" Dino mulai kepedean.
"Nggak, b aja."
"Ya Allah, sadiesssss." Aska dan Zia tertawa.
"Daddy, kami kesana dulu yaa."
Setelah melihat anggukan kepala Aska, mereka pun pergi.
"Sebenarnya, saya capek mengenakan high heels." Keluh Asya.
"Tapi lu cantik begeee. Jangan sampe lu ganti tu high heels pake sneakers!" Asya nyengir.
"Cill."
"Heum?"
"Kamu cantik bangett." Bisik Arsen, Asya blushing mendengarnya.
"Kamu juga gantengg bangett." Arsen tersenyum lebar.
"Arseenn!" Aska memanggilnya, ia mengode Arsen untuk datang. Arsen pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Cup!!
Setelah kecupan di pipi Asya, Arsen pergi menghampiri Aska.
"Demi apaa, tu anak minta digilingg otaknya." Mereka terkekeh.
"Btw, dia juga salah satu tamu penting tau. Makanya stylenya mengkecee." Sahut Racksa.
"Orang penting mah bedaa~"
"Kenapa, om?" Arsen tiba disamping Aska.
"Kamu kenal orang ini ngga?"
"Aaa.. ini yang itu..."
"Yang mana?" Tanya Aska.
"Nggak tau, om. Arsen lupa." Aska menatap datar Arsen yang cengengesan.
"Arsen inget kok, om."
Arsen tersenyum menghadap pria berumur itu. "Saya Arsha, CEO perusahaan game Arshaw Group."
"Wahh, ternyata masih sangat muda yaa." Arsen tertawa kecil mendengarnya.
"Senang bertemu anda, Tuan Jonath." Mereka saling bersalaman.
"Jangann terlalu formall, saya rekan yang sangat dekat dengan Aska." Arsen tersenyum lagi.
"Tadi Aska panggil Arsen, kamu perkenalan kok jadi Arsha?"
"Agaknya tergantung perusahaannya, Jon."
"Bisa jadii nii." Arsen cengengesan.
"Ini yang deket sama anak kamu itu kan, Aska?"
"Kok tau pula?"
Jonath tertawa, "siapa yang gak tau."
"Haha, iyaa, dia orangnya."
"Padahal mau saya jodohkan dengan anak laki-laki saya."
"Opp tidak bisa begitu, Pak Jonath. Putri cantiknya Pak Aska udah hak milik saya." Serobot Arsen.
"Hahaa, saya bercanda Arsen."
"Saya juga, Pak Jonath."
Aska dan rekannya itu terus berbincang ria. Arsen yang bosan melirik kearah pawangnya yang sibuk menenteng sepatu.
Asya gagal jadi feminim:`
Arsen yang benar benar ingin menghampiri Asya pun berpamitan lalu pergi.
"Eiy eiyy, bisa pula yang punya acara begini modelnya."
Asya menoleh, "ish capekk. Tuker sama sepatu kamuu!"
Arsen terkekeh, "pakee high heelsnya. Cantik banget kamu jadi kalem."
"Apa ya mauu Asya-nya kalemm?!"
"Bukan gak mauuu. Ntar kalau gue coba malem gitu ekan, ntar keterusan kalemm."
"Teruss, kalau keterusan kenapa rupanya?" Tanya Racksa.
"Nanti kelen kesepiannn."
"Cocotte!!" Asya cengengesan.
"Pake high heelsnyaa."
"Iyaaa bawell!" Asya pun kembali memasangnya kembali.
"Eyowww!" Para sepupu Asya muncul.
"Aaaaaiiiii, Kijaang sama Upill datangg!!!"
"Fucekk!" Mereka terkekeh.
"Pibesdeyy sepupu tercantikkk!" Keempat pria itu memeluk Asya.
"Maaciwww!"
"Pibesdeyyy ughaaa kang gamee." Mereka juga memeluk Azril.
"Tengkyuuu braderrr."
"Gue gak punya uangg, jadi kadonya cuma buat Azril."
"Ngado apaan lu?" Tanya Shaka.
"Motorr balap kesayangan gue buat Azril."
"Seriuss njirr?" Keja mengangguk.
"Aaawww, baik sekalii kamuuuhh!"
"Mengjamett diaa."
"Kado buat gue apaaa?" Tanya Asya sedikit merajuk.
"Sini dekat abang." Asya mendekati Zafran.
"Liat mobil warna kuning itu?"
Asya mengangguk, "buat Asya??"
"Ya nggak. Cuma nunjukin ajaa."
Plak!!
Zafran dan yang lainnya tertawa.
"Kadonya dalam kamar kamu dirumah utamaa, ntar pulang unboxing lah." Ujar Zafran.
"Serius nii?" Zafran mengangguk.
"Dari Prijii, Keja samaa Upi juga disanaa."
"Aaooo, okee. Mari pulang."
"Matamuii pulangg!" Asya cengengesan.
"Gak sabarr sayaa."
"Btww, ada dijenyaa yaa." Kata Frizy terpukau.
"Jangan, Frizz, jangan." Zafran menahan Frizy karena tau apa yang dilakukannya selanjutnya.
"Maapkeun abang tercinta, tapi tangan saya gatal." Frizy pun berlari menghampiri kang dj.
Frizy memiliki suatu bakat yang jarang ditunjukkan yaitu nge-dj.
Zafran menahannya bukan karena skill Frizy burukk, tapi karena takut Frizy gak bisa lepas dari tempatnya.
Frizy pun mulai ngedj.
"Mengkeceeee Bang Prijii!!"
Semua menikmati musik yang dimainkan Frizy.
"Gue jadi keinget yang di apk tiktokk, adu adu aduahhh.." Mereka terkekeh melihat Alvin mencontohkannya.
"Dah lah, capee ngakakk." Keluh Asya sambil bersandar dengan Arsen.
"Bisa bisanya dia nyontohin persiss bangett."
"Gakk ngertii lagii, kok bisa punya temen beginii!"
"Malu ga tuhhh temenan sama guee?"
"Malu lah." Alvin auto diam, mereka malah tertawa lagi.
"Bahagia banget yaaa anak anakk..." Barbar generasi sebelumnya datang.
"Bahagia kali, maa. Anakmu terbully disini," keluh Alvin.
"Alahh siaaa, cocok kamu mah dibully."
"Mengsedihhh ini mahh!"
"Hahahaaa.. nikmatin kebahagiaan kalian sebelum kesedihan menghampiri."
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Halo gaiseuu.
Maapin gue yang jarang banget up. Lagi kagak singkron anggota tubuh guee, trs juga sibuk ujian. Pdhl ujian ngegoog– astaghfirullahalazim hampir saja rahasia saya terbongkar. Hm, skip.
Maapp lagi ni, chapter ninety nine kebanyakan menyombongkan harta. Bukan maksud menyombongkan harta sebenarnya, cuma mamerin harta. Sama aja si ya. Tapi gak niat gitu aslinya, wakakakak.
Btww, gue mo open qna ada yang mo nanya nanya kagak? Kalo ada gue jawab di chapter seratuss, kalo gada yauda gapapa, gue nangis di pojokan.
Oke, see u next chapter.
__ADS_1
Lop sedandang buat yang baca inii <3
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ