
Di sisi lain.
Keiji sedang berlari menghindar dari Asya geng. Ia di tinggal teman-teman barunya maka dari itu sekarang berlari sendirian.
Sampai menjelang maghrib, dirinya masih berlari.
Tujuan? Ke rumahnya.
Karena perjalanan yang sepi, Keiji tidak menemukan taksi.
Tin tin!!
Keiji menoleh.
"Papa?"
"Masuk!"
Keiji masuk dan langsung menutup pintu mobil. Keiko juga berada di dalam situ.
"Mama papa darimana??"
Rafael dan Keiko tidak menjawab.
"Ma, pa, Keiji nanya loh ini."
Kedua orang-tua Keiji masih diam tidak menjawab.
"Maa! Paa!"
Rafael meminggirkan mobilnya.
"Siapa yang ngajarin kamu buat gini? Yang ngajarin kamu buat jadi orang iri?"
Keiji diam.
"JAWAB! SIAPA YANG NGAJARIN?!!"
"Papa mama gak ada ngajarin kamu buat jadi orang iri! Gak ada ngajarin kamu buat gak tau terima kasih! Gak ada ngajarin kamu buat jahatin orang lain kalau orang itu gak jahat duluan. TAPI KENAPA KAMU MALAH BERTINGKAH KEK GINI ARYUNA, KENAPAAA?!!!"
Keiko diam di tempat, ini adalah kali pertamanya melihat seorang Rafael ngamuk. Benar-benar pertama kali. Keiko sendiri juga emosi, tapi dia menahannya.
"A-aku cuma..."
"Cuma apaa, hah?!"
"MIKIR ARYUNA MIKIR! Kita bisa kek gini sekarang juga karena papanya Asya!!"
"Kamu bisa makan, bisa punya mobil pribadi, bisa punya kamar luas, bisa beli semua yang kamu mau ITU KARENA PAPANYA ASYA!! Kalau bukan karena kemurahan hatinya, kita bakal jadi gelandangan."
Rafael diam sejenak.
"Papa kira kamu bisa berubah setelah kejadian kafe itu. Kamu merengek ke papa di rumah dan bilang bukan kamu yang salah. Tapi nyatanya, KAMU IKUT AMBIL BAGIAN DARI TRAGEDI ITU!!"
"P-papa tau?"
"Papa tau setelah dua minggu. Kamu tau kenapa papa keluar negeri? YA KARENA ULAH KAMU ITU! Papa malu sama Om Aska, malu sama Tante Zia. Mereka berdua baik luar biasa sama papa gak pernah siksa papa, gak pernah pilih kasih ke papa tapi kamunya malah bertindak BODOH seperti ini."
"Papa kecewa sama kamu!"
Rafael pun kembali mengemudi. Keiji dan Keiko masih diam di sana, sama sekali tidak berbicara.
"Pa, Yuna tu cuma... cuma..."
"Aghh. Mama kenapa gak belain Yuna dari bentakannya papaa? Biasanya mama selalu belain Yuna, kan?!" Tanya Keiji dengan mata yang berkaca-kaca.
"Gimana mau belain, saya sendiri aja nyesal udah bertaruh nyawa demi ngeluarin anak gak tau di untung seperti kamu."
Seperti di lempar beribu batu, begitulah hancurnya hati Keiji.
"M-mama nyesel lahirin Kei?"
Keiko diam.
"Ma, jawab!! Mama nyesel lahirin Keii?"
Keiko tetap diam.
"Paa..β
"Gak usah pegang!!"
Keiji menjauh, ia menangis sekarang.
"Ahhh, apa yang di pikirin Aska setelah ini."
"Papa masih mikirin orang lain? Papa gak mikirin perasaan Keiji? KEIJI SAKIT HATI PAPA BENTAK KEK GITUU!!" Ujar Keiji sambil menggoyangkan tangan Rafael.
Rafael mencoba menepisnya. "Kamu mikirin gak gimana perasaan Om Aska sama Tante Zia? Coba kamu bayangin sekarang, kalau sampe papa di pecat, kita mau makan apa? Ha? Makan batu?"
"TAPI HARUSNYA PAPA MIKIRIN JUGA PERASAAN KEIJI!!"
"Bagus banget mulut kamu ngebentak orang-tua, mau di tampar?" Tanya Keiko sinis.
"M-mamaa...."
__ADS_1
"Sekarang papa tanya, mereka ada jahatin kamu? Mereka ada siksa kamu? GAK ADA KAN!"
"Ah c'mon, Yunaa. Kenapa otak kamu sempit banget mikirnyaa!!"
Keiji menghela nafas panjang.
"Mama papa tu gak pantes jadi orang tua!"
Rafael dan Keiko menoleh ke belakang.
"Apa katamu?"
βββ
20.32, rumah Aska.
"Asya, lukanya sakit gak sayang?" Tanya Zia setelah melihat lengan Asya berdarah.
"Gak kok, momm. Kan udah mommy obatin," jawab Asya dengan senyuman.
"Hih woiilaaa, untungnya Asya gapapaaa! Bayangin aja kalau sampe itu beneran terjadiii!"
"Stop, Din. Lu ngomong begitu udah lima ribu dua ratus lima puluh koma tujuh kali."
"Pake koma pulakk! Ada goblokknya Alex."
"Hehehe."
"Si Asya udah ngasih wasiat pulak sebelum lepasin tangan, goblokk banget emang."
Asya cengengesan.
"Ngasih wasiat apa dia?" Tanya Arsen.
"Gue gak inget jelas, tapi dia bilang suruh Arsen jaga kesehatan, suruh lupain lu. Agak goblokk bukan?"
Aska, Arsen dan Zia langsung menatap sinis Asya.
Asya masih cengengesan.
"Mikir kok yang nggak-nggak!"
"Hehe, itu wasiatnya belum selesai."
"Diem lu, malah ngomong wasiat!"
Asya tertawa kecil.
"Ini, minum susunya nuna." Asya mengambil dari Azril dan meminumnya, susu pisang penenang Asya.
"Anak cantik ya selalu jadi tumbal."
Asya mengelus dada mendengar jawaban daddy nya.
"Btw, daddy bakal musuhan sama Om Rap??"
Aska berfikir sejenak.
"Belum tau jugaa, yang salah bukan dia."
"Tapi bisa aja gak sih, kalau itu ajaran Om Rap? Karena kan anak bisa gitu karena di ajar ortunya."
"Gak semua gitu, Zril. Daddy mommy ngajarin buat gak boros, tapi kalian boros banget. Itu tu termasuk ke personality orangnya. Kalau Rap gitu, dari duluuuuu dia udah jahat ke daddy."
Azril mengangguk setuju.
"Gue jadi pengen mutilasi dia deh."
"Om Aska kok kelihatan gak marah?" Tanya Haikal bingung.
"Om gak marah, cuma udah murka. Nyoba nahan aja biar gak nakutin kalian, lagipula ada tante kalian yang nyuruh buat sabar."
"Memang the power of woman."
Drrt... drtt...
Aska menjawab telepon.
^^^"HAHH?!"^^^
^^^"Ya, saya kesana sekarang."^^^
Panggilan terputus.
"Kenapa, daddyy?"
"Om Rafael kecelakaan sekeluarga."
"Kalian di sini aja." Aska mengambil kunci mobil lalu pergi bersama Zia.
"IIIIIKUUUUUTTTTT."
Mereka membuntuti Aska.
"Di rumah ajaa," perintah Aska.
__ADS_1
"Ikut, daddy. Please ya, ikutt." Aska menghela nafas, ia masuk ke mobil tanpa jawaban.
Asya dan yang lain pun ikut masuk ke mobil.
Mereka pake dua mobil, driver pertama Haikal dan yang kedua Alvin.
"Sebenernya, gue bingung kenapa gue ikut." Kata Arsen sambil sandaran di mobil.
"Samaa njem, gue juga bingung." Sahut Haikal.
"Lu sendiri, Sya? Kenapa mau ikut?" Ara menatap Asya.
"Karena mau lihat Keiji, siapa tau dia mati berlumuran darah."
"Sikopet emang lu!"
Asya nyengir.
"Tapi kalau dia mati jadi gak asikk, gak bisa di siksaa." Keluh Ara.
"Kan kan, lu ketularan sikopetnya Asya?"
Ara mengangguk.
"Kita tu gak perlu pake hati untuk orang yang gak berperasaan."
"Eh eh eh ehhh! Anjrittt."
Mereka menatap Haikal bingung.
"Ngapaa weh??"
"Gue kehilangan jejak Om Aska. Om Aska laju bangett tadii," jawab Haikal meminggirkan mobil. Ia mengambil ponsel untuk menelepon Alvin.
π "Assalamu'alaikum, kenapaa??"
^^^"Wa'alaikumsalam, Pin, lu dimanaa?"^^^
π "Nyasar gue anjirrr, kehilangan jejak Om Aska. Lu dimana?"
^^^"Gue juga kehilangan, balik aja kali yee?"^^^
π "Yaudahh iya, balik ajaa."
^^^"Oke, gue sama yang lain duluan."^^^
Haikal langsung mematikan telepon lalu memutar balik kemudi.
"Gak jadii?" Tanya Asya.
Haikal menggeleng, "kita kan juga gak tau RS mana. Mending kita balik, ntar nunggu kabar Om Aska aja."
Di Rumah Sakit.
"Anak-anak gak ngikutin lagi kan tadi?" Tanya Aska setelah tiba di parkiran.
"Gak lah. Kamu naik mobil kek orang kesetanan, semua di balap gak mikir penumpangnya. Untung penumpangnya masih hidup," dumel Zia kesal.
Aska tertawa kecil lalu mengecup bibir Zia.
"Maaf, sayang. Sengajaa aku biar mereka nggak ikut."
"Emangnya kenapa kalau mereka ikut??"
"Emm, ribut."
Aska keluar mobil di susul Zia.
"Ribut maksudnya?"
"Ya kan gak lucu kalau setibanya di ruangan mereka ngata-ngatain. Mampusss lu mampusss, karma is real kan. Contohnya gitu," jawab Aska.
"Bener juga sih, tapi gak mungkin anak-anak kek gituu."
"Tidak menutup kemungkinan, sayang. Mereka gampang benci, gampang suka orangnya."
Aska dan Zia pun tiba di depan ruangan Rafael. Mereka gak nanya resepsionis karena bodyguard Asz sudah menuntun jalan.
"Assalamu'alaikum, Rap."
"W-wa'alaikumsalam. L-lu masih mau samperin gue?"
Aska tersenyum tipis.
"Parah luka lu?" Rafael menggeleng.
"Keiko? R u okey?"
"I'm fine, thanks."
Zia membalas dengan senyuman.
"Kok lu bisa kecelakaan? Gimana ceritanya?"
"Sst, sebelum itu. Keiji mana?"
__ADS_1
"Keiji..."