Barbar Generation

Barbar Generation
Masih ldrr


__ADS_3

"Asya, ya??"


"Eh? Arsen?"


"Iya wkwk, hai."


"Hai juga. Sendirian?"


"Iya sendirian, kamu sendiri?"


"Nggak, itu sama suami."


"Ohh gitu."


"Iya, itu suaβ€”"


"Aaaaa.. huh, huh, huh."


"****! Mimpi apa sih, Arsenn?!"


"Ah sial!" Arsen turun dari tempat tidurnya kemudian menuju kamar mandi.


"ARGH! AAGHH!!"


Arsen terus berteriak sambil mengabsen nama-nama hewan di kebun binatang. Ntah untuk apa Arsen menyebutkannya, tapi yang jelas emosi Arsen sedang tidak terkendali.


Saat ini, di bawah aliran air, Arsen berusaha mengontrol emosinya. Arsen memejamkan mata, dan tiba-tiba saja mimpi yang tadi terlintas di otaknya.


Seketika itu juga Arsen membuka mata.


"Ah, asuu." Arsen mengenakan bathrobe kemudian berjalan menuju walk in closest.


"Cuacβ€”"


"DIAM!!"


Alat itu langsung mati karena tendangan Arsen.


Setelah itu Arsen mengambil baju dan memakainya, lalu keluar mengambil ponsel.


πŸ“ž "Ehm, assalamu'alaikum?"


^^^"Wa'alaikumsalam. Di mana?"^^^


πŸ“ž "Di apart. Kamu di mana?"


^^^"Di rumah."^^^


πŸ“ž "Cuek amat sih pak, lagi badmood? Mau vcall?"


^^^"Hm."^^^


πŸ“ž "Hm berarti hug me? Jauh, sayang.


Aku matiin nanti aku vcall pake hape daddy ya."


^^^"Iya."^^^


Arsen mematikan panggilannya.


Dua detik kemudian, panggilan video call muncul.


πŸ“ž "Hellowww, assalamu'alaikum."


^^^"Wa'alaikumsalam."^^^


πŸ“ž "Waahh, kamu kenapa, Cen?


Matanya tu lo kek orang emosii, habis


berantem sama siapa? Om Mikko?


Pak Andre atau sama Alex?"


^^^"Gak ada berantem."^^^


πŸ“ž "Lah terus, kenapa?"


^^^"Bukan urusan mu."^^^


πŸ“ž "DAD. DADDYYY."


πŸ“ž "Oy, apa nak? Kenapaa?" - Aska.


πŸ“ž "Ini, tolong ruqiyah calon mantu daddyy.


Masa masih pagi udah galak bangett."


Arsen tersenyum tipis karena mendengar kata calon mantu mu.


πŸ“ž "Galak gimana? Kalian lagi berantem?" - Aska.


πŸ“ž "Nggaklah, daddy. Coba tanya nih sama


calon mantu daddy, kenapa galak banget!"


πŸ“ž "Yaudah sini sinii."


Arsen melihat ponsel Aska berpindah tangan, Aska juga menjauh dari Asya.


πŸ“ž "Ada masalah apa, Arsen?"


^^^"Overthinking, om."^^^


πŸ“ž "Lah? Coba sini cerita dulu deh."


^^^"Arsen tadi mimpi, Asya jalan sama^^^


^^^cowok lain dan Asya bilang itu suaminya."^^^


πŸ“ž "Nikah aja belom! Lagi pula kan calon


suaminya itu kamu, Sen.


Cemana sii? Mabok yaaa?"


Arsen salting!


'Ehm, calm down Arsen.'


^^^"Nggak mabok, om. Kan bisa aja tu om ketemu^^^


^^^cowok Jepang terus di jadiin mantu juga."^^^


πŸ“ž "HAHAHAHA! Nggak lah,


mikir mu kejauhannn."


Arsen terdiam sambil nyengir.


πŸ“ž "Syaa ooo Asyaa."


πŸ“ž "Uyy. Kenapa daddy?"


πŸ“ž "Arsen overthinking katanya."


πŸ“ž "Gara-gara apa?" - Azril.


πŸ“ž "Gara-gara mimpi. Arsen mimpi Asya


lagi jalan sama cowok lain terus


Asya bilang itu suaminya." - Aska.


πŸ“ž "Puft, HAHAHAHAA."


πŸ“ž "Mantep juga ya mimpi lu," - Azril.


"Ck, diem lu."


πŸ“ž "Mo liat mukanya Arsen dong, daddy."


Ponsel berpindah lagi.


πŸ“ž "Ululu, overthinking banget ya kamu


sampe marah-marah gitu?


Itu cuma mimpi, Arseenn."


^^^"Semua berawal dari mimpi, Asyaa."^^^


πŸ“ž "Mimpi tidur dodol, bukan


mimpi harapan. Gue ruqiyah ntar lu," - Azril.


^^^"Lu bawel banget ya, Zril.^^^


^^^Gue ngomong sama Asya!"^^^


πŸ“ž "Iw, galak! Daddy


cari mantu lain ajaa."


^^^"WOI!"^^^


πŸ“ž "HAHAHAHA!!"


Arsen mengelus dada melihat mereka semua tertawa.


πŸ“ž "Nih denger ya, tuan muda William.


Saya Asya Zhafira Syuhaila Kusuma,


hanya mencintai satu pria.


Dan itu adalah.... daddy saya."


πŸ“ž "Oasu, ku kira Arsen!" - Azril.


Asya tertawa.


Arsen sendiri diam sambil menatap Asya.


πŸ“ž "Kan ayah itu cinta pertama anak


perempuannya, gimana si lu?!"


πŸ“ž "Itutu beda!!" - Azril.


πŸ“ž "Beda apanyaa?! Samaaa aja!


Kan cowok!" - Asya.


πŸ“ž "Berantem lagi, berantem teros!"


πŸ“ž "Bentar mom, bentar. Cinta pertama


mommy siapa? Grandpa kan?"


πŸ“ž "Iyalah, yakali daddy mu." - Zia.


πŸ“ž "Nah kan! Gue betul, Azril!"


πŸ“ž "Ya tapβ€” ahsudahlah."


^^^"Ini sebenernya bahas apa si?"^^^


πŸ“ž "Gak tau juga, Azril aja nyari ribut.


Emang agak goblokk dia tu." - Asya.


πŸ“ž "Heh!!"


Asya cengengesan.


^^^"Kamu malah berantem,^^^


^^^padahal aku lagi overthinking."^^^


πŸ“ž "Hahaha! Oke dengerin


apa yang aku bilang."


πŸ“ž "Ehm, saya Asya Zhafira Syuhaila Kusuma


mencintai pria bernama Arsen Shafwan William


bukan pria Jepang. Cukup?"


^^^"Belum."^^^


πŸ“ž "Ku suruh kayang nanti kamu ni."


Arsen melihat Asya sedang melihat kanan kiri setelah tersenyum kemudian Asya pergi ntah kemana.


πŸ“ž "Hailo?"


^^^"Hm?"^^^


πŸ“ž "Belum cukup tadi?"


^^^"Belom, mo ngapain?"^^^


πŸ“ž "Gak ngapa-ngapain,


aku lagi ngambil jajan."


πŸ“ž "Jajannya manis banget kek kamuu!"


"Modus!"

__ADS_1


πŸ“ž "Hehee."


πŸ“ž "Aku udah pernah bilang sama kamu kan?


Mimpi cuma bunga tidur, itu belum tentu jadi nyata."


^^^"Kalau nyata gimanaa?^^^


^^^Aku gak mau, Asyaa!"^^^


πŸ“ž "Gak mau apa?"


^^^"Ya gak mau kamu sama cowok lain,^^^


^^^aku gak mau liat kamu jalan sama cowok laiβ€”"^^^


πŸ“ž "Melawak bah. Gimana pulak


aku jalan sama cowok lain, ngelirik


cowok lain aja aku gak bisa."


^^^"Kenapa gak bisa?"^^^


πŸ“ž "Cowokku lebih ganteng!


Udah ganteng, rajin, pinter, kaya,


sholeh apalagi ya? Ah banyak!"


^^^"Siapa cowok itu?"^^^


πŸ“ž "Loh gak tau? Namanya Arsen,


hobinya overthinking."


Arsen malah salting lagiii!


πŸ“ž "Aku tu emang suka liat cogan,


tapi liat doang gak sampe fall in love.


Jadi udah ya? Gak usah mikir yang


kagak-kagakkk."


^^^"Tapi tetep ajaa. Kamβ€”"^^^


πŸ“ž "Hih ngeyel banget! Perlu bukti


kalau aku gak bakal pindah hatii?"


^^^"Yes."^^^


πŸ“ž "Mau bukti apaa?"


^^^"Apa aja."^^^


πŸ“ž "Okee, wait."


^^^"Ngapain?"^^^


πŸ“ž "Mau bikin artikel."


^^^"Eh eh ehh! Kok ngadi-ngadiii?!"^^^


πŸ“ž "Biar kamu percaya lah!"


^^^"Aku percaya, aku percaya."^^^


πŸ“ž "Bener nii?"


^^^"Iya, sayang, aku percaya."^^^


πŸ“ž "Nah gitu dong dari tadiii."


πŸ“ž "Inget satu hal ya, kamu itu gak


ada gantinya bagi aku. Gak ada manusia


se-perfect kamu bagi aku!"


Mata Arsen berkaca-kaca. Ntahlah mengapa, Arsen begitu takut kehilangan Asya.


πŸ“ž "Jangan di pikirin banget, nanti nambah


beban kamu. Aku bilang sekali lagi,


kamu gak ada gantinya bagi aku. Gak ada


yang bisa gantiin posisi kamu


di hati dan fikiran aku."


Arsen terdiam sambil menunduk sedikit.


πŸ“ž "Arsen? Kamu nangis, sayang??"


^^^"Aku tu takut banget kehilangan kamu,^^^


^^^takut banget kehilangan wanita y^^^


^^^ang aku sayangi lagii."^^^


πŸ“ž "Kamu gak bakal kehilangan akuu,


aku juga gak bakal mau


kehilangan kamuu, sayang."


Hening sejenak.


^^^"Huhh.. aku cengeng banget ya?"^^^


πŸ“ž "Hahahaaa, iyaa!"


Arsen mempout bibirnya.


πŸ“ž "Tapi gemesin! Aku baru ini liat


cowok nangis gara-gara overthinking."


^^^"Hm."^^^


πŸ“ž "Hm artinya hug me?"


Arsen merentangkan tangannya.


πŸ“ž "Aaaa jauhh, susul aku sinii!!"


^^^"Gak punya uangg, gimana dong?"^^^


πŸ“ž "Ngepet lahh. Cepetan ngepett


Arsen terkekeh, air matanya yang hampir menetes sudah naik kembali. Wkakakak.


^^^"Kamu kenapa gak pake hp sendiri?"^^^


πŸ“ž "Layarnya retakk, kameranya


juga ikutan retak."


^^^"Jatuh?"^^^


πŸ“ž "Iyaa, terjun payung dari lantai


atas ini keeee bawah."


^^^"Astaghfirullah, ceroboh banget! Udah berapa^^^


^^^kali coba kamu ganti hp?"^^^


πŸ“ž "Sudah berulang kali~~"


πŸ“ž "Btw, kamu kuliah?"


^^^"Bentar lagi."^^^


πŸ“ž "Jangan lupa sarapan!"


^^^"Iya, sayaang."^^^


πŸ“ž "Aku rindu betul lah sama kamu ni,


gimana ngobatinnyaaa?"


^^^"Minum paracetamol."^^^


πŸ“ž "Liat aja ntar aku pulang kamunya aku tendang!!"


(ps; maaf teleponan mulu. Kan lagi di fase LDR-an).


β—•β—•β—•


Jepang, 10.12


"Sebenarnya, saya ini capek jalan-jalan. Tapi saya gak bisa anteng!!"


"Kamu tidak sendiri nona muda kusuma."


Asya tertawa.


"Udah bosan bah di Jepang, bagaimana kalau kita pindah negara?" Usul Azril.


"Baru berapa hari anjirr," cibir Asya.


"No problem, kata daddy kurang gapapa. Yakan, daddyy?" Aska mengangguk.


"Mau kemana??"


"Request dari Asya coba, kemarenkan udah dari Azril." Kata Zia.


"Oke, Asya pengen banget kee.... bentar cari google dulu."


Asya mengeluarkan ponsel barunya dan mencari di google negara yang memiliki tempat wisata terindah.


"Bagaimana jika kita ke Italia?"


"Bagaimana jika kita bertemu dengan mafia?" Tanya Azril dengan nada serupa.


"Tumbalin Azril."


"HEH!!"


Asya cengengesan.


"Kanada banyak objek wisata katanya google. Kalau kesana boleh gak, daddy??"


"Kemana aja boleh. Yang penting kalian nikmati setiap perjalanannya tanpa keluhan," jawab Aska.


"Fiks, Asya mau ke Islandia!"


"Lah kan goblokkk."


Asya tertawa ngakak melihat ekspresi Azril.


"Yang bener kemana, nak?" Tanya Zia heran.


"Islandia, mommy."


"Besok terbang," sahut Aska langsung.


"Mengkeceee. Btw, Azril laperr."


"Makan sushi aja mau?"


"Setujuuu!"


Mereka berempat berbelok ke restoran sushi. Setelah memesan, keempat-empatnya duduk bebarengan.


"Arsen tadi nangis, Sya?" Tanya Zia.


"Hampir nangis agaknya."


"Anjirr anjirr, keren kali Arsen. Sumpah dah, gak bohong gue. Padahal dia banyak duit loh, bisa cari cewek sana-sini kan, tapi kenapa malah milih modelan Asya gini ya?"


"Emang modelan gue kenapaa?!!"


"Gapapa, Sya, gapapaa."


"Is, kenapaa?!"


"Gapapaa!"


"Mommyyy..."


"Mommy jual nanti kalian berdua ke tukang loak! Ribut mulukk."


Aska sendiri tertawa.


"Sekarang, Asya tau kan kalau Arsen beneran serius?"


"Arsen udah serius dari dulu, daddyy." Ujar Azril memberi tahu.


"Pernah waktu itu Arsen lagi emosi, terus mo ngehajar orang yang buat dia emosi. Asya telepon tuh si Arsen, Asya ancem, katanya kalau sampe Arsen pergi ninju gak bakal ketemu Asya lagi."


"Ehhhhhhh, dia balik dalam waktu kurleb enam menit."


"Uwauww emejing! Laju yaa."


"Laju banget momm, ngeprank malaikat. Untung masih hidup dia."

__ADS_1


Zia tertawa kecil.


"Dulu daddy kalian juga gituu tauk."


"Gitu gimana, mommy?" Tanya Asya.


"Waktu itu mommy kecelakaan, daddy mu yang ada di Amerika langsung balik ke Indonesia demi samperin mommy yang sekarat."


"Seriously? Wahh, wahhh! Daddy keren bangetttt!!"


"Coba bapak jelaskan, apa motivasi bapak samperin bunda saya?"


"Motivasi apaan, Asya? Waktu itu daddy gak mikir apapun, daddy mimpi buruk terus nanya ke Ongkel Luis tentang kebenaran mimpinya. Ternyata bener, tanpa mikir panjang daddy langsung minta balik ke Indonesia."


"Ih mantep banget sumpah dah, kok bisa gitu daddy mimpi yang sama macem kejadian?" Tanya Azril takjub.


"Ini adalah the power off love!"


Azril langsung menatap Asya.


"Kalau mimpi Arsen bener juga gimana, Sya?"


"Impossible~~"


"Gue yang takut dia yang di ambil cewek lain, ataupun kepincut cewek lain."


"Kok mikir gitu?" Tanya Aska.


"Daddy lihat Arsen, dia sempurna. Cewek mana yang gak mau sama dia?"


"Tapi daddy yakin sih, dia gak bakal berpaling juga dari kamu."


"Mommy juga yakin gitu."


"Gue juga yakin gitu."


Asya menatap mereka bertiga secara bergantian.


"Yeah, Asya harap juga gitu."


β—•β—•β—•


Indonesia, 08.12


"Sen, lu lesu banget."


"Pendiem pula bah. Lu sakit?"


Arsen menggelengkan kepala, "i'm fine."


"Gue yakin lu ada masalah."


Arsen berhenti kemudian menatap Haikal.


"Ada ataupun nggak, bukan urusan kalian kan? Gue gak mau libatin kalian."


"Hey hey, c'mon bro! Kita susah senang bersama, bukan seneng doang sama-sama. Cerita deh mendingan biar lu nya plong!" Kata Alvin.


Arsen mengusap kasar wajahnya.


"Kiw kiw, parkiran kok rame? Ada apa nichh?"


"Lex, gue saranin jangan makan micin pagi-pagi. Tololl lu meronta-ronta tu," cibir Dino.


"Taii! Tumben kalian di kampus jam segini, ada apa dah?"


"Tadi tu mau ngajakin makan bareng, tapi Arsen keliatan ada masalah."


Ara yang menjawabnya.


Alex pun mendekati Arsen dan menatap wajah Arsen, "mau di ruqiyah?"


"Fuckk u!" Alex tertawa.


Arsen yang kesal menggeserkan Alex lalu masuk ke mobilnya sendiri. "Lu pada kalau mau makan bareng ya sono barengan, gue gak ikut."


"Whyyy?" Tanya Haikal.


"Gue ada urusan." Arsen mulai mengemudi, tapi tiba-tiba terhenti karena Dino menghalangi.


"Din, geser."


"Ayo dong ikut! It's okay lu gak mau ikut, but, cerita lu kenapa?"


"Ada urusan kerjaan, gue banyak begadang. Udah?"


Dino mengedipkan matanya lagak orang dongo kemudian bergeser.


"Gue duluan."


Arsen benar-benar pergi sekarang.


Dirinya menuju kantor.


Tempat di mana, rasa stress bermula.


"Gue butuh bini," gumam Arsen pelan.


"Asya pulang langsung gue nikahin aja kali ye?"


"Ck, urusan ini aja belum kelar. Agh! Kenapa harus ada perjodohan sih? Norak banget!"


Arsen terus bermonolog, ia tetap mengemudikan mobilnya namun dengan satu tangan. Tangan yang lain ia gunakan untuk memijat keningnya.


Ting!


Chat dari Mikko.


Arsen meminggirkan mobil sejenak.


Om Mike


online


Sen ke kafe sekarang, pertemuan


^^^ogah.^^^


(Sharelock)


Om tunggu


^^^tunggu sendiri sampe mampusss :^^^^


Tuan Arsen mohon kerja samanya!


^^^itu tidak menghasilkan uang, I don't like.^^^


Datang saja


5jt menunggumu


^^^kurang^^^


10jt!


^^^25jt, deal?^^^


Mata duitan!!


^^^dari pada om mata keranjang.^^^


Ponakan durhaka!


^^^paman durjana^^^


Arsen buat emosi ya!


^^^Pujian kan? Hahaa^^^


^^^danke^^^


^^^arigatou^^^


^^^gomawo^^^


^^^thanks^^^


^^^suwun^^^


Ntah apa


Cepat datang!


^^^bayar 25jt?^^^


50jt


^^^no bukti, HOAX!!^^^


Tidak ada balasan.


Arsen menunggunya dan beralih ke Instagram.


Arsen melihat snapgram Asya, Asya sedang tersenyum di foto sambil mengangkat jempolnya. Arsen me-reply dengan foto memanyunkan bibir.


Arsen membuat snapgram foto juga. Foto itu adalah foto dirinya dengan Asya berpegang tangan dan sedang berada di pantai.


Ting!


Om Mike


online


(Foto)


50jt. Datang sekarang!


^^^arsnn skt prout, b3s9k ajs ya 9m^^^


Typo berlebihan yang di sengaja!


Om Mike


online


Udah 50jt Arsen jgn betingkah!


^^^eleh, duit siapa itu?^^^


Tabungan om


^^^m-banking gada masuk, Arsen tu tau om bongak.^^^


^^^singkat aja ni yaa^^^


^^^Arsen gk mau.^^^


Ah iya! Om lupa klo punya ponakan pinternya di luar nalar


Om bakal tf beneran ini. Tapi cepat datang!


^^^no, bye!^^^


Arsen mematikan ponselnya kemudian melempar ke kursi belakang.


"Maafin Arsen nyusahin om, dari pada Arsen makin depresi mikirnya mending Arsen gak datang kan?"


Di sisi lain.


Haikal dan temannya akan makan siang bersama. Tapi karena tadi Haikal lupa bawa dompet, ia balik lagi bersama dengan Ara.


"Kall."


"Ha?"


"Ikall."


"Opo to?"


"Haikalll.."


"Dalem, sayang?"


Ara menoleh sekilas lalu mengelus dada.


"Buaya lu!! Bener bener buaya!"


Haikal cengengesan, "apa apa? Kenapa manggil ampe tiga kali?"


"Si Arsen kenapa ya? Dia slek sama Asya?"


"Bisa iya, bisa nggak. Gue juga gak tau," jawab Haikal.


"Gue pengen nanya Asya tapi takutnya di interogasi panjang, bisa bisa ntar yang gak seharusnya gue ucapin malah ke ucap."


Haikal mengulurkan tangan mengelus rambut Ara. "Kalau gitu mending gak usah, nantinya bakal riwehh."


"Nahh itu. Tapi penasaran!!"


"Udah udah, gak usah urusin hubungan mereka dulu. Hubungan kita ini gimana?"


Ara menatap heran Haikal, "macem betul pulak?"


"Ya betul lah! Gue tu teramat sangat gak mau lu jatuh ke pangkuan orang lain, gak ada orang lain yang boleh kecuali gue."


"Hielehh, ojo baperi nk ra wani macari!!"


"Aku beneran gak berani sih meh macari kamu. Kalau langsung ke KUA aja gimana? Setuju?"


"SETUJU MATAMU! Ngaco bah."

__ADS_1


"Ahh, jadi pengen split."


__ADS_2