Barbar Generation

Barbar Generation
Chapter 131


__ADS_3

"Udah cukup liburannya?"


"Udah, daddy. Ini lebih dari cukup," jawab Azril bersemangat.


"Bener kata Azril, daddy. Ini lebih dari cukup," sahut Asya yang juga bersemangat.


Aska dan Zia tersenyum senang melihat mereka berdua.


Btw, ini udah sebulan lebih.


Setelah dari Jepang kemaren, mereka berempat ke Islandia kemudian ke Kanada, Swiss, Maldives dan yang terakhir ke Dubai.


Ntah berapa ratus juta yang Aska habiskan, tapi dirinya juga puas menikmati liburan. Kini saatnya kembali ke Indonesia dan mencari uang lagi.


"Kalian puas sama liburannya?"


"Puas bangettt!" Jawab twins kompak.


"Alhamdulillah kalau puas. Next time, kita cari negara lain buat di kunjungi. Deal?"


"Dealll!"


Aska merangkul Zia yang sedang tersenyum.


"Kamu daddy yang hebat."


Cup!


Zia mengecup pipi Aska.


Aska tertawa kecil.


Cup!


"Kamu juga mommy yang hebat."


"Ehm!!"


"Hahaha, iri ya? Udah gak ada yang ketinggalan lagi kan ini?" Tanya Aska mengalihkan topik.


"Bentar, oleh-oleh nya... oh udahh. Udah lengkap kok daddy, gak ada yang ketinggalan."


"Oke. Let's go back home!"


Mereka berdua jalan ke luar hotel.


Di karenakan pesawat pribadi Aska sedang ada perbaikan, mereka kembali ke Indonesia menggunakan pesawat umum.


Mereka menuju bandara dan di antar mobil sewaan Aska.


"Wauwww waaaauww. Akhirnya balik ke Indonesia!"


"Bosen jelajahi dunia?"


Asya menggelengkan kepala sambil cengengesan, "hanya merindukan Indonesia, daddy."


"Tapi kamu seneng banget nampaknya. Lebih seneng dari biasanya malah," goda Zia.


"Ya gimana gak senang, mom, Asya udah gak sabar tu mau ketemu sama tunangannya."


Zia, Aska dan Azril tertawa meledek.


"Padahal ga gitu. Asya merindukan kucing dan hamster," jawab Asya.


"Helehh, alasan!!"


◕◕◕


Malam hari sesudah maghrib di Indonesia.


Arsen baru pulang dari kantor, ia baru turun dari mobilnya dan hendak menuju ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum, o—"


"Arsen? Aaaaa.. akhirnya kamu pulangg!"


Seketika itu juga mood Arsen hancur berantakan. Orang yang sangat tidak ingin dirinya temui, berada di rumahnya. Kalian tau siapa?


Ya! Angela.


"Lu ngapain di sini?"


Dengan genit Angela berjalan menghampiri Arsen, "aku nunggu kamu pulang biar bisa ngajak makan malam barengg."


Angela tersenyum menatap Arsen yang tidak berekspresi sama sekali.


"Kita mau nikah loh, masa kamu masih cuek aja sih?"


Angela mendekati Arsen dan hampir membelai dada Arsen. Arsen masih sempat mundur, jadi hanya hampir belum terbelai.


Diiww, gelay!


"Berapa kali gue bilang, pernikahan itu gak akan terjadi!"


"Kalau gitu kamu harus bayar dua kali lipatnya hutang mama kamu dong," jawab Angela.


"Tiga kali lipatnya juga bisa gue bayar asalkan lu menjauh dari hidup gue!"


Angela menganggukkan kepalanya songong, "bayar lima miliar aja lu susah, gimana sepuluh miliar? Lu mau jual semua perusahaan lu?"


"Apapun bakal gue lakuin, yang penting lu gak muncul lagi di kehidupan gue."


"Tapii, sampe kapan pun gue bakal muncul di kehidupan lu, karena gue calon istri lu. Takdir yang menyatukan kita Arsen."


Arsen tersenyum smirk, "gue mau muntah denger apa yang lu bilang barusan."


"Loh kenapa? Kan nyatanya emang gitu."


"Itu cuma angan-angan lu, Angela. Jangan pernah berharap untuk hal-hal yang lu angan-anganin, karena itu gak akan pernah terjadi."


"Lu udah pernah liat gue marah, mending sekarang LU PERGI DARI RUMAH GUE!"


Angela langsung gugup mendengar teriakan Arsen.


"Aku gak akan pergi."


"SECURITY!!"


"SECURITY!!"


"I-iya, pak?" Dua security Arsen muncul.


"Usir wanita gila ini dari rumah saya!"


"B-baik, pak."


"STOP!"


Arsen melihat ke sumber suara.


Ternyata Mikko.


"Ars—"


"Gak usah ceramahi Arsen lagi. Kalau emang niatnya mau jual ponakan bilang, gak usah sok sayang!"


"Bukan gitu maksud om, Arsen. Kamu sal—"


"Semua jelas, om. Tiap hari om bela benalu ini, padahal om tau kalau Arsen udah punya tunangan. Harusnya om mikir, gimana perasaan Asya kalau tau ini?!"


"Sebulan Arsen diemin, tapi kok makin menjadi. Kalau emang satu-satunya jalan adalah perjodohan, lebih baik om aja yang di jodohin sama dia!"


"Ars—"


"Arsen capek, om. Arsen mau jual mobil gak om izinin, jual tanah juga gak om izinin. Jujur aja deh, sebenernya om sengaja kan? Sengaja jual Arsen?!"


"Kamu salah paham!! Kasih waktu om buat jelasin."


"Gak perlu. Arsen udah muak sama semuanya!"


Setelah mengatakan kalimat terakhir itu, Arsen pergi lagi, ia masuk ke mobil dan pergi tanpa arah. Dirinya juga mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. And yeah, Arsen berada dalam zona emosi yang meluap-luap.


Sebulan belakangan juga Arsen susah mengendalikan emosinya. Tapi ketika teleponan dengan Asya, mood Arsen kembali meningkat.


Asya benar-benar obat bagi Arsen.


Tring tring tring... Tring tring tring...


"Alarm apa sih jam segini?"

__ADS_1


Arsen mengambil ponselnya di saku celana.


"Ah iya!! My sweetie pulang."


Arsen berhenti sebentar, ia minum air mineral lalu menuju bagasi untuk mengambil baju. Arsen mengganti baju di mobil.


Setelahnya Arsen kembali masuk di bagian kursi pengemudi dan memutar balik arah mobilnya.


"Huftt.. tenang Arsen, tenang. Udah cukup emosinya. Gak boleh emosi di depan Asyaa, jangan libatkan Asya apalagi Om Aska."


"Oke."


Arsen minum air mineral lagi kemudian melanjutkan perjalanannya menuju bandara.


Tak sampai setengah jam, Arsen tiba di bandara. Arsen langsung turun dari mobil dan masuk. Bertepatan pula dengan munculnya Asya sekeluarga.


"Asyaaa!"


Arsen melihat Asya menoleh ke arahnya. Asya melambaikan tangan lalu berlari menghampiri Arsen. Begitupun dengan Arsen, dirinya juga lari.


Mereka berpelukan di tengah-tengah.


Cukup lama pelukan antar keduanya, mereka saling mengelus punggung satu sama lain.


"Miss u, babyy," bisik Arsen tepat di telinga Asya.


"I miss u too!"


Arsen tersenyum lalu melepas pelukan. Arsen hanya melepas sebentar untuk mengecup pipi kanan dan kiri beserta kening Asya kemudian memeluknya lagi.


"Iiii rindu bangettt," Arsen memeluknya gemes.


"Aaa, engapp! Arseeenn, akunya kejepiiiittt!"


Arsen melepas pelukan lalu tertawa.


"Waduhh, yang beduaan. Dunia serasa milik berdua ya?" Goda Aska.


Arsen menoleh dan tertawa lagi. Arsen mendekati Aska-Zia, menyalami tangannya.


"Gimana perjalanannya, om?"


"Yaaa begitulah, cukup melelahkan."


"Kalau gitu langsung pulang aja biar bisa istirahat. Bodyguard om udah jemput?"


"Udah tuh. Barangnya di mobil bodyguard aja, nanti Asya Azril sama kamu. Kamu juga mau ke rumah kan?"


Arsen menganggukkan kepalanya.


"Yaudah kuy! Mukanya Tante Zia udah keliatan cape banget itu."


"Wkwk. Ngantuk dikit nih, Sen."


Mereka berjalan menuju parkiran dan berlanjut menuju istana Kusuma family. Di mobil Aska dan Zia, mereka berdua langsung tertidur.


Tapi di mobil Arsen tidak ada yang tidur.


Azril sibuk vidcall dengan Naina, sedangkan Arsen sibuk mengelus tangan Asya sambil mengemudi.


Btw, dari tadi tangan mereka gak ada terlepas.


"Kamu dari mana tadi?" Tanya Asya.


"Dari kantor."


"Dih kerja muluu! Sholat maghrib gak kamu? Sholatnya full terus kan?"


"Iya, sayang. Masa calon imam sholatnya bolong-bolong."


Asya tersenyum. Ia menarik tangan Arsen lalu mengecupnya, "good boy."


"Ck! Gue masih di sinii!" Dumel Azril yang iri di belakang.


"Lu kan vidcall sama Naina," jawab Arsen sensi.


"Ya masih vidcall! Gue tu juga pengen kali ah pegangan tangan!"


"Yaudahh pegang sonoo, sewot aje lu."


"Nuna sama ipar sama aja. Nyebeli!!"


Arsen dan Asya tertawa kecil.


"Hm? Kenapa sayang?"


"Kamu hm hm terus tauu ih. Hm berarti hug me kann?"


"Eumm, kalau aku bilang iya gimana meluknya?" Tanya Arsen gantian.


"Gini ginii."


Asya memundurkan tempat duduk Arsen kemudian...


"Eitt no no no. Kalau kamu peluk aku sekarang ntar bisa barabe, yang di bawah baperan."


Asya dan Azril terkekeh.


"Normal dong lu," ledek Azril.


"Kan emang normal, peaa."


"Pelukannya nanti aja sayang. Kalau udah di rumah," kata Arsen pada Asya.


"Iyaa iyaa."


"Terus tadi kamunya kenapa panggil?"


"Aku mau martabak cokelatt," ujar Asya sambil cengengesan.


"Maunya sekarang?"


Asya mengangguk.


"Oke, kita cari dulu ya bu boss."


Arsen mengambil ponselnya untuk melihat di gps.


Tapi malah jadi susah karena notif dan telepon yang berasal dari Mikko terus bermunculan. Asya yang duduk di samping Arsen pun penasaran dengan notif itu.


"Om Mikko kenapa telepon terus? Spam juga tuh," kata Asya heran.


"Om Mikko nanya aku di mana. Tadi hp aku mati, makanya dia kecarian." Asya berohria sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


'Ahh, bohong terus lu, Sen!! Udah berapa kali lu bohongin cewe luu?!' batin Arsen menyesal.


"Mau aku bantu cari?"


"Hng? Ini udah nemu kok. Ada di deket sini juga ternyata, dikit lagi sampe."


Arsen terus mengemudi sampai akhirnya tiba di tempat tukang martabak.


"Zril, woi. Bentar ye beli martabak dulu ni," pamit Arsen. Azril yang masih vidcall mengangguk.


"Aku ikut."


Asya menyusul keluar.


Keduanya memesan kemudian menunggunya bersama. Oh iya, masih gandengan.


"Pacaran, mas?" Tanya penjual.


"Tunangan, mbak."


"Ooo tunangan.. kalau nikah nanti anaknya gimana ya mas?"


"Lah? Emang kenapa, mbak?" Tanya Asya gantian.


"Mas nya ganteng, mbak nya cantik. Pasti luar biasa cakepp ntar anaknya."


Asya Arsen tertawa kecil, "sa ae mbaknya."


Di dalam mobil, Azril yang sendirian menunggu agak terganggu dengan suara notif Arsen.


Dirinya mengambil ponsel Arsen dan mengangkat telepon.


📞 "Halo, Arsen di mana? Cepat pulang ke rumah!


Papanya Angela ada di sini!"

__ADS_1


📞 "Halo? Arsen? Arsen? Arsen?!!"


Azril auto matiin panggilan.


^^^"Ehm, Nai, aku matikan dulu ya?^^^


^^^Kamu jangan begadang."^^^


📱 "Iyaa."


^^^"Yaudah kalau gitu,^^^


^^^assalamu'alaikum cantik."^^^


📱 "Wa'alaikumsalam, ganteng."


Panggilan terputus.


Azril kembali menelepon, tapi kali ini dengan Aska.


📞 "Assalamu'alaikum, kenapa nak?"


^^^"Anu, Azril sama Asya Arsen^^^


^^^lagi beli martabak dulu."^^^


📞 "Oo gitu, iya gapapa."


^^^"Tunggu.. ada hal lain yang mau^^^


^^^Azril ceritain ke daddy."^^^


📞 "Di rumah aja gimana?"


^^^"Urgent ini."^^^


📞 "Ceritalah kalau emang urgent banget."


^^^"Ini tadi kan yang keluar mobil Asya sama Arsen,^^^


^^^Azril di mobil aja. Terus tu Azril yang lagi vidcall^^^


^^^sama Nai ke ganggu gara-gara bunyi hp Arsen."^^^


📞 "Iyaa, abistu?"


^^^"Abistu Azril ambil hpnya Arsen, Azril angkat aja deh^^^


^^^telepon yang masuk. Itu telepon dari Om Mikko."^^^


^^^"Di telepon itu, Om Mikko bilang kalau papanya^^^


^^^Angela ada di rumah Arsen."^^^


📞 "HAHH? Papanya Angela di rumah Arsen?"


^^^"Iya, daddy. Daddy kenal kah?^^^


^^^Kok keliatan kaget bangettt?"^^^


📞 "Tunggu.. Asya tau ini?"


^^^"Nggak, daddy."^^^


📞 "Bagus. Untungnya kamu bilang ke daddy."


📞 "Sekarang, kamu diem aja. Anggap kalau


telepon itu gak ada kamu angkat. Jangan


bilang ke Asya juga tentang ini."


^^^"Why?"^^^


📞 "Nanti daddy jelaskan, pokoknya jangan bilang."


^^^"Okey. Gak bakal Azril bilang."^^^


^^^"Eh eh ehhh, ada Asya nih.^^^


^^^Azril matiin dulu daddy, assalamu'alaikum."^^^


Azril mematikan panggilan tanpa menunggu jawaban Aska. Dirinya langsung pura-pura tidur setelah mematikan panggilan.


"Ceilah, tidur dia."


"Kecapean paling," jawab Arsen.


"Udah gak ada lagi kan? Pulang nih yaa?" Asya mengangguk.


Arsen mulai mengemudikan mobilnya.


Lagi.


"Sayangg.." rengek Asya.


"Mau apalagi?"


"Mau tidurrr."


Menggunakan satu tangannya, Arsen mengubah sandaran Asya.


"Tidur lah, nanti aku bangunin."


"Kamu gak ada temen ngobrolnya gapapaa?"


"Gapapaa, sayang."


◕◕◕


Tiba di rumah utama, Arsen tidak membangunkan Asya tapi menggendongnya sampai ke kamar. Kalau Azril, dirinya terbangun dan jalan sendiri menuju kamar.


"Arsen, ke ruang kerja om dulu sebelum pulang."


"Om gak istirahat?"


"Tadi udah sebentar. Ayok masuk!"


Arsen mengikuti Aska.


Sudah di dalam ruangan, Aska tidak berbicara. Bahkan setelah lima menit berlalu Aska masih tetap diam.


"Om—"


"Tunggu teh anget om datang dulu," Aska memotongnya.


"Hehehe oke, om."


Semenit kemudian teh anget buatan Zia datang.


"Aku di luar apa di dalam aja ni?" Tanya Zia.


"Terserah kamu," jawab Aska santai.


"Aku di sini deh."


Aska membiarkan Zia di ruangannya.


Setelah meletakkan teh anget itu, Aska menatap Arsen. "Kamu mau teh juga?"


"Nggak om, Arsen gak suka minum teh malam-malam."


"Kalau begitu... kita masuk ke inti pembicaraan aja gimana?"


"Om mau bicarain tentang apa?"


"Hutang yang harus terbayar dengan ijab kabul."


Arsen terkejut!


Benar-benar terkejut!


"O-om tau tentang itu?"


"Jelas om tauu. Gak ada yang bisa di sembunyikan dari om, mau hal sekecil apapun itu, gak akan bisa."


Arsen menundukkan kepala. "Maaf om, Arsen gak cerita karena gak mau nyusahin om."


"Om pahamm. Angkat kepala kamu sekarang, tatap mata om."

__ADS_1


Arsen menurut, ia menatap mata Aska.


"Ceritain kronologinya."


__ADS_2